Monday, October 14, 2019

You're My Destiny, Part 1





Part 1: Hujan Salju yang Tak Biasa.


Salju mulai turun dengan lebat. Tidak seperti tahun-tahun biasanya, yang mulai lebat di bulan Desember, kali ini masih di akhir November suhu semakin menusuk tulang. Di tengah cuaca yang tidak bersahabat itu Roy memacu kendaraannya membelah jalanan yang berwarna putih. Wajahnya tenang, ada riak kebahagiaan yang memancar di sana.


Bagaimana tidak? Setelah dua puluh lima tahun, akhirnya ia kembali mengantongi identitas kewarganegaraan Indonesia. Dan perjuangannya selama lima tahun terakhir pun berbuah manis, akhirnya kesempatan itu datang. Dia diterima berkerja sebagai salah satu staff ahli di Jakarta. Kota yang terakhir ia lihat saat ia berumur lima tahun, ketika seorang pria bermata sipit yang mengaku sebagai ayahnya datang, lalu membawanya pergi ke sebuah negeri antah berantah yang kultur dan bahasa sama sekali tidak ia pahami.


Setelah itu ia hidup nomaden dari satu rumah ke rumah yang lain. Sementara laki-laki yang mengaku ayahnya tadi pergi entah kemana. Sedangkan wanita tua yang ada dirumah itu sering kali memandangnya dengan tatapan tidak bersahabat. Roy kecil tidak mengerti, yang ia tau wanita tua itu adalah neneknya. Sementara ibunya adalah mantan TKI yang sudah pulang ke Indonesia.


Karena itu tidak banyak yang bisa ia ingat tentang Indonesia selain bayang-bayang samar ketika ia bermain di halaman sebuah rumah kecil di temani seorang wanita muda berwajah sendu. Ahh .. desah Roy panjang. Sejumput kegelisahan menyelinap dihatinya. “Apakah dia masih ada?” Tanya Roy dalam hati.


Tepat di usianya yang ke sepuluh, lagi-lagi Roy dipindahkan ke rumah keluarga yang lain. Tapi kali ini tidak lagi bermata sipit seperti yang biasa ia lihat. Keluarga yang ia temui kali ini berkulit coklat dan bermata besar, tapi memiliki tatapan yang hangat. Rumah yang ditempatinya pun memiliki banyak kamar. Dan Roy melihat beberapa orang anak seumurannya bermain di dalamnya.


Bu Fatma, demikian wanita itu disapa. Diingat dari posturnya, Bu Fatma saat itu sepertinya masih berusia 20 tahun. Cukup muda untuk menjadi pengelola panti. Meski tidak banyak kisah yang bisa Roy gali dari wanita itu, tapi tumbuh di bawah asuhannya membuat Roy tetap bisa merasakan kasih sayang seorang ibu. Dan berkat beliau juga, Roy tetap bisa merasakan jiwa Indonesia dalam aliran darahnya. Ketika tidak ada anak-anak yang lain didekat mereka, Bu Fatma selalu mengajaknya berbicara dan bercerita menggunakan bahasa Indonesia. Karena itulah, meski tumbuh besar di negara asing, tapi tak sedikit pun Roy lupa dengan negara asalnya.


***


Roy memperlambat laju kendaraan karena ban belakangnya beberapa kali terasa goyang. Itu pasti karena salju yang semakin tebal. Sesekali dia melirik bangku belakang lewat kaca spion. Disana ada dua orang perempuan belahan jiwanya. Fani dan Windi.

“Windi tidur, Ma?” tanya Roy.

“Iya, Pa. Habis minum ASI dia langsung tidur,” jawab Fani.

“Pasti dia nyaman tuh, berada dipelukan kamu di cuaca dingin begini.”

“Iya, ya, Pa. Ga biasa-biasanya dia tidur di mobil. Biasanya rewel minta dibukakan kaca, trus ketawa cekikikan kalo rambutnya diterbangkan angin.”


Roy tersenyum membayangkan suara riang anaknya. “Ga terasa udah besar, ya, dia sekarang.”


“Iya, Pa, oh ... iya, Papa yakin jalannya lewat sini?”


