Thursday, October 31, 2019

Warung Anak Sehat, Penuhi Nutrisi Jajanan Anak dan Berdayakan Perempuan

October 31, 2019 0 Comments
Hai, Teman.

Pernahkah mengalami peristiwa buruk terkait jajanan anak di sekolah? Aku pernah mengalaminya beberapa waktu yang lalu. Saat itu rasanya kesal sekaligus sedih karena melihat anak yang menderita diare berhari-hari.

Hari itu seperti biasa, Aira berangkat ke sekolah dengan membawa bekal dari rumah. Dikantongnya aku selipin uang 2000 rupiah untuk jajan. Meski pun ada bekal, aku kasih juga uang jajan, karena gak tega aja membayangkan dia ga jajan di saat teman-temannya menikmati jajanan mereka.

Biasanya uang jajan itu jarang ia belanjakan, karena Aira sudah kenyang dengan bekalnya. Uang jajan itu dibawa pulang lagi untuk dimasukin ke celengan.

Tapi hari itu tidak, uang jajannya habis karena dibelanjakannya. Aku ga masalah sih uang jajannya habis, tetapi yang aku sesalkan dia mengeluh perutnya sakit saat pulang sekolah. Tidak lama setelah itu dia langsung diare berkali-kali.

Aku langsung curiga pasti ada yang ga beres dengan jajanan yang ia makan. Setelah aku tanya-tanya, ternyata benar di sekolah dia ikutan jajan dengan teman-teman lainnya. Makanannya tidak dibungkus, trus menggunakan saus tomat yang warnanya sangat menyolok.

Setelah mendengar cerita lengkapnya itu, aku menarik kesimpulan Aira mengalami sakit perut karena jajanan yang ia makan tidak higienis. 

Agar diarenya tidak berlarut-larut, aku segera bawa Aira berobat ke klinik terdekat.

Warung Anak Sehat Penuhi Nutrisi Jajanan Anak


Sudah pernah mendengar tentang Warung Anak Sehat?

Warung Anak Sehat adalah program edukasi yang secara resmi didirikan oleh PT. Sari Husada dan Ecosystem Fund Danone Indonesia pada tahun 2011, dengan tujuan membangun generasi maju melalui jajanan yang lebih sehat.

Warung Anak Sehat ini dibentuk sebagai respon atas kekhawatiran atas hasil riset Kesehatan Dasar yang membuktikan bahwa 26,4% anak-anak usia 5-12 tahun menderita anemia. Hal ini berdampak pada kualitas fisik anak sehingga anak-anak terlihat lesu, malas belajar, dan sulit untuk fokus.

Hingga tahun 2018 Warung Anak Sehat telah menjangkau 4 kota yaitu Bogor, Bandung, Yogyakarta, dan Ambon.



Warung Anak Sehat hadir dengan program edukasi kepada para guru dan anak-anak untuk menerapkan kebiasaan hidup bersih dan sehat dengan cara:

- Mencuci tangan pakai sabun
- Menyikat gigi setelah makan.
- Merawat kuku untuk tetap pendek dan bersih.
- Kelola sampah rumah tangga.
- Merapikan peralatan makan dan membersihkan meja setelah makan.





Ketidak pedulian pedagang dalam menjual jajanan anak membuat anak-anak rentan mengonsumsi makanan yang nutrisinya buruk, karena bahan baku yang digunakan tidak terjamin keamanan dan kebersihannya.

Demi mengejar untung yang besar, tidak jarang para pedagang ini menggunakan bahan-bahan yang tidak layak bahkan berbahaya untuk dikonsumsi seperti borax, pewarna kain, dan lain sebagainya.

Selain itu, dalam penyajian jajanan pun pedagang-pedagang ini banyak yang tidak mempedulikan kebersihan. Sehingga anak-anak pun menjadi rentan terkena penyakit.

Untuk itulah WAS hadir, memberikan edukasi  tentang pentingnya bahan baku yang sehat, dan aman untuk membuat jajanan anak, dan juga pentingnya menjaga kebersihan diri agar makanan yang dimakan juga terjaga kebersihannya.

Dengan adanya WAS di sekolah, para orangtua menjadi tidak khawatir lagilagi melepa anaknya untuk jajan di sekolah, karena sudah pasti terjamin baik dari kandungan nutrisinya, keamanan bahan, dan juga kebersihannya.


Warung Anak Sehat Berdayakan Perempuan dengan Menjadi IWAS (Ibu Warung Anak Sehat)


Untuk mendampingi IWAS, Warung Anak Sehat hadir di media sosial dalam bentuk fanpage yang bertajuk sama yaitu Warung Anak Sehat.

Di FP WAS ini kita tidak hanya mendapat pengetahuan seputar program-program WAS, tetapi juga terdapat resep-resep jajanan sehat yang bisa dijadikan referensi oleh para IWAS. Resep-resep jajanan ini sudah dilengkapi dengan perkiraan modal bahan, harga jual, dan juga perkiraan untung yang didapat.

Berikut beberapa contoh resep yang ada di FP Warung Anak Sehat.







Ibu Warung Anak Sehat diberikan edukasi seputar keamanan pangan, yaitu:

- Cuci tangan sebelum mengolah pangan.
- Pisahkan pangan mentah dan pangan matang.
- Masak dengan benar pada suhu yang tepat.
- Jaga pangan dalam suhu yang aman.
- Gunakan air dan bahan baku yang aman.




Selain itu, juga terdapat edukasi tentang nutrisi dan bahan-bahan yang boleh dan tidak boleh digunakan dalam mengolah jajanan anak, beserta tips-tips penting lainnya.

Berikut beberapa di antaranya:









Teman-teman tertarik untuk bergabung menjadi Ibu Warung Anak Sehat?

Silakan hubungi FP Warung Anak Sehat di Facebook, ya.





Monday, October 28, 2019

Seperti Apa Metode Mempelajari Bahasa Inggris yang Tepat?

October 28, 2019 0 Comments


Bicara tentang Bahasa Inggris, tidak bisa dipungkiri kalau Bahasa Inggris ini sudah seperti bahasa wajib yang harus dikuasai jika ingin sukses dalam karir. Oleh karena itu para orangtua pun berlomba-lomba membekali anak-anaknya dengan berbagai cara agar si anak mampu berbahasa Inggris yang baik dan benar. Salah satu caranya adalah dengan cara mengambil kursus, di sini kita akan memperoleh bantuan dari pengajar profesional? Namun, belakangan ini muncul perdebatan kecil, lebih baik les secara otodidak sendiri atau les dengan guru pengajar? Mana metode belajarbahasa Inggris yang tepat?


Belajar Bahasa Inggris Otodidak

Biasanya, mempelajari bahasa Inggris secara otodidak dilakukan dengan cara membaca buku bahasa Inggris, menghafal lagu bahasa Inggris, menonton film bahasa Inggris dan masih banyak lagi. Metode belajar bahasa Inggris secara otodidak membuat kita tidak mengeluarkan biaya yang banyak untuk menbayar atau pendaftaran les. Kita hanya perlu mengeluarkan uang untuk membeli buku atau membeli CD film yang bahasa Inggris.

Sayangnya metode ini menjadi sulit untuk efektif karena dalam proses belajar tidak ada partner untuk berlatih dialog, sehingga kemampuan berbahasa Inggris menjadi sulit untuk berkembang.


Bagaimana dengan Metode Belajar Bahasa Inggris Melalui Kursus?

Belajar Bahasa Inggris dengan cara kursus akan memudahkan kita untuk semakin memahami pelajaran tersebut. Pemahaman yang didapatkan bergantung dari kualitas pengajar. Jika pengajar kursus bahasa Inggris kita merupakan pengajar yang berkualitas, tentu saja materi yang kurang dimengerti bisa dijelaskan secara rinci dan lengkap. Tak hanya sampai di sini, materi yang kita terima juga akan dirancang sesuai dengan kebutuhan serta kemampuan yang kita miliki. Biasanya, kurikulum yang sering digunakan di tempat kursus bahasa Inggris sudah teruji dan berkualitas. Ini menjadi keuntungan tersendiri bagi kita.
Salah satu kelebihan dalam metode ini adalah dalam proses belajar biasanya ada partner untuk berlatih dialog. Hanya saja jika motivasi dari dalam diri kurang, semua yang dipelajari hanya akan menjadi sebatas teori, tidak berkembang menjadi kemampuan yang mumpuni.



Kunci belajar bahasa Inggris pada dasarnya adalah belajar sendiri dan belajar di tempat kursus yang profesional. Dengan kombinasi dua metode belajar ini, kita menjadi lebih cepat menguasai bahasa Inggris.


Salah satu pilihan tempat kursus bahasa Inggris yang profesional dan teruji adalah EF. Memiliki komunitas siswa internasional, harga yang bisa disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki hingga memiliki kelas tatap muka agar semakin fokus berlatih kemampuan bahasa Inggris. Jadi, apalagi yang Anda tunggu? 

Friday, October 25, 2019

You're My Destiny, Part 10

October 25, 2019 0 Comments



Part 10: Random Memories

Suara kokok ayam membangunkan Windi dari tidurnya, perlahan ia membuka mata, berusaha mengenali ruang dimana dia berada.

Ingatannya melayang kepada kejadian terguling-guling di tebing. Membangkitkan rasa nyeri yang semula sempat terlupakan. Tidak ayal suara rintihan keluar dari mulut Windi.

Tiba-tiba Windi teringat dengan Fina, sahabat yang mengajaknya ikut serta dengan event ini, Fina pasti tengah cemas karena keberadaan Windi yang tidak jelas.

Windi mengeluarkan ponsel dari tas pinggang yang masih ia kenakan. Sial, tidak ada sinyal lagi. Makinya dalam hati.

“Ya Tuhan !” seru Windi. Dia kaget mendapati angka di layar ponselnya menunjukkan tanggal 27. Dan itu berarti dia telah menghilang selama 3 hari.



Gubrak !



Sebuah suara menyerupai benda jatuh terdengar dari balik lemari yang membatasi ruangan yang di tempati Windi dengan ruangan sebelah.

Kaget, ia pun langsung terduduk. Suara alas kaki diseret terdengar mendekat. Windi menelengkan kepala mencoba memastikan pendengarannya.

Tiba-tiba di hadapannya Yoo-Ill muncul dengan rambut kusut masai, dan mata bengkak seperti orang habis begadang semalaman. Dia mengucek-ngucek matanya sambil menguap lebar.

Windi tertawa geli. Tampang Yoo Ill yang begitu mengingatkanku pada sosok Nobita yang selalu ngantuk ketika disuruh membuat PR oleh Doraemon. Lucu banget.

"Bagaimana lukamu, masih sakit ?" tanyanya seraya mendekat.

"Oh.. its okay.. aku merasa lebih baik," jawab Windi dengan senyum cerah.

Memang luka itu tidak lagi senyeri kemarin. Sepertinya Yoo Ill berhasil memberikan obat yang tepat untuk luka Windi. Yoo Ill tampak senang mendengar jawaban Windi.

"Oh ya, Yoo-ill-ssi, sekarang tanggal berapa ?”

“Sekarang? Tanggal 27. Emang kenapa ?”

“Aku pingsan ya kemarin ?”

“Ngga, kamu ga pingsan. Kamu cuma tidur nyenyak aja semalam. Memangnya kenapa?”

“Kalau sekarang tanggal 27, kemarin tanggal 26 dong.”

“Ya, memang. Kemarin memang tanggal 26. Ada apa sih ?”

“Ga, aneh aja. Seingatku aku mengikuti Tour Bike itu tanggal 25 lho, kalo semalam aku hanya tidur, mengapa hari ini tanggal 27 ?”

“Berarti kamu sempat pingsan satu hari sebelum ditemukan Paman Kim.”

Oo, begitu rupanya. Kalau begitu wajarlah sekarang tanggal 27. Berarti benar dia telah menghilang selama 3 hari.

“Oh ya.. apakah disini tidak bisa menggunakan ponsel ? Aku tidak melihat ada sinyal di layar ponselku,” tanya Windi sambil menyodorkan ponsel kearah Yoo Ill. Dia melihat ponsel itu, lalu menggeleng.

"Tidak, di sini tidak ada sinyal. Masyarakat di sini tidak satu pun memiliki ponsel,” jawabnya sambil berlalu. "Lagian memang tidak ada gunanya ponsel itu di sini,” samar-samar Windi mendengar gumamannya yang menyiratkan rasa pesimis.

