Kenali Darah Haid Yang Beresiko Penyakit

7 dari 10 wanita tidak pernah memperhatikan warna darah haid mereka ketika akan mengganti pembalut. Faktanya warna darah haid tertentu bisa mengindikasikan tubuh sedang menderita penyakit.

Upaya Pelestarian Sungai Yang Patut Dijadikan Contoh

Tahu kah kamu ? Ternyata ada satu daerah di Indonesia ini yang masyarakatnya selalu berupaya melestarikan sungainya ? Bahkan mereka rela untuk tidak mengambil ikan di sungai itu dalam waktu tertentu demi menjaga agar habitat alami sungai tetap terpelihara.

10 Best Couple Yang Bikin Baper

Kalo bicara tentang K-Drama, apalagi yang genrenya roman gitu, pasti ga akan bisa lepas dari yang namanya best couple. Kemampuan mereka dalam menyerap karakter yang diberikan penulis dan juga kemampuan mereka dalam mentransfernya kepada penonton berhasil membuat penonton terbawa perasaan, meskipun drama itu sendiri telah usai masa tayangnya. Istilah orang-orang sekarang nih, chemistry-nya dapet banget !

Kenali Penyebab dan Gejala Anyang-anyangan

Anyang-anyangan merupakan gejala awal infeksi saluran kemih adalah suatu gejala dimana penderita merasa selalu ingin buang air kecil, tetapi kuantitas urine sedikit. Dalam beberapa kasus, saluran kencing terasa panas dan perih

Tips Melicinkan Pakaian Tanpa Setrika

Menurut aku, menyetrika itu adalah perkerjaan yang sangat monoton, menyita waktu, bikin gerah, sekaligus bikin kaki selalu kram atau kesemutan. Dengan kata lain membosankan.Ada yang satu team sama aku ga, nih ? Kalo iya, yuk ngacung dengan komen pake hashtag #TeamOgahNyetrika

Selasa, 15 Desember 2015

Flying with Lion Air, like flying with a friend


Judulnya lebay ga sih ?

Haha.. sok atuh, biarin aja, lebay dikit ga papa. Hehe ..

Karena diriku emang lagi lebay-lebaynya nih, akibat beberapa minggu ga ngeblog, rasanya kok ya seperti bertahun-tahun gitu. Jadi kaku lagi deh depan layar monitor. Otak kayanya udah over loaded sama ide, jadi begitu sekali ada waktu luang kaya gini, ide-idenya pada berebutan buat ditulis lebih dahulu. Tapi mereka sepertinya harus ngantri lebih lama lagi, karena hati kecil ini lebih syur buat ceritain pengalaman seru penerbangan kemarin sore.

Ceritanya gini, zaman dahulu kala hari Jumat sore aku menerima email dari salah satu staff HRD kantor pusat. Emailnya ternyata berisikan tiket penerbangan ke Jakarta. Waktu dibuka dan melihat nama pesawat yang tertera ditiket itu, awalnya aku merasa kecewa. Yaaah, kok Lion Air sih ? Kenapa ga pake yang lain aja ? Lion Air kan terkenal banget sama delaynya.

Tapi, yah aku ga mungkin protes toh, wong tiketnya udah dipesan ya akunya harus terima donk. Biar ga lupa, tiket tadi aku print trus masukin ke amplop.

Hari keberangkatan pun tiba.

Minggu pagi, mobil travel langgananku pun datang. Seperti biasa, selalu tepat waktu. Cuma kali ini aku ga bisa duduk di samping pak kusir yang sedang berkerja supir seperti biasanya, dan terpaksa duduk dibangku belakang. Suatu pilihan yang biasanya aku pasti tolak. Tapi karena khawatir ga bisa check in tepat waktu, aku pun mengalah. Yo wes lah, kali ini aku duduk dibelakang ga papa, Jadi pelajaran aja buat kedepannya, biar kapan-kapan kalau mo pesan travel sekalian request tempat duduknya.

Tapi kabar baiknya adalah, semua penumpang yang ada didalam mobil travel itu tujuannya adalah sama, yaitu bandara. Dan jadwal penerbangan mereka ternyata satu jam lebih awal dari jam penerbangan ku. Itu berarti mereka juga harus check in lebih awal kan ? Padahal jam udah nunjukin pukul 8 pas, Biasanya perjalanan dari Kota Duri ke Pekanbaru itu normalnya adalah 3 jam, berarti sekitar pukul 11 nyampe di Pekanbaru. Tapi itu pun baru nyampe Rumbai, belum dalam kotanya. Karena jalanan yang macet, biasanya aku nyampe di tempat tujuan bisa-bisa pukul 12, jadi kurang lebih 4 jam lah perjalan dari Kota Duri ke Pekanbaru.

Karena penumpang tadi jadwal penerbangannya pukul 12.05, alhasil supir travelnya kudu putar otak dong ya. Ga bisa lagi kan make cara konvensional yang makan waktu 4 jam itu. Dan akhirnya dia pun ngambil pilihan yang beresiko, yaitu ngebut. Ga kemana, jarum speedometernya hampir-hampir nyentuh angka 100 deh. Aku yang paling ga suka ngebut, cuma bisa pasrah, pejamin mata dan berdoa dalam hati. Ya Allah selamatkanlah kami sampai tujuan, aamiin.

Dan Allah pun mengabulkan doa kami. Pukul 11 kurang 5 menit, kami udah nyampe di bandara dalam keadaan mabok darat. What ?? Iya beneran, Aku yang biasanya tahan jalan darat sejauh apa pun jadi ikut-ikutan mabok. Gimana ga mabok, duduk dibangku paling belakang, dengan kecepatan 100 km/jam, Syukur Alhamdulillah badanku masih utuh, setelah kebanting kiri-kanan waktu lewat tikungan.

Sesampai di bandara, aku lega. karena masih banyak waktu tersisa buat check in. Setelah menenangkan diri, aku pun melangkah seraya menyeret koper dengan langkah ringan. Setelah melewati proses check in yang ga ribet, aku pun menuju food court untuk merecharge energi yang tadi terkuras diperjalanan. Laper booo, laper. Dan sepiring nasi goreng pun ambals seketika. Haha..

Setelah kenyang, dan melirik jam yang jarumnya udah bergerak dari angka satu, aku segera memasuki ruang tunggu. Dan disinilah romansa dengan Lion Air ku bermula.

Jadwal penerbangan yang seharunya pukul 13.35 WIB, diundur menjadi pukul 15.05 WIB. Hmm .. satu setengah jam harus aku lalui dengan duduk manis tanpa melakukan sesuatu ? Ga aku banget deh. Tapi mo buka lappy di tengah suasana hati yang lagi crowded itu pun rasanya bukan pilihan yang bijak. Bisa-bisa ntar aku cuman bakal nulis bermacam keluhan yang udah jelas ga akan memberi solusi apa pun. 

Dan, Allah pun dengan bijaksananya mengirimkan seorang teman yang sangat ramah untuk menemani kegundahanku. Namany Elly, dia Chinese asli Jakarta, yang baru pertama kali datang ke Pekanbaru. Tapi udah berkali-kali terbang dengan Lion Air. Elly bilang, kalo dikumpulin semua waktu delay yang udah dia alami bersama Lion Air, mungkin setara sama hari libur anak sekolah. Ck.ck.ck.. segitunya El ? Iya lho, katanya dengan senyum lebar tanpa ada rasa sesal.

“Tau suka delay gitu kenapa kamu masih pilih Lion Air ?” tanyaku kemudian.
“Kalo cuman mikirin delaynya sih, aku emang ga akan milih Lion Air lagi. Tapi aku mikirnya gini, kalo aku ga milih Lion Air, dan puluhan atau ratusan calon penumpang lainnya juga berpikiran sama, lama-lama pesawat ini ga bisa terbang lagi karena sepi penumpang. Kan kasihan para perkerjanya. Jadi dengan tetap memilih Lion Air, dan calon penumpang lainnya juga begitu, aku berharap Lion Air akan tetap beroperasi sehingga bisa menafkahi karyawannya dengan normal. Tentu saja dengan catatan, aku ga sedang buru-buru atau dalam keadaan mendesak.” Jawab Elly dengan wajah santai.

Mendengar jawabannya yang panjang itu, aku sempat mikir, jangan-jangan ni orang keluarganya ada yang kerja di Lion Air. Kok bisa-bisanya dia mikirin nasip karyawan Lion Air. Padahal dengan seringnya delay, pelayanan yang diberikan Lion Air ga memuaskan lagi kan ?

Tapi Elly sepertinya bisa membaca pikiranku, karena beberapa saat kemudian dia bicara lagi, “Kenapa Mer ? Kamu pasti ngira aku keluarga dari karyawan ya ? Hehe.. gak kok. Beneran deh. Aku bisa punya pikiran itu karena aku ga dalam keadaan mendesak atau buru-buru harus menghadiri acara penting. Makanya delay 1 atau 2 jam bagi aku ga terlalu merugikan. Anggap aja aku lagi sedekahin waktu luang aku yang gak begitu berharga ini.”

Dan aku pun kembali bengong.

Tapi setelah aku pikir-pikir, Elly ada benarnya juga. Emang benar, delay itu nyebelin. Apa lagi kalau kita sedang dalam keadaan mendesak. Tapi aku kan ga dalam keadaan mendesak. Kenapa juga harus ngedumel panjang kali lebar kali tinggi, toh ga akan membawa solusi apa-apa. Yang ada nafas sesak karena batin tersiksa. Mending seperti Elly, yang legowo, dan menikmati waktu delaynya dengan menganggapnya sebagai sarana ibadah.

Thank you Lion Air, waktu delay mu ternyata mempertemukanku dengan seseorang yang memiliki jiwa seluas samudra.


Sabtu, 31 Oktober 2015

[Review] Samsung Galaxy Chat B5330, Apakah Produk Gagal ?

Samsung adalah salah satu brand yang sampai saat ini masih sangat aku sukai. Kecintaan aku sama produk pabrikan Korea ini pun telah aku abadikan dalam bentuk tulisan di blog ini. Setiap kali ada teman atau saudara yang bertanya tentang ponsel, aku pasti rekomendasikan Samsung. Dari yang low-end sampai yang high-end, Samsung memiliki semua kriteria yang dibutuhkan oleh penggunanya. Dalam hati aku sempat berpikir, Samsung ini benar-benar brand yang sangat sempurna.

Tetapi stigma yang tertanam dipikiranku itu mulai berubah, dan membuat aku menyadari sesuatu. Memang tidak ada yang sempurna di dunia ini, kecuali DIA yang Maha Sempurna.

Satu hal yang menjadi pemicu pikiranku berubah adalah karena beberapa hari yang lalu aku mengenal Samsung Galaxy Chat B5330.

Image result for Samsung Galaxy Chat B5330
Sumber

Di tempatku berkerja, produk Samsung yang satu ini juga dikenal dengan sebutan Samsung Zanin. Awalnya aku tidak begitu ngeh kalau produk ini memiliki banyak kekurangan. Karena ya itu tadi, aku menganggap Samsung itu sempurna, dan semua produk yang dikeluarkannya juga pasti sempurna.

Sehingga di suatu hari yang cerah, ketika burung-burung berkicauan di atas dahan, semilir angin berhembus dari sela-sela ventilasi, datanglah sepasang suami istri dengan wajah muram dengan kantong plastik di tangan. Setelah berbicara dengan Customer Service, tibalah mereka di depan meja kerjaku. Senyumku mengambang menyambut kedatangan mereka, dengan ramah aku mempersilahkan mereka untuk duduk, kemudian dengan lembut aku menanyakan, "Selamat siang, ada yang bisa saya bantu, Ibu ?"

Tiba-tiba, "BRAAAKKK !!"

Suara gaduh membahana di ruang kerja kami. Kantong plastik yang entah berisikan apa itu di lempar dengan keras ke atas meja, dibarengi dengan suara omelan si ibu tadi. Aku shock, menarik nafas panjang. Come on babe, hang on ... hang on, bisikku dalam hati.

Seprofesional mungkin aku berusaha untuk tetap tersenyum, lalu membuka plastik bungkusan itu, dan menemukan Samsung Galaxy Chat B5330 disana.

"Ada masalah dengan handphonenya, Ibu ?" tanyaku lagi dengan sabar.
"Kamu cek sendirilah, mahal-mahal di beli kok kualitasnya kayak gitu !" jawabnya dengan nada gusar.
"Baik, Ibu. Sebentar saya cek dulu," sahutku masih dengan sangat sabar. Padahal dalam hati udah ngedumel panjang kali lebar kali tinggi, tapi aku tahan, karena aku tahu bahwa ini adalah bagian dari perkerjaan.

Kemudian aku pun memeriksa handphone Samsung Zanin itu. Setelah dihidupkan dan mencoba membuka beberapa aplikasi aku tidak menemukan masalah yang begitu berarti, kecuali kinerjanya yang sedikit lamban dari handphone-handphone Samsung lainnya.

"Sepertinya tidak ada kerusakan, Ibu. Bisa ibu jelaskan lebih detail ? Biar saya lebih mudah untuk mencarikan solusinya ?" Aku kembali bertanya kepada ibu itu. Tapi ibu itu tidak menjawab, dia hanya melengos, membuang pandangan ke samping kanan.
*padahal ga ada siapa-siapa di samping kanannya itu >.< *

"Kalau cuma dihidupkan seperti itu memang ga ada masalahnya, Mbak. Tapi kalo Mbak pake BBMan, FB-an, browsing baru ketahuan masalahnya apa. Mbak cobain deh." Kali ini si Bapak yang menjawab pertanyaanku. Mendengar gaya bicara si Bapak yang sopan dan tenang, aku pun sedikit lega.
*Dan mulai detik itu aku cuman ngomong sama si Bapak, habisnya masih kesel sih sama si Ibuk yang ngomel ga jelas juntrungannya itu :p *

Aku pun mencoba mengikuti saran dari si Bapak. Aku langsung memilih menu BBM. Dan benar yang dikatakan bapak itu, perlu waktu lima menit lebih untuk aplikasi itu terbuka. Begitu juga dengan aplikasi lainnya. Bahkan untuk membuka galeri foto pun sangaaaaattt lama.

Menurut aku, prosesor yang dimiliki Samsung Galaxy Chat B5330 ini masih sangat kurang mumpuni untuk mendukung aktifitas di semua fitur yang ada. Karena sungguh sangat tidak lazim, sebuah handphone pintar yang menggunakan platform android versi Ice Cream Sandwich 4.0 hanya mengandalkan CPU berukuran 850 mHz.

Bahkan handphone sekelas SPC S5 Maxx yang besutan lokal saja sudah menggunakan prosesor dual core 1.0 GHz untuk mendukung kinerjanya, padahal android yang mereka gunakan masih yang versi ginger bread lho.

Jadi sayang aja rasanya, kok bisa ya brand sebesar Samsung meluncurkan produk yang kualitasnya tidak lebih baik dari produk lokal. Padahal kita semua tahu, Samsung adalah salah satu brand yang sudah sangat mendunia dan telah memenangkan puluhan penghargaan dalam Goon Design Award yang diselenggarakan oleh Japan Institute for Design Promotion.

Sebagai pencinta brand Samsung, tentu saja aku berharap, semoga kedepannya Samsung lebih selektif dalam meloloskan produk-produk mereka ke pasaran. Jangan sampai kecintaan konsumen terhadap Samsung jadi berkurang akibat produk-produk yang kurang berkualitas. Terlebih lagi ketika ponsel-ponsel pintar pabrikan China yang beredar luas di pasaran dengan harga yang pasti jauh lebih murah dari produk Samsung. Jika kualitas yang ditawarkan tidak lebih baik, buat apa mereka memilih produk Samsung ?
Benar kan ?

Jadi kira-kira, boleh ga ya kalo aku sebut Samsung Galaxy Chat B5330 ini produk gagal ?

Any comments ?



Sabtu, 24 Oktober 2015

[Review] Antologi Cerpen MUBUHABI, Mulut Bungkam Hati Bicara



Alhamdulillah, buku perdanaku akhirnya terbit juga. Terimakasih tak terhingga kepada Infinite Publisher yang telah mengabulkan impianku ini.

Informasi buku :
Judul : Antologi cerpen "MUBUHABI", Mulut Bungkam Hati Bicara
Penulis : Merida Merry
Editor : Dzaky Rais
Desain Cover : Merida Merry
Layout : Tim Infinite Publisher
ISBN : 978-602-73101-9-3
Harga : Rp40.000 (PoD), tidak termasuk ongkos kirim.

Pemesanan dengan format :
PesanMubuhabi#Jumlah Buku#Nama Pemesan#Alamat lengkap#No Telp/HP
Contoh : PesanMubuhabi#2#Budi#Jl. Alhamra 3, RT. 2 RW. 5 Kel. Batu, Kec. Tapung, Prop. Riau#08123456789.

Kirim ke salah satu cara di bawah ini :
  • Pin BB : 5D46F2AF
  • FB : @Merida Merry
  • Twitter : @Meyrida2581
  • email : merida.orlanduri@gmail.com
Pembayaran :
  • Mandiri 138-00-2861998-4 atas nama Dzaky Rais
  • BCA 8215049091 atas nama Merida
  • Bukti transfer di scan dan dikirim ke inbox FB Meyrida Merry
PERHATIAN :
Pastikan anda menerima SMS konfirmasi order sebelum melakukan pembayaran.



Review :

Antologi cerpen Mubuhabi ini berisikan 12 cerita pendek yang terdiri dari beberapa genre. Sebenarnya kurang pas sih kalau aku mereview karyaku sendiri. Tetapi tentu saja ada alasan mengapa aku melakukannya. Ya nggak sih ?

*ngaku aja, itu karena buku loe belum terkenal ya kan ?*
*iya deh, emang gitu kenyataannya hehe*

Selain karena buku ini belum dikenal banyak orang *mudah-mudahan setelah ini mulai dikenal orang ya*, aku juga ingin sedikit bercerita latar belakang yang menginspirasi cerita di setiap cerpen yang ada di dalam buku ini.

1. Antara Hujan, Gang dan Pagar Besi
Cerpen ini awalnya aku muat di blog ini pada bulan Januari 2015. Namun saat itu cerpen ini hanya berupa monolog tanpa ada satupun dialog didalamnya. Nah, begitu cerpen ini dimasukkan ke dalam buku, aku merevisi cerpen ini dengan menambahkan dialog ke dalamnya. Cerpen ini mengisahkan tentang seorang gadis bernama Amey yang naif dan polos. Dia tidak pernah memiliki pikiran buruk tentang orang lain, dan selalu beranggapan orang-orang disekitarnya sayang dan peduli kepadanya. Namun satu peristiwa disuatu malam, ditengah hujan yang begitu deras, berhasil membukakan matanya. Bahwa kepercayaan itu tidak bisa diberikan kepada semua orang.

2. Cinta Tiga Kata
Cerpen ini juga pernah aku muat di blog ini juga pada bulan Februari 2015. Berkisah tentang seorang pemuda miskin bernama Don yang tampan dan taat beribadah. Sehari-hari dia berprofesi sebagai supir angkot. Meskipun sehari-hari waktunya habis di jalanan, namun tidak lantas membuat dia melupakan impiannya untuk kuliah. Dia sangat menyadari pendidikan yang layak akan mengangkat derajat hidup keluarganya. Karena itu dia pantang menyerah guna mewujudkan impiannya.

Dalam waktu yang sama, Don mulai mengenal cinta. Dia memendam cinta terhadap gadis bernama Nisa yang menjadi penumpang langganannya. Meskipun cinta dihatinya membara tetapi Don tetap bungkam dan memendam rasa yang bergejolak dihatinya. Dia sadar, dirinya bukan yang terbaik untuk Nisa.

Bagaimana kisah cinta Don selanjutnya ?
Apakah dia berhasil meraih impiannya ?
Penasaran sama endingnya ?
Yuk .. pesan sekarang juga :) *ujung-ujungnya modus hehe*

3. The Android
Ini cerpen misteri pertamaku. Awalnya sempat tidak percaya diri untuk memulainya. Tapi aku kembali berpikir, kalau tidak dicoba bagaimana bisa tahu hasilnya ? hehe ...

Cerpen ini berkisah tentang seorang pemuda bernama Agung yang sehari-harinya berkerja sebagai office boy (OB). Dia sudah lama ingin memiliki handphone Android. Tetapi selalu terkendala harganya yang selangit. Sampai suatu hari di tempatnya berkerja, dia melihat salah satu staff memamerkan handphone android baru yang ia beli dengan harga murah. Tentu saja Agung tertarik. Berbekal catatan dari staff itu, Agung pun meluncur ke toko yang dimaksud. Di sinilah bencana itu bermula. Satu persatu orang-orang yang dikenalnya tewas dengan cara yang tidak biasa.

Bagaimana semua itu bisa terjadi ?
Ayo, baca kisah lengkapnya di buku ini. Buruan pesan :)
*lagi-lagi modus*

Oke, masih ada 9 cerpen lagi yang tidak kalah seru. Tapi tidak akan seru lagi jika semuanya aku ceritakan disini :)

Bagi yang berminat, silahkan dipesan ya :)

Oh .. ya .. bagi yang memesan via komentar di blog ini, aku kasih diskon 10% deh.

Aku tunggu ya atensinya. Terimakasih banyak :)

Salam hangat,
Merida Merry










Jumat, 23 Oktober 2015

Mari Cintai Bahasa Indonesia Sebagai Jati Diri Bangsa

Sumber
Deuh, judulnya itu, berasa seperti di ruang kuliah yak .. hihi ..

Sesuai tema hari ini, #Jum'at-Literasi, aku akan berbagi tentang dunia keaksaraan ini. Secara sederhana, Literasi itu berarti kemampuan membaca dan menulis atau melek aksara. Adapun kegiatan berupa membaca dan menulis itu tidak akan pernah bisa dipisahkan dengan yang namanya bahasa.

Nah, sehubungan dengan peringatan Sumpah Pemuda yang akan jatuh pada tanggal 28 Oktober nanti, boleh dong ... aku mengajak Sobat Jeoja sekalian untuk lebih mencintai Bahasa Indonesia Sebagai Jati Diri Bangsa.


Sebagaimana yang tertuang didalam butir-butir Sumpah Pemuda itu yang salah satunya berbunyi, "Berbahasa satu, Bahasa Indonesia". Sangat jelas, kan ? Bahasa kita adalah Bahasa Indonesia, bukan bahasa Inggris, bukan bahasa Korea, juga bukan bahasa daerah. Apalagi bahasa campur sari, setengah Indo setengahnya lagi Londo.


Understand kan what I maksud ? *geleng-geleng*
Beneran, suer loe ? *bengong*
What happend ini teh ? * -____-*
Okay, kalo gitu loe-gue end. *uuups*

Dan bukan pula bahasa alay, yang penulisannya bercampur angka dengan huruf, dan penerapan tanda baca yang sering tidak pada tempatnya.
4ku ud4h 81L4n6k4n,, j6n NuL!5 53prt! !n!,, 4ku 83n3R2 64 n63Rt! Lh0  !!!!

Tuh, kan, seperti yang kita lihat bersama, sampai detik ini penggunaan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar itu kebanyakan hanya berada di lembaran-lembaran tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari ketika berkomunikasi dengan orang-orang dilingkungan sekitar, kita lebih banyak menggunakan bahasa daerah dan bahasa pergaulan. Ngaku aja deh, aku benar kan ? Karena aku sendiri adalah salah satunya dari sekian banyak orang itu. 

Menggunakan bahasa daerah untuk sehari-hari sebenarnya sih tidak masalah ya, karena bahasa daerah itu sendiri adalah warisan budaya nasional kita yang patut kita lestarikan. Dan biasanya berkomunikasi dengan menggunakan bahasa daerah ini membuat kita bisa lebih akrab antara satu dengan yang lainnya. Contohnya saja ketika aku sedang berkunjung ke Jakarta beberapa bulan yang lalu. Perjalanan yang awalnya terasa panjang dan membosankan itu jadi terasa singkat dan menyenangkan berkat kehadiran seorang kenalan yang juga menguasai bahasa daerah yang aku kuasai.

Namun, ketika kita berada didalam sebuah forum atau komunitas yang di dalamnya berada banyak orang dari berbagai suku yang tentu saja berbeda bahasa dan adat istiadatnya. Alangkah bijaksananya jika kita menggunakan Bahasa Indonesia yang bisa dimengerti oleh semua orang. Baik itu untuk mengemukakan pendapat atau pun untuk berkomentar atas pendapat orang lain. Selain mudah dimengerti dengan menggunakan Bahasa Indonesia itu secara tidak langsung kita telah menghindari terjadinya salah paham dan miskomunikasi. Dengan begitu, tidak akan ada lagi orang yang menyimpan prasangka atas apa yang kita bicarakan karena semua jelas dan transparan.


Manfaat Berbahasa Indonesia yang baik bagi blogger.

Seiring makin berkembangnya dunia blog di Indonesia membuat semakin banyak blogger-blogger asal tanah air dikenal oleh mereka-mereka yang berada di luar negeri. Secara tidak langsung para blogger ini telah menjadi duta bahasa Indonesia lewat tulisan-tulisan yang ada di blognya. Apa lagi jika blog tersebut memiliki cara penulisan yang khas, dan enak di baca, maka mereka akan mampir lagi dan lagi ke blog yang sama. Sekalipun bule-bule itu tidak mengerti Bahasa Indonesia, tetapi berkat adanya Google Translator tentu bukan halangan lagi bagi mereka untuk menjelajah blog-blog di Indonesia. Meskipun tidak 100% akurat, namun sedikit banyaknya hasil terjemahan dari Google Translator tersebut akan membantu mereka untuk memahami apa yang mereka baca.

Akan tetapi, Google Translator ini hanya bisa berkerja dengan baik pada Bahasa Indonesia yang ditulis sesuai dengan EYD yang baik dan benar. Jadi untuk bahasa-bahasa yang tidak baku alias bahasa gaul tadi jelas tidak akan tertranslate dengan benar oleh Google Translator, sehingga tidak akan bisa dipahami oleh bule yang mampir ke blog kita.

Selain itu, penggunaan Bahasa Indonesia sesuai EYD juga bisa berpengaruh pada optimasi SEO on page blog kita, sebab ini erat kaitannya dengan penulisan keyword. Semakin relevan isi artikel kita dengan keyword  yang dibidik maka makin besar pula peluang artikel kita terindex di hasil pencarian teratas mesin pencari Google.

Akan tetapi jika artikel kita ditulis dengan memakai bahasa yang tidak sesuai EYD, maka relevansi konten blog kita di mata Google bisa menurun dan dampaknya bukan tidak mungkin ranking website/blog kita juga ikut turun.

*lagak loe ngasih teori,, emangnya blog loe udah terindex Google, Mer ?* 
Belum sih ... *langsung umpetin widget PR*
 
Jadi, sebagai warga negara Indonesia yang baik, mari kita cintai Bahasa Indonesia.
Karena memang tidak ada ruginya, kan ?











Kamis, 22 Oktober 2015

[Fiksi] Loving You

14 Februari 2014
Satu persatu mereka yang tadi duduk memenuhi rumah itu berlalu pergi. Menyisakan Bara yang masih saja termangu disudut ruangan, diantara tumpukan buku Yaasin. Mata Bara masih tampak merah dan sembab. Sepertinya dia telah menguras habis seluruh persediaan air matanya. Dipangkuannya, Asbi bergolek manja, dengan botol susu ditangan kanannya. Sementara jari-jari kirinya sibuk memainkan rambut yang tumbuh didagu ayahnya. Tatapan matanya ceria. Dia memang masih terlalu polos untuk menyadari bahwa Rania, ibunya telah pergi untuk selamanya.
Ya, dihari yang orang-orang peringati sebagai hari kasih sayang, penuh bunga, coklat dan cinta Bara dihadapkan pada kenyataan pahit. Allah memanggil Rania menghadapNYA.
Bara menatap mata polos Asbi, yang masih terlalu kecil untuk mengetahui kepergian ibunya adalah buah pengabaian dari ayahnya sendiri. Menyadari hal itu, setitik bening kembali menggelinding di pipi Bara.
“Ayah.. appa ?” tanya Asbi dengan logat cadelnya. Rupanya air mata itu mengenai jari-jarinya. Bara menggeleng, lalu menyeka bulir itu dengan lengan bajunya. Sebisa mungkin dia membentuk lengkung di bibirnya.
“Gak pa-pa, mata ayah kemasukan debu,” jawab Bara. Berbohong ? Pasti. Karena tidak ada kata-kata lain yang bisa ia ucapkan agar Asbi mengerti.
“Mbus Yah.. mbus..” Asbi bangkit dari pangkuan Bara, lalu meniup mata ayahnya dengan kuat. Sisa-sisa susu yang berada dimulutnya muncrat ke wajah Bara. Tak pelak Bara pun tertawa. Digendongnya Asbi, lalu dipeluknya erat. Bayang-bayang Rania kembali melintas dimatanya.

