Saturday, January 31, 2015

Satu Jam dengan Cinta

Hanya cinta yang bisa, menaklukkan dendam. Hanya kasih sayang tulus yang mampu menyentuh. Hanya cinta yang bisa, mendamaikan benci. Hanya kasih sayang tulus yang mampu menembus ruang dan waktu ~ By. Agnes Monica Ft Titi Dj

Sepenggal lirik lagu yang dinyanyikan oleh Agnes Monica Ft Titi Dj ini memiliki makna yang sungguh dalam bagi saya. Saya sempat merenungkan banyak hal yang terjadi dalam hidup saya belakangan ini. Pertengkaran, caci maki dan sindiran bahkan hinaan pun tumpang tindih menimpa.

Pastinya saya tidak mungkin menguraikan satu persatu detail semua kejadian itu. Namun jika saya runut kebelakang, mempelajari akar permasalahan. Rasa-rasanya dengan pertalian yang dimiliki selama ini, tidak pantas semua itu terjadi. Karena memang akar permasalahan bukanlah hal yang fatal. Tapi mengapa mereka dan saya bisa saling berjibaku dalam konflik tersebut ?

Saya merenung dalam diam, saya berfikir dalam kesendirian. Ibarat film yang sedang menayangkan flashback adegan tokohnya, dengan jelas saya juga bisa melihat flashback alur permasalahan saya.

Sebenarnya tidak ada hal yang "luar biasa jahat" yang saya lakukan, atau pun yang mereka lakukan. Semua ini bisa terjadi karena memang tidak ada cinta diantara kami. Kalau pun selama ini ada kedekatan, tapi kedekatan itu tidak bersumber dari hati yang saling mencintai. Masih ada prasangka, masih ada praduga, masih terselip keraguan. Padahal jika memang cinta itu ada, maka ketika satu pihak menerima berita yang negatif tentang pihak yang lain, pihak pertama pastilah tidak menerima hal tersebut bulat-bulat. Dengan penuh kasih sayang, pihak pertama pasti mencari kebenarannya terlebih dahulu. Bukan lantas dengan mudahnya menerima semua berita itu lalu langsung menjatuhkan vonis dan melabuhkan cap atau label tertentu kepada pihak lain.

Mengapa tidak ada keinginan untuk mengkonfirmasi ? Mengapa tidak ada keinginan untuk mencari tahu kebenaran ? Ya karena itu tadi, tidak ada cinta di hati kami. Hati yang pada dasarnya suci, jika senantiasa dipenuhi dengan cinta, maka tak kan pernah terjadi angkara kepada sesama.

Saya kembali merenung dalam diam. Semua berawal dari hati. Maka saya juga harus mengakhiri dengan hati. Jika dengan hati yang dipenuhi kebencian, kemarahan dan kedengkian saya tidak bisa menemukan kedamaian. Maka mulai sekarang saya akan hidup dengan hati yang dilimpahi cinta dan kasih sayang tulus. Sehingga untuk semua keadaan yang akan saya hadapi kelak, saya tidak akan merasa disakiti, saya tidak akan merasa dikhianati.

Hidup hanya sekali, namun Allah memberi ribuan hari untuk saya jalani. Di usia saya yang sekarang memasuki 34 tahun, lebih dari 11680 hari yang Allah telah berikan untuk saya. Dan saya yakin, disisa usia saya yang tidak tahu berapa hari lagi, bisa jadi ini adalah hari terakhir saya, karena sejatinya kita tidak pernah tahu kapan kontrak kita akan berakhir di bumi Allah ini. Namun satu hal yang pasti, mulai detik ini saya bertekad dalam hati, mungkin saya tidak bisa menjamin hidup saya akan bebas dari rasa benci selama satu tahun, bahkan satu bulan pun belum tentu bisa, namun saya akan melewatinya dengan Satu jam saja dengan penuh cinta, kemudian saya lanjutkan satu jam lagi, satu jam lagi dan begitu seterusnya. Karena saya meyakini, Hanya cinta yang bisa, menaklukkan dendam. Hanya kasih sayang tulus yang mampu menyentuh. Hanya cinta yang bisa, mendamaikan benci. Hanya kasih sayang tulus yang mampu menembus ruang dan waktu.




This entry was posted in

Wednesday, January 28, 2015

[Cerpen] Antara Hujan, Gang dan Pagar Besi

Rolling Door baru saja ditutup, waktu telah menunjukkan pukul 11:10 malam. Amey melangkahkan kakinya menuruni anak tangga berjejal di antara rekan-rekan sesama SPG lainnya. Amey mempercepat langkahnya karena sayup-sayup dia mendengar suara gemuruh bersahutan. Sepertinya akan turun hujan. Ternyata benar dugaan Amey, sesampai dia diteras mall, hujan pun turun dengan lebatnya. Amey merapatkan kedua tangannya di depan dada, berusaha mengurangi hawa dingin yang dihembuskan angin.

Lima belas menit telah berlalu, Amey masih berdiri di teras mall dan berharap hujan segera reda. Tidak banyak lagi teman-temannya yang ada, karena sebagian telah pulang dijemput oleh sanak saudara masing-masing. Ada sebagian temannya yang menawarinya untuk ikut pulang ke rumah mereka, namun Amey menolak karena Amey merasa tidak enak dengan keluarga pamannya. Ya.. beberapa hari belakangan ini Amey memang menumpang dirumah pamannya, karena belum mendapatkan rumah kos yang tepat. Tepat dalam artian cocok dengan kantong namun juga aman dan tidak jauh dari mall tempat Amey berkerja.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11:30, namun hujan belum juga menampakkan tanda-tanda akan reda, tidak ada pilihan lain, akhirnya Amey memutuskan untuk melanjutkan langkahnya pulang ke rumah pamannya. Sebenarnya Amey bingung dan cemas karena malam telah larut, dan dia tidak bisa pulang karena masih terjebak hujan. Ingin menelepon paman, HP tidak punya, ke telepon umum uang pun tak ada. Rumah paman Amey jika ditempuh dengan berjalan kaki sebenarnya cukup jauh dari mall tempat Amey berkerja, dengan kendaraan umum saja membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit. Tapi Amey tahu jalan pintas yang cukup dekat, dengan berjalan kaki dia bisa sampai di rumah pamannya dalam waktu kurang lebih 15 menit. Namun jalan pintas itu cukup rawan bagi gadis seumuran Amey, karena melewati gang-gang sempit diantara pertokoan. Ditambah lagi banyak lelaki mabuk yang suka nongkrong di pojokan gang itu. Akan tetapi Amey tidak ada pilihan lain, meski hujan lebat dia tetap menempuhnya agar segera sampai dirumah pamannya.

Perasaan Amey sedikit waswas karena jalanan sangat sepi. Tidak ada satu orang pun yang melintas sepanjang perjalanannya. Amey berdoa didalam hati, semoga Allah melindunginya hingga selamat sampai dirumah paman. Satu gang, dua gang terlewati dengan aman. Amey bersyukur dalam hati. Berarti tersisa tiga gang lagi, dia sampai di jalan besar terdekat dengan rumah pamannya. Jantung Amey berdegup kencang ketika melewati gang terakhir. Dari kejauhan Amey melihat sekelompok pemuda yang tengah nongkrong di depan toko. Amey berdoa dalam hati, dia menunduk dan mempercepat langkahnya ketika melewati gerombolan pemuda tersebut. Alhamdulillah, mereka tidak ada yang mengganggu Amey, meskipun satu-dua dari mereka menegur namun masih dalam bahasa yang sopan.

Hujan masih lebat, dan disertai dengan angin yang cukup kencang. Amey telah sampai di jalan besar. Amey bisa bernafas dengan lega, dari kejauhan dia bisa melihat plang menuju rumah pamannya. Luar biasa lebat hujan malam itu, baju yang dikenakan Amey basah kuyup hingga ke pakaian dalamnya. Kaki Amey pun mulai terasa perih, karena telah lecet. Sepatu high heel yang dikenakannya memang tidak pas dipakai untuk berjalan kaki sejauh itu. Namun lagi-lagi semua itu tidak dihiraukan Amey. Sambil terus berjalan, disekanya air hujan yang masuk ke mata. Satu tikungan lagi dia sampai dirumah pamannya.

Amey melongo dan terpana ketika berdiri didepan pagar besi yang menjulang tinggi dihadapannya. Dalam deras hujan, badan menggigil kedinginan dan sesekali petir pun menyambar, waktu telah menunjukkan pukul 12 malam. Amey berdiri didepan rumah pamannya yang pagarnya terkunci dan lampu telah dimatikan.

####

Memori Oktober 2001 :

Rute : Sudirman-Imam Bonjol-Ahmad Yani Pekanbaru

####



This entry was posted in

Godaan Cinta Pertama Season 2

Jatuh cinta, lalu putus cinta, kemudian jatuh cinta lagi, putus lagi, sampai akhirnya menikah. Begitulah kehidupan cinta manusia. Bisa dipastikan dari sekian banyak manusia yang ada dimuka bumi ini, mungkin hanya segelintir diantaranya yang menikah dengan cinta pertamanya. Karena kebanyakan orang mengalami kegagalan pada cinta pertamanya. Saya bisa berkata begitu karena saya adalah salah satu diantaranya ^_^

Ketika seseorang telah menikah dan memulai hidup baru dengan pasangan mereka, biasanya masing-masing pasangan ini akan menutup akses kepada cinta masa lalu mereka. Mereka beralasan demi menghargai perasaan  pasangan masing-masing, demi keutuhan rumah tangga, demi kebahagiaan mereka, dan lain sebagainya.

Namun haruskah seperti itu ?

Apakah antara pria atau wanita yang telah menikah tidak bisa menjalin hubungan pertemanan dengan sang mantan ?

Jawabannya beragam. Dari sebagian orang yang saya kenal, mereka memutuskan untuk memutus segala bentuk hubungan komunikasi dengan sang mantan, karena menurut mereka jika mereka terus menjalin hubungan dan komunikasi dengan mantan maka itu bisa menciderai perasaan pasangan saat ini. Jadi daripada hubungan mereka dengan suami atau istri menjadi rusak maka lebih baik mereka memutus segala bentuk komunikasi dengan mantan mereka.

Namun ada juga beberapa dari mereka yang berpendapat lain. Menurut mereka menjalin hubungan komunikasi dengan sang mantan sah-sah saja, kalau hubungan tersebut hanya sebatas hubungan telepon tanpa ada pertemuan fisik. Terlebih lagi jika komunikasi yang terjalin terkait hubungan perkerjaan. Yang terpenting adalah masing-masing pasangan tetap berpegang teguh kepada ikatan suci pernikahan mereka.

Secara logika, saya setuju dengan kedua pendapat tersebut. Namun secara hati saya sedikit menentang pendapat yang kedua. Menurut saya godaan cinta masalalu itu (terlebih lagi cinta pertama) sungguh sangat kuat. Saya termasuk orang yang meyakini bahwa "first love never die". Meskipun seseorang telah menikah dan hidup bersama dengan pasangannya, namun tidak bisa dipungkiri bahwa memori tentang si cinta pertama tersebut masih ada disalah satu sudut ruang dihatinya. Jadi jika hubungan komunikasi yang terjalin antara pasangan dengan sang mantan cukup intens, maka hal ini sedikit banyak bisa membuka kembali semua kenangan yang dulu ada. Dan bukan tidak mungkin, hal ini akan menumbuhkan benih-benih kerinduan untuk mengulang kembali semua kenangan yang pernah ada itu. Jika itu sampai terjadi, maka bisa diprediksi bukan ? Perselingkuhan, pertengkaran bahkan perceraian ibarat bom waktu yang tinggal menunggu saatnya meledak. Oleh karena itulah, saya pribadi, sebisa mungkin menolak dan menutup akses segala bentuk hubungan dengan sang mantan.

Bagaimana dengan anda ?

Tuesday, January 27, 2015

Godaan Cinta Pertama

Jatuh cinta, berjuta rasanya, bila siang, bila malam, terbayang wajahnya ...

Sepenggal lirik lagu tempo dulu itu memang tepat sekali dengan kenyataannya. Bagi yang pernah merasakan jatuh cinta, tentu telah merasakan bagaimana indahnya dunia ketika jatuh cinta. Bahkan terkadang logika tak lagi mampu berkata ketika berhadapan dengan namanya cinta. Meski seluruh dunia mencibir, namun kalau sudah cinta semua cibiran tidak akan berarti apa-apa, bahkan ada sebagian orang yang menganggap cibiran orang lain sebagai tanda bahwa mereka sirik atau iri dengan cinta yang dia rasa. Ketika jatuh cinta, banyak hal-hal yang tidak harus terjadi, namun bisa terjadi. Contohnya ada orang yang bunuh diri karena cintanya di tolak, ada orang yang memanjat gunung tertinggi untuk pembuktian cinta, ada yang lari dari rumah karena cinta tidak direstui, bahkan ada yang sanggup membunuh karena cinta tak bisa dimiliki. Sampai-sampai ada jargon beredar "cinta di tolak, dukun bertindak". Begitulah dahsyatnya kekuatan cinta.

Zaman sekarang, anak-anak muda mulai bisa merasakan cinta pertama dikala usia mereka masih sangat belia. Sangat berbeda dengan tempo dulu, ketika masa-masa orang tua kita yang baru mengenal cinta ketika usia mereka telah remaja sekitar 17 tahun. Namun sekarang tidak, anak-anak usia SD pun sudah mulai mengenal yang namanya cinta. Hal ini memang sangat mengkhawatirkan banyak orang tua. Sehingga tidak jarang terjadi kasus-kasus pernikahan di usia dini, yang terpaksa terjadi karena si anak hamil sebelum menikah.

Dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat sekarang ini, berbagai macam media memang bisa dijadikan kambing hitam atas merosotnya nilai-nilai moral anak-anak saat ini. Mulai dari media elektronik hingga media cetak. Peranan orang tua di rumah dan guru disekolah memang sangat diperlukan dalam mengontrol jiwa-jiwa muda yang bergejolak tersebut. Namun jika kita lihat beberapa waktu belakangan ini, betapapun kerasnya orang tua dalam mengawasi anak-anaknya, betapa pun tegasnya guru dalam mengawasi murid-muridnya, yang namanya kasus-kasus amoral usia remaja justru semakin meningkat. Jadi rasanya ada satu hal yang terlupakan dalam proses pengawasan anak-anak tadi, yaitu jiwa anak itu sendiri. Ketatnya peraturan orang tua dan guru namun tidak diiringi dengan kesadaran dan kemauan anak itu sendiri telah menyebabkan serangkaian kasus-kasus amoral usia remaja tersebut tetap terjadi.

Godaan cinta pertama itu memang sungguh dahsyat. Semua orang tahu, bahwasanya semua hal yang ada unsur 'pertama'nya memang membuat penasaran. Rasa cinta yang dirasakan oleh anak-anak untuk pertama kalinya menumbuhkan rasa penasaran yang luar biasa pada diri mereka. Ditambah lagi dengan tontonan drama cinta yang mereka saksikan, atau cerita cinta yang mereka baca pada novel, komik, majalah dan sebagainya, secara tanpa sadar telah membangun fantasi tertentu dalam imajinasi mereka. Jadi rasa cinta yang begitu bergejolak dihati mereka, telah dibumbui oleh rasa penasaran akan sentuhan fisik. Mereka ingin merasakan bagaimana rasanya bergandengan tangan, bagaimana rasanya di rangkul, bagaimana rasanya dipeluk, bagaimana rasanya dicium. Jika semua hal ini telah mereka rasakan, maka timbullah keinginan untuk memuaskan rasa yang terakhir yaitu rasa berhubungan intim.

Anak-anak pada usia ini, meskipun secara biologis mereka telah matang, namun secara logika mereka masih sangat mentah. Dalam melakukan sesuatu mereka hanya memakai hati, tanpa melibatkan logika, sehingga mereka tidak memikirkan resiko yang akan terjadi dari perbuatan mereka. Yang mereka tahu adalah mereka enjoy dan happy dengan rasa yang mereka miliki, dan mereka bangga telah mengetahui dan merasakan apa yang mereka ingin rasakan.

Saya adalah salah satu dari sekian banyak orang tua yang merasa khawatir dengan pergaulan anak-anak sekarang ini. Namun cukupkah dengan khawatir saja ? Menurut saya tidak. Sebagai orang tua, yang harus lebih dipikirkan adalah langkah konkrit yang bisa mencegah anak-anak kita terhindar dari semua hal negatif dari pergaulannya. Dan agama adalah tuntunan utamanya. Memang sangat benar, jika agama adalah salah satu pilar utama penuntun arah hidup manusia. JIka manusia berpegang teguh kepada agamanya, maka selamatlah dia. Keimanan adalah hal yang perlu ditanamkan sedini mungkin kepada anak. Jika anak tumbuh dengan dasar keimanan yang benar, Insya Allah, dia akan terhindar dari hal-hal negatif di lingkungannya. Bahkan ketika godaan cinta pertama itu menghampiri mereka, mereka tidak akan terpengaruh, karena mereka telah memiliki benteng yang sangat kokoh di diri mereka yaitu keimanan.

Yuk.. mari kita didik putra-putri kita menjadi pribadi yang beriman dan berilmu. Pribadi yang pindar secara akademis dan agamis.

Semoga bermanfaat

~Salam Sukses~

Thursday, January 22, 2015

Diam Itu [Tak Selamanya] Emas

Pernah dengar pepatah yang bilang "diam itu emas" ? Saya yakin, pepatah kuno tersebut sangat familiar ditelinga banyak orang diseluruh Indonesia. Dan saya adalah salah satu orang yang telah bertahun-tahun hidup dengan filosofi itu. Jadi untuk semua hal yang terjadi dalam hidup saya, khususnya untuk hal-hal yang tidak mengenakkan hati, dari pada ribut lalu menimbulkan konflik, maka saya selalu memilih untuk diam lalu tersungkur dan larut dalam deraian airmata. Kemudian saya dengan pengecutnya menyerahkan penyelesaian semua masalah tersebut kepada waktu. Karena saya juga menganut filosofi lainnya yaitu "biarkan waktu yang kan menjawab". Menjadi pribadi yang sendu dan pasrah adalah keseharian saya.

