promo enfa

Wednesday, September 23, 2020

Deteksi Dini, Kenali Gejalanya, dan Obati Pikun Segera


Deteksi Dini, Kenali Gejalanya, dan Obati Pikun Segera


Kenali Gejala Pikun dalam Keluarga


Beberapa waktu lalu kami hampir saja mengalami musibah. Waktu itu sore hari, aku sedang menemani Dek Ziqi bermain di depan tivi, tiba-tiba aku mencium bau sesuatu terbakar. Dengan cepat aku berlari menuju dapur. Aku syok ketika melihat ruangan dapur sudah dipenuhi asap. Di atas kompor yang menyala tampak jelas panci rebusan obat papa sudah hangus, sementara tidak ada seorangpun di dapur.



Tanpa buang waktu segera kumatikan kompor dan membuka jendela dapur untuk mengeluarkan asap. Tidak lupa aku nyalakan kipas angin agar semua asap itu cepat keluar.



"Papa merebus daun obat?" tanyaku setelah berhasil menemukan papa. Papa terkesiap kaget mendengar pertanyaanku.



"Ya, Allaah. Iya, papa lupa. Sudah kamu matikan kompornya? Gimana? Hangus? Duuuh, inilah orangtua nih. Padahal niat papa tadi cuma mau ke depan sebentar kok, tapi lupa. Dasar pikuuuun." Papa memukul-mukul keningnya berkali-kali.



Sejak itu kami tidak izinkan lagi papa untuk beraktivitas di dapur tanpa pengawasan.



"Mer, kamu ada lihat kunci motor papa, gak? Perasaan tadi papa gantungin di sini deh, tapi kok ga ada, ya?" Tanya papa siang itu dengan wajah bingung. Aku yakin dengan karakter papa yang lumayan keras itu, dia pasti sudah mencari lebih dari 10 menit.



Aku tinggalkan aktivitas sejenak, kemudian menghampiri papa. Beberapa langkah mendekati papa, aku melihat ada sesuatu yang tergantung di lehernya.



"Nih, kunci motornya tergantung di leher Papa," jawabku seraya meraih kunci itu.



"Wah, itulah. Udah pikun kali papa nih. Maklumlah ... Faktor U. Hehehe. Makasih, ya," papa mengambil kunci yang tergantung di lehernya dengan wajah sumringah.



Sedangkan aku masih berdiri termangu sambil mengulang-ulang kata yang papa sebutkan tadi.


Pikun ...

Maklumlah ...

Faktor U ...


Pikun, bagi sebagian masyarakat kita sudah dianggap hal yang wajar jika dialami oleh lansia. 



Padahal, pikun merupakan sebuah penyakit yang seharusnya diobati, bukan sesuatu yang bisa dengan santainya dianggap wajar.


Inilah poin penting yang aku dapatkan ketika mengikuti webminar kesehatan dalam rangka Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia yang berlangsung pada hari Minggu, 20 September 2020 lalu.







Apa itu Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia?




Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia merupakan bagian dari Program Kampanye Edukatif #ObatiPikun yang diselenggarakan oleh PT. Eisai Indonesia (PTEI) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI), dalam rangka memperingati Alzheimer Awareness Month yang diperingati pada bulan September setiap tahunnya.



Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia ini membahas berbagai topik mengenai Demensia Alzheimer, deteksi dini dan penanganannya, yang keseluruhan kegiatannya tidak hanya ditujukan untuk dokter tetapi juga untuk masyarakat awam.



Festival ini diselenggarakan dengan tujuan untuk mengajak dokter dan masyarakat mengenali gejala dan segera obati pikun, yang di dunia medis disebut dengan Demensia. 


Festival ini menghadirkan beberapa narasumber yang ahli dibidang. Informasi lengkap tentang festival ini aku paparkan di akhir artikel, ya. 



Kali ini aku ingin menyampaikan bahwa acara ini benar-benar berhasil membuka mata dan kesadaranku tentang penyakit pikun atau demensia yang selama ini selalu dianggap hal yang wajar dialami oleh lansia.




Apa itu pikun dan bagaimana gejalanya?



Pikun alias Demensia merupakan sebuah sindrom gangguan penurunan fungsi otak yang dapat memengaruhi fungsi kognitif, emosi, daya ingat, prilaku, dan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari.






Gangguan penurunan fungsi otak ini menyebabkan penderitanya menunjukkan beberapa gejala berupa penurunan daya ingat dan kecepatan berpikir, serta perubahan prilaku yang membuat seseorang membutuhkan waktu lama untuk mengingat sesuatu dan lupa dengan apa yang baru saja ia lakukan.





