Friday, October 25, 2019

You're My Destiny, Part 10




Part 10: Random Memories

Suara kokok ayam membangunkan Windi dari tidurnya, perlahan ia membuka mata, berusaha mengenali ruang dimana dia berada.

Ingatannya melayang kepada kejadian terguling-guling di tebing. Membangkitkan rasa nyeri yang semula sempat terlupakan. Tidak ayal suara rintihan keluar dari mulut Windi.

Tiba-tiba Windi teringat dengan Fina, sahabat yang mengajaknya ikut serta dengan event ini, Fina pasti tengah cemas karena keberadaan Windi yang tidak jelas.

Windi mengeluarkan ponsel dari tas pinggang yang masih ia kenakan. Sial, tidak ada sinyal lagi. Makinya dalam hati.

“Ya Tuhan !” seru Windi. Dia kaget mendapati angka di layar ponselnya menunjukkan tanggal 27. Dan itu berarti dia telah menghilang selama 3 hari.



Gubrak !



Sebuah suara menyerupai benda jatuh terdengar dari balik lemari yang membatasi ruangan yang di tempati Windi dengan ruangan sebelah.

Kaget, ia pun langsung terduduk. Suara alas kaki diseret terdengar mendekat. Windi menelengkan kepala mencoba memastikan pendengarannya.

Tiba-tiba di hadapannya Yoo-Ill muncul dengan rambut kusut masai, dan mata bengkak seperti orang habis begadang semalaman. Dia mengucek-ngucek matanya sambil menguap lebar.

Windi tertawa geli. Tampang Yoo Ill yang begitu mengingatkanku pada sosok Nobita yang selalu ngantuk ketika disuruh membuat PR oleh Doraemon. Lucu banget.

"Bagaimana lukamu, masih sakit ?" tanyanya seraya mendekat.

"Oh.. its okay.. aku merasa lebih baik," jawab Windi dengan senyum cerah.

Memang luka itu tidak lagi senyeri kemarin. Sepertinya Yoo Ill berhasil memberikan obat yang tepat untuk luka Windi. Yoo Ill tampak senang mendengar jawaban Windi.

"Oh ya, Yoo-ill-ssi, sekarang tanggal berapa ?”

“Sekarang? Tanggal 27. Emang kenapa ?”

“Aku pingsan ya kemarin ?”

“Ngga, kamu ga pingsan. Kamu cuma tidur nyenyak aja semalam. Memangnya kenapa?”

“Kalau sekarang tanggal 27, kemarin tanggal 26 dong.”

“Ya, memang. Kemarin memang tanggal 26. Ada apa sih ?”

“Ga, aneh aja. Seingatku aku mengikuti Tour Bike itu tanggal 25 lho, kalo semalam aku hanya tidur, mengapa hari ini tanggal 27 ?”

“Berarti kamu sempat pingsan satu hari sebelum ditemukan Paman Kim.”

Oo, begitu rupanya. Kalau begitu wajarlah sekarang tanggal 27. Berarti benar dia telah menghilang selama 3 hari.

“Oh ya.. apakah disini tidak bisa menggunakan ponsel ? Aku tidak melihat ada sinyal di layar ponselku,” tanya Windi sambil menyodorkan ponsel kearah Yoo Ill. Dia melihat ponsel itu, lalu menggeleng.

"Tidak, di sini tidak ada sinyal. Masyarakat di sini tidak satu pun memiliki ponsel,” jawabnya sambil berlalu. "Lagian memang tidak ada gunanya ponsel itu di sini,” samar-samar Windi mendengar gumamannya yang menyiratkan rasa pesimis.

Windi menyipitkan mata. Mencoba menganalisa maksud dari gumaman Yoo Ill barusan.

“Memangnya kenapa ? Aku tidak mengerti, setahuku Korea adalah negara yang sangat maju, jadi rasanya tidak masuk akal jika masih ada daerah yang tidak terjangkau oleh sinyal di sini.”

“Mengapa tidak ? Negara ini sama dengan tubuh manusia, pasti memiliki satu tempat yang tidak ingin diketahui atau pun disentuh oleh orang lain,” jawabnya dengan mimik misterius.

Windi semakin tidak mengerti. Tempat yang tidak ingin diketahui ataupun disentuh oleh orang lain? Ia mengulang-ulang kalimat itu dalam hati. Ada dua kata yang mungkin mendekati gambaran kalimat itu yaitu rahasia dan penyakit.

Manusia tidak menginginkan rahasianya diketahui oleh orang lain, dan manusia juga tidak menginginkan penyakitnya disentuh oleh orang lain.

