Friday, April 10, 2015

Punya anak yang suka coret-coret ? Deuu.. jangan keburu ilfill ya, karena ternyata coretan anak itu ada maknanya lho. Bahkan analisa coretan gambar anak (doodle) merupakan bagian dari ilmu grafologi, sebuah iIlmu yang mempelajari pesan yang terkandung dalam coretan tangan manusia, baik tulisan maupun gambar. Walaupun masih dikategorikan pada pseudoscience, ilmu ini diyakini mampu mengkorelasikan pola-pola coretan yang dihasilkan tangan dengan kepribadian, karena merupakan manifestasi dari suatu bentuk penyampaian pesan dari alam bawah sadar seseorang.

Lebih lanjut ilmu grafologi ini  membagi 4 jenis sketsa yaitu Lingkaran, Kotak, Segitiga dan Garis Lekuk-lekuk yang masing-masingnya itu menunjukkan karakter si pembuat coretan. Nah .. untuk lebih jelasnya adalah sebagai berikut :
  1. Gambar anak dominan lingkaran
  • Karakter anak ini penuh kasih sayang, cinta, suka memberi perhatian, sensitif, dapat melakukan interaksi sosial dengan baik, dan lainnya.
  • Cinta merupakan unsur penting dalam hidupnya dan minat akan kasih sayang merupakan kebutuhan terbesar bagi diri anak.
  • Umumnya kepribadian anak ini tertutup.
  • Minat dan bakatnya cenderung berhubungan dengan profesi kesosialan
  • Umumnya tidak suka permusuhan dan cenderung menjauhi sikap agresif, karena dia selalu mencari kedamaian, kasih sayang, dan persetujuan.
  1. Gambar anak dominan segitiga
  • Anak sedang labil, marah, kecewa, sehingga butuh perhatian lebih dalam.
  • Suka mengeksplorasi hal-hal yang baru, suka mendominasi pembicaraan
  • Biasanya karakter ini punya kemampuan memimpin yang bagus, cocok menjadi ketua kelas, kepala regu, pemimpin kelompok, dll.
  • Memiliki ketajaman berpikir dan pandangan yang kuat.
  • Sisi negatifnya, dia kerap tidak mau menerima masukan dari orang lain, suka memaksakan keinginan sendiri, selain juga sulit menjadi pengikut (follower).
  1. Gambar anak dominan segi empat
  • Sedang marah atau kesal, namun tingkatanya lebih rendah dibandingkan segitiga
  • Cenderung perfeksionis, konsisten, melakukan sesuatu dengan perencanaan matang, suka berolah raga
  • Penuh inovasi, berpikir secara logis, praktis, dan merupakan individu yang dapat diandalkan. Tata tertib dan disiplin adalah hal penting bagi mereka.
  • Negatifnya, terkadang apa yang dilakukannya sangat lambat. 
  1. Gambar anak berupa coretan campuran dan dominan spiral
  • Jika coretan anak bercampur baur, ada bulatan, segitiga, segi empat, namun didominasi garis yang melengkung-lengkung, berarti anak butuh kebebasan dan eksplorasi diri
  • Dari sisi karakter, biasanya anak ini kreatif, mencintai seni, suka mengekspresikan sesuatu lebih terbuka, mencoba hal-hal baru, ekspresionis, dll
  • Sayangnya biasanya ia sulit diatur, keras kepala, semaunya sendiri, dll. Imajinasi merupakan motivasi utama dalam dirinya.
  • Umumnya ia adalah anak yang superunik dan jiwa seninya tinggi. Gagasannya sangat kreatif dan sulit diduga, berbeda dari orang kebanyakan.
Ternyatanya lagi, sebenarnya kemampuan menggambar anak itu sudah berkembang bahkan sejak periode batita. Lebih dari itu gambar yang dihasilkan oleh seorang anak di setiap periode memiliki arti dan karakteristik yang berbeda-beda. Viktor Lowenfeld dalam bukunya Creative and Mental Growth (1982) meneliti tingkat perkembangan menggambar anak berdasarkan usia. Beliau menganalisis tentang periodisasi yang menjadi ciri umum lukisan anak-anak sesuai waktu (usia) dan tahap perkembangan sosial intelektual mereka, sebagai berikut:

a. Periode Coreng-moreng (Scribbling Stage)
Aira (4) 24062014
Periode ini berlaku bagi anak berusia 2 sampai 4 tahun (masa prasekolah). Gambar yang dibuat tanpa makna, hanya perbuatan meniru orang lain, tetapi merupakan latihan gerak motorik dari koordinsai gerakan tangan dan mata, gambar berupa goresan tipis tebal dengan arah yang belum terkendali. Periode ini terditi dari 3 fase, hanya setiap fase jaraknya sangat singkat sekali, sehingga dianggap satu fase.

b. Periode Pra Bagan (Pre Schematic Stage)

Aira (4,5) 211014
Periode ini berlaku bagi anak berusia 4-7 tahun (taman kanak-kanak). Sejalan dengan meningkatnya perkembangan anak, pengalaman anakpun makin bertambah, lingkup sosial makin luas, anak berkesempatan mencipta, bereksperimen, menjelajah, dan berbagai hal baru yang erat dengan perkembangan jiwa, rasa maupun emosinya. Anak mulai mengenal dunia baru, mengenal sekolah, teman sebaya, guru, dan lingkungan baru. Sehingga gambar yang dibuat oleh anak mulai menggambar bentuk-bentuk yang berhubungan dengan dunia sekitar mereka. Rumah, manusia pohon dan lingkungan sekitarnya menjadi obyek yang menarik perhatian anak. Terutama gambar manusia, jarang anak seusia ini menggambar manusia dari samping, mereka lebih menyukai gambar dari arah depan, karena dapat memuat unsur wajah yang lebih lengkap. Unsur warna kurang diperhatikan, anak lebih tertuju pada hubungan antara gambar dan obyek gambar. Warna menjadi subyektif karena tidak mempunyai hubungan dengan obyek. Sedangkan konsep ruang tak lain adalah apa yang ada di sekitar dirinya, menjadikan tidak logisnya antara obyek yang satu dengan obyek lainnya.


c. Periode Bagan (Schematic Stage)

Aira (5) Maret 2015
Periode ini berlaku bagi anak berusia 7 sampai 9 tahun. Sejalan dengan tahap perkembangan anak, pada akhir tahap ini perkembangan akal sudah mulai mempengaruhi gambar anak. Anak sudah mulai menggambar obyek dalam suatu hubungan yang logis dengan gambar lain. Konsep ruang mulai nampak dengan adanya pengaturan antara hubungan obyek dengan ruang, gambar mulai realistis, mulai mengarah ke bentuk-bentuk yang mendekati kenyataan. Ciri utama gambar anak pada fase ini adalah adanya garis dasar yang merupakan tempat obyek atau benda-benda berdiri, merupakan suatu perkembangan yang wajar. Muncul gejala yang disebut “folding over”, yakni cara menggambar obyek tegak lurus pada garis dasar, meskipun obyek akan nampak terbalik. Ciri lainnya, adanya gambar yang disebut “sinar X” (X-ray), yakni gambar yang berisi benda atau obyek lain dalam suatu ruang yang sebenarnya tidak kelihatan. Gambar dibuat berdasarkan ide anak itu sendiri, misalnya gambar rumah yang kelihatan bagian dalamnya seolah-olah rumah tersebut terbuat dari kaca bening. Warna mulai obyektif, artinya anak menyadari adanya hubungan antara warna dengan obyek. Disini anak telah menemukan konsep tertentu mengenai warna, yakni bahwa obyek tertentu akan memiliki warna tertentu pula. Ciri lain yang kurang menguntungkan, gambar nampak lebih kaku. Anak cenderung mencontoh gambar orang lain, hal ini karena berkembangnya sifat kooperatif di antara mereka.
Empat bentuk yang serupa, seluruhnya menghadap ke depan. (Lowenveld,1975)


d. Periode Awal Realisme (Early Realism Stage)

