Wednesday, August 22, 2018


TvN kembali menyuguhkan drama yang kualitasnya jempolan. Di awal-awal produksi drama ini mendapatkan banyak protes dari masyarakat Korea, karena rentang usia antara tokoh utamanya yang sangat jauh, terpaut 20 tahun lebih. Dikhawatirkan kisah cinta yang terjadi di antara mereka akan memberikan dampak negatif bagi remaja-remaja yang menontonnya.

Tetapi, tentu saja semua kekhawatiran itu sangat tidak terbukti.

Drama My Mister ini menceritakan tentang perjuangan hidup seorang gadis muda bernama Lee Ji An yang diperankan oleh Si Cantik IU atau Lee Ji Eun. Kalau di drama-drama sebelumnya IU memerankan karakter yang centil dan ceria, di drama My Mister kali ini IU memerankan karakter yang dingin. Jangankan untuk terlihat centil, bahkan senyumnya saja hanya akan terlihat di episode-episode terakhir.

Meskipun baru berusia 20 tahun, Lee Ji An telah menjalani fase terkelam dalam hidupnya. Demi membela diri dari siksaan yang dilakukan rentenir kepada neneknya, Ji An yang kala itu masih duduk di bangku sekolah menengah harus mengerahkan semua keberaniannya untuk melenyapkan nyawa orang lain. Semua penderitaannya itu berawal dari prilaku tidak bertanggung jawab dari ibunya, yang setelah meminjam uang kepada rentenir kemudian kabur tanpa jejak. Akibatnya, nenek Ji An dan Ji An-lah yang menanggung rongrongan dari rentenir itu.

Meskipun telah dinyatakan tidak bersalah oleh pengadilan, tetapi Ji An tetap harus hidup dalam kesengsaraan. Karena anak dari rentenir yang dibunuhnya, tetap menagih hutang-hutang yang dimiliki oleh ibunya Ji An. Demi memenuhi tuntutan hidupnya, Ji An harus rela berkerja dibanyak tempat. Dia juga sudah tidak peduli lagi legal atau tidak dari apa yang ia lakukan. Karena dalam pikirannya yang ada hanya bagaimana cara mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya agar bisa membayar hutang, membiayai neneknya yang sakit dan juga membiayai hidupnya sendiri.

Nasib baik sedikit berpihak kepada Ji An, ia diterima berkerja sebagai karyawan kontrak di sebuah perusahaan besar. Khawatir dengan masalalunya yang kelam akan diketahui oleh orang lain, di tempat kerja Ji An bersikap dingin dan tidak tersentuh. Bicara hanya seperlunya, dan menjaga jarak dari karyawan-karyawan lainnya. Tetapi keinginan Ji An untuk menjalani hidup ‘tak tersentuh’ itu tidak berjalan mulus, karena Park Dong Hoon memperlakukannya berbeda. Manager yang terkenal pendiam dan baik hati itu selalu mengajak Ji An berinteraksi.

Merasa kenyamanannya terusik, Ji An tidak segan-segan memperlihatkan sikap tidak bersahabat kepada managernya itu.

Di sisi lain, kehidupan Park Dong Hoon sendiri tidaklah senyaman yang dilihat orang lain. Jauh di lubuk hatinya, dia memendam penderitaan karena karirnya yang tidak berkembang. Ditambah lagi juniornya semasa kuliah dulu telah menjadi atasannya. Padahal hubungannya dengan junior itu gak harmonis sama sekali. Jadi secara mental, harga diri Dong Hoon benar-benar terasa terbanting keras.

Belum lagi problema rumah tangganya yang pelik. Istrinya memiliki karir yang sangat cemerlang. Sementara di keluarganya sendiri, abang tertuanya terancam bercerai karena bisnisnya bangkrut, adik bungsunya selalu gagal jadi sutradara film. Dong Hoon lah satu-satunya anak yang menjadi kebanggaan oleh ibunya.

Terintimidasi oleh junior yang menjadi atasannya, merasa terkalahkan oleh karir sang istri, dan di sisi yang lain harus selalu tampak bahagia dan sempurna di mata ibunya. Belum lagi ocehan-ocehan bawahan yang sering menganggapnya ‘lembek’. Itulah beban yang dirasakan oleh Dong Hoon.

Suatu hari, Dong Hoon menerima paket tanpa nama dari kurir ekspres. Ketika dibuka, ternyata isinya adalah uang senilai 50 juta. Melihat jumlah uang yang sangat besar itu, hati Dong Hoon bergetar hebat. Tetapi dia berusaha untuk menyembunyikan rasa penasarannya itu. Sayangnya, hal itu diketahui oleh Ji An yang ternyata diam-diam mengamati dari meja kerjanya.

Malamnya, ketika semua karyawan telah pulang, dibantu oleh petugas kebersihan gedung, Ji An berhasil menyusup ke kantor dan mencuri uang suap yang disembunyikan Dong Hoon di lacinya. Keesokan harinya kantor Saman E & C pun gempar. Karena tim audit internal menerima email dari orang yang tidak dikenal, yang menyebutkan bahwa Direktur Park Dong Woon menerima suap. Tim audit internal pun melakukan pemeriksaan kepada Direktur Park Dong Woon, tetapi hasilnya nihil. Ternyata, si kurir salah alamat. Paket yang seharusnya untuk Direktur Park Dong Woon malah terkirim kepada Manager Park Dong Hoon. Wakakaka.

Karena investigasi Direktur Park Dong Woon gagal, tim audit pun melakukan pemeriksaan CCTV. Dari situlah diketahui, bahwa Manager Park Dong Hoon yang menerima uang suap itu. Tetapi karena ada kesenjangan info antara email dan barang bukti, Direktur Park Dong Woon tidak mau tinggal diam. Dia menuntut untuk dilakukan pemeriksaan menyeluruh, karena dia sadar banget ada pihak yang ingin menjebaknya. Terlebih lagi Park Dong Hoon adalah anggota tim yang berada di bawah pengawasannya.

Sementara itu, Ji An berada di kantor rentenir untuk membayar lunas hutang-hutangnya. Meskipun udah disodorin segepok uang, ternyata rentenir ini ga mau menerima uang Ji An begitu saja. Emang udah kentara banget sih, si rentenir ini cuma ingin menyiksa Ji An aja karena dendam atas kematian ayahnya. Sadar bahwa usahanya untuk melunasi hutang tidak berjalan lancar, Ji An pun mengambil kembali uang itu, kemudian dibantu oleh petugas kebersihan gedung ia menyerahkan uang itu kepada pihak audit internal.

Kantor semakin gempar. Beredar kabar manager Park Dong Hoon membuang uang suap senilai 50 juta ke tempat sampah. Banyak yang memuji kejujuran Park Dong Hoon. Termasuk Sang Ketua Besar pendiri perusahaan. Padahal aslinya Park Dong Hoon juga bingung kenapa uang itu sampai ke tempat sampah. Tapi dia udah merasa bahwa Ji An ada di balik semua kejadian aneh yang menimpanya itu.

Peristiwa uang suap itu akhirnya merekatkan hubungan Park Dong Hoon dan Ji An. Sementara Ji An sendiri sebenarnya hanya azaz manfaat aja mendekati Dong Hoon. Karena sebenarnya Ji An mendekati Dong Hoon dengan tujuan jahat, karena mendapat bayaran dari CEO yang gak lain adalah juniornya Park Dong Hoon.

CEO Do Joon Young ini memiliki ambisi pribadi untuk memecat Dong Hoon, karena diam-diam ia selingkuh dengan istrinya Dong Hoon. Hubungan terlarang itu ternyata diketahui oleh Ji An dan dimanfaatkannya untuk mendapatkan uang. Dibantu oleh teman dekatnya yang jago komputer, Ji An berhasil menanamkan penyadap di ponselnya Dong Hoon. Hasil sadapannya inilah yang Ji An berikan kepada CEO Do Joon Young.

Karena sehari-hari mendengarkan Dong Hoon lewat ponselnya, lama-lama Ji An menjadi tahu lebih banyak tentang managernya itu. Bagaimana beban hidupnya, bagaimana ketulusan hatinya dan semua hal yang orang lain sama sekali tidak ketahui. Hal ini menumbuhkan rasa simpati di hati Ji An. Untuk pertama kalinya, ia merasakan ada manusia yang berhati putih seperti Dong Hoon.

Niat jahatnya pun berubah haluan. Ji An yang awalnya ingin membantu CEO untuk memecat Dong Hoon, justru berbalik membantu Dong Hoon mendapatkan posisi Direktur. Ji An jugalah yang menghentikan perselingkuhan yang dilakukan istri Dong Hoon. Ji An mencintai Dong Hoon, karena itu ia tidak rela Dong Hoon disakiti oleh orang lain.


Drama dengan Kisah Cinta yang Mendewasakan

Kisah cinta yang ada di drama My Mister ini sungguh sangat mendewasakan para penontonnya. Di drama ini, cinta Ji An sebenarnya bertepuk sebelah tangan. Karena Dong Hoon meskipun mengetahui pengkhianatan istrinya, tetapi tetap memegang teguh kesetiaannya. Dia tidak tergoda dengan cinta yang secara terang-terangan ditawarkan oleh Ji An. Karena Dong Hoon sadar sepenuhnya dia adalah seorang ayah dari anaknya.

Pengakuan cinta yang romantis disajikan dengan indah tanpa harus melewati adegan skinship. Aku sangat terkesan dengan kata-kata sederhana Ji An ketika mengakui perasaannya terhadap Dong Hoon. “Ahjussi, aku suka suaramu, kata-katamu, langkah kakimu. Aku suka semuanya.” Kata-kata Ji An ini terdengar masuk akal karena memang nada bicara Dong Hoon ini memiliki daya hipnotis yang memberi ketenangan. Drama My Mister ini mengajarkan kita bahwa “love is not about touch each other, but care each other.”

Banyak scene-scene menyentuh dalam drama ini. Salah satu yang paling berkesan adalah ketika Dong Hoon mendengar pengakuan dan penyesalan dari istrinya. Dia yang selama ini tampak tenang dan selalu menguasai emosinya dengan baik, hari itu betul-betul emosi. Dia melayangkan tinjunya ke pintu berkali-kali sambil berteriak, “Mengapa harus dia ? Mengapa ? Mengapa harus dia ?” Sementara istrinya masih berlutut di lantai sambil menangis terus meminta maaf.  Dong Hoon pun terduduk di hadapan istrinya dengan terisak ia balas berkata,” Kamu lakukan itu, kamu tidak menganggapku, kamu sama saja memintaku untuk mati. Kamu itu ibu dari anak kita, teganya kamu berbuat seperti itu.”

Pertengkaran dramatis itu terdengar secara ‘live’ oleh Ji An lewat headsetnya. Ji An sedih, karena turut merasakan kepedihan yang Dong Hoon rasakan.  Lewat penyadapan yang ia lakukan selama ini Ji An tahu banget kalo Dong Hoon itu seorang suami yang baik dan perhatian. Karena sadar dengan kesibukan istrinya, setiap pulang kerja pasti ia menyempatkan diri untuk mencuci pakaian, membersihkan rumah. Saking pengertiannya, saat istrinya di rumah pun Dong Hoon ini gak berani menyetel tivi dengan suara keras, karena khawatir mengganggu istrinya yang sedang berkerja. Bahkan dalam perjalan pulang pun dia selalu menelepon istrinya, menanyakan kalau-kalau istrinya ingin menitip sesuatu.

Tapi semua perhatian yang Dong Hoon berikan itu tidak berharga di mata istrinya. Mungkin istrinya berharap perhatian yang romantis dari Dong Hoon. Padahal kalo untuk aku pribadi nih, Dong Hoon ini udah tipe suami yang paling ideal kok. Tapi ya gitu deh, beda orang beda harapannya ya, kan. Tapi dari drama ini kita belajar untuk menghargai sekecil apapun perhatian yang diberikan oleh orang terdekat  untuk kita. Karena ketahuilah, gais. Sekecil apapun perhatian yang diberikan oleh orang terdekat itu, yakinlah ada cinta yang sangat tulus di dalamnya.


Drama Bagus Tak Harus Syuting di Luar Negeri

Tidak sedikit drama-drama Korea bagus yang proses shootingnya berlokasi di luar negeri. Sebut saja Goblin, DOTS, BBF, Heirs dan banyak lagi lainnya. Tetapi drama My Mister ini beda. Kalau teman-teman menonton drama ini, bakal bisa menyaksikan sendiri lokasi drama ini tidak sampai 10 jari, dan semuanya berlokasi di dalam negeri. Sebutlah kantor, kereta api, stasiun, rumah, bar dan jalan. See? Ga ada scene dengan background wisata yang indah-indah untuk membuat penonton terkesima. Ga ada juga kisah fantasi yang melambungkan daya hayal penonton. Drama ini murni menceritakan tentang realita kehidupan yang sebenarnya lumrah terjadi dalam keseharian.

Selain itu juga ga ada scene yang memperlihatkan keglamoran konglomerat dan lebih menonjolkan kesederhanaan. Manager yang pergi-pulang kantor pake kereta api. Pemilik perusahaan yang menolak untuk dilayani secara berlebihan. Tapi dengan begitu pun, penonton tetap bisa tahu dan mengerti bahwa yang kaya itu memang kaya.Di drama ini kita betul-betul diajarkan tentang sikap rendah hati dan sederhana.

Kekuatan cerita dan akting yang pas dengan karakter. Itulah kekuatan dari drama ini.


Drama yang Memanusiakan Manusia

Akhir-akhir ini bukan hal yang baru lagi kalo kita lihat orang-orang hidup saling cuek tanpa menghargai satu sama lain. Yang bernilai hanyalah materi, jabatan dan status sosial. Kerja keras dan kejujuran sering menjadi sesuatu yang diremehkan.

Tetapi lewat seorang Dong Hoon kita belajar bahwa hidup tanpa topeng itu sangatlah menyenangkan.
Aku paling terkesan dengan scene yang memperlihat perkembangan kepribadian Ji An dari karakter yang dingin menjadi karakater yang lebih hangat. Hanya lewat satu kata ‘terimakasih’ yang meluncur dari mulut Ji An aja aku bener-bener ga bisa menahan haru.

Berbuat baik itu adalah perbuatan yang tidak akan pernah sia-sia. Sekalipun terlihat sepele, kita tidak akan pernah tau perjalanan hidup orang lain. Bisa saja karena kebaikan kita yang kecil tadi, bisa merubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik.


Segala Sesuatu Tergantung Sudut Pandang Kita

Aku gak bisa melupakan kata-kata yang diucapkan Dong Hoon kepada Ji An. “Jika kau menganggap itu penting, maka itu akan menjadi penting. Tetapi jika kau menganggapnya tak penting, maka itu tak berarti apa-apa. Begitu juga masalalu.”

Dialog ini artinya dalam banget buat aku.

Kadang tanpa disadari, manusia itu suka terjebak pada masalalu. Padahal masalalu tidak akan menjadi penting jika kita bisa  dan mau menganggapnya tak penting. Ini hanya soal sudut pandang saja, lho. Jika masalalu dijadikan beban, maka masadepan pasti akan terbebani. Jika masalalu dijadikan pelajaran, maka masadepan akan menemui sebuah penghargaan. Hidup semestinya berbentuk jalan -yang mungkin berliku- tetapi kita tetap bergerak maju meninggalkan titik awal. Bukan berbentuk lingkaran, yang betapapun jauhnya kita melangkah, akan kembali membawa kita kepada titik awal.


Tak Perlu Malu Menjadi Diri Sendiri

Hidup terkadang memang tidak berjalan sesuai yang kita harapkan. Ada kalanya kita bersinar, ada kalanya kita gagal. Tetapi bagaimana bangkit dari kegagalanlah proses yang paling penting. Tak perlu malu mengakui kegagalan, tak perlu juga mencari kambing hitam atas kegagalan yang terjadi dalam hidup kita. Tak perlu malu jadi diri sendiri, tetaplah bergerak, menghasilkan sesuatu meskipun sedikit tetap jauh lebih baik dari pada diam tanpa melakukan apapun.

Dari drama ini aku senang dengan perkembangan karakter saudara-saudaranya Dong Hoon. Mereka adalah orang-orang yang gagal dalam karirnya. Sempat terpuruk dalam keputus asaan, tetapi sisa-sisa semangat yang mereka miliki berhasil membuat mereka bangkit dan merintis usaha mandiri. Usaha mereka mungkin akan dipandang rendah oleh orang lain, tetapi dengan usaha itu mereka tetap bisa menghasilkan uang. Berapapun yang mereka hasilkan, tetap membuat mereka lebih berharga daripada saat menganggur.


Drama dengan Perfect Ending



Biasanya kalau nonton drama Korea, kita selalu bertanya-tanya endinge piye ?
Sad or happy ?

Dont worry be happy, gais. Drama My Mister ini memiliki ending yang perfect. Setelah berpisah beberapa waktu, Ji An dan Dong Hoon bertemu kembali.

Sebagai penonton aku bener-bener bisa melihat rasa syukur dan bangga yang besar dibalik senyuman dan tatapan mata Dong Hoon karena merasa pernah menjadi bagian dalam perubahan hidup Ji An. Dalam hati mereka saling bertanya, dan aku merasa sepertinya pertanyaan itu juga ditujukan kepada kita.

“Sudahkah kau menemukan kenyamanan dalam dirimu ?”



Wadeuw... kalau dijabarin terus value life yang ada dalam drama ini bisa tembus 3000 kata nih. Hahaha. Biar ga kepanjangan aku akhiri di sini aja ya, gais.

Finally, I just wanna say, drama ini recommended banget untuk ditonton. Silahkan tonton, silahkan diresapi. Aku yakin teman-teman semua bakal merasakan apa yang aku rasa bahwa drama My Mister ini kaya pesan moral. Ada cinta keluarga, juga simpati dan empati terhadap sesama manusia.
Selamat menonton, yaaa.

1 komentar:

Duh saya jadi tergoda banget buat nonton drama lagi nih, setelah lama liburan nonton drama korea haha

REPLY


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal.

Note : Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan dihapus.

adv

meirida . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | for Meirida.my.id