Monday, January 29, 2018



Disiplin bisa dikatakan adalah salah satu syarat utama untuk mencapai kesuksesan hidup. Sebuah cita-cita hanya akan menjadi sebuah impian semata jika si pemilik cita-cita adalah orang yang tidak disiplin. 

Disiplin merupakan hal yang sangat penting untuk diajarkan sedini mungkin, agar kedisiplinan menjadi bagian dalam hidup sehari-hari. Dan tugas untuk mengajarkan kedisiplinan ini sejak dini berada di tangan kedua orang tua.

Cara terbaik untuk meletakkan dasar disiplin adalah dengan membuat aturan di rumah dengan sedemikian rupa sehingga tetap terasa sederhana dan jelas. Sayangnya selama ini orang tua banyak yang salah persepsi, mengartikan disiplin sebagai sebuah hukuman dan konsekuensi semata.

Menurut psikolog Dr. Laura Markham, sebelum menerapkan disiplin pada anak, orang tua terlebih dahulu harus menerapkan disiplin positif yaitu :

1.       Mengatur emosi sendiri
Orang tua harus mampu mengatur emosinya sendiri agar bisa menjadi orang tua yang penyabar dan murah hati seperti yang diinginkan, dan pastinya juga seperti yang anak pantas dapatkan.

2.       Miliki ikatan yang kuat dengan anak
Ini merupakan strategi disiplin yang paling efektif, karena secara naluriah anak-anak ingin menyenangkan hati orang tuanya. Makanya bimbingan yang penuh cinta akan lebih efektif dibandingkan pemberian hukuman.

3.       Lakukan dengan empati
Aturan harus dijalankan, tapi jika anak melanggar sebagai orang tua kita tetap harus mendengarkan perspektif anak. Ketika anak merasa dimengerti,, maka selanjutnya orang tua bisa menerapkan batasan yang telah ditetapkan. “Ibu mengerti mengapa kamu marah, tapi memukul itu tidak baik. Temannya kita ajak bicara yuk beritahukan semua apa yang kamu rasakan.”

4.       Hindari Timeout di saat emosi
Ada kalanya orang tua menjadi sangat emosi ketika berhadapan dengan anak yang membangkang dan tidak menuruti arahan. Dari pada memukul anak, banyak orang tua yang memilih untuk timeout  dan meninggalkan anaknya sendiri. Ini sangat salah. Meskipun lebih baik dari pada memukul anak, tetapi tindakan ini adalah sebuah hukuman dalam bentuk ‘pengusiran’ dan penghinaan. Meninggalkan anak demi mengelola emosi yang kusut hanya akan merusak kecerdasan emosi anak.
 
“Mbak Mer, aku udah buat peraturan di rumah, udah disertai dengan hukuman malah, tapi anak-anakku kok masih saja bandel, ya. Tidak mau diatur.” Demikian curhat salah satu tetangga.

Ketika dasar kedisiplinan telah diletakkan tapi kedisiplinan anak masih saja jauh dari harapan, sebagai orang tua kita harus mulai introspeksi diri. Terkadang tanpa disadari, ada kelalaian orang tualah yang menyebabkan kedisiplinan itu gagal diterapkan.

3 Sikap Orang Tua yang Bisa Menggagalkan Penerapan Disiplin pada Anak.

1.       Menyuap anak
Orang tua menyuap anak demi tegaknya peraturan di rumah. “Kalau kamu makannya banyak, nanti mama belikan mainan.”

Sound familiar ?
Yes, banyak yang model begitu terdengar di sekitar kita.

Anak menjadi disiplin ? Ya, untuk sementara. Tetapi tidak untuk jangka panjang. Menyuap anak hanya akan membuat anak semakin egois, tanpa sadar orang tua justru mengajarkan anaknya untuk berlaku curang demi keinginan mereka.

Bagaimana jika kelak anak berlaku sebaliknya, “kalau mama mau aku rajin belajar, belikan dulu aku PS 5.”

2.       Mengancam anak
Aku termasuk orang tua yang tidak setuju menerapkan hukuman pada anak. Makanya ketika membuat aturan untuk anak, aku juga mengenalkannya pada resiko.

Aturannya : Buat PR langsung sepulang sekolah (setelah istirahat, sholat, makan)
Resikonya : Jika kamu menunda-nunda membuat PR, sampai besok mau dikumpulkan, bagaimana jika nanti kamu lupa ? Atau bagaimana kalau nanti tiba-tiba kamu sakit ? Bagaimana kalau nanti lampu padam ? Resikonya kamu tidak membuat PR sama sekali. Nilai kamu jadi hilang, deh.

Dengan mengenalkan resiko anak jadi belajar menganalisa akibat dari prilakunya, sehingga dia akan disiplin dengan sendirinya.
Jika aturan dibuat disertai ancaman hukuman, maka kedisiplinan anak terbentuk bukan karena kesadarannya, tetapi hanya sebatas rutinitas karena takut akan hukuman. Ketika pemberi hukuman tidak berada didekatnya, maka anak akan kembali lalai dan bersantai-santai.

3.       Orang tua tidak konsisten
Orang tua membuat aturan, tetapi tidak jarang orang tua juga yang melanggar aturan tersebut. Pernah melihat kejadian ini ?

Banyak.
Anak dilarang merokok, tapi orang tuanya merokok.
Anak dilarang main game, tapi dibelikan juga alat-alat game.
Anak disuruh bangun cepat, orang tuanya malah bangun siang.

Itulah yang disebut orang tua tidak konsisten. Bagaimana kita bisa mengharapkan anak-anak untuk disiplin sesuai yang diharapkan jika orang tua yang seharusnya jadi teladan justru pemberi contoh yang buruk.

Jadi semuanya kembali kepada orang tuanya ya, Pak-Bu. Mau anaknya disiplin ?
Mulailah dari orang tua dan orang-orang terdekat di sekitar anak. Anak adalah peniru ulung. Pastinya pernah mendengar pepatah itu, kan ? Tanpa perlu banyak teori dan aturan, sebenarnya jika semenjak dini anak-anak sudah dikelilingi oleh orang-orang yang disiplin, maka anak itu akan disiplin dengan sendirinya.

So, ayah-bunda-papa-mama semua. Yuk, mari kita jaga sikap kita agar anak-anak bisa tumbuh sebagaimana yang kita harapkan.






1 komentar:

Bener mbak..konsisten adalah hal penting dalam usaha menerapkan disiplin akupun masih banyak belajar nih dalam mengasuh anak..salah langkah bisa berabe

REPLY


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal

Meirida.my.id . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | for Meirida.my.id