Windi menyipitkan mata. Mencoba menganalisa maksud dari gumaman Yoo Ill barusan.

“Memangnya kenapa ? Aku tidak mengerti, setahuku Korea adalah negara yang sangat maju, jadi rasanya tidak masuk akal jika masih ada daerah yang tidak terjangkau oleh sinyal di sini.”

“Mengapa tidak ? Negara ini sama dengan tubuh manusia, pasti memiliki satu tempat yang tidak ingin diketahui atau pun disentuh oleh orang lain,” jawabnya dengan mimik misterius.

Windi semakin tidak mengerti. Tempat yang tidak ingin diketahui ataupun disentuh oleh orang lain? Ia mengulang-ulang kalimat itu dalam hati. Ada dua kata yang mungkin mendekati gambaran kalimat itu yaitu rahasia dan penyakit.

Manusia tidak menginginkan rahasianya diketahui oleh orang lain, dan manusia juga tidak menginginkan penyakitnya disentuh oleh orang lain.

Tunggu, apakah desa ini adalah lembah rahasia yang di dalamnya terdapat orang-orang dengan penyakit? Semacam tempat karantina gitu? Hiiyyy.. Windi bergidik ngeri membayangkan jika itu memang benar. Terjebak di antara orang-orang yang terkontaminasi virus mematikan sungguh bukan sebuah acara liburan yang ia inginkan.

“Kenapa? Mukamu tiba-tiba pucat. Kau merasa sakit?” You-ill menghampiri Windi dengan cemas melihat keringat yang bercucuran di keningnya.

“Katakan padaku, apakah.. apakah aku berada di sebuah lembah yang berisi orang-orang dengan penyakit mematikan ?” tanya Windi dengan nada khawatir.

Pupil matanya membesar mendengar pertanyaan Windi, sementara mulutnya bergetar seakan sedang menahan sesuatu.

“Hahahaha... apa ? Lembah penyakit ? Hahaha,” Yoo Ill tertawa lebar mendengar pertanyaan Windi barusan.

Dia tertawa lama, sampai-sampai airmatanya keluar. Windi yang kebingungan semakin bingung melihat dia tertawa begitu lepas.

“No.. Windi.. No.. kamu salah paham dengan kalimatku tadi. Hihi...” ujarnya masih sambil menahan tawa.“Disini memang tidak ada sinyal, dan masyarakat di sini juga tidak memerlukan sinyal, karena 99% masyarakat di sini adalah penduduk asli yang tidak merantau ke manapun, jika boleh aku menyamakan, desa ini kurang lebih sama dengan desa suku Asmat di Papua, kamu tahu kan bagaimana mereka?” jelasnya kemudian.

Sejenak pikiran Windi melayang ke daerah pedalaman Papua yang masih sangat sulit menerima warga asing itu.

“Kamu bisa perhatikan suasana desa ini, di sini masyarakatnya masih tergolong primitif, mereka nyaman hidup dengan cara tradisional warisan leluhur mereka,” tambahnya lagi, masih geli dengan pertanyaan konyolnya.

Ah.. konyol sekali aku menanyakan hal seperti itu ? Sesal Windi dalam hati.

“Lalu.. apakah kamu sama dengan mereka? Sepertinya kamu tidak se”tradisional” mereka yang kamu bilang tadi,” tanya Windi lagi.

Meskipun hidup dengan sangat sederhana, namun Windi bisa melihat Yoo-ill tidaklah sama dengan mereka. Dia mengenakan pakaian biasa seperti lelaki di luar sana, memakai celana jeans dan juga kemeja.

Berbeda dengan laki-laki paruh baya yang menolong Windi kemarin. Dia mengenakan pakaian yang bahannya menyerupai goni bekas. Sepatunya pun sepatu jerami. Sepatu tradisional yang pernah ia lihat di film-film kolosal Korea.

Sepertinya pertanyaan Windi barusan mengena tepat kesasaran. Paras Yoo Ill langsung berubah.

“Aku.. tidak penting siapa aku, yang pasti aku adalah bagian dari mereka sekarang,” jawabnya, kemudian bangkit meninggalkan Windi.

Sepertinya ada sesuatu yang dirahasiakannya. Karena setiap kali pertanyaan Windi menyentuh ‘sesuatu’ Yoo Ill selalu menghindar.

Tapi Windi tidak mau ambil pusing mengenai itu, masalahnya jauh lebih rumit. Jika daerah ini tidak dijangkau oleh sinyal, bagaimana caranya mereka akan menemukanku? Dan aku juga tidak bisa menghubungi mereka. Masa iya ? Aku harus terjebak di sini ? Hiyy.. aku tidak sanggup membayangkan tubuhku tidak lama kemudian akan berubah mengenakan pakaian seperti mereka, Windi bergidik lagi.



Kkkkrriiuuk..



Perut Windi keroncongan, menyadarkan bahwa ia belum makan sejak semalam. Ia beringsut turun dari dipan, menjejakkan kaki di lantai papan yang lembab itu mencoba untuk berdiri.

Namun ternyata luka di pergelangan kakinya masih menyisakan perih yang teramat sangat. Membuat tubuhnya tidak seimbang, dan nyaris jatuh terjerembab.

Untungnya sebelah tangannya masih berpegang pada pinggir dipan, sehingga selamat dari kerasnya lantai papan yang lembab itu. Yoo-ill mendengar suara gaduh yang ia ciptakan, dia pun muncul dan langsung memapah Windi untuk bangkit.



“Kamu mau kemana?”



Bersambung ...

Thursday, October 24, 2019

You're My Destiny, Part 9

October 24, 2019 0 Comments


Part 9: Pertemuan Tak Terduga

“Aku merasa pernah melihat wajahmu di suatu tempat, tapi di mana tepatnya aku lupa,” lajut Windi dengan penuh penasaran.

Keningnya mengernyit, sepertinya pertanyaan Windi barusan turut menggugah ingatannya. Yoo Ill memandangi Windi lekat-lekat.

Itu berlangsung untuk beberapa saat. Sampai ujung syaraf mereka terhubung pada sesuatu.

“Ooohh ... the airport!” seru mereka bersamaan. Ya, dia adalah laki-laki yang menabrak Windi di bandara beberapa hari yang lalu.

“Oh, My God, betapa dunia ini sempit sekali !” seru Yoo Ill kemudian.

Windi tersenyum, menyetujui kata-katanya. Dalam hati ada rasa haru di hatinya, karena setidaknya dia bukanlah orang yang sama sekali ‘asing’. Meski pun bukan pula akrab. Apapun bentuknya pertemuan ini Windi merasa lega. Setidaknya, hal itu berhasil mencairkan rasa canggung di antara mereka berdua.

“Sepertinya kakimu mempertemukan kita kembali,” kata Yoo Ill lagi. Ucapannya barusan mengingatkan Windi pada lututnya yang sempat nyeri usai kejadian di bandara itu. Refleks tangannya mengusap lututnya kembali.

“Apakah lututmu masih nyeri ?” tanya Yoo Ill. Merespon reaksi Windi yang tiba-tiba mengusap lututnya.

“Sama sekali tidak, hanya saja ucapanmu barusan mengingatkan kembali pada nyerinya,” jawab Windi

“I’m sorry, jika saja aku tahu kakimu cedera tentu aku tidak akan buru-buru meninggalkanmu. Tapi ...” kata-katanya menggantung, seperti ada beban yang menggelayut di tenggorokannya sehingga kalimat lanjutannya terasa berat untuk dikemukakan.

“Hey ... sudahlah.” Sergah Windi cepat, karena merasa tidak nyaman dengan perubahan wajah Yoo Ill. “Waktu itu aku kan udah bilang, ‘aku baik-baik saja’, jadi kamu ga perlu merasa bersalah begitu.” Lanjut Windi kemudian.

Windi berusaha agar insiden yang mempertemukan mereka di bandara waktu itu tidak merusak pertemuan mereka kali ini. Setidaknya, untuk beberapa waktu ke depan Windi ingin merasa aman dan nyaman berada di lingkungan yang asing ini.

“Ya, tapi tetap saja aku merasa seperti orang yang tidak bertanggung jawab,” sungut Yoo Ill dengan wajah muram.

“Tidak, sama sekali tidak. Aku yakin kamu bukan orang yang seperti itu. Aku tahu saat itu kamu sedang terburu-buru, wajahmu tampak tegang seperti sedang mencemaskan sesuatu. Aku benar, kan?”

“Yah, begitulah. Tapi sekali lagi aku mohon maaf. Dan sebagai bentuk permintaan maafku izinkan aku merawat lukamu hingga sembuh. Okay ?”

“Tentu saja, bagaimana mungkin aku menolak tawaran sebaik ini.” Sahut Windi dengan antusias. Sejenak semua rasa sakit di tubuhnya sirna. Pertanda apakah ini? Bisik Windi takjub.

Yoo Ill tersenyum, nampak kelegaan di wajahnya usai mendengar kata-kata Windi.



Dengan sigap ia segera melanjutkan tindakan terhadap luka-luka Windi yang sebelumnya sempat terhenti. Tangannya sangat cekatan benar-benar menyerupai tenaga medis profesional. Sementara itu Windi tidak melepaskan pandangannya sedikit pun dari wajah tampan di hadapannya. Sesekali Windi meringis ketika cairan-cairan medis itu menyentuh lukanya. Kalau saja tidak memalukan, Windi pasti sudah menjerit cukup keras ketika obat-obatan itu dibubuhkan. Tapi harga dirinya masih terlalu tinggi, sehingga berhasil mengalahkan rasa sakit yang ia rasakan.





Sepertinya obat yang diberikan Yoo Ill mulai menjalankan aksinya di tubuh Windi. Matanya terasa berat karena kantuk. Sebisa mungkin Windi untuk terus membuka matanya, tapi kelopak matanya menolak diajak berkerjasama.

“Yoo Ill-ssi, sepertinya aku mengantuk, nih,” kata Windi sambil menguap lebar.

“Obatmu mulai berkerja, tadi aku memang memberi setengah dosis obat tidur, agar kamu bisa istirahat. Sel-sel dalam tubuh akan berregenerasi lebih cepat saat tidur,” jelasnya. Windi hanya mengangguk mendengar penjelasannya. Karena matanya betul-betul tak bisa lagi diajak kompromi.

Ia kembali menguap lebar.

Kali ini kantuknya tak lagi tertahankan lagi. Dalam hitungan detik, ia pun tertidur pulas.



Setelah Windi terlihat pulas, Yoo Ill membuka tas pinggang yang dibawa Windi dan memeriksa benda-benda yang ada di dalamnya. Bola matanya membesar ketika mendapati benda pipih bertali panjang yang ia temukan dalam salah satu kantong tas itu. Wajahnya memucat, deru nafasnya mendadak jadi tidak beraturan. Tanpa pikir panjang, Yoo Ill segera mengantongi benda temuannyaitu, kemudian membawanya ke ruangan belakang.





***



“Tn. Han ... Tn. Han ... ada kabar buruk,” ujar Nn. Lee dengan wajah pucat sambil menerobos ruangan atasannya itu dengan langkah tergesa. Han Tae Ho yang sedang menekuni layar di depannya tampak gusar karena kaget.

“Nn. Lee! Sudah berapa tahun kamu berkerja untukku? Masih tidak mengerti bagaimana etika berkerja ? Hah ?” bentak Tae Ho. Wajahnya merah padam menahan amarah. Nn. Lee yang memahami situasi hanya menunduk dengan perasaan bersalah. Dia sangat paham, tidak ada gunanya memberi alasan apapun saat ini, karena nyata dia telah salah.

“Maaf, Tuan. Saya sedang panik. Maafkan saya.” Tae Ho mengibaskan tangannya, mengisyaratkan bahwa dia bisa memaafkannya kali ini.

“Baik, sekarang katakan. Apa yang membuatmu mendadak kehilangan etika begitu ?” tanyanya kemudian.

“Itu ... ada berita buruk Tuan. Putrinya Tn. Roy ... hilang ....”

“Apa? Hilang ... lagi ? Siapa yang mengatakan itu kepadamu ?”

“Tadi ... Tn. Faris menelpon dari Jakarta. Dia bilang Nn. Windi hilang dan belum ditemukan hingga sekarang.”

“Bagaimana itu bisa terjadi ? Mana Tn. Kim ? Panggil dia kesini cepat !”

“Tn. Kim sedang keluar untuk memastikan berita itu, Tuan.”