Anak usia 10 tahun membuat gambar dengan menggunakan berbagai garis dasar. Dahan yang rumit bertumpukdengan tumbuhan lain, matahari muncul di balik awan. (Lowenveld,1975)
Periode ini berlaku bagi anak berusia 9 sampai 12 tahun (kelas IV SD-VI SD) disebut pula “usia pembentuk kelompok”. Masa ini ditandai oleh besarnya perhatian anak terhadap obyek gambar yang dibuatnya. Bentuk-bentk gambar mulai mengarah ke bentuk realistis, tetapi nampak lebih kaku, hal ini sebagai akibat perkembangan sosial yang meningkat, mereka lebih memikirkan bentuk gambar yang dapat diterima oleh lingkungannya, akibatnya spontanitas berkurang. Anak mulai mengekspresikan obyek gambar dengan karakter tertentu, lelaki atau wanita secara jelas. Karakteristik warna mulai mendapat perhatian, walaupun belun adanya penampilan dalam hal perubahan efek warna dalam terang dan bayang-bayang. Dalam gambar adanya penemuan penggambaran bidang dasar sebagi tempat pijakan (ground) benda dan obyek gambar. Adanya garis horizon, walaupun fungsinya belum dimengerti, sehingga kesan perspektif akan kelihatan janggal. Terlihat adanya menghias (mendekorasi ) obyek gambar.

e. Periode Naturalistik Semu (Pseudo Naturalistic Stage)

Gambar lebih detail, memperhatikan lingkungan di sekitarnya. (Lowenveld,1975)
Periode ini berlaku bagi anak berusia 12 sampai 14 tahun. Masa pra puber. Gambar yang dibuat sesuai dengan obyek yang dilihatnya, sehingga timbul minat terhadap naturalisme, terutama pada anak yang bertipe visual. Anak mulai menggambar sesempurna mungkin, sehingga detail lebih diperhatikan, akibatnya spontanitas hilang. Oleh karena itu pada periode ini merupakan akhir dari aktivitas spontanitas. Anak menjadi kritis terhadap karyanya sendiri. Ia mulai memperhitungkan kualitas tiga dimensi (perspektif). Dari sekian banyak gambar yang diteliti oleh Viktor Lowenfeld, tidak ada satu pun gambar anak dari Indonesia yang dipilih menjadi sampel. Kenyataannya, ada sekitar 10 gambar anak-anak Indonesia yang sejenis, yakni gambar pemandangan alam dengan dua buah gunung yang diantaranya menyembul matahari dengan pancaran sinarnya. Di bawah gunung terhampar sawah atau sebuah danau atau laut dengan perahu layarnya. Semua ini ada kemungkinan akibat metoda mencontoh yang diajarkan di bangku sekolah dasar. Kedua, karena pengaruh lingkungan yang kental yang mempengaruhi anak, disamping memori anak memang kuat. Mereka mampu menyerap apa yang mereka lihat, baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti dari buku-buku komik, kalender, bahkan dari media visual lainnya (televisi, majalah, koran dan lain-lain). Oleh karenanya, alangkah lebih baiknya apabila sebagai orang tua kita mau mengambil langkah pertama, membuat suatu perubahan dalam membebaskan kreatifitas anak 

“Membebaskan” anak menggambar sama dengan membebaskan anak dalam menuangkan imajinasi dan mengungkapkan dirinya melalui gambar. Melalui menggambar, secara tanpa disadari anak dapat belajar memecahkan persoalan yang dihadapi. Dengan menggambar anak dapat bermain dan berekspresi dengan sepuas-puasnya. Jadi, tugas guru dan orang tua sebaiknya tidak mengajarkan konsep pendidikan seperti di masa lalu, dimana anak dianggap sebagai mahluk yang lemah, serba tidak tahu. Tugas orang dewasa hanyalah mengembangkannya secara alami.

Sumber : 
http://www.goikuzo.com/?p=912
https://bintangwaktu.wordpress.com/2014/04/20/593/

2 komentar

info yang bermanfaat dan bagus banget mak, Alfi kayanay tipe yang ke empat campurcampur dan benar banget kalo dia keras kepala, ternyata mengandung arti juga ya, seringnya dia coret2 di tembok, tapi sekarang udah engga lagi

REPLY

iya mak, aku juga baru tau nih, krn penasaran sama anak yang suka coret-coret, jadi aku cari-cari informasinya, begitu dapet ternyata ada maknanya, wah.. langsung menganga saya ^o^ ..

REPLY


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal

Meirida.my.id . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | for Meirida.my.id