Follow Us @soratemplates

Thursday, October 10, 2019

Review K-Movie: EXIT, Tidak Ada Skill yang Sia-sia



Gais, gimana perasaan kalian ketika lagi pesta di sebuah gedung, tiba-tiba bencana dahsyat terjadi. Pasti panik banget, kan. Di saat begini pasti udah ga peduli lagi dengan penampilan, pasti udah ga peduli lagi dengan gaun bagus yang dikenakan, pasti lupa sama menu-menu makanan yang lezat. Dalam pikiran kita yang ada gimana caranya bisa menyelamatkan diri secepat mungkin.


Nah, film EXIT ini menceritakan tentang perjuangan orang-orang dalam menyelamatkan diri dari bencana.


Adalah Lee Young Nam diperankan oleh Jo Jung Suk, seorang pria yang masa mudanya berjaya di bidang panjat tebing, tapi sayang masa depannya masih tidak menentu. Di usianya yang sudah kepala tiga dia masih saja menganggur, dan harus menerima kenyataan bahwa lamaran kerjanya ditolak di mana-mana.


Harga dirinya hancur? Pasti. Apalagi bayang-bayang penolakan dari cinta pertamanya selalu saja menghantui. Padahal dia pengen banget berdiri dengan wajah tegap di depan cewek itu, trus sedikit membusungkan dada bahwa ia adalah karyawan di perusahaan besar.


Tapi, ya gitu, deh. Jangankan menegakkan kepala di depan gadis pujaannya, untuk menentukan belahan rambutnya sendiri pun dia ga bisa. Wakakaka. Masak lajang 30an tahun masih diatur emaknya soal belahan rambut. Ngakak guling-guling akutuuu.


Tapi Lee Young Nam ini pada dasarnya anak yang berbakti lho, gais. Meskipun diomelin oleh ayah dan ibunya, tapi dia tetap saja berbaik hati mengantarkan ayah dan ibunya ke pesta perayaan 70 tahun usia ibunya itu.


Sebuah peristiwa tidak terduga terjadi di pesta. Ketika detik-detik penyalaan lilin, OMG ... Ternyata karyawan gedung adalah gebetannya si Young Nam. Aduduuuu. Young Namnya langsung geregetan, deh.


Demi menyelamatkan harga dirinya yang tersisa, Young Nam terpaksa berbohong di depan Ai Joo (diperankan oleh Yoona SNSD). Young Nam mengaku dia adalah kepala divisi di sebuah perusahaan keuangan. Ai Joo takjub, dong, untuk sesaat. Di belakang Young Nam, Ai Joo rupanya mencari tahu tuh. Ketahuan deh Young Nam bohong. Hadeeeh.


Sementara itu, ketika keluarga Young Nam masih larut dalam kemeriahan pesta, di sebuah persimpangan jalan sebuah mobil tanki besar berhenti. Tampak seorang pria turun dari mobil tanki itu, memutar palka, mencabutnya, kemudian melemparkannya ke jalanan. Beberapa menit kemudian gas berupa asap putih tampak menyembur ke seluruh penjuru, menyerbu orang-orang yang tengah berada di jalanan. Dalam hitungan detik, orang-orang yang menghirup gas itu pun terkapar dan menggelepar dengan wajah luka-luka. Ternyata gas itu memiliki kandungan zat kimia berbahaya yang tidak hanya merusak pernafasan, tapi juga merusak kulit orang-orang yang terkena paparan langsung.


Menyadari ada hal yang tidak beres, keluarga Young Nam yang awalnya akan pulang, terpaksa kembali ke dalam gedung.


Mengingat asap yang bergerak cepat, Young Nam pun mengarahkan semua anggota keluarganya untuk segera menuju atap agar tim penyelamat bisa menemukan mereka dengan mudah.


Dengan bersusah payah, mereka pun berlari menyusuri tangga menuju atap. Di sini aku sempet mikir, nih. Kenapa mereka ga pakai lift aja, ya? Masak sih gedung banyak lantai gitu ga punya lift?


Masalah besar terjadi begitu mereka sampai di pintu menuju atap. Kuncinya ketinggalan, gaaaaaiiss. Duuh, si manager gedung ini memang bikin esmosi, deh. Bisa-bisanya di saat genting gini dia lupa. Yang bikin makin bete itu, seenaknya aja dia suruh orang lain untuk ambil itu kunci ke lantai dasar, padahal lantai dasar itu udah dipenuhi gas beracun. Duuuh, rasa tak sobek-sobek tuh orang.


Dalam suasana panik itu Young Nam pun mengambil tindakan. Mau ga mau dia harus gunakan skil memanjatnya di gedung ini, agar bisa mencapai atap dan membuka pintunya dari luar. Karena kalau balik lagi ke lantai dasar ga mungkin, sama aja bunuh diri, kan. 





Asli adegan ini cukup bikin aku penasaran, karena panjat tebing dengan panjat gedung itu jelas dua hal yang berbeda. Berkat kegigihan Young Nam, ia pun berhasil mencapai atap dan membukakan pintu untuk jalur evakuasi.


Masalah selesai?

Not yet, gaaais.


Pas helikopter bantuan datang, Young Nam dan Ai Joo terpaksa harus tinggal karena donggala kelebihan muatan. Jika dipaksakan, tali sling yang mengikat donggala bisa putus. Diiringi teriakan keluarganya, helikopter itu pergi meninggalkan Young Nam dan Ai Joo yang masih harus berjuang menyelamatkan diri menjelang bantuan berikutnya datang.

Pas adegan ini aku sebel tingkat dewa tuh sama si managernya Ai Joo. Bisa-bisanya dia menyelamatkan diri sendiri. Tapi, kalau menyangkut keselamatan diri terkadang orang memang egois, ya. Manusiawi, sih.


Gas beracun terus bergerak naik, membuat Young Nam dan Ai Joo harus memutar otak untuk terus mencari tempat yang lebih tinggi agar bisa bertahan.


Untunglah Ai Joo juga merupakan anggota komunitas panjat tebing, jadi mereka berdua bisa selaras dalam bergerak.


Mereka terus berlari, melompat, memanjat, saling bantu menjauhkan diri dari kejaran gas beracun yang semakin mendekat. Akhirnya, langkah mereka berdua terhenti di sebuah puncak gedung. Young Nam dan Ai Joo menargetkan sebuah crane yang posisinya berada di tempat paling tinggi, tapi sayang akses jalan untuk menuju crane itu tidak ada. Jarak antar gedung yang harus mereka lewati terlalu lebar, sehingga tidak memungkinkan untuk mereka lompati.


Inilah momen yang menurutku cukup mengharukan. Setegar apa pun manusia, akan ada masanya ia merasa menyesal, tak berdaya, dan putus asa. Tetapi pilihan pun ada di tangan manusia. Apakah akan terus meratap menangisi ketidak berdayaan kita, atau berdiri bangkit mencari peluang untuk mengatasi ketidak berdayaan kita.


Itulah yang Young Nam dan Ai Joo lakukan. Mereka bersedih, tapi tidak lama. Mereka putus asa, tapi hanya sesaat. Naluri berjuang mereka terlalu kuat untuk dihancurkan oleh semua perasaan negatif.


Dengan sisa-sisa energi yang ada, mereka pun berjuang untuk mencapai crane tersebut.


Penasaran dengan pelaku pelepasan gas beracun ini gak, gais?


Pelakunya adalah orang-orang tidak bertanggung jawab yang menaruh dendam kepada pemerintah kota Seoul. Sayangnya pelakunya ga sempat diadili, karena keburu mati oleh gas beracun buatannya sendiri.


So, moral story dari film ini apa?

1. Bergabung di komunitas itu baik, dan banyak manfaatnya dalam hidup.

2. Tidak baik menyimpan dendam dalam hati. Pembalasan dendam bisa melukai diri sendiri juga orang lain.

3. Jangan terlena dengan hobi. Menekuni hobi memang menyenangkan ya, gais. Waktu pun terasa berlalu begitu cepat di saat itu. So, becarefull, gaes. Waktu yang berlalu tidak akan bisa diulang kembali. So, nikmati hobimu, tapi jangan lupakan masa depanmu.

4. Seburuk apapun kondisimu, tetaplah berbakti kepada kedua orangtuamu. Mungkin mereka tidak mampu menyelesaikan semua masalahmu, tapi doa-doa mereka adalah salah satu pembuka jalan menuju keberhasilanmu.

5. Tidak ada skill yang sia-sia. Skill adalah hal lain yang harus dimiliki selain ijazah. Jadi jangan pernah berhenti untuk belajar, karena semakin banyak skill yang dikuasai, maka semakin besar kemampuanmu dalam bertahan hidup.


Nah, gais. Itu review singkat ala Meirida. Kalian udah nonton film Exit ini, belum?



No comments:

Post a Comment


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal.

Note : Mohon maaf, komentar anonim dan link hidup saya anggap spam, ya.