“Kalau begtu kamu ceritakan padaku, apa yang kamu tahu, bagaimana ceritanya putri Roy bisa hilang?”

“Tiga hari yang lalu dia dan sahabatnya mengikuti event Korean Touring yang diadakan oleh Rainbow Organizer sebagai salah satu dari sekian pemenang lomba blog, Tuan. Agenda hari pertama dan kedua tidak ada masalah, semuanya berjalan lancar sesuai rencana. Namun di hari ketiga, ketika mengikuti tour bike, dia tiba-tiba menghilang di sekitar Sungai Han. Panitia yang bertugas heran karena Nn. Windi tidak kunjung sampai ke titik perhentian pertama, sementara temannya sudah sampai. Jadi mereka kembali menyusuri jalan yang dilewati. Saat itulah mereka menemukan sepeda Nn. Windi di pinggir jurang, tetapi Nn. Windi tidak ada di sana.”

“Tour Bike? Agenda macam apa itu ? Sejak kapan Rainbow mengadakan tour bike di musim dingin? Siapa yang memberikan izin?”

“Itu ... idenya ... Tuan Muda, Tuan.”

“Apa? Idenya Yoo Ill? Apa dia sudah gila? Lalu mengapa Manager Lee tidak mencegahnya? Mengapa?”

“Hal itu saya kurang tau jelas rinciannya, Tuan. Sepertinya Tuan Muda telah memberikan alasan yang sangat logis makanya manajemen Rainbow menyetujui agenda itu.”


“Gila ... ini benar-benar gila. Aku tidak percaya hal sebodoh ini bisa terjadi. Panggil mereka-mereka yang bertanggung jawab kesini. Cepaatt !” Suara Tae Ho menggelegar di ruangan itu. Mukanya merah padam, jelas sudah dia telah mencapai puncak murkanya.


Bersambung ...

Wednesday, October 23, 2019

You're My Destiny, Part 8

October 23, 2019 0 Comments


Part 8: Lost in Some Where


"Ajumma, gwaenchanh-a ?"



Windi mengerjap tiga kali, melihat samar ke asal suara itu. Nampak jari-jari kecilnya menggenggam ujung-ujung jari Windi yang mulai mati rasa karena beku. Mata beningnya menatap lurus, menyiratkan ke khawatiran. Windi mengangguk, bersusah payah berusaha untuk bangkit. Namun nyeri yang tak tertahankan di pergelangan kaki, bahu dan pinggang membuatnya susah untuk berdiri. Tangan-tangan mungil itu berusaha membantu Windi, namun tentu saja bobot 60kg Windi bukanlah tandingannya. Dia justru terbawa, ikut terjerembab bersama Windi diiringi teriakan kesakitan dari mulutnya, karena tubuhnya tertimpa tubuh Windi.

"Yoon Sung-ah, neun gwaenchanha ?"

Sebuah sorakan dari belakang membuat Windi lega. Setidaknya anak itu bisa segera di selamatkan dari tindihan tubuhnya yang semakin sulit untuk digerakkan.

"Yaa.. dangsin-eun maeng-in ? dwie jasig eobs-eum .. bla..bla..bla,” Windi tidak begitu mengerti yang diucapkannya..

Sepertinya dia salah paham karena mendapati anaknya tertindih tubuh Windi. Dengan kasar laki-laki itu mendorong tubuh Windi dan menarik anak itu kepangkuannya. Beberapa kali dia mengusap-usap kepala anak itu dengan cemas.

"Mianhae,” kata Windi semaksimal mungkin dengan kata-kata yang dia tahu, seraya membungkukkan badan.

Laki-laki itu balas membungkukkan badannya. Windi sedikit lega wajah laki-laki itu sudah tidak kaku lagi.

"Hmm.. Yeong-eo hal jul eseyo ?" tanya Windi kemudian. Menanyakan kemungkinan dia bisa berbahasa Inggris atau tidak.

"Chogeumyo,” jawabnya sambil mengarahkan jari kelingkingnya ke arah Windi. Mengisyaratkan dia bisa sedikit berbahasa Inggris. Windi pun menarik nafas lega.

Dia mendekat, berjongkok dekat kaki Windi yang terluka.

"Hurt ? your leg .. hurt ?" dia berusaha menanyakan kondisi kaki Windi, ujung jarinya menyentuh areal luka yang tertutup kaus kaki.

Windi mengangguk menahan nyeri. Ingin menjelaskan dia terjatuh dari tebing, dan terguling-guling ke jurang, dan mendarat disini. Tapi lidahnya kelu.

Sepertinya laki-laki itu paham dengan kondisi Windi yang memerlukan pertolongan secepatnya. Tanpa bertanya apa-apa lagi dia menaikkan Windi ke punggungnya, tapi untuk sesaat pria paruh baya itu tertegun ketika melihat lengan Windi yang terluka. Jika Windi tidak salah menilai, parasnya sedikit memucat. Tapi pria paruh baya itu berusaha menutupinya dan cepat-cepat menaikkan Windi ke punggungnya kemudian berlari menyusuri beberapa petak tanah yang ditumbuhi ilalang.

Windi bisa mendengar suaranya yang terengah-engah menahan tubuhnya yang berat. Di dalam hati dia merasa kasihan, sekaligus tidak enak, karena harus membebaninya.

Matahari semakin condong, pertanda senja akan segera menjalankan tugasnya. Mereka sampai di depan sebuah klinik kecil - kalau boleh ia menyebutnya begitu. Tidak ada tanda-tanda sebagaimana lazimnya klinik sebagaimana yang ia kenal, kecuali ada tanda palang merah yang tergantung di atas pintu.

Laki-laki itu membaringkan Windi pada sebuah dipan. Kemudian dia berbicara dengan seorang pemuda yang sepertinya pemilik tempat itu.

Siapa ya ? Kok rasanya pernah lihat ? Tapi dimana ? tanya Windi dalam hati.

Pemuda itu memeriksa tubuh Windi dengan seksama, membubuhi beberapa benda menyerupai tepung berwarna kuning ke luka yang cukup lebar di kaki kanannya. Kemudian membalutnya dengan perban putih.

Setelah itu dia berbicara dengan laki-laki yang menggendong Windi tadi. Mereka bicara cepat sekali, sehingga ia sama sekali tidak mengerti apapun yang mereka bicarakan.

Sepertinya pemuda itu mengatakan bahwa Windi baik-baik saja, karena nampak kelegaan di wajah laki-laki tua tadi setelah berbicara dengan pemuda itu.

Dia pun pergi disusul anaknya yang sambil melangkah tak melepaskan pandangannya dari Windi. Windi mengangkat ibu jari kearahnya, sebagai isyarat ucapan terimakasih karena dia telah menemukannya..

"Apakah kamu turis ?" pemuda itu bertanya dalam bahasa Inggris yang fasih.

Sepertinya kemampuan bahasa Inggrisnya jauh lebih baik. Syukurlah, berarti ada harapan aku bisa lebih nyambung jika bisa menggabungkannya dengan beberapa gerakan isyarat tangan, batin Windi dalam hati.

Windi tidak langsung menjawab, karena otaknya masih berkerja keras berusaha untuk mengingat dimana mereka pernah bertemu. Tapi masih gagal.

“Heyy.. I’m asking ..,” tegurnya membuyarkan lamunan Windi. Ia pun tergagap.

"Oh ... sorry ... sorry, yes, I’m. Ya, aku wisatawan dari Indonesia, aku ikut rombongan Tour Bike, tapi terjatuh dari tebing sebelah sana ketika sedang berusaha menjangkau bunga yang tumbuh di bibir tebing.”

Oh..la..la.. Windi sangat malu dengan pronunciation-nya yang belepotan. Kondisi ini membuat Windi menyesali satu hal, mengapa dulu tidak belajar bahasa Inggris dengan baik ? Tetapi sepertinya pemuda itu cukup paham dengan apa yang ia katakan. Dia tersenyum lalu menepuk kaki Windi dua kali, seolah berkata, "Jangan cemas, kamu baik-baik saja.”

"What is your name ?" tanyanya lagi.

"Windi Faniro, please call me Windi,” jawabnya sambil mengulurkan tangan.

"Oh.. Han Yoo-ill. Call me, Yoo-ill,” pemuda itu balas menjabat tangan Windi dengan erat.

Yoo-ill ? You ill ? hihi nama yang unik, kenapa ga You-Sick aja sekalian, batin Windi dalam hati. Dasar tidak bisa akting, dia justru ketahuan tengah menahan tawa.

"Hei.. you laughing at me ?" Yoo Ill memandang Windi dengan tatapan lucu. Sumpah, mimiknya sangat lucu saat itu. Dalam hati mungkin berkata, nih orang aneh deh kok ketawa sendiri ?

"Sorry.. sorry.. Aku tidak bermaksud menertawakanmu, sama sekali tidak. Aku hanya merasa sedikit geli mendengar nama kamu...”

Dia masih memandangi Windi dengan heran, antara paham atau tidak, atau mungkin saja dia bingung dengan kata-kata yang Windi ucapkan, dan ia menyadari itu, karena dia sendiri juga tidak begitu yakin dengan yang dikatakannya tadi.

Windi terdiam sejenak, mencari cara yang tepat untuk menggambarkan apa yang ia katakan.

"Hmm.. geli.. kamu tahulah.. its like.. hmm.. when something moves in here, here, or here..", jelas Windi sambil memperagakan gerakan menggelitik di ketiak, pinggang dan telapak kaki.

"Owh.. amused ? yea..yeah.. I see.. hoho", dia tertawa terpingkal-pingkal.

Mungkin cara Windi memperagakan tadi nampak lucu di matanya. Windi langsung tersurut malu dengan muka merah seperti udang.

Yoo Ill bergeming melihat wajah Windi yang memerah, lalu lanjut mengatakan bahwa malam ini kemungkinan besar Windi akan demam karena infeksi luka itu.

Tapi dia meyakinkan Windi untuk tidak terlalu khawatir, setelah minum beberapa pil obat, ia akan tertidur dan kembali segar keesokan paginya.

"Kamu dokter ya?" tanya Windi lagi.

Penasaran dengan kemampuan Yoo Ill dalam mengobatinya tadi, yang sangat kontras dengan suasana ruangan itu yang sama sekali berbeda dengan gambaran klinik yang Windi tau.

Yoo Ill menjawab dengan gumaman yang tidak begitu jelas. Sepertinya enggan membicarakan hal itu.

Windi pun tidak tertarik untuk menanyakan lebih detil, toh ia sendiri juga tidak tau cara menanyakan yang tepat. Lagi pula ada satu hal yang lebih membuatnya penasaran.


“Hmm ... kamu seperti seseorang yang aku kenal. Apakah sebelumnya kita pernah bertemu?” tanya Windi penuh selidik.

Alis mata pemuda itu naik, manik mata mereka bertemu dengan penuh tanda tanya.



Bersambung ...


Tuesday, October 22, 2019

Keandalan Transportasi untuk Dukung Ekonomi dan Pariwisata di Pasaman

October 22, 2019 0 Comments
Aku termasuk orang yang jarang melakukan perjalanan. Kalau tidak begitu penting, ya, mending di rumah sajalah. Bagiku, berpergian dan liburan bukan aktifitas yang wajib ada dalam agenda tahunan kami.

Bukan karena budget yang tidak memadai, alasan utamaku kurang menyukai aktifitas perjalanan ini adalah faktor transportasi yang kerap mengecewakan. Apalagi jika tujuan perjalanan adalah daerah-daerah kecil yang jauh dari ibukota propinsi, bukan hanya akses jalan yang minim, sarana transportasi pun sangat tidak nyaman.

Tanah kelahiranku adalah kota Lubuk Sikaping, di Kabupaten Pasaman. Kurang lebih 9 jam perjalanan dari Pekanbaru. Jalannya berliku dan penuh gelombang. Sarana transportasi dari Pekanbaru ke Pasaman hanya ada bus kelas ekonomi. Terakhir naik bus ini tahun 2003 masih menyisakan trauma di pikiranku. Itulah alasanku merasa enggan untuk mengunjungi kampung halamanku.

Meski begitu aku selalu mencari tahu tentang kondisi kampung halamanku ini dari semua kenalan, teman, dan keluarga yang baru saja kembali dari sana. Dari cerita dan foto-foto yang mereka bagikan, aku pun dapat gambaran bagaimana perkembangan tanah kelahiranku. Ternyata sudah sangat banyak berubah.