Tunggu, apakah desa ini adalah lembah rahasia yang di dalamnya terdapat orang-orang dengan penyakit? Semacam tempat karantina gitu? Hiiyyy.. Windi bergidik ngeri membayangkan jika itu memang benar. Terjebak di antara orang-orang yang terkontaminasi virus mematikan sungguh bukan sebuah acara liburan yang ia inginkan.

“Kenapa? Mukamu tiba-tiba pucat. Kau merasa sakit?” You-ill menghampiri Windi dengan cemas melihat keringat yang bercucuran di keningnya.

“Katakan padaku, apakah.. apakah aku berada di sebuah lembah yang berisi orang-orang dengan penyakit mematikan ?” tanya Windi dengan nada khawatir.

Pupil matanya membesar mendengar pertanyaan Windi, sementara mulutnya bergetar seakan sedang menahan sesuatu.

“Hahahaha... apa ? Lembah penyakit ? Hahaha,” Yoo Ill tertawa lebar mendengar pertanyaan Windi barusan.

Dia tertawa lama, sampai-sampai airmatanya keluar. Windi yang kebingungan semakin bingung melihat dia tertawa begitu lepas.

“No.. Windi.. No.. kamu salah paham dengan kalimatku tadi. Hihi...” ujarnya masih sambil menahan tawa.“Disini memang tidak ada sinyal, dan masyarakat di sini juga tidak memerlukan sinyal, karena 99% masyarakat di sini adalah penduduk asli yang tidak merantau ke manapun, jika boleh aku menyamakan, desa ini kurang lebih sama dengan desa suku Asmat di Papua, kamu tahu kan bagaimana mereka?” jelasnya kemudian.

Sejenak pikiran Windi melayang ke daerah pedalaman Papua yang masih sangat sulit menerima warga asing itu.

“Kamu bisa perhatikan suasana desa ini, di sini masyarakatnya masih tergolong primitif, mereka nyaman hidup dengan cara tradisional warisan leluhur mereka,” tambahnya lagi, masih geli dengan pertanyaan konyolnya.

Ah.. konyol sekali aku menanyakan hal seperti itu ? Sesal Windi dalam hati.

“Lalu.. apakah kamu sama dengan mereka? Sepertinya kamu tidak se”tradisional” mereka yang kamu bilang tadi,” tanya Windi lagi.

Meskipun hidup dengan sangat sederhana, namun Windi bisa melihat Yoo-ill tidaklah sama dengan mereka. Dia mengenakan pakaian biasa seperti lelaki di luar sana, memakai celana jeans dan juga kemeja.

Berbeda dengan laki-laki paruh baya yang menolong Windi kemarin. Dia mengenakan pakaian yang bahannya menyerupai goni bekas. Sepatunya pun sepatu jerami. Sepatu tradisional yang pernah ia lihat di film-film kolosal Korea.

Sepertinya pertanyaan Windi barusan mengena tepat kesasaran. Paras Yoo Ill langsung berubah.

“Aku.. tidak penting siapa aku, yang pasti aku adalah bagian dari mereka sekarang,” jawabnya, kemudian bangkit meninggalkan Windi.

Sepertinya ada sesuatu yang dirahasiakannya. Karena setiap kali pertanyaan Windi menyentuh ‘sesuatu’ Yoo Ill selalu menghindar.

Tapi Windi tidak mau ambil pusing mengenai itu, masalahnya jauh lebih rumit. Jika daerah ini tidak dijangkau oleh sinyal, bagaimana caranya mereka akan menemukanku? Dan aku juga tidak bisa menghubungi mereka. Masa iya ? Aku harus terjebak di sini ? Hiyy.. aku tidak sanggup membayangkan tubuhku tidak lama kemudian akan berubah mengenakan pakaian seperti mereka, Windi bergidik lagi.



Kkkkrriiuuk..



Perut Windi keroncongan, menyadarkan bahwa ia belum makan sejak semalam. Ia beringsut turun dari dipan, menjejakkan kaki di lantai papan yang lembab itu mencoba untuk berdiri.

Namun ternyata luka di pergelangan kakinya masih menyisakan perih yang teramat sangat. Membuat tubuhnya tidak seimbang, dan nyaris jatuh terjerembab.

Untungnya sebelah tangannya masih berpegang pada pinggir dipan, sehingga selamat dari kerasnya lantai papan yang lembab itu. Yoo-ill mendengar suara gaduh yang ia ciptakan, dia pun muncul dan langsung memapah Windi untuk bangkit.



“Kamu mau kemana?”



Bersambung ...

No comments:

Post a Comment


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal.

Note : Mohon maaf, komentar anonim dan link hidup saya anggap spam, ya.