Follow Us @soratemplates

Tuesday, February 7, 2017

Review K-Movie : A Muse, Ketika Penulis Renta Berimajinasi

Beberapa hari yang lalu, aku "ditantangin" oleh Mbak Vita Masli untuk nonton film yang dibintangi oleh Kim Go Eun. Tahu, kan, siapa itu Kim Go Eun ? Itu lho, yang jadi pengantinnya Goblin di K-Drama Goblin.

Silahkan di baca : K-Drama Goblin, Drama TV Sensasi Film Layar Lebar

Film A Muse ini besutan tahun 2012 lalu sebenarnya, tapi dengan "penuh arti" si Mbak satu ini nantangin. Waktu aku tanya recommended atau enggak, dia cuman jawab pendek plus hashtag #PenuhArti.
Hadeehh .. aku ditantangin gitu, ya nantang baliklah. Hahahaha.
*anaknya kompetitif, pantang ditantangin*

Alhasil, aku pun browsing cari tuh film, dan dapat.
Baru hitungan menit ditonton, busyeet ! Aku nyaris terjungkal karena kaget.
Hahaha ... ada pemandangan terong lenyot di depan mata.
Huahahaha.

*Mbak Vitaaaaa ... awas kamu yaaa*

Tapi aku tonton juga sampai akhir. Hahaha
*iya-iya-silahkan-toyor-aku*

Info Film

Judul            : A Muse
Sutradara      : Chung Ji-Woo
Penulis         : Park Bum Shin, Chung Ji Woo
Pemain         : Park Hae Ill, Kim Go Eun, Kim Moo Yul




Sinopsis Film A Muse

Lee Juk Yo adalah seorang penulis yang sangat ternama, dan juga seorang profesor di sebuah universitas. Karya-karyanya begitu terkenal, banyak orang dari berbagai kalangan menyukai hasil tulisannya.



Di usianya yang 70 tahun, Lee Juk Yo menyadari bahwa kemampuannya dalam penulis telah berkurang banyak. Hal itu sedikit banyak mempengaruhi kejiwaan Lee Juk Yo. Namun ia beruntung memiliki seorang murid yang sekaligus menjadi asistennya, bernama Seo Ji Woo yang sesekali datang berkunjung.

Suatu hari, Ji Woo menyarankan seorang gadis muda untuk membantu Juk Yo dalam mengurus rumah. Rumah besar dengan banyak buku itu memang membutuhkan seseorang untuk merawatnya, dan hal itu tidak mungkin dilakukan oleh Juk Yo sendiri. Gadis muda itu bernama Han Eun Gyo. Anak SMU yang kebetulan adalah tetangga baru mereka.

Eun Gyo adalah gadis remaja yang ceria, namun sedikit 'nakal'. Dia suka mentato bagian-bagian tertentu di tubuhnya. Di film ini tidak digambarkan begitu jelas bagaimana latar belakang keluarga Eun Gyo, tapi jika dilihat dari cara dia bersikap aku menilai Eun Gyo berasal dari keluarga broken home.

Melihat sikap Eun Gyo yang ceria dan juga bersahabat, Juk Yo menemukan kehangatan yang menyenangkan pada dirinya. Bukan hanya itu, tanpa ia sadari hal itu ternyata telah membangunkan hasrat lelakinya yang selama ini terpasung dalam tubuh rentanya. Tapi, kakek tua ini cukup waras, dia menyadari sepenuhnya bahwa tidak mungkin baginya untuk mengencani Eun Gyo. Terlebih lagi Eun Gyo sendiri hanya menganggapnya sebagai seorang kakek.



Karena itulah, Juk Yo kemudian mencurahkan semua imajinasi kelaki-lakiannya terhadap Eun Gyo itu ke dalam bentuk tulisan.

Namun masalah terjadi ketika si asisten yang selama ini membayang-bayangi Juk Yo mencurigainya.
Ditambah lagi, Ji Woo ternyata juga memendam perasaan cinta terhadap Eun Gyo.

***

Film ini sebenarnya cukup menginspirasi bagi orang-orang yang suka menulis, dan memiliki impian untuk menjadi penulis. Karena lewat film ini tergambar jelas, bahwa hasil buah pikiran seseorang yang ia tuang dalam bentuk tulisan akan abadi sepanjang masa.

Selain itu, film ini juga menceritakan tentang kodrat manusia yang tidak bisa dilawan, yaitu "menua". Bagaimana pergolakan batin seorang lelaki tua terhadap hasrat dan keinginan manusiawinya, serta ketidakberdayaan manusia menolak takdir menjadi tua.

Over all, film ini sebenarnya cukup menyentuh. Hanya saja ada adegan-adegan dewasa yang semestinya tidak perlu ada di film ini. Sekalipun adegan itu lahir dari sebuah imajinasi tokoh utama film ini, alangkah baiknya jika adegan itu di ganti dengan sebatas adegan roman biasa, tanpa perlu sedemikian vulgar.

Yes ... adegan roman mereka terlalu vulgar di mata aku.

Kadang aku suka heran sendiri, film-film yang beredar belakangan ini kayaknya seakan kurang pede kalo ga menambahkan adegan dewasa ke dalam filmnya. Padahal jika mereka telah memiliki cerita yang kuat, tanpa adegan dewasa pun film itu akan tetap disukai. Tapi, ya, gak bisa disalahkan juga sih ya. Sepertinya memang udah zamannya begitu, film kelas festival harus di bumbui adegan ranjang.

Permintaan pasar atau permintaan juri sih ?

Entahlah.

Tapi yang pasti, berkat film ini, Kim Go Eun berhasil meraih penghargaan sebagai Aktris Pendatang Baru Terbaik pada ajang Daejong Film Awards 2012, Korean Association of Film Awards Critics 2012, Blue Dragon Film Awards 2012, dan KOFRA Film Award Ceremony 2012.

Empat buah penghargaan sebagai Aktris Pendatang Baru terbaik di tahun yang sama dari ajang yang berbeda sudah cukup membuktikan kepiawaian Kim Go Eun dalam berakting.

Makanya aku rada-rada suka nge-hang juga ngelihat para haters yang membully dia di media sosial.
*lho ... kok jadi gosip ?*

Okeh, itu aja review dari aku tentang film ini.
Dan Mbak Vita, tunggu pembalasanku
Ha ... ha ... ha ...
*evil mode on*





No comments:

Post a Comment


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal.

Note : Mohon maaf, komentar anonim dan link hidup saya anggap spam, ya.