Selasa, 27 Januari 2015

Godaan Cinta Pertama

Jatuh cinta, berjuta rasanya, bila siang, bila malam, terbayang wajahnya ...

Sepenggal lirik lagu tempo dulu itu memang tepat sekali dengan kenyataannya. Bagi yang pernah merasakan jatuh cinta, tentu telah merasakan bagaimana indahnya dunia ketika jatuh cinta. Bahkan terkadang logika tak lagi mampu berkata ketika berhadapan dengan namanya cinta. Meski seluruh dunia mencibir, namun kalau sudah cinta semua cibiran tidak akan berarti apa-apa, bahkan ada sebagian orang yang menganggap cibiran orang lain sebagai tanda bahwa mereka sirik atau iri dengan cinta yang dia rasa. Ketika jatuh cinta, banyak hal-hal yang tidak harus terjadi, namun bisa terjadi. Contohnya ada orang yang bunuh diri karena cintanya di tolak, ada orang yang memanjat gunung tertinggi untuk pembuktian cinta, ada yang lari dari rumah karena cinta tidak direstui, bahkan ada yang sanggup membunuh karena cinta tak bisa dimiliki. Sampai-sampai ada jargon beredar "cinta di tolak, dukun bertindak". Begitulah dahsyatnya kekuatan cinta.

Zaman sekarang, anak-anak muda mulai bisa merasakan cinta pertama dikala usia mereka masih sangat belia. Sangat berbeda dengan tempo dulu, ketika masa-masa orang tua kita yang baru mengenal cinta ketika usia mereka telah remaja sekitar 17 tahun. Namun sekarang tidak, anak-anak usia SD pun sudah mulai mengenal yang namanya cinta. Hal ini memang sangat mengkhawatirkan banyak orang tua. Sehingga tidak jarang terjadi kasus-kasus pernikahan di usia dini, yang terpaksa terjadi karena si anak hamil sebelum menikah.

Dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat sekarang ini, berbagai macam media memang bisa dijadikan kambing hitam atas merosotnya nilai-nilai moral anak-anak saat ini. Mulai dari media elektronik hingga media cetak. Peranan orang tua di rumah dan guru disekolah memang sangat diperlukan dalam mengontrol jiwa-jiwa muda yang bergejolak tersebut. Namun jika kita lihat beberapa waktu belakangan ini, betapapun kerasnya orang tua dalam mengawasi anak-anaknya, betapa pun tegasnya guru dalam mengawasi murid-muridnya, yang namanya kasus-kasus amoral usia remaja justru semakin meningkat. Jadi rasanya ada satu hal yang terlupakan dalam proses pengawasan anak-anak tadi, yaitu jiwa anak itu sendiri. Ketatnya peraturan orang tua dan guru namun tidak diiringi dengan kesadaran dan kemauan anak itu sendiri telah menyebabkan serangkaian kasus-kasus amoral usia remaja tersebut tetap terjadi.

Godaan cinta pertama itu memang sungguh dahsyat. Semua orang tahu, bahwasanya semua hal yang ada unsur 'pertama'nya memang membuat penasaran. Rasa cinta yang dirasakan oleh anak-anak untuk pertama kalinya menumbuhkan rasa penasaran yang luar biasa pada diri mereka. Ditambah lagi dengan tontonan drama cinta yang mereka saksikan, atau cerita cinta yang mereka baca pada novel, komik, majalah dan sebagainya, secara tanpa sadar telah membangun fantasi tertentu dalam imajinasi mereka. Jadi rasa cinta yang begitu bergejolak dihati mereka, telah dibumbui oleh rasa penasaran akan sentuhan fisik. Mereka ingin merasakan bagaimana rasanya bergandengan tangan, bagaimana rasanya di rangkul, bagaimana rasanya dipeluk, bagaimana rasanya dicium. Jika semua hal ini telah mereka rasakan, maka timbullah keinginan untuk memuaskan rasa yang terakhir yaitu rasa berhubungan intim.

Anak-anak pada usia ini, meskipun secara biologis mereka telah matang, namun secara logika mereka masih sangat mentah. Dalam melakukan sesuatu mereka hanya memakai hati, tanpa melibatkan logika, sehingga mereka tidak memikirkan resiko yang akan terjadi dari perbuatan mereka. Yang mereka tahu adalah mereka enjoy dan happy dengan rasa yang mereka miliki, dan mereka bangga telah mengetahui dan merasakan apa yang mereka ingin rasakan.

Saya adalah salah satu dari sekian banyak orang tua yang merasa khawatir dengan pergaulan anak-anak sekarang ini. Namun cukupkah dengan khawatir saja ? Menurut saya tidak. Sebagai orang tua, yang harus lebih dipikirkan adalah langkah konkrit yang bisa mencegah anak-anak kita terhindar dari semua hal negatif dari pergaulannya. Dan agama adalah tuntunan utamanya. Memang sangat benar, jika agama adalah salah satu pilar utama penuntun arah hidup manusia. JIka manusia berpegang teguh kepada agamanya, maka selamatlah dia. Keimanan adalah hal yang perlu ditanamkan sedini mungkin kepada anak. Jika anak tumbuh dengan dasar keimanan yang benar, Insya Allah, dia akan terhindar dari hal-hal negatif di lingkungannya. Bahkan ketika godaan cinta pertama itu menghampiri mereka, mereka tidak akan terpengaruh, karena mereka telah memiliki benteng yang sangat kokoh di diri mereka yaitu keimanan.

Yuk.. mari kita didik putra-putri kita menjadi pribadi yang beriman dan berilmu. Pribadi yang pindar secara akademis dan agamis.

Semoga bermanfaat

~Salam Sukses~

0 komentar:

Posting Komentar


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal