Saturday, December 22, 2018

Annyeong, Chingu!

Aku review k-movie lagi, nih. Sebuah karya yang masih dibintangi oleh Hyun Bin. Setelah kembali dari wamil, Hyun Bin sepertinya balas dendam yah. Mengerjakan banyak project dalam waktu yang berdekatan. Sebagai penggemar aku senang bangetlah. Apalagi karakter yang dimainkan berbeda semua. Aku excited banget, nih. Ada yang ngerasain hal yang sama?

Silahkan baca juga film Hyun Bin lainnya : 

Kali ini aku mereview film Korea yang berjudul The Rampant. Sebuah film bergenre thriller dengan latar belakang era Joseon. Filmnya seru habis nih, gais. Gimana keseruannya? Yuk, simak sinopsis singkat dan reviewnya ala Meirida yah.




Sinopsis Rampant

Lee Cheong (Hyun Bin) adalah pangeran yang tidak berhak atas tahta, oleh karena itu dia dinamai Ganglim Daegun. Khawatir dengan keberadaannya yang bisa membahayakan posisi Putra Mahkota, sejak anak-anak Ganglim Daegun telah diasingkan ke Dinasti Qing. Di Dinasti Qing ini Daegun hidup bebas tanpa memikirkan hiruk pikuk perpolitikan di Joseon. Setiap hari kerjanya cuma bermain-main menikmati hiburan dan perempuan.



Busyeet, pangeran yang satu ini emang flamboyan banget deh. Dalam pikirannya cuma satu, perempuan. Hahaha. Mungkin dia berprinsip gini, buat apa mikirin Joseon, toh aku juga ga berhak atas tahtanya. Mending kayak gini, hidup bebas tanpa mikirin yang berat-berat tapi semua fasilitas dipenuhi. Enaknya jadi dirimu Daegun.

Berita kematian Putra Mahkota pun sampai ke telinga Daegun. Tidak lama setelah itu dia menerima surat, dan ternyata surat itu adalah wasiat dari Putra Mahkota sebelum mati bunuh diri. Di surat itu tertulis, Daegun harus kembali ke Joseon untuk menjemput Gyeong Bin yang tengah hamil.

Daegun pun kembali ke Joseon. Sesampai di daratan Joseon, Daegun sempat bingung karena tidak ada utusan yang menjemput kedatangannya. Bersama pembantunya, Daegun pun terpaksa berjalan kaki menuju istana.

Sampai di sebuah desa, Daegun terkejut karena mendapati desa itu sepi tak berpenghuni. Sementara dia melihat bekas pembakaran mayat manusia dimana-mana. Waktu terus berjalan, hingga malam pun mulai merambat pelan, sedangkan Daegun masih saja berjalan-jalan penuh keheranan di tengah-tengah desa itu. Tiba-tiba beberapa orang berkuda datang, memperkenalkan diri sebagai utusan untuk menjemput Daegun.



Tampang boleh selengek-an, sifat boleh cuek dan flamboyan, tetapi sebenarnya Daegun ini adalah pendekar pedang berilmu tinggi yang juga pintar. Dia tahu bahwa yang berada di hadapannya bukanlah utusan untuk menjemputnya, tetapi pembunuh bayaran yang ditugasi untuk menghabisi nyawanya. Pertarungan pun tidak terelakkan.

Dalam serunya pertarungan, tiba-tiba dari arah yang tidak terduga muncul orang-orang dengan tampang seperti mayat hidup. Mata putih, sementara mulutnya berlumuran darah. Seringai mereka menyeramkan, tak ubahnya vampir yang haus darah. Daegun kaget, tapi kekagetannya tidak lantas menghilangkan akal sehatnya. Dia pun mengayunkan pedangnya dengan beringas kearah zombie yang terus merangsek tanpa henti.

ketemu ginian tengah malam, belum digigit udah modar duluan


Jumlah zombie yang semakin banyak membuat Daegun mulai kewalahan, untunglah disaat-saat kritis datang bantuan dari sekelompok orang tidak dikenal. Dari caranya tampak jelas bahwa mereka telah terbiasa menghadapi kawanan zombie ini. Dalam waktu singkat, zombie-zombie itu berhasil dikalahkan.

