Follow Us @soratemplates

Friday, December 15, 2017

7 Bahasa Cinta, Ungkapan Cinta Yang Selalu Ada di Hati Bunda


Sebagai ibu pekerja, aku pernah disebut sebagai ibu yang tidak punya perasaan. Kok tega, sih, meninggalkan anak usia batita dengan neneknya yang udah sepuh ? Kan, kasihan neneknya, jadi ga bisa menikmati hari tua dengan santai.

Padahal ini memang maunya mama mertua aku, lho. Dan itu juga ga aku lepas 100%, untuk makan anak, tetap aku yang siapin pagi-pagi hari sebelum berangkat ke kantor. Siang-siang tetap aku pantau via telepon, nanyain mama kewalahan atau tidak, nanyain kondisi anak. Semaksimal mungkin keep in touch-lah dengan perkembangan anak dan neneknya.

Selang beberapa waktu kemudian, ketika Aira aku masukin PAUD, nyinyiran mereka pun berganti. 

Anak ngomong aja belum bisa, kok udah dimasukin ke PAUD, sih ?
Sebesar apa, sih, gaji yang didapat sampai-sampai anak di nomor duakan gitu ?
Anak ditinggal lagi tidur, pulang ke rumah pun anak udah ngantuk, ntar anak ga kenal sama ibunya lagi baru tahu rasa, deh.

Ya, ampuuuun.
Sepertinya mereka bahagia banget, ya, mengomentari hidup aku. 

Mendengar nyinyiran yang bertubi-tubi gitu gak lantas membuat aku patah arang. Aku juga memilih untuk balas mendebat kata-kata mereka, karena memang rasanya percuma. Toh, yang tahu pasti alasan sebenarnya adalah aku dan lingkaran keluarga terdekat aku.

Orang-orang di luar sana, kan, tidak tahu betapa rumit permasalahan keluarga yang tengah aku hadapi. Dan pastinya tidak ada manfaatnya juga, kan, aku menceritakan aib keluarga sendiri kepada orang lain.

Waktu berlalu, suatu Minggu, aku sedang bermain dengan Aira dan ayahnya di halaman rumah. Beberapa tetangga lalu lalang di depan rumah dengan tatapan aneh. Kemudian salah satu dari mereka pun mampir. Mungkin saking penasarannya, mereka ga tahan untuk ga bertanya.

“Wah ... senangnya Aira main sama ayah dan bunda, ya. Padahal sering ditinggal, ya, mbak, tapi kok tetap dekat sama bundanya ?”

Aku dan suami pun saling pandang.

Kami berdua memang sibuk berkerja di luar rumah. Dari 24 jam sehari, 10-12 jam tersita oleh perkerjaan. Pulang dari berkerja, sesampainya di rumah rasa lelah pasti udah ga bisa disembunyikan. Tapi di sanalah letak perjuangan kami. Terutama aku sebagai ibunya yang meskipun turut berkerja mencari nafkah, tapi bukan berarti bisa lepas dari kewajiban ibu rumah tangga. Tapi sejalan dengan komunikasi yang baik dengan suami, sejauh ini semua hambatan itu bisa aku atasi.

Aku berkomitmen, betapa pun lelahnya raga sehabis berkerja, sesampai di rumah aku harus menanggalkan semua lelah itu, kemudian menggantinya dengan spirit baru, demi menciptakan waktu berkualitas bersama Aira. Aku melupakan semua hiruk pikuk perkerjaan rumah tangga yang pastinya sudah berteriak minta aku jamah. Tapi aku say, NO. It’s time for Aira. 100% just for Aira. Singkirkan semua gadget jauh-jauh dan fokus sepenuhnya kepada Aira.

Memangnya bisa berapa lama, sih ? Anak kecil, kan, cepat tidurnya. Apa iya bisa lama-lama ?

Aku akui, quality time-nya aku dan Aira di hari kerja saat itu rata-rata hanya 3-4 jam. Dari pukul 5 sore sampai 9 malam. Tapi kembali lagi, ini bukan tentang kuantitas, tapi tentang kualitas. Karena fakta yang aku lihat di lingkungan sekitar, banyak ibu-ibu yang full time di rumah, tapi tetap tidak memiliki kedekatan emosi dengan anak. Bahkan banyak anak-anak yang berkembang tidak sesuai dengan usianya. Mereka menjadi dewasa sebelum waktunya.

Itu karena apa ?

Karena ibu yang seharusnya menjadi guru pertama dalam kehidupan mereka tidak hadir dalam pendidikan emosi mereka. Karena kesibukan perkerjaan rumah tangga, kehadiran ibu digantikan oleh televisi, handphone, playstation, dan lain-lain. Bagi mereka asalkan anaknya diam dan ga rewel itu udah cukup.

