Sabtu, 09 Mei 2015

Bayang Suram di Rumah Sakit Umum

Siang ini, sembari mengerjakan beberapa laporan yang kemarin tertunda akibat listrik padam, aku menyetel tembang lawas di media player kompie. Awalnya sih biasa aja ya, ga ada yang spesial. Meskipun mulut ini ikut komat-kamit mengikuti lirik beberapa lagu yang kutahu. Sampai ketika satu intro lagu yang sangat populer dari Iwan Fals membuat ingatanku flashback ke kejadian 7 tahun yang lalu. Satu kejadian yang tak akan pernah terlupakan seumur hidup, dan menyisakan segumpal dendam terhadap sesuatu yang bernama Rumah Sakit Umum.

Masih segar diingatanku waktu itu sekitar bulan Desember 2008, suatu hari sekitar pukul 9 malam, ketika kami sedang menonton tivi, tiba-tiba ibu mengeluhkan dadanya sesak dan susah bernafas. Melihat mukanya yang pucat dan nafasnya tersengal-sengal, saya dan kakak langsung membawa ibu ke klinik terdekat. Setelah di periksa beberapa saat, dokter menyarankan ibu dibawa ke rumah sakit saja, karena peralatan di sana lebih lengkap. Khawatir dengan kondisi ibu yang semakin sulit untuk bernafas, kami menelpon taksi, lalu membawa ibu ke Rumah Sakit Umum. Saat itu kondisi keuangan kami memang sedang sangat sulit, karena bapak sudah tiada, sementara aku berkerja sebagai admin dengan jumlah gaji yang pas-pasan untuk makan. Sedangkan kakak tidak berkerja, semata-mata  mengandalkan suaminya yang berkerja sebagai buruh di bengkel las. Jadi pilihan ke RSU saat itu adalah pilihan yang kami rasa sangat tepat. Terlebih lagi saat itu pemerintah sedang mendengungkan program pengobatan gratis bagi keluaga kurang mampu. Jadi rencananya, sementara ibu di rawat, kakak akan mengurus surat-surat yang dibutuhkan untuk pengobatan gratis itu.

Pukul 11 malam kurang lima belas menit, kami sampai di rumah sakit, langsung menuju UGD karena kondisi ibu semakin mengkhawatirkan. Tiba di UGD, kami membaringkan ibu di salah satu tempat tidur yang kosong, mukanya semakin pucat mungkin karena pasokan oksigen yang tidak lancar di didarahnya. Menunggu beberapa saat tidak ada petugas yang datang, lalu kakak pergi keluar mencari dokter jaga. Tidak lama kemudian kakak kembali bersama seorang perempuan berbaju putih dengan stetoskop di lehernya. Label namanya tidak nampak jelas, karena tertutup oleh rambut panjang yang menjuntai dari bahunya. Dia memeriksa ibu dengan stetoskopnya, sebentar, sangat sebentar. Hanya tiga kali tempel di dada ibu, dia pun selesai. Wajahnya dingin tanpa ekspresi.

"Jadi gimana ibu saya, Dok ?" kakakku buka mulut, bertanya kepada si Dokter.

"Ibu anda tidak apa-apa, hanya kecapean, tidak perlu dirawat", jawabnya datar. Kami bingung dengan jawabannya yang bilang ibu 'tidak apa-apa', sementara ibu masih pucat dan susah bernafas.

"Tapi Dok, ibu saya masih susah bernafas, mukanya juga pucat", ujar kakak merasa tidak puas. Dokter itu melihat ke arah kakak saya dengan tajam. Seperti marah atas perkataan kakak saya barusan.

"Saya dokternya di sini. Jadi kalau saya bilang ibu anda tidak apa-apa, berarti ibu anda memang tidak apa-apa. Silahkan pulang, jika terjadi sesuatu kembali lagi kesini". Usai berkata itu dia melangkah pergi. Rasanya aku ingin nonjok muka songongnya itu karena kesal, tetapi tidak jadi, benar juga yang dikatakannya. Dia adalah 'dokternya' disini. Dia yang berhak menentukan pasien dirawat atau tidak. Tidak ada pilihan lain, dengan perasaan gusar kami membawa ibu pulang.

Sesampai dirumah, waktu telah menunjukkan pukul 12 malam, kakak memapah ibu lalu membaringkannya dikamar, sementara itu aku  berusaha nego ongkos dengan supir taksi. Untungnya supir taksi itu baik hati, dia bersedia mengurangi ongkosnya yang tidak menggunakan argo. Kami sepakat di angka 50 ribu. Belum lagi supir itu menyalakan mesin mobilnya, tiba-tiba terdengar teriakan histeris kakak dari dalam, kontan hal itu membuat aku berlari ke dalam. Tubuh ibu kejang dengan wajah membiru. Aku panik, namun syukurnya tidak kehilangan akal sehat. Secepat kilat aku kembali ke luar, dan Alhamdulillah taksi itu belum pergi, Ternyata dia sempat mendengar teriakan kakakku tadi. Kami kembali membawa ibu ke rumah sakit.

Sepanjang perjalanan aku dan kakak sempat berdiskusi perihal rumah sakit tujuan kami. Disatu sisi kami ingin ibu dirawat di RSU karena bisa di upayakan biaya pengobatan gratis.  Namun perlakuan dingin dari dokter di RSU beberapa saat sebelumnya membuat kami sepakat membawa ibu ke rumah sakit swasta saja. Memang berat di biaya nantinya, tapi yang kami pikirkan saat itu adalah keselamatan ibu. Yang penting ibu selamat dulu, masalah uang bisa di cari, bisikku dalam hati.

RS Ibnu Sina adalah pilihan kami berikutnya, karena RS itu yang terdekat dari  posisi kami saat itu. Begitu taksi memasuki pelataran UGD, paramedis berdatangan serba cepat, menyambut ibu dengan brankar yang telah standby di koridor UGD. Kami merasa terharu dengan pelayanan rumah sakit itu, karena paramedisnya sigap dan tidak banyak bicara. Setelah melakukan pemeriksaan mendalam, seorang pria paruh baya menghampiri kami dan memberitahu bahwa ibu harus dirawat intensif di ICU karena mengalami gangguan jantung. Tentu saja perkataan dokter tersebut mengagetkan kami. Padahal hanya selang satu jam yang lalu dokter di RSU mengatakan ibu kami tidak apa-apa, hanya kecapean, namun dokter di sini mengatakan ibu mengalami gangguan jantung. "Terlambat sedikit saja, saya khawatir ibu anda tidak tertolong lagi", serrrrrr.... tubuhku serasa seperti diguyur air es mendengar kata-kata dokter itu. Kakiku menjadi lemas tidak bertenaga. Terngiang kembali kata-kata dokter di RSU tadi, darahku langsung mendidih membayangkan keteledorannya dalam mendiagnosa penyakit ibu.

Sejak itu saya dan kakak berjanji dalam hati, tidak akan pernah lagi berurusan dengan yang namanya RSU. Mungkin dengan status PNS di dadanya, membuat mereka tidak sepenuh hati dalam melayani pasien. Toh tanpa ada pasien pun gaji mereka tetap jalan. Beda donk dengan RS swasta, dimana pasien adalah sumber pendapatan mereka. Terdengar sinis ya ? Sorry, saya tidak tahu harus bicara apa lagi karena jujur saja sampai detik ini, saya masih susah untuk memaklumi kata-kata dokter itu. Semoga saja asumsi saya ini salah, dan tidak ada pasien-pasien lainnya yang bernasib sama seperti ibu. Aamiin.

2 komentar:

  1. memang begitulah, kadang lembaga pemerintah kurang melayani pinginya malah dilayani

    BalasHapus
  2. Yah itu kadang kenyataan di lapangan ya mak...sedih sekali.

    BalasHapus


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal