Thursday, September 18, 2014

Kejujuran yang Berharga

Adalah siang itu setelah menyelesaikan urusan di bank, saya menunggu angkot di pertigaan jalan menuju kantor. Cukup lama saya menunggu, sampai angkot yang saya tunggu-tunggu pun datang. Ketika saya naik, didalam telah ada dua orang penumpang. Satu kakek-kakek dan cucunya yang berumur sekitar 7-8 tahun. Kalau dilihat dari penampilan mereka saya meyakini mereka itu (maaf) pengemis.

Angkot berjalan pelan, karena siang-siang begini memang penumpang sepi. Orang-orang memilih berdiam diri dirumah, dari pada harus berperang dengan terik matahari yang menyengat. Untuk menghilangkan jenuh, iseng-iseng saya mengeluarkan telepon genggam dari tas saya. Dari main game, facebook-an, bbm-an dan buka-buka galeri foto anak saya lakukan. Tanpa saya sadari, kantor tujuan saya terlewat. Dan sontak saya berteriak agar supir menghentikan laju angkotnya. Setelah membayar ongkos, saya pun bergegas turun. Cukup jauh juga saya berjalan kaki menuju kantor saya yang terlewat tadi.

Jalanan yang ramai membuat saya tidak bisa segera menyebrang jalan. Ditambah lagi mobil-mobil besar seperti truk, fuso dan teman-temannya itu yang berjalan seperti balapan. Hati saya semakin ciut untuk menyebrang. Diantara suara deru kendaraan sayup-sayup saya mendengar suara anak-anak yang memanggil-manggil "KAK !" berulang kali. Saya pun menoleh mencari sumber suara itu. Dari kejauhan saya melihat anak yang tadi bersama saya di angkot berlari kearah saya. Anak tadi ? ada apa ya ? batin saya bertanya-tanya. Beberapa saat kemudian anak itu sampai dihadapan saya, dengan nafas ngos-ngosan dan keringat bercucuran di kepalanya. Aduh kasihannya anak ini, hati kecilku membatin.

"ada apa dek ?" tanyaku pelan. Karena masih ngos-ngosan anak itu tidak langsung menjawab. Hanya tangan kecilnya yang terulur ke arah saya. Saya bingung, namun saya sambut uluran tangannya itu. Dan mendapati selembar uang Rp20.000 dari tangannya.
"uang kakak yang jatuh diangkot tadi" katanya dengan nafas masih belum teratur. Hati saya terenyuh, dan kaki saya pun mendadak terasa lemas.
"Ya Tuhan, jadi kamu berlari sejauh itu untuk mengembalikan uang kakak ? Mengapa kamu tidak ambil saja ?"
Dia menggeleng, "Atuk saya marah, dia bilang itu bukan duit kita, kalau diambil sama dengan mencuri"
Tanpa saya sadari mata saya jadi berkaca-kaca terharu melihat kejujuran dari kaum papa dihadapan saya.
"sekarang atuk kamu dimana? Kenapa kamu sendirian ?"
"Atuk saya disana, dia saya suruh tunggu dekat kedai. Dia tidak sanggup lari kejar kakak tadi" jawabnya polos sambil menunjuk kearah kedai sekitar 100 meter dari saya berdiri. Saya pun bangkit berdiri, dan kemudian tanpa ragu melangkahkan kaki ketempat kakek anak itu berada.

Sesampai disana alangkah kagetnya saya, ternyata kakek itu buta. Dia tidak bisa melihat sama sekali. Namun instingnya yang begitu tajam mengenali keberadaan cucunya di yang tak jauh darinya.
"Aa.. gimana, dah kau kembalikan duit orang tadi ?" tanyanya dengan suara serak. Cucunya belum sempat menjawab, saya langsung potong mendahuluinya.
"Udah kek, terimakasih banyak. Tapi mengapa tak diambil saja kek? Anggap saja rezeki dari Allah". Dia menggeleng "itu bukan hak kita, hak orang lain. Saya tidak mau memakan hak orang lain" katanya dengan suara tegas.
Salut ! Sungguh saya salut dengan prinsip kakek ini. Meskipun dalam keadaan serba kekurangan, dia tetap memelihara sifat jujur dalam dirinya. Dan itu pun dia ajarkan kepada cucunya.

"Sebenarnya kakek sama cucu ini mau kemana ?" tanya saya pula kemudian
"Tadi dari rumah, nak ke pasar menjual sayur" jawabnya pelan. Saya langsung beristighfar dalam hati, memohon ampun karena telah salah menduga kalau kakek itu pengemis.
"Oo.. sekarang mana sayurnya kek ?"
Dia tertawa, menampakkan giginya yang tinggal beberapa "Alhamdulillah udah dibeli orang tadi, jadi dah habis" Nada riang tersirat jelas di suaranya.
"Alhamdulillah ya Kek.. O ya Kek, ini dari saya untuk kakek dan cucu. Semoga bermanfaat" ucap saya, seraya menyelipkan sejumlah uang ketangannya. Namun alangkah terkejutnya saya, karena dengan cepat dia menepis tangannya.
"Saya bukan peminta-minta nak, saya masih bisa kerja dan memenuhi kebutuhan cucu saya" jelas dia sangat tersinggung dengan pemberian saya. Saya menjadi serba salah.
"BUkan begitu kek, saya tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan kakek. Saya cuma merasa berterimakasih dan bersyukur karena bertemu dengan kakek. Terimalah kek"
"Ndak ada yang istimewa dari saya. Kalau anak merasa berterimakasih dan bersyukur lakukanlah sama Allah, bukan sama saya" dia tetap kukuh untuk menolak pemberian saya.
"Baiklah kek, saya paham. Saya akan turuti nasehat kakek. Kalau begitu saya permisi ya kek" dan secepat kilat saya menyelipkan uang itu ke saku bajunya. Cucunya melihat perbuatan saya, namun karena saya memberi tanda dia menurut diam saja.

Hari ini saya mendapat pengalaman yang begitu berharga dalam perjalanan hidup saya. Pelajaran hidup dari orang-orang yang selama ini oleh saya tidak terperhatikan keberadaannya. MEmang tidak bisa menilai seseorang dari penampilan semata. Siapa yang menduga dari orang-orang seperti mereka, kejujuran itu nyata adanya.

Bagaimana dengan kita ??

1 comment:

  1. […] perusahaan migas, dia memang tidak ikut campur dalam usaha yang aku kerjakan. Bahkan kalau boleh jujur, sebenarnya suamiku tidak begitu setuju ketika aku memulai usaha ini, bukannya apa-apa, dia hanya […]

    ReplyDelete


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal