Friday, October 18, 2019

You're My Destiny, Part 5



Part 5: Pelarian

Semua yang berada di kamar terperanjat begitu melihat penguasa rumah itu berdiri di hadapan mereka. Aura cemas langsung mengerubuti wajah Ko Joo Ri dan Han Yoo Na. Dengan memasang ekspresi angker begitu di wajahnya, mereka sangat paham bahwa lelaki tua itu sedang berada di puncak amarahnya. Tatapannya tajam tak berkedip kepada Yoo Ill. Bagaikan sinar-x, tatapan ayahnya itu mampu menembus sel-sel terdalam di relung hati Yoo Ill, membuatnya membeku untuk beberapa saat.

Tidak ingin membuat suasana menjadi canggung lebih lama, Yoo Ill segera memutar tubuhnya, melangkah lebih dekat kemudian memberi hormat kepada pria yang dia panggil ayah itu.

“Aboeji ... aku ... kembali,” ujar Yoo Ill dengan suara seperti tercekat di tenggorokan.

Plaakk !

Satu tamparan melayang ke pipi Yoo Ill.

Yoo Ill meringis, menahan rasa panas yang merayap di pipinya sambil menatap geram ke arah ayahnya. Bukan pelukan yang ia dapat, justru tamparan. Bukan wajah bahagia yang ia lihat, malah wajah penuh angkara. Untuk ke sekian kalinya, Yoo Ill terluka oleh perlakuan ayahnya sendiri.

“Yeobo ... hentikan, sudah cukup. Jangan pukuli dia lagi,” kata Joo Ri sambil menahan tangan suaminya.

“Sana! Jangan halangi aku! Anak tidak tahu diri ini harus diberi pelajaran agar dia tahu apa artinya tanggung jawab,” bentak Tae Ho. Dengan kasar ia mendorong istrinya sehingga nyaris terjatuh. Dia kembali merangsek mendekati Yoo Ill yang masih terpaku memegangi pelipisnya yang perih.

“Kenapa? Kamu marah? Tidak terima dipukuli? Mau membalas?” bentaknya lagi dengan mata merah penuh amarah.

Yoo Ill balas menatap mata ayahnya dengan tatapan tak kalah sengit. Jika bukan ayahnya, mungkin dia telah menerjang laki-laki itu hingga tersungkur. Tapi dia masih sangat waras, baginya adalah sebuah kesalahan besar jika membalas pukulan ayahnya. Sejelek apa pun karakternya, pria itu tetap ayah yang harus dia hormati.

“Inilah yang membuat aku tidak pernah betah berlama-lama di rumah ini, Bu. Tangan ayah selalu lebih dulu berbicara dari pada lidahnya,” desis Yoo Ill dengan tatapan penuh luka.

Usai berkata itu Yoo Ill mengangkat tasnya, melangkah keluar dengan gusar. Sampai-sampai bahunya menyenggol bahu ayahnya, tak ayal membuat laki-laki paruh baya itu pun terhuyung.

“Kau, kembali ke sini!” Tn. Han mengacungkan tangannya kearah Yoo Ill yang terus berlalu tanpa mengindahkannya.

“Andwaeyo, Yoo Ill-ah, kajima, jangan pergi lagi, jangan tinggalkan ibu,” rengek Joo Ri sambil menahan tangan anaknya.

“Mianhae, Eomma, mianhae ...,” bisik Yoo Ill lirih, dengan berat hati dia melepaskan genggaman ibunya, lalu bergegas pergi.

Hatinya tercabik melihat ibunya menangis. Dari hati yang paling dalam sesuangguhnya dia tidak mau melukai ibunya. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Sampai kapan pun antara dia dan ayahnya tidak akan pernah sepaham. Apa salahnya melakukan hal yang disukai? Toh, aku tidak berbuat kriminal. Memangnya salah jika aku memperjuangkan impianku sendiri? Gerutu Yoo Ill di dalam hati.

“Apa yang kalian tunggu ? Cepat ikuti dia, dan seret dia kembali !” bentaknya kepada dua laki-laki yang sedari tadi mematung di sisi pintu.



****





Yoo Ill menghembuskan nafas lega setelah menginjakkan kaki di atas bus. Dia tidak tau pasti bus itu akan membawanya kemana, yang jelas untuk sementara dia bisa menghilangkan jejak dari dua laki-laki suruhan ayahnya tadi.

Ini adalah kali kedua Yoo Ill melarikan diri. Sebelumnya dia kabur karena ayahnya memaksa dirinya untuk mengambil alih perusahaan dimana ayahnya adalah CEO-nya.

Menurut ayahnya hirarki kekuasaan mereka di perusahaan itu tidak boleh terputus. Huh ... sebuah opini yang semakin menjelaskan keserakahan ayahnya akan sebuah kekuasaan. Yoo Ill membenci ayahnya untuk alasan itu.

Untuk mendukung rencananya itu, oleh ayahnya Yoo Ill dikuliahkan di jurusan Manajemen Bisnis di universitas terbaik di negara mereka.

Hal yang tentu sangat bertentangan dengan hati nurani Yoo Ill. Dia ingin menjadi dokter. Atau pun perkerjaan lainnya yang berhubungan dengan dunia kedokteran. Sebuah passion alami yang ada dalam darahnya.

Mendedikasikan hidup guna kesembuhan pasien adalah hal yang membuat Yoo Ill selalu bersemangat.

Yoo Ill betul-betul merasa telah menemukan passionnya setelah tiga kali menjadi relawan dalam kegiatan kemanusiaan.

Disela-sela waktu kuliahnya, beberapa kali dia ikut dengan organisasi kemanusiaan yang membantu korban bencana alam. Nuraninya tersentuh ketika berhadapan dengan korban yang tidak berdaya. Dan adalah suatu kepuasan yang tak terkira ketika ia bisa menyelamatkan mereka.

Kepiawaiannya dalam berbahasa Inggris berhasil membuatnya dipercaya untuk ikut serta dalam kunjungan ke beberapa negara.

Namun sebelum semua rencananya berhasil, ayahnya lebih dahulu mengetahui rahasia itu. Tidak terelakkan lagi, ayahnya marah besar. Yoo Ill diseret, dan dikurung dalam kamar dengan pengawasan ketat.

Namun Yoo Ill sudah sangat yakin dengan pilihan hatinya. Dia berontak. Suatu pagi dia berhasil mengelabui Bibi Yu yang mengantarkan sarapan ke kamarnya. Yoo Ill pun kabur dari rumahnya.


Itu adalah cerita tiga bulan yang lalu. Kali ini Yoo Ill kembali pergi, namun bukan karena alasan pertama, namun lebih karena kecewa, ternyata ayahnya tidak berubah. Masih saja menggunakan kekerasan untuk mendapatkan keinginannya. Masih saja egois, masih saja tidak mempedulikan impian Yoo Ill. Yoo Ill tidak pernah bisa mengerti mengapa ayahnya bersikap seperti itu.

Yoo Ill rindu dengan sosok ayah yang ia kenal saat ia masih kecil. Bahkan hingga Yoo Ill remaja dulu ayahnya juga masih berprilaku hangat dan sabar. Tapi semuanya berubah total semenjak perusahaan yang ia pimpin semakin sukses. Ketika cabang perusahaan mereka telah tersebar hingga ke mancanegara. Ayahnya semakin ambisius dan egois dengan keinginannya.

Sifat ayahnya yang egois itulah yang membuat Yoo Ill rela menanggalkan semua kemewahan yang ia nikmati sejak kecil. Memang benar semua kemewahan itu bisa memudahkan kehidupannya. Tetapi jika semua itu hanya akan membuatnya mengejar materi semata untuk apa?

Baginya kebahagiaan sejati bukan terletak pada materi. Tapi bagaimana membuat diri bermanfaat bagi kehidupan orang lain.



Yoo Ill melangkahkan kakinya dengan galau tanpa tujuan yang jelas. Dia tau pasti kemurkaan ayahnya pasti telah sampai pada puncaknya kali ini. Itu berarti dia tidak akan lagi memiliki kesempatan untuk sekedar menarik tabungan yang tersisa untuk bekal pelariannya. Keegoisan ayahnya pasti telah membuat rekeningnya dibekukan.



Demi harga diri yang tersisa, Yoo Ill harus mampu bertahan dengan beberapa lembar sepuluh ribuan di dompetnya. Dan dia sadar sesadar-sadarnya, uang segitu tidak akan mampu membawanya jauh dari negeri ini. Tapi satu yang pasti, dia tidak peduli jika itu berarti harus membuatnya hidup menggelandang di dunia antah berantah, asalkan dia terbebas dari cengkraman kekuasaan ayahnya.


Bersambung ...

No comments:

Post a Comment


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal.

Note : Mohon maaf, komentar anonim dan link hidup saya anggap spam, ya.