Follow Us @soratemplates

Tuesday, October 22, 2019

Keandalan Transportasi untuk Dukung Ekonomi dan Pariwisata di Pasaman

October 22, 2019 0 Comments
Aku termasuk orang yang jarang melakukan perjalanan. Kalau tidak begitu penting, ya, mending di rumah sajalah. Bagiku, berpergian dan liburan bukan aktifitas yang wajib ada dalam agenda tahunan kami.

Bukan karena budget yang tidak memadai, alasan utamaku kurang menyukai aktifitas perjalanan ini adalah faktor transportasi yang kerap mengecewakan. Apalagi jika tujuan perjalanan adalah daerah-daerah kecil yang jauh dari ibukota propinsi, bukan hanya akses jalan yang minim, sarana transportasi pun sangat tidak nyaman.

Tanah kelahiranku adalah kota Lubuk Sikaping, di Kabupaten Pasaman. Kurang lebih 9 jam perjalanan dari Pekanbaru. Jalannya berliku dan penuh gelombang. Sarana transportasi dari Pekanbaru ke Pasaman hanya ada bus kelas ekonomi. Terakhir naik bus ini tahun 2003 masih menyisakan trauma di pikiranku. Itulah alasanku merasa enggan untuk mengunjungi kampung halamanku.

Meski begitu aku selalu mencari tahu tentang kondisi kampung halamanku ini dari semua kenalan, teman, dan keluarga yang baru saja kembali dari sana. Dari cerita dan foto-foto yang mereka bagikan, aku pun dapat gambaran bagaimana perkembangan tanah kelahiranku. Ternyata sudah sangat banyak berubah.

Salah satu teman bahkan mencandaiku, "Mer, kalo pulang kampung jangan sendiri-sendiri, ya. Nanti nyasar, lho."

Memang tidak salah mereka mencandaiku begitu, karena Kabupaten Pasaman sudah sangat berbeda dengan saat aku tinggalkan dulu.

Perkembangan tranportasi di Indonesia ternyata cukup pesat. Setidaknya itulah yang aku lihat dalam 5 tahun terakhir ini, khususnya di daerah Kabupaten Pasaman.

Perubahan yang sangat menyolok di Pasaman dalam kurun waktu 5 tahun terakhir adalah:

1. Akses jalan semakin baik


Seperti yang aku sebutkan di atas, akses jalan menuju Pasaman dari Pekanbaru sangat 'menyeramkan'. Jalannya berkelok-kelok, dan juga sempit. Terlebih lagi saat melewati Kelok Sembilan. Dulu aku selalu sakit perut saat melewati area ini, karena ngeri dengan kontur jalan yang berbelok tajam dan bertingkat-tingkat.

Tetapi Kelok Sembilan sekarang justru sudah menjadi objek wisata baru di Sumatera Barat. Banyak orang-orang yang melintasi jalan ini berhenti untuk mengabadikan momen mereka di sana karena pemandangannya yang sangat indah.



Di kota Lubuk Sikaping sendiri akses jalan pun sudah sangat baik. Jalan sudah memiliki 2 jalur yang lebar, dan aspal yang mulus dan rata. Sehingga pengendara bisa mengendarai kendaraan mereka dengan nyaman.

Sementara itu di Pasaman Barat, semakin banyak jalan-jalan dan jembatan baru dibangun demi kelancaran mobilisasi publik.

2. Transportasi semakin handal

Transportasi dari Pekanbaru ke Pasaman sudah bervariasi, tidak lagi hanya mengandalkan bus. Saat ini sudah banyak mobil travel yang pastinya jauh lebih memberikan kenyamanan.

Selain itu, di Pasaman Barat juga sudah berdiri Bandara Pusako Anak Nagari yang secara resmi telah terdaftar dan dinyatakan layak di operasikan oleh Kementerian Perhubungan Republik Indonesia pada tahun 2015. 



Bandara ini memiliki landasan pacu sepanjang 600 meter dan lebar 65 meter, sehingga bisa menampung pesawat jenis Twin Otter, Cassa 212, Cesna 208, dan Cesna Grand Caravan. Salah satu armada udara yang telah melayani penumpang di bandara ini adalah Susi Air.


3. Objek wisata semakin banyak


Membaiknya akses jalan dan transportasi ternyata melahirkan objek wisata baru di Pasaman. Mengapa aku bilang baru? Karena objek wisata ini memang belum ada atau belum dibuka sampai aku pergi pada tahun 2003 dulu. Jadi objek-objek wisata ini baru dibuka sekitar 5-6 tahun yang lalu.

Berikut adalah beberapa objek wisata baru yang sudah mendapat kunjungan dari berbagai pelancong baik domestik atau pun mancanegara.

🏡️ Taman Bunga Puncak Tonang

Dibuat pada lahan seluas 20 ha, Taman Bunga Puncak Tonang ini berisikan berbagam ragam bunga yang cantik dan beraneka warna. Lokasinya berada pada ketinggian, sehingga menghadirkan udara yang sejuk sepanjang hari membuat para pengunjung betah berlama-lama di sini.



Taman Bunga Puncak Tonang ini berada di Nagari Sundata, Kecamatan Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman.

🏡️ Puti Gonjoli Hill

Puti Gonjoli Hill mungkin sebuah objek wisata alam yang masih sangat asing di telinga para traveler domestik. Tetapi cukup familiar di telingan para traveler mancanegara, karena sudah sering dijadikan sebagai arena take off paralayang. 



Selain itu, Puti Gonjoli Hill juga menyajikan pemandangan yang memanjakan mata dan cocok banget bagi kamu-kamu yang pengen berbagi foto dengan background indah di media sosial.

Lokasinya berada di Nagari Persiapan Pinaga, Nagari Aua Kuniang, Kecamatan Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat.

🏡️ Pasir Putih di Pulau Pigago

Pulau Pigago ini bisa diakses dengan menaiki speedboad dari dermaga Pantai Air Bangis. Pulaunya berukuran mungil, tapi pemandangannya sangat eksotis. Pasir putihnya membentang sejauh mata memandang, selaras dengan birunya air laut, dan hijaunya alam. Siapa yang tidak akan betah berlama-lama berada di Pulau Pigago ini? 



Pulau Pigago ini memang masih perawan, karena memang belum lama dijadikan objek wisata, sehingga belum ada fasilitas penginapannya. Tetapi tidak menutup kemungkinan, kan.

🏡️ Pantai Maligi

Pantai Maligi terletak di Kecamatan Sasak Ranah Pasisie, Kabupaten Pasaman Barat. Tidak kalah dengan Pulau Pigago, pantai Maligi juga memiliki hamparan pasir putih yang memanjakan mata.



Bahkan dengan ukurannya yang luas Pantai Maligi ini cocok dijadikan arena permainan yang seru.

🏡️ Pantai Teluk Tapang

Keistimewaan dari Pantai Teluk Tapang adalah pasirnya yang berwarna merah bata. Berpadu dengan buih air laut yang berwarna putih, Pantai Teluk Tapang benar-benar menyajikan pemandangan yang tidak biasa. 



Pantai Teluk Tapang ini berada di Nagari Air Bangis, Kecamatan Sungai Beremas, Kabupaten Pasaman Barat.

4. Perekonomian penduduk yang semakin sejahtera.

Sepanjang pengetahuanku saat sekolah dulu, Pasaman itu identik dengan daerah pertanian. Masyarakatnya rata-rata masuk dalam kategori menengah ke bawah.

Tetapi tentu saja pemikiranku itu salah.

Pasaman kaya dengan sumber daya alam yang sudah pasti bisa menyejahterakan masyarakatnya jika dikelola dengan baik.

Seiring dengan membaiknya sarana dan prasarana di Pasaman, yang berdampak pada pertumbuhan objek wisatanya, maka masyarakat tempatan pun mendapat kesempatan untuk meningkatkan pendapatan mereka lewat bermacam-macam bisnis. Seperti bisnis kuliner, penginapan, kerajinan tangan, hingga asesoris.

Keandalan Transportasi untuk Ekonomi dan Pariwisata di Pasaman


Aku sangat bersyukur dengan semua perbaikan yang dilakukan pemerintah dibidang transportasi khususnya di Pasaman ini. Semua ini tentu saja tidak lepas dari peran Kementerian Perhubungan Republik Indonesia yang tidak lelah selalu berbenah diri, berkolaborasi dengan pemerintah pusat dan daerah, memberikan pelayanan terbaik demi lancarnya hubungan antar desa, antar kota, antar propinsi, dan antar pulau di Indonesia.

Lancarnya sarana dan prasarana transportasi menuju Pasaman, berhasil menarik orang-orang untuk datang ke Pasaman. Ada yang datang untuk berkerja, ada yang datang untuk berwisata, dan bahkan ada yang memutuskan untuk menetap menjadi warga Pasaman.

Dengan banyaknya pendatang ini, dan didukung oleh teknologi digital, di mana hampir semua orang memiliki media sosial, maka objek-objek wisata yang sebelumnya hanya diketahui oleh warga lokal akhirnya dikenal oleh dunia. Pemandangan yang eksotis itu akhirnya berhasil menarik banyak mata untuk terus datang dan kembali lagi.

Seiring berjalannya waktu, perekonomian masyarakat lokal pun semakin membaik karena terbukanya kesempatan untuk jenis-jenis usaha baru. Kehidupan masyarakat pun tidak lagi terasa monoton.

Banyaknya peluang usaha yang terbuka, membuat angka pengangguran pun menjadi turun. Tingkat pendidikan masyarakat pun semakin membaik. Pola pikir masyarakat yang terbuka akan perubahan membuat Pasaman semakin maju dari waktu ke waktu. Dengan begitu kesenjangan sosial di masyarakat pun tidak lagi terlihat menyolok.

Jika Pasaman bisa merasakan perubahan yang signifikan dalam hal transportasi, pariwisata, dan ekonomi, maka aku juga sangat yakin daerah-daerah lainnya di Indonesia juga bisa mengalami hal yang sama.

Oleh karena itu mari kita dukung terus program-program pemerintah demi pemerataan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Terutama sekali dalam hal pembangunan sarana dan prasarana transportasi ini.

Untuk mengetahui sepak terjang Kementerian Perhubungan Republik Indonesia dalam membenahi transportasi di negara kita, bisa dibaca langsung di website resminya yaitu http://dephub.go.id.

Atau bisa juga dilihat di akun media sosialnya, lho, gais.

Berikut akun media sosial Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.

◾Twitter: https://twitter.com/kemenhub151
◾Facebook: https://www.facebook.com/kemenhub151
◾Instagram: https://instagram.com/kemenhub151


Transportasi unggul, Indonesia maju.
Jayalah Indonesiaku.







Thursday, October 17, 2019

You're My Destiny, Part 4

October 17, 2019 0 Comments


Part 4: Di Luar Ekspektasi

Sumpah, pertama kali yang ada dalam pikiran Windi ketika menjejakkan kaki di bandara Incheon ini adalah dua kata. ‘Megah banget!’

Meskipun beberapa kali melihat bandara ini di serial-serial K-Drama, namun tetap saja dia terperangah mengitari bandara dengan pandangan tak berkedip dan mulut menganga lebar.

Windi betul-betul merasa sangat kerdil di bawah atap bangunan yang membumbung tinggi ini. Dia tidak peduli akan apa yang orang pikirkan melihat reaksinya, mau dibilang norak, kampungan, udiklah atau sejenisnya. Well itu terserah mereka sih, tapi sumpah, aku takjub, tandas Windi dalam hati.

Windi dan Fina celingukan mencari papan nama atau tanda apapun yang bisa memberitahu keberadaan tim penjemput mereka di bandara. Ada perasaan was-was juga, kalau-kalau tim yang dijanjikan itu tidak ada. Well, bisa-bisa mereka berpetualang tanpa arah di negeri asing ini.

Seorang pria berkacamata, sedikit culun dengan celana bahan dan kaos lengan panjang, nampak celingukan ke arah gerbang kedatangan luar negeri. Di tangannya selembar kertas bertuliskan “Welcome Ms. Prasetya & Partner” nampak kusut. Sepertinya dia telah menunggu cukup lama. Wajar sih, pesawat yang membawa mereka memang sempat delay waktu transit di Singapura.

Windi dan Fina pun mempercepat langkah untuk mendekatinya. Tiba-tiba seseorang menabrak Windi dari belakang. Dia jelas saja tidak siap, langsung terjerembab. Diiringi jerit kesakitan.

“Ohh ... sorry, I’m sorry,” katanya sambil bangkit berdiri. Rupanya dia ikut jatuh bersama Windi tadi.

Sambil menahan nyeri di lututnya, Windi mencoba bangkit.

“Are you okay ?” tanyanya lagi. Windi mengangguk. Menyambut uluran tangan cowok itu. Tanpa sadar mata mereka beradu.

Dheg.. gila nih cowok ganteng banget, jerit Windi dalam hati. Kulitnya putih bersih, rambutnya hitam legam. Hidungnya mancung, tatapan matanya yang teduh mampu memberikan rasa hangat. Membuat mata Windi nyaris lupa untuk berkedip. Tuhan, sungguh sempurna ciptaanMU, bisik Windi dalam hati.

“Sorry.. saya buru-buru, jika kamu yakin tidak apa-apa saya akan pergi sekarang.”

“O..ya.. silahkan, aku baik-baik saja kok,” jawab Windi tegas.

Merasa yakin dengan jawaban Windi, dia pun berlari pergi, menembus kerumunan orang-orang yang lalu lalang.

Windi menghembuskan nafas lega. Beberapa saat berhadapan dengan laki-laki itu membuatnya nyaris lupa untuk bernafas. Dalam hati ia sisipkan doa dan berharap semoga kelak dipertemukan lagi dengan laki-laki itu.

Setelah Windi berhasil menenangkan diri, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan.



“Annyeonghaseyo, naega Fina, dangsin ibnikka .. Han seonsaengnim ?” Fina memperkenalkan dirinya berbekal panduan buku percakapan yang sempat dia beli beberapa hari yang lalu, ketika mereka sampai dihadapan pria yang memegang kertas tadi.

“Oh.. annyeonghaseyo, joesonghabnida.. bla..bla..bla,” Windi tak lagi bisa mengikuti percakapan itu dengan baik. Meski pernah belajar bahasa Korea, tapi mendengar kalimat panjang yang diucapkan dengan cepat begitu Windi masih sulit mencerna dengan baik.

Kalau tidak salah menyimpulkan, pria itu mengatakan dia bukanlah Mr. Han seperti yang disebutkan di surel, namanya Lee Kwang Soo. Dia diutus untuk menggantikan Mr. Han karena dia sedang ada kesibukan lain.

Untuk meyakinkan Windi dan Fina, dia memperlihatkan ID-Card perusahaannya, yang sama dengan perusahaan penyelenggara event ini.

Semula mereka mau protes, tapi percuma, toh mereka juga tidak tau bagaimana caranya. Yang jelas menit-menit berikutnya mereka mengekor di belakang laki-laki itu, seperti kerbau yang ditusuk hidungnya.

Mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah gedung tinggi berdinding kaca. Cahaya matahari tampak memantul di sudut-sudut kunsen baja yang dilapisi cat metalik. Membuat silau semua mata yang memandang.

Windi dan Fina dibawa ke lantai 5. Kesebuah ruangan yang lapang, beberapa pasang meja panjang berbaris rapi. Empat orang beramput pirang, dua berambut coklat, dan dua lagi memiliki kulit berwarna gelap. Di depan mereka terdapat label negara asal yang dituliskan dengan spidol hitam. Sepertinya mereka adalah peserta acara ini juga seperti Windi dan Fina.

Windi dan Fina bergabung bersama mereka, tepat di belakang label bertuliskan Indonesia. Windi melirik meja lainnya yang masih kosong, ada label Malaysia, Singapura, Thailand dan Myanmar. Hmm sepertinya masih ada peserta lainnya yang belum datang.

“Hi.. I’m Richard, from Canada,” cowok berambut pirang disamping Windi mengulurkan tangannya. Melihat penampilannya ditaksir usianya dua tahun diatas Windi. Tapi entahlah, terkadang bule ni penampilannya kan suka nipu. Wajah mereka sering lebih tua dari umur yang sebenarnya.

“Oh.. hi, I’m Windi Faniro, call me Windi,” balas Windi sambil menjabat tangannya.

“Windy ?” ulang Richard kemudian. Sepertinya dia merasa nama Windi cukup unik di telinganya.

“Yes, Windi,” sahut Windi kemudian. Dia masih belum sadar dengan pertanyaan Richard yang mengandung makna ambigu. Richard masih memandangnya. Windi pun tersadar.

“Oo, I see, I mean, I’m Windi, with ‘i’ not ‘y’,” jelas Windi sambil tersenyum ramah. Richard pun paham. Dia balas tersenyum kepada Windi.

Hmm ... sepertinya perjalanan ini akan menarik. Ga salah deh keputusannya buat menerima ajakan Fina, batin Windi antusias.

Tidak lama kemudian peserta lainnya mulai berdatangan satu-persatu. Meja yang semulanya kosong, penuh terisi. Dan ruangan yang semula senyap dalam bisik-bisik kami, menjadi berdengung seperti suara tawon lewat.

Beberapa orang bermata sipit berpakaian resmi memasuki ruangan. Sepertinya mereka adalah para panitia penyelenggara. Tiga lelaki paruh baya duduk di barisan kursi khusus yang berada di samping mimbar. Satu wanita cantik, mirip artis Kim Tae Hee yang langsung menuju mimbar. Oh.. rupanya dia pembawa acaranya.

Wanita itu bernama Choi Ji Hyun, dia membuka acara dengan bahasa Inggris yang fasih. Ga salah kalo perusahaan ini menunjuk dia sebagai PR-nya.

Acara berlanjut ke kata sambutan demi sambutan. Ternyata kalau untuk urusan beginian, Korea ga beda deh dengan Indonesia. Pembukaannya lama, inti acara cuma sedikit. Samalah dengan yang mereka alami sekarang, setelah kata sambutan terakhir dari CEO event, mereka semua diminta memperkenalkan diri agar bisa akrab satu sama lain. Berlanjut ke pembagian badge.

Benar juga kata Fina tadi sebelum berangkat, badge itu bukan badge biasa, sedikit lebih tebal berbentuk seperti kartu ATM.

Windi membolak-balik kartu itu untuk menemukan letak GPS-nya, namun nihil. Sepertinya teknologi canggih mereka telah menyembunyikannya di dalam kartu itu.

Rasa penasaran akan kartu itu ia tepis dengan segera karena tidak lama kemudian mereka telah dipandu menuju kendaraan yang akan membawa mereka ke hotel. Tentu saja Windi tidak ingin melewatkan pemandangan kota Seoul yang akan ia saksikan selama di perjalanan nanti.








Yoo Ill sampai di rumah megah itu. Wajahnya tampak sangat cemas. Kabar yang ia baca di surel dua hari yang lalu membuat jantungnya nyaris berhenti berdetak.

Pulanglah, ibu sakit keras.


“Ajumma ... mana semua orang?” tanyanya kepada wanita paruh baya yang sedang memasak di dapur. Dia Bibi Yu, asisten rumah tangga mereka.

“Aigoooo ... Tuan Muda, Anda kemana saja? Kami semua mencemaskan Anda. Terutama sekali Nyonya. Sudah tiga hari ini dia tidak mau makan,” Bibi Yu mengguncang-guncang tangan Yoo Ill dengan cemas.

“Jadi dimana ibu sekarang? Dia dirawat di rumah sakit mana?” tanya Yoo Ill penasaran.

“Dia ada di kamar, Tuan. Dia tidak mau dibawa ke rumah sakit.”

Tanpa buang waktu lagi Yoo Ill meluncur ke kamar ibunya. Tapi kamar itu kosong. Dia tidak menemukan ibunya disana.

Ada apa ini ? Apakah semua ini hanya lelucon ? Tanya Yoo Ill dalam hati. Dia berbalik dengan gusar, dan kembali menemui Bibi Yu.

“Ajumma.. jangan main-main.. dimana ibu ? Aku tidak menemukannya di kamarnya,” tanya Yoo Ill dengan nada putus asa.

“Ooo ... mianhae.. tadi saya lupa bilang, dia tidur di kamar Anda, Tuan Muda,” jawab Bibi Yu dengan ekspresi aneh. Mata Yoo Ill semakin menyipit. Hatinya berbisik ada sesuatu yang mereka tutupi saat ini.

Untuk memuaskan rasa penasarannya, Yoo Ill pun berlari menuju kamarnya di lantai dua. Suasana di lantai itu tidak berbeda dengan suasana sebelumnya ketika ia masih berada di sana. Sunyi, sepi seperti kuburan. Jika saja seseorang menjatuhkan jarum di atasnya Yoo Ill yakin ia pasti bisa mendengarnya dengan jelas.

“Surpriseeeee !” sorak dua wanita cantik itu ketika Yoo Ill membuka pintu kamarnya.

Di depannya berdiri ibu dan adik perempuannya dengan satu kue tart besar berikut hiasan warna-warni yang bergelantungan di langit kamar. Dan tentu saja Ko Joo Ri – ibunya - dalam keadaan bugar.

Yoo Ill terperangah.

“Eomma..” protes Yoo Ill dengan muka merah. Ibunya mendekat, mengalungkan tangan ke lengan Yoo Ill membawanya mendekati kue tart.

“Sudah.. ga usah protes. Kalau kami ga bohong gitu kamu mana mau pulang. Ya, kan ?” ujar Joo Ri.

“Geureomyeon..” jawab Yoo Ill dengan tatapan usil. Satu cubitan melayang di perutnya.

“Oppa, jangan buat kami cemas lagi ya, aratjii ?” ujar Yoo Na, Si Bungsu dengan nada manja.

“Ye, arasseo,” jawab Yoo Ill sambil mengacak rambut Yoo Na. Dia baru mau memulai menyantap kue yang dihadapannya ketika tiba-tiba mendengar gaduh-gaduh dari suara yang ia kenal.

“Jadi ... kau telah kembali dari petualanganmu?” suara berat itu terdengar. Han Tae Ho berdiri berkacak pinggang di depan pintu kamar diiringin tatapan tajam menikam.



Bersambung ...

Wednesday, October 16, 2019

Tips Untung Investasi Emas Online

October 16, 2019 0 Comments


Investasi emas sampai hari ini masih salah satu jalan investasi yang paling digemari masyarakat. Alasannya sih simple, karena ga perlu ribet dengan segala poin-poin polis kalau memilih investasi di sekuritas atau bank. Terlebih lagi kebanyakan orang masih sangat awam dengan istilah-istilah yang ada di buku polis. Salah-salah memahami, bukannya untung, malah bisa rugi. Itulah sebabnya investasi emas masih sangat diminati oleh masyarakat.

Selain itu, harga emas yang cendrung naik juga membuat para investor lebih merasa yakin untuk mengembangkan uangnya dalam bentuk emas. Tetapi jangan salah, harga jual akan dipotong biaya penyusutan sekitar 10-20% tergantung toko emasnya.

Rawannya kejahatan terhadap pemilik perhiasan emas akhir-akhir ini membuat para investor emas pun akhirnya pindah ke investasi emas online.

Dari cerita beberapa orang teman yang pernah bertransaksi di investasi emas online ini mengaku rugi karena setelah satu tahun nilai investasinya berkurang. Misalnya dia membeli 5 gram emas senilai Rp3000.000, setelah setahun dia menjual emas tersebut, nilainya jadi jauh berkurang. "Mending investasi emas fisik, deh. Walaupun harga jualnya turun, setidaknya kita menang karena sudah memakai. Ga rugi-rugi amatlah," katanya waktu itu.

Kalau menurutku apa yang dia bilang tidak sepenuhnya salah, tetapi hal itu terjadi hanya karena dia kurang strategi.

Pengen untung dalam berinvestasi emas online?

Baca tips berikut ini, ya.

Tips Untung Investasi Emas Online

Bermain investasi emas online ini kurang lebih mirip dengan investasi saham. Kita harus rajin mengintip pergerakan harga emas setiap saat. Jadi ada saatnya kita untuk buy, hold, atau sell.

Ini aku buktikan sendiri saat mencoba investasi emas online di Tokopedia. Karena masih tahap coba-coba, nilai emas yang aku beli pun hanya sedikit.

Awalnya aku beli emas di bulan ... dengan harga Rp660.000 per gram.

Kemudian di bulan ... ternyata harga emas sudah naik menjadi Rp780.000 per gram untuk transaksi beli, Rp720.000 untuk transaksi jual. Nah, saat inilah aku memutuskan untuk menjual. Lumayan, kan. Aku dapat margin sekitar Rp60.000 per gram.

Kuncinya, sering-sering aja login ke Tokopedia untuk cek harga emas karena harga emas fluktuatif banget, lho.

Satu hal lagi yang aku suka dari investasi emas online di Tokopedia ini yaitu kita bisa membeli emas dari pembulatan nilai transaksi. Misalnya kita belanja di Tokopedia dengan harga 98.000, trus kita bulatkan jadi 100.000, nah ... 2000 itu bisa dibelikan ke emas.

Aduuh, 2000 perak dapat emasnya berapaaa?

Sayangku, di sini berlaku pepatah lama, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Beneran ga terasa, kok. Tau-tau pas jual emas, berat emas yang dimiliki udah nambah setengah gram.

You're My Destiny, Part 3

October 16, 2019 0 Comments

Part 3: Kabar Gembira.



“Win! Coba tebak aku bawa berita apa ?” berlari-lari kecil, Fina mendekati Windi dengan wajah sumringah.

Berita? Paling berita soal ngedate dia semalam dengan si Frans. Aku paling ga suka mendengar cerita semacam itu, batin Windi. Bukannya cemburu, well.. kalau boleh jujur sih Windi cemburu juga, karena usia udah segini masih juga berpredikat jomblo. Tapi dia fun aja dengan status itu, karena saat ini ada satu hal yang tidak boleh dia abaikan sama sekali yaitu kuliah yang telah diperjuangkannya setengah mampus.

Windi melengos, kembali fokus pada bacaan di hadapannya. Baginya tidak ada yang lebih menarik dari pada gosip Lee Min Ho yang kabarnya sedang dekat dengan lawan mainnya di salah satu serial.

“Hei.. kamu dengarin aku ga sih?”

Fina merenggut tabloid itu dari tangan Windi dengan wajah masam. Tampak sekali dia keberatan dengan pengabaian Windi barusan. Windi menghela nafas, memandangnya dengan gusar.

“Apaan sih, Fin? Kamu main rampas gitu aja, sini balikin tabloidku,” ujarnya sambil merebut tabloid itu kembali dari tangan Fina. Satu kali hentakan lembaran kertas warna-warni itu berpindah ke tangannya.

“Please donk, Win, dengerin aku dulu,” katanya dengan nada sedikit merengek. Kalau Fina sudah begini, Windi seperti biasanya terpaksa mengalah karena tidak tahan dengan mata sahabatnya yang mulai berkaca-kaca.

Sebagai putri tunggal yang kurang perhatian dan kasih sayang, Fina memang manja kepada Windi. Usia mereka yang terpaut satu tahun, membuat Fina merasa memiliki kakak angkat.

“Iya deh iya, ayo buruan, apa sih berita yang kamu punya?” tanya Windi mengalah. Fina tersenyum lebar, lalu duduk di hadapanWindi.

“Aku dapat hadiah jalan-jalan ke Korea dari salah satu lomba blog yang aku ikutin! Dan kamu pasti gak akan percaya, salah satu agendanya adalah jumpa fans dengan artis Korea. Yeayy ... aku happy banget, Win!” Fina bercerita dengan penuh semangat.

“Oh ya? Wah ... bagus donk, selamat ya, Fin. Kapan kamu berangkat?”

“Bulan depan. Cuma ya itu, Win, ada berita buruknya juga,” katanya lagi dengan muka ditekuk, berkerut seperti jeruk purut.

“Berita buruk apaan? Kan bagus kamu menang lomba, dapat hadiah jalan-jalan ke Korea, semua biaya ditanggung oleh panitia, buruknya di mana?” tanya Windi heran.

“Papa gak ngizinin aku berangkat sendiri,” jawab Fina dengan suara lemah.

Melihatnya lesu begitu Windi turut merasa sedih. Oom Faris, ayahnya memang sedikit over protektif terhadap Fina. Maklumlah, Fina putri satu-satunya dari mendiang istrinya yang telah meninggal waktu Fina berusia 10 tahun. Bisa maklum, kan, kalau dia memperlakukan anaknya seperti guci antik?

“Tapi, ada kabar baiknya juga, Win. Hehehe ... papa bilang aku boleh berangkat dengan syarat kamu temeni aku,” kalimatnya barusan membuat Windi tersedak karena kaget.

“Apa? Aku? Nemanin kamu ke Korea? Kamu gila? Uang dari mana? Biaya kuliah aja morat marit, kamu minta aku nemanin kamu ke Korea, huft ... ga-ga aja, deh,” jawab Windi dengan nada tinggi.

Segera ditariknya tabloid tadi dari genggaman Fina, kembali menekuni bacaan yang -entah sampai mana – dia baca tadi. Memang tidak masuk akal apa yang disampaikan Fina barusan.

“Ayolah, Win. Temenin aku, kalo soal biaya kamu ga usah khawatir, kan jatah aku untuk pergi ada dua tiket, kalo soal uang saku papa bilang 100% dia yang nanggung, kamu ga usah kuatir deh,” ujar Fina lagi.

Meskipun begitu Windi masih belum bisa terima seutuhnya, karena yakin Oom Faris pasti harus menggelontorkan uang dengan jumlah yang banyak untuk semua itu.

“Ga lah, Fin. Kamu cari orang lain aja. Aku ga enak sama papa kamu. Masa harus keluar uang segitu banyak buat aku ke Korea. Udah terlalu banyak papa kamu berkorban untuk aku, aku ga sanggup harus membalasnya seperti apa nanti.”

Oom Faris memang sangat baik. Dia sering membantu biaya kuliah Windi secara diam-diam. Meskipun Oom Faris meminta pihak kampus merahasiakannya, namun satu-dua pegawai tata usaha itu masih bisa dia bujuk rayu untuk membocorkan identitas donatur itu. Hanya saja, di depannya Windi selalu pura-pura tidak tahu.

“Ih ... apaan sih kamu. Lha ... papa sendiri kok yang nawarin diri. Lagian yang punya syarat kan dia, wajarlah dia bertanggung jawab atas syaratnya itu.”

Windi tidak berkata-kata lagi. Karena jika memang benar semua ide itu datangnya dari Oom Faris, adalah sangat tidak sopan jika ia menolaknya.

Lagi pula anggap saja ini liburan. Kapan lagi ada kesempatan seperti ini datang dalam hidupnya ? Beberapa bayangan tempat populer Korea yang kulihat di K-Drama gentayangan di ruang benak Windi. Membayangkan dirinya akan menjejakkan kaki disana membuat tubuhnya merinding tak menentu.



“Jadi, kamu yang nemanin Fina ke Korea ?” todong Vivi ketika mereka keluar dari ruangan tata usaha. Tatapannya tajam. Jelas sekali dia tidak suka dengan keberangkatan Windi dan Fina.

“Iya, benar, emang kenapa, Vi? Ada masalah?” tanya Windi tak kalah sengit. Dari dulu Windi tidak mengerti alasan Vivi yang selalu menampakkan ketidak sukaan kepadanya.

Tapi bukan Windi namanya jika hanya diam saat diperlakukan tidak wajar oleh orang lain. Baginya hidup itu bukan sinetron di mana pemeran protagonisnya selalu baik hati, pemaaf dan tidak mau membalas perlakuan buruk yang ia terima. Bagi Windi hidup itu adalah perjuangan. Ada saatnya diam, namun juga ada saatnya bicara. Terutama tatkala harga diri diinjak-injak oleh orang lain. Dan sekarang ini adalah salah satunya.

“Ga ada sih, cuma geli aja, orang seperti kamu pergi ke Korea. Apa ga salah ?”

“Emangnya kenapa dengan Windi ?” tanya Fina yang dari tadi diam. Lama-lama dia jengah juga dengan sikap Vivi yang merendahkan Windi.

“Yaa ... gimana, ya ? Kamu lihat sendirilah, Fin. Pantas ga dia ke sana ? Dengan style yang seperti itu? Hihihi,” jawab Vivi cekikikan. Matanya mengukur Windi dari ujung rambut hingga ujung kaki. Membuat Windi sedikit menciut, mendadak merasa kerdil.

“Perihal pantas atau ga pantas itu bukan urusan kamu, ya, Vi. Yang jelas aku bisa pastikan. Aku sangat nyaman bepergian bersama Windi,” jawab Fina. Kemudian menarik tangan Windi segera menjauh dari Vivi.

“Ya, iya lah, kamu pasti lebih nyaman jalan sama dia dibanding aku. Setidaknya dengan dia kamu ga akan kalah gaya. Ya, kan?” sorak Vivi.

Langkah Fina terhenti mendengar kata-kata Vivi. Dengan cepat dia memutar tubuhnya dan kembali mendekati Vivi yang masih berdiri dengan tatapan menantang.

“Kamu kenapa, sih, Vi? Sepertinya ga suka banget liat aku dan Windi pergi ke Korea. Kamu keberatan karena aku yang menang, bukannya kamu? Jujur aja, Vi. Kamu sakit hati kan karena kalah?”

“Sssii..siapa bilang aku sakit hati? Gak lah. Biasa aja tuh. Kalo soal ke Korea mah kecil, ntar aku bisa minta papi buat ngongkosin ke sana.”

“Tapi yang gratisan tetap lebih asyik, kan? Ngaku aja deh, Vi. Kamu nyadar gak? Selagi hati kamu masih busuk seperti itu jangan pernah bermimpi kamu bisa mengungguli aku.”

“Beraninya kamu bilang hati aku busuk ?”

“Lho, emang kenyataannya gitu, kan ? Aku kasih tau satu hal, ya, sama kamu, lomba itu bukan cuma soal menang-kalah, Vi. Lomba itu adalah proses dari yang namanya perjuangan. Ada pengorbanan yang ternilai di dalamnya. Jika kamu belum mampu memaknai sebuah perjuangan, berarti kamu harus belajar lebih banyak lagi tentang itu.”

Usai berkata itu Fina berbalik, mendekati Windi. Mereka pun berlalu meninggalkan kampus.

“Thanks, ya, Fin. Kamu ga tahu betapa berartinya kata-kata kamu tadi buat aku,” ujar Windi dengan mata berkaca-kaca.

“Win, sampai kapan pun, aku ga akan pernah bisa terima sikap orang-orang yang merendahkan kamu. Kita memang ga sedarah, Win. Tapi buat aku kamu lebih dari saudara kandung.”

Windi menggenggam tangan Fina dengan erat. Sungguh terharu dengan kata-katanya barusan.

“Kamu jangan masukin hati, ya, kata-kata Vivi tadi.”

“Nggak lah. Omongan dia ga berarti apa-apa buat aku. Anjing menggonggong, aku ... goyang dumang. Hahaha.”



***



Satu hari menjelang keberangkatan, semua dokumen Windi telah siap diurus oleh salah satu biro kepercayaan Faris. Kemarin sore dokumen-dokumen itu diantarkan ke kost-annya.

Windi memeriksa barang-barang bawaan dengan seksama, memastikan tidak ada lagi yang tertinggal. Terutama jaket tebal. Karena dengar-dengarnya sekarang sedang musim dingin di sana, jadi jika tidak ingin mati beku di alam asing itu, dia harus membawa persiapan yang lengkap.

Tittitttttt...

Suara klakson mobil Fina terdengar di halaman depan. Windi membuka pintu dengan dua tas besar menggeling di atas roda. Melihat Faris di belakang kemudi, Windi segera menghampirinya, menyalaminya dengan penuh hormat.

“Udah siap semua, Win? Ga ada yang tinggal lagi ?” tanya Faris memastikan, ketika Windi menaiki mobil.

“Masih ada sih, Oom ,,,,“ jawab Windi. Faris terperangah, menoleh menatap Windi lebih jelas.

“Jejakku ... masih ketinggalan di rumah, Oom, hehe ...,” jawab Windi berseloroh.

Faris ikut tertawa mendengar gurauan garing Windi. Dia memang tidak terkejut lagi dengan sikapnya, karena setiap bertemu Windi berusaha menghilangkan canggung dengan melontarkan gurauan-gurauan garing seperti tadi.

“Kalian ingat pesan papa dengan baik, ya. Jangan pernah terpisah dari rombongan, dengarkan panduan yang diberikan guide, dan ...,”

“Kabari papa minimal satu kali 24 jam, begitukan, Pa?” ujar Fina menyambung kata-kata papanya.

“Tuh, kan. Kata-kata papa selalu kamu buat bercanda,” tegur Faris dengan nada kecewa.

“Ga, Papa. Fina ga bercanda, justru Fina itu sangat hapal sama petuah Papa. Kan Papa udah sebutin berkali-kali.”

“Syukur deh kalo kamu ingat. Dan ini juga berlaku buat kamu, ya, Windi. Oom mau kamu juga melakukan hal yang sama.”

“Baik, Oom. Jangan khawatir, aku dan Fina ga akan lupa sama pesan-pesan yang Oom berikan,” sahut Windi mantap, diiringi senyum lebarnya.

“Nah, gitu dong. Oom kan tenang jadinya.”



Mobil yang dikendarai Faris meluncur dengan anggunnya membelah jalanan ibu kota yang tidak begitu ramai.

“Nih, kamu pegang ya, jangan sampe hilang. Itu bukti kepesertaan kita di rombongan nanti. Sesampai di Incheon ntar akan ditukar dengan badge khusus yang mereka siapkan. Dengar-dengar sih ntar badge itu akan dilengkapi dengan GPS, buat jaga-jaga kalau-kalau ada anggora rombongan yang tersesat mereka mudah melacaknya.”

Windi menerima kertas yang disodorkan Fina lalu memasukkannya kedalam tas.



Incheon ... we are coming.


***

Bersambung.

Tuesday, October 15, 2019

You're My Destiny, Part 2

October 15, 2019 0 Comments

Part 2: Dua Sisi Kehidupan.



Dua puluh tahun kemudian.

Jalanan tampak sepi, hanya satu-dua kendaraan yang lewat di depan rumah megah itu. Bunga-bunga di halaman rumah tumbuh dengan suburnya, angin pun bertiup sangat lembut, selaras dengan ketenangan dan kedamaian yang jelas terasa. Membuat semua mata yang memandang menjadi iri untuk turut menjadi bagian dari kedamaian itu.

Namun tidak demikian halnya yang terjadi di dalam rumah. Ketegangan jelas terlihat membayangi wajah dua pria. Yang satu duduk di kursi besar, dengan wajah kaku, dan satu tangan yang jarinya selalu terkepal. Satunya lagi berdiri tidak jauh di samping kanannya. Mimik wajahnya cemas dan gelisah. Tampak jelas ia sedang berpikir keras tentang sesuatu.

Beberapa menit telah berlalu, namun masing-masing mereka masih saja larut dengan deru nafas yang terdengar begitu berat untuk dihembuskan. Sepertinya masalah besar memang sedang terjadi di rumah itu.

“Kim-seonsaengnim, apakah sudah ada kabar dari Yoo Ill?”

Kim Hyung Min mendekat. Seperti yang sering nampak di dalam drama, dia menundukkan kepala sebelum bicara. Itu adalah salah satu bentuk penghormatan mereka kepada lawan bicara yang dihormati.

Di Korea, semakin dalam mereka membungkukkan badan, maka semakin besar pula rasa hormat yang mereka berikan.

“Maaf, Tuan. Sampai detik ini masih belum ada. Tapi saya sudah kerahkan semua anggota untuk mencari keberadaan Tuan Muda, semoga beberapa saat lagi kita mendapatkan kabar baik.”

“Ehhhmm ... dia pasti sudah tak ada di negara ini lagi. Cari tahu di kantor imigrasi!”

“Sudah, Tuan. Tapi kami tidak menemukan apa-apa. Jika memang Tuan Muda ke luar negeri, saya yakin dia menggunakan paspor palsu agar tidak mudah terlacak.”

“Jangan menyerah, cari terus sampai dapat. Jika perlu hubungi partner bisnis kita di beberapa negara. Bagikan foto Yoo Ill dan minta kerjasama mereka. Bisa kemana sih dia dengan uang yang gak seberapa itu?”

“Baik, Tuan. Segera saya laksanakan.” Usai berkata itu Kim Hyung Min meninggalkan ruangan itu.

“Dasar anak tidak tahu diri,” umpat Han Tae Ho dalam hati.

“Apa dia tidak sadar betapa beruntungnya dia memiliki orangtua yang berkecukupan. Materi berlimpah, semua kebutuhan tersedia. Tapi tetap saja dia tidak pernah mau mendengarkan orang lain. Egois, dan hanya mementingkan diri sendiri.”

“Apa dia tidak sadar, di luar sana banyak orang yang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan kesempatan seperti yang dia miliki? Tapi dia justru menyia-nyiakan kesempatan yang telah ada di depan mata. Lihat saja, nanti kalau dia kembali, aku akan berikan hukuman yang seberat-beratnya. Akan kuikat ke dua tangan dan kakinya hingga dia tidak akan pernah lagi berani, jangankan untuk kabur, memikirkannya pun tidak.” Tae Ho masih larut dalam kemarahan di hatinya.



***





Hari ini adalah hari yang mendebarkan bagi Windi. Setelah bertahun-tahun hidup di bawah naungan pengurus panti, kini tiba saatnya dia harus meninggalkan mereka. Karena sesuai peraturan yang ada, anak-anak panti yang telah dianggap dewasa harus meninggalkan panti, dengan kondisi apa pun, ada atau pun tidak donatur yang akan membiayai mereka karena di usia ini mereka dianggap sudah mampu menghidupi diri sendiri.

Tahun ini berbeda dengan tahun kemarin, karena panti hanya melepas satu orang saja, yaitu Windi.

Dewi fortuna berpihak kepada Windi, karena berkat prestasinya di sekolah, ada donatur yang menawarkan diri untuk menjadi orang tua angkatnya. Meskipun tidak diadopsi, tapi Windi bersyukur karena dia memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun sayang pihak panti tidak bersedia membocorkan identitas donaturnya itu. Mereka bilang itu permintaan donatur itu. Meski kecewa, tapi Windi tetap bersyukur atas kemurahan hati orang itu. Setiap malam, Windi selalu menyematkan doa agar suatu saat Tuhan berkenan mempertemukannya dengan manusia berhati malaikat itu.

“Anggap saja donaturmu itu ‘angin’ yang tak terlihat, namun keberadaannya bisa kamu rasakan,” ujar Bu Fatma, ketika Windi menanyakan identitas donaturnya itu.
Wanita paruh baya berwajah hangat itu selalu menjawab dengan nada lembut setiap kali Windi bertanya. Inilah yang membuat Windi merasa berat untuk meninggalkan panti yang sudah menjadi rumahnya selama ini.

Suatu waktu saat Windi masih anak-anak, beberapa kali ada keluarga yang ingin mengadopsinya, namun Windi tidak mau dan selalu berteriak histeris ketika akan dibawa pergi. Jika dipaksa dia pasti pingsan. Akhirnya Bu Fatma memutuskan untuk tidak lagi menyerahkan Windi.

Angin? Sedari dulu Windi memang menyukai angin. Angin itu melambangkan kebebasan. Dia bisa berlari kemana saja tanpa terlihat. Kehadirannya selalu ditunggu ketika mentari bersinar terik. Dia bisa menyatukan panas dan dingin, namun juga bisa membentuk topan yang memporak-porandakan seisi kota. Itulah kekuatan angin.

Tapi angin tidak pernah bisa merasakan bagaimana rasanya bertumbuh, disayangi dan dijadikan bagian dari satu keluarga besar seperti layaknya daun di pepohonan. Karena dia adalah angin yang tidak memiliki siapa-siapa. Seperti Windi, yang juga tidak memiliki siapa-siapa.

Angin adalah kesepian yang rapuh. Namun di balik kerapuhannya dia menyimpan kekuatan besar sehingga tetap bisa memberikan kebahagian kepada semua yang disentuhnya.



“Ingat pesan bunda, ya, Nak. Cobaan hidup di luar sana sungguhlah besar, kamu harus sabar dan jangan pernah menyerah. Tebarlah kebaikan di mana saja dan ke pada siapa saja. Dan tetaplah berpegang teguh kepada garis utama kehidupan yaitu kejujuran. Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana saja. Jadi capailah impian kamu dengan kejujuran, jangan pernah kotori masa depan kamu dengan kenikmatan-kenikmatan sesaat. Karena semua itu hanya akan terasa manis di awal, namun menyengsarakan di kemudian hari. Camkanlah kata-kata bunda ini.”

“Baik, Bun. Windi akan selalu ingat pesan Bunda.”

“Satu lagi, meskipun kamu tak lagi tinggal di panti ini, selamanya ini adalah rumah kamu. Kapan saja, dalam keadaan apa saja, jika dunia terasa tak lagi mendukungmu, ketika dunia terasa berpaling darimu, datanglah, temui bunda, sampai kapan pun kamu adalah anak bunda, Windi.”

“Terimakasih banyak, Bunda. Aku tidak akan pernah lupa dengan panti ini. Aku akan berkerja keras agar bisa membantu adik-adik yang lain. Windi berjanji, Bunda.”

Suasana haru memenuhi ruangan. Terdengar isak tangis tertahan di semua tempat. Selalu setiap tahun ini pasti terjadi. Kebersamaan yang mereka lalui selama bertumbuh di panti ini telah membentuk kekerabatan yang mungkin sama eratnya dengan saudara kandung. Mereka saling menyayangi, saling melindungi, dan saling mendoakan kebahagiaan satu sama lainnya. Bahkan ketika salah satu mereka pergi dengan keluarga baru, mereka tetap terus berdoa, dan berharap suatu saat akan dipertemukan dalam kondisi yang lebih baik.

Fatma memeluk erat Windi yang sesegukan di bahunya. Sungguh Windi berharap waktu akan berhenti berputar sehingga ia bisa meresapi hangatnya dekapan Bu Fatma lebih lama lagi.



Bersambung ...

Monday, October 14, 2019

You're My Destiny, Part 1

October 14, 2019 3 Comments




Part 1: Hujan Salju yang Tak Biasa.


Salju mulai turun dengan lebat. Tidak seperti tahun-tahun biasanya, yang mulai lebat di bulan Desember, kali ini masih di akhir November suhu semakin menusuk tulang. Di tengah cuaca yang tidak bersahabat itu Roy memacu kendaraannya membelah jalanan yang berwarna putih. Wajahnya tenang, ada riak kebahagiaan yang memancar di sana.


Bagaimana tidak? Setelah dua puluh lima tahun, akhirnya ia kembali mengantongi identitas kewarganegaraan Indonesia. Dan perjuangannya selama lima tahun terakhir pun berbuah manis, akhirnya kesempatan itu datang. Dia diterima berkerja sebagai salah satu staff ahli di Jakarta. Kota yang terakhir ia lihat saat ia berumur lima tahun, ketika seorang pria bermata sipit yang mengaku sebagai ayahnya datang, lalu membawanya pergi ke sebuah negeri antah berantah yang kultur dan bahasa sama sekali tidak ia pahami.


Setelah itu ia hidup nomaden dari satu rumah ke rumah yang lain. Sementara laki-laki yang mengaku ayahnya tadi pergi entah kemana. Sedangkan wanita tua yang ada dirumah itu sering kali memandangnya dengan tatapan tidak bersahabat. Roy kecil tidak mengerti, yang ia tau wanita tua itu adalah neneknya. Sementara ibunya adalah mantan TKI yang sudah pulang ke Indonesia.


Karena itu tidak banyak yang bisa ia ingat tentang Indonesia selain bayang-bayang samar ketika ia bermain di halaman sebuah rumah kecil di temani seorang wanita muda berwajah sendu. Ahh .. desah Roy panjang. Sejumput kegelisahan menyelinap dihatinya. “Apakah dia masih ada?” Tanya Roy dalam hati.


Tepat di usianya yang ke sepuluh, lagi-lagi Roy dipindahkan ke rumah keluarga yang lain. Tapi kali ini tidak lagi bermata sipit seperti yang biasa ia lihat. Keluarga yang ia temui kali ini berkulit coklat dan bermata besar, tapi memiliki tatapan yang hangat. Rumah yang ditempatinya pun memiliki banyak kamar. Dan Roy melihat beberapa orang anak seumurannya bermain di dalamnya.


Bu Fatma, demikian wanita itu disapa. Diingat dari posturnya, Bu Fatma saat itu sepertinya masih berusia 20 tahun. Cukup muda untuk menjadi pengelola panti. Meski tidak banyak kisah yang bisa Roy gali dari wanita itu, tapi tumbuh di bawah asuhannya membuat Roy tetap bisa merasakan kasih sayang seorang ibu. Dan berkat beliau juga, Roy tetap bisa merasakan jiwa Indonesia dalam aliran darahnya. Ketika tidak ada anak-anak yang lain didekat mereka, Bu Fatma selalu mengajaknya berbicara dan bercerita menggunakan bahasa Indonesia. Karena itulah, meski tumbuh besar di negara asing, tapi tak sedikit pun Roy lupa dengan negara asalnya.


***


Roy memperlambat laju kendaraan karena ban belakangnya beberapa kali terasa goyang. Itu pasti karena salju yang semakin tebal. Sesekali dia melirik bangku belakang lewat kaca spion. Disana ada dua orang perempuan belahan jiwanya. Fani dan Windi.

“Windi tidur, Ma?” tanya Roy.

“Iya, Pa. Habis minum ASI dia langsung tidur,” jawab Fani.

“Pasti dia nyaman tuh, berada dipelukan kamu di cuaca dingin begini.”

“Iya, ya, Pa. Ga biasa-biasanya dia tidur di mobil. Biasanya rewel minta dibukakan kaca, trus ketawa cekikikan kalo rambutnya diterbangkan angin.”


Roy tersenyum membayangkan suara riang anaknya. “Ga terasa udah besar, ya, dia sekarang.”


“Iya, Pa, oh ... iya, Papa yakin jalannya lewat sini?”


“Yakin, Ma. Beberapa waktu lalu papa pernah di ajak Tae Ho ke sini.”


“Iya, tapi saat itu ga lagi salju, kan, Pa ?”


“Benar, tapi plang jalannya, kan, ada. Papa hapal kok, Ma. Tenang aja.”


“Iya, Pa. Cuma mama khawatir aja, ntar kita ketinggalan pesawat lagi.”


“Ga bakalan, Ma. Masih ada waktu 4 jam lagi kok.”


“Lagian Papa pake acara mengunjungi Tae Ho segala lagi, kan bisa pamitan via telepon.”


“Papa ga enak, Ma. Hari ini adalah hari perayaan rumah barunya. Dia udah banyak bantu papa waktu kuliah dulu. Dia juga yang bantu papa mendapatkan perkerjaan. Dan yang tidak akan pernah papa lupa, dia jugalah yang berjasa karena udah mempertemukan kita,” ujar Roy sambil menatap mesra istrinya. Fani pun tersipu malu.


“Ih ... papa genit,” sahut Fani.


“Lho, emang kenyataannya kan, Ma. Bagi papa, Tae Ho itu bukan hanya teman, Ma. Dia lebih dari saudara. Bahkan kami sama-sama berjanji akan saling menjaga satu sama lain, anakku adalah anaknya juga, begitu juga sebaliknya. Masa mentang-mentang papa dapat kerjaan yang lebih baik di Indonesia trus papa main pulang gitu aja ?”


Fani tidak menjawab lagi, untuk hal itu dia tidak akan pernah berani berdebat dengan Roy. Dia sangat paham arti persahabatan dalam hubungan mereka.


Dalam hening yang sesaat tiba-tiba Windi menangis di pelukannya.


“Cup ... cup ... cup ... ini mama, Sayang. Sshhhh ... tenang, Nak. Tenang.”


Bujukan Fani tidak mempan. Windi justru menangis semakin kencang disertai jerit di setiap ujungnya. Seperti orang yang sedang ketakutan akan sesuatu.


“Kenapa Windi, Ma ? Kok ... nangis sampe segitunya ?” tanya Roy masih dari kaca spion.


“Ga tau nih, Pa. Tiba-tiba saja dia menangis.”

“Masuk angin kali, Ma.”

“Ngga Pa, perutnya ga kembung kok,” jawab Fani. Dia menepuk-nepuk perut Windi beberapa kali, dan terdengar baik-baik saja.


“Cup...cup... udah Nak, udah. Ini mama, Sayang.”


Windi menangis semakin keras. Membuat konsentrasi Roy teralihkan. Dia tidak lagi fokus melihat jalan sehingga tidak melihat bahwa ia baru saja melewati papan yang bertuliskan larangan tertentu. Sampai ketika mobil yang dikendarainya terasa goyang seperti baru saja melewati jalan yang keras dan licin.


“Perhatikan jalan, Pa. Ga usah cemaskan Windi. Ntar lagi dia juga diam.”


“Iya Ma, iya. Ini papa juga perhatiin kok.”


Merasakan jalan yang dilewatinya semakin licin, Roy mengurangi kecepatannya, namun tidak berhasil. Mobil yang dikendarainya tetap meluncur tak terkendali.


“Awas, Paaaa.”


“Merunduk, Ma. Pegangan yang kuat. Lindungi Windiiiii !”


Itu adalah kata-kata terakhir mereka, karena berikutnya hanya pekikan histeris diiringi suara dentuman besar yang terdengar.


Mobil itu terguncang hebat beberapa kali, lalu meluncur, berguling-guling, dan terhempas di bebatuan diiringi dengan suara menggelegar.


Siang itu, ditengah hujan salju yang lebat, mobil yang berisikan Roy, Fani dan Windi terhempas ke dasar jurang.


***



Tidak jauh dari tempat kejadian. Jang Woo dan istrinya sedang melintas. Mereka adalah pasangan suami istri yang telah bertahun-tahun tidak dikaruniai anak.


“Yeobo, bagaimana kalau kita mengadopsi anak saja?” tanya In Suk, istrinya. Ada getaran halus terdengar di suaranya. Sangat jelas dia menahan gejolak yang sangat besar di hatinya. Meskipun sudah bisa menduga jawaban dari suaminya, tapi dia tetap ingin mencoba sekali lagi, dengan harapan suaminya akan berubah pikiran.


Hasratnya untuk menjadi ibu sudah tak terbendung lagi. Sementara usianya tak lagi muda. Jika langit memang tidak menakdirkannya untuk melahirkan seorang anak, maka mengadopsi anak adalah jalan lain yang harus ia pilih.


In Suk telah melakukan riset kecil-kecilan dari beberapa orang temannya yang juga tidak memiliki anak seperti dirinya. Mereka mengadopsi anak, dan tak lama kemudian mereka dikaruniai anak. In Suk berharap keajaiban yang sama juga akan menghampirinya.


“Kamu kan sudah tahu jawabanku dari dulu. Mengapa masih menanyakan itu?” Jang Woo menjawab dengan nada gusar.


“Tapi sampai kapan aku harus menunggu, sementara usia kita semakin lanjut. Aku khawatir langit memang tidak merestui kita memiliki keturunan.”


“Jangan menghakimi langit sesukamu. Kamu kan tidak tahu, bisa jadi saat ini DIA sedang merencanakan sesuatu yang indah buat kita. Sabar saja, yeobo, ye, pasti akan indah pada waktunya.”


In Suk tidak menanggapi lagi. Setiap kali membahas hal itu selama tiga tahun terakhir akhirnya selalu sama. Suaminya tidak pernah menyetujui mengadopsi anak. Padahal kemungkinan mereka untuk memiliki anak memang sangat kecil, karena In Suk sendiri pernah menjalani operasi kista sebelum menikah dulu.


“Ada apa, yeobo ?” tanya In Suk heran, karena suaminya tiba-tiba menghentikan mobil. Sementara mereka masih jauh dari tujuan.


“Di depan sana, kamu lihat itu ? Sepertinya ada kecelakaan. Ayo kita lihat.”


“Tttapi ... kamu yakin itu kecelakaan biasa ? Bagaimana kalau mereka penjahat ? Atau korban kejahatan ? Nanti kita bisa jadi tertuduh.”


“Ahh, kamu kebanyakan nonton drama. Jika kita tidak menolong mereka, lalu siapa lagi ? Setidaknya kita bisa menghubungi 119.”


Suami istri itu pun mendekati mobil yang nyaris hancur itu.


“Yeobo, dengar, sepertinya ada suara tangisan anak kecil,” kata In Suk.


Jang Woo mencoba mempertajam pendengarannya. Dan benar yang dikatakan istrinya, dia mendengar tangisan anak kecil.


Di bawah mobil yang hancur itu dia melihat tangan kecil menggapai-gapai. Pakaiannya berlumuran darah. Sementara dua orang lainnya diam tak bergerak.


“Yeobo, sini, cepat. Bantu aku menariknya,” teriak Jang Woo.


In Suk berlari mendekat. Dia terpekik melihat pemandangan di depannya.


“Sudah, tunda dulu kagetmu. Kita harus segera menolong anak itu. Aku akan angkat, kamu yang tarik. Dalam hitungan tiga, oke.” In Suk mengangguk.


“Na, dul, set.” Sekali hentakan In Suk berhasil menarik anak itu dan membawanya kepelukannya.


“Bagaimana dengan orangtuanya ?” tanya In Suk khawatir.


Jang Woo meraba nadi mereka satu persatu. Dia menghela nafas berat.


“Denyut nadinya masih ada, hanya sangat lemah. Aku khawatir mereka tidak akan mampu bertahan lagi,” jawabnya khawatir. Lalu mengeluarkan ponsel untuk menghubungi 119.


“Yeobo, tunggu, anak ini, bagaimana dengan anak ini ?”


“Mengapa bertanya ? Tentu saja kita serahkan kepada petugas yang datang nanti.”


“Andwaeyo, yeobo, kamu sendiri yang bilang orangtuanya tidak memiliki harapan hidup. Biarkan aku merawatnya, ya, aku yakin, ini adalah salah satu cara yang diberikan langit kepada kita.”


“Michyeosseo? Tidak, kamu jangan sekali-kali berpikir untuk melakukan itu!” tolak Jang Woo tegas.


Sudah cukup dia melihat kehidupan anak-anak terlantar di panti asuhan di dekat tempat kerjanya. Dia tidak mau, jika dirinya adalah salah satu pelaku yang menyebabkan itu.


“Yeobo, tolonglah, izinkan aku merawatnya. Kamu tidak lihat anak ini membutuhkan kita ? Lihat wajahnya yang polos, aigoo ... dia sangat menggemaskan,” rengek In Suk sambil membelai-belai wajah Windi yang mulai tenang di pangkuannya.


Jang Woo memandangi wajah anak yang digendong istrinya. Wajahnya imut dan polos. Meskipun tubuhnya gemetar karena takut, tapi sorot matanya menampakkan keberanian. Seandainya diberi kesempatan, dia sangat ingin memiliki anak seperti itu.


“Tapi ... .” gumam Jang Woo ragu.


“Udah, tidak usah terlalu banyak pikir, ayo, kita pergi dari sini, buruan,” desak In Suk seraya menarik tangan suaminya untuk segera beranjak dari tempat itu.


“Oke, tapi biar aku hubungi 119 dulu. Setidaknya kita upayakan dulu pertolongan bagi orangtuanya.”




Suara ambulan meraung-raung memasuki pelataran rumah sakit yang megah dan besar. Di dalamnya tergolek Roy dan Fani dengan luka di sekujur tubuhnya.


Satu dokter dan dua paramedis lainnya sibuk mengupayakan pertolongan pertama untuk Roy dan Fani.


“Suster Kim, segera siapkan ruang operasi. Suster Nam, hubungi dr. Lee. Beberapa pecahan kaca menembus dada mereka, dan harus dilakukan operasi secepatnya,” intruksi Ko Joo Ri kepada bawahannya.


“Baik, Dok,” jawab mereka serentak. Lalu melesat ke luar dari ambulan.


Suasana UGD gaduh luar biasa. Petugas berlarian ke sana ke mari memenuhi kebutuhan yang diminta oleh dokter yang menangani pasien.


“Sudah cek kartu identitas mereka ?” tanya Joo Ri lagi.


“Sudah, Dok. Ternyata mereka warga negara Indonesia. Dan kami juga menemukan tiga tiket penerbangan, dua tiket dewasa atas nama Mr. Roy, Mrs. Fani dan satu tiket anak-anak atas nama Ms. Windi. Sepertinya mereka sedang dalam perjalanan menuju bandara.”


“Tiga tiket? Kamu yakin? Tapi kenapa cuma ada dua korban?”


Mereka saling berpandangan penuh arti. Benar juga, tadi di lokasi kecelakaan mereka hanya menemukan dua korban, jadi mana korban yang ketiga ?


“Tadi kamu bilang kemungkinan mereka menuju bandara, kan? Tapi tempat kecelakaan terjadi itu, arah sebaliknya, bukan?”


