Wednesday, October 31, 2018

kisah keajaiban sedekah



Keajaiban Sedekah dalam 5 Hari


Kalo bicara soal sedekah, aku jadi teringat sama kejadian bulan September tahun 2013 lalu. Suatu kejadian yang luar biasa dahsyat memporak-porandakan kehidupanku, hingga aku nyaris melakukan tindakan yang sangat dimurkai Allah.

Ya teman, kala itu aku nyaris bunuh diri karena tak kuasa menahan beban permasalahan yang kuhadapi.

Astaghfirullah. Kalau saja anakku yang sedang tidur itu tidak terbangun dan menangis, mungkin saat ini aku tinggal nama dan hanya menyisakan kenangan teramat pahit untuk keluargaku. Tapi Alhamdulillah, Allah masih menyayangiku, dia mengirimkan tangis anakku pada saat yang tepat, sehingga aku sadar dan terhindar dari dosa besar itu.

Jika sebagian dari teman-teman ada yang bertanya apa sih yang terjadi pada waktu itu ?
Sehingga aku punya pikiran untuk mengakhiri hidup segala ?
Inilah jawabannya.

Semua ini terjadi akibat usahaku yang bangkrut karena modalku dibawa kabur oleh rekan kerja, sehingga aku menghadapi tuntutan dari klien seorang diri.

Meskipun aku sudah menjelaskan duduk persoalannya kepada semua klien yang terkait, namun mereka tidak peduli dan tetap menuntut aku untuk bertanggung jawab. Mereka tidak salah, aku memaklumi sepenuhnya bahwa mereka berhak menuntutku untuk bertanggung jawab, karena yang mereka tahu usaha itu adalah milikku dan aku adalah pengelolanya. Mereka memang tidak mengenal rekan yang berkerjasama denganku.

Yang membuatku semakin panik, instansi terkait yang juga berhubungan dengan usahaku ini memberi ultimatum kepadaku hanya hingga akhir bulan bagi ku untuk menuntaskan semua keluhan klien. Tidak ada jalan lain bagiku saat itu selain segera mengganti segala kerugian yang dialami klien.

Sekujur tubuhku bergetar dengan dahsyat melihat angka yang tertera pada kertas di hadapanku. Dua puluh lima juta rupiah. Bagaimana aku bisa mendapatkan uang sebesar itu dalam waktu yang sangat singkat, sementara aku tidak memiliki satupun harta berharga yang bisa dijadikan jaminan kepada pihak lain. Karena kalut itulah, sehingga setan dengan mudah masuk dan bersarang diotakku.

Yang membuat aku semakin kalut dan tak berdaya adalah suami tidak mengetahui sedikitpun permasalahan yang tengah aku hadapi. Kesibukannya sebagai karyawan di sebuah perusahaan migas, membuatnya tidak ikut campur dalam usaha yang aku kerjakan. Bahkan kalau boleh jujur, sebenarnya suamiku pun tidak begitu setuju ketika aku memulai usaha ini. Bukannya apa-apa, dia hanya tidak ingin aku sibuk dengan usaha lantas kewajiban sebagai ibu rumah tangga terabaikan. Namun setelah aku berjanji tidak akan mengabaikan kewajiban ibu rumah tangga, maka akhirnya dia setuju dengan usaha yang aku jalani.

Kembali ke persoalan di atas, aku sangat kalut dan berusaha menutupi semua masalah ini dari suami. Jadi bisa dibayangkan bukan betapa tersiksanya aku saat itu, ketika deadline dari klien tinggal 10 hari lagi, sementara aku belum mendapatkan sedikitpun jalan untuk mendapatkan uang.

Makan tak enak, tidur pun tak nyenyak. Aku pun sering terjaga di tengah malam, lalu berlari ke kamar mandi, lalu menenggelamkan tangisanku diantara suara air yang mengucur dari kran. Aku segera berwudhu, lalu menghantarkan diri dalam kepasrahan terdalam di sajadah panjang.

Allah itu memang tidak pernah jauh dari hambaNYA, namun kesombongan hambaNYA lah yang menjauhkan diri dari Rabbnya. Pertolongan Allah itu sangat dekat bagi hambaNYA yang mau meminta pertolongan. Dan pemberian Allah itu berlipat ganda dari pemberian yang diberikan oleh hambaNYA.

Siang itu, sisa 7 hari lagi dari batas waktu yang ditentukan. Aku mengamati saldo di rekeningku yang jumlahnya tak lebih dari 700 ribu. Sebenarnya itu adalah uang untuk kebutuhan rumah tangga hingga akhir bulan. Namun entah kenapa aku berkeinginan untuk menyedekahkan semuanya seperti ceramah yang kudengar dua hari sebelumnya. Dengan mengucap bismillah, akhirnya aku mengirimkan semua uang itu kepada Yayasan Dompet Dhuafa. Aku berserah diri kepada Allah atas semua permasalah yang tengah aku hadapi.

Ketika malam tiba, aku pun memberanikan diri untuk jujur kepada suami. Ibarat narapidana yang akan dihukum mati yang pasrah dengan keadaan, aku pun memasrahkan diri akan murka suami. Memang benar, reaksi suami sesuai dengan yang aku perkirakan. Dia marah besar. Dia marah bukan karena masalah uangnya, yang dia marahkan adalah karena aku telah mengabaikannya dan menutupi masalah yang sangat pelik ini darinya. Aku hanya bisa menangis, tertunduk dalam penyesalan teramat dalam. Aku merasa sungguh berdosa sebagai istrinya. Malam itu terasa sangat panjang untuk kulalui.

Keesokan harinya, ketika sedang membereskan ruang usaha, aku dikejutkan oleh suara sales yang menawarkan produknya. Awalnya aku tidak memperdulikannya, namun setelah melihat seragam yang dikenakannya, aku melihat ada logo Bank Danamon, maka akupun segera menghampirinya.

Rupanya dia menawarkan pinjaman tanpa agunan. Ya Allah, inikah bentuk pertolonganmu. Aku pun segera menghubungi suami, dan memberitahunya tentang tawaran sales itu. Alhamdulilah suami setuju, setelah melengkapi sarat-sarat yang dibutuhkan, dua hari kemudian pinjaman kami cair dari bank sebesar 20 juta. Berarti tinggal 5 juta lagi yang harus kami usahakan. Kami mencoba membawa BPKB motor suami ke bank BRI, dan berhasil mendapatkan 5 juta tiga hari kemudian.

Sungguh tak ada yang mustahil bagi Allah jika dia berkehendak. Hanya dalam waktu 5 hari, semenjak sedekah 700 ribu itu aku kirimkan, Allah langsung mengirimkan 25 juta untuk menyelesaikan permasalahanku. Ini memang hutang, namun hutang ini telah menyelamatkanku, suami, anak dan keluarga besarku yang lain dari rasa malu.

kisah keajaiban sedekah


So, gais.

Pelajaran apa yang bisa dipetik dari pengalaman kelamku ini?


  • Jujur dan terbukalah dengan pasangan.
Suami dan istri itu ibarat pakaian bagi satu dan lainnya. Aib suami adalah aib istri, begitupun sebaliknya. Adalah sebuah kesalahan besar jika salah satu pasangan merasa 'super' dari yang lainnya. Sekalipun suami dan istri memiliki kesibukan dalam perkerjaan masing-masing, tetapi tetaplah terbuka dalam hal apapun. Jangan pernah memiliki pikiran untuk menyembunyikan sesuatu dari pasangan, apalagi jika hal yang disembunyikan itu kelak berhubungan dengan keutuhan rumah tangga.




  • Melangkahlah dengan restu suami.
Khusus poin ini memang lebih aku beratkan kepada istri, karena dalam Islam kedudukan seorang istri memang berada di bawah suami. Jadi untuk segala hal yang akan dilakukan baik itu yang berhubungan dengan perkerjaan ataupun kegiatan lainnya, melangkahlah dengan restu suami, maka insyaa Allah apapun yang istri lakukan akan berjalan dengan lancar dan bernilai ibadah di mata Allah.

Jadi, apakah suami tidak perlu restu istri?

Sepanjang yang aku tahu, suami memang tidak butuh restu istri dalam melakukan apapun untuk rumah tangganya. Tetapi, alangkah bijaksananya jika suami juga tetap melibatkan istri dalam setiap hal yang ia lakukan. Setidaknya, istri mengetahui apa yang dilakukan suaminya dalam memenuhi kebutuhan nafkah rumah tangga. Jika cara suaminya benar, maka istri bisa support dengan doa. Jika cara suaminya salah, istripun bisa mengingatkan suami agar kembali ke jalan yang benar.


  • Dalam bisnis jangan pernah mempercayai orang 100%
Ini adalah kesalahan terfatal yang aku lakukan. Aku lupa bahwa uang bisa membutakan mata dan memutuskan hubungan persaudaraan sekalipun. Maka dari itu, kehati-hatian dan kewaspadaan tetap harus dilakukan. Meskipun bertransaksi dengan keluarga sendiri, jika itu menyangkut nominal yang tidak sedikit pastikan untuk membuat dokumentasinya secara jelas. Hitam di atas putih. Jika perlu hadirkan saksi-saksi. Ini dilakukan untuk antisipasi jika dikemudian hari terjadi hal-hal yang tidak diharapkan.


  • Jangan pernah ragukan kekuatan sedekah.
Dulu aku sempat tidak percaya bahwa sedekah bisa menjadi pembuka pintu rejeki. Piciknya aku saat itu, berpikiran bahwa sedekah hanya menjadi beban pengeluaran. Ternyata sangat salah. Justru dengan bersedekah, pintu rejeki akan diterbuka dari arah yang tidak terduga dengan jumlah yang tidak terkira. Aku sudah membuktikannya sendiri, keajaiban sedekah telah menyelamatkanku dari lilitan masalah yang tidak berujung. 

So, gais. Jangan pernah ragu untuk menyisihkan sebagian dari penghasilanmu untuk diberikan di jalan Allah. Tidak akan miskin kita oleh sedekah, justru sebaliknya akan banyak hal baik yang terjadi dalam kehidupan kita. 

Tak perlu hitung-hitungan dalam kebaikan, karena kalkulator kita tidak akan pernah mampu menghitung semua kebaikan yang sudah diberikanNya. Yakinlah, Allah tidak pernah tidur. Dia Maha Melihat, dan akan membalas semua hal baik yang kita lakukan.

Nah, sudah sedekah hari ini?







5 komentar

Subhanallah.. pertolongan Allah datang diwaktu yang tidak kita sangka ya mak. Terimakasih sudah menginspirasi :-)

REPLY

Artikel yang bagus mba,salam kenal ya..semoga keajaiban keajaiban dariNYA hadir buat kita hambanya

REPLY

Terima kasih sudah berbagi inspirasi Mak Merida :)

REPLY

Wah terima kasih Sharingnya sangat menginspirasi :)

REPLY

halo..juri berkunjung. Goodluck yeeaaa

REPLY


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal.

Note : Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan dihapus.

Meirida Blog - Review dan Lifestyle . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | for Meirida.my.id