Thursday, March 5, 2015

Disudut kamar yang dingin dan lembab, ketika semua makhluk tengah terlelap, hanya gesekan daun pepohonan yang tertiup angin hadir meramaikan kesunyian malam, bersahutan dengan suara jangkrik dan beberapa kali klakson mobil. Lyn termangu dengan sebuah bantal lusuh dipangkuannya.

"Ada apa Lyn ? kamu ada masalah ?"
Belaian tangan itu terasa lembut jatuh di rambut Lyn. Lyn menggeleng lemah, sementara butiran bening itu masih bergelayut manja disudut matanya.
"Lalu mengapa kamu bersedih sayang ? Apa perbuatan mas ada yang menyakiti kamu ? Cerita donk Lyn, jangan buat mas bingung begini"
Lyn tidak kuasa menjawab pertanyaan lembut penuh perhatian itu, dia ambil bantal dan melarikan raungannya disela-sela empuknya. Kamu pasti bingung dengan sikapku mas, tapi maaf aku tak bisa berkata yang sebenarnya. Biarlah untuk sesaat rasa ini kumiliki sendiri.

[Tiga bulan sebelumnya..]

Siang itu Lyn tengah tenggelam dalam tumpukan file yang harus di periksa dan dicocokkan dengan data entry di database. Perkerjaan ini tidaklah rumit, namun cukup menyita waktu karena mencakup data entry semua departemen. Waktu sudah menunjukkan pukul 13 siang, berarti Lyn sudah melewatkan lagi jam makan siangnya. Lagi Lyn ?? hehe .. iya.. lagi.. memang sudah menjadi kebiasaan buruk bagi Lyn melewatkan jam makan siang kemudian tersiksa oleh rasa lapar pada 2 jam berikutnya. "Kenapa sih kamu suka nunda-nunda makan gitu ?" tanya Via suatu waktu. "Ngga sengaja Vi, karna keasyikan kerja ga sadar kalo waktunya udah lewat" Lyn hanya menjawab seadanya sambil cengengesan. "Ahh .. alasan" ujar Via sambil mencibir. "Yee.. suka-suka aku lah" jawab Lyn tidak mau kalah. Via hanya geleng-geleng kepala menanggapi jawaban Lyn sambil berlalu kembali ke meja kerjanya meninggalkan Lyn  yang tengah menyelesaikan santap siangnya yang tertunda. Lyn tidak memperdulikan Via yang beberapa hari terakhir ini bersikap jutek kepadanya. Baru patah hati barangkali. Lyn mencoba berpikir positif dalam hati.

Jreenggg.. sebuah suara super duper nyaring keluar dari ponsel Lyn sehingga nyaris membuatnya tersedak karna kaget, segera diseruputnya minuman dari botol bekal dengan pandangan tak lepas dari layar ponsel. Hanya nomor tanpa nama tertera disitu. Siapa ya ? nomornya kok rasa-rasa kenal ?

"Halo, selamat siang", sapa Lyn dengan bahasa formal. Kali-kali aja yang telpon adalah orang dari kantor pusat. Sesaat tidak terdengar jawaban dari seberang. Hanya bunyi deru angin diselingi helaan nafas yang samar-samar terdengar.
"Halo, selamat siang", Lyn mencoba sekali lagi menyapa peneleponnya. Karena masih tidak terdengar jawaban, Lyn  putuskan untuk menutup telpon itu. Hhh.. siapa sih di halo-halo in malah ga jawab, ganggu acara makanku aja..

Tit-dit-tit-dit.. ponsel Lyn berbunyi lagi. Kali ini bukan panggilan masuk, tapi pesan singkat. Hhm.. dari nomor tadi kaya'nya nih.

"Selamat siang, maaf sebelumnya, apa benar ini nomornya Evelyn?"
"Ya benar, maaf, ini dengan siapa ?"

Jreennnggg ... ponsel Lyn berdendang nyaring kembali, dan bisa ditebak itu adalah nomor yang sama dengan yang telpon dan sms barusan.