Demensia ini terdiri dari beberapa jenis, yaitu:

• Demensia Alzheimer

• Demensia Vaskuler

• Demensia Elwy Bodies

• Demensia Frontotemporal

• Demensia Parkinson






Demensia ini memiliki beberapa faktor resiko, yaitu:

• Yang bisa dimodifikasi, seperti penyakit vaskular, hipertensi, metabolik, diabetes, dislipidemia, pasca cedera kepala, depresi, dan pendidikan rendah.

• Yang tidak bisa dimodifikasi, seperti usia lanjut, dan faktor genetik yaitu turunan dari anggota keluarga yang memiliki riwayat demensia alzheimer.






Alzheimer's Disease International dan WHO melansir bahwa terdapat lebih dari 50 juta orang di dunia mengalami demensia, dan hampir 10 juta kasus baru setiap tahunnya. Dari jumlah yang besar itu, Demensia Alzheimer merupakan kasus terbanyak dengan persentase sekitar 60-70%.


Bagaimana dengan Indonesia?


Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar, diperkirakan ada sekitar satu juta orang yang mengalami Alzheimer pada tahun 2013. Jumlah ini diprediksi akan meningkat dua kali lipat di tahun 2030, dan menjadi empat kali lipat pada tahun 2020.


Mengapa itu bisa terjadi?


Karena masih minimnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit pikun ini. Masyarakat menganggap pikun itu wajar pada lansia, tidak mengenali gejala yang ada, dan tidak melakukan pengobatan. 


Satu hal yang kita harus pahami, bahwa Demensia Alzheimer ini memiliki sifat kronis progresif yang artinya seiring bertambahnya usia maka semakin bertambah pula kerusakan otak yang terjadi.


Seperti yang sudah aku singgung di atas, Demensia Alzheimer merupakan penyebab utama ketidakmampuan dan ketergantungan lansia terhadap orang lain. Hal ini tentu saja berdampak secara fisik, psikologis, sosial, bahkan beban ekonomi tidak hanya bagi penderita tetapi juga orang-orang yang berada di sekitarnya.


Kurangnya pengetahuan dan kesadaran tentang Demensia Alzheimer ini juga mengakibatkan terbentuknya stigma kewajaran di masyarakat sehingga menghambat proses diagnosis dan perawatan.


Oleh karena itu, deteksi dini sangat perlu dilakukan untuk mengurangi percepatan kepikunan ini. Semakin cepat ditangani, maka semakin besar pula peluang untuk memperlambat laju kepikunan ini.




Deteksi Dini Demensia Alzheimer dengan Aplikasi E-MS (Electronic Memory Screening)







Pada acara Festival Digital Bulan Alzheimer yang diadakan pada hari Minggu, 20 September 2020 lalu, diluncurkan aplikasi E-MS atau Electronic Memory Screening.


Aplikasi E-MS ini akan menilai kondisi memori seseorang dengan memberikan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan kemampuan dan fungsi kognitif yang dimiliki oleh pengguna aplikasi.






Cara kerja aplikasi E-MS ini adalah sebagai berikut:

• Unduh aplikasi E-MS di playstore.

• Daftarkan data pengguna aplikasi.

• Isi data partisipan. Dalam hal ini tidak terbatas hanya pengguna aplikasi saja, namun juga bisa dilakukan pada orang-orang yang pengguna aplikasi daftarkan.

• Jawab beberapa pertanyaan yang muncul di layar.

• Setelah semua pertanyaan terjawab, di akhir akan muncul skor atau nilai. Skor inilah yang menentukan tindakan berikutnya. Jika nilai skor menunjukkan kondisi abnormal, maka selanjutnya pengguna aplikasi akan diarahkan ke menu 'directory' yang memberi rujukan kepada dokter-dokter terpercaya yang ada di sekitar pengguna aplikasi berdasarkan GPS. Dalam daftar directory yang muncul juga tersedia informasi jarak, nama dokter, spesialisasi dokter, serta nomor call center RS yang bisa dihubungi.


Selain memindai memori pengguna, aplikasi ini juga memberikan menu-menu informatif lainnya seperti artikel-artikel akurat seputar demensia, serta tips dan trik dalam merawat Orang Dengan Demensia (ODD). Semua penjelasan dipaparkan dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh orang awam sekalipun.



Mengapa menggunakan aplikasi? Seberapa efektifkan aplikasi E-MS ini dalam menilai kinerja otak pengguna?



Menurut dr. Pukovisa Prawiroharjo, SP. S(K) yang hadir sebagai salah satu narasumber, teknologi informasi dipercaya bisa menjadi solusi penanggulangan demensia karena beberapa alasan, yaitu:


• Masyarakat Indonesia sudah melek dan aktif menggunakan gadget.

• Infomasi yang dikelola baik melalui IT bisa merubah paradigma masyarakat.

• Terdapat paradigma masyarakat yang menganggap pikun itu merupakan sebuah hal yang wajar dialami oleh lansia.