Salah satu teman bahkan mencandaiku, "Mer, kalo pulang kampung jangan sendiri-sendiri, ya. Nanti nyasar, lho."

Memang tidak salah mereka mencandaiku begitu, karena Kabupaten Pasaman sudah sangat berbeda dengan saat aku tinggalkan dulu.

Perkembangan tranportasi di Indonesia ternyata cukup pesat. Setidaknya itulah yang aku lihat dalam 5 tahun terakhir ini, khususnya di daerah Kabupaten Pasaman.

Perubahan yang sangat menyolok di Pasaman dalam kurun waktu 5 tahun terakhir adalah:

1. Akses jalan semakin baik


Seperti yang aku sebutkan di atas, akses jalan menuju Pasaman dari Pekanbaru sangat 'menyeramkan'. Jalannya berkelok-kelok, dan juga sempit. Terlebih lagi saat melewati Kelok Sembilan. Dulu aku selalu sakit perut saat melewati area ini, karena ngeri dengan kontur jalan yang berbelok tajam dan bertingkat-tingkat.

Tetapi Kelok Sembilan sekarang justru sudah menjadi objek wisata baru di Sumatera Barat. Banyak orang-orang yang melintasi jalan ini berhenti untuk mengabadikan momen mereka di sana karena pemandangannya yang sangat indah.



Di kota Lubuk Sikaping sendiri akses jalan pun sudah sangat baik. Jalan sudah memiliki 2 jalur yang lebar, dan aspal yang mulus dan rata. Sehingga pengendara bisa mengendarai kendaraan mereka dengan nyaman.

Sementara itu di Pasaman Barat, semakin banyak jalan-jalan dan jembatan baru dibangun demi kelancaran mobilisasi publik.

2. Transportasi semakin handal

Transportasi dari Pekanbaru ke Pasaman sudah bervariasi, tidak lagi hanya mengandalkan bus. Saat ini sudah banyak mobil travel yang pastinya jauh lebih memberikan kenyamanan.

Selain itu, di Pasaman Barat juga sudah berdiri Bandara Pusako Anak Nagari yang secara resmi telah terdaftar dan dinyatakan layak di operasikan oleh Kementerian Perhubungan Republik Indonesia pada tahun 2015. 



Bandara ini memiliki landasan pacu sepanjang 600 meter dan lebar 65 meter, sehingga bisa menampung pesawat jenis Twin Otter, Cassa 212, Cesna 208, dan Cesna Grand Caravan. Salah satu armada udara yang telah melayani penumpang di bandara ini adalah Susi Air.


3. Objek wisata semakin banyak


Membaiknya akses jalan dan transportasi ternyata melahirkan objek wisata baru di Pasaman. Mengapa aku bilang baru? Karena objek wisata ini memang belum ada atau belum dibuka sampai aku pergi pada tahun 2003 dulu. Jadi objek-objek wisata ini baru dibuka sekitar 5-6 tahun yang lalu.

Berikut adalah beberapa objek wisata baru yang sudah mendapat kunjungan dari berbagai pelancong baik domestik atau pun mancanegara.

🏡️ Taman Bunga Puncak Tonang

Dibuat pada lahan seluas 20 ha, Taman Bunga Puncak Tonang ini berisikan berbagam ragam bunga yang cantik dan beraneka warna. Lokasinya berada pada ketinggian, sehingga menghadirkan udara yang sejuk sepanjang hari membuat para pengunjung betah berlama-lama di sini.



Taman Bunga Puncak Tonang ini berada di Nagari Sundata, Kecamatan Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman.

🏡️ Puti Gonjoli Hill

Puti Gonjoli Hill mungkin sebuah objek wisata alam yang masih sangat asing di telinga para traveler domestik. Tetapi cukup familiar di telingan para traveler mancanegara, karena sudah sering dijadikan sebagai arena take off paralayang. 



Selain itu, Puti Gonjoli Hill juga menyajikan pemandangan yang memanjakan mata dan cocok banget bagi kamu-kamu yang pengen berbagi foto dengan background indah di media sosial.

Lokasinya berada di Nagari Persiapan Pinaga, Nagari Aua Kuniang, Kecamatan Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat.

🏡️ Pasir Putih di Pulau Pigago

Pulau Pigago ini bisa diakses dengan menaiki speedboad dari dermaga Pantai Air Bangis. Pulaunya berukuran mungil, tapi pemandangannya sangat eksotis. Pasir putihnya membentang sejauh mata memandang, selaras dengan birunya air laut, dan hijaunya alam. Siapa yang tidak akan betah berlama-lama berada di Pulau Pigago ini? 



Pulau Pigago ini memang masih perawan, karena memang belum lama dijadikan objek wisata, sehingga belum ada fasilitas penginapannya. Tetapi tidak menutup kemungkinan, kan.

🏡️ Pantai Maligi

Pantai Maligi terletak di Kecamatan Sasak Ranah Pasisie, Kabupaten Pasaman Barat. Tidak kalah dengan Pulau Pigago, pantai Maligi juga memiliki hamparan pasir putih yang memanjakan mata.



Bahkan dengan ukurannya yang luas Pantai Maligi ini cocok dijadikan arena permainan yang seru.

🏡️ Pantai Teluk Tapang

Keistimewaan dari Pantai Teluk Tapang adalah pasirnya yang berwarna merah bata. Berpadu dengan buih air laut yang berwarna putih, Pantai Teluk Tapang benar-benar menyajikan pemandangan yang tidak biasa. 



Pantai Teluk Tapang ini berada di Nagari Air Bangis, Kecamatan Sungai Beremas, Kabupaten Pasaman Barat.

4. Perekonomian penduduk yang semakin sejahtera.

Sepanjang pengetahuanku saat sekolah dulu, Pasaman itu identik dengan daerah pertanian. Masyarakatnya rata-rata masuk dalam kategori menengah ke bawah.

Tetapi tentu saja pemikiranku itu salah.

Pasaman kaya dengan sumber daya alam yang sudah pasti bisa menyejahterakan masyarakatnya jika dikelola dengan baik.

Seiring dengan membaiknya sarana dan prasarana di Pasaman, yang berdampak pada pertumbuhan objek wisatanya, maka masyarakat tempatan pun mendapat kesempatan untuk meningkatkan pendapatan mereka lewat bermacam-macam bisnis. Seperti bisnis kuliner, penginapan, kerajinan tangan, hingga asesoris.

Keandalan Transportasi untuk Ekonomi dan Pariwisata di Pasaman


Aku sangat bersyukur dengan semua perbaikan yang dilakukan pemerintah dibidang transportasi khususnya di Pasaman ini. Semua ini tentu saja tidak lepas dari peran Kementerian Perhubungan Republik Indonesia yang tidak lelah selalu berbenah diri, berkolaborasi dengan pemerintah pusat dan daerah, memberikan pelayanan terbaik demi lancarnya hubungan antar desa, antar kota, antar propinsi, dan antar pulau di Indonesia.

Lancarnya sarana dan prasarana transportasi menuju Pasaman, berhasil menarik orang-orang untuk datang ke Pasaman. Ada yang datang untuk berkerja, ada yang datang untuk berwisata, dan bahkan ada yang memutuskan untuk menetap menjadi warga Pasaman.

Dengan banyaknya pendatang ini, dan didukung oleh teknologi digital, di mana hampir semua orang memiliki media sosial, maka objek-objek wisata yang sebelumnya hanya diketahui oleh warga lokal akhirnya dikenal oleh dunia. Pemandangan yang eksotis itu akhirnya berhasil menarik banyak mata untuk terus datang dan kembali lagi.

Seiring berjalannya waktu, perekonomian masyarakat lokal pun semakin membaik karena terbukanya kesempatan untuk jenis-jenis usaha baru. Kehidupan masyarakat pun tidak lagi terasa monoton.

Banyaknya peluang usaha yang terbuka, membuat angka pengangguran pun menjadi turun. Tingkat pendidikan masyarakat pun semakin membaik. Pola pikir masyarakat yang terbuka akan perubahan membuat Pasaman semakin maju dari waktu ke waktu. Dengan begitu kesenjangan sosial di masyarakat pun tidak lagi terlihat menyolok.

Jika Pasaman bisa merasakan perubahan yang signifikan dalam hal transportasi, pariwisata, dan ekonomi, maka aku juga sangat yakin daerah-daerah lainnya di Indonesia juga bisa mengalami hal yang sama.

Oleh karena itu mari kita dukung terus program-program pemerintah demi pemerataan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Terutama sekali dalam hal pembangunan sarana dan prasarana transportasi ini.

Untuk mengetahui sepak terjang Kementerian Perhubungan Republik Indonesia dalam membenahi transportasi di negara kita, bisa dibaca langsung di website resminya yaitu http://dephub.go.id.

Atau bisa juga dilihat di akun media sosialnya, lho, gais.

Berikut akun media sosial Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.

◾Twitter: https://twitter.com/kemenhub151
◾Facebook: https://www.facebook.com/kemenhub151
◾Instagram: https://instagram.com/kemenhub151


Transportasi unggul, Indonesia maju.
Jayalah Indonesiaku.







You're My Destiny, Part 7

October 22, 2019 0 Comments



Part 7: Petaka yang Tidak Terelakkan

Agenda mereka memasuki acara puncak, yaitu bersepeda keliling kota. Mengapa ini acara puncak? Karena dengan kegiatan ini para peserta diharapkan dapat bersentuhan langsung dengan kebudayaan Korea dalam setiap perhentian nantinya. Sembari menikmati pemandangan Korea, mereka bisa bercengkrama dengan keramahan warga lokal. Hhm ... sepertinya cukup menarik, batin Windi.

“Fin, guide-nya bilang apa tadi ?” tanya Windi sambil merapikan kaus kaki yang menggulung. Sementara Fina sedang melakukan gerakan-gerakan peregangan otot ringan.

“Dia bilang, kita akan bersepeda di distrik Songpa. Ntar di sana kita dibagi sepeda satu-satu sekalian sama rutenya juga. Eh, jangan lupa bawa badge, lho, Win,” ujar Fina mengingatkan.

Kata-kata itu sontak membuat Windi langsung meraba saku, dan bersyukur mendapati badge itu ada di sana. Dia segera mengalungkannya di leher untuk antisipasi resiko ketinggalan atau kelupaan. Windi tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika dirinya tersesat, sementara badge ketinggalan. Tersesat di negara asing? Waaah ... membayangkannya saja sudah membuat Windi bergidik ngeri.

Tidak lama kemudian terdengar panggilan agar mereka segera berkumpul. Setelah memastikan bawaannya tidak ada yang tertinggal, Fina dan Windi pun segera bergabung dengan peserta lainnya. Mengingat rute yang akan mereka tempuh cukup panjang, pihak panitia tidak memperpanjang acara pembukaannya, hanya sekedar basa-basi dan pengenalan tim yang bertanggung jawab, setelah itu mereka pun berangkat menuju titik pemberhentian pertama.



Setelah berkendara selama kurang lebih 20 menit, mereka sampai di Jamsil Bike Rental Facility. Ini adalah tempat penyewaan sepeda bagi pengunjung yang ingin melakukan wisata sepeda di distrik Songpa.

Ada tiga macam rute yang ditawarkan di sini, yaitu Jamsil Tour Course yang akan melewati Seockchon Lake – Bangi Eatery Alley – Olympic Park.

Windi cukup familiar dengan nama-nama daerah yang disebut, seperti danau Seockchon yang cantik karena beberapa kali pernah melihatnya di tayangan drama Korea.

Rute lainnya adalah rute yang menyusuri aliran anak sungai di kota Seoul, mereka menyebutnya Songpa Waterway Course.

Di rute ini yang menarik adalah Wall Hope yang akan ditemukan di Seonghaecheon Stream, dan yang paling populer adalah Hangang River alias Sungai Han.

Mendengar nama sungai ini mengingatkan Windi pada adengan drama Korea yang memang banyak menggunakan Sungai Han sebagai latarnya.

Dalam hati Windi membisikkan doa, semoga rute itu terpilih untuk perjalanan mereka. Satu lagi rute yang tersisa adalah Urban Bike Lane Course yang melintasi jalan-jalan perkotaan.



“Win, kamu suka rute yang mana ?” bisik Fina.

“Aku pengennya yang Waterway aja, Fin. Karena aku pernah liat di internet, bersepeda di sepanjang Sungai Han itu asyik banget, lho! Apalagi di saat salju gini, pasti seru. Ahh ... Kalo saja kita punya pacar pasti romantis banget, tuh.” Jawab Windi dengan penuh antusias.