Januari 2012
Bara menghentikan motornya tepat didepan sebuah rumah sederhana berhalaman kecil. Dindingnya papan dicat warna kuning. Nampak mencolok diantara aneka tanaman hijau yang tumbuh disekelilingnya.
“Ini rumahku.. gimana ? Mau masuk ? Atau balik pulang ?” tanya Bara sebelum turun dari motor.
“Ya masuklah, Bang. Kok balik pulang sih ?”
“Kamu yakin ? Gak kecewa melihat kondisi rumah aku ?” Rania menggeleng, dengan senyum manis diwajahnya. Bara semakin jatuh cinta kepada sosok gadis itu.
Rania adalah putri ketiga dari pemilik toko besar di kota ini. Beberapa kali mengantarkannya pulang Bara sadar betul, Rania tumbuh besar di keluarga berada. Tapi semua itu tidak lantas membuatnya jumawa dan besar kepala. Rania tetap rendah hati dalam berteman. Bahkan tanpa ragu, dia menerima cinta yang Bara tawarkan. Sungguh suatu mukjizat bagi Bara.
“Lho kok malah bengong ? Ayo kita masuk,” tegur Rania membuyarkan lamunan Bara. Bara terkesiap kaget, dengan cengengesan dia membimbing tangan Rania memasuki rumah.
Seorang wanita usia lima puluh tahunan menyambut mereka di ruang tamu. Dia Bu Ainun, ibu Bara. Air mukanya tampak senang ketika Bara memperkenalkan Rania sebagai calon menantu. Sementara Rania hanya menunduk tersipu dengan wajah merah jambu. Setelah berbincang sejenak, Bu Ainun meninggalkan Bara dan Rania di ruang tamu, dan dia kembali sibuk dengan perkerjaannya semula.
“Ran, terimakasih ya..” ujar Bara sambil menggenggam tangan Rania.
“Terimakasih ? Terimakasih untuk apa, Bang ?”
“Terimakasih karena kamu sudah terima cinta abang, padahal kamu lihat sendiri kondisi kita berbeda, kamu o..” kata-kata Bara terhenti karena hari telunjuk Rania melintang dibibirnya.
“Sstt.. jangan pernah ungkit itu lagi, Bang. Kan dari dulu aku sudah bilang, aku ga pernah mengkotak-kotakkan manusia. Dimata Tuhan aja kita sama kok. Jadi please jangan bicara seperti itu lagi,” ujar Rania. Bara semakin terharu mendengar kata-katanya. Dia mengecup jemari Rania dengan lembut. Hati Rania berdesir. Tanpa ragu dia menyandarkan kepalanya ke bahu Bara. Mereka hanyut dalam perasaan romantis yang bergejolak dalam dada.
“Ran.. kamu pernah hitung gak ? Hubungan kita udah jalan berapa lama, ya ?” tanya Bara kemudian.
“Hmm.. kalo ga salah, bulan depan dua tahun, benar kan ?” jawab Rania.
 “Yup.. ga terasa ya, udah dua tahun aja. Padahal rasanya baru kemarin aku nembak kamu.”
“Iya ya, Bang. Ga terasa. Itu karena kita menjalaninya dengan sepenuh hati, makanya gak nyadar waktu berlalu sedemikian cepat.” Bara mengangguk, dia kembali merengkuh bahu Rania. Mereka sama-sama hening, hingga suara jantung mereka terdengar jelas, berdetak seirama.
 “Ran.. dalam dua tahun hubungan kita, kamu bahagia gak ?”
“Banget !” jawab Rania yakin.
“Ehm.. mm.. kamu mau ga menikah dengan abang ?” dengan terbata kalimat itu akhirnya meluncur dari mulut Bara. Rania kaget, tidak percaya Bara akan melamarnya secepat itu. Meskipun kalimat itu sempat ia dengar didalam mimpinya akhir-akhir ini, namun tetap saja jantungnya berdetak lebih cepat ketika mendengar kalimat itu langsung dari mulut Bara. Tanpa pikir panjang lagi, Rania mengangguk dan menghambur kepelukan Bara.
“Tapi kamu lihat sendiri kondisi abang, Ran. Abang bukan orang kaya. Abang ga bisa menjanjikan kamu apa-apa selain cinta, perhatian dan kerja keras untuk menafkahi kamu.”
“Itu sudah cukup, Bang. Aku ga pernah malu dengan perkerjaan Abang. Lagian aku menikah bukan mencari kaya. Aku hanya mencari cinta, dan cinta itu adalah kamu,” ujar Rania mantap. Bara menatap Rania lama dan menemukan keteguhan hati disana.

Maret 2012
Pernikahan Bara dan Rania berlangsung khidmat di kediaman orang tua Rania. Meskipun sempat mengalami pertentangan dengan Papa, namun keteguhan hati Rania mampu meluluhkan hati Papanya. Dalam satu helaan nafas, ijab kabul itu terucap. Bara sah menjadikan Rania sebagai istrinya.
Selepas menikah, Bara memutuskan untuk mengontrak rumah. Meskipun orang tua Rania menawarkan untuk memakai salah satu rumah mereka namun Bara menolak. Sebersit kekecewaan mampir dihati Rania ketika itu. Tapi dia memutuskan untuk menurut kepada suaminya, dan mendukung keputusan Bara untuk pindah ke rumah kontrakan.
Kontrakan yang dipilih Bara sungguh jauh dari harapan Rania. Rumah itu terjepit diantara beberapa rumah petak. Satu ruang tamu, satu kamar tidur dan dapur yang berjejer lurus. Sebuah gang kecil menghubungkannya. Kamar mandi ada di belakang dapur dengan satu sumur cincin dengan katrol menggantung diatasnya.
Rania kecewa, tidak pernah membayangkan akan menghuni rumah dengan sarana seadanya seperti itu. Namun sebisa mungkin Rania menahan air matanya tidak jatuh. Tidak, aku tidak boleh bersedih, dengan penghasilan Bara yang segitu rumah ini sudah cukup baik bagi mereka. Rania menyemangati dirinya dalam hati. Lagi pula nanti mereka bisa menabung untuk membeli rumah. Rania yakin, cinta dan kerja keras pasti indah pada waktunya.