• Masyarakat butuh edukasi terpercaya dari ahli, deteksi dini berbasis teknologi, dan direktori rujukan yang jelas dan terpercaya.



Terkait aplikasi E-MS ini, dr. Pukovisa Prawiroharjo, SP. S(K) menyatakan bahwa:



E-MS = Alat Deteksi Dini Demensia: Menggunakan AD8-INA, direktori doctor spesialis neurologis dan Rumah Sakit dan artikel demensia E-MS milik PERDOSSI yang disupport oleh PT Eisai Indonesia (PTEI)





Sedangkan untuk Tujuan Utama E-MS, Dokter Pukovisa menjelaskan sebagai berikut: 


• E-MS sebagai Alat Edukasi: E-MS digunakan sebagai alat edukasi untuk masyarakat umum untuk mengetahui tentang penyakit dementia.

• E-MS sebagai Alat Skrining Demensia: E-MS digunakan Alat Skrining untuk deteksi dini demensia.Tersedia direktori/ daftar Rumah sakit yang mempunyai klinik memori dan dokter spesialis neurologis yang praktek



Ragam Informasi Bermanfaat dalam Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia






Festival ini dibuka secara virtual oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan NAPZA Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Siti Khalimah, Sp.KJ, MARS, Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) PERDOSSI, DR. dr. Dodik Tugasworo P, SpS(K), dan President Director PT Eisai Indonesia (PTEI), dr. Iskandar Linardi. 


Beberapa topik yang disampaikan pada festival ini terbagi atas 2 yaitu untuk dokter dan masyarakat umum.



Untuk Dokter (dokter spesialis saraf, dokter umum, dokter seminat), topik yang dibahas adalah tentang:

• Pentingnya Pengobatan Sejak Dini Pasien Demensia 

• Kendala dan Tantangan Dokter dalam Pengobatan Pasien Demensia 



Untuk masyarakat umum, topik yang dibahas adalah tentang:

• Obati Pikun dengan Mengenal Gejalanya

• Demensia di Masa Pandemi



Dalam sambutannya saat membuka acara, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Siti Khalimah, Sp.KJ, MARS mengatakan, 



“Saat ini kita mulai memasuki periode aging population, dimana terjadi peningkatan umur harapan hidup yang diikuti dengan peningkatan jumlah lanjut usia (lansia). Indonesia mengalami peningkatan jumlah penduduk lansia dari 18 juta jiwa (7,56%) pada tahun 2010, menjadi 25,9 juta jiwa (9,7%) pada tahun 2019, dan diperkirakan akan terus meningkat dimana tahun 2035 menjadi 48,2 juta jiwa (15,77%). Jumlah lansia yang terus meningkat tersebut dapat menjadi aset bangsa bila tetap sehat dan produktif. Namun lansia yang tidak sehat dan tidak mandiri akan berdampak besar terhadap kondisi sosial dan ekonomi bangsa. Demensia Alzheimer merupakan salah satu ancaman bagi lansia di Indonesia saat ini."




Selanjutnya, Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) PERDOSSI, DR. dr. Dodik Tugasworo P, SpS(K) dalam sambutannya mengatakan, 


“Edukasi kepada masyarakat dan tenaga kesehatan secara terus menerus sangat penting. Sebagai bagian dari program kampanye edukatif #ObatiPikun yang kami canangkan bersama dengan PT. Eisai Indonesia (PTEI), maka kami mengadakan Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia ini. Para peserta akan mendapat penjelasan menyeluruh mengenai Demensia Alzheimer dari berbagai narasumber dibawah naungan PERDOSSI. Dalam kesempatan itu pula, peserta akan diperkenalkan pada sebuah aplikasi deteksi dini Demensia Alzheimer bernama aplikasi E-Memory Screening (EMS). Melalui Aplikasi E-MS ini kami berharap semakin banyak masyarakat yang mengetahui gejala awal Demensia Alzheimer dan juga bagaimana penanganannya.”




President Director PT Eisai Indonesia (PTEI), dr. Iskandar Linardi, dalam kesempatan ini menyatakan, 



“PT Eisai Indonesia (PTEI) memiliki filosofi human health care (hhc) dan telah berkontribusi dalam kesehatan masyarakat di Indonesia selama 50 tahun. PT Eisai Indonesia (PTEI) berkomitmen memberikan edukasi mengenai penyakit Demensia Alzheimer, terutama karena penyakit ini dapat dideteksi sejak awal sehingga dapat dilakukan penanganan secepat mungkin. Dalam rangka merayakan 50 tahun PT Eisai Indonesia (PTEI), kami bangga bisa mendukung PERDOSSI melaksanakan program kampanye edukatif #ObatiPikun dan mengembangkan Aplikasi E-Memory Screening (EMS).” 



