Wednesday, October 23, 2019

You're My Destiny, Part 8



Part 8: Lost in Some Where


"Ajumma, gwaenchanh-a ?"



Windi mengerjap tiga kali, melihat samar ke asal suara itu. Nampak jari-jari kecilnya menggenggam ujung-ujung jari Windi yang mulai mati rasa karena beku. Mata beningnya menatap lurus, menyiratkan ke khawatiran. Windi mengangguk, bersusah payah berusaha untuk bangkit. Namun nyeri yang tak tertahankan di pergelangan kaki, bahu dan pinggang membuatnya susah untuk berdiri. Tangan-tangan mungil itu berusaha membantu Windi, namun tentu saja bobot 60kg Windi bukanlah tandingannya. Dia justru terbawa, ikut terjerembab bersama Windi diiringi teriakan kesakitan dari mulutnya, karena tubuhnya tertimpa tubuh Windi.

"Yoon Sung-ah, neun gwaenchanha ?"

Sebuah sorakan dari belakang membuat Windi lega. Setidaknya anak itu bisa segera di selamatkan dari tindihan tubuhnya yang semakin sulit untuk digerakkan.

"Yaa.. dangsin-eun maeng-in ? dwie jasig eobs-eum .. bla..bla..bla,” Windi tidak begitu mengerti yang diucapkannya..

Sepertinya dia salah paham karena mendapati anaknya tertindih tubuh Windi. Dengan kasar laki-laki itu mendorong tubuh Windi dan menarik anak itu kepangkuannya. Beberapa kali dia mengusap-usap kepala anak itu dengan cemas.

"Mianhae,” kata Windi semaksimal mungkin dengan kata-kata yang dia tahu, seraya membungkukkan badan.

Laki-laki itu balas membungkukkan badannya. Windi sedikit lega wajah laki-laki itu sudah tidak kaku lagi.

"Hmm.. Yeong-eo hal jul eseyo ?" tanya Windi kemudian. Menanyakan kemungkinan dia bisa berbahasa Inggris atau tidak.

"Chogeumyo,” jawabnya sambil mengarahkan jari kelingkingnya ke arah Windi. Mengisyaratkan dia bisa sedikit berbahasa Inggris. Windi pun menarik nafas lega.

Dia mendekat, berjongkok dekat kaki Windi yang terluka.

"Hurt ? your leg .. hurt ?" dia berusaha menanyakan kondisi kaki Windi, ujung jarinya menyentuh areal luka yang tertutup kaus kaki.

Windi mengangguk menahan nyeri. Ingin menjelaskan dia terjatuh dari tebing, dan terguling-guling ke jurang, dan mendarat disini. Tapi lidahnya kelu.

Sepertinya laki-laki itu paham dengan kondisi Windi yang memerlukan pertolongan secepatnya. Tanpa bertanya apa-apa lagi dia menaikkan Windi ke punggungnya, tapi untuk sesaat pria paruh baya itu tertegun ketika melihat lengan Windi yang terluka. Jika Windi tidak salah menilai, parasnya sedikit memucat. Tapi pria paruh baya itu berusaha menutupinya dan cepat-cepat menaikkan Windi ke punggungnya kemudian berlari menyusuri beberapa petak tanah yang ditumbuhi ilalang.

Windi bisa mendengar suaranya yang terengah-engah menahan tubuhnya yang berat. Di dalam hati dia merasa kasihan, sekaligus tidak enak, karena harus membebaninya.

Matahari semakin condong, pertanda senja akan segera menjalankan tugasnya. Mereka sampai di depan sebuah klinik kecil - kalau boleh ia menyebutnya begitu. Tidak ada tanda-tanda sebagaimana lazimnya klinik sebagaimana yang ia kenal, kecuali ada tanda palang merah yang tergantung di atas pintu.

Laki-laki itu membaringkan Windi pada sebuah dipan. Kemudian dia berbicara dengan seorang pemuda yang sepertinya pemilik tempat itu.

Siapa ya ? Kok rasanya pernah lihat ? Tapi dimana ? tanya Windi dalam hati.

Pemuda itu memeriksa tubuh Windi dengan seksama, membubuhi beberapa benda menyerupai tepung berwarna kuning ke luka yang cukup lebar di kaki kanannya. Kemudian membalutnya dengan perban putih.

Setelah itu dia berbicara dengan laki-laki yang menggendong Windi tadi. Mereka bicara cepat sekali, sehingga ia sama sekali tidak mengerti apapun yang mereka bicarakan.

Sepertinya pemuda itu mengatakan bahwa Windi baik-baik saja, karena nampak kelegaan di wajah laki-laki tua tadi setelah berbicara dengan pemuda itu.

Dia pun pergi disusul anaknya yang sambil melangkah tak melepaskan pandangannya dari Windi. Windi mengangkat ibu jari kearahnya, sebagai isyarat ucapan terimakasih karena dia telah menemukannya..

"Apakah kamu turis ?" pemuda itu bertanya dalam bahasa Inggris yang fasih.

Sepertinya kemampuan bahasa Inggrisnya jauh lebih baik. Syukurlah, berarti ada harapan aku bisa lebih nyambung jika bisa menggabungkannya dengan beberapa gerakan isyarat tangan, batin Windi dalam hati.

Windi tidak langsung menjawab, karena otaknya masih berkerja keras berusaha untuk mengingat dimana mereka pernah bertemu. Tapi masih gagal.

“Heyy.. I’m asking ..,” tegurnya membuyarkan lamunan Windi. Ia pun tergagap.

"Oh ... sorry ... sorry, yes, I’m. Ya, aku wisatawan dari Indonesia, aku ikut rombongan Tour Bike, tapi terjatuh dari tebing sebelah sana ketika sedang berusaha menjangkau bunga yang tumbuh di bibir tebing.”

Oh..la..la.. Windi sangat malu dengan pronunciation-nya yang belepotan. Kondisi ini membuat Windi menyesali satu hal, mengapa dulu tidak belajar bahasa Inggris dengan baik ? Tetapi sepertinya pemuda itu cukup paham dengan apa yang ia katakan. Dia tersenyum lalu menepuk kaki Windi dua kali, seolah berkata, "Jangan cemas, kamu baik-baik saja.”

"What is your name ?" tanyanya lagi.

"Windi Faniro, please call me Windi,” jawabnya sambil mengulurkan tangan.

"Oh.. Han Yoo-ill. Call me, Yoo-ill,” pemuda itu balas menjabat tangan Windi dengan erat.

Yoo-ill ? You ill ? hihi nama yang unik, kenapa ga You-Sick aja sekalian, batin Windi dalam hati. Dasar tidak bisa akting, dia justru ketahuan tengah menahan tawa.

"Hei.. you laughing at me ?" Yoo Ill memandang Windi dengan tatapan lucu. Sumpah, mimiknya sangat lucu saat itu. Dalam hati mungkin berkata, nih orang aneh deh kok ketawa sendiri ?

"Sorry.. sorry.. Aku tidak bermaksud menertawakanmu, sama sekali tidak. Aku hanya merasa sedikit geli mendengar nama kamu...”

Dia masih memandangi Windi dengan heran, antara paham atau tidak, atau mungkin saja dia bingung dengan kata-kata yang Windi ucapkan, dan ia menyadari itu, karena dia sendiri juga tidak begitu yakin dengan yang dikatakannya tadi.

Windi terdiam sejenak, mencari cara yang tepat untuk menggambarkan apa yang ia katakan.

"Hmm.. geli.. kamu tahulah.. its like.. hmm.. when something moves in here, here, or here..", jelas Windi sambil memperagakan gerakan menggelitik di ketiak, pinggang dan telapak kaki.

"Owh.. amused ? yea..yeah.. I see.. hoho", dia tertawa terpingkal-pingkal.

Mungkin cara Windi memperagakan tadi nampak lucu di matanya. Windi langsung tersurut malu dengan muka merah seperti udang.

Yoo Ill bergeming melihat wajah Windi yang memerah, lalu lanjut mengatakan bahwa malam ini kemungkinan besar Windi akan demam karena infeksi luka itu.

Tapi dia meyakinkan Windi untuk tidak terlalu khawatir, setelah minum beberapa pil obat, ia akan tertidur dan kembali segar keesokan paginya.

"Kamu dokter ya?" tanya Windi lagi.

Penasaran dengan kemampuan Yoo Ill dalam mengobatinya tadi, yang sangat kontras dengan suasana ruangan itu yang sama sekali berbeda dengan gambaran klinik yang Windi tau.

Yoo Ill menjawab dengan gumaman yang tidak begitu jelas. Sepertinya enggan membicarakan hal itu.

Windi pun tidak tertarik untuk menanyakan lebih detil, toh ia sendiri juga tidak tau cara menanyakan yang tepat. Lagi pula ada satu hal yang lebih membuatnya penasaran.


“Hmm ... kamu seperti seseorang yang aku kenal. Apakah sebelumnya kita pernah bertemu?” tanya Windi penuh selidik.

Alis mata pemuda itu naik, manik mata mereka bertemu dengan penuh tanda tanya.



Bersambung ...


No comments:

Post a Comment


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal.

Note : Mohon maaf, komentar anonim dan link hidup saya anggap spam, ya.