“Yakin, Ma. Beberapa waktu lalu papa pernah di ajak Tae Ho ke sini.”


“Iya, tapi saat itu ga lagi salju, kan, Pa ?”


“Benar, tapi plang jalannya, kan, ada. Papa hapal kok, Ma. Tenang aja.”


“Iya, Pa. Cuma mama khawatir aja, ntar kita ketinggalan pesawat lagi.”


“Ga bakalan, Ma. Masih ada waktu 4 jam lagi kok.”


“Lagian Papa pake acara mengunjungi Tae Ho segala lagi, kan bisa pamitan via telepon.”


“Papa ga enak, Ma. Hari ini adalah hari perayaan rumah barunya. Dia udah banyak bantu papa waktu kuliah dulu. Dia juga yang bantu papa mendapatkan perkerjaan. Dan yang tidak akan pernah papa lupa, dia jugalah yang berjasa karena udah mempertemukan kita,” ujar Roy sambil menatap mesra istrinya. Fani pun tersipu malu.


“Ih ... papa genit,” sahut Fani.


“Lho, emang kenyataannya kan, Ma. Bagi papa, Tae Ho itu bukan hanya teman, Ma. Dia lebih dari saudara. Bahkan kami sama-sama berjanji akan saling menjaga satu sama lain, anakku adalah anaknya juga, begitu juga sebaliknya. Masa mentang-mentang papa dapat kerjaan yang lebih baik di Indonesia trus papa main pulang gitu aja ?”


Fani tidak menjawab lagi, untuk hal itu dia tidak akan pernah berani berdebat dengan Roy. Dia sangat paham arti persahabatan dalam hubungan mereka.


Dalam hening yang sesaat tiba-tiba Windi menangis di pelukannya.


“Cup ... cup ... cup ... ini mama, Sayang. Sshhhh ... tenang, Nak. Tenang.”


Bujukan Fani tidak mempan. Windi justru menangis semakin kencang disertai jerit di setiap ujungnya. Seperti orang yang sedang ketakutan akan sesuatu.


“Kenapa Windi, Ma ? Kok ... nangis sampe segitunya ?” tanya Roy masih dari kaca spion.


“Ga tau nih, Pa. Tiba-tiba saja dia menangis.”

“Masuk angin kali, Ma.”

“Ngga Pa, perutnya ga kembung kok,” jawab Fani. Dia menepuk-nepuk perut Windi beberapa kali, dan terdengar baik-baik saja.


“Cup...cup... udah Nak, udah. Ini mama, Sayang.”


Windi menangis semakin keras. Membuat konsentrasi Roy teralihkan. Dia tidak lagi fokus melihat jalan sehingga tidak melihat bahwa ia baru saja melewati papan yang bertuliskan larangan tertentu. Sampai ketika mobil yang dikendarainya terasa goyang seperti baru saja melewati jalan yang keras dan licin.


“Perhatikan jalan, Pa. Ga usah cemaskan Windi. Ntar lagi dia juga diam.”


“Iya Ma, iya. Ini papa juga perhatiin kok.”


Merasakan jalan yang dilewatinya semakin licin, Roy mengurangi kecepatannya, namun tidak berhasil. Mobil yang dikendarainya tetap meluncur tak terkendali.


“Awas, Paaaa.”


“Merunduk, Ma. Pegangan yang kuat. Lindungi Windiiiii !”


Itu adalah kata-kata terakhir mereka, karena berikutnya hanya pekikan histeris diiringi suara dentuman besar yang terdengar.


Mobil itu terguncang hebat beberapa kali, lalu meluncur, berguling-guling, dan terhempas di bebatuan diiringi dengan suara menggelegar.


Siang itu, ditengah hujan salju yang lebat, mobil yang berisikan Roy, Fani dan Windi terhempas ke dasar jurang.


***



Tidak jauh dari tempat kejadian. Jang Woo dan istrinya sedang melintas. Mereka adalah pasangan suami istri yang telah bertahun-tahun tidak dikaruniai anak.


“Yeobo, bagaimana kalau kita mengadopsi anak saja?” tanya In Suk, istrinya. Ada getaran halus terdengar di suaranya. Sangat jelas dia menahan gejolak yang sangat besar di hatinya. Meskipun sudah bisa menduga jawaban dari suaminya, tapi dia tetap ingin mencoba sekali lagi, dengan harapan suaminya akan berubah pikiran.


Hasratnya untuk menjadi ibu sudah tak terbendung lagi. Sementara usianya tak lagi muda. Jika langit memang tidak menakdirkannya untuk melahirkan seorang anak, maka mengadopsi anak adalah jalan lain yang harus ia pilih.


In Suk telah melakukan riset kecil-kecilan dari beberapa orang temannya yang juga tidak memiliki anak seperti dirinya. Mereka mengadopsi anak, dan tak lama kemudian mereka dikaruniai anak. In Suk berharap keajaiban yang sama juga akan menghampirinya.


“Kamu kan sudah tahu jawabanku dari dulu. Mengapa masih menanyakan itu?” Jang Woo menjawab dengan nada gusar.


“Tapi sampai kapan aku harus menunggu, sementara usia kita semakin lanjut. Aku khawatir langit memang tidak merestui kita memiliki keturunan.”


“Jangan menghakimi langit sesukamu. Kamu kan tidak tahu, bisa jadi saat ini DIA sedang merencanakan sesuatu yang indah buat kita. Sabar saja, yeobo, ye, pasti akan indah pada waktunya.”


In Suk tidak menanggapi lagi. Setiap kali membahas hal itu selama tiga tahun terakhir akhirnya selalu sama. Suaminya tidak pernah menyetujui mengadopsi anak. Padahal kemungkinan mereka untuk memiliki anak memang sangat kecil, karena In Suk sendiri pernah menjalani operasi kista sebelum menikah dulu.


“Ada apa, yeobo ?” tanya In Suk heran, karena suaminya tiba-tiba menghentikan mobil. Sementara mereka masih jauh dari tujuan.


“Di depan sana, kamu lihat itu ? Sepertinya ada kecelakaan. Ayo kita lihat.”


“Tttapi ... kamu yakin itu kecelakaan biasa ? Bagaimana kalau mereka penjahat ? Atau korban kejahatan ? Nanti kita bisa jadi tertuduh.”


“Ahh, kamu kebanyakan nonton drama. Jika kita tidak menolong mereka, lalu siapa lagi ? Setidaknya kita bisa menghubungi 119.”


Suami istri itu pun mendekati mobil yang nyaris hancur itu.


“Yeobo, dengar, sepertinya ada suara tangisan anak kecil,” kata In Suk.


Jang Woo mencoba mempertajam pendengarannya. Dan benar yang dikatakan istrinya, dia mendengar tangisan anak kecil.


Di bawah mobil yang hancur itu dia melihat tangan kecil menggapai-gapai. Pakaiannya berlumuran darah. Sementara dua orang lainnya diam tak bergerak.


“Yeobo, sini, cepat. Bantu aku menariknya,” teriak Jang Woo.


In Suk berlari mendekat. Dia terpekik melihat pemandangan di depannya.


“Sudah, tunda dulu kagetmu. Kita harus segera menolong anak itu. Aku akan angkat, kamu yang tarik. Dalam hitungan tiga, oke.” In Suk mengangguk.


“Na, dul, set.” Sekali hentakan In Suk berhasil menarik anak itu dan membawanya kepelukannya.


“Bagaimana dengan orangtuanya ?” tanya In Suk khawatir.


Jang Woo meraba nadi mereka satu persatu. Dia menghela nafas berat.


“Denyut nadinya masih ada, hanya sangat lemah. Aku khawatir mereka tidak akan mampu bertahan lagi,” jawabnya khawatir. Lalu mengeluarkan ponsel untuk menghubungi 119.


“Yeobo, tunggu, anak ini, bagaimana dengan anak ini ?”


“Mengapa bertanya ? Tentu saja kita serahkan kepada petugas yang datang nanti.”


“Andwaeyo, yeobo, kamu sendiri yang bilang orangtuanya tidak memiliki harapan hidup. Biarkan aku merawatnya, ya, aku yakin, ini adalah salah satu cara yang diberikan langit kepada kita.”


“Michyeosseo? Tidak, kamu jangan sekali-kali berpikir untuk melakukan itu!” tolak Jang Woo tegas.


Sudah cukup dia melihat kehidupan anak-anak terlantar di panti asuhan di dekat tempat kerjanya. Dia tidak mau, jika dirinya adalah salah satu pelaku yang menyebabkan itu.


“Yeobo, tolonglah, izinkan aku merawatnya. Kamu tidak lihat anak ini membutuhkan kita ? Lihat wajahnya yang polos, aigoo ... dia sangat menggemaskan,” rengek In Suk sambil membelai-belai wajah Windi yang mulai tenang di pangkuannya.


Jang Woo memandangi wajah anak yang digendong istrinya. Wajahnya imut dan polos. Meskipun tubuhnya gemetar karena takut, tapi sorot matanya menampakkan keberanian. Seandainya diberi kesempatan, dia sangat ingin memiliki anak seperti itu.


“Tapi ... .” gumam Jang Woo ragu.


“Udah, tidak usah terlalu banyak pikir, ayo, kita pergi dari sini, buruan,” desak In Suk seraya menarik tangan suaminya untuk segera beranjak dari tempat itu.


“Oke, tapi biar aku hubungi 119 dulu. Setidaknya kita upayakan dulu pertolongan bagi orangtuanya.”




Suara ambulan meraung-raung memasuki pelataran rumah sakit yang megah dan besar. Di dalamnya tergolek Roy dan Fani dengan luka di sekujur tubuhnya.


Satu dokter dan dua paramedis lainnya sibuk mengupayakan pertolongan pertama untuk Roy dan Fani.


“Suster Kim, segera siapkan ruang operasi. Suster Nam, hubungi dr. Lee. Beberapa pecahan kaca menembus dada mereka, dan harus dilakukan operasi secepatnya,” intruksi Ko Joo Ri kepada bawahannya.


“Baik, Dok,” jawab mereka serentak. Lalu melesat ke luar dari ambulan.


Suasana UGD gaduh luar biasa. Petugas berlarian ke sana ke mari memenuhi kebutuhan yang diminta oleh dokter yang menangani pasien.


“Sudah cek kartu identitas mereka ?” tanya Joo Ri lagi.


“Sudah, Dok. Ternyata mereka warga negara Indonesia. Dan kami juga menemukan tiga tiket penerbangan, dua tiket dewasa atas nama Mr. Roy, Mrs. Fani dan satu tiket anak-anak atas nama Ms. Windi. Sepertinya mereka sedang dalam perjalanan menuju bandara.”


“Tiga tiket? Kamu yakin? Tapi kenapa cuma ada dua korban?”


Mereka saling berpandangan penuh arti. Benar juga, tadi di lokasi kecelakaan mereka hanya menemukan dua korban, jadi mana korban yang ketiga ?


“Tadi kamu bilang kemungkinan mereka menuju bandara, kan? Tapi tempat kecelakaan terjadi itu, arah sebaliknya, bukan?”


“Benar juga, alamat mereka pun jauh dari tempat kecelakaan. Apakah mereka tersesat ?”


“Hmm, bisa jadi. Berkendara di tengah hujan salju memang tidak mudah. Kita yang hapal jalan saja bisa nyasar apa lagi jika tidak terbiasa.”


“Anda benar, Dokter. Sepertinya begitu. Jadi apa langkah selanjutnya, Dok ?”


“Lebih baik kamu hubungi pihak kedutaan, agar mereka bisa menangani warga negaranya dengan segera. Aku masih penasaran dengan keberadaan anak mereka, jangan sampai ada pihak yang memanfaatkan keadaan ini.”

“Maksud Dokter ?”


“Anak itu, tadi tidak ditemukan di lokasi kecelakaan, kan ? Ada dua kemungkinan, pertama, mereka dalam perjalanan menjemput anak itu, kedua, anak itu diculik di lokasi kejadian. Ditambah lagi di lokasi kecelakaan juga tidak ada orang yang menghubungi kita, padahal tadi jelas-jelas informasinya mereka menemukan korban kecelakaan, tetapi kenapa mereka tidak ada ?”


“Wah, anda berbakat jadi detektif, Dokter,” puji Suster Kim. Joo Ri sumringah.


“Karena saya penasaran, makanya kamu hubungi kedutaan Indonesia secepatnya, agar mereka bisa mencari keberadaan anak itu.”

“Baik, Dok.”

***


Joo Ri baru saja hendak menyantap makan siangnya ketika Suster Kim dan Suster Nam masuk dengan suara gaduh.

“Dokter! Dokter Ko! Pasien tadi ... pasien kecelakaan tadi meninggal.”

“Apa? Yang mana?” tanggap Joo Ri kaget.

“Kedua-duanya, Dok. Yang suami meninggal di meja operasi, yang istri meninggal dalam perjalanan menuju ruang operasi.”


Ko Joo Ri langsung lemas. Meskipun hal ini bukan yang pertama kali dia hadapi, namun setiap kali mendengar berita pasien yang ditanganinya meninggal tetap saja dia merasa lemas. Seakan-akan satu urat sarafnya ikut terputus bersamaan dengan kematian mereka.

Tanpa sadar Joo Ri memandangi foto yang ada di layar ponselnya seraya membisikkan doa, semoga wajah mungil yang sedang tersenyum lebar di sana tidak akan mengalami nasib yang sama.


***


Kaki kecil itu melangkah beriringan bersama kaki-kaki besar lainnya. Jalannya masih tertatih karena usianya yang memang masih teramat belia.Tangannya terangkat tinggi dalam genggaman mereka.


“Papa, Mama?” disela-sela langkah mereka, mulut mungil itu tidak berhenti memanggil-manggil orangtuanya.


Tapi bagaikan angin lalu, tak ada satu pun diantara mereka yang menjawab panggilan itu.


“Yeobo, sepertinya anak ini berbeda. Bahasanya bukan bahasa kita.”


“Papa, Mama, anna ?” tanyanya lagi dengan tatapan polos yang menghujam tepat ke manik mata dua orang dewasa di hadapannya.


Jang Woo dan In Suk saling berpandangan, tenggorokan mereka tiba-tiba terasa kesat. Mereka sadar, baru saja melakukan kesalahan besar.


“Eotteohkeyo, yeobo ? Dia bukan orang sini, sekalipun orang tuanya tidak selamat, pihak kedutaan mereka pasti mencari anak ini. Dan lihat, dia juga punya tanda lahir yang cantik di lengannya. Kita tidak mungkin menyembunyikannya di sini kan?”


“Makanya tadi aku larang kamu mengambilnya. Tapi kamu ngotot. Kalau sudah begini aku juga yang repot.”


“Kamu menyalahkanku? Memangnya kamu tidak perhatikan wajah orang tuanya ? Wajah mereka kan beda dengan kita?”


“Kamu pikir dalam keadaan berlumuran darah wajah orang bisa dikenali?”


In Suk terdiam dia tak lagi mendebat suaminya. Dia mulai panik, beragam bayangan buruk mulai gentayangan di kepalanya.


“Begini saja, aku tidak mau berurusan dengan hukum. Besok kita antarkan saja dia ke kedutaan,” usul Jang Woo tegas. Dia yakin itu adalah keputusan terbaik.


“Tapi ...,” sahut In Suk ragu.


“Kamu mau dibilang menculik? Kalau kita mengaku, dan bilang ingin menyelamatkannya, mereka ga akan hukum kita. Percayalah padaku.”


“Ttta-tapi, bagaimana jika kita tetap dihukum meskipun mengembalikan anak ini? Bagaimana jika mereka tidak percaya, lalu memenjarakan kita? Aku tidak mau dipenjara, yeobo, andwaeyo, cheongmal andwaeyo, yeobo.”


“Sudaahh, kamu jangan menakut-nakuti gitu. Besok biar aku saja yang kembalikan anak ini, kamu di rumah saja.”


***


Tanah masih basah setelah semalaman dihujani salju tiada henti. Di atasnya Jung Woo mempercepat laju sepeda motornya, ada kekhawatiran menggelayut di wajahnya yang tirus. Di depannya, Windi duduk berbalut jaket tebal. Wajahnya tampak tenang. Bahkan sesekali dia tertawa lepas ketika angin berhasil mencuri kesempatan menyelinap di bawah tutup kepalanya.


Dia sangat menyukai angin. Sesuai nama yang diberikan orangtuanya yang bermakna sama. Baginya angin bisa mendatangkan rasa bahagia. Oleh mamanya, setiap kali ia menangis pasti segera dibawa ke hadapan kipas angin. Kemudian mereka menciptakan macam-macam suara di depannya sehingga suara mereka terdengar bergelombang. Windi sangat menyukai itu.


Di sebuah perempatan jalan, Jang Woo menghentikan laju motornya. Tiba-tiba timbul keraguan di hatinya. Terngiang kembali kata-kata istrinya kemarin. Bagaimana jika mereka tetap menghukumnya karena dianggap telah melakukan penculikan. Bagaimana jika dia disalahkan atas kecelakaan itu? Keringat dingin membasahi telapak tangannya karena cemas. Tidak, dia tidak mau itu terjadi. Dia tidak siap jika harus berhadapan dengan berbagai macam interogasi berwajib. Yang terpenting, dia tidak mau di penjara.



Tapi bagaimana dengan anak ini ? Tidak mungkin baginya untuk membawa anak ini pulang kembali kerumah. Tetangga mereka bisa curiga, dan menuduhnya melakukan penculikan. Tapi dia juga tidak memiliki keberanian untuk mengantarkan anak ini ke kantor kedutaan.


Tidak ada cara lain, demi keselamatannya, dia pun memutuskan untuk mengantarkan Windi ke panti asuhan. Ya, itu adalah keputusan yang terbaik.


Jang Woo berbalik, lalu memacu sepeda motornya menuju panti asuhan terdekat yang ia tahu.


Dengan sedikit mengendap-endap Jang Woo memasuki ruang utama panti asuhan itu. Hatinya berdebar keras.


Dia mendudukkan Windi di salah satu kursi yang tersedia, sementara dia sendiri mencari cara untuk memberi tahu keberadaan mereka. Jang Woo punya rencana, begitu pengelola panti itu tampak, dia akan berlari secepatnya meninggalkan panti asuhan itu. Di kantong Windi dia sudah menyiapkan sepucuk surat, agar pihak panti tahu harus berbuat apa.


Jang Woo memencet bel yang terletak di atas meja. Tidak terdengar sahutan. Jang Woo kembali menekan bel itu.


“Yeee, jamkkanmanyo,” terdengar sahutan dari salah satu ruangan, bersamaan dengan derap sepatu yang bergesekan dengan lantai.


Jang Woo mengambil kesempatan itu sebaik-baiknya. Dia berkelebat pergi, menuju sepeda motornya yang terparkir di pinggir jalan, memutar gasnya, lalu menghilang dalam kecepatan tinggi.


“Yee, jamkkanmanyo? Mueoseul dowadeurilkkayo ?” Cho Min Ah, pengurus panti sampai di lobi. Dia heran tidak menemukan siapapun disana.


“Lho, mana orangnya? Tadi jelas-jelas aku mendengar bel berbunyi, tapi kenapa tidak ada siapa-siapa?” Min Ah memutar tubuhnya dengan kecewa. Tapi lamat-lamat dia mendengar sesuatu.


“Papa, Mama, anna ?”


Min Ah terkesiap kaget. Didepannya berdiri seorang bocah kecil usia 1 tahunan. Dengan jaket tebal dan penutup kepala kebesaran. Jelas sekali anak itu tidak mengenakannya pakaian miliknya sendiri.


“Kkkamu, siapa? Siapa yang membawamu ke sini?” tanya Min Ah gugup.


Windi tidak menjawab. Dia hanya menatap lurus ke bola mata Min Ah. Tatapan itu penuh tanda tanya yang meminta jawaban.


“Papa, Mama, anna ?” tanyanya lagi.


“Somanim, kemarilah, lihat apa yang aku temukan!” sorak Min Ah dengan pandangan tidak lepas dari Windi.


“Yee, Min Ah. Ada apa ribut-ribut? Suaramu itu bisa membangunkan anak-anak yang sedang tidur,” seorang wanita paruh baya keluar dari ruangan paling pojok. Dia adalah Ny. Baek. Kepala panti asuhan itu.


“Chwisongeyo, somanim. Tapi lihatlah kesini.”


“Apa sih itu ? Kamu benar-benar membuatku penasaran,” gerutu Ny. Baek seraya mempercepat langkahnya.


Sesampai didekat Min Ah, dia pun berseru kaget. Suasana menjadi kaku untuk beberapa saat. Ny. Baek yang telah puluhan tahun mengelola panti itu tentu saja bisa segera menguasai keadaan. Dia telah berulang kali berhadapan dengan hal yang sama.


“Annieonghaseyo, siapa namamu, Sayang ?” tanyanya kemudian setelah berhasil mengatasi rasa kagetnya.


Windi tidak menjawab, dia hanya tersenyum kecil.

“Papa, Mama, anna ?” tanyanya kemudian.


“Booo yaaa ? Anak ini .. dia bukan orang sini. Siapa yang membawanya ke sini ?”

“Saya tidak tahu, Bu. Tadi saya mendengar suara bel, saya sedang di ruang belajar anak-anak, bergegas keluar. Tetapi sampai di luar aku tidak menemukan siapa-siapa, hanya anak ini.”


“Ya, sudah. Nanti kita cari tahu lebih banyak. Sekarang kamu urus anak ini. Ganti pakaiannya dengan yang lebih pantas.”

“Baik, Bu.”




Han Tae Ho tampak gelisah diruangan kerjanya. Sejak kemarin dia tidak bisa menghubungi Roy sahabat dekatnya. Padahal jelas-jelas malam sebelumnya Roy menelepon memberitahu bahwa dia akan mampir sebelum pulang ke Indonesia. Perasaannya tiba-tiba tidak enak. Firasatnya mengatakan sesuatu sedang terjadi. Dan dia penasaran itu apa.


“Nn. Lee, tolong hubungi kantor Tn. Roy. Cari tahu perihal keberangkatan mereka,” perintahnya pada sekretarisnya. Wanita berambut panjang itu mengangguk lalu mundur dari ruangan.


Lima belas menit berlalu dia kembali lagi keruangan itu. Wajahnya tegang, seperti sedang mencemaskan sesuatu.


“Nn. Lee, kamu baik-baik saja? Kenapa wajahmu pucat begitu? Apa kata mereka ?”


“Sekretaris Tn. Roy bilang mereka sudah ke luar dari sana sejak pagi kemarin, Tuan,” jawabnya dengan suara bergetar.


“Lalu apa yang membuatmu tampak ketakutan seperti itu ?”


“Itu ... itu ... hhmm .. sebaiknya Tuan lihat sendiri beritanya,” jawab Nn. Lee sambil meraih remote dan mengarahkannya kelayar televisi.


Di salah satu channel sedang menayangkan berita tentang kecelakaan tragis yang menimpa warga negara Indonesia. Kecelakaan tunggal itu merenggut dua nyawa sekaligus.


Tae Ho terhenyak melihat tayangan berita di hadapannya. Tubuhnya lemas, hati dan pikirannya sulit menerima kenyataan sahabat baiknya tewas mengenaskan seperti itu.


Untuk beberapa saat dia terpaku tanpa suara dengan pandangan tidak lepas dari layar tivi. Reporter di sana sedang menyampaikan analisa perkiraan penyebab terjadinya kecelakaan itu. Te Ho masih sangat syok, dia sulit menerima kenyataan bahwa sahabat karibnya itu telah tiada.


Tiba-tiba dia teringat sesuatu. “Tunggu, mereka bilang korban tewas ada dua orang ?” tanyanya kemudian.


“Benar, Tuan,” sahut Nn. Lee.

“Lalu bagaimana dengan anak mereka ?”


“Itu yang belum diketahui pasti, Tuan. Karena ketika ambulan sampai dilokasi kejadian mereka hanya menemukan dua orang korban.”

“Apa maksud kamu, Nn. Lee? Anak itu hilang?”


“Saya tidak tahu Tuan. Saat ini pihak kedutaan pun masih mencari keberadaan anak itu.”


“Hubungi Tn. Kim, suruh dia menemuiku.”

“Baik, Tuan.”


***

Sementara itu di panti asuhan, Min Ah sedang memakaikan selimut ke tubuh Windi yang tertidur.


“Bagaimana anak itu, Min Ah ?” tanya Ny. Baek yang ikut masuk ke kamar.


“Setelah mandi dan makan lahap dia tertidur, Bu. Sepertinya dia kelelahan.”


Ny. Baek menghela nafas panjang. Pikirannya tidak tenang. Meskipun kejadian ini bukan yang pertama kali ia alami, namun baru kali ini ia menerima warga negara asing. Firasatnya mengatakan sesuatu yang tidak biasa sedang terjadi.

“Kenapa, Bu? Ada yang mengganggu pikiran Ibu?” tanya Min Ah. Bertahun-tahun mengenal Ny. Baek dia paham betul hati atasannya itu sedang resah.


“Ada yang aneh, Min Ah. Anak itu bukan warga negara kita. Tapi mengapa dia bisa sampai di sini? Tadi aku juga melihat ada noda darah yang telah kering di pakaiannya. Apakah dia korban penculikan?”


Min Ah, wanita polos yang hanya mengenyam bangku sekolah dasar itu tentu saja tidak paham akan kata-kata atasannya. Yang dia tahu, dia harus meninggalkan wanita tua itu sendirian untuk berpikir, sementara dia harus kembali ke perkerjaannya. Sadar akan hal itu, dia jadi teringat cuciannya telah terendam cukup lama.


Min Ah mempercepat langkahnya menuju halaman belakang tempat dia merendam cuciannya. Sembari melangkah, dia menyempatkan menyambar pakaian yang dikenakan Windi tadi, lalu menyatukannya dengan cuciannya yang lain. Bersama tumpukan cucian, baginya inilah dunia ternyaman.


Sepeninggal Min Ah, Ny. Baek berpikir keras. Dia harus melakukan sesuatu. Demi keselamatan anak itu dan juga demi kenyamanan panti yang ia bina.


Ny. Baek mengangkat telepon, dan langsung menghubungi kedutaan. Itu adalah langkah terbaik yang bisa ia lakukan.





Bersambung ...




Note:


Mohon kritik dan sarannya, ya. Terutama untuk dialog-dialog dalam bahasa Korea yang aku masih sangat awam. Terimakasih.

3 comments:

  1. Seruuu..rasanya seperti nonton drakor. Tak sabarnya menunggu kisah selanjutnya

    ReplyDelete
  2. ceritanya menarik...penasaran dengan sambungan ceritanya😊

    ReplyDelete
  3. Sebagai pembaca, yuni tidak terlalu suka dialog yang dicampur-campur penulisan bahasanya. Maksudnya, dalam satu kalimat perkataan ada bahasa korea dan bahasa indonesia. Yuni lebih nyaman membaca jika satu kalimat ucapan tokoh dalam satu bahasa. Kalau ingin explore bahasa korea ya satu kalimat ucapan itu bahasa korea semua. Nanti bisa diberi rujukan artinya di footnote.

    Seperti ini misalnya, “Annieonghaseyo, siapa namamu, Sayang ?” Ada bagian dengan bahasa korea dan ada bagian dengan bahasa indonesia. Kalau yuni lebih nyaman membacanya jika semua dalam bahasa korea atau semua dalam bahasa Indonesia.

    Ini hanya pendapat yuni sebagai pembaca atas kenyamanan membaca saja ya, Mbak.

    Secara ide, ceritanya sudah menarik.

    ReplyDelete


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal.

Note : Mohon maaf, komentar anonim dan link hidup saya anggap spam, ya.