“Benar juga, alamat mereka pun jauh dari tempat kecelakaan. Apakah mereka tersesat ?”


“Hmm, bisa jadi. Berkendara di tengah hujan salju memang tidak mudah. Kita yang hapal jalan saja bisa nyasar apa lagi jika tidak terbiasa.”


“Anda benar, Dokter. Sepertinya begitu. Jadi apa langkah selanjutnya, Dok ?”


“Lebih baik kamu hubungi pihak kedutaan, agar mereka bisa menangani warga negaranya dengan segera. Aku masih penasaran dengan keberadaan anak mereka, jangan sampai ada pihak yang memanfaatkan keadaan ini.”

“Maksud Dokter ?”


“Anak itu, tadi tidak ditemukan di lokasi kecelakaan, kan ? Ada dua kemungkinan, pertama, mereka dalam perjalanan menjemput anak itu, kedua, anak itu diculik di lokasi kejadian. Ditambah lagi di lokasi kecelakaan juga tidak ada orang yang menghubungi kita, padahal tadi jelas-jelas informasinya mereka menemukan korban kecelakaan, tetapi kenapa mereka tidak ada ?”


“Wah, anda berbakat jadi detektif, Dokter,” puji Suster Kim. Joo Ri sumringah.


“Karena saya penasaran, makanya kamu hubungi kedutaan Indonesia secepatnya, agar mereka bisa mencari keberadaan anak itu.”

“Baik, Dok.”

***


Joo Ri baru saja hendak menyantap makan siangnya ketika Suster Kim dan Suster Nam masuk dengan suara gaduh.

“Dokter! Dokter Ko! Pasien tadi ... pasien kecelakaan tadi meninggal.”

“Apa? Yang mana?” tanggap Joo Ri kaget.

“Kedua-duanya, Dok. Yang suami meninggal di meja operasi, yang istri meninggal dalam perjalanan menuju ruang operasi.”


Ko Joo Ri langsung lemas. Meskipun hal ini bukan yang pertama kali dia hadapi, namun setiap kali mendengar berita pasien yang ditanganinya meninggal tetap saja dia merasa lemas. Seakan-akan satu urat sarafnya ikut terputus bersamaan dengan kematian mereka.

Tanpa sadar Joo Ri memandangi foto yang ada di layar ponselnya seraya membisikkan doa, semoga wajah mungil yang sedang tersenyum lebar di sana tidak akan mengalami nasib yang sama.


***


Kaki kecil itu melangkah beriringan bersama kaki-kaki besar lainnya. Jalannya masih tertatih karena usianya yang memang masih teramat belia.Tangannya terangkat tinggi dalam genggaman mereka.


“Papa, Mama?” disela-sela langkah mereka, mulut mungil itu tidak berhenti memanggil-manggil orangtuanya.


Tapi bagaikan angin lalu, tak ada satu pun diantara mereka yang menjawab panggilan itu.


“Yeobo, sepertinya anak ini berbeda. Bahasanya bukan bahasa kita.”


“Papa, Mama, anna ?” tanyanya lagi dengan tatapan polos yang menghujam tepat ke manik mata dua orang dewasa di hadapannya.


Jang Woo dan In Suk saling berpandangan, tenggorokan mereka tiba-tiba terasa kesat. Mereka sadar, baru saja melakukan kesalahan besar.


“Eotteohkeyo, yeobo ? Dia bukan orang sini, sekalipun orang tuanya tidak selamat, pihak kedutaan mereka pasti mencari anak ini. Dan lihat, dia juga punya tanda lahir yang cantik di lengannya. Kita tidak mungkin menyembunyikannya di sini kan?”


“Makanya tadi aku larang kamu mengambilnya. Tapi kamu ngotot. Kalau sudah begini aku juga yang repot.”


“Kamu menyalahkanku? Memangnya kamu tidak perhatikan wajah orang tuanya ? Wajah mereka kan beda dengan kita?”


“Kamu pikir dalam keadaan berlumuran darah wajah orang bisa dikenali?”


In Suk terdiam dia tak lagi mendebat suaminya. Dia mulai panik, beragam bayangan buruk mulai gentayangan di kepalanya.


“Begini saja, aku tidak mau berurusan dengan hukum. Besok kita antarkan saja dia ke kedutaan,” usul Jang Woo tegas. Dia yakin itu adalah keputusan terbaik.


“Tapi ...,” sahut In Suk ragu.


“Kamu mau dibilang menculik? Kalau kita mengaku, dan bilang ingin menyelamatkannya, mereka ga akan hukum kita. Percayalah padaku.”


“Ttta-tapi, bagaimana jika kita tetap dihukum meskipun mengembalikan anak ini? Bagaimana jika mereka tidak percaya, lalu memenjarakan kita? Aku tidak mau dipenjara, yeobo, andwaeyo, cheongmal andwaeyo, yeobo.”


“Sudaahh, kamu jangan menakut-nakuti gitu. Besok biar aku saja yang kembalikan anak ini, kamu di rumah saja.”


***


Tanah masih basah setelah semalaman dihujani salju tiada henti. Di atasnya Jung Woo mempercepat laju sepeda motornya, ada kekhawatiran menggelayut di wajahnya yang tirus. Di depannya, Windi duduk berbalut jaket tebal. Wajahnya tampak tenang. Bahkan sesekali dia tertawa lepas ketika angin berhasil mencuri kesempatan menyelinap di bawah tutup kepalanya.


Dia sangat menyukai angin. Sesuai nama yang diberikan orangtuanya yang bermakna sama. Baginya angin bisa mendatangkan rasa bahagia. Oleh mamanya, setiap kali ia menangis pasti segera dibawa ke hadapan kipas angin. Kemudian mereka menciptakan macam-macam suara di depannya sehingga suara mereka terdengar bergelombang. Windi sangat menyukai itu.


Di sebuah perempatan jalan, Jang Woo menghentikan laju motornya. Tiba-tiba timbul keraguan di hatinya. Terngiang kembali kata-kata istrinya kemarin. Bagaimana jika mereka tetap menghukumnya karena dianggap telah melakukan penculikan. Bagaimana jika dia disalahkan atas kecelakaan itu? Keringat dingin membasahi telapak tangannya karena cemas. Tidak, dia tidak mau itu terjadi. Dia tidak siap jika harus berhadapan dengan berbagai macam interogasi berwajib. Yang terpenting, dia tidak mau di penjara.



Tapi bagaimana dengan anak ini ? Tidak mungkin baginya untuk membawa anak ini pulang kembali kerumah. Tetangga mereka bisa curiga, dan menuduhnya melakukan penculikan. Tapi dia juga tidak memiliki keberanian untuk mengantarkan anak ini ke kantor kedutaan.


Tidak ada cara lain, demi keselamatannya, dia pun memutuskan untuk mengantarkan Windi ke panti asuhan. Ya, itu adalah keputusan yang terbaik.


Jang Woo berbalik, lalu memacu sepeda motornya menuju panti asuhan terdekat yang ia tahu.


Dengan sedikit mengendap-endap Jang Woo memasuki ruang utama panti asuhan itu. Hatinya berdebar keras.


Dia mendudukkan Windi di salah satu kursi yang tersedia, sementara dia sendiri mencari cara untuk memberi tahu keberadaan mereka. Jang Woo punya rencana, begitu pengelola panti itu tampak, dia akan berlari secepatnya meninggalkan panti asuhan itu. Di kantong Windi dia sudah menyiapkan sepucuk surat, agar pihak panti tahu harus berbuat apa.


Jang Woo memencet bel yang terletak di atas meja. Tidak terdengar sahutan. Jang Woo kembali menekan bel itu.


“Yeee, jamkkanmanyo,” terdengar sahutan dari salah satu ruangan, bersamaan dengan derap sepatu yang bergesekan dengan lantai.


Jang Woo mengambil kesempatan itu sebaik-baiknya. Dia berkelebat pergi, menuju sepeda motornya yang terparkir di pinggir jalan, memutar gasnya, lalu menghilang dalam kecepatan tinggi.


“Yee, jamkkanmanyo? Mueoseul dowadeurilkkayo ?” Cho Min Ah, pengurus panti sampai di lobi. Dia heran tidak menemukan siapapun disana.


“Lho, mana orangnya? Tadi jelas-jelas aku mendengar bel berbunyi, tapi kenapa tidak ada siapa-siapa?” Min Ah memutar tubuhnya dengan kecewa. Tapi lamat-lamat dia mendengar sesuatu.


“Papa, Mama, anna ?”


Min Ah terkesiap kaget. Didepannya berdiri seorang bocah kecil usia 1 tahunan. Dengan jaket tebal dan penutup kepala kebesaran. Jelas sekali anak itu tidak mengenakannya pakaian miliknya sendiri.


“Kkkamu, siapa? Siapa yang membawamu ke sini?” tanya Min Ah gugup.


Windi tidak menjawab. Dia hanya menatap lurus ke bola mata Min Ah. Tatapan itu penuh tanda tanya yang meminta jawaban.


“Papa, Mama, anna ?” tanyanya lagi.


“Somanim, kemarilah, lihat apa yang aku temukan!” sorak Min Ah dengan pandangan tidak lepas dari Windi.


“Yee, Min Ah. Ada apa ribut-ribut? Suaramu itu bisa membangunkan anak-anak yang sedang tidur,” seorang wanita paruh baya keluar dari ruangan paling pojok. Dia adalah Ny. Baek. Kepala panti asuhan itu.


“Chwisongeyo, somanim. Tapi lihatlah kesini.”


“Apa sih itu ? Kamu benar-benar membuatku penasaran,” gerutu Ny. Baek seraya mempercepat langkahnya.


Sesampai didekat Min Ah, dia pun berseru kaget. Suasana menjadi kaku untuk beberapa saat. Ny. Baek yang telah puluhan tahun mengelola panti itu tentu saja bisa segera menguasai keadaan. Dia telah berulang kali berhadapan dengan hal yang sama.


“Annieonghaseyo, siapa namamu, Sayang ?” tanyanya kemudian setelah berhasil mengatasi rasa kagetnya.


Windi tidak menjawab, dia hanya tersenyum kecil.

“Papa, Mama, anna ?” tanyanya kemudian.


“Booo yaaa ? Anak ini .. dia bukan orang sini. Siapa yang membawanya ke sini ?”

“Saya tidak tahu, Bu. Tadi saya mendengar suara bel, saya sedang di ruang belajar anak-anak, bergegas keluar. Tetapi sampai di luar aku tidak menemukan siapa-siapa, hanya anak ini.”


“Ya, sudah. Nanti kita cari tahu lebih banyak. Sekarang kamu urus anak ini. Ganti pakaiannya dengan yang lebih pantas.”

“Baik, Bu.”




Han Tae Ho tampak gelisah diruangan kerjanya. Sejak kemarin dia tidak bisa menghubungi Roy sahabat dekatnya. Padahal jelas-jelas malam sebelumnya Roy menelepon memberitahu bahwa dia akan mampir sebelum pulang ke Indonesia. Perasaannya tiba-tiba tidak enak. Firasatnya mengatakan sesuatu sedang terjadi. Dan dia penasaran itu apa.


“Nn. Lee, tolong hubungi kantor Tn. Roy. Cari tahu perihal keberangkatan mereka,” perintahnya pada sekretarisnya. Wanita berambut panjang itu mengangguk lalu mundur dari ruangan.


Lima belas menit berlalu dia kembali lagi keruangan itu. Wajahnya tegang, seperti sedang mencemaskan sesuatu.


“Nn. Lee, kamu baik-baik saja? Kenapa wajahmu pucat begitu? Apa kata mereka ?”


“Sekretaris Tn. Roy bilang mereka sudah ke luar dari sana sejak pagi kemarin, Tuan,” jawabnya dengan suara bergetar.


“Lalu apa yang membuatmu tampak ketakutan seperti itu ?”


“Itu ... itu ... hhmm .. sebaiknya Tuan lihat sendiri beritanya,” jawab Nn. Lee sambil meraih remote dan mengarahkannya kelayar televisi.


Di salah satu channel sedang menayangkan berita tentang kecelakaan tragis yang menimpa warga negara Indonesia. Kecelakaan tunggal itu merenggut dua nyawa sekaligus.


Tae Ho terhenyak melihat tayangan berita di hadapannya. Tubuhnya lemas, hati dan pikirannya sulit menerima kenyataan sahabat baiknya tewas mengenaskan seperti itu.


Untuk beberapa saat dia terpaku tanpa suara dengan pandangan tidak lepas dari layar tivi. Reporter di sana sedang menyampaikan analisa perkiraan penyebab terjadinya kecelakaan itu. Te Ho masih sangat syok, dia sulit menerima kenyataan bahwa sahabat karibnya itu telah tiada.


Tiba-tiba dia teringat sesuatu. “Tunggu, mereka bilang korban tewas ada dua orang ?” tanyanya kemudian.


“Benar, Tuan,” sahut Nn. Lee.

“Lalu bagaimana dengan anak mereka ?”


“Itu yang belum diketahui pasti, Tuan. Karena ketika ambulan sampai dilokasi kejadian mereka hanya menemukan dua orang korban.”

“Apa maksud kamu, Nn. Lee? Anak itu hilang?”


“Saya tidak tahu Tuan. Saat ini pihak kedutaan pun masih mencari keberadaan anak itu.”


“Hubungi Tn. Kim, suruh dia menemuiku.”

“Baik, Tuan.”


***

Sementara itu di panti asuhan, Min Ah sedang memakaikan selimut ke tubuh Windi yang tertidur.


“Bagaimana anak itu, Min Ah ?” tanya Ny. Baek yang ikut masuk ke kamar.


“Setelah mandi dan makan lahap dia tertidur, Bu. Sepertinya dia kelelahan.”


Ny. Baek menghela nafas panjang. Pikirannya tidak tenang. Meskipun kejadian ini bukan yang pertama kali ia alami, namun baru kali ini ia menerima warga negara asing. Firasatnya mengatakan sesuatu yang tidak biasa sedang terjadi.

“Kenapa, Bu? Ada yang mengganggu pikiran Ibu?” tanya Min Ah. Bertahun-tahun mengenal Ny. Baek dia paham betul hati atasannya itu sedang resah.


“Ada yang aneh, Min Ah. Anak itu bukan warga negara kita. Tapi mengapa dia bisa sampai di sini? Tadi aku juga melihat ada noda darah yang telah kering di pakaiannya. Apakah dia korban penculikan?”


Min Ah, wanita polos yang hanya mengenyam bangku sekolah dasar itu tentu saja tidak paham akan kata-kata atasannya. Yang dia tahu, dia harus meninggalkan wanita tua itu sendirian untuk berpikir, sementara dia harus kembali ke perkerjaannya. Sadar akan hal itu, dia jadi teringat cuciannya telah terendam cukup lama.


Min Ah mempercepat langkahnya menuju halaman belakang tempat dia merendam cuciannya. Sembari melangkah, dia menyempatkan menyambar pakaian yang dikenakan Windi tadi, lalu menyatukannya dengan cuciannya yang lain. Bersama tumpukan cucian, baginya inilah dunia ternyaman.


Sepeninggal Min Ah, Ny. Baek berpikir keras. Dia harus melakukan sesuatu. Demi keselamatan anak itu dan juga demi kenyamanan panti yang ia bina.


Ny. Baek mengangkat telepon, dan langsung menghubungi kedutaan. Itu adalah langkah terbaik yang bisa ia lakukan.





Bersambung ...




Note:


Mohon kritik dan sarannya, ya. Terutama untuk dialog-dialog dalam bahasa Korea yang aku masih sangat awam. Terimakasih.

Saturday, October 12, 2019

New Fortuner Mobil yang Wajib Dimiliki dengan Berbagai Kenyamanannya

October 12, 2019 0 Comments


Memilih mobil bukanlah perkara yang mudah, tidak semua orang bisa puas dengan apa yang telah dipilihnya. Namun tidak akan menyesal ketika kamu memilih new Fortuner. Dengan berbagai tipe yang menarik, juga desain eksterior maupun interiornya sangatlah keren. Jadi kamu akan merasa puas ketika membeli New Fortuner.

New Fortuner juga memiliki kehandalan pada mesinnya. Belum lagi berbagai fasilitas yang sangat keren. Sangat kuat pada tanjakan dan ketika melewati jalanan yang tidak rata kamu tidak akan merasakan banyak getaran. Jadi sangatlah nyaman, belum lagi kabin yang longgar dan tempat duduk yang empuk.

Jadi ketika perjalanan jauh kamu akan merasakan ekstra kenyamanan saat menggunakan New Fortuner. Mobil kelas atas ini sangat pas dibawa kemanapun. Tidak perlu ragu untuk memilih mobil terbaik ini. Kaum sosialita akan sangat menyukai menggunakan mobil ini. Tidak hanya desain yang keren, kenyamanan juga menjadikan mobil ini nomor satu.

Kamu dapat memiliki New Fortuner ini dengan mudah. Melalui dealer resmi Toyota yaitu Auto2000, apalagi kamu tidak perlu repot datang ke dealer untuk mengetahui spesifikasi dan harganya. Kamu dengan mudah dapat melihatnya pada website auto2000.co.id. Disana tersedia harga dan spesifikasi serta foto New Fortuner secara lengkap.

Sebagai gambaran sebelum anda membuka website auto2000.co.id anda dapat melihat rincian harga New Fortuner di bawah ini, antara lain :

ALL NEW FORTUNER 4×2 2.7 SRZ A/T BSN Rp 550 juta
◾ DP mulai dari Rp 137,512,500
◾ Angsuran Rp 11,380,000
◾ Tenor hingga 48 bulan

ALL NEW FORTUNER 4×2 2.4 G M/T DSL Rp 476 juta
◾ DP mulai dari Rp 119,012,500
◾ Angsuran Rp 9,930,000
◾ Tenor hingga 48 bulan

ALL NEW FORTUNER 4×2 2.4 G A/T DSL Rp 494 juta
◾ DP mulai dari Rp 123,512,500
◾ Angsuran Rp 10,310,000
◾ Tenor hingga 48 bulan

ALL NEW FORTUNER 4×2 2.4 VRZ A/T DSL Rp 524 juta
◾ DP mulai dari Rp 131,162,500
◾ Angsuran Rp 10,850,000
◾ Tenor hingga 48 bulan

ALL NEW FORTUNER 4×4 2.4 G A/T DSL Rp 596 juta
◾ DP mulai dari Rp 149,137,500
◾ Angsuran Rp 12,290,000
◾ Tenor hingga 48 bulan

ALL NEW FORTUNER 4×4 2.4 VRZ A/T DSL Rp 668 juta
◾ DP mulai dari Rp 167,037,500
◾ Angsuran Rp 13,770,000
◾ Tenor hingga 48 bulan

ALL NEW FORTUNER 4×2 2.4 VRZ A/T DSL TRD Rp 536 juta
◾ DP mulai dari Rp 134,162,500
◾ Angsuran Rp 11,100,000
◾ Tenor hingga 48 bulan

ALL NEW FORTUNER 4×2 2.7 SRZ A/T BSN TRD Rp 562 juta
◾ DP mulai dari Rp 140,512,500
◾ Angsuran Rp 11,630,000
◾ Tenor hingga 48 bulan

ALL NEW FORTUNER 4×2 2.7 SRZ A/T BSN LUX Rp 553 juta
DP mulai dari Rp 138,412,500
Angsuran Rp 11,450,000
Tenor hingga 48 bulan

ALL NEW FORTUNER 4×2 2.4 G M/T DSL LUX Rp 479 juta
◾ DP mulai dari Rp 119,912,500
◾ Angsuran Rp 10,010,000
◾ Tenor hingga 48 bulan

ALL NEW FORTUNER 4×2 2.4 G A/T DSL LUX Rp 497 juta
◾ DP mulai dari Rp 124,412,500
◾ Angsuran Rp 10,380,000
◾ Tenor hingga 48 bulan

Itulah rincian harga New Fortuner, kamu dapat memilikinya secara cash maupun kredit. Apalagi cicilannya terbilang panjang dengan harga yang terjangkau. Dengan harga yang murah kamu bisa memiliki New Fortuner. Proses dan cara mendapatkan mobil ini juga terbilang mudah. Apalagi harga diatas belum termasuk promo.

Segera kunjungi dealer Auto2000 terdekat di kota anda, agar anda mendapatkan banyak promo menarik serta pelayanan yang ekstra ramah juga menyenangkan.