“Ah, loe, ngayalnya ga pake bandrol. Tapi aku setuju sama pendapat kamu. Aku juga penasaran pengen liat Sungai Han dari dekat. Mudah-mudahan suara terbanyak ntar ambil rute itu ya, Win.” Windi mengangguk mantap.

Syukurlah yang punya pikiran seperti mereka banyak, lebih dari separuh peserta memilih rute Waterway. Satu persatu mereka pun mulai melaju menyusuri jalanan.

Udara yang sejuk ditambah dengan semilir angin yang bertiup membuat peserta antusias mengikuti tur sepeda ini.

“Uwaaa ... Fin! Lihat !” sorak Windi sambil mengembangkan tangan lebar-lebar. Melihat Windi tertawa begitu lepas Fina tampak sangat bahagia. Rasanya itu adalah tawa terlebar dari seorang Windi dalam 3 tahun terakhir.



“Hati-hati Win, licin!” serunya, khawatir melihat sepeda Windi yang meliuk-liuk dalam kecepatan tinggi di atas jalanan bersalju. Windi tidak menghiraukan seruan Fina, justru semakin memperbanyak aksinya.

“Tenang Fin, kalau beginian mah aku ahlinya,” balas Windi jumawa.

Sepeda yang dikendarainya mulai memasuki tanjakan yang cukup terjal. Ketahuan banget jarang olahraga. Windi mulai ngos-ngosan, kesulitan mendaki tanjakan.

Windi menghentikan laju sepedanya untuk sesaat menarik nafas. Sementara rekan-rekan lainnya telah duluan mencapai bukit.

Beberapa belas meter di depan Windi, Fina melambaikan tangannya meminta Windi untuk bergegas, dia balas melambaikan tangan, memberi tanda agar Fina duluan.



Setelah beristirahat beberapa menit, Windi kembali mengayuh sepedanya. Jalanan semakin sempit dan terjal. Di sebelah kiri adalah jurang, yang dibatasi pagar besi. Kurang lebih kedalamannya adalah sekitar 15 meter. Tidak cukup dalam sih kalau dibandingkan dengan jurang-jurang yang ada di Indonesia. Tapi terjatuh kesana tetaplah sesuatu hal yang menyakitkan. Dan Windi tau pasti dia tidak mau itu terjadi.

Sebelah kanan ada bebatuan. Windi mempercepat kayuhannya agar segera bisa menyusul Fina yang sepertinya sudah sampai ditempat peristirahatan pertama.

Windi kembali berhenti. Kali ini bukan karena kelelahan tapi lebih karena pemandangan indah yang tidak mau ia lewatkan.

Di bibir tebing, dia melihat serumpun bunga yang sedang mekar dengan sangat indah. Dia tidak tahu persis itu bunga jenis apa, tapi keindahannya sungguh membuatnya terpukau dan dia penasaran ingin mencium aromanya.

Windi memarkirkan sepedanya di pinggir jalan, lalu melangkah mendekati bibir tebing. Aroma wangi semakin menyengat. Hmm.. mirip melati, tapi warnanya kuning. Bunga apa nih, ya? tanyanya dalam hati.

Dia pun berjongkok, berusaha menggapai bunga yang ternyata tumbuh di bagian dalam dinding tebing. Tapi posisinya masih terlalu jauh untuk digapai. Tidak ada cara lain, dia harus menelungkup, lalu menjulurkan tangan kearah tangkainya. Separuh badannya menggantung di bibir tebing.

“Yes, berhasil !” serunya girang.

Ketika jemarinya berhasil meraih batang bunga itu. Windi menyentaknya sekuat tenaga, tetapi gagal. Bunga itu tidak bergeming dari tempatnya. Ternyata bunga itu memiliki akar yang sangat kokoh.

Sepertinya aku masih kurang dekat, nih, pikir Windi lagi. Dia beringsut lebih dekat, kemudian menyentak tangkai bunga itu kembali sekuat tenaga.

“Yes!” soraknya senang. Bunga wangi itu berhasil dia dapatkan.

Agar lebih mudah untuk bangkit, Windi menyelipkan bunga itu di sela-sela bibirnya. Susah payah ia beringsut mundur dengan bertumpu pada bibir jurang. Tapi tidak mudah, karena badannya sudah terlanjur terlalu terjulur ke badan tebing. Ia justru merasakan tanah di bawahnya bergerak.

Oh ...tidaaaak! Teriak Windi panik.

Bibir jurang tidak cukup kuat menahan beban tubuh Windi. Dia tergelincir, dan jatuh lalu terguling-guling di badan tebing.

Windi berteriak minta tolong, tapi percuma karena dalam hitungan detik tubuhnya telah jatuh tanpa terkendali.

Windi menjerit kesakitan setiap kali tubuhnya menghantam bebatuan yang keras. Tubuhnya terus menggelinding, melewati sesuatu yang sempit, basah dan gelap. Dia tidak tahu itu apa, karena matanya terpejam. Windi juga tidak tahu pasti berapa lama ia terguling-guling tanpa arah begitu, yang ia tahu beberapa waktu kemudian pinggulnya menyentuh tanah dengan keras.

Semua mendadak gelap.


Bersambung ...

Monday, October 21, 2019

You're My Destiny, Part 6

October 21, 2019 0 Comments


Part 6: Hobi yang Membawa Hoki

Agenda Fina dan Windi yang pertama adalah berkunjung ke tiga tempat populer yang pernah dijadikan lokasi syuting drama-drama Korea.

Hmm ... untuk urusan begini mah, aku gak akan minder, batin Windi dalam hati. Dijamin sembilan puluh lima persen lokasi-lokasi syuting K-Drama itu akutahu. Ga lebaylah, kan K-Drama addicted. Hahaha. Windi masih cekikikan dalam hati karena girang.

Imainasi liarnya membawa pikirannya pada harapan bahwa agenda mereka hari ini akan menjadi momen yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup. Untuk itu Windi dan Fina mengabadikan semua kegiatan mereka lewat kamera. Semua spot foto tidak ada satu pun yang mereka lewatkan.

Sayangnya agenda hari pertama ini ternyata tidak semenarik dugaan dan harapan mereka. Karena kentara banget, agenda hari ini adalah agenda titipan dari dinas pariwisatanya Korea. Kunjungan mereka ke tempat-tempat bersejarah itu benar-benar monoton, hanya jalan-jalan sambil mendengar tour-guide menjelaskan sejarah tempat itu. Coba saja seandainya kegiatan mereka diselingi dengan aktifitas serunya lainnya seperti parodi salah satu drama misalnya, atau bisa juga diselingi kuis berhadiah. Windi yakin pasti semua peserta antusias.

Tapi tentu saja semua itu hanya hayalan Windi saja. Karena fakta yang terjadi justru sebaliknya. Tour Guide-nya pun sedikit kaku. Bahasa Inggrisnya tidak begitu bagus. Masih kalah lancar dibandingkan Ms. Choi kemarin. “Kenapa ga dia aja yang jadi guidenya, ya ?” Windi bertanya dalam hati.

Mereka kembali ke hotel sebelum pukul sembilan malam. Setelah mandi, Windi segera menyusupkan diri ke bawah selimut tebal. Tidak sabar menunggu esok pagi.

Jumpa fans dengan Siwon. Hmm ... cukup kecewa sih, pengennya tuh jumpa fans dengan Lee Min Ho, Song Joong Ki atau Kim So Hyun. Tapi Choi Siwon boleh jugalah, setidaknya Windi pernah nonton The Lord of Drama dan Oh My Lady yang dibintanginya.



***



Sesuai agenda, mereka sampai di K-Pop Street yang terletak di Apgujeong Rodeo Station, yang merupakan Station Subway terdekat yang bisa ditempuh dari Wangsimni, dengan transfer ke Bundang Line. Begitulah kurang lebih penjelasan rute yang disampaikan oleh guide mereka hari ini.

Setidaknya ada empat perusahaan entertainment di bidang musik ada di sini, sebut saja SM Entertainment, FNC, JYP dan Cube Entertainment.

Ketika keluar dari Apgujeong Rodeo Station kami disambut dengan bermacam display bintang K-Pop. Kata guidenya lagi, display itu akan terus berganti setiap musimnya. Windi melihat wajah Choi Siwon di salah satunya.

“Sepertinya Siwon itu populer banget ya, Win ?” bisik Fina ketika mereka melewati display itu.

Windi melihat Siwon sedang memamerkan giginya yang putih rapi dengan latar berbagai brand berbeda. Dimatanya senyuman itu tak ubah menyerupai buntalan uang kertas. Ada ukiran simbol dollar di permukaannya. Bukan rahasia lagi kan, mereka pasti mendulang dollar dari kontrak mereka.



Rombongan mereka berjalan cukup jauh, tidak kurang satu kilo meter untuk mencapai kantor tersebut. Mereka di pandu melewati Exit 2, karena katanya agar bisa sekalian melihat jalan paling elite di Korea Selatan.

Perjalanan berlanjut terus sampai naik eskalator. Windi melihat ada pom bensin di seberang jalan sebelah kanan. Pas didepan mereka ada lorong yang tidak begitu panjang. Guide mengarahkannya untuk berbelok kekiri. Dihadapan mereka terpampang papan nama Chungdam High School. Hmm ... kalo ga salah ini SMA paling wah di Korea.

Cukup melelahkan, tapi sekaligus menyenangkan. Perjalanan mereka terus berlanjut ke perempatan yang tidak jauh dari sana. Berbelok ke kanan, maka sampailah mereka di depan gedung yang di depannya ada taman dan banyak gadis remaja menunggu dengan kameranya. Berarti mereka sudah sampai di depan SM Entertainment.

Setelah menggelar konferensi pers, akhirnya Siwon menggelar jumpa fans di aula utama yang meriah dibalut pernak-pernik aneka warna.

Acara diawali dengan tampilnya 3 peniru Siwon yang mengenakan topeng di atas panggung. Tentu saja aksi mereka mendapat teriakan ‘huuu’ dari penonton.

Akhirnya Siwon muncul dan bernyanyi tapi dari kursi penonton, membuat fans di sekitarnya menjerit histeris dan mencoba untuk melihatnya lebih dekat.

Setelah lagu pertama berakhir, ada sesi bincang dengan MC dimana Siwon mendapat beragam pertanyaan. Siwon mengatakan bahwa ia sangat menyukai penggemarnya, katanya dia bukanlah siapa-siapa tanpa adanya penggemar. Top deh Siwon, aku setuju banget tentang itu, ujar Windi membatin

Untuk sesi permainan pertama, Siwon diminta memilih 5 fans beruntung tapi dengan ceria ia meminta 10 fans karena ia ingin berkomunikasi dan berinteraksi dengan lebih banyak fans. Mereka bermain tebak-tebakan dan pemenang utama mendapatkan hadiah berupa barang pribadi dari Siwon.

Coba tebak siapa yang diantara 10 orang yang beruntung itu ?

Windi.

Yeay! Dia bahagia sekali. Windi tidak menduga bahwa hobinya akan mendatangkan hoki tersendiri. Kalau sudah begini, siapa yang akan berani bilang hobi nonton drama Korea itu buang-buang waktu dan energi?



Fina menatap iri syal warna biru pemberian Siwon yang kini menggantung indah di leher Windi. Ahh ... memang ga ada ruginya ikut perjalanan ini, batin Windi sambil memamerkannya bangga. Fina memalingkan muka, mempercepat langkah mendahului Windi.



Windi hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu. Fina memang begitu orangnya, mudah cemburu dan iri melihat kebahagiaan orang lain. Windi juga tidak mengerti mengapa Fina memiliki sifat seperti itu dengan semua kelebihan yang dia miliki. Tetapi Windi tetap bersyukur, meskipun sifatnya kolokan dan manja, Fina itu memiliki hati yang sangat baik dan lembut. Dia tidak akan pernah tega melihat orang-orang yang disayanginya menderita. Dia sangat perhatian dan mudah akrab dengan siapa saja. Dia juga tidak pernah sombong dengan kekayaan yang dimiliki orangtuanya.



“Harta dunia ini cuma titipan, Win. Apa yang harus disombongin coba? Dalam hitungan detik, kalau Allah berkehendak dia bisa ambil lagi semuanya. Kan gak lucu kalau hari ini aku pamer harta, tau-tau besoknya aku jadi gembel. Mau ditaruh di mana ini muka? Hahaha. Jadi aku dan kamu itu ga ada bedanya. Jangan pernah merasa minder lagi, ya,” kata Fina suatu waktu saat Windi menanyakan mengapa Fina mau berteman dengannya sementara dia adalah anak orang kaya.



Teringat akan kata-kata Fina waktu itu, Windi pun segera mempercepat langkahnya menyusul Fina.



“Fin, tungguin gue, dong.”

“Ayo, buruan. Langkah kamu jadi lelet banget setelah dapet syal itu. Lehernya keberatan, ya?” sindir Fina dengan wajah lucu. Windi tidak menjawab, hanya mempercepat langkahnya kemudian menggelitik pinggang sahabatnya itu dengan girang. Tawa mereka pun membahana di bawah langit Korea.



Fina dan Windi melanjutkan langkah mereka menuju bus yang akan membawa mereka ke hotel, tanpa menyadari sepasang mata tengah memandangi mereka dengan serius.



Bersambung ...

Friday, October 18, 2019

You're My Destiny, Part 5

October 18, 2019 0 Comments


Part 5: Pelarian

Semua yang berada di kamar terperanjat begitu melihat penguasa rumah itu berdiri di hadapan mereka. Aura cemas langsung mengerubuti wajah Ko Joo Ri dan Han Yoo Na. Dengan memasang ekspresi angker begitu di wajahnya, mereka sangat paham bahwa lelaki tua itu sedang berada di puncak amarahnya. Tatapannya tajam tak berkedip kepada Yoo Ill. Bagaikan sinar-x, tatapan ayahnya itu mampu menembus sel-sel terdalam di relung hati Yoo Ill, membuatnya membeku untuk beberapa saat.

Tidak ingin membuat suasana menjadi canggung lebih lama, Yoo Ill segera memutar tubuhnya, melangkah lebih dekat kemudian memberi hormat kepada pria yang dia panggil ayah itu.

“Aboeji ... aku ... kembali,” ujar Yoo Ill dengan suara seperti tercekat di tenggorokan.

Plaakk !

Satu tamparan melayang ke pipi Yoo Ill.

Yoo Ill meringis, menahan rasa panas yang merayap di pipinya sambil menatap geram ke arah ayahnya. Bukan pelukan yang ia dapat, justru tamparan. Bukan wajah bahagia yang ia lihat, malah wajah penuh angkara. Untuk ke sekian kalinya, Yoo Ill terluka oleh perlakuan ayahnya sendiri.

“Yeobo ... hentikan, sudah cukup. Jangan pukuli dia lagi,” kata Joo Ri sambil menahan tangan suaminya.

“Sana! Jangan halangi aku! Anak tidak tahu diri ini harus diberi pelajaran agar dia tahu apa artinya tanggung jawab,” bentak Tae Ho. Dengan kasar ia mendorong istrinya sehingga nyaris terjatuh. Dia kembali merangsek mendekati Yoo Ill yang masih terpaku memegangi pelipisnya yang perih.

“Kenapa? Kamu marah? Tidak terima dipukuli? Mau membalas?” bentaknya lagi dengan mata merah penuh amarah.

Yoo Ill balas menatap mata ayahnya dengan tatapan tak kalah sengit. Jika bukan ayahnya, mungkin dia telah menerjang laki-laki itu hingga tersungkur. Tapi dia masih sangat waras, baginya adalah sebuah kesalahan besar jika membalas pukulan ayahnya. Sejelek apa pun karakternya, pria itu tetap ayah yang harus dia hormati.

“Inilah yang membuat aku tidak pernah betah berlama-lama di rumah ini, Bu. Tangan ayah selalu lebih dulu berbicara dari pada lidahnya,” desis Yoo Ill dengan tatapan penuh luka.

Usai berkata itu Yoo Ill mengangkat tasnya, melangkah keluar dengan gusar. Sampai-sampai bahunya menyenggol bahu ayahnya, tak ayal membuat laki-laki paruh baya itu pun terhuyung.

“Kau, kembali ke sini!” Tn. Han mengacungkan tangannya kearah Yoo Ill yang terus berlalu tanpa mengindahkannya.

“Andwaeyo, Yoo Ill-ah, kajima, jangan pergi lagi, jangan tinggalkan ibu,” rengek Joo Ri sambil menahan tangan anaknya.

“Mianhae, Eomma, mianhae ...,” bisik Yoo Ill lirih, dengan berat hati dia melepaskan genggaman ibunya, lalu bergegas pergi.

Hatinya tercabik melihat ibunya menangis. Dari hati yang paling dalam sesuangguhnya dia tidak mau melukai ibunya. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Sampai kapan pun antara dia dan ayahnya tidak akan pernah sepaham. Apa salahnya melakukan hal yang disukai? Toh, aku tidak berbuat kriminal. Memangnya salah jika aku memperjuangkan impianku sendiri? Gerutu Yoo Ill di dalam hati.

“Apa yang kalian tunggu ? Cepat ikuti dia, dan seret dia kembali !” bentaknya kepada dua laki-laki yang sedari tadi mematung di sisi pintu.



****





Yoo Ill menghembuskan nafas lega setelah menginjakkan kaki di atas bus. Dia tidak tau pasti bus itu akan membawanya kemana, yang jelas untuk sementara dia bisa menghilangkan jejak dari dua laki-laki suruhan ayahnya tadi.

Ini adalah kali kedua Yoo Ill melarikan diri. Sebelumnya dia kabur karena ayahnya memaksa dirinya untuk mengambil alih perusahaan dimana ayahnya adalah CEO-nya.

Menurut ayahnya hirarki kekuasaan mereka di perusahaan itu tidak boleh terputus. Huh ... sebuah opini yang semakin menjelaskan keserakahan ayahnya akan sebuah kekuasaan. Yoo Ill membenci ayahnya untuk alasan itu.

Untuk mendukung rencananya itu, oleh ayahnya Yoo Ill dikuliahkan di jurusan Manajemen Bisnis di universitas terbaik di negara mereka.

Hal yang tentu sangat bertentangan dengan hati nurani Yoo Ill. Dia ingin menjadi dokter. Atau pun perkerjaan lainnya yang berhubungan dengan dunia kedokteran. Sebuah passion alami yang ada dalam darahnya.

Mendedikasikan hidup guna kesembuhan pasien adalah hal yang membuat Yoo Ill selalu bersemangat.

Yoo Ill betul-betul merasa telah menemukan passionnya setelah tiga kali menjadi relawan dalam kegiatan kemanusiaan.

Disela-sela waktu kuliahnya, beberapa kali dia ikut dengan organisasi kemanusiaan yang membantu korban bencana alam. Nuraninya tersentuh ketika berhadapan dengan korban yang tidak berdaya. Dan adalah suatu kepuasan yang tak terkira ketika ia bisa menyelamatkan mereka.

Kepiawaiannya dalam berbahasa Inggris berhasil membuatnya dipercaya untuk ikut serta dalam kunjungan ke beberapa negara.

Namun sebelum semua rencananya berhasil, ayahnya lebih dahulu mengetahui rahasia itu. Tidak terelakkan lagi, ayahnya marah besar. Yoo Ill diseret, dan dikurung dalam kamar dengan pengawasan ketat.

Namun Yoo Ill sudah sangat yakin dengan pilihan hatinya. Dia berontak. Suatu pagi dia berhasil mengelabui Bibi Yu yang mengantarkan sarapan ke kamarnya. Yoo Ill pun kabur dari rumahnya.


Itu adalah cerita tiga bulan yang lalu. Kali ini Yoo Ill kembali pergi, namun bukan karena alasan pertama, namun lebih karena kecewa, ternyata ayahnya tidak berubah. Masih saja menggunakan kekerasan untuk mendapatkan keinginannya. Masih saja egois, masih saja tidak mempedulikan impian Yoo Ill. Yoo Ill tidak pernah bisa mengerti mengapa ayahnya bersikap seperti itu.

Yoo Ill rindu dengan sosok ayah yang ia kenal saat ia masih kecil. Bahkan hingga Yoo Ill remaja dulu ayahnya juga masih berprilaku hangat dan sabar. Tapi semuanya berubah total semenjak perusahaan yang ia pimpin semakin sukses. Ketika cabang perusahaan mereka telah tersebar hingga ke mancanegara. Ayahnya semakin ambisius dan egois dengan keinginannya.

Sifat ayahnya yang egois itulah yang membuat Yoo Ill rela menanggalkan semua kemewahan yang ia nikmati sejak kecil. Memang benar semua kemewahan itu bisa memudahkan kehidupannya. Tetapi jika semua itu hanya akan membuatnya mengejar materi semata untuk apa?

Baginya kebahagiaan sejati bukan terletak pada materi. Tapi bagaimana membuat diri bermanfaat bagi kehidupan orang lain.



Yoo Ill melangkahkan kakinya dengan galau tanpa tujuan yang jelas. Dia tau pasti kemurkaan ayahnya pasti telah sampai pada puncaknya kali ini. Itu berarti dia tidak akan lagi memiliki kesempatan untuk sekedar menarik tabungan yang tersisa untuk bekal pelariannya. Keegoisan ayahnya pasti telah membuat rekeningnya dibekukan.



Demi harga diri yang tersisa, Yoo Ill harus mampu bertahan dengan beberapa lembar sepuluh ribuan di dompetnya. Dan dia sadar sesadar-sadarnya, uang segitu tidak akan mampu membawanya jauh dari negeri ini. Tapi satu yang pasti, dia tidak peduli jika itu berarti harus membuatnya hidup menggelandang di dunia antah berantah, asalkan dia terbebas dari cengkraman kekuasaan ayahnya.


Bersambung ...

Thursday, October 17, 2019

You're My Destiny, Part 4

October 17, 2019 0 Comments


Part 4: Di Luar Ekspektasi

Sumpah, pertama kali yang ada dalam pikiran Windi ketika menjejakkan kaki di bandara Incheon ini adalah dua kata. ‘Megah banget!’

Meskipun beberapa kali melihat bandara ini di serial-serial K-Drama, namun tetap saja dia terperangah mengitari bandara dengan pandangan tak berkedip dan mulut menganga lebar.

Windi betul-betul merasa sangat kerdil di bawah atap bangunan yang membumbung tinggi ini. Dia tidak peduli akan apa yang orang pikirkan melihat reaksinya, mau dibilang norak, kampungan, udiklah atau sejenisnya. Well itu terserah mereka sih, tapi sumpah, aku takjub, tandas Windi dalam hati.

Windi dan Fina celingukan mencari papan nama atau tanda apapun yang bisa memberitahu keberadaan tim penjemput mereka di bandara. Ada perasaan was-was juga, kalau-kalau tim yang dijanjikan itu tidak ada. Well, bisa-bisa mereka berpetualang tanpa arah di negeri asing ini.

Seorang pria berkacamata, sedikit culun dengan celana bahan dan kaos lengan panjang, nampak celingukan ke arah gerbang kedatangan luar negeri. Di tangannya selembar kertas bertuliskan “Welcome Ms. Prasetya & Partner” nampak kusut. Sepertinya dia telah menunggu cukup lama. Wajar sih, pesawat yang membawa mereka memang sempat delay waktu transit di Singapura.

Windi dan Fina pun mempercepat langkah untuk mendekatinya. Tiba-tiba seseorang menabrak Windi dari belakang. Dia jelas saja tidak siap, langsung terjerembab. Diiringi jerit kesakitan.

“Ohh ... sorry, I’m sorry,” katanya sambil bangkit berdiri. Rupanya dia ikut jatuh bersama Windi tadi.

Sambil menahan nyeri di lututnya, Windi mencoba bangkit.

“Are you okay ?” tanyanya lagi. Windi mengangguk. Menyambut uluran tangan cowok itu. Tanpa sadar mata mereka beradu.

Dheg.. gila nih cowok ganteng banget, jerit Windi dalam hati. Kulitnya putih bersih, rambutnya hitam legam. Hidungnya mancung, tatapan matanya yang teduh mampu memberikan rasa hangat. Membuat mata Windi nyaris lupa untuk berkedip. Tuhan, sungguh sempurna ciptaanMU, bisik Windi dalam hati.

“Sorry.. saya buru-buru, jika kamu yakin tidak apa-apa saya akan pergi sekarang.”

“O..ya.. silahkan, aku baik-baik saja kok,” jawab Windi tegas.

Merasa yakin dengan jawaban Windi, dia pun berlari pergi, menembus kerumunan orang-orang yang lalu lalang.

Windi menghembuskan nafas lega. Beberapa saat berhadapan dengan laki-laki itu membuatnya nyaris lupa untuk bernafas. Dalam hati ia sisipkan doa dan berharap semoga kelak dipertemukan lagi dengan laki-laki itu.

Setelah Windi berhasil menenangkan diri, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan.



“Annyeonghaseyo, naega Fina, dangsin ibnikka .. Han seonsaengnim ?” Fina memperkenalkan dirinya berbekal panduan buku percakapan yang sempat dia beli beberapa hari yang lalu, ketika mereka sampai dihadapan pria yang memegang kertas tadi.

“Oh.. annyeonghaseyo, joesonghabnida.. bla..bla..bla,” Windi tak lagi bisa mengikuti percakapan itu dengan baik. Meski pernah belajar bahasa Korea, tapi mendengar kalimat panjang yang diucapkan dengan cepat begitu Windi masih sulit mencerna dengan baik.

Kalau tidak salah menyimpulkan, pria itu mengatakan dia bukanlah Mr. Han seperti yang disebutkan di surel, namanya Lee Kwang Soo. Dia diutus untuk menggantikan Mr. Han karena dia sedang ada kesibukan lain.

Untuk meyakinkan Windi dan Fina, dia memperlihatkan ID-Card perusahaannya, yang sama dengan perusahaan penyelenggara event ini.

Semula mereka mau protes, tapi percuma, toh mereka juga tidak tau bagaimana caranya. Yang jelas menit-menit berikutnya mereka mengekor di belakang laki-laki itu, seperti kerbau yang ditusuk hidungnya.

Mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah gedung tinggi berdinding kaca. Cahaya matahari tampak memantul di sudut-sudut kunsen baja yang dilapisi cat metalik. Membuat silau semua mata yang memandang.

Windi dan Fina dibawa ke lantai 5. Kesebuah ruangan yang lapang, beberapa pasang meja panjang berbaris rapi. Empat orang beramput pirang, dua berambut coklat, dan dua lagi memiliki kulit berwarna gelap. Di depan mereka terdapat label negara asal yang dituliskan dengan spidol hitam. Sepertinya mereka adalah peserta acara ini juga seperti Windi dan Fina.

Windi dan Fina bergabung bersama mereka, tepat di belakang label bertuliskan Indonesia. Windi melirik meja lainnya yang masih kosong, ada label Malaysia, Singapura, Thailand dan Myanmar. Hmm sepertinya masih ada peserta lainnya yang belum datang.

“Hi.. I’m Richard, from Canada,” cowok berambut pirang disamping Windi mengulurkan tangannya. Melihat penampilannya ditaksir usianya dua tahun diatas Windi. Tapi entahlah, terkadang bule ni penampilannya kan suka nipu. Wajah mereka sering lebih tua dari umur yang sebenarnya.

“Oh.. hi, I’m Windi Faniro, call me Windi,” balas Windi sambil menjabat tangannya.

“Windy ?” ulang Richard kemudian. Sepertinya dia merasa nama Windi cukup unik di telinganya.

“Yes, Windi,” sahut Windi kemudian. Dia masih belum sadar dengan pertanyaan Richard yang mengandung makna ambigu. Richard masih memandangnya. Windi pun tersadar.

“Oo, I see, I mean, I’m Windi, with ‘i’ not ‘y’,” jelas Windi sambil tersenyum ramah. Richard pun paham. Dia balas tersenyum kepada Windi.

Hmm ... sepertinya perjalanan ini akan menarik. Ga salah deh keputusannya buat menerima ajakan Fina, batin Windi antusias.

Tidak lama kemudian peserta lainnya mulai berdatangan satu-persatu. Meja yang semulanya kosong, penuh terisi. Dan ruangan yang semula senyap dalam bisik-bisik kami, menjadi berdengung seperti suara tawon lewat.

Beberapa orang bermata sipit berpakaian resmi memasuki ruangan. Sepertinya mereka adalah para panitia penyelenggara. Tiga lelaki paruh baya duduk di barisan kursi khusus yang berada di samping mimbar. Satu wanita cantik, mirip artis Kim Tae Hee yang langsung menuju mimbar. Oh.. rupanya dia pembawa acaranya.

Wanita itu bernama Choi Ji Hyun, dia membuka acara dengan bahasa Inggris yang fasih. Ga salah kalo perusahaan ini menunjuk dia sebagai PR-nya.

Acara berlanjut ke kata sambutan demi sambutan. Ternyata kalau untuk urusan beginian, Korea ga beda deh dengan Indonesia. Pembukaannya lama, inti acara cuma sedikit. Samalah dengan yang mereka alami sekarang, setelah kata sambutan terakhir dari CEO event, mereka semua diminta memperkenalkan diri agar bisa akrab satu sama lain. Berlanjut ke pembagian badge.

Benar juga kata Fina tadi sebelum berangkat, badge itu bukan badge biasa, sedikit lebih tebal berbentuk seperti kartu ATM.

Windi membolak-balik kartu itu untuk menemukan letak GPS-nya, namun nihil. Sepertinya teknologi canggih mereka telah menyembunyikannya di dalam kartu itu.

Rasa penasaran akan kartu itu ia tepis dengan segera karena tidak lama kemudian mereka telah dipandu menuju kendaraan yang akan membawa mereka ke hotel. Tentu saja Windi tidak ingin melewatkan pemandangan kota Seoul yang akan ia saksikan selama di perjalanan nanti.








Yoo Ill sampai di rumah megah itu. Wajahnya tampak sangat cemas. Kabar yang ia baca di surel dua hari yang lalu membuat jantungnya nyaris berhenti berdetak.

Pulanglah, ibu sakit keras.


“Ajumma ... mana semua orang?” tanyanya kepada wanita paruh baya yang sedang memasak di dapur. Dia Bibi Yu, asisten rumah tangga mereka.

“Aigoooo ... Tuan Muda, Anda kemana saja? Kami semua mencemaskan Anda. Terutama sekali Nyonya. Sudah tiga hari ini dia tidak mau makan,” Bibi Yu mengguncang-guncang tangan Yoo Ill dengan cemas.

“Jadi dimana ibu sekarang? Dia dirawat di rumah sakit mana?” tanya Yoo Ill penasaran.

“Dia ada di kamar, Tuan. Dia tidak mau dibawa ke rumah sakit.”

Tanpa buang waktu lagi Yoo Ill meluncur ke kamar ibunya. Tapi kamar itu kosong. Dia tidak menemukan ibunya disana.

Ada apa ini ? Apakah semua ini hanya lelucon ? Tanya Yoo Ill dalam hati. Dia berbalik dengan gusar, dan kembali menemui Bibi Yu.

“Ajumma.. jangan main-main.. dimana ibu ? Aku tidak menemukannya di kamarnya,” tanya Yoo Ill dengan nada putus asa.

“Ooo ... mianhae.. tadi saya lupa bilang, dia tidur di kamar Anda, Tuan Muda,” jawab Bibi Yu dengan ekspresi aneh. Mata Yoo Ill semakin menyipit. Hatinya berbisik ada sesuatu yang mereka tutupi saat ini.

Untuk memuaskan rasa penasarannya, Yoo Ill pun berlari menuju kamarnya di lantai dua. Suasana di lantai itu tidak berbeda dengan suasana sebelumnya ketika ia masih berada di sana. Sunyi, sepi seperti kuburan. Jika saja seseorang menjatuhkan jarum di atasnya Yoo Ill yakin ia pasti bisa mendengarnya dengan jelas.

“Surpriseeeee !” sorak dua wanita cantik itu ketika Yoo Ill membuka pintu kamarnya.

Di depannya berdiri ibu dan adik perempuannya dengan satu kue tart besar berikut hiasan warna-warni yang bergelantungan di langit kamar. Dan tentu saja Ko Joo Ri – ibunya - dalam keadaan bugar.

Yoo Ill terperangah.

“Eomma..” protes Yoo Ill dengan muka merah. Ibunya mendekat, mengalungkan tangan ke lengan Yoo Ill membawanya mendekati kue tart.

“Sudah.. ga usah protes. Kalau kami ga bohong gitu kamu mana mau pulang. Ya, kan ?” ujar Joo Ri.

“Geureomyeon..” jawab Yoo Ill dengan tatapan usil. Satu cubitan melayang di perutnya.

“Oppa, jangan buat kami cemas lagi ya, aratjii ?” ujar Yoo Na, Si Bungsu dengan nada manja.

“Ye, arasseo,” jawab Yoo Ill sambil mengacak rambut Yoo Na. Dia baru mau memulai menyantap kue yang dihadapannya ketika tiba-tiba mendengar gaduh-gaduh dari suara yang ia kenal.

“Jadi ... kau telah kembali dari petualanganmu?” suara berat itu terdengar. Han Tae Ho berdiri berkacak pinggang di depan pintu kamar diiringin tatapan tajam menikam.



Bersambung ...

Wednesday, October 16, 2019

Tips Untung Investasi Emas Online

October 16, 2019 0 Comments


Investasi emas sampai hari ini masih salah satu jalan investasi yang paling digemari masyarakat. Alasannya sih simple, karena ga perlu ribet dengan segala poin-poin polis kalau memilih investasi di sekuritas atau bank. Terlebih lagi kebanyakan orang masih sangat awam dengan istilah-istilah yang ada di buku polis. Salah-salah memahami, bukannya untung, malah bisa rugi. Itulah sebabnya investasi emas masih sangat diminati oleh masyarakat.

Selain itu, harga emas yang cendrung naik juga membuat para investor lebih merasa yakin untuk mengembangkan uangnya dalam bentuk emas. Tetapi jangan salah, harga jual akan dipotong biaya penyusutan sekitar 10-20% tergantung toko emasnya.

Rawannya kejahatan terhadap pemilik perhiasan emas akhir-akhir ini membuat para investor emas pun akhirnya pindah ke investasi emas online.

Dari cerita beberapa orang teman yang pernah bertransaksi di investasi emas online ini mengaku rugi karena setelah satu tahun nilai investasinya berkurang. Misalnya dia membeli 5 gram emas senilai Rp3000.000, setelah setahun dia menjual emas tersebut, nilainya jadi jauh berkurang. "Mending investasi emas fisik, deh. Walaupun harga jualnya turun, setidaknya kita menang karena sudah memakai. Ga rugi-rugi amatlah," katanya waktu itu.

Kalau menurutku apa yang dia bilang tidak sepenuhnya salah, tetapi hal itu terjadi hanya karena dia kurang strategi.

Pengen untung dalam berinvestasi emas online?

Baca tips berikut ini, ya.

Tips Untung Investasi Emas Online

Bermain investasi emas online ini kurang lebih mirip dengan investasi saham. Kita harus rajin mengintip pergerakan harga emas setiap saat. Jadi ada saatnya kita untuk buy, hold, atau sell.

Ini aku buktikan sendiri saat mencoba investasi emas online di Tokopedia. Karena masih tahap coba-coba, nilai emas yang aku beli pun hanya sedikit.

Awalnya aku beli emas di bulan ... dengan harga Rp660.000 per gram.

Kemudian di bulan ... ternyata harga emas sudah naik menjadi Rp780.000 per gram untuk transaksi beli, Rp720.000 untuk transaksi jual. Nah, saat inilah aku memutuskan untuk menjual. Lumayan, kan. Aku dapat margin sekitar Rp60.000 per gram.

Kuncinya, sering-sering aja login ke Tokopedia untuk cek harga emas karena harga emas fluktuatif banget, lho.

Satu hal lagi yang aku suka dari investasi emas online di Tokopedia ini yaitu kita bisa membeli emas dari pembulatan nilai transaksi. Misalnya kita belanja di Tokopedia dengan harga 98.000, trus kita bulatkan jadi 100.000, nah ... 2000 itu bisa dibelikan ke emas.

Aduuh, 2000 perak dapat emasnya berapaaa?

Sayangku, di sini berlaku pepatah lama, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Beneran ga terasa, kok. Tau-tau pas jual emas, berat emas yang dimiliki udah nambah setengah gram.

You're My Destiny, Part 3

October 16, 2019 0 Comments

Part 3: Kabar Gembira.



“Win! Coba tebak aku bawa berita apa ?” berlari-lari kecil, Fina mendekati Windi dengan wajah sumringah.

Berita? Paling berita soal ngedate dia semalam dengan si Frans. Aku paling ga suka mendengar cerita semacam itu, batin Windi. Bukannya cemburu, well.. kalau boleh jujur sih Windi cemburu juga, karena usia udah segini masih juga berpredikat jomblo. Tapi dia fun aja dengan status itu, karena saat ini ada satu hal yang tidak boleh dia abaikan sama sekali yaitu kuliah yang telah diperjuangkannya setengah mampus.

Windi melengos, kembali fokus pada bacaan di hadapannya. Baginya tidak ada yang lebih menarik dari pada gosip Lee Min Ho yang kabarnya sedang dekat dengan lawan mainnya di salah satu serial.

“Hei.. kamu dengarin aku ga sih?”

Fina merenggut tabloid itu dari tangan Windi dengan wajah masam. Tampak sekali dia keberatan dengan pengabaian Windi barusan. Windi menghela nafas, memandangnya dengan gusar.

“Apaan sih, Fin? Kamu main rampas gitu aja, sini balikin tabloidku,” ujarnya sambil merebut tabloid itu kembali dari tangan Fina. Satu kali hentakan lembaran kertas warna-warni itu berpindah ke tangannya.

“Please donk, Win, dengerin aku dulu,” katanya dengan nada sedikit merengek. Kalau Fina sudah begini, Windi seperti biasanya terpaksa mengalah karena tidak tahan dengan mata sahabatnya yang mulai berkaca-kaca.

Sebagai putri tunggal yang kurang perhatian dan kasih sayang, Fina memang manja kepada Windi. Usia mereka yang terpaut satu tahun, membuat Fina merasa memiliki kakak angkat.

“Iya deh iya, ayo buruan, apa sih berita yang kamu punya?” tanya Windi mengalah. Fina tersenyum lebar, lalu duduk di hadapanWindi.

“Aku dapat hadiah jalan-jalan ke Korea dari salah satu lomba blog yang aku ikutin! Dan kamu pasti gak akan percaya, salah satu agendanya adalah jumpa fans dengan artis Korea. Yeayy ... aku happy banget, Win!” Fina bercerita dengan penuh semangat.

“Oh ya? Wah ... bagus donk, selamat ya, Fin. Kapan kamu berangkat?”

“Bulan depan. Cuma ya itu, Win, ada berita buruknya juga,” katanya lagi dengan muka ditekuk, berkerut seperti jeruk purut.

“Berita buruk apaan? Kan bagus kamu menang lomba, dapat hadiah jalan-jalan ke Korea, semua biaya ditanggung oleh panitia, buruknya di mana?” tanya Windi heran.

“Papa gak ngizinin aku berangkat sendiri,” jawab Fina dengan suara lemah.

Melihatnya lesu begitu Windi turut merasa sedih. Oom Faris, ayahnya memang sedikit over protektif terhadap Fina. Maklumlah, Fina putri satu-satunya dari mendiang istrinya yang telah meninggal waktu Fina berusia 10 tahun. Bisa maklum, kan, kalau dia memperlakukan anaknya seperti guci antik?

“Tapi, ada kabar baiknya juga, Win. Hehehe ... papa bilang aku boleh berangkat dengan syarat kamu temeni aku,” kalimatnya barusan membuat Windi tersedak karena kaget.

“Apa? Aku? Nemanin kamu ke Korea? Kamu gila? Uang dari mana? Biaya kuliah aja morat marit, kamu minta aku nemanin kamu ke Korea, huft ... ga-ga aja, deh,” jawab Windi dengan nada tinggi.

Segera ditariknya tabloid tadi dari genggaman Fina, kembali menekuni bacaan yang -entah sampai mana – dia baca tadi. Memang tidak masuk akal apa yang disampaikan Fina barusan.

“Ayolah, Win. Temenin aku, kalo soal biaya kamu ga usah khawatir, kan jatah aku untuk pergi ada dua tiket, kalo soal uang saku papa bilang 100% dia yang nanggung, kamu ga usah kuatir deh,” ujar Fina lagi.

Meskipun begitu Windi masih belum bisa terima seutuhnya, karena yakin Oom Faris pasti harus menggelontorkan uang dengan jumlah yang banyak untuk semua itu.

“Ga lah, Fin. Kamu cari orang lain aja. Aku ga enak sama papa kamu. Masa harus keluar uang segitu banyak buat aku ke Korea. Udah terlalu banyak papa kamu berkorban untuk aku, aku ga sanggup harus membalasnya seperti apa nanti.”

Oom Faris memang sangat baik. Dia sering membantu biaya kuliah Windi secara diam-diam. Meskipun Oom Faris meminta pihak kampus merahasiakannya, namun satu-dua pegawai tata usaha itu masih bisa dia bujuk rayu untuk membocorkan identitas donatur itu. Hanya saja, di depannya Windi selalu pura-pura tidak tahu.

“Ih ... apaan sih kamu. Lha ... papa sendiri kok yang nawarin diri. Lagian yang punya syarat kan dia, wajarlah dia bertanggung jawab atas syaratnya itu.”

Windi tidak berkata-kata lagi. Karena jika memang benar semua ide itu datangnya dari Oom Faris, adalah sangat tidak sopan jika ia menolaknya.

Lagi pula anggap saja ini liburan. Kapan lagi ada kesempatan seperti ini datang dalam hidupnya ? Beberapa bayangan tempat populer Korea yang kulihat di K-Drama gentayangan di ruang benak Windi. Membayangkan dirinya akan menjejakkan kaki disana membuat tubuhnya merinding tak menentu.



“Jadi, kamu yang nemanin Fina ke Korea ?” todong Vivi ketika mereka keluar dari ruangan tata usaha. Tatapannya tajam. Jelas sekali dia tidak suka dengan keberangkatan Windi dan Fina.

“Iya, benar, emang kenapa, Vi? Ada masalah?” tanya Windi tak kalah sengit. Dari dulu Windi tidak mengerti alasan Vivi yang selalu menampakkan ketidak sukaan kepadanya.

Tapi bukan Windi namanya jika hanya diam saat diperlakukan tidak wajar oleh orang lain. Baginya hidup itu bukan sinetron di mana pemeran protagonisnya selalu baik hati, pemaaf dan tidak mau membalas perlakuan buruk yang ia terima. Bagi Windi hidup itu adalah perjuangan. Ada saatnya diam, namun juga ada saatnya bicara. Terutama tatkala harga diri diinjak-injak oleh orang lain. Dan sekarang ini adalah salah satunya.

“Ga ada sih, cuma geli aja, orang seperti kamu pergi ke Korea. Apa ga salah ?”

“Emangnya kenapa dengan Windi ?” tanya Fina yang dari tadi diam. Lama-lama dia jengah juga dengan sikap Vivi yang merendahkan Windi.

“Yaa ... gimana, ya ? Kamu lihat sendirilah, Fin. Pantas ga dia ke sana ? Dengan style yang seperti itu? Hihihi,” jawab Vivi cekikikan. Matanya mengukur Windi dari ujung rambut hingga ujung kaki. Membuat Windi sedikit menciut, mendadak merasa kerdil.

“Perihal pantas atau ga pantas itu bukan urusan kamu, ya, Vi. Yang jelas aku bisa pastikan. Aku sangat nyaman bepergian bersama Windi,” jawab Fina. Kemudian menarik tangan Windi segera menjauh dari Vivi.

“Ya, iya lah, kamu pasti lebih nyaman jalan sama dia dibanding aku. Setidaknya dengan dia kamu ga akan kalah gaya. Ya, kan?” sorak Vivi.

Langkah Fina terhenti mendengar kata-kata Vivi. Dengan cepat dia memutar tubuhnya dan kembali mendekati Vivi yang masih berdiri dengan tatapan menantang.

“Kamu kenapa, sih, Vi? Sepertinya ga suka banget liat aku dan Windi pergi ke Korea. Kamu keberatan karena aku yang menang, bukannya kamu? Jujur aja, Vi. Kamu sakit hati kan karena kalah?”

“Sssii..siapa bilang aku sakit hati? Gak lah. Biasa aja tuh. Kalo soal ke Korea mah kecil, ntar aku bisa minta papi buat ngongkosin ke sana.”

“Tapi yang gratisan tetap lebih asyik, kan? Ngaku aja deh, Vi. Kamu nyadar gak? Selagi hati kamu masih busuk seperti itu jangan pernah bermimpi kamu bisa mengungguli aku.”

“Beraninya kamu bilang hati aku busuk ?”

“Lho, emang kenyataannya gitu, kan ? Aku kasih tau satu hal, ya, sama kamu, lomba itu bukan cuma soal menang-kalah, Vi. Lomba itu adalah proses dari yang namanya perjuangan. Ada pengorbanan yang ternilai di dalamnya. Jika kamu belum mampu memaknai sebuah perjuangan, berarti kamu harus belajar lebih banyak lagi tentang itu.”

Usai berkata itu Fina berbalik, mendekati Windi. Mereka pun berlalu meninggalkan kampus.

“Thanks, ya, Fin. Kamu ga tahu betapa berartinya kata-kata kamu tadi buat aku,” ujar Windi dengan mata berkaca-kaca.

“Win, sampai kapan pun, aku ga akan pernah bisa terima sikap orang-orang yang merendahkan kamu. Kita memang ga sedarah, Win. Tapi buat aku kamu lebih dari saudara kandung.”

Windi menggenggam tangan Fina dengan erat. Sungguh terharu dengan kata-katanya barusan.

“Kamu jangan masukin hati, ya, kata-kata Vivi tadi.”

“Nggak lah. Omongan dia ga berarti apa-apa buat aku. Anjing menggonggong, aku ... goyang dumang. Hahaha.”



***



Satu hari menjelang keberangkatan, semua dokumen Windi telah siap diurus oleh salah satu biro kepercayaan Faris. Kemarin sore dokumen-dokumen itu diantarkan ke kost-annya.

Windi memeriksa barang-barang bawaan dengan seksama, memastikan tidak ada lagi yang tertinggal. Terutama jaket tebal. Karena dengar-dengarnya sekarang sedang musim dingin di sana, jadi jika tidak ingin mati beku di alam asing itu, dia harus membawa persiapan yang lengkap.

Tittitttttt...

Suara klakson mobil Fina terdengar di halaman depan. Windi membuka pintu dengan dua tas besar menggeling di atas roda. Melihat Faris di belakang kemudi, Windi segera menghampirinya, menyalaminya dengan penuh hormat.

“Udah siap semua, Win? Ga ada yang tinggal lagi ?” tanya Faris memastikan, ketika Windi menaiki mobil.

“Masih ada sih, Oom ,,,,“ jawab Windi. Faris terperangah, menoleh menatap Windi lebih jelas.

“Jejakku ... masih ketinggalan di rumah, Oom, hehe ...,” jawab Windi berseloroh.

Faris ikut tertawa mendengar gurauan garing Windi. Dia memang tidak terkejut lagi dengan sikapnya, karena setiap bertemu Windi berusaha menghilangkan canggung dengan melontarkan gurauan-gurauan garing seperti tadi.

“Kalian ingat pesan papa dengan baik, ya. Jangan pernah terpisah dari rombongan, dengarkan panduan yang diberikan guide, dan ...,”

“Kabari papa minimal satu kali 24 jam, begitukan, Pa?” ujar Fina menyambung kata-kata papanya.

“Tuh, kan. Kata-kata papa selalu kamu buat bercanda,” tegur Faris dengan nada kecewa.

“Ga, Papa. Fina ga bercanda, justru Fina itu sangat hapal sama petuah Papa. Kan Papa udah sebutin berkali-kali.”

“Syukur deh kalo kamu ingat. Dan ini juga berlaku buat kamu, ya, Windi. Oom mau kamu juga melakukan hal yang sama.”

“Baik, Oom. Jangan khawatir, aku dan Fina ga akan lupa sama pesan-pesan yang Oom berikan,” sahut Windi mantap, diiringi senyum lebarnya.

“Nah, gitu dong. Oom kan tenang jadinya.”



Mobil yang dikendarai Faris meluncur dengan anggunnya membelah jalanan ibu kota yang tidak begitu ramai.

“Nih, kamu pegang ya, jangan sampe hilang. Itu bukti kepesertaan kita di rombongan nanti. Sesampai di Incheon ntar akan ditukar dengan badge khusus yang mereka siapkan. Dengar-dengar sih ntar badge itu akan dilengkapi dengan GPS, buat jaga-jaga kalau-kalau ada anggora rombongan yang tersesat mereka mudah melacaknya.”

Windi menerima kertas yang disodorkan Fina lalu memasukkannya kedalam tas.



Incheon ... we are coming.


***

Bersambung.