Wednesday, September 13, 2017


Beberapa hari yang lalu aku baru saja selesai menonton K-Drama School 2017. Salah satu life value yang paling berkesan ketika menonton drama School 2017 ini aku catat pada episode terakhir. Bukan berarti episode-episode sebelumnya miskin nilai moral, ya, gais. Bukaaan. Justru banyak banget nilai-nilai kehidupan yang layak dijadikan renungan sepanjang 16 episode drama ini.

Review lengkapnya silahkan baca Review K-Drama : School 2017, Tentang Sekolah, Cinta, Harapan, Orangtua, Orang-orang terdekat dan Lingkungan

Bagi aku yang seorang ibu, dan pastinya juga pernah merasakan posisi sebagai anak remaja, aku sangat tersentuh dengan kata-kata dari Tae Woon kepada sang ayah. “Tahukah ayah yang paling aku takutkan di dunia ini ? Aku takut jika dewasa nanti aku akan menjadi orang seperti ayah.”

Deg !

Kata-kata yang diucapkan dengan suara lirih bergetar dan juga ekspresi penuh kekecewaan ini terlontar dari mulut seorang remaja usia 18 tahun.

Aku pun langsung merenung panjang.

Apa yang dilakukan ayahnya sampai sang anak takut dirinya menyerupai sang ayah ?

Dari yang aku tahu, ayah adalah role model pertama yang dilihat anak dalam masa tumbuh kembangnya. Makanya tidak heran anak pasti suka main obeng kalo ayahnya berkerja sebagai montir. Ya, kan ?

Kehadiran ayah selalu diwakili oleh materi.

Tumbuh sebagai anak tunggal dari pengusaha kaya, ternyata tidak lantas membuat Tae Woon menjadi remaja yang sombong dan bengal. Tetapi semua kesederhanaan itu dia dapatkan bukan dari figur ayahnya, tetapi lewat sahabat-sahabatnya yang berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda. Dari sini kita  bisa lihat, bahwa lingkungan adalah salah satu faktor penentu karakter anak.

Tetapi sikap Tae Woon yang humble tadi berubah drastis menjadi dingin, cuek dan arogan pasca tragedi meninggalnya salah satu sahabat karibnya. 

Keputusan sang ayah yang salah telah menggiring Tae Woon menjadi remaja yang pesimis terhadap dunia. Mungkin dia mikir gini, “Aah .. percuma berbuat baik, percuma memberontak, toh .. pada akhirnya uang dan kekuasaan juga yang berbicara.”

Demi reputasi keluarga, sang ayah tega melimpahkan semua kesalahan anaknya terhadap orang lain. Dalam hal ini ayah hadir hanya berupa materi, dia tidak hadir sebagai sosok ayah yang merangkul dan menghibur anaknya yang sedang sedih karena baru saja kehilangan orang terdekat.

Di sinilah mulai tumbuh bibit-bibit ketidakpercayaan Tae Woon pada ayahnya.

Hal tersebut di atas memang hanyalah bagian dari cerita drama. Tapi juga kerap terjadi di dunia nyata, kan? Banyak sekali tayangan di televisi yang memberitakan tentang anak-anak yang berhadapan dengan kasus tertentu tapi karena pengaruh yang dimiliki orang tuanya, kasus itu pun menguap tak berbekas. 

Kasus selesai ? 
Memang.

Tapi perkembangan mental anak ?
Belum tentu.

Ketika berhadapan dengan situasi dimana anak adalah salah satu korban atau pelaku dalam sebuah kasus, maka hendaknya ayah memposisikan diri dengan cara sebagai berikut :
-          Pertama jadilah figur orangtua yang memberikan kepastian bahwa anak tidak sendirian. Seberat apapun persoalan yang sedang ia hadapi orangtuanya akan selalu mendampingi.
-          Jadilah figur teman yang menampung semua keresahannya. Seorang remaja telah memiliki lapisan perasaan yang kompleks. Beda dengan anak-anak, yang mereka tahu masih rasa sakit. Tetapi remaja tidak. Mereka telah memiliki rasa malu, mereka memiliki rasa kecewa, rasa marah dan juga sakit hati. Jika semua keresahan itu tidak tersalurkan maka anak akan rentan stress hingga depresi.
-          Jadilah figur pemimpin yang memiliki sikap tegas. Ini sangat diperlukan agar anak tidak terjerumus dalam tindakan yang merugikan diri sendiri atau orang lain. Katakan kepada anak yang salah adalah salah, dan jangan pernah memberikan pembenaran atas kesalahan yang dilakukan oleh anak.

Ayah Selalu Mengambil Alih Masalah Yang Dialami Anak
Memang benar, ayah adalah orang pertama yang akan memasang badan ketika anak berhadapan dengan masalah. Tetapi bukan dengan berkata, “Sudah, kamu tenang saja. Biar ayah yang bereskan.” Jika ayah melakukan ini, maka jangan salahkan jika nantinya anak akan tumbuh menjadi manusia yang pengecut, selalu mencari kambing hitam dan selalu merasa benar sendiri.

Seorang ayah yang bijak semestinya dia menggenggam tangan anaknya lalu mengajak duduk bersama. Kemudian ajak si anak tadi bercerita dari hati ke hati, sambil menyelidiki pokok permasalahannya. Jika kemudian diketahui bahwa anak itu yang bersalah, maka tuntun si anak tadi untuk berani mengakui kesalahannya. Kesalahan bukanlah aib yang harus ditutupi, tetapi kesalahan adalah pelajaran hidup agar kedepannya tidak lagi terulang.


Ayah adalah orangtua, bukan Tuhan yang harus selalu dipatuhi
Seringkali orangtua merasa diri mereka super power, sehingga mengharuskan si anak mengikuti semua kemauan mereka. Mereka lupa, anak adalah individu berbeda yang memiliki impian tersendiri.
Akibat jarangnya bersentuhan dengan anak dