Wednesday, October 16, 2019

You're My Destiny, Part 3


Part 3: Kabar Gembira.



“Win! Coba tebak aku bawa berita apa ?” berlari-lari kecil, Fina mendekati Windi dengan wajah sumringah.

Berita? Paling berita soal ngedate dia semalam dengan si Frans. Aku paling ga suka mendengar cerita semacam itu, batin Windi. Bukannya cemburu, well.. kalau boleh jujur sih Windi cemburu juga, karena usia udah segini masih juga berpredikat jomblo. Tapi dia fun aja dengan status itu, karena saat ini ada satu hal yang tidak boleh dia abaikan sama sekali yaitu kuliah yang telah diperjuangkannya setengah mampus.

Windi melengos, kembali fokus pada bacaan di hadapannya. Baginya tidak ada yang lebih menarik dari pada gosip Lee Min Ho yang kabarnya sedang dekat dengan lawan mainnya di salah satu serial.

“Hei.. kamu dengarin aku ga sih?”

Fina merenggut tabloid itu dari tangan Windi dengan wajah masam. Tampak sekali dia keberatan dengan pengabaian Windi barusan. Windi menghela nafas, memandangnya dengan gusar.

“Apaan sih, Fin? Kamu main rampas gitu aja, sini balikin tabloidku,” ujarnya sambil merebut tabloid itu kembali dari tangan Fina. Satu kali hentakan lembaran kertas warna-warni itu berpindah ke tangannya.

“Please donk, Win, dengerin aku dulu,” katanya dengan nada sedikit merengek. Kalau Fina sudah begini, Windi seperti biasanya terpaksa mengalah karena tidak tahan dengan mata sahabatnya yang mulai berkaca-kaca.

Sebagai putri tunggal yang kurang perhatian dan kasih sayang, Fina memang manja kepada Windi. Usia mereka yang terpaut satu tahun, membuat Fina merasa memiliki kakak angkat.

“Iya deh iya, ayo buruan, apa sih berita yang kamu punya?” tanya Windi mengalah. Fina tersenyum lebar, lalu duduk di hadapanWindi.

“Aku dapat hadiah jalan-jalan ke Korea dari salah satu lomba blog yang aku ikutin! Dan kamu pasti gak akan percaya, salah satu agendanya adalah jumpa fans dengan artis Korea. Yeayy ... aku happy banget, Win!” Fina bercerita dengan penuh semangat.

“Oh ya? Wah ... bagus donk, selamat ya, Fin. Kapan kamu berangkat?”

“Bulan depan. Cuma ya itu, Win, ada berita buruknya juga,” katanya lagi dengan muka ditekuk, berkerut seperti jeruk purut.

“Berita buruk apaan? Kan bagus kamu menang lomba, dapat hadiah jalan-jalan ke Korea, semua biaya ditanggung oleh panitia, buruknya di mana?” tanya Windi heran.

“Papa gak ngizinin aku berangkat sendiri,” jawab Fina dengan suara lemah.

Melihatnya lesu begitu Windi turut merasa sedih. Oom Faris, ayahnya memang sedikit over protektif terhadap Fina. Maklumlah, Fina putri satu-satunya dari mendiang istrinya yang telah meninggal waktu Fina berusia 10 tahun. Bisa maklum, kan, kalau dia memperlakukan anaknya seperti guci antik?

“Tapi, ada kabar baiknya juga, Win. Hehehe ... papa bilang aku boleh berangkat dengan syarat kamu temeni aku,” kalimatnya barusan membuat Windi tersedak karena kaget.

“Apa? Aku? Nemanin kamu ke Korea? Kamu gila? Uang dari mana? Biaya kuliah aja morat marit, kamu minta aku nemanin kamu ke Korea, huft ... ga-ga aja, deh,” jawab Windi dengan nada tinggi.

Segera ditariknya tabloid tadi dari genggaman Fina, kembali menekuni bacaan yang -entah sampai mana – dia baca tadi. Memang tidak masuk akal apa yang disampaikan Fina barusan.

“Ayolah, Win. Temenin aku, kalo soal biaya kamu ga usah khawatir, kan jatah aku untuk pergi ada dua tiket, kalo soal uang saku papa bilang 100% dia yang nanggung, kamu ga usah kuatir deh,” ujar Fina lagi.

Meskipun begitu Windi masih belum bisa terima seutuhnya, karena yakin Oom Faris pasti harus menggelontorkan uang dengan jumlah yang banyak untuk semua itu.

“Ga lah, Fin. Kamu cari orang lain aja. Aku ga enak sama papa kamu. Masa harus keluar uang segitu banyak buat aku ke Korea. Udah terlalu banyak papa kamu berkorban untuk aku, aku ga sanggup harus membalasnya seperti apa nanti.”

Oom Faris memang sangat baik. Dia sering membantu biaya kuliah Windi secara diam-diam. Meskipun Oom Faris meminta pihak kampus merahasiakannya, namun satu-dua pegawai tata usaha itu masih bisa dia bujuk rayu untuk membocorkan identitas donatur itu. Hanya saja, di depannya Windi selalu pura-pura tidak tahu.

“Ih ... apaan sih kamu. Lha ... papa sendiri kok yang nawarin diri. Lagian yang punya syarat kan dia, wajarlah dia bertanggung jawab atas syaratnya itu.”

Windi tidak berkata-kata lagi. Karena jika memang benar semua ide itu datangnya dari Oom Faris, adalah sangat tidak sopan jika ia menolaknya.

Lagi pula anggap saja ini liburan. Kapan lagi ada kesempatan seperti ini datang dalam hidupnya ? Beberapa bayangan tempat populer Korea yang kulihat di K-Drama gentayangan di ruang benak Windi. Membayangkan dirinya akan menjejakkan kaki disana membuat tubuhnya merinding tak menentu.



“Jadi, kamu yang nemanin Fina ke Korea ?” todong Vivi ketika mereka keluar dari ruangan tata usaha. Tatapannya tajam. Jelas sekali dia tidak suka dengan keberangkatan Windi dan Fina.

“Iya, benar, emang kenapa, Vi? Ada masalah?” tanya Windi tak kalah sengit. Dari dulu Windi tidak mengerti alasan Vivi yang selalu menampakkan ketidak sukaan kepadanya.

Tapi bukan Windi namanya jika hanya diam saat diperlakukan tidak wajar oleh orang lain. Baginya hidup itu bukan sinetron di mana pemeran protagonisnya selalu baik hati, pemaaf dan tidak mau membalas perlakuan buruk yang ia terima. Bagi Windi hidup itu adalah perjuangan. Ada saatnya diam, namun juga ada saatnya bicara. Terutama tatkala harga diri diinjak-injak oleh orang lain. Dan sekarang ini adalah salah satunya.

“Ga ada sih, cuma geli aja, orang seperti kamu pergi ke Korea. Apa ga salah ?”

“Emangnya kenapa dengan Windi ?” tanya Fina yang dari tadi diam. Lama-lama dia jengah juga dengan sikap Vivi yang merendahkan Windi.

“Yaa ... gimana, ya ? Kamu lihat sendirilah, Fin. Pantas ga dia ke sana ? Dengan style yang seperti itu? Hihihi,” jawab Vivi cekikikan. Matanya mengukur Windi dari ujung rambut hingga ujung kaki. Membuat Windi sedikit menciut, mendadak merasa kerdil.

“Perihal pantas atau ga pantas itu bukan urusan kamu, ya, Vi. Yang jelas aku bisa pastikan. Aku sangat nyaman bepergian bersama Windi,” jawab Fina. Kemudian menarik tangan Windi segera menjauh dari Vivi.

“Ya, iya lah, kamu pasti lebih nyaman jalan sama dia dibanding aku. Setidaknya dengan dia kamu ga akan kalah gaya. Ya, kan?” sorak Vivi.

Langkah Fina terhenti mendengar kata-kata Vivi. Dengan cepat dia memutar tubuhnya dan kembali mendekati Vivi yang masih berdiri dengan tatapan menantang.

“Kamu kenapa, sih, Vi? Sepertinya ga suka banget liat aku dan Windi pergi ke Korea. Kamu keberatan karena aku yang menang, bukannya kamu? Jujur aja, Vi. Kamu sakit hati kan karena kalah?”

“Sssii..siapa bilang aku sakit hati? Gak lah. Biasa aja tuh. Kalo soal ke Korea mah kecil, ntar aku bisa minta papi buat ngongkosin ke sana.”

“Tapi yang gratisan tetap lebih asyik, kan? Ngaku aja deh, Vi. Kamu nyadar gak? Selagi hati kamu masih busuk seperti itu jangan pernah bermimpi kamu bisa mengungguli aku.”

“Beraninya kamu bilang hati aku busuk ?”

