Monday, November 18, 2019

Gak Nyangka Banget, Ternyata Begini Cara Mudah Menghilangkan Noda Tinta di Baju

November 18, 2019 1 Comments


Hai, Moms.

Punya uneg-uneg seputar noda tinta? Hmm, aku yakin banget, nih. Para Moms di rumah pasti punya banyak cerita tentang hal ini, terutama bagi Moms yang suaminya pekerja kantoran dan anak-anaknya masih usia sekolah.

Aku juga gitu, kok, Moms. Setiap kali mau cuci selalu aja pengen ngomel panjang kali lebar melihat noda tinta di mana-mana. Ada yang di kantong, ada yang di bagian tangan. Dan yang bikin aku pengen teriak kenceng itu adalah pas melihat ada lukisan abstrak di bagian lengan. Itu maksudnya apaaa? Aarrgh.

Nih, bocah bener-bener demen bikin mamaknya naik tensi.

Noda tinta ini termasuk salah satu noda bandel yang susah banget untuk dibersihkan. Udah dipakein pemutih pun nodanya masih aja ada. Karena itu para Moms selalu spaning kalau melihat baju terkena noda tinta. Apalagi kalau baju putih, noda bener-bener ga bisa disembunyiin, jadi kalo ga dibersihin bener-bener baju bakal terlihat kucel.

Jadi, Moms. Kemarin aku bikin eksperimen, nih. Cara menghilangkan tinta di baju pake Rinso cair anti noda. Pengen tahu hasil eksperimen aku, gak?

Yuk, kepoin, yah.

1. Serap bekas tinta di baju menggunakan tisu  dapur yang sudah dibasahi air. Tekan-tekan bagian yang terkena tinta dengan perlahan, hingga sisa tinta terlihat menempel di tisu.

2. Celupkan sikat gigi bekas ke deterjen Rinso cair anti noda, kemudian gosokkan pada bagian baju yang terkena tinta. Gosoknya ga usah keras-keras, karena bisa bikin warna baju pudar.

3. Setelah itu cuci pakaian seperti biasa, sesuai petunjuk label pencucian. Jika noda masih terlihat, bisa diulangi lagi. Tapi dari pengalamanku kemarin satu kali aja udah cukup, kok.

Pertanyaannya, apakah cara itu juga bisa diterapkan pada noda tinta lainnya seperti spidol?

Untuk noda tinta yang bukan berbahan air, dibutuhkan usaha ekstra, nih, Moms. Karena tidak cukup hanya dengan menggunakan deterjen saja. Gunakan bahan pelarut noda lainnya, dengan cara sebagai berikut.

1. Ambil sedikit alkohol, kemudian tuangkan sedikit pada bagian baju yang tersembunyi. Jika warna memudar, hentikan saja. Tetapi jika tidak, bisa lanjut tuangkan pada baju yang terkena noda. Kemudian usap dengan kapas atau kain bersih hingga noda tampak memudar.

2. Siapkan ember bersih, isi dengan air dingin, larutkan sejumlah garam. Perbandingannya 1:1. Satu liter air, satu sendok makan garam.

3. Masukkan pakaian kena noda tinta tadi, dan biarkan selama kurang lebih 2 jam (bisa lebih jika nodanya lebih tebal).

4. Kemudian bilas dengan air bersih, setelah itu cuci kembali seperti biasa sesuai petunjuk pencucian pada label.

Gimana, Moms? Cukup mudah, ya?

So, kalau melihat baju anak-anak dan suami terkena noda tinta ga perlu naik tensi lagi ya, Moms. Santuy aja. Dengan noda tinta di baju anak-anak, mari kita anggap anak-anak sedang mengembangkan kreatifitasnya. Selipkan doa aja, Moms. Semoga dengan noda tinta di bajunya itu, anak-anak kita tumbuh jadi manusia yang cerdas, kreatif, dan mandiri.

Kalo baju suami kena noda tinta juga ga perlu merepet, Moms. Rileks aja, kan kita udah tahu cara mudah menghilangkan nodanya. Masih mendinglah kena noda tinta, dari pada noda lipstik.

Hehehe.

Btw, kalo di baju suami ada noda lisptick, what should we do, Moms?







Wednesday, November 13, 2019

Nilai Sekolah adalah Bagian dari Rezeki

November 13, 2019 0 Comments


Nilai Sekolah adalah Bagian dari Rezeki. Orangtua mana sih yang tidak akan senang jika anak-anaknya memiliki prestasi akademik. Makanya aku sangat bersyukur ketika Aira meraih ranking di sekolahnya.