"Halooo, siang"
"Siang juga Lyn"
Dheg ! suara ini .. Lyn tergugu .. dengan sendok menggantung di mulutnya. Sesaat Lyn larut dalam lamunan flashback kenangan masa lalunya.
"Halo Lyn .. kamu dengar aku kan ?" suara itu membuyarkan lamunan Lyn dan kembali membawa Lyn ke alam sadarnya. Lyn tidak ingin menampakkan keterkejutannya, sebisa mungkin dia menata hati dan menjawab telpon itu dengan suara yang sewajarnya.
"Oh ya .. ini aku .. apa kabar ?" Lyn berusaha berbasa basi, tapi dia sadar, itu percuma karena suaranya masih serak dan bergetar. Ternyata dia masih belum bisa melupakan pemilik suara itu.
"Alhamdulillah.. kabarku baik. Kabarmu gimana Lyn?
"Hmm.. aku.. baik.. yah.. aku baik.. alhamdulillah"
"Kamu ganti nomor Lyn ? Mengapa ?"
Tentu saja supaya kamu ga bisa hubungi aku. Sebenarnya Lyn ingin menjawab seperti itu, tapi Lyn berusaha untuk tidak menampakkan sikap permusuhan dengan lelaki masalalunya itu.
"Oh itu karena HP ku hilang.. yah.. hp ku hilang" Lyn berusaha mencari-cari alasan yang masuk akal.
"Bukan karena menghindari aku kan Lyn ?" ternyata dia bisa membaca apa yang dipikiran Lyn. Tapi Lyn menyanggahnya. Sekalipun itu benar, tapi harga dirinya memaksa untuk tidak berkata yang sebenarnya.
"Menghindar ? Gak lah !" Lyn mulai ketus, karena merasa pertahanannya mulai goyah. Dia harus segera mengakhiri pembicaraan ini.
"Lyn.. aku rindu kamu", Lyn terperangah ditodong tiba-tiba seperti itu. Rindu ? apa maksudnya semua ini ?
"Mmm.. maaf aku sedang sibuk.. Assalamu'alaikum", tidak ada pilihan lain, Lyn segera mengakhiri pembicaraan itu.

Lyn memegangi dadanya sebelah kiri, berusaha meredam detak jantungnya yang berdetak dengan cepat. Dia merasa dunianya berputar, merasa tidak yakin dan setengah tak percaya dengan yang barusan terjadi. Setelah sekian lama waktu berlalu, setelah susah payah Lyn menata hidupnya kembali dan ketika Lyn telah memulai lembaran baru dengan orang lain mengapa dia hadir kembali ? Lyn telah merasa cukup tenang akhir-akhir ini karena dia merasa telah bisa berdamai dengan masalalunya dan bisa memulai langkah baru dengan Bayu kekasihnya saat ini, tapi mengapa dia datang kembali ? Dan satu lagi yang membuat Lyn bingung, dari mana dia mendapatkan nomor ponsel Lyn yang sekarang ? Karena seingat Lyn, dia tidak pernah memberikan nomor ponselnya yang baru kepada siapa pun.

Lyn aku rindu kamu... Lyn aku rindu kamu.. kata-kata itu selalu terngiang di telinga Lyn. Betapa Lyn ingin melupakan semua itu tapi entah mengapa suara itu masih bergema dengan jelas diruang telinga Lyn. Ada perasaan tidak enak menyusup dihati Lyn, dia merasa bersalah kepada Mas Bayu yang dengan tulus mencintainya. Lyn merasa dia bersalah karena tidak pantas menyimpan semua kenangan masalalunya itu sebagaimana dia telah berjanji kepada dirinya sendiri ketika Bayu melamarnya beberapa bulan yang lalu. Lyn sangat terharu melihat perjuangan Bayu melelehkan gunung es dihati Lyn yang membeku.

Tit-dit-tit-dit.. layar ponsel Lyn berkedip-kedip mengisyaratkan ada pesan baru masuk ke inboxnya. Lyn enggan membaca pesan tersebut karena dari melihat nomornya Lyn sudah tahu siapa pengirimnya. Tapi seakan ada yang sosok lain di diri Lyn yang berpendapat lain, dia mendorong Lyn untuk menekan tombol baca pada ponsel.