Juni 2013
Keromantisan Bara dan Rania di awal-awal pernikahan mereka dulu mulai diuji ketika memasuki tahun kedua pernikahan mereka. Disaat buah cinta mereka lahir, kesabaran Rania kembali diuji. Bara kehilangan perkerjaannya akibat perusahaan tempatnya berkerja sedang melakukan pengurangan tenaga kerja. Bayang-bayang suram mulai merambat dalam kehidupan mereka.
“Bang, kalo Abang sempat tolong buatkan kran di kamar mandi, ya, akhir-akhir ini punggungku nyeri waktu ngangkat air,” pinta Rania ketika Bara tengah santai di depan tivi. Sejak tinggal dirumah itu Rania menggunakan ember untuk mengisi bak kamar mandi.
Tidak jelas mulai kapan, Rania merasakan nyeri tidak tertahankan di punggungnya. Terutama jika dia mengangkat yang berat-berat. Pernah suatu waktu dia pingsan tiba-tiba. Untungnya tidak berlangsung lama, dia kembali tersadar dan nyeri dipunggungnya pun sedikit berkurang. Karena itulah Rania berpendapat nyeri dipunggungnya itu adalah akibat kelelahan. Selama setahun lebih mengerjakan semua perkerjaan rumah tangga secara manual. Kejadian itu tidak dia ceritakan ke Bara. Nanti abang jadi khawatir pula, batin Rania.
“Ya,” jawab Bara tanpa menoleh.
 “Oh ya, Bang. Susu Asbi juga hampir habis, mungkin tinggal untuk satu hari lagi. Abang masih ada uang pegangan gak ?” Dengan hati-hati Rania menanyakan hal sensitif itu kepada suaminya.
“Kok habis ? Kan baru lima hari yang lalu kita beli.” Bara balik bertanya.
“Iya wajarkan, Bang. Seusia Asbi ini kebutuhannya memang sedang tinggi,” jawab Rania, mencoba memberi pengertian.
“Huh.. inilah akibatnya kalau anak gak minum ASI, biaya jadi nambah,” ujar Bara dengan menggerutu.
Tesss.. setetes bening jatuh dihati Rania. Dia sedih, Bara mengungkit ketidak mampuannya dalam memberi ASI. Bukannya Rania tidak mau memberi ASI untuk anaknya, tetapi produksi ASInya yang sangat sedikit sehingga tidak bisa mengenyangkan Asbi. Rania tidak bersuara lagi, dia beranjak menuju dapur dengan pipi basah. Bara tidak bergeming. Hatinya masih kalut karena menganggur.
“Bang, boleh ga aku minta bantuan Mama ? Kasihan anak kita, Bang,” pinta Rania dengan nada memelas.
Air muka Bara langsung berubah. Dari awal menikah dulu dia telah berjanji didalam hati tidak akan pernah meminta bantuan kepada mertuanya, karena dia masih tersinggung dengan kata-kata papa Rania yang meremehkan dirinya sebelum mereka menikah. Meskipun waktu telah berlalu namun kata-kata itu masih membekas dalam di hatinya.
“Ga boleh, aku ga mau menerima bantuan dari orang tua kamu. Lebih baik aku minjam dari orang lain dari pada harus menjilat ludah sendiri !” tolak Bara dengan tatapan berapi-api.
“Begitu tinggi kah harga dirimu, Bang ? Sampai-sampai kamu tega mengorbankan anak sendiri. Aku ga nyangka kamu seegois ini,” Rania tidak tahan lagi dengan sifat keras kepala Bara. Dia beranjak pergi dengan membawa Asbi di gendongannya. Melihat itu Bara langsung mengejarnya, dan berhasil menarik tangan Rania, menyeretnya dengan kasar kedalam kamar.
“Jangan pernah coba-coba membawa Asbi pergi. Kalau kamu udah gak tahan dengan kondisi kita, silahkan, pintu terbuka lebar untuk kamu !” kata-kata Bara semakin tidak terkendali.
“Astaghfirullah. Istighfar, Bang. Istighfar.. Jangan turuti bisikan setan.. Sadar gak kamu baru saja mengusir aku, Bang !” kata Rania dengan nada tinggi. Bara semakin kalap, satu tamparan melayang ke pipi Rania. Rania terpekik.
Demi mendengar suara ribut yang disebabkan orang tuanya Asbi bereaksi. Dia menangis kencang. Sehingga Bara dan Rania pun tersadar. Mereka baru saja memberikan contoh yang tidak baik dihadapan anaknya. Rania memeluk anaknya dengan erat, berusaha menenangkan Asbi yang semakin terisak. Malam itu terasa sangat panjang bagi Rania.

Januari 2014
            “Ran ! Rania ! Kenapa kamu, Dek ?” Bara berteriak kaget ketika sampai dirumah mendapati Rania tergolek pingsan di lantai dapur. Sementara Asbi menangis diayunan. Suaranya serak, sepertinya cukup lama dia menangis. Bara panik, tidak tahu mana satu yang harus ditanganinya lebih dulu.
            Untung tetangga yang berdatangan sigap memberi bantuan. Bu Midah, tetangga terdekat mereka langsung mengeluarkan Asbi dari ayunan. Sementara Bara dan lainnya mengangkat Rania, dan langsung melarikannya ke rumah sakit terdekat.
            Bara tidak begitu paham urusan medis, yang jelas dia sangat bingung melihat paramedis yang berlarian di depannya dengan wajah panik. Sampai yang dinanti pun tiba, dokter memanggil Bara. Dengan tatapan penuh simpati dia menyatakan bahwa Rania mengidap kanker tulang stadium akhir.
Bara lemas, kakinya tak kuat lagi menyangga tubuhnya. Dia tersungkur tepat di kaki dokter. Bahunya terguncang, air mata jatuh membasahi lantai. Dia menyesali keegoisannya yang menuntut diperhatikan namun jarang memberi perhatian untuk Rania. Bahkan satu-satunya permintaan yang Rania ajukan selama pernikahan mereka pun tidak ia penuhi. Bara mengutuk keegoisannya. Namun semua percuma, terlambat sudah, dokter telah memvonis Rania tidak akan mampu bertahan lebih dari tiga puluh hari.
~ TAMAT ~

***
Cerpen ini terpilih sebagai salah satu kontributor dalam event "foto" yang diadakan oleh Infinite Publisher
***