Tuesday, December 15, 2015

Flying with Lion Air, like flying with a friend


Judulnya lebay ga sih ?

Haha.. sok atuh, biarin aja, lebay dikit ga papa. Hehe ..

Karena diriku emang lagi lebay-lebaynya nih, akibat beberapa minggu ga ngeblog, rasanya kok ya seperti bertahun-tahun gitu. Jadi kaku lagi deh depan layar monitor. Otak kayanya udah over loaded sama ide, jadi begitu sekali ada waktu luang kaya gini, ide-idenya pada berebutan buat ditulis lebih dahulu. Tapi mereka sepertinya harus ngantri lebih lama lagi, karena hati kecil ini lebih syur buat ceritain pengalaman seru penerbangan kemarin sore.

Ceritanya gini, zaman dahulu kala hari Jumat sore aku menerima email dari salah satu staff HRD kantor pusat. Emailnya ternyata berisikan tiket penerbangan ke Jakarta. Waktu dibuka dan melihat nama pesawat yang tertera ditiket itu, awalnya aku merasa kecewa. Yaaah, kok Lion Air sih ? Kenapa ga pake yang lain aja ? Lion Air kan terkenal banget sama delaynya.

Tapi, yah aku ga mungkin protes toh, wong tiketnya udah dipesan ya akunya harus terima donk. Biar ga lupa, tiket tadi aku print trus masukin ke amplop.

Hari keberangkatan pun tiba.

Minggu pagi, mobil travel langgananku pun datang. Seperti biasa, selalu tepat waktu. Cuma kali ini aku ga bisa duduk di samping pak kusir yang sedang berkerja supir seperti biasanya, dan terpaksa duduk dibangku belakang. Suatu pilihan yang biasanya aku pasti tolak. Tapi karena khawatir ga bisa check in tepat waktu, aku pun mengalah. Yo wes lah, kali ini aku duduk dibelakang ga papa, Jadi pelajaran aja buat kedepannya, biar kapan-kapan kalau mo pesan travel sekalian request tempat duduknya.

Tapi kabar baiknya adalah, semua penumpang yang ada didalam mobil travel itu tujuannya adalah sama, yaitu bandara. Dan jadwal penerbangan mereka ternyata satu jam lebih awal dari jam penerbangan ku. Itu berarti mereka juga harus check in lebih awal kan ? Padahal jam udah nunjukin pukul 8 pas, Biasanya perjalanan dari Kota Duri ke Pekanbaru itu normalnya adalah 3 jam, berarti sekitar pukul 11 nyampe di Pekanbaru. Tapi itu pun baru nyampe Rumbai, belum dalam kotanya. Karena jalanan yang macet, biasanya aku nyampe di tempat tujuan bisa-bisa pukul 12, jadi kurang lebih 4 jam lah perjalan dari Kota Duri ke Pekanbaru.

Karena penumpang tadi jadwal penerbangannya pukul 12.05, alhasil supir travelnya kudu putar otak dong ya. Ga bisa lagi kan make cara konvensional yang makan waktu 4 jam itu. Dan akhirnya dia pun ngambil pilihan yang beresiko, yaitu ngebut. Ga kemana, jarum speedometernya hampir-hampir nyentuh angka 100 deh. Aku yang paling ga suka ngebut, cuma bisa pasrah, pejamin mata dan berdoa dalam hati. Ya Allah selamatkanlah kami sampai tujuan, aamiin.

Dan Allah pun mengabulkan doa kami. Pukul 11 kurang 5 menit, kami udah nyampe di bandara dalam keadaan mabok darat. What ?? Iya beneran, Aku yang biasanya tahan jalan darat sejauh apa pun jadi ikut-ikutan mabok. Gimana ga mabok, duduk dibangku paling belakang, dengan kecepatan 100 km/jam, Syukur Alhamdulillah badanku masih utuh, setelah kebanting kiri-kanan waktu lewat tikungan.

Sesampai di bandara, aku lega. karena masih banyak waktu tersisa buat check in. Setelah menenangkan diri, aku pun melangkah seraya menyeret koper dengan langkah ringan. Setelah melewati proses check in yang ga ribet, aku pun menuju food court untuk merecharge energi yang tadi terkuras diperjalanan. Laper booo, laper. Dan sepiring nasi goreng pun ambals seketika. Haha..

Setelah kenyang, dan melirik jam yang jarumnya udah bergerak dari angka satu, aku segera memasuki ruang tunggu. Dan disinilah romansa dengan Lion Air ku bermula.

Jadwal penerbangan yang seharunya pukul 13.35 WIB, diundur menjadi pukul 15.05 WIB. Hmm .. satu setengah jam harus aku lalui dengan duduk manis tanpa melakukan sesuatu ? Ga aku banget deh. Tapi mo buka lappy di tengah suasana hati yang lagi crowded itu pun rasanya bukan pilihan yang bijak. Bisa-bisa ntar aku cuman bakal nulis bermacam keluhan yang udah jelas ga akan memberi solusi apa pun. 

Dan, Allah pun dengan bijaksananya mengirimkan seorang teman yang sangat ramah untuk menemani kegundahanku. Namany Elly, dia Chinese asli Jakarta, yang baru pertama kali datang ke Pekanbaru. Tapi udah berkali-kali terbang dengan Lion Air. Elly bilang, kalo dikumpulin semua waktu delay yang udah dia alami bersama Lion Air, mungkin setara sama hari libur anak sekolah. Ck.ck.ck.. segitunya El ? Iya lho, katanya dengan senyum lebar tanpa ada rasa sesal.

“Tau suka delay gitu kenapa kamu masih pilih Lion Air ?” tanyaku kemudian.
“Kalo cuman mikirin delaynya sih, aku emang ga akan milih Lion Air lagi. Tapi aku mikirnya gini, kalo aku ga milih Lion Air, dan puluhan atau ratusan calon penumpang lainnya juga berpikiran sama, lama-lama pesawat ini ga bisa terbang lagi karena sepi penumpang. Kan kasihan para perkerjanya. Jadi dengan tetap memilih Lion Air, dan calon penumpang lainnya juga begitu, aku berharap Lion Air akan tetap beroperasi sehingga bisa menafkahi karyawannya dengan normal. Tentu saja dengan catatan, aku ga sedang buru-buru atau dalam keadaan mendesak.” Jawab Elly dengan wajah santai.

Mendengar jawabannya yang panjang itu, aku sempat mikir, jangan-jangan ni orang keluarganya ada yang kerja di Lion Air. Kok bisa-bisanya dia mikirin nasip karyawan Lion Air. Padahal dengan seringnya delay, pelayanan yang diberikan Lion Air ga memuaskan lagi kan ?

Tapi Elly sepertinya bisa membaca pikiranku, karena beberapa saat kemudian dia bicara lagi, “Kenapa Mer ? Kamu pasti ngira aku keluarga dari karyawan ya ? Hehe.. gak kok. Beneran deh. Aku bisa punya pikiran itu karena aku ga dalam keadaan mendesak atau buru-buru harus menghadiri acara penting. Makanya delay 1 atau 2 jam bagi aku ga terlalu merugikan. Anggap aja aku lagi sedekahin waktu luang aku yang gak begitu berharga ini.”

Dan aku pun kembali bengong.

Tapi setelah aku pikir-pikir, Elly ada benarnya juga. Emang benar, delay itu nyebelin. Apa lagi kalau kita sedang dalam keadaan mendesak. Tapi aku kan ga dalam keadaan mendesak. Kenapa juga harus ngedumel panjang kali lebar kali tinggi, toh ga akan membawa solusi apa-apa. Yang ada nafas sesak karena batin tersiksa. Mending seperti Elly, yang legowo, dan menikmati waktu delaynya dengan menganggapnya sebagai sarana ibadah.

Thank you Lion Air, waktu delay mu ternyata mempertemukanku dengan seseorang yang memiliki jiwa seluas samudra.


This entry was posted in