"Mengapa ditutup Lyn ? aku rindu kamu.. aku mohon maaf karena telah meninggalkan kamu, tapi itu semua bukan keinginan aku Lyn, aku terpaksa, sekarang aku kembali, mohon terima aku Lyn"

Lyn tidak membalas pesan itu, dan cepat-cepat menghapusnya dari inbox. Bagaimanapun juga Lyn tidak mau ada kesalahpahaman dengan Bayu nantinya. Terlebih lagi hari pernikahan mereka semakin dekat, Lyn sungguh-sungguh tidak mau dan tidak rela jika semua impian yang telah dia rajut bersama Bayu rusak oleh kenangan masa lalunya. Untuk jaga-jaga dari hal-hal yang tidak diinginkan Lyn pun segera menambahkan nomor itu ke daftar blacklistnya, dan mengaktifkan whitelist caller di ponselnya. Dengan begitu ponsel Lyn hanya akan menerima panggilan dari nomor-nomor yang terdaftar di phonebooknya saja.

Semenjak nomor itu masuk ke daftar blacklist, hati Lyn sedikit lebih merasa tentram, karena semua pesan yang masuk otomatis terfilter. Setiap hari tidak kurang ada sepuluh sms yang terfilter di ponsel Lyn. Pengirimnya hanya satu, yaitu dia yang dulu telah mencampakkan Lyn beserta harapan yang mereka bangun selama 3 tahun. Lyn tidak mengerti alasan yang terjadi dibalik kandasnya hubungan mereka, yang Lyn tahu saat itu ketika bunga cinta di hati Lyn sedang mekarnya, tiba-tiba saja tanpa ada alasan yang pasti Lyn menerima surat pemutusan hubungan secara sepihak. Lyn terpuruk dalam patah hati yang dalam, dan nyaris putus asa dengan cinta. Lyn kehilangan kepercayaan kepada yang namanya pria.

Seperti adegan drama, Lyn berkali-kali datang dan meminta penjelasan, namun berkali-kali juga Lyn harus menelan kepahitan ditolak dengan dingin oleh security yang berjaga di depan rumah. Lyn nampak tegar diluar, namun luka dihati Lyn tidak bisa dihapus dalam beberapa hari.  Bahkan ketika Lyn pindah ke kota tempatnya sekarang dia masih sangat sulit melupakan masalalunya itu. Terbukti pada cinta Bayu yang membutuhkan waktu 2 tahun untuk mengisi memori hati Lyn dengan cerita baru. Berkat Bayu Lyn bisa merasakan kembali artinya dicintai. Dia bisa membuat Lyn merasa istimewa dan perlahan dia pun mampu menghapus semua luka itu. Dan janji setia itu akan terikrar dalam hitungan hari kedepan.

Hari bahagia itupun tiba. Janur kuning sudah melambai-lambai menghiasi gerbang jalan menuju kediaman Lyn. Dari kejauhan suara organ pesta terdengar memutarkan musik-musik romantis. Lyn dan Bayu duduk bersanding, di pelaminan menjadi raja dan ratu sehari. Wajah-wajah haru dan bahagia nampak berkeliaran di sekeliling Lyn. Ya wajah-wajah itu yang dulu turut terpuruk ketika Lyn patah hati, sekarang telah berbias rona bahagia. Sama bahagianya dengan Lyn yang tengah bergandeng tangan disinggasana.

Ditengah suasana pesta yang sedang berlangsung, tiba-tiba pandangan Lyn menangkap sesosok bayangan yang berdiri jauh dibalik kerumunan tamu undangan. Memakai baju batik berwarna biru muda, dia memandang sendu ke arah Lyn dan Bayu. Lyn mengucek matanya berkali-kali memastikan penglihatannya tidak salah. Dan matanya memang benar, diantara kerumunan tamu undangan itu adalah dia yang telah Lyn lupakan. Mereka saling tatap untuk beberapa saat, namun beberapa saat kemudian dia memutar tubuhnya dan berlalu pergi. Disaat itulah Lyn terkesiap kaget melihat perubahan pada sosok itu. Ketika dia memutar tubuhnya, Lyn dapat melihat dengan jelas bahwa sebelah kakinya tidak ada, dia berjalan timpang karena ditopang tongkat penyangga di sebelah kirinya. Lyn ingin mengejar bayangan yang berlalu itu, namun Lyn sadar diri saat ini dirinya sedang bersanding. Lyn tidak ingin merusak hari bahagianya dengan skandal masa lalunya.