Ternyata saya salah ! Sangat-sangat salah !

Filosofi yang saya anut selama 20 tahun usia dewasa saya, ternyata tidak lagi efektif dalam menyelesaikan setiap persoalan yang saya hadapi. Justru filosofi tersebut balik menyerang dan menyudutkan saya pada satu pojok ruang yang gelap, sehingga mereka bisa dengan leluasa menginjak-injak harga diri saya.

Dulu saya tidak pernah protes atau memberontak ketika diperlakukan tidak adil oleh orang lain. Karena saya berpendapat "biarlah Tuhan yang Maha Adil yang kan membalaskan perlakuan mereka kepada saya". Tetapi lagi-lagi saya salah, dengan diam yang saya lakukan, dengan kepasrahan yang saya perlihatkan justru membuat mereka membenarkan semua hal yang mereka perbuat terhadap saya.

Tahun 2015 ini sungguh tahun yang sangat berarti bagi hidup saya. Karena pada tahun ini saya mendapatkan pencerahan yang luar biasa sehingga hidup saya tak lagi kalem dan redup seperti tahun-tahun sebelumnya. Mungkin sesuai dengan prediksi kalender Cina yang menyebutkan tahun 2015 adalah tahun Kambing Kayu. Kambing adalah shio ke 8 dalam kalender Cina, yang filosofinya angka yang dapat memberikan keberuntungan serta melambangkan perdamaian dan kemakmuran dalam hidup. Saya bukan orang Cina, dan saya juga tidak meyakini apa yang dipercaya oleh mereka, namun kiranya apa yang saya rasakan saat ini sedikit sejalan dengan prediksi tahun Cina tersebut.

Ya, di tahun 2015 ini saya tidak lagi sepakat dengan pepatah "diam itu emas". Karena sekarang saya lebih meyakini "diam itu ubi". Sekarang tidak zamannya lagi diam ketika menerima perlakuan tidak adil, tidak zamannya lagi hanya pasrah menyerahkan pada Tuhan. Toh Tuhan juga telah berkata "tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika kaum itu sendiri itu berniat untuk merubahnya". Jadi sekarang adalah saatnya untuk berbicara lantang atas semua ke semena-menaan. Karena tindakan semena-mena itu tidak jauh beda dengan penjajahan hak azazi manusia. Jadi jika dulu saya diam dibully, dicaci, dihina dan dimaki orang lain.

Lalu apakah saya lantas membalas apa yang mereka lakukan terhadap saya dengan balik membully mereka ? balas mencaci mereka ? turut menghina mereka ?

Dengan jelas saya katakan TIDAK. Saya tidak akan tergiur untuk melakukan itu semua, meskipun setan di telinga kiri saya kerap membisiki kata-kata makian untuk mereka. Namun saya memilih untuk tidak melakukannya. Yang saya lakukan adalah sebaliknya. Ya, saya tidak perlu balas memaki atau menghujat. Yang saya lakukan adalah menyerap sebanyak mungkin energi mereka yang emosi dan meluap-luap itu dengan satu cara, yaitu Pengabaian.

Ya.. dengan mengabaikan mereka, dan menganggap mereka itu sesuatu yang Worthless membuat saya tenang dan bisa berkonsentrasi untuk mengumpulkan semua energi positif yang ada pada diri saya. Saya tidak membuang semua sms atau pun pesan intimidatif yang mereka kirimkan, justru saya simpan dengan rapi, bahkan sebagian ada yang saya backup. Semua pesan intimidatif ini sewaktu-waktu saya baca, dan seperti baterai yang recharge, maka saya anggap semua pesan bully itu sebagai 'charger' untuk energi saya. Saya diam dalam berkata, tapi tidak untuk bertindak. Semua jawaban saya berikan dalam bentuk tindakan. Action-action-action !

Dengan menampakkan yang terbaik pada diri saya, dengan memperlihatkan kesuksesan yang saya raih, dengan menunjukkan kebahagiaan yang saya rasa, maka buat saya itu semua adalah jawaban terpedas atas semua hujatan yang mereka lemparkan kepada saya.

Jadi masih berpikir "diam itu emas"??