Follow Us @soratemplates

Wednesday, November 13, 2019

Nilai Sekolah adalah Bagian dari Rezeki

November 13, 2019 0 Comments


Nilai Sekolah adalah Bagian dari Rezeki. Orangtua mana sih yang tidak akan senang jika anak-anaknya memiliki prestasi akademik. Makanya aku sangat bersyukur ketika Aira meraih ranking di sekolahnya.

Tetapi, meski pun begitu, kami selalu sounding kepada Aira bahwa NILAI BUKANLAH YANG PALING PENTING, NILAI SEKOLAH BUKANLAH SEGALANYA.

Dengan begitu Aira tumbuh menjadi anak yang tidak ''mendewakan nilai" sehingga dia selalu jujur dengan nilai-nilai yang ia hasilkan di sekolah. Dia tidak perlu melakukan hal-hal curang demi nilai bagus. Dia pun  tidak perlu kuatir orangtuanya akan marah ketika nilainya tidak memuaskan, karena dia tau orangtuanya tidak mengutamakan itu.




Sebagai orangtua kami lebih menekankan pada pendidikan karakter. Kami lebih fokus pada pembentukan karakter Aira agar menjadi manusia yang penuh tanggung jawab dan berbudi pekerti.

Terkadang miris hati ini melihat sikap anak-anak zaman sekarang yang sangat jauh dari etika. Perkataan mereka tidak sopan, sikap dan tingkah lakunya pun nyaris tidak beradab. Mereka juga boleh dikatakan tidak memiliki kepekaan terhadap sekitar.

Memang tidak semua bersikap buruk seperti itu, tetapi tidak sedikit juga yang ditemui di tempat-tempat umum.

Kami tidak mau Aira tumbuh menjadi anak-anak berkepribadian negatif seperti itu.

Oleh karenanya, di rumah Aira kami beri bimbingan dan teladan tentang tugas dan tanggung jawab.  Alhamdulillah tanpa perlu diberi perintah dia sudah paham tugas dan tanggung jawabnya sebagai anak dan juga siswa.

Dia akan belajar tanpa perlu diingatkan. Dia akan kerjakan PRnya tanpa perlu suruh-suruh. Dia juga sudah paham dengan kesepakatan bahwa gadget hanya boleh dimainkan maksimal 1 jam sehari. Alhamdulillah, dengan begitu dia tumbuh menjadi anak yang kreatif.




Hari ini Aira mendapat pelajaran berharga dalam hidupnya, bahwa kelalaiannya dalam tanggung jawab menyebabkan banyak hal yang tidak diinginkan terjadi.

Aira lalai menjaga kesehatan tubuhnya  sendiri selama di sekolah. Dia tidak cukup minum air putih, padahal hari itu ada mata pelajaran olahraga. Akibatnya, tubuh Aira mengalami dehidrasi sehingga menyebabkan demam pada malam harinya. Tetapi dia tetap sekolah keesokan harinya karena ada ulangan harian. Qadarullah, ulangan hari itu ditunda. Selasa malam panas badannya masih naik turun, jadi agar bisa memberikan pengobatan yang maksimal Aira kami liburkan sekolah pada hari Rabu. Qadarullah (lagi), ternyata ulangan hariannya diadakan hari ini.

Raut wajah Aira langsung tampak sedih ketika aku menyampaikan info dari wali kelasnya bahwa tidak ada ulangan susulan untuk ulangan harian.

"Nilai Aira jadi kosong, dong, Nda." Ujarnya sedih.

Sebagai orangtua aku juga tidak kalah kecewa sebenarnya. Mengapa harus ada kebijakan seperti itu? Jika kebijakan ini diberlakukan pada siswa yang tidak masuk tanpa keterangan sih wajar. Tapi bagaimana dengan anak yang tidak masuk karena sakit. Adilkah kebijakan itu?

Tapi aku berusaha mengendalikan diri di depan Aira, karena aku ga mau Aira menjadi salah paham terhadap gurunya.

Untuk mengobati kekecewaannya aku pun mengajaknya bicara dari hati ke hati.

Aku katakan padanya bahwa aku paham dengan rasa kecewa yang ia rasakan. Tetapi, semua ini terjadi karena Allah. Segala sesuatu yang terjadi atas izin Allah pasti adalah yang terbaik bagi kita.

"Jika karena sakit Aira jadi gagal mendapatkan nilai, berarti nilai itu bukan rezeki Aira saat ini. Allah pasti berikan Aira rezeki dalam bentuk lain yang jauh lebih bermanfaat. Salah satunya adalah kesempatan untuk istirahat dengan tenang."

Aku ajak Aira untuk berprasangka baik pada Allah.

Alhamdulillah, dengan selalu melibatkan Allah dalam setiap hal yang kita pikir dan lakukan, in syaa Allah, hasilnya juga pasti akan baik.

Hati pun menjadi lebih lega dan ikhlas.

Aku percaya, sejatinya nilai-nilai sekolah yang diraih oleh anak-anak adalah rezeki dari Allah. Jadi gak ada tuh istilah anak pintar dan anak bodoh. Yang ada adalah Allah sedang membagi secuil 'keMahaanNya' kepada hambanya.

Oleh karena itu aku tanamkan di pikiran anak untuk tidak pernah bangga dan jumawa dengan semua kelebihan yang ia miliki saat ini, karena jika Allah berkehendak semua kelebihan itu bisa jadi kekurangan dalam hitungan detik.

Dengan tegas aku juga melarang keras anakku memandang rendah kekurangan orang lain. Karena bisa jadi di mata kita orang itu tampak kurang, tapi di mata Allah bisa jadi dia lebih mulia.

Jadi masih menganggap nilai sekolah anak itu yang paling penting?




Tuesday, November 12, 2019

OVO Udah Gak Asyik Lagi

November 12, 2019 0 Comments
Sejak menerapkan pola hidup cashless, OVO adalah salah satu aplikasi dompet digital yang paling aku sukai.

Menurutku, OVO ini dompet digital yang paling friendly dan terkoneksi dengan banyak aplikasi penting seperti Grab, Kudo, dan Tokopedia. Selain itu OVO juga memberikan banyak keuntungan saat digunakan berbelanja di banyak merchant seperti Matahari Dept. Store, Hypermart, dan banyak lagi lainnya. Dengan menyediakan saldo di OVO, bertransaksi di aplikasi dan merchant-merchant tersebut bisa dilakukan dengan lancar.

Tidak hanya itu, fitur OVO yang lengkap sungguh memberi banyak kemudahan terhadap penggunanya. Salah satu yang paling terasa adalah adanya fitur transfer. Fitur ini sangat bermanfaat bagi para orangtua yang ingin mengirimkan uang untuk anaknya yang sedang berada di kota berbeda. Terutama orangtua yang usahanya mengandalkan OVO sebagai dompet digital. Hanya dari satu aplikasi bisa multifungsi.

Pengisian saldo OVO pun bisa dengan banyak cara. Bisa via virtual account, transfer sesama pengguna OVO, transfer via ATM atau internet banking, dan juga setor tunai di gerai Alfamart.

Aku sendiri termasuk yang paling sering menggunakan pilihan isi saldo via Alfamart ini.

Tapi hari ini kabar tidak mengenakkan aku terima di notifikasi Grab Kios atau Kudo. Pertanggal 13 November 2019 ini OVO tidak lagi bisa diisi melalui gerai Alfamart.



Hal ini tentu saja terasa tidak bersahabat bagi UKM dengan saldo bank terbatas. Sedangkan untuk isi saldo OVO via virtual account hanya bisa dilakukan jika saldo di rekening bank tersedia.

Bandingkan dengan pengisian saldo via gerai Alfamart. Meskipun dengan dana terbatas, pelaku usaha tetap bisa bertransaksi dengan lancar karena untuk isi saldo bisa setiap saat ke Alfamart.

Dari segi efisiensi waktu, memang pengisian saldo via virtual account jauh lebih praktis. Hanya dari rumah pengisian saldo tetap bisa dilakukan. Tetapi kelemahannya ya itu tadi, saldo di rekening harus selalu tersedia.

Lha, kalau harus ke bank dulu untuk isi saldo rekening, di mana letak kepraktisannya?

Menurutku, dengan kebijakan baru ini OVO tidak lagi berpihak pada pelaku usaha dengan modal-modal kecil.

Jujur saja, aku sangat kecewa.


Wednesday, November 6, 2019

Untuk Kamu yang Bergelayut di Masa Lalu

November 06, 2019 1 Comments
"Ta.. aku rindu masa lalu", dengan tangan menopang dagu, May menatap Shinta dengan sendu.

Shinta balas menatap May lalu meletakkan buku yang sedang dibacanya ke pangkuannya dan berkata.

"Mengapa May? Apakah masa sekarangmu tidak cukup membahagiakan sehingga kau rindu dengan masalalu?"

May menggeleng lemah, dia sendiri juga bingung dengan perasaannya. Ada satu rasa yang menggelitik jiwanya menuntut untuk dipuaskan meskipun hanya sekejab.

"Kalau bukan lantas mengapa? Haruskah rasa itu kau angkat ke permukaan ?"

Kening Shinta berkerut melihat kegundahan di wajah May. Dia tidak bisa sepenuhnya memahami sekap sahabatnya ini. Sementara May hanya diam, jemari lentiknya memainkan sendok yang berada di dalam gelas. Sepertinya dia tidak mau mengakui isi hatinya yang sebenarnya kepada Shinta.

"May.. coba lihat mataku", Shinta memutar tubuh May agar bisa berhadapan dengannya. May menatap mata Shinta untuk sesaat namun kemudian dia kembali menunduk. Shinta kembali mengangkatnya, sehingga mata mereka kembali sejajar dan bertaut. May menyerah, diapun menuruti kemauan Shinta.

"Apakah Rian masih menghubungimu ?"

May tercekat mendengar pertanyaan Shinta, dia merasa tempat persembunyiannya mulai di ketahui, dan May tidak nyaman dengan itu. Segera dia mengalihkan pandangan ke arah lain, tidak ingin Shinta menemukan dan membongkar semua isi hatinya yang dia kunci rapat selama ini.

"May.. jawab aku.. Rian masih menghubungimu kan ?"

Shinta tidak mau menyerah, dengan gigih dia kembali menanyakan hal yang sama kepada May yang masih bungkam beribu bahasa. Namun lewat tatapan matanya Shinta bisa memperoleh semua jawaban yang dia butuhkan. Dia menghela nafas panjang, semakin bingung dengan sikap May.

"Mengapa sih May kamu masih saja melayani telepon dari Rian ? Sadarlah May, dia hanya masa lalu, sedangkan sekarang kamu sudah ada Romi yang mencintai kamu dengan tulus. Pantaskah ketulusannya kamu balas dengan semua ini ?"

May hanya diam, dalam hati menyadari sepenuhnya semua yang dikatakan oleh Shinta adalah benar adanya. Tetapi entah mengapa dia tidak bisa melupakan Rian dan semua kenangan masa lalu mereka. Dia masih saja rindu dengan suara renyahnya. Dia masih sangat ingin bermanja-manja kepadanya. Dan dia masih menuntut untuk diperhatikan olehnya. May sangat tersiksa perasaannya sendiri.

"Aku harus bagaimana Ta? Rasanya nyiksa banget, disatu sisi aku sadar udah nyakitin Romi dengan rasa ini, tapi aku tidak bisa menghentikan hati ini Ta, aku harus bagaimana?"

Tangis May pecah di hadapan Shinta, kedua tangannya ditangkupkan kewajahnya, bahunya terguncang dengan suara isak yang semakin lirih. Shinta merasa iba dengan sahabatnya itu, ada perasaan sesal di hatinya karena dia ada andil dalam terbukanya kembali hubungan May dengan pria masa lalunya itu.

"Itu semua terjadi karena kamu sendiri May, kamu yang memberi celah di hatimu sendiri sehingga semua kenangan masa lalu yang telah terkunci rapat itu bisa kembali. Dari awal aku sudah bilang kan, hati-hati May, jangan bermain api."

"Iya Ta.. aku tau.. aku sadar.. dan aku salah Ta. Ada kesombongan di hatiku ketika membuka lagi komunikasi dengan Rian. Aku mengira setelah sekian lama aku telah melupakannya. Ternyata aku salah Ta, yang ada makin kesini aku makin terjerat dalam pusaran kenangan masa lalu yang semakin kuat menuntut aku untuk mengulangnya kembali. Aku harus bagaimana Ta? Bagaimana caranya agar aku bisa bebas dari perasaan ini? Hatiku perih mengingat Romi, dan hatiku berdebar memikirkan Rian.. aku tersiksa Ta.. tersiksa banget.."

"Kendali ada di tanganmu May, sebelum perasaan itu terlalu jauh, hentikanlah sekarang. Ingatlah masa-masa sulit ketika Romi mengobati hatimu yang terluka. Dia sangat sabar May, meskipun kamu sering mengabaikannya waktu itu. Dia memaklumi sikapmu kala itu adalah dampak trauma yang kamu rasakan."

Shinta memang benar. Romi adalah dokter penyembuh luka di hati May. Dia mampu menjalankan peran ganda sebagai teman, abang sekaligus kekasih dalam satu waktu. Bahkan beberapa kali dia harus menggantikan sosok Papa ketika May sedang rapuh dan nyaris terpuruk dalam keputus asaan. May tersenyum membayangkan tingkah polah Romi ketika menghiburnya dulu. Mulai dari mengajaknya bermain permainan anak tempo dulu, menyanyikan lagu lucu sampai membisikkan kata cinta sebelum May tidur. Aahh.. May sungguh beruntung memilikinya.

"Satu lagi yang harus kamu sadari May, luka kamu yang telah sembuh itu adalah Rian penyebabnya. Dia mengkhianati kamu dengan menghamili mantan pacarnya. Mikir May.. mikir.. masih pantaskah hatimu bergetar untuk namanya?"

May tertunduk semakin dalam, mengakui dengan tulus semua kebenaran yang diungkap Shinta. Rian memang sungguh terlalu saat itu. Dua minggu sebelum hari pernikahan mereka May justru harus dihadapkan  pada fakta mereka gagal menikah karena Rian harus bertanggung jawab atas kehamilan mantan pacarnya. Meskipun pengakuannya Rian telah dijebak, rasa-rasanya jebakan itu tidak akan bisa terjadi kan? Jika saja Rian dan mantannya itu benar-benar tidak pernah melakukan hubungan terlarang itu.

"Sekarang Rian kembali dengan status barunya, dia duda. Pernikahannya dengan si mantan pacar itu hanya bertahan selama satu tahun, dia tidak bisa melanjutkan pernikahannya karena masih mencintai kamu.. katanya.. itu katanya kan May? Dan kamu percaya itu? Came on May.. wake up !! Dia hanya mempermainkan kamu, memanfaatkan sisi melankolis kamu yang menurutku useless banget itu. Dengan karakter flamboyannya itu, kamu percaya dia cinta mati sama kamu? Kamu percaya dia cuma mikirin kamu? Kamu percaya?"

Suara Shinta semakin tinggi. Sepertinya dia semakin sulit menahan emosinya melihat sahabatnya yang larut dalam cinta semu masa lalunya, bahkan menyia-nyiakan cinta nyata yang ada dihadapannya.

Sebenarnya May juga tidak begitu percaya dengan semua omongan Rian. Logikanya bilang begitu. Tapi hatinya yang tidak tahu diri justru terlena dengan semua rayuan itu, dan semakin hari semakin membuatnya mabuk kepayang. Huft..

"Secara akal sehat May, menurut kamu Rian itu pria seperti apa sih? Dia mengetahui status kamu adalah mantan tunangannya yang telah menikah dengan laki-laki lain, tetapi dia masih saja menggoda kamu dengan semua kenangan masalalu kalian. Dan kamu dengan bodohnya terlena akan semua itu. Coba kamu telaah dengan akal sehat May. Menurut aku, dimata Rian kamu itu tidak lebih dari wanita jablai yang jarang dibelai dan haus kasih sayang."

May tersentak mendegar kata-kata Shinta yang semakin tajam, menikam hingga ke ulu hati May. Dia manusia biasa yang tidak bisa menerima kata-kata seperti itu. Dia ingin membantah, namun Shinta lebih dulu melanjutkan bicaranya.

"Sorry kalo kamu tersinggung, tapi aku jujur dengan pendapatku tentang Rian. Dia itu 100% pemberi harapan palsu. Sekarang terserah kamu. Kalo kamu tetap kukuh untuk bertahan dengan getaran hati kamu itu, yaaa silahkan, tapi jangan pernah menyesal jika suatu saat Romi akan berpaling dari kamu. Ingat May.. karma itu ada."

Setelah mengungkapkan semua isi hatinya, Shinta kemudian kembali melanjutkan bacaannya yang tertunda. Sementara May kembali sibuk memaikan sendok digelas tehnya. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Langit yang semula mendung kembali menghadirkan matahari di balik awannya yang satu-persatu mulai pergi.  Dia tersenyum lebar kepada dunia seakan-akan ingin memberi semangat kepada jiwa-jiwa yang tengah gelap tertutup awan hitam.

May pun telah menetapkan hati pada sebuah keputusan yang terbaik untuknya dan semua orang yang peduli kepadanya.

Hubungan ini memang sangat indah, tapi juga menyakitkan. Agar tidak lagi melukai banyak orang, yang terbaik adalah hubungan ini memang harus diakhiri. 

May membatin dalam hati.







Thursday, October 31, 2019

Warung Anak Sehat, Penuhi Nutrisi Jajanan Anak dan Berdayakan Perempuan

October 31, 2019 0 Comments
Hai, Teman.

Pernahkah mengalami peristiwa buruk terkait jajanan anak di sekolah? Aku pernah mengalaminya beberapa waktu yang lalu. Saat itu rasanya kesal sekaligus sedih karena melihat anak yang menderita diare berhari-hari.

Hari itu seperti biasa, Aira berangkat ke sekolah dengan membawa bekal dari rumah. Dikantongnya aku selipin uang 2000 rupiah untuk jajan. Meski pun ada bekal, aku kasih juga uang jajan, karena gak tega aja membayangkan dia ga jajan di saat teman-temannya menikmati jajanan mereka.

Biasanya uang jajan itu jarang ia belanjakan, karena Aira sudah kenyang dengan bekalnya. Uang jajan itu dibawa pulang lagi untuk dimasukin ke celengan.

Tapi hari itu tidak, uang jajannya habis karena dibelanjakannya. Aku ga masalah sih uang jajannya habis, tetapi yang aku sesalkan dia mengeluh perutnya sakit saat pulang sekolah. Tidak lama setelah itu dia langsung diare berkali-kali.

Aku langsung curiga pasti ada yang ga beres dengan jajanan yang ia makan. Setelah aku tanya-tanya, ternyata benar di sekolah dia ikutan jajan dengan teman-teman lainnya. Makanannya tidak dibungkus, trus menggunakan saus tomat yang warnanya sangat menyolok.

Setelah mendengar cerita lengkapnya itu, aku menarik kesimpulan Aira mengalami sakit perut karena jajanan yang ia makan tidak higienis. 

Agar diarenya tidak berlarut-larut, aku segera bawa Aira berobat ke klinik terdekat.

Warung Anak Sehat Penuhi Nutrisi Jajanan Anak


Sudah pernah mendengar tentang Warung Anak Sehat?

Warung Anak Sehat adalah program edukasi yang secara resmi didirikan oleh PT. Sari Husada dan Ecosystem Fund Danone Indonesia pada tahun 2011, dengan tujuan membangun generasi maju melalui jajanan yang lebih sehat.

Warung Anak Sehat ini dibentuk sebagai respon atas kekhawatiran atas hasil riset Kesehatan Dasar yang membuktikan bahwa 26,4% anak-anak usia 5-12 tahun menderita anemia. Hal ini berdampak pada kualitas fisik anak sehingga anak-anak terlihat lesu, malas belajar, dan sulit untuk fokus.

Hingga tahun 2018 Warung Anak Sehat telah menjangkau 4 kota yaitu Bogor, Bandung, Yogyakarta, dan Ambon.



Warung Anak Sehat hadir dengan program edukasi kepada para guru dan anak-anak untuk menerapkan kebiasaan hidup bersih dan sehat dengan cara:

- Mencuci tangan pakai sabun
- Menyikat gigi setelah makan.
- Merawat kuku untuk tetap pendek dan bersih.
- Kelola sampah rumah tangga.
- Merapikan peralatan makan dan membersihkan meja setelah makan.





Ketidak pedulian pedagang dalam menjual jajanan anak membuat anak-anak rentan mengonsumsi makanan yang nutrisinya buruk, karena bahan baku yang digunakan tidak terjamin keamanan dan kebersihannya.

Demi mengejar untung yang besar, tidak jarang para pedagang ini menggunakan bahan-bahan yang tidak layak bahkan berbahaya untuk dikonsumsi seperti borax, pewarna kain, dan lain sebagainya.

Selain itu, dalam penyajian jajanan pun pedagang-pedagang ini banyak yang tidak mempedulikan kebersihan. Sehingga anak-anak pun menjadi rentan terkena penyakit.

Untuk itulah WAS hadir, memberikan edukasi  tentang pentingnya bahan baku yang sehat, dan aman untuk membuat jajanan anak, dan juga pentingnya menjaga kebersihan diri agar makanan yang dimakan juga terjaga kebersihannya.

Dengan adanya WAS di sekolah, para orangtua menjadi tidak khawatir lagilagi melepa anaknya untuk jajan di sekolah, karena sudah pasti terjamin baik dari kandungan nutrisinya, keamanan bahan, dan juga kebersihannya.


Warung Anak Sehat Berdayakan Perempuan dengan Menjadi IWAS (Ibu Warung Anak Sehat)


Untuk mendampingi IWAS, Warung Anak Sehat hadir di media sosial dalam bentuk fanpage yang bertajuk sama yaitu Warung Anak Sehat.