Bayang-bayangnya yang berjalan timpang itu tak bisa hilang dari benak Lyn. Semakin Lyn menepisnya semakin kuat bayangan itu hadir. Dan itu sungguh mengganggu keseharian Lyn. Hidup tenang dan tentram sepertinya akan menjadi kenangan jika Lyn tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang menari-nari dikepalanya. Tanpa buang waktu lagi, siang itu jam istirahat kantor Lyn minta izin kepada atasannya dan pergi mengunjungi alamat yang beberapa waktu yang lalu sempat dibacanya pada pesan yang terfilter.

Rumah itu sederhana, ada taman kecil di sebelah kiri, dan kolam kecil ditengah-tengahnya. Mirip rumah impian yang sempat Lyn cita-citakan ketika bersama 'dia' dulu. Ada dua pasang sandal terletak di depan pintu, lamat-lamat suara saxophone Kenny G terdengar dari kamar depan. Lyn celingukan mengintip diatara gorden yang berkain jarang, dia tidak segera mengetuk pintu, karena ingin memastikan bahwa dia berada dialamat yang tepat. Sebuah deheman tiba-tiba mengagetkan Lyn dari belakang, dia pun segera berbalik dan mendapati sesosok lelaki tua dengan kantong belanjaan di depannya. Lyn menjura hormat setelah mengenali pria tua itu, dan segera mengulurkan tangan menyalaminya.
"Assalamu'alaikum Oom, apa kabar ?" sapa Lyn ramah. Pria tua itu tak lantas menyahut, dia menatap Lyn lama, kemudian berlalu masuk kedalam rumah. Bingung juga Lyn mendapat perlakuan seperti itu dan nyaris putar arah untuk pulang, namun demi tujuan awalnya dia kembali menguatkan tekad.
"Ngapain bengong diluar ? Ayo masuk" suara pria tua itu dari dalam. Lyn pun menurutinya, dan segera melepas alas kakinya dan melangkah masuk kedalam dan kemudian duduk disalah satu kursi yang ada diruang tamu.
"Ada perlu apa kamu kesini ?", tanpa basa-basi Oom Gusman langsung menanyai maksud kedatangan Lyn. Lyn yang masih bingung ternyata tidak siap mendapat pertanyaan yang kurang bersahabat itu. Lyn menunduk dan berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan maksud dan tujuan kedatangannya.
"Kalau yang kamu cari Erick, kamu salah alamat, dia tidak ada disini"
"Tapi beberapa hari yang lalu saya menerima pesan dari dia bahwa dia tinggal disini Oom". Oom Gusman membuang wajahnya kesamping seakan tidak ingin mendengar kata-kata dari mulut Lyn.
"Sudahlah Pak, buat apa Bapak sembunyiin lagi", tiba-tiba Erick muncul dari kamar. Dia memakai baju kaos lusuh dan celana jeans yang dipotong serta tongkat penyangga di bahu kirinya. Lyn sontak berdiri melihat keberadaan Erick. Dia mencoba melangkah mendekati Erick, namun Erick menolak dan menyuruh Lyn untuk tetap duduk ditempatnya, seakan menolak untuk dikasihani. Melihat kemunculan Erick, Oom Gusman beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.

Lyn dan Erick terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing tanpa ada yang berusaha untuk memulai pembicaraan. Hanya mata mereka yang saling tatap seolah menyuarakan kerinduan yang begitu dalam. Lyn pun luluh, tanpa menyadari kodrat dirinya lagi, dia menghambur kepelukan Erick dan memecahkan tangis pilu di dada Erick. Untuk sesaat Erick kaget dan membiarkan Lyn dipelukannya, namun bayangan Lyn yang sedang bersanding menyadarkannya kembali dan segera dia mendorong Lyn untuk kembali ke dunia nyata. Hatinya ingin memeluk Lyn lebih lama, tapi dia sadar, akan ada yang terluka jika dia menuruti hatinya.