Tetapi, meski pun begitu, kami selalu sounding kepada Aira bahwa NILAI BUKANLAH YANG PALING PENTING, NILAI SEKOLAH BUKANLAH SEGALANYA.

Dengan begitu Aira tumbuh menjadi anak yang tidak ''mendewakan nilai" sehingga dia selalu jujur dengan nilai-nilai yang ia hasilkan di sekolah. Dia tidak perlu melakukan hal-hal curang demi nilai bagus. Dia pun  tidak perlu kuatir orangtuanya akan marah ketika nilainya tidak memuaskan, karena dia tau orangtuanya tidak mengutamakan itu.




Sebagai orangtua kami lebih menekankan pada pendidikan karakter. Kami lebih fokus pada pembentukan karakter Aira agar menjadi manusia yang penuh tanggung jawab dan berbudi pekerti.

Terkadang miris hati ini melihat sikap anak-anak zaman sekarang yang sangat jauh dari etika. Perkataan mereka tidak sopan, sikap dan tingkah lakunya pun nyaris tidak beradab. Mereka juga boleh dikatakan tidak memiliki kepekaan terhadap sekitar.

Memang tidak semua bersikap buruk seperti itu, tetapi tidak sedikit juga yang ditemui di tempat-tempat umum.

Kami tidak mau Aira tumbuh menjadi anak-anak berkepribadian negatif seperti itu.

Oleh karenanya, di rumah Aira kami beri bimbingan dan teladan tentang tugas dan tanggung jawab.  Alhamdulillah tanpa perlu diberi perintah dia sudah paham tugas dan tanggung jawabnya sebagai anak dan juga siswa.

Dia akan belajar tanpa perlu diingatkan. Dia akan kerjakan PRnya tanpa perlu suruh-suruh. Dia juga sudah paham dengan kesepakatan bahwa gadget hanya boleh dimainkan maksimal 1 jam sehari. Alhamdulillah, dengan begitu dia tumbuh menjadi anak yang kreatif.




Hari ini Aira mendapat pelajaran berharga dalam hidupnya, bahwa kelalaiannya dalam tanggung jawab menyebabkan banyak hal yang tidak diinginkan terjadi.

Aira lalai menjaga kesehatan tubuhnya  sendiri selama di sekolah. Dia tidak cukup minum air putih, padahal hari itu ada mata pelajaran olahraga. Akibatnya, tubuh Aira mengalami dehidrasi sehingga menyebabkan demam pada malam harinya. Tetapi dia tetap sekolah keesokan harinya karena ada ulangan harian. Qadarullah, ulangan hari itu ditunda. Selasa malam panas badannya masih naik turun, jadi agar bisa memberikan pengobatan yang maksimal Aira kami liburkan sekolah pada hari Rabu. Qadarullah (lagi), ternyata ulangan hariannya diadakan hari ini.

Raut wajah Aira langsung tampak sedih ketika aku menyampaikan info dari wali kelasnya bahwa tidak ada ulangan susulan untuk ulangan harian.

"Nilai Aira jadi kosong, dong, Nda." Ujarnya sedih.

Sebagai orangtua aku juga tidak kalah kecewa sebenarnya. Mengapa harus ada kebijakan seperti itu? Jika kebijakan ini diberlakukan pada siswa yang tidak masuk tanpa keterangan sih wajar. Tapi bagaimana dengan anak yang tidak masuk karena sakit. Adilkah kebijakan itu?

Tapi aku berusaha mengendalikan diri di depan Aira, karena aku ga mau Aira menjadi salah paham terhadap gurunya.

Untuk mengobati kekecewaannya aku pun mengajaknya bicara dari hati ke hati.

Aku katakan padanya bahwa aku paham dengan rasa kecewa yang ia rasakan. Tetapi, semua ini terjadi karena Allah. Segala sesuatu yang terjadi atas izin Allah pasti adalah yang terbaik bagi kita.

"Jika karena sakit Aira jadi gagal mendapatkan nilai, berarti nilai itu bukan rezeki Aira saat ini. Allah pasti berikan Aira rezeki dalam bentuk lain yang jauh lebih bermanfaat. Salah satunya adalah kesempatan untuk istirahat dengan tenang."

Aku ajak Aira untuk berprasangka baik pada Allah.