Ternyata pertolongan itu datang dari Park Jongsa yang oleh istana dinyatakan sebagai kelompok pemberontak. Park Jongsa ini adalah tangan kanan Putra Mahkota. Dari Park Jongsa inilah Daegun akhirnya tahu, bahwa kematian Hyungnim-nya bukan karena telah merencanakan kudeta. Secara tidak langsung Hyungnim-nya telah dibunuh oleh sekawanan elit politik yang justru adalah pelaku kudeta sebenarnya.

putra mahkota bunuh diri di hadapan raja


Sadar bahwa kematian Hyungnimnya tidak wajar, muncullah rasa ingin balas dendam di hati Daegun.

Aku salut lho sama Daegun ini. Walaupun secara terang-terangan telah dinyatakan tidak berhak atas tahta, kemudian dia pun diasingkan dari kerajaan, tetapi dia tetap menyayangi dan menghormati Hyung-nya.

Sementara itu di istana, pembunuh bayaran yang berhasil meloloskan diri dari zombie, menghadap kepada Mentri Militer Kim Ja Joon (Jang Dong Gun) memberi tahu bahwa Daegun telah mati dibunuh oleh kawanan zombie.

Perihal zombie ini sama sekali tidak mengejutkan Kim Ja Joon. Ternyata diam-diam dia telah membuat rencana untuk menggulingkan pemerintahan dengan memanfaatkan zombie ini.

Kim Ja Joon, manusia tanpa ekspresi. 


Daegun berhasil sampai di istana. Tanpa membuang waktu, setelah menghadap raja, dia pun segera menemui kakak iparnya Gyeong Bin untuk membawanya ke Dinasti Qing.

Ternyata setelah kematian Putra Mahkota, Gyeong Bin menjalani hidup penuh tekanan. Salah satu tekanan datang dari selir raja bernama Se Jong. Dia menghasut raja untuk mengusir Gyeong Bin karena merupakan istri pemberotak. Se Jong merasa dengan begitu dia bisa menguasai hati raja. Se Jong tidak sadar, bahwa dia sendiri sedang dimanfaatkan oleh Kim Ja Joon.

Suatu malam Se Jong diundang oleh Kim Ja Joon ke tempat mereka biasa bertemu, sesampai disana bukan Kim Ja Joon yang menanti Se Jong, ternyata sesosok zombie.

Keesokan paginya, Se Jong menghadiri acara sarapan bersama raja dan juga selir-selir lainnya. Di tengah-tengah acara, ketika raja sedang berbicara dengan semangatnya, tiba-tiba Se Jong berubah menjadi zombie, kemudian menyerang raja dengan beringas. Para pengawal raja bertindak cepat, langsung membunuh Se Jong, tapi naas tangan raja udah terlanjur kena gigit.



Sepertinya ini memang rencana busuknya Kim Ja Joon. Jika raja terinfeksi zombie, maka menggulingkan raja dari posisinya tentu lebih mudah.

Benar saja, hari itu adalah hari besar dimana para utusan Kaisar Dinasti Qing datang. Seperti biasa, istana membuat acara penyambutan yang meriah. Di tengah-tengah acara, tiba-tiba raja berubah menjadi zombie dan menyerang para penari. Sementara itu Kim Ja Joon dengan tatapan tanpa ekspresi melihat semua itu. Tepat di saat raja sedang menyerang penari, Kim Ja Joon bangkit dari tempat duduk dan langsung menghujamkan pedang ke jantung raja. Raja pun tewas seketika.



Istana gempar karena berita tentang keberadaan zombie selama ini bukan hoax semata. Tetapi mereka tidak sempat berpikir panjang, karena dari berbagai penjuru para zombie terus merangsek masuk ke istana. Sedangkan Kim Ja Joon beserta para pengikutnya dengan langkah cepat segera meninggalkan area upacara menuju tempat aman.

Tidak jauh dari posisi raja, Daegun tertegun melihat jasad ayahnya yang telah kaku. Dia tidak menyangka pria yang telah mengasingkannya itu harus berakhir tragis dan mati dalam bentuk zombie. Tapi Daegun segera sadar, tanpa buang waktu dia segera mencari Gyeong Bin kemudian membawanya pergi meninggalkan aula.

Sesuai tujuan awalnya, begitu Gyeong Bin berhasil dia bawa, Daegun akan langsung kembali ke dinasti Qing. Tetapi niatnya tidak bisa terealisasi dengan lancar, karena Gyeong Bin menolak untuk ke dinasti Qing tanpa melakukan apapun untuk Joseon. Gyeong Bin meminta Daegun untuk berjuang memusnahkan para zombie. Tapi Daegun menolak, karena itu bukan tugasnya, itu adalah tugas raja. Gyeong Bin tidak menyerah, dia sangat paham walau pun tampak cuek dan masa bodo, jauh di dasar hatinya Daegun adalah orang yang baik dan berhati hangat.



Setelah melalui perdebatan sengit, akhirnya Daegun bersedia berjuang untuk memusnahkan zombie, tapi dengan syarat setelah ia berhasil memusnahkan zombie, Gyeong Bin harus mau ikut dia ke Dinasti Qing. Hahaha ... jurusnya Daegun itu mulu, ya. Waktu di desa, pemanah Deok Hee juga diancam dengan cara yang sama. Dasar Daegun, isi kepalanya masih aja perempuan. Hahaha.







Bersama-sama dengan pengikut Park Jongsa, Daegun pun membuat rencana untuk memusnahkan zombie. Sementara itu, Kim Ja Joon juga sedang berjuang membebaskan dirinya dari virus zombie, karena tangannya sempat digigit oleh salah satu zombie. Ngeri liat adegan ini. Ja Joon memotong tangannya sendiri dengan pedang. Hiiyyy.

Sayangnya tidak berjalan mulus, perlahan tapi pasti Kim Ja Joon pun mulai berubah menjadi zombie.

Ketika malam mulai menjelang, Daegun and the gank pun mulai menjalankan rencana mereka. Sesuai kesepakatan, Park Jongsa yang bertugas di lapangan, sementara Daegun dan yang lainnya meninggalkan istana. Tapi rencana mereka tidak berjalan lancar karena Kim Ja Joon menggagalkannya. Park Jongsa pun meregang nyawa.

Sadar bahwa rencana mereka tidak berjalan lancar, Daegun pun memutuskan untuk turun tangan. Pertarungan super sengit terjadi antara Daegun dan zombie, juga antara Daegun dan Ja Joon. Ja Joon yang notabene adalah mentri militer, tentu saja memiliki ilmu bela diri yang bagus, tapi karena dia telah menjadi zombie kekuatannya pun menjadi berkali lipat.

Daegun mulai kelelahan dan dilanda putus asa. Jumlah zombie semakin banyak dan Ja Joon yang semakin kuat. Tetapi Tuhan Maha Baik dong, ya. Selalu ada pertolongan bagi mereka yang teraniaya. Nah, film ini sedikit banyak ngajarin kita nih untuk ga menyerah dengan doa dan usaha. Di tengah rasa putus asanya, tiba-tiba Daegun melihat anak panah berapi menancap di tiang istana. Ternyata itu adalah ulah Deok Hee. Melihat panah berapi itu semangat Daegun kembali menyala. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Daegun pun bangkit lalu meraih panah berapi itu, kemudian menjatuhkannya ke lantai. Seketika istana pun berubah menjadi lautan api.


Deok Hee, wanita pemanah


Sebelum berubah menjadi bebek panggang, Daegun pun segera menjauhkan diri dari kobaran api. Dengan susah payah, akhirnya Daegun bisa lolos dari kepungan api. Tetapi belum lagi dia bernafas lega, sekonyong-konyong di hadapannya muncul Ja Joon. Iiiih... zombie yang satu ini gigih banget, sih. Sebel!

Pertarungan super sengit kembali terjadi. Daegun sadar ini adalah kesempatan terakhirnya untuk menghabisi Ja Joon. Meski lelah jiwa raga, Daegun terus berjuang. Menyerang, bertahan, menghindar, menyerang lagi sampai akhirnya momen yang ditunggu pun tiba, Daegun berhasil menyarangkan pedang tepat ke jantung Ja Joon. Sempat meronta beberapa kali, tapi akhirnya Ja Joon harus mengakui kekalahannya.

Wuuh... seru!


Review K-Movie Rampant

Dalam skala 10, film Rampant ini aku beri nilai 8.
Hmm... cukup tinggi, yah. Berarti aku puas dong dengan film ini. Ada alasannya, gais.
Bagiku k-movie Rampant ini memiliki banyak kelebihan.


  • Premis yang Segar dan Menarik
Tidak seperti cerita drama era Joseon kebanyakan, Rampant menyajikan konflik yang lebih segar. Intrik-intrik politik memang masih ada, tetapi karena dibalut dengan zombie makanya premis terasa lebih segar dan menarik. 

  • Penampilan Karakter yang Tegas 
Pengembangan karakter tampil tegas sejak awal, jadi dari awal pemutaran film penonton sudah bisa melihat dengan jelas mana yang antagonis, mana yang protagonis. Seperti karakter Ja Joon misalnya, dari awal film memang selalu tampak dingin tanpa ekspresi, jadi sudah bisa ditebak kalau dia adalah tokoh antagonis.

Sayang karakter raja tidak jauh berbeda dengan karakter raja di film-film era Joseon lainnya, selalu tunduk dan berada di bawah bayang-bayang parlemen. Hmm... sepertinya memang cuma di film The King's Case Note deh rajanya yang beda, nyentrik dan berani.

Silahkan dibaca juga: 

Aku paling suka dengan karakter Ganglim Daegun yang cuek, masa bodo, mata keranjang, tapi berani, jago beladiri dan juga pintar ini. Dengan karakter tokoh utama yang seperti ini film terasa lebih hidup dan segar. Begitu juga karakter asisten Daegun yang lucu, konyol tapi setia, membuat film menjadi tidak membosankan.




  • Adegan Action yang Artistik
Mengingat film ini ada adegan action-nya, maka adegan pertarungan adalah salah satu poin yang menjadi sorotan. Menurut aku adegan action di film Rampant ini cukup artistik. Pertarungan demi pertarungan berjalan dengan cepat dan mulus seolah-olah para aktor yang berlaga adalah satria-satria pedang sungguhan.

Efek-efek yang diberikan pun sangat membantu jalannya cerita, sehingga penonton bisa merasakan perasaan takut dan ngeri ketika zombie menyerang. Penampilan zombienya pun cukup meyakinkan dengan bola mata putih, urat-urat membiru di sekujur tubuh, dan taring-taring tajam yang haus darah, cukup membuat aku membaca doa berkali-kali sebelum tidur. 



  • Sound Effect dan Sountrack yang Mendukung
Salah satu kelebihan Korea dalam menggarap karya mereka adalah dalam pemilihan soundtrack dan sound effect. Aku merasa sound effect dan soundtrack yang ada disepanjang film sangat cocok dengan alur cerita. Membuat cerita semakin mudah dicerna oleh penonton.


  • Bebas dari Adegan Dewasa
Film Rampant ini adalah salah satu film yang aku tidak merasa was-was ketika menontonnya di siang hari. Karena tidak ada adegan dewasanya. Jadi cukup aman jika sewaktu-waktu anak lewat dan melihat beberapa adegannya.

Hanya saja, aku tetap tidak rekomendasikan film ini ditonton oleh anak-anak, karena terdapat adegan kekerasan. Di film ini jelas bertaburan adegan kekerasan seperti penggal kepala, penusukan, dan lain-lain yang memperlihatkan darah muncrat dan bertaburan di mana-mana. Jadi untuk bijaknya, tontonlah film ini di saat anak sudah tidur.

Sekian banyak kelebihan, tidak adakah kekurangannya?

Ya, pasti adalah. Tapi sepanjang pengamatanku, kekurangannya cuma satu. Asal muasal zombie ini ada kurang diceritakan dengan jelas. Dalam salah satu dialog cuma disebutkan bahwa zombie ini berasal dari kapal di tengah laut. Nah, itu doang. Ga dijelasin tuh, digigit atau disambar apa, gitu.

Overall, film ini layak untuk ditonton. Bisa banget dimasukin ke watching list kala liburan.
Nah, kamu sudah nonton film ini belum?


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal.

Note : Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan dihapus.

Meirida Blog - Review dan Lifestyle . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | for Meirida.my.id