"Apa yang terjadi Rick ? Bagaimana kamu bisa begini ? Lalu mengapa sekarang kalian tinggal disini ? Trus Tante Ros dimana kok aku gak lihat dari tadi ?", bagaikan peluru lepas dari sarangnya, pertanyaan itu pun meluncur dari mulut Lyn tanpa bisa ditahan lagi.
"Ups .. nanyanya satu-satu donk", jawab Erick berusaha mencairkan suasana. Lyn tidak menanggapinya, dia tetap bersikeras menuntut penjelasan dari Erick.

"Lima tahun yang lalu, kami mengalami kecelakaan di Singapura. Mobil yang aku kendarai bertabrakan ketika dalam perjalanan membawa ibu general checkup ke rumah sakit. Bapak sempat koma beberapa bulan, sementara ibu tidak terselamatkan jiwanya dan aku sendiri pingsan beberapa saat, namun Alhamdulillah tidak ada luka yang berarti kecuali ya ini harus merelakan kaki kiriku diamputasi."

"Tapi mengapa kamu tidak hubungi aku Rick ? Aku benar-benar tidak tahu sedikitpun musibah yang kalian alami"

"Aku memang tidak memberitahu kamu saat itu, karena aku sendiri shock dengan kenyataan bahwa aku harus diamputasi. Ditambah lagi ibuku meninggal, sementara Bapak terbaring koma. Satu-satunya orang yang aku hubungi hanya sepupu aku, lewat dia aku titip pesan untuk menjaga kamu sementara aku fokus di Singapura."

"Lalu bagaimana dengan rumah kalian yang di Graha Asri ? Mengapa ketika aku berkunjung kesana beberapa kali tidak ada yang mengatakan apa-apa ?"

"Rumah itu kami jual untuk biaya pengobatan. Kembali dari sana aku membeli rumah ini dari tabungan yang tersisa. Saat itu aku dalam situasi yang sangat sulit Lyn, aku dan bapak tidak bisa kembali ke kota yang lama karena beberapa bulan tidak masuk kerja ternyata posisi bapak sudah digantikan orang lain, aku memaklumi kondisi bapak yang masih trauma, berkat saran dari salah satu teman bapak, akhirnya aku memutuskan untuk pindah dan memulai hidup baru di kota ini. Tapi yang aku heran adalah bagaimana bisa kamu tidak mengetahui musibah kami ? Jelas-jelas aku menitipkan surat kepada sepupuku untukmu, aku menjelaskan semua kejadian saat itu, karena untuk menelpon mu aku tidak bisa. Pasca kecelakaan itu ponselku rusak, dan semua nomor kontak hilang."

"Sepupu ? sepupumu yang mana ? satu-satunya surat yang aku terima adalah surat putus, dan itupun dikirim via Pos ke kampusku. Aku tidak pernah bertemu dengan siapapun dari keluargamu saat itu". Erick terdiam dan memandang Lyn lama. Dia mencoba mencerna dan memahami semua kata-kata yang diucapkan Lyn. Ada kegeraman tersirat diwajahnya. Namun dia tidak terlalu menampakkannya kepada Lyn. Justru dia berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Ngomong-ngomong kamu kesini.. suamimu.. tahu tidak ?" Lyn menggeleng lemah. Dia memang tidak memberi tahu Bayu kedatangannya kesini. Dia tidak ingin Bayu salah paham.
"Oh ya .. kamu dapat dari mana nomor ponsel ku ?", tiba-tiba Lyn teringat soal nomor ponselnya.
"Oh itu .. aku dapat dari .. seseorang.." Erick menjawab pelan seperti bergumam. Tiba-tiba dia bangkit dari duduknya, dan menyuruh Lyn segera pulang. Terang saja Lyn kaget menerima perlakuan seperti itu, tapi Lyn maklum tentu saja Erick tidak bermaksud buruk, dia hanya tidak ingin nantinya Lyn bermasalah dengan suaminya.

Sejak pertemuan itu, tanpa disadari Lyn selalu teringat dengan Erick. Meskipun mereka telah bertemu, akan tetapi pertemuan itu tidak berhasil memuaskan rasa ingin tahu Lyn, terutama perihal sepupu Erick yang katanya dititipin surat dan juga seseorang yang memberikan nomor ponsel Lyn kepada Erick. Sepenuhnya Lyn sadar sekalipun dia mendapatkan jawaban atas semua pertanyaannya itu, tidak akan bisa merubah apapun, karena antara Lyn dan Erick hanya sebuah cerita masalalu. Tapi Lyn tidak mengerti dengan hatinya sendiri, mengapa hatinya terasa perih setiap mengingat Erick ? Dan jantungnya masih berdebar hebat ketika mata mereka saling bertatapan. Cepat-cepat Lyn menggumamkan istighfar dihatinya, memohon ampun karena hatinya mulai dikotori kenangan masalalunya bersama Erick.

Hari ini genap sepuluh hari Lyn membangun rumah tangga bersama Bayu, sebagai suami Bayu sungguh sosok yang mendekati sempurna. Dia perhatian dan selalu bertutur kata yang lembut kepada Lyn. Bahkan dengan senang hati dia selalu menyiapkan air mandi hangat buat Lyn setiap kali mereka selesai memadu kasih. Seharusnya Lyn menjadi wanita yang paling bahagia didunia karena memiliki seorang suami seperti Bayu. Tapi ternyata tidak, Lyn tidak bisa sepenuhnya bahagia karena hatinya diliputi rasa bersalah yang teramat dalam kepada suaminya. Bagaimana tidak, saat-saat bahagia bersama Bayu seharusnya tubuh dan hati Lyn adalah milik suaminya secara utuh. Bukan sebaliknya ketika tubuhnya dalam dekapan Bayu, pikirannya melayang kepada Erick. Lyn sungguh tersiksa dengan apa yang dia rasakan. Dan puncaknya adalah malam ini, ketika Lyn tidak bisa merasakan sentuhan Bayu sebagaimana biasanya. Tubuh Lyn bagaikan pohon kayu yang mati rasa. Tentu saja Bayu bingung dengan perubahan Lyn, namun dia berjiwa besar dan mencoba untuk berfikir positif, dan beranggapan bahwa Lyn tengah penat dengan semua perkerjaannya. Dengan penuh sabar di rangkul dan dipeluknya Lyn yang tengah terduduk disudut kamar.

Lyn termenung di meja kerjanya, teringat atas kejadian semalam. Nafasnya sesak setiap kali terbayang wajah sedih Bayu. Otaknya berontak dengan keras menuntut Lyn untuk bertindak logis dan tidak larut dengan larut dalam perasaan sentimentilnya. Aku harus segera luruskan benang kusut ini.. Lyn membatin dan segera meraih tasnya. Dengan langkah tergesa Lyn segera menuju parkiran. Dia tidak memperdulikan tatapan aneh rekan-rekan kerjanya yang lain.

Lyn sampai dirumah Erick setelah berjibaku dengan macetnya jalanan siang itu. Dia memutar motornya mencari tempat yang teduh untuk parkir. Sembari mengunci motor, Lyn mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah yang tampak sepi. Seperti kunjungan Lyn beberapa hari yang lalu, hari ini pun sama, dari tempatnya berdiri Lyn bisa melihat ada dua sandal yang terletak didepan pintu. Lyn melangkahkan kaki mendekati pintu, beberapa langkah lagi dia sampai ketika matanya tertuju kepada sepasang sepatu yang terletak dibawah kursi diteras depan. Lyn menyipitkan matanya karena merasa mengenali sepatu itu. Tiba-tiba Lyn di kejutkan oleh suara keras dari dalam rumah.

"apa maksudmu menutupi semuanya dari Lyn ??!! apa masih kurang semua yang sudah kau rampas dari aku ? apa tidak cukup yang orangtuaku berikan untuk kamu ?? hah ??"

Itu suara Erick, dia bertengkar dengan siapa ? langkah kaki Lyn terhenti disudut teras, dan tanpa sadar dia menguping perdebatan itu. Tapi orang yang bertengkar bersama Erick tidak mengeluarkan kata sepatah pun.

