Thursday, April 25, 2019



Agar Anak Kuat Menghadapi Celaan-Siang tadi aku syok ketika melihat Aira pulang sekolah dalam keadaan menangis. Aduh, skenario buruk pun mulai muncul di kepala. Setelah ditanya, Aira cerita, ternyata dia sedih karena gambar yang diwarnainya dikatain jelek oleh gurunya. Bukan hanya itu, prakarya bunga dari kertasnya pun dibilang jelek seperti terompet. "Padahal Aira udah capek ngerjainnya, Nda," keluhnya sesegukan.

Melihat buah hati tercinta menangis sesegukan begitu hatiku bener-bener serasa teriris. Ya Tuhan, tidak adakah kata-kata lain yang bisa digunakan untuk menilai karya anak? Tanya batinku dengan getir.

Jujur aja, aku sempat emosi mendengar cerita anak. Nyaris aku telepon gurunya untuk menanyai cerita lengkapnya. Tapi hal itu urung aku lakukan, karena sadar hal itu akan berdampak buruk bagi perkembangan jiwa Aira.

Jika orangtua membiasakan diri untuk selalu maju memberi pembelaan atas masalah yang  dihadapi anak, sampai dewasa nanti anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak mandiri dan selalu bergantung pada orangtuanya.

Tentu saja aku tidak mau hal itu terjadi. Sebagai orangtua jelas aku berharap Aira tumbuh menjadi manusia yang cerdas, mandiri, dan bertanggung jawab.

Tetapi membiarkan saja kekerasan verbal dialami oleh anak pun bukanlah pilihan yang bijak. Karena jika dibiarkan, kelak anak akan tumbuh menjadi orang yang tidak percaya diri dan selalu takut akan penilaian orang lain.

Lantas apa yang aku lakukan dalam hal masalah yang dihadapi Aira ini?

Agar anak kuat menghadapi celaan, aku melakukan hal-hal sebagai berikut:

1. Menanamkan keyakinan kepada anak bahwa dirinya berharga, jadi seburuk apapun bentuk penilaian yang diberikan oleh orang lain dia harus tetap tenang karena semua itu tidak selamanya penting.

2. Menanamkan konsep bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna kecuali Allah. Jadi jika ia menerima hinaan atau celaan dari orang lain, yakinlah bahwa orang itu hanyalah makhluk Tuhan yang pasti tidak sempurna. Jadi hinaan dari sesama manusia yang tidak sempurna tidak pantas untuk ditangisi.

3. Berkarya lebih baik dari pada diam tanpa melakukan apapun. Jadi jika karya kita dihina atau dicela oleh orang lain, selow aja, karena tidak semua orang bisa berkarya.

4. Menanamkan rasa syukur atas semua kemampuan yang diberikan oleh Allah. Kemampuan yang dimiliki oleh setiap orang itu berbeda, jika kita tidak cukup mumpuni di satu bidang, yakin saja ada bidang lain yang lebih baik kita lakukan.


Sepakat dengan peribahasa Jepang yang Mbak Dian Restu Agustina tulis dalam artikelnya yang berjudul Dampak Kata-kata Positif Pada Anak. "Satu kata yang membangun dapat menghangatkan tiga bulan musim dingin."

Peribahasa itu memang tepat sekali. Sejatinya, kritik dan saran itu sangat dibutuhkan dalam tumbuh kembang anak, hanya saja tentu saja dengan cara yang benar dan tidak menyakitkan. Terutama bagi anak-anak, yang pola pikir mereka masih sangat terbatas dalam mencerna informasi. Meskipun kritik atau pun saran yang kita berikan bertujuan baik, tetapi jika disampaikan dengan cara yang tidak tepat, maka akan berdampak trauma pada jiwa anak.

Mari perlakukan anak-anak di sekitar kita dengan lembut dan penuh kasih sayang, agar mereka pun tumbuh menjadi manusia dengan hati yang penuh cinta kasih, bukan kebencian.


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal.

Note : Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan dihapus.

Meirida Blog - Review dan Lifestyle . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | for Meirida.my.id