Sunday, December 23, 2018




Halo, Sobat.

Apa kabar? Semoga semua dalam keadaan sehat, ya. Aamiin.

Bulan November lalu aku baru saja melahirkan anak kedua lewat persalinan normal. Alhamdulillah, anakku cowok, jadi udah sepasang deh. Sebagai bentuk doa, baby boy kami beri nama Dzikri.

Silahkan baca juga: Pengalaman Melahirkan Normal dengan Biaya BPJS

Sama halnya dengan saat melahirkan Aira dulu, kali ini perineum-ku juga dijahit. Perineum adalah daerah antara vagina dan rektum atau anus. Untuk mempermudah proses melahirkan, dilakukan tindakan bedah minor untuk memperlebar jalan lahir, yaitu dengan cara menggunting kulit dan otot-otot yang ada di daerah perineum. Nah, tindakan medis ini disebut juga dengan episiotomi.

Tindakan episiotomi ini dilakukan dengan tujuan untuk mempermudah keluarnya kepala bayi. Selain itu tindakan ini juga bertujuan untuk mencegah robekan spontan yang tidak beraturan sehingga akan menyulitkan saat proses menjahit kembali.

Saat melahirkan Aira dulu, aku harus mengalami banyak jahitan pada perineum. Makanya masa pemulihannya pun cukup lama. Aku ingat banget, Aira sudah berusia 2 bulan baru deh aku berani jongkok. Itupun dengan perasaan was-was. Hehehe.

Nah, beberapa saat setelah Dzikri lahir, aku sempat bertanya jumlah jahitan perineum-ku ke bidan. Alhamdulillah, bidannya bilang jahitannya gak banyak. Mendengar jawaban bidan itu, aku langsung pede deh, luka jahitannya bakal cepat sembuh.

Sesuai saran dari dokter, perawatan luka jahitan perineum itu menggunakan kain kasa yang dilumuri dengan cairan obat luka. Di hari ke-5 aku merasa jahitan perineum-ku sudah cukup kering. Jadi karena kesibukan mengurus bayi, aku tidak lagi menggunakan kain kasa untuk merawat luka.

Di hari ke-7, aku merasa ada yang berbeda saat buang air kecil. Jahitan perineum terasa nyeri dan berdenyut. Wah, ada apa ini? Tanyaku bingung.

Penasaran dengan kondisi jahitan perineum, akupun mengambil ponsel lalu memotretnya. Masyaa Allah, ternyata jahitan perineum menampakkan gejala infeksi. Kulit di sekitar jahitan memerah dan ada beberapa bintik putih seperti nanah di ujung jahitan.

Waduh, aku langsung panik saat itu, karena kebayang jahitan perineum infeksi, trus ntar harus dibongkar lagi untuk reparasi. Membayangkan proses jahitan lagi, perutku langsung mulas.

Karena takut akan dijahit ulang, aku pun bertekad untuk mencoba perawatan sendiri. Pengen tahu cara aku mengatasi infeksi jahitan jalan lahir? Yuk, simak yang berikut ini, ya.

4 Langkah Mudah Mengatasi Infeksi Jahitan Jalan Lahir


  • Jaga kebersihan area jahitan
Infeksi terjadi karena area jahitan kurang terjaga kebersihannya. Salah satu penyebabnya adalah cara cebok yang salah, sehingga bakteri E-Coli dari anus menginfeksi luka jahitan. 

Nah, agar area jahitan selalu terjaga kebersihannya, maka gunakanlah cairan antiseptik saat cebok, dengan begitu serangan dari bakteri E-Coli bisa dicegah.

  • Pastikan area jahitan selalu kering dan higienis
Area jahitan yang lembab juga adalah salah satu penyebab bakteri betah bersarang. Terlebih lagi saat itu merupakan masa nifas, yang mengakibatkan kelembaban area jahitan tinggi karena darah nifas yang masih keluar. 

Untuk menjaga area jahitan selalu kering, pastikan selalu mengeringkan area jahitan setiap kali habis buang air kecil atau buang air besar. Selain itu, pastikan ganti pembalut setiap habis buang air, agar area jahitan higienis bebas dari kuman yang menumpuk di pembalut kotor.

  • Rawat luka dengan obat luar

Agar ASI aman dan tidak terkontaminasi obat, hindari menggunakan obat makan untuk mengobati luka jahitan perineum, kecuali atas rekomendasi dari dokter. Agar lebih aman, gunakanlah obat luar yang khusus untuk mengobati luka. Lumuri kain kasa dengan cairan obat luka, kemudian tempelkan pada area jahitan. Pastikan untuk mengganti kain kasa setiap habis buang air kecil ataupun besar.

Penggunaan antibiotik sebenarnya bisa mempercepat proses penyembuhan, tetapi penggunaan antibiotik bisa berdampak buruk pada bayi yang minum ASI. Mintalah saran ke petugas medis jika memang ingin menggunakan antibiotik.



  • Konsumsi makanan dengan kandungan Vitamin C dan protein
Sebagaimana yang diketahui, protein berperan penting dalam regenerasi sel tubuh. Maka dari itu, mengonsumsi makanan yang mengandung protein akan mempercepat proses penyembuhan luka. Sedangkan vitamin C berperan penting dalam meningkatkan daya tahan tubuh. Oleh karena itu, kombinasi vitamin C dan protein akan mempercepat terbentuknya jaringan baru pada area luka.


Demikian 4 langkah mudah mengatasi infeksi jahitan jalan lahir versi Meirida, ya.


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal.

Note : Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan dihapus.

Meirida Blog - Review dan Lifestyle . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | for Meirida.my.id