Padahal tayangan-tayangan yang disaksikan anak-anak saat ini tidak semuanya aman. Baik secara moril dan etika apa lagi secara agama. 

Makanya tidak ada jaminan, ibu full time di rumah bisa lebih baik dalam mengasuh anaknya di bandingkan dengan ibu-ibu berkerja. Ibu berkerja itu yang pastinya adalah kurang tidur dan kurang istirahat, tapi untuk perhatian dan cinta sama anak mereka ga ada beda dengan ibu yang full di rumah. So, please, stop nyinyirin ibu berkerja, yaaa.

7 Bahasa Cinta, Ungkapan Cinta Yang Selalu Ada di Hati Bunda

Sebagai ibu pekerja, aku sadar sepenuhnya waktu yang kumiliki sangat kurang bersama anak, makanya agar anak tetap merasa dicintai dan diperhatikan, aku berusaha menerapkan 7 bahasa cinta dalam menciptakan bonding antara aku dan anak.

1.      Waktu yang berkualitas

Seperti yang aku kemukakan di atas tadi, waktu yang berkualitas hanya akan tercipta jika kuantitas yang dimiliki diiringi dengan kedekatan emosi antara orang tua dan anak. Waktu Aira masih kecil, aku biasanya mulai dengan memandikannya, setelah itu rebutan memilih baju apa yang akan dia kenakan. Kemudian kami bermain hingga tiba waktunya makan malam. Aku pun menyuapinya makan dengan sabar, kemudian kembali bermain, hingga waktunya tidur.

Sekarang Aira sudah tidak bayi lagi. Dia sudah berusia 8 tahun, dia sudah bisa mandi sendiri, dan juga makan sendiri. Tapi bukan berarti quality time untuknya berkurang. Justru harus semakin di tingkatkan. Kami biasanya mengisinya dengan nonton bareng setelah menemaninya membuat PR. Kadang-kadang menggambar bersama, membuat kolaborasi, Aira yang menggambar trus aku yang mewarnai. Kemudian hasilnya kami pajang di dinding kamar. Dia senang, aku pun bangga. We knew, we love each others.

2.      Kata-kata positif berupa pujian atau dukungan

Sebagian orang berpendapat bahwa pujian tidak baik bagi perkembangan jiwa anak, karena bisa mengakibatkan anak tumbuh menjadi manusia yang besar kepala. Ini adalah pendapat yang keliru. Sebuah pujian yang diberikan di saat yang tepat  dan cara yang tepat justru membuat anak tumbuh menjadi manusia yang percaya diri karena ia merasa dihargai.

Pertanyaannya, kapan saat yang tepat memberi pujian, dan bagaimanakah cara yang tepat dalam memberi pujian kepada anak ?

Pujilah anak saat ia berhasil melakukan sesuatu secara mandiri. Berilah pujian dengan tulus dan spesifik. Hindari kata-kata singkat seperti “bagus”, “baik”, “keren”. Lengkapi kata singkat tadi dengan kalimat pendukung yang spesifik.

Misalnya seperti ketika Aira berhasil merapikankan kamarnya sendiri. Dengan ekspresi takjub aku pun berkata, “Subhanallaah, pintarnya anak bunda. Bisa merapikan kamar sendiri, bantal sudah tersusun, selimut sudah dilipat. Terimakasih, ya, sayang.”

3.      Sentuhan fisik

Anak sangat membutuhkan sentuhan fisik berupa pelukan sayang, belaian, ciuman, atau elusan. Selalu menggandeng tangannya saat berjalan. Bahkan tepukan kecil di pundaknya saat ia sedang menghadapi masalah bisa menjadi kekuatan, lho. 

Sekali pun anak sudah tidur lelap, aku selalu membiasakan diri untuk memeluk dan mencium keningnya setiap malam. Begitu juga pagi hari, ketika akan berangkat kerja, aku dan suami selalu memeluk Aira dengan erat sambil membisikkan salam. Dengan cara ini rasa cinta dan perhatian kami langsung sampai kepada Aira.

4.      Tatapan mata atau kontak mata

Berikan tatapan mata yang hangat dan lembut saat berkomunikasi dengan anak. Pastikan posisi mata ibu dan anak sejajar sehingga menciptakan kedekatan yang lebih intens. Sebaiknya jangan melihat yang lain di saat anak berbicara dengan kita. 

Untuk hal ini aku pernah di protes oleh Aira. Hari itu hari libur, jadi kami sedang santai di kamar sambil bermain lego. Aira asyik membentuk rumah, aku pun fokus membangun benda lainnya. Trus dia bertanya sesuatu, dan aku menanggapinya tanpa mengalihkan pandangan dari lego yang aku pegang. 

“Bundaaaa, Aira tanya, lihat Airalah, Ndaa !”

Yup .. aku salah banget. Padahal udah bener, kan, yah. Quality timenya udah bagus, tapi jadi ga sempurna lagi, karena anak merasa terabaikan dengan fokus ibunya yang terbagi.


5.      Pelayanan

Yang dimaksud pelayanan ini tentu saja bukan menjadi pembantu anak, trus anak tinggal duduk manis di balik meja. Tetapi berusaha semaksimal mungkin memberi bantuan di saat anak membutuhkan bantuan. Atau dengan memberikan perhatian ekstra di saat anak sedang melakukan hal yang baik. Memberikannya obat yang tepat di saat demam pun adalah salah satu pelayanan terbaik yang ibu bisa berikan kepada anak.

Seperti yang Aira alami beberapa hari yang lalu. Sepulang sekolah, badannya terasa panas. Aku lihat matanya merah, dan bibirnya kering. Ketika di cek dengan thermometer, suhunya mencapai 380C. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera mengambil Tempra Syrup dari kotak obat. Sejak dulu aku memang hanya percaya  pada Tempra untuk menurunkan panas Aira saat demam. Mulai dari Tempra Drop ketika Aira masih bayi,  hingga sekarang Tempra Forte untuk Aira yang berusia di atas 6 tahun. Selain karena aman di lambung, Tempra Syrup ini juga tidak perlu di kocok karena larut 100%. Ditambah lagi dengan dosis yang tepat sehingga tidak menimbulkan over dosis atau pun kurang dosis. 


Memberikan Aira Tempra Syrup disaat demam adalah salah satu contoh pelayanan terbaik yang bisa aku berikan sebagai ibu.

6.      Pemberian hadiah

Hadiah tidak selalu berarti barang-barang mewah dan mahal. Bisa dengan benda-benda kecil, sederhana tapi diberikan dengan penuh ketulusan. Seperti membelikan makanan kesukaan anak saat kembali dari kantor. Hal sederhana, tapi berdampak besar dalam perkembangan emosi anak. Jadi sekalipun ibunya sibuk di kantor, dia tetap yakin ibunya sayang dan cinta kepadanya karena selalu ada di hati dan ingatan ibunya.

7.      Perhatian yang terpusat

Ditengah-tengah kesibukan yang luar biasa, terlebih lagi jika memiliki anak lebih dari satu, usahakan agar ibu memberikan waktu dan perhatian hanya kepada satu anak saja secara terpusat dan ekslusif tanpa kehadiran anak-anak yang lain. Misalnya di suatu hari, ibu mengajak anak pertama jalan-jalan, disaat bersama dengannya bicaralah dari hati ke hati, dan sungguh-sungguh mendengarkannya. Di lain hari, giliran anak kedua diperlakukan sama. Kemudian, barulah lakukan bersama-sama seluruh anggota keluarga.

Perhatian yang terpusat ini sangat baik bagi perkembangan jiwa anak yang sehari-harinya pasti berebut perhatian orang tuanya dengan saudara-saudaranya yang lain.

Jangankan dengan saudara kandung. Aira saja, ketika berkumpul dengan para sepupunya, aku tetap berusaha meluangkan waktu untuk melipir sejenak dari kerumunan itu, mengajaknya ngombrol kemudian mendengarkan dia bercerita. Mungkin hanya sekitar 15-20 menit, tapi itu telah mengembalikan kepercayaan dirinya yang bisa saja merasa terabaikan oleh kesibukan orang-orang dewasa di sekitarnya.

Memang tidak ada orang tua yang sempurna di dunia ini, baik itu ayah atau pun ibu. Dan pastinya tidak ada rumusan baku yang bisa menjamin kebahagiaan seseorang di dunia ini, termasuk anak kita sendiri.

Tapi aku meyakini sepenuhnya, dalam dunia anak, tidak ada yang lebih sempurna dari pada cinta seorang ibu yang tulus. Karena cinta seorang ibu itu mampu memberikan rasa aman, memberi rasa dihargai, membuat diri anak merasa berarti.
Seorang ibu sekalipun dengan semua keterbatasannya, tidak akan pernah berhenti memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anaknya, karena memang akan #SelaluAdaCintadiHatiBunda.
 =====
Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger PerempuanNetwork
dan Tempra.




No comments:

Post a Comment


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal.

Note : Mohon maaf, komentar anonim dan link hidup saya anggap spam, ya.