“Lho, emang kenyataannya gitu, kan ? Aku kasih tau satu hal, ya, sama kamu, lomba itu bukan cuma soal menang-kalah, Vi. Lomba itu adalah proses dari yang namanya perjuangan. Ada pengorbanan yang ternilai di dalamnya. Jika kamu belum mampu memaknai sebuah perjuangan, berarti kamu harus belajar lebih banyak lagi tentang itu.”

Usai berkata itu Fina berbalik, mendekati Windi. Mereka pun berlalu meninggalkan kampus.

“Thanks, ya, Fin. Kamu ga tahu betapa berartinya kata-kata kamu tadi buat aku,” ujar Windi dengan mata berkaca-kaca.

“Win, sampai kapan pun, aku ga akan pernah bisa terima sikap orang-orang yang merendahkan kamu. Kita memang ga sedarah, Win. Tapi buat aku kamu lebih dari saudara kandung.”

Windi menggenggam tangan Fina dengan erat. Sungguh terharu dengan kata-katanya barusan.

“Kamu jangan masukin hati, ya, kata-kata Vivi tadi.”

“Nggak lah. Omongan dia ga berarti apa-apa buat aku. Anjing menggonggong, aku ... goyang dumang. Hahaha.”



***



Satu hari menjelang keberangkatan, semua dokumen Windi telah siap diurus oleh salah satu biro kepercayaan Faris. Kemarin sore dokumen-dokumen itu diantarkan ke kost-annya.

Windi memeriksa barang-barang bawaan dengan seksama, memastikan tidak ada lagi yang tertinggal. Terutama jaket tebal. Karena dengar-dengarnya sekarang sedang musim dingin di sana, jadi jika tidak ingin mati beku di alam asing itu, dia harus membawa persiapan yang lengkap.

Tittitttttt...

Suara klakson mobil Fina terdengar di halaman depan. Windi membuka pintu dengan dua tas besar menggeling di atas roda. Melihat Faris di belakang kemudi, Windi segera menghampirinya, menyalaminya dengan penuh hormat.

“Udah siap semua, Win? Ga ada yang tinggal lagi ?” tanya Faris memastikan, ketika Windi menaiki mobil.

“Masih ada sih, Oom ,,,,“ jawab Windi. Faris terperangah, menoleh menatap Windi lebih jelas.

“Jejakku ... masih ketinggalan di rumah, Oom, hehe ...,” jawab Windi berseloroh.

Faris ikut tertawa mendengar gurauan garing Windi. Dia memang tidak terkejut lagi dengan sikapnya, karena setiap bertemu Windi berusaha menghilangkan canggung dengan melontarkan gurauan-gurauan garing seperti tadi.

“Kalian ingat pesan papa dengan baik, ya. Jangan pernah terpisah dari rombongan, dengarkan panduan yang diberikan guide, dan ...,”

“Kabari papa minimal satu kali 24 jam, begitukan, Pa?” ujar Fina menyambung kata-kata papanya.

“Tuh, kan. Kata-kata papa selalu kamu buat bercanda,” tegur Faris dengan nada kecewa.

“Ga, Papa. Fina ga bercanda, justru Fina itu sangat hapal sama petuah Papa. Kan Papa udah sebutin berkali-kali.”

“Syukur deh kalo kamu ingat. Dan ini juga berlaku buat kamu, ya, Windi. Oom mau kamu juga melakukan hal yang sama.”

“Baik, Oom. Jangan khawatir, aku dan Fina ga akan lupa sama pesan-pesan yang Oom berikan,” sahut Windi mantap, diiringi senyum lebarnya.

“Nah, gitu dong. Oom kan tenang jadinya.”



Mobil yang dikendarai Faris meluncur dengan anggunnya membelah jalanan ibu kota yang tidak begitu ramai.

“Nih, kamu pegang ya, jangan sampe hilang. Itu bukti kepesertaan kita di rombongan nanti. Sesampai di Incheon ntar akan ditukar dengan badge khusus yang mereka siapkan. Dengar-dengar sih ntar badge itu akan dilengkapi dengan GPS, buat jaga-jaga kalau-kalau ada anggora rombongan yang tersesat mereka mudah melacaknya.”

Windi menerima kertas yang disodorkan Fina lalu memasukkannya kedalam tas.



Incheon ... we are coming.


***

Bersambung.

No comments:

Post a Comment


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal.

Note : Mohon maaf, komentar anonim dan link hidup saya anggap spam, ya.