Wednesday, April 29, 2015

[Cerpen] Dibalik Kamar Mandi

Tok ! Tok ! Tok !

Terdengar ketukan di pintu kamar mandi. Anto yang sedang serius dengan aktifitasnya tidak menggubris suara ketukan itu, dia malah menempelkan telinganya semakin rapat ke arah dinding.

"Woiii .. siapa di dalam ?" kali ini sebuah bentakan disertai hantaman keras membuyarkan konsentrasi Anto. Sembari mengenakan celana, dia mendengus kesal.

“Iya..iya.. ini aku. Ga sabaran amat sih ?” sahutnya. Kreekkk.. suara pintu terbuka.

“Gimana bisa sabar, isi perut ku dah mo ambrol semua nih. Udah sana kamu buruan keluar” Boim menerobos masuk sambil memegangi perutnya, buru-buru didorongnya Anto agar segera keluar. Blamm ! pintu ditutup dengan keras. Anto geleng-geleng kepala melihat perangai teman satu kostnya itu.

Anto masuk ke kamarnya, terdiam di sudut tempat tidur. Jantungnya masih berdegup tak beraturan. Tadi di kamar mandi dia kembali mendengar suara itu. Suara dari rumah sebelah yang kamarnya menempel dengan dinding kamar mandi kost-an Anto.

Hari ini adalah hari ke lima Anto memiliki hobby baru. Ya.. dia sedang kecanduan menguping aktifitas kamar sebelah itu dari kamar mandinya. Berawal disuatu malam, Anto terbangun dari tidurnya. Dia kebelet akibat salah makan, sehingga perutnya mulas luar biasa. Ketika sedang jongkok di kloset samar-samar dia mendengar suara rintihan yang membangkitkan imajinasi liarnya. Karena penasaran dia menempelkan telinganya lebih rapat ke dinding dibelakangnya. Dan suara itu semakin jelas ia dengar. Jantungnya berdebar tak menentu, suara yang ia dengar menjadi skenario atas film yang berhasil disutradarai otaknya dengan baik. Menjadi sebuah halusinasi menyerupai adegan-adegan yang pernah ia temukan di laptop Boim.

Gerimis halus mewarnai  pagi itu, jalanan masih sepi karena hari libur ditambah cuaca dingin begini membuat orang-orang malas untuk keluar, memilih untuk tenggelam di bawah selimut lebih lama. Di beranda rumah Anto tengah menikmati suasana pagi di temani segelas kopi susu instant berikut gorengan yang dia beli dari warteg. Asap rokok mengepul dari mulutnya membentuk bulatan-bulatan kecil.

Kriikkk.. ! Suara pagar dibuka mengalihkan perhatian Anto ke rumah sebelah. Tanpa bantuan kacamata dia sulit melihat sosok itu dengan jelas. Sepertinya laki-laki itu sedang siap-siap untuk pergi.

“Libur gini masuk juga Bang ?” sapa Anto. Pria itu menoleh dari atas motornya. Menyunggingkan senyum tipis ke arah Anto.

“Ga ada istilah libur buat kuli tinta Mas” balasnya sambil berlalu. Sebuah lambaian tangan mengakhiri obrolan singkat itu. Meski tak kenal persis, Anto yakin laki-laki yang berlalu barusan adalah Bang Jon yang berkerja sebagai wartawan di sebuah harian surat kabar lokal. Profesinya itu membuatnya jarang sekali berada di rumah. Sementara istrinya, Mala, berkerja sebagai kasir di mini market tidak jauh dari rumah.

Anto bersiap-siap masuk ke rumah ketika sudut matanya melihat Mala mengunci pagar. Sepertinya dia juga hendak pergi ke suatu tempat. Dari tempatnya berdiri Anto mencium wangi parfum yang mirip-mirip aroma melati. Entah kenapa hal itu memancing kembali suara-suara itu sehingga terngiang kembali di telinganya. Anto bergegas masuk kamar, melarikan khayalannya ke bawah selimut.

****
“Dasar kurang ajar !! Lalu mau kamu apa.. hah ?” sebuah bentakan keras terdengar dari kamar itu, di susul isakan pilu yang menjawab dengan pelan. Anto tidak bisa mendengar  pembicaraan itu dengan jelas. Sepertinya mereka sedang bertengkar hebat. Tapi suara itu sepertinya bukan suara Bang Jon. Karena beberapa hari menguping aktifitas dikamar itu Anto cukup hapal dengan suara yang biasa ia dengar. Anto buru-buru keluar dari kamar mandi. Harapannya buyar karena pertengkaran itu. Bersungut-sungut dia kembali ke kamar, meninggalkan suara gaduh yang semakin kuat terdengar.

Tiga hari setelah malam itu, Anto tidak lagi mendengar suara apa pun di balik kamar mandinya. Sepertinya mereka masih belum berbaikan, batin Anto. Dengan langkah kecewa Anto kembali ke kamarnya. Melanjutkan tidur yang tertunda.

****
Suara raungan sirene membelah kesunyian pagi itu. Anto tersentak bangun dari tidurnya, melongokkan kepala di sela-sela gorden ruang tamu. Sebuah mobil ambulan dan patroli polisi tampak parkir di depan rumah Bang Jon. Orang-orang mulai banyak berdatangan. Melihat keramaian yang tidak biasa itu Anto cepat-cepat mengenakan pakaiannya, dalam hitungan detik dirinya telah berada diantara orang-orang yang berkerumun di depan rumah.

Kebingungannya belum terjawab. Anto merangsek mendekatkan diri ke ambulan yang setengah badannya telah berada di halaman rumah. Hanya beberapa langkah di depannya, dia menyaksikan pemandangan yang mengejutkan. Bang Jon di giring keluar dari rumah itu dengan kedua tangan di borgol. Sementara itu di belakangnya petugas mengusung sebuah kantung besar yang menebarkan bau busuk ketika melintas di depannya.

Anto masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat, tanpa sadar dia berlari mendekati mobil polisi yang akan membawa Ban Jon. Beribu pertanyaan ingin melompat dari mulutnya, namun semua itu hilang ketika Bang Jon menatapnya. Sebuah penyesalan yang bercampur kemarahan tertulis jelas di sana.

“Woi.. Nto.. disini kau rupanya” Boim menepuk bahuku dari belakang. Aku menoleh, mendapatinya berpakaian seragam lengkap. Ternyata dia ikut dalam penangkapan itu.

“Apa yang terjadi Im ? Tadi aku lihat Bang Jon di bawa dengan tangan terborgol,” tanyanya penasaran. Boim tidak segera menjawab, dia menghela nafas berat. Bang Jon adalah satu dari beberapa teman dekatnya.

“Dia.. telah membunuh istrinya Nto”, desis Boim pelan. Nampak kesedihan terpancar di wajahnya.

“Hah ?” seru Anto tak percaya.

“Tiga hari yang lalu dia memergoki istrinya selingkuh dengan laki-laki pemilik mini market. Karena kalap, tanpa sadar dia menghabisi nyawa istrinya”.

Tiga hari yang lalu ? Itu kan malam mereka bertengkar, batin Anto. Terngiang kembali di telinganya suara gaduh malam itu.

“Sebenarnya sudah lama dia curiga kalau istrinya itu main hati di belakangnya, tapi perkerjaan yang mengharuskan dia untuk terus berpergian membuatnya sulit untuk membuktikan hubungan mereka. Hingga malam naas itu, dia mendapati istrinya sedang berdua dengan laki-laki itu dalam keadaan tanpa benang sehelai pun. Kamu bayangkan sendiri Nto.. laki-laki mana yang tidak emosi menyaksikan pemandangan itu.” Suara Boim bergetar ketika mengatakan itu.

Anto bisa memahami, karena dia sendiri jika berada di posisi itu juga tidak yakin bisa mengendalikan diri. Ternyata suara yang di dengar dari kamar mandi selama ini bukanlah suara Bang Jon. Tapi suara laki-laki itu. Membayangkannya Anto menjadi muak.

~Tamat~





This entry was posted in

2 comments:

  1. Wah, ini cerpen ya mbak? Awalnya kupikir visualisasi kisah nyata sampai menjelang ending.

    ReplyDelete
  2. lah kok malah jadi horor :(((

    ReplyDelete


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal