Thursday, October 24, 2019

You're My Destiny, Part 9



Part 9: Pertemuan Tak Terduga

“Aku merasa pernah melihat wajahmu di suatu tempat, tapi di mana tepatnya aku lupa,” lajut Windi dengan penuh penasaran.

Keningnya mengernyit, sepertinya pertanyaan Windi barusan turut menggugah ingatannya. Yoo Ill memandangi Windi lekat-lekat.

Itu berlangsung untuk beberapa saat. Sampai ujung syaraf mereka terhubung pada sesuatu.

“Ooohh ... the airport!” seru mereka bersamaan. Ya, dia adalah laki-laki yang menabrak Windi di bandara beberapa hari yang lalu.

“Oh, My God, betapa dunia ini sempit sekali !” seru Yoo Ill kemudian.

Windi tersenyum, menyetujui kata-katanya. Dalam hati ada rasa haru di hatinya, karena setidaknya dia bukanlah orang yang sama sekali ‘asing’. Meski pun bukan pula akrab. Apapun bentuknya pertemuan ini Windi merasa lega. Setidaknya, hal itu berhasil mencairkan rasa canggung di antara mereka berdua.

“Sepertinya kakimu mempertemukan kita kembali,” kata Yoo Ill lagi. Ucapannya barusan mengingatkan Windi pada lututnya yang sempat nyeri usai kejadian di bandara itu. Refleks tangannya mengusap lututnya kembali.

“Apakah lututmu masih nyeri ?” tanya Yoo Ill. Merespon reaksi Windi yang tiba-tiba mengusap lututnya.

“Sama sekali tidak, hanya saja ucapanmu barusan mengingatkan kembali pada nyerinya,” jawab Windi

“I’m sorry, jika saja aku tahu kakimu cedera tentu aku tidak akan buru-buru meninggalkanmu. Tapi ...” kata-katanya menggantung, seperti ada beban yang menggelayut di tenggorokannya sehingga kalimat lanjutannya terasa berat untuk dikemukakan.

“Hey ... sudahlah.” Sergah Windi cepat, karena merasa tidak nyaman dengan perubahan wajah Yoo Ill. “Waktu itu aku kan udah bilang, ‘aku baik-baik saja’, jadi kamu ga perlu merasa bersalah begitu.” Lanjut Windi kemudian.

Windi berusaha agar insiden yang mempertemukan mereka di bandara waktu itu tidak merusak pertemuan mereka kali ini. Setidaknya, untuk beberapa waktu ke depan Windi ingin merasa aman dan nyaman berada di lingkungan yang asing ini.

“Ya, tapi tetap saja aku merasa seperti orang yang tidak bertanggung jawab,” sungut Yoo Ill dengan wajah muram.

“Tidak, sama sekali tidak. Aku yakin kamu bukan orang yang seperti itu. Aku tahu saat itu kamu sedang terburu-buru, wajahmu tampak tegang seperti sedang mencemaskan sesuatu. Aku benar, kan?”

“Yah, begitulah. Tapi sekali lagi aku mohon maaf. Dan sebagai bentuk permintaan maafku izinkan aku merawat lukamu hingga sembuh. Okay ?”

“Tentu saja, bagaimana mungkin aku menolak tawaran sebaik ini.” Sahut Windi dengan antusias. Sejenak semua rasa sakit di tubuhnya sirna. Pertanda apakah ini? Bisik Windi takjub.

Yoo Ill tersenyum, nampak kelegaan di wajahnya usai mendengar kata-kata Windi.



Dengan sigap ia segera melanjutkan tindakan terhadap luka-luka Windi yang sebelumnya sempat terhenti. Tangannya sangat cekatan benar-benar menyerupai tenaga medis profesional. Sementara itu Windi tidak melepaskan pandangannya sedikit pun dari wajah tampan di hadapannya. Sesekali Windi meringis ketika cairan-cairan medis itu menyentuh lukanya. Kalau saja tidak memalukan, Windi pasti sudah menjerit cukup keras ketika obat-obatan itu dibubuhkan. Tapi harga dirinya masih terlalu tinggi, sehingga berhasil mengalahkan rasa sakit yang ia rasakan.





Sepertinya obat yang diberikan Yoo Ill mulai menjalankan aksinya di tubuh Windi. Matanya terasa berat karena kantuk. Sebisa mungkin Windi untuk terus membuka matanya, tapi kelopak matanya menolak diajak berkerjasama.

“Yoo Ill-ssi, sepertinya aku mengantuk, nih,” kata Windi sambil menguap lebar.

“Obatmu mulai berkerja, tadi aku memang memberi setengah dosis obat tidur, agar kamu bisa istirahat. Sel-sel dalam tubuh akan berregenerasi lebih cepat saat tidur,” jelasnya. Windi hanya mengangguk mendengar penjelasannya. Karena matanya betul-betul tak bisa lagi diajak kompromi.

Ia kembali menguap lebar.

Kali ini kantuknya tak lagi tertahankan lagi. Dalam hitungan detik, ia pun tertidur pulas.



Setelah Windi terlihat pulas, Yoo Ill membuka tas pinggang yang dibawa Windi dan memeriksa benda-benda yang ada di dalamnya. Bola matanya membesar ketika mendapati benda pipih bertali panjang yang ia temukan dalam salah satu kantong tas itu. Wajahnya memucat, deru nafasnya mendadak jadi tidak beraturan. Tanpa pikir panjang, Yoo Ill segera mengantongi benda temuannyaitu, kemudian membawanya ke ruangan belakang.





***



“Tn. Han ... Tn. Han ... ada kabar buruk,” ujar Nn. Lee dengan wajah pucat sambil menerobos ruangan atasannya itu dengan langkah tergesa. Han Tae Ho yang sedang menekuni layar di depannya tampak gusar karena kaget.

“Nn. Lee! Sudah berapa tahun kamu berkerja untukku? Masih tidak mengerti bagaimana etika berkerja ? Hah ?” bentak Tae Ho. Wajahnya merah padam menahan amarah. Nn. Lee yang memahami situasi hanya menunduk dengan perasaan bersalah. Dia sangat paham, tidak ada gunanya memberi alasan apapun saat ini, karena nyata dia telah salah.

“Maaf, Tuan. Saya sedang panik. Maafkan saya.” Tae Ho mengibaskan tangannya, mengisyaratkan bahwa dia bisa memaafkannya kali ini.

“Baik, sekarang katakan. Apa yang membuatmu mendadak kehilangan etika begitu ?” tanyanya kemudian.

“Itu ... ada berita buruk Tuan. Putrinya Tn. Roy ... hilang ....”

“Apa? Hilang ... lagi ? Siapa yang mengatakan itu kepadamu ?”

“Tadi ... Tn. Faris menelpon dari Jakarta. Dia bilang Nn. Windi hilang dan belum ditemukan hingga sekarang.”

“Bagaimana itu bisa terjadi ? Mana Tn. Kim ? Panggil dia kesini cepat !”

“Tn. Kim sedang keluar untuk memastikan berita itu, Tuan.”

“Kalau begtu kamu ceritakan padaku, apa yang kamu tahu, bagaimana ceritanya putri Roy bisa hilang?”

“Tiga hari yang lalu dia dan sahabatnya mengikuti event Korean Touring yang diadakan oleh Rainbow Organizer sebagai salah satu dari sekian pemenang lomba blog, Tuan. Agenda hari pertama dan kedua tidak ada masalah, semuanya berjalan lancar sesuai rencana. Namun di hari ketiga, ketika mengikuti tour bike, dia tiba-tiba menghilang di sekitar Sungai Han. Panitia yang bertugas heran karena Nn. Windi tidak kunjung sampai ke titik perhentian pertama, sementara temannya sudah sampai. Jadi mereka kembali menyusuri jalan yang dilewati. Saat itulah mereka menemukan sepeda Nn. Windi di pinggir jurang, tetapi Nn. Windi tidak ada di sana.”

“Tour Bike? Agenda macam apa itu ? Sejak kapan Rainbow mengadakan tour bike di musim dingin? Siapa yang memberikan izin?”

“Itu ... idenya ... Tuan Muda, Tuan.”

“Apa? Idenya Yoo Ill? Apa dia sudah gila? Lalu mengapa Manager Lee tidak mencegahnya? Mengapa?”

“Hal itu saya kurang tau jelas rinciannya, Tuan. Sepertinya Tuan Muda telah memberikan alasan yang sangat logis makanya manajemen Rainbow menyetujui agenda itu.”


“Gila ... ini benar-benar gila. Aku tidak percaya hal sebodoh ini bisa terjadi. Panggil mereka-mereka yang bertanggung jawab kesini. Cepaatt !” Suara Tae Ho menggelegar di ruangan itu. Mukanya merah padam, jelas sudah dia telah mencapai puncak murkanya.


Bersambung ...

No comments:

Post a Comment


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal.

Note : Mohon maaf, komentar anonim dan link hidup saya anggap spam, ya.