"Aku sudah cukup bersabar ketika Evelyn tidak mengunjungi aku ketika di Rumah Sakit, aku mencoba memaklumi ketika Evelyn tidak memberi kabar, karena kamu bilang saat itu Evelyn sedang sibuk dengan skripsi, kamu tidak mau mengusik konsentrasinya. Tapi nyatanya apa ? Kamu tidak menyampaikan surat ku kepadanya, justru kamu kirimkan surat palsu ? Apa maksudmu sebenarnya ??!!"

"Maaf Rick, aku mengaku salah kepadamu dan juga Lyn"

Lyn terkesiap ketika mengenali suara yang berdebat dengan Erick, tapi dia masih tidak percaya dengan pendengarannya. Dia pun berusaha mendekatkan diri lebih dekat ke jendela depan.

"Maaf kamu bilang ? kamu lihat aku sekarang ? kamu lihat bapak ku ? orang yang telah merawat kamu seperti anaknya sendiri ? apa balasan yang kamu berikan kepadanya ? kamu justru mengkhianatinya, sehingga dia dipecat dari jabatannya, semua itu adalah ulah kamu !!"

"Itu tidak benar Rick, aku mengakui kesalahan yang aku perbuat kepada kamu, tapi aku tidak melakukan hal-hal hina kepada Oom Gusman. Satu-satunya kebodohan terbesarku adalah ketika membukakan password komputer Oom di kantor. Tapi sumpah Rick, aku tidak mengetahui sama sekali maksud Pak Teddy saat itu. Karena sebagai karyawan bagian IT semua masalah di komputer kantor adalah tugas dan tanggung jawabku"

"Aaaahh .. sudah aku tidak mau lagi mendengar apapun dari mulut kotormu, sekarang aku menuntut tanggung jawabmu atas kandasnya hubunganku dengan Lyn. Aku mau kamu berterus terang kepada Lyn, dan katakan yang sebenarnya !"

"Apa yang harus aku ketahui sebenarnya Mas ?" Lyn tidak bisa lagi menahan dirinya lebih lama, dan dalam sekejab dia telah berada diruangan itu, tepat di depan Bayu yang tengah berlutut. Melihat kehadiran Lyn yang begitu tiba-tiba sontak semua yang berada di ruangan itu kaget bukan kepalang. Terutama Bayu, dia menatap Lyn dengan tatapan rasa bersalah. Matanya berkaca-kaca, dengan perlahan dia bangkit dan berjalan mendekati Lyn.

"Lyn .. mohon dengarkan penjelasan Mas" Bayu memegang tangan Lyn berusaha membujuknya. Tidak bisa menerima begitu saja, Lyn mengibaskan tangan Bayu yang hampir menyentuhnya.

"Penjelasan untuk yang mana Mas ? untuk kebohongan surat itu ? atau untuk cinta palsu mu selama ini ?" bola mata Lyn sudah basah oleh air mata, namun sebisa mungkin ditahannya agar tidak jatuh. Tubuh mungil Lyn menggigil menahan emosinya, betapa dia merasa dipermainkan selama ini. Bayu yang ditatap tajam hanya menunduk dengan lemas.

"Mas minta maaf karena telah membohongi kamu dengan surat itu. Sebenarnya selama ini mas mencintai kamu Lyn, sangat mencintai kamu. Melihat kemesraanmu dengan Erick selama ini mas sungguh tersiksa. Maafkan mas Lyn, setan telah menghasut mas ketika Erick kecelakaan itu. Mas tahu, dan sangat menyadari kesalahan mas. Seharusnya mas tidak bersikap seperti ini. Tapi cinta mas sama kamu tidak palsu Lyn, justru sebaliknya. Mas teramat sangat mencintai kamu"

"Teganya kamu mas, kamu manfaatkan kesusahan orang lain demi kebahagiaan kamu sendiri. Puas kamu mas ? telah berhasil menipu aku selama ini ? puas kamu mas sudah bisa menikmati tubuh aku ?? puas kamu mas menghancurkan hati akuu ?" Lyn tidak bisa lagi menguasai dirinya, dia meraung sekerasnya sambil memukuli dada Bayu dengan dengan satu tangannya. Bayu yang merasa bersalah hanya diam membiarkan Lyn meluapkan emosinya.