Alhamdulillah, dengan selalu melibatkan Allah dalam setiap hal yang kita pikir dan lakukan, in syaa Allah, hasilnya juga pasti akan baik.

Hati pun menjadi lebih lega dan ikhlas.

Aku percaya, sejatinya nilai-nilai sekolah yang diraih oleh anak-anak adalah rezeki dari Allah. Jadi gak ada tuh istilah anak pintar dan anak bodoh. Yang ada adalah Allah sedang membagi secuil 'keMahaanNya' kepada hambanya.

Oleh karena itu aku tanamkan di pikiran anak untuk tidak pernah bangga dan jumawa dengan semua kelebihan yang ia miliki saat ini, karena jika Allah berkehendak semua kelebihan itu bisa jadi kekurangan dalam hitungan detik.

Dengan tegas aku juga melarang keras anakku memandang rendah kekurangan orang lain. Karena bisa jadi di mata kita orang itu tampak kurang, tapi di mata Allah bisa jadi dia lebih mulia.

Jadi masih menganggap nilai sekolah anak itu yang paling penting?




Tuesday, November 12, 2019

OVO Udah Gak Asyik Lagi

November 12, 2019 0 Comments
Sejak menerapkan pola hidup cashless, OVO adalah salah satu aplikasi dompet digital yang paling aku sukai.

Menurutku, OVO ini dompet digital yang paling friendly dan terkoneksi dengan banyak aplikasi penting seperti Grab, Kudo, dan Tokopedia. Selain itu OVO juga memberikan banyak keuntungan saat digunakan berbelanja di banyak merchant seperti Matahari Dept. Store, Hypermart, dan banyak lagi lainnya. Dengan menyediakan saldo di OVO, bertransaksi di aplikasi dan merchant-merchant tersebut bisa dilakukan dengan lancar.

Tidak hanya itu, fitur OVO yang lengkap sungguh memberi banyak kemudahan terhadap penggunanya. Salah satu yang paling terasa adalah adanya fitur transfer. Fitur ini sangat bermanfaat bagi para orangtua yang ingin mengirimkan uang untuk anaknya yang sedang berada di kota berbeda. Terutama orangtua yang usahanya mengandalkan OVO sebagai dompet digital. Hanya dari satu aplikasi bisa multifungsi.

Pengisian saldo OVO pun bisa dengan banyak cara. Bisa via virtual account, transfer sesama pengguna OVO, transfer via ATM atau internet banking, dan juga setor tunai di gerai Alfamart.

Aku sendiri termasuk yang paling sering menggunakan pilihan isi saldo via Alfamart ini.

Tapi hari ini kabar tidak mengenakkan aku terima di notifikasi Grab Kios atau Kudo. Pertanggal 13 November 2019 ini OVO tidak lagi bisa diisi melalui gerai Alfamart.



Hal ini tentu saja terasa tidak bersahabat bagi UKM dengan saldo bank terbatas. Sedangkan untuk isi saldo OVO via virtual account hanya bisa dilakukan jika saldo di rekening bank tersedia.

Bandingkan dengan pengisian saldo via gerai Alfamart. Meskipun dengan dana terbatas, pelaku usaha tetap bisa bertransaksi dengan lancar karena untuk isi saldo bisa setiap saat ke Alfamart.

Dari segi efisiensi waktu, memang pengisian saldo via virtual account jauh lebih praktis. Hanya dari rumah pengisian saldo tetap bisa dilakukan. Tetapi kelemahannya ya itu tadi, saldo di rekening harus selalu tersedia.

Lha, kalau harus ke bank dulu untuk isi saldo rekening, di mana letak kepraktisannya?

Menurutku, dengan kebijakan baru ini OVO tidak lagi berpihak pada pelaku usaha dengan modal-modal kecil.

Jujur saja, aku sangat kecewa.


Wednesday, November 6, 2019

Untuk Kamu yang Bergelayut di Masa Lalu

November 06, 2019 1 Comments
"Ta.. aku rindu masa lalu", dengan tangan menopang dagu, May menatap Shinta dengan sendu.

Shinta balas menatap May lalu meletakkan buku yang sedang dibacanya ke pangkuannya dan berkata.

"Mengapa May? Apakah masa sekarangmu tidak cukup membahagiakan sehingga kau rindu dengan masalalu?"

May menggeleng lemah, dia sendiri juga bingung dengan perasaannya. Ada satu rasa yang menggelitik jiwanya menuntut untuk dipuaskan meskipun hanya sekejab.

"Kalau bukan lantas mengapa? Haruskah rasa itu kau angkat ke permukaan ?"

Kening Shinta berkerut melihat kegundahan di wajah May. Dia tidak bisa sepenuhnya memahami sekap sahabatnya ini. Sementara May hanya diam, jemari lentiknya memainkan sendok yang berada di dalam gelas. Sepertinya dia tidak mau mengakui isi hatinya yang sebenarnya kepada Shinta.

"May.. coba lihat mataku", Shinta memutar tubuh May agar bisa berhadapan dengannya. May menatap mata Shinta untuk sesaat namun kemudian dia kembali menunduk. Shinta kembali mengangkatnya, sehingga mata mereka kembali sejajar dan bertaut. May menyerah, diapun menuruti kemauan Shinta.

"Apakah Rian masih menghubungimu ?"

May tercekat mendengar pertanyaan Shinta, dia merasa tempat persembunyiannya mulai di ketahui, dan May tidak nyaman dengan itu. Segera dia mengalihkan pandangan ke arah lain, tidak ingin Shinta menemukan dan membongkar semua isi hatinya yang dia kunci rapat selama ini.

"May.. jawab aku.. Rian masih menghubungimu kan ?"

Shinta tidak mau menyerah, dengan gigih dia kembali menanyakan hal yang sama kepada May yang masih bungkam beribu bahasa. Namun lewat tatapan matanya Shinta bisa memperoleh semua jawaban yang dia butuhkan. Dia menghela nafas panjang, semakin bingung dengan sikap May.

"Mengapa sih May kamu masih saja melayani telepon dari Rian ? Sadarlah May, dia hanya masa lalu, sedangkan sekarang kamu sudah ada Romi yang mencintai kamu dengan tulus. Pantaskah ketulusannya kamu balas dengan semua ini ?"

May hanya diam, dalam hati menyadari sepenuhnya semua yang dikatakan oleh Shinta adalah benar adanya. Tetapi entah mengapa dia tidak bisa melupakan Rian dan semua kenangan masa lalu mereka. Dia masih saja rindu dengan suara renyahnya. Dia masih sangat ingin bermanja-manja kepadanya. Dan dia masih menuntut untuk diperhatikan olehnya. May sangat tersiksa perasaannya sendiri.

"Aku harus bagaimana Ta? Rasanya nyiksa banget, disatu sisi aku sadar udah nyakitin Romi dengan rasa ini, tapi aku tidak bisa menghentikan hati ini Ta, aku harus bagaimana?"

Tangis May pecah di hadapan Shinta, kedua tangannya ditangkupkan kewajahnya, bahunya terguncang dengan suara isak yang semakin lirih. Shinta merasa iba dengan sahabatnya itu, ada perasaan sesal di hatinya karena dia ada andil dalam terbukanya kembali hubungan May dengan pria masa lalunya itu.

"Itu semua terjadi karena kamu sendiri May, kamu yang memberi celah di hatimu sendiri sehingga semua kenangan masa lalu yang telah terkunci rapat itu bisa kembali. Dari awal aku sudah bilang kan, hati-hati May, jangan bermain api."

"Iya Ta.. aku tau.. aku sadar.. dan aku salah Ta. Ada kesombongan di hatiku ketika membuka lagi komunikasi dengan Rian. Aku mengira setelah sekian lama aku telah melupakannya. Ternyata aku salah Ta, yang ada makin kesini aku makin terjerat dalam pusaran kenangan masa lalu yang semakin kuat menuntut aku untuk mengulangnya kembali. Aku harus bagaimana Ta? Bagaimana caranya agar aku bisa bebas dari perasaan ini? Hatiku perih mengingat Romi, dan hatiku berdebar memikirkan Rian.. aku tersiksa Ta.. tersiksa banget.."

"Kendali ada di tanganmu May, sebelum perasaan itu terlalu jauh, hentikanlah sekarang. Ingatlah masa-masa sulit ketika Romi mengobati hatimu yang terluka. Dia sangat sabar May, meskipun kamu sering mengabaikannya waktu itu. Dia memaklumi sikapmu kala itu adalah dampak trauma yang kamu rasakan."

Shinta memang benar. Romi adalah dokter penyembuh luka di hati May. Dia mampu menjalankan peran ganda sebagai teman, abang sekaligus kekasih dalam satu waktu. Bahkan beberapa kali dia harus menggantikan sosok Papa ketika May sedang rapuh dan nyaris terpuruk dalam keputus asaan. May tersenyum membayangkan tingkah polah Romi ketika menghiburnya dulu. Mulai dari mengajaknya bermain permainan anak tempo dulu, menyanyikan lagu lucu sampai membisikkan kata cinta sebelum May tidur. Aahh.. May sungguh beruntung memilikinya.

"Satu lagi yang harus kamu sadari May, luka kamu yang telah sembuh itu adalah Rian penyebabnya. Dia mengkhianati kamu dengan menghamili mantan pacarnya. Mikir May.. mikir.. masih pantaskah hatimu bergetar untuk namanya?"

May tertunduk semakin dalam, mengakui dengan tulus semua kebenaran yang diungkap Shinta. Rian memang sungguh terlalu saat itu. Dua minggu sebelum hari pernikahan mereka May justru harus dihadapkan  pada fakta mereka gagal menikah karena Rian harus bertanggung jawab atas kehamilan mantan pacarnya. Meskipun pengakuannya Rian telah dijebak, rasa-rasanya jebakan itu tidak akan bisa terjadi kan? Jika saja Rian dan mantannya itu benar-benar tidak pernah melakukan hubungan terlarang itu.

"Sekarang Rian kembali dengan status barunya, dia duda. Pernikahannya dengan si mantan pacar itu hanya bertahan selama satu tahun, dia tidak bisa melanjutkan pernikahannya karena masih mencintai kamu.. katanya.. itu katanya kan May? Dan kamu percaya itu? Came on May.. wake up !! Dia hanya mempermainkan kamu, memanfaatkan sisi melankolis kamu yang menurutku useless banget itu. Dengan karakter flamboyannya itu, kamu percaya dia cinta mati sama kamu? Kamu percaya dia cuma mikirin kamu? Kamu percaya?"

Suara Shinta semakin tinggi. Sepertinya dia semakin sulit menahan emosinya melihat sahabatnya yang larut dalam cinta semu masa lalunya, bahkan menyia-nyiakan cinta nyata yang ada dihadapannya.

Sebenarnya May juga tidak begitu percaya dengan semua omongan Rian. Logikanya bilang begitu. Tapi hatinya yang tidak tahu diri justru terlena dengan semua rayuan itu, dan semakin hari semakin membuatnya mabuk kepayang. Huft..

"Secara akal sehat May, menurut kamu Rian itu pria seperti apa sih? Dia mengetahui status kamu adalah mantan tunangannya yang telah menikah dengan laki-laki lain, tetapi dia masih saja menggoda kamu dengan semua kenangan masalalu kalian. Dan kamu dengan bodohnya terlena akan semua itu. Coba kamu telaah dengan akal sehat May. Menurut aku, dimata Rian kamu itu tidak lebih dari wanita jablai yang jarang dibelai dan haus kasih sayang."

May tersentak mendegar kata-kata Shinta yang semakin tajam, menikam hingga ke ulu hati May. Dia manusia biasa yang tidak bisa menerima kata-kata seperti itu. Dia ingin membantah, namun Shinta lebih dulu melanjutkan bicaranya.

"Sorry kalo kamu tersinggung, tapi aku jujur dengan pendapatku tentang Rian. Dia itu 100% pemberi harapan palsu. Sekarang terserah kamu. Kalo kamu tetap kukuh untuk bertahan dengan getaran hati kamu itu, yaaa silahkan, tapi jangan pernah menyesal jika suatu saat Romi akan berpaling dari kamu. Ingat May.. karma itu ada."

Setelah mengungkapkan semua isi hatinya, Shinta kemudian kembali melanjutkan bacaannya yang tertunda. Sementara May kembali sibuk memaikan sendok digelas tehnya. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Langit yang semula mendung kembali menghadirkan matahari di balik awannya yang satu-persatu mulai pergi.  Dia tersenyum lebar kepada dunia seakan-akan ingin memberi semangat kepada jiwa-jiwa yang tengah gelap tertutup awan hitam.

May pun telah menetapkan hati pada sebuah keputusan yang terbaik untuknya dan semua orang yang peduli kepadanya.

Hubungan ini memang sangat indah, tapi juga menyakitkan. Agar tidak lagi melukai banyak orang, yang terbaik adalah hubungan ini memang harus diakhiri. 

May membatin dalam hati.