Di FP WAS ini kita tidak hanya mendapat pengetahuan seputar program-program WAS, tetapi juga terdapat resep-resep jajanan sehat yang bisa dijadikan referensi oleh para IWAS. Resep-resep jajanan ini sudah dilengkapi dengan perkiraan modal bahan, harga jual, dan juga perkiraan untung yang didapat.

Berikut beberapa contoh resep yang ada di FP Warung Anak Sehat.







Ibu Warung Anak Sehat diberikan edukasi seputar keamanan pangan, yaitu:

- Cuci tangan sebelum mengolah pangan.
- Pisahkan pangan mentah dan pangan matang.
- Masak dengan benar pada suhu yang tepat.
- Jaga pangan dalam suhu yang aman.
- Gunakan air dan bahan baku yang aman.




Selain itu, juga terdapat edukasi tentang nutrisi dan bahan-bahan yang boleh dan tidak boleh digunakan dalam mengolah jajanan anak, beserta tips-tips penting lainnya.

Berikut beberapa di antaranya:









Teman-teman tertarik untuk bergabung menjadi Ibu Warung Anak Sehat?

Silakan hubungi FP Warung Anak Sehat di Facebook, ya.





Monday, October 28, 2019

Seperti Apa Metode Mempelajari Bahasa Inggris yang Tepat?

October 28, 2019 0 Comments


Bicara tentang Bahasa Inggris, tidak bisa dipungkiri kalau Bahasa Inggris ini sudah seperti bahasa wajib yang harus dikuasai jika ingin sukses dalam karir. Oleh karena itu para orangtua pun berlomba-lomba membekali anak-anaknya dengan berbagai cara agar si anak mampu berbahasa Inggris yang baik dan benar. Salah satu caranya adalah dengan cara mengambil kursus, di sini kita akan memperoleh bantuan dari pengajar profesional? Namun, belakangan ini muncul perdebatan kecil, lebih baik les secara otodidak sendiri atau les dengan guru pengajar? Mana metode belajarbahasa Inggris yang tepat?


Belajar Bahasa Inggris Otodidak

Biasanya, mempelajari bahasa Inggris secara otodidak dilakukan dengan cara membaca buku bahasa Inggris, menghafal lagu bahasa Inggris, menonton film bahasa Inggris dan masih banyak lagi. Metode belajar bahasa Inggris secara otodidak membuat kita tidak mengeluarkan biaya yang banyak untuk menbayar atau pendaftaran les. Kita hanya perlu mengeluarkan uang untuk membeli buku atau membeli CD film yang bahasa Inggris.

Sayangnya metode ini menjadi sulit untuk efektif karena dalam proses belajar tidak ada partner untuk berlatih dialog, sehingga kemampuan berbahasa Inggris menjadi sulit untuk berkembang.


Bagaimana dengan Metode Belajar Bahasa Inggris Melalui Kursus?

Belajar Bahasa Inggris dengan cara kursus akan memudahkan kita untuk semakin memahami pelajaran tersebut. Pemahaman yang didapatkan bergantung dari kualitas pengajar. Jika pengajar kursus bahasa Inggris kita merupakan pengajar yang berkualitas, tentu saja materi yang kurang dimengerti bisa dijelaskan secara rinci dan lengkap. Tak hanya sampai di sini, materi yang kita terima juga akan dirancang sesuai dengan kebutuhan serta kemampuan yang kita miliki. Biasanya, kurikulum yang sering digunakan di tempat kursus bahasa Inggris sudah teruji dan berkualitas. Ini menjadi keuntungan tersendiri bagi kita.
Salah satu kelebihan dalam metode ini adalah dalam proses belajar biasanya ada partner untuk berlatih dialog. Hanya saja jika motivasi dari dalam diri kurang, semua yang dipelajari hanya akan menjadi sebatas teori, tidak berkembang menjadi kemampuan yang mumpuni.



Kunci belajar bahasa Inggris pada dasarnya adalah belajar sendiri dan belajar di tempat kursus yang profesional. Dengan kombinasi dua metode belajar ini, kita menjadi lebih cepat menguasai bahasa Inggris.


Salah satu pilihan tempat kursus bahasa Inggris yang profesional dan teruji adalah EF. Memiliki komunitas siswa internasional, harga yang bisa disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki hingga memiliki kelas tatap muka agar semakin fokus berlatih kemampuan bahasa Inggris. Jadi, apalagi yang Anda tunggu? 

Friday, October 25, 2019

You're My Destiny, Part 10

October 25, 2019 0 Comments



Part 10: Random Memories

Suara kokok ayam membangunkan Windi dari tidurnya, perlahan ia membuka mata, berusaha mengenali ruang dimana dia berada.

Ingatannya melayang kepada kejadian terguling-guling di tebing. Membangkitkan rasa nyeri yang semula sempat terlupakan. Tidak ayal suara rintihan keluar dari mulut Windi.

Tiba-tiba Windi teringat dengan Fina, sahabat yang mengajaknya ikut serta dengan event ini, Fina pasti tengah cemas karena keberadaan Windi yang tidak jelas.

Windi mengeluarkan ponsel dari tas pinggang yang masih ia kenakan. Sial, tidak ada sinyal lagi. Makinya dalam hati.

“Ya Tuhan !” seru Windi. Dia kaget mendapati angka di layar ponselnya menunjukkan tanggal 27. Dan itu berarti dia telah menghilang selama 3 hari.



Gubrak !



Sebuah suara menyerupai benda jatuh terdengar dari balik lemari yang membatasi ruangan yang di tempati Windi dengan ruangan sebelah.

Kaget, ia pun langsung terduduk. Suara alas kaki diseret terdengar mendekat. Windi menelengkan kepala mencoba memastikan pendengarannya.

Tiba-tiba di hadapannya Yoo-Ill muncul dengan rambut kusut masai, dan mata bengkak seperti orang habis begadang semalaman. Dia mengucek-ngucek matanya sambil menguap lebar.

Windi tertawa geli. Tampang Yoo Ill yang begitu mengingatkanku pada sosok Nobita yang selalu ngantuk ketika disuruh membuat PR oleh Doraemon. Lucu banget.

"Bagaimana lukamu, masih sakit ?" tanyanya seraya mendekat.

"Oh.. its okay.. aku merasa lebih baik," jawab Windi dengan senyum cerah.

Memang luka itu tidak lagi senyeri kemarin. Sepertinya Yoo Ill berhasil memberikan obat yang tepat untuk luka Windi. Yoo Ill tampak senang mendengar jawaban Windi.

"Oh ya, Yoo-ill-ssi, sekarang tanggal berapa ?”

“Sekarang? Tanggal 27. Emang kenapa ?”

“Aku pingsan ya kemarin ?”

“Ngga, kamu ga pingsan. Kamu cuma tidur nyenyak aja semalam. Memangnya kenapa?”

“Kalau sekarang tanggal 27, kemarin tanggal 26 dong.”

“Ya, memang. Kemarin memang tanggal 26. Ada apa sih ?”

“Ga, aneh aja. Seingatku aku mengikuti Tour Bike itu tanggal 25 lho, kalo semalam aku hanya tidur, mengapa hari ini tanggal 27 ?”

“Berarti kamu sempat pingsan satu hari sebelum ditemukan Paman Kim.”

Oo, begitu rupanya. Kalau begitu wajarlah sekarang tanggal 27. Berarti benar dia telah menghilang selama 3 hari.

“Oh ya.. apakah disini tidak bisa menggunakan ponsel ? Aku tidak melihat ada sinyal di layar ponselku,” tanya Windi sambil menyodorkan ponsel kearah Yoo Ill. Dia melihat ponsel itu, lalu menggeleng.

"Tidak, di sini tidak ada sinyal. Masyarakat di sini tidak satu pun memiliki ponsel,” jawabnya sambil berlalu. "Lagian memang tidak ada gunanya ponsel itu di sini,” samar-samar Windi mendengar gumamannya yang menyiratkan rasa pesimis.

Windi menyipitkan mata. Mencoba menganalisa maksud dari gumaman Yoo Ill barusan.

“Memangnya kenapa ? Aku tidak mengerti, setahuku Korea adalah negara yang sangat maju, jadi rasanya tidak masuk akal jika masih ada daerah yang tidak terjangkau oleh sinyal di sini.”

“Mengapa tidak ? Negara ini sama dengan tubuh manusia, pasti memiliki satu tempat yang tidak ingin diketahui atau pun disentuh oleh orang lain,” jawabnya dengan mimik misterius.

Windi semakin tidak mengerti. Tempat yang tidak ingin diketahui ataupun disentuh oleh orang lain? Ia mengulang-ulang kalimat itu dalam hati. Ada dua kata yang mungkin mendekati gambaran kalimat itu yaitu rahasia dan penyakit.

Manusia tidak menginginkan rahasianya diketahui oleh orang lain, dan manusia juga tidak menginginkan penyakitnya disentuh oleh orang lain.

Tunggu, apakah desa ini adalah lembah rahasia yang di dalamnya terdapat orang-orang dengan penyakit? Semacam tempat karantina gitu? Hiiyyy.. Windi bergidik ngeri membayangkan jika itu memang benar. Terjebak di antara orang-orang yang terkontaminasi virus mematikan sungguh bukan sebuah acara liburan yang ia inginkan.

“Kenapa? Mukamu tiba-tiba pucat. Kau merasa sakit?” You-ill menghampiri Windi dengan cemas melihat keringat yang bercucuran di keningnya.

“Katakan padaku, apakah.. apakah aku berada di sebuah lembah yang berisi orang-orang dengan penyakit mematikan ?” tanya Windi dengan nada khawatir.

Pupil matanya membesar mendengar pertanyaan Windi, sementara mulutnya bergetar seakan sedang menahan sesuatu.

“Hahahaha... apa ? Lembah penyakit ? Hahaha,” Yoo Ill tertawa lebar mendengar pertanyaan Windi barusan.

Dia tertawa lama, sampai-sampai airmatanya keluar. Windi yang kebingungan semakin bingung melihat dia tertawa begitu lepas.

“No.. Windi.. No.. kamu salah paham dengan kalimatku tadi. Hihi...” ujarnya masih sambil menahan tawa.“Disini memang tidak ada sinyal, dan masyarakat di sini juga tidak memerlukan sinyal, karena 99% masyarakat di sini adalah penduduk asli yang tidak merantau ke manapun, jika boleh aku menyamakan, desa ini kurang lebih sama dengan desa suku Asmat di Papua, kamu tahu kan bagaimana mereka?” jelasnya kemudian.

Sejenak pikiran Windi melayang ke daerah pedalaman Papua yang masih sangat sulit menerima warga asing itu.

“Kamu bisa perhatikan suasana desa ini, di sini masyarakatnya masih tergolong primitif, mereka nyaman hidup dengan cara tradisional warisan leluhur mereka,” tambahnya lagi, masih geli dengan pertanyaan konyolnya.

Ah.. konyol sekali aku menanyakan hal seperti itu ? Sesal Windi dalam hati.

“Lalu.. apakah kamu sama dengan mereka? Sepertinya kamu tidak se”tradisional” mereka yang kamu bilang tadi,” tanya Windi lagi.

Meskipun hidup dengan sangat sederhana, namun Windi bisa melihat Yoo-ill tidaklah sama dengan mereka. Dia mengenakan pakaian biasa seperti lelaki di luar sana, memakai celana jeans dan juga kemeja.

Berbeda dengan laki-laki paruh baya yang menolong Windi kemarin. Dia mengenakan pakaian yang bahannya menyerupai goni bekas. Sepatunya pun sepatu jerami. Sepatu tradisional yang pernah ia lihat di film-film kolosal Korea.

Sepertinya pertanyaan Windi barusan mengena tepat kesasaran. Paras Yoo Ill langsung berubah.

“Aku.. tidak penting siapa aku, yang pasti aku adalah bagian dari mereka sekarang,” jawabnya, kemudian bangkit meninggalkan Windi.

Sepertinya ada sesuatu yang dirahasiakannya. Karena setiap kali pertanyaan Windi menyentuh ‘sesuatu’ Yoo Ill selalu menghindar.

Tapi Windi tidak mau ambil pusing mengenai itu, masalahnya jauh lebih rumit. Jika daerah ini tidak dijangkau oleh sinyal, bagaimana caranya mereka akan menemukanku? Dan aku juga tidak bisa menghubungi mereka. Masa iya ? Aku harus terjebak di sini ? Hiyy.. aku tidak sanggup membayangkan tubuhku tidak lama kemudian akan berubah mengenakan pakaian seperti mereka, Windi bergidik lagi.



Kkkkrriiuuk..



Perut Windi keroncongan, menyadarkan bahwa ia belum makan sejak semalam. Ia beringsut turun dari dipan, menjejakkan kaki di lantai papan yang lembab itu mencoba untuk berdiri.

Namun ternyata luka di pergelangan kakinya masih menyisakan perih yang teramat sangat. Membuat tubuhnya tidak seimbang, dan nyaris jatuh terjerembab.

Untungnya sebelah tangannya masih berpegang pada pinggir dipan, sehingga selamat dari kerasnya lantai papan yang lembab itu. Yoo-ill mendengar suara gaduh yang ia ciptakan, dia pun muncul dan langsung memapah Windi untuk bangkit.



“Kamu mau kemana?”



Bersambung ...

Thursday, October 24, 2019

You're My Destiny, Part 9

October 24, 2019 0 Comments


Part 9: Pertemuan Tak Terduga

“Aku merasa pernah melihat wajahmu di suatu tempat, tapi di mana tepatnya aku lupa,” lajut Windi dengan penuh penasaran.

Keningnya mengernyit, sepertinya pertanyaan Windi barusan turut menggugah ingatannya. Yoo Ill memandangi Windi lekat-lekat.

Itu berlangsung untuk beberapa saat. Sampai ujung syaraf mereka terhubung pada sesuatu.

“Ooohh ... the airport!” seru mereka bersamaan. Ya, dia adalah laki-laki yang menabrak Windi di bandara beberapa hari yang lalu.

“Oh, My God, betapa dunia ini sempit sekali !” seru Yoo Ill kemudian.

Windi tersenyum, menyetujui kata-katanya. Dalam hati ada rasa haru di hatinya, karena setidaknya dia bukanlah orang yang sama sekali ‘asing’. Meski pun bukan pula akrab. Apapun bentuknya pertemuan ini Windi merasa lega. Setidaknya, hal itu berhasil mencairkan rasa canggung di antara mereka berdua.

“Sepertinya kakimu mempertemukan kita kembali,” kata Yoo Ill lagi. Ucapannya barusan mengingatkan Windi pada lututnya yang sempat nyeri usai kejadian di bandara itu. Refleks tangannya mengusap lututnya kembali.

“Apakah lututmu masih nyeri ?” tanya Yoo Ill. Merespon reaksi Windi yang tiba-tiba mengusap lututnya.

“Sama sekali tidak, hanya saja ucapanmu barusan mengingatkan kembali pada nyerinya,” jawab Windi

“I’m sorry, jika saja aku tahu kakimu cedera tentu aku tidak akan buru-buru meninggalkanmu. Tapi ...” kata-katanya menggantung, seperti ada beban yang menggelayut di tenggorokannya sehingga kalimat lanjutannya terasa berat untuk dikemukakan.

“Hey ... sudahlah.” Sergah Windi cepat, karena merasa tidak nyaman dengan perubahan wajah Yoo Ill. “Waktu itu aku kan udah bilang, ‘aku baik-baik saja’, jadi kamu ga perlu merasa bersalah begitu.” Lanjut Windi kemudian.

Windi berusaha agar insiden yang mempertemukan mereka di bandara waktu itu tidak merusak pertemuan mereka kali ini. Setidaknya, untuk beberapa waktu ke depan Windi ingin merasa aman dan nyaman berada di lingkungan yang asing ini.

“Ya, tapi tetap saja aku merasa seperti orang yang tidak bertanggung jawab,” sungut Yoo Ill dengan wajah muram.

“Tidak, sama sekali tidak. Aku yakin kamu bukan orang yang seperti itu. Aku tahu saat itu kamu sedang terburu-buru, wajahmu tampak tegang seperti sedang mencemaskan sesuatu. Aku benar, kan?”

“Yah, begitulah. Tapi sekali lagi aku mohon maaf. Dan sebagai bentuk permintaan maafku izinkan aku merawat lukamu hingga sembuh. Okay ?”

“Tentu saja, bagaimana mungkin aku menolak tawaran sebaik ini.” Sahut Windi dengan antusias. Sejenak semua rasa sakit di tubuhnya sirna. Pertanda apakah ini? Bisik Windi takjub.