Beberapa saat berlalu, Lyn masih sesegukan duduk bersimpuh bersandar didinding, sementara Bayu  kembali ke posisi awalnya, berlutut di depan Lyn dengan kepala tertunduk, dan sesekali terdengar isakannya. Lyn memandangi pria yang telah menjadi suaminya itu. Terlepas dari semua persoalan masa lalu itu, sebenarnya Bayu adalah pria yang baik. Selama dua tahun mengenalnya sekalipun Lyn tidak pernah dikecewakan. Tapi mengingat semua kebohongan yang dia lakukan selama ini hati Lyn merasa gamang untuk kembali mempercayainya.

"Kamu tau yang aku rasakan sekarang mas ?" suara Lyn memecah kesunyian dengan pelan. Bayu mendongakkan kepalanya menatap Lyn dengan penuh penyesalan.
"Aku merasa jijik sama diriku mas, membayangkan tubuhku yang sudah kamu sentuh dengan kebohongan itu, aku sangat jijik" Lyn berujar datar dengan kedua tangan yang menggosok-gosok lengannya seolah ingin melunturkan sesuatu dari sana. Bayu terpukul mendengar perkataan Lyn, dengan mata berlinang dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Diraihnya kedua tangan Lyn dan menggenggamnya dengan erat, dibawanya mendekati wajahnya. Kedua tangan Lyn bisa merasakan ada yang hangat membasahi tangannya. Dia menarik tangannya dari genggaman Bayu, namun tidak berhasil karena Bayu menggenggam tangan itu dengan kuat.

"Makilah mas dengan sepuas hatimu Lyn, pukuli mas jika itu bisa mengurangi sedikit luka di hati kamu. Tapi jangan tinggalkan mas Lyn.. jangan.. mas mengaku bersalah kepadamu dan juga Erick, mas terima segala sumpah serapah kalian, mas terima semua caci maki kalian, mas sadari semua perbuatan mas yang hina, tapi jangan abaikan perasaan mas terhadap kamu.. demi Tuhan Lyn cinta mas sama kamu sangat tulus.."

"Masih bisa kamu bicara cinta saat ini mas ? Hhh.. kamu adalah saksi mata betapa terlukanya aku ketika menerima surat palsu mu itu. Kalau saja aku tidak ingat Tuhan, mungkin saat itu aku sudah bunuh diri mas. Sakit rasanya hati ini mas.. sakiitt.. Beribu dugaan tak jelas muncul dikepala ini sehingga menumbuhkan kebencian teramat dalam kepada Erick. Mas tau berapa lama waktu yang aku butuhkan untuk melupakan kepahitan itu ? dua tahun mas, dua tahun.."

"Mas tau Lyn, amat teramat tau karena mas sendiri yang berada disisi kamu saat itu.. mas ha.." ucapan Bayu terpotong karena Lyn tiba-tiba bangkit dari duduknya dan melangkah pergi. Bayu segera mengejar Lyn dan berhasil menahan salah satu tangan Lyn.

"Lepaskan aku mas, aku tidak bisa dan tidak mau lagi berada disini. Aku capek.." sekuat tenaga Lyn berupaya melepaskan tangannya dari genggaman Bayu. Kali ini Bayu tidak menahannya lagi, karena dia bisa melihat kesungguhan hati yang bulat dari tatapan mata Lyn. Dia hanya bisa pasrah melepas Lyn yang semakin menjauh. Sementara dari kejauhan Erick hanya duduk terdiam mengamati drama yang terjadi dihadapannya. Ada bias puas tergambar diwajahnya karena semua tabir telah terbuka. Diam-diam dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya, dan dengan senyum tertahan dia menuliskan pesan.

"Aku berhasil Vi.. sekarang giliranmu"








Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal.

Note : Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan dihapus.

Meirida Blog - Review dan Lifestyle . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | for Meirida.my.id