Pembicara berikutnya, adalah dr. S.B. Rianawati, SpS (K) yang memaparkan seputar "Obati Pikun dengan Mengenali Gejalanya." 





Dokter Rien menyatakan bahwa pikun terjadi karena fungsi kognitif menurun disertai gangguan aktivitas keseharian, misalnya:


• Lupa nama orang yang sering ketemu

• Mengeluh lupa hanya bila ditanya, tidak bisa memberikan contoh apa yang dilupakan

• Sering kesulitan menemukan kata yang tepat saat berbicara

• Sering lupa hal penting, kemampuan bicara sangat terganggu

• Kehilangan minat untuk aktifitas sosial

• Tersesat, bahkan dilingkungan sekitar rumahnya



Dokter Rien juga menegaskan bahwa

Pikun bukanlah hal yang normal dalam proses penuaan. 


Lantas, bagaimanakah cara mengatasi penyebab pikun? Yaitu dengan meringankan gejala, memperlambat perkembangan penyakit serta membuat penderita dapat hidup semandiri mungkin.







Beberapa penanganan pikun ini meliputi:



• Karena tumor otak: operasi dan kemoterapi.

• Karena kurang nutrisi: makan bergizi seimbang; meresepkan suplemen

• Karena obat-obatan: memperbaiki gejala pikun dan meningkatkan fungsi otak

• Terapi stimulasi kognitif: untuk memperbaiki fungsi kognitif, efektif meningkatkan kualitas hidup. berolahraga atau permainan fisik, bermain kata atau angka, membaca buku cerita, menggambar, mewarnai, membuat karya seni, memasak, berkreasi

• Perawatan Paliatif: keadaan yang sudah parah, misal kanker stadium akhir dengan demensia: meningkatkan kualitas hidup di sisa umurnya, mengurangi rasa sakit dan membina kondisi psikisnya, konseling dan dukungan dari teman dan keluarga.


Narasumber selanjutnya adalah Dr. dr. Junita Maja Pertiwi, Sp.S(K), yang memberikan materi dengan tema "Demensia di Masa Pandemi COVID-19".



Menurut beliau, penyakit Alzheimer atau pikun berada di urutan ketiga dalam daftar penyakit yang paling sering menimpa lansia di Indonesia, sehingga pastinya perlu perhatian dari kita semua. Mengingat penyakit ini telah mengganggu fungsi luhur tubuh kita: fungsi tertinggi makluk hidup yang membedakan manusia dengan makluk lainnya.



Dokter Maja mengulas tentang banyaknya masalah yang terjadi pada Orang Dengan Demensia (ODD) maupun Caregiver-nya di masa pandemi COVID-19 ini. 



Dampak Pandemi COVID-19 pada ODD bisa terjadi dari: 


• Faktor Eksternal: risiko terpapar COVID-19, risiko menjadi pasien COVID-19, risiko depresi, risiko perburukan kognitif, risiko perburukan perilaku, risiko perburukan penyakit penyerta

• Faktor Internal: komunikasi verbal berkurang, relasi keluarga berkurang, proses berpikir terganggu, perawatan diri terganggu, higiene diri terganggu, imbalans nutrient, risiko cidera, risiko infeksi, inkontinesia, konstipasi



Sedangkan dampak pandemi pada Caregiver adalah: 



Adaptasi: Menjaga diri, Menjaga kebersihan, Menjaga jarak, Menjaga hati, Menghindari kelelahan, Menghindari stress, Menyadari keadaan



Maka Caregiver perlu Komunikasi Gaya Baru, dan juga Menerima Kenyataan Baru: ketika penyandang DA menjadi seseorang yang lain: buat situasi yang menunjang. Ketika caregivers tidak dapat mengubah keadaan: Menikmati keadaan dan tetap baik, meski ODD tidak lagi mengenali kita, namun mereka masih mengerti akan kebaikan hati (Bahasa hati).



Mendengarkan penjelasan dari beberapa narasumber yang ahli di bidangnya membuatku semakin paham bahwa penyakit pikun ini terjadi karena adanya gangguan penurunan fungsi otak.


Demensia bukanlah hal yang wajar dalam proses penuaan manusia. Bahkan jika kondisinya semakin parah, demensia bisa menyebabkan penderitanya bahkan orang-orang di sekitarnya berada dalam bahaya.. 


Finally, mari bersama-sama kita kenali gejala, deteksi dini, dan obati pikun segera.


Download Aplikasi EMS - Sahabat Kesehatan Otak Keluarga untuk membantu kita mendeteksi dini Demensia Alzheimer.





Semakin cepat dideteksi, semakin cepat didiagnosis, dan semakin cepat pula ditangani oleh para ahli, dengan begitu peluang sembuhnya demensia ini pun semakin besar

No comments:

Post a Comment


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal.

Note : Mohon maaf, komentar anonim dan link hidup saya anggap spam, ya.