Yoo Ill tersenyum, nampak kelegaan di wajahnya usai mendengar kata-kata Windi.



Dengan sigap ia segera melanjutkan tindakan terhadap luka-luka Windi yang sebelumnya sempat terhenti. Tangannya sangat cekatan benar-benar menyerupai tenaga medis profesional. Sementara itu Windi tidak melepaskan pandangannya sedikit pun dari wajah tampan di hadapannya. Sesekali Windi meringis ketika cairan-cairan medis itu menyentuh lukanya. Kalau saja tidak memalukan, Windi pasti sudah menjerit cukup keras ketika obat-obatan itu dibubuhkan. Tapi harga dirinya masih terlalu tinggi, sehingga berhasil mengalahkan rasa sakit yang ia rasakan.





Sepertinya obat yang diberikan Yoo Ill mulai menjalankan aksinya di tubuh Windi. Matanya terasa berat karena kantuk. Sebisa mungkin Windi untuk terus membuka matanya, tapi kelopak matanya menolak diajak berkerjasama.

“Yoo Ill-ssi, sepertinya aku mengantuk, nih,” kata Windi sambil menguap lebar.

“Obatmu mulai berkerja, tadi aku memang memberi setengah dosis obat tidur, agar kamu bisa istirahat. Sel-sel dalam tubuh akan berregenerasi lebih cepat saat tidur,” jelasnya. Windi hanya mengangguk mendengar penjelasannya. Karena matanya betul-betul tak bisa lagi diajak kompromi.

Ia kembali menguap lebar.

Kali ini kantuknya tak lagi tertahankan lagi. Dalam hitungan detik, ia pun tertidur pulas.



Setelah Windi terlihat pulas, Yoo Ill membuka tas pinggang yang dibawa Windi dan memeriksa benda-benda yang ada di dalamnya. Bola matanya membesar ketika mendapati benda pipih bertali panjang yang ia temukan dalam salah satu kantong tas itu. Wajahnya memucat, deru nafasnya mendadak jadi tidak beraturan. Tanpa pikir panjang, Yoo Ill segera mengantongi benda temuannyaitu, kemudian membawanya ke ruangan belakang.





***



“Tn. Han ... Tn. Han ... ada kabar buruk,” ujar Nn. Lee dengan wajah pucat sambil menerobos ruangan atasannya itu dengan langkah tergesa. Han Tae Ho yang sedang menekuni layar di depannya tampak gusar karena kaget.

“Nn. Lee! Sudah berapa tahun kamu berkerja untukku? Masih tidak mengerti bagaimana etika berkerja ? Hah ?” bentak Tae Ho. Wajahnya merah padam menahan amarah. Nn. Lee yang memahami situasi hanya menunduk dengan perasaan bersalah. Dia sangat paham, tidak ada gunanya memberi alasan apapun saat ini, karena nyata dia telah salah.

“Maaf, Tuan. Saya sedang panik. Maafkan saya.” Tae Ho mengibaskan tangannya, mengisyaratkan bahwa dia bisa memaafkannya kali ini.

“Baik, sekarang katakan. Apa yang membuatmu mendadak kehilangan etika begitu ?” tanyanya kemudian.

“Itu ... ada berita buruk Tuan. Putrinya Tn. Roy ... hilang ....”

“Apa? Hilang ... lagi ? Siapa yang mengatakan itu kepadamu ?”

“Tadi ... Tn. Faris menelpon dari Jakarta. Dia bilang Nn. Windi hilang dan belum ditemukan hingga sekarang.”

“Bagaimana itu bisa terjadi ? Mana Tn. Kim ? Panggil dia kesini cepat !”

“Tn. Kim sedang keluar untuk memastikan berita itu, Tuan.”

“Kalau begtu kamu ceritakan padaku, apa yang kamu tahu, bagaimana ceritanya putri Roy bisa hilang?”

“Tiga hari yang lalu dia dan sahabatnya mengikuti event Korean Touring yang diadakan oleh Rainbow Organizer sebagai salah satu dari sekian pemenang lomba blog, Tuan. Agenda hari pertama dan kedua tidak ada masalah, semuanya berjalan lancar sesuai rencana. Namun di hari ketiga, ketika mengikuti tour bike, dia tiba-tiba menghilang di sekitar Sungai Han. Panitia yang bertugas heran karena Nn. Windi tidak kunjung sampai ke titik perhentian pertama, sementara temannya sudah sampai. Jadi mereka kembali menyusuri jalan yang dilewati. Saat itulah mereka menemukan sepeda Nn. Windi di pinggir jurang, tetapi Nn. Windi tidak ada di sana.”

“Tour Bike? Agenda macam apa itu ? Sejak kapan Rainbow mengadakan tour bike di musim dingin? Siapa yang memberikan izin?”

“Itu ... idenya ... Tuan Muda, Tuan.”

“Apa? Idenya Yoo Ill? Apa dia sudah gila? Lalu mengapa Manager Lee tidak mencegahnya? Mengapa?”

“Hal itu saya kurang tau jelas rinciannya, Tuan. Sepertinya Tuan Muda telah memberikan alasan yang sangat logis makanya manajemen Rainbow menyetujui agenda itu.”


“Gila ... ini benar-benar gila. Aku tidak percaya hal sebodoh ini bisa terjadi. Panggil mereka-mereka yang bertanggung jawab kesini. Cepaatt !” Suara Tae Ho menggelegar di ruangan itu. Mukanya merah padam, jelas sudah dia telah mencapai puncak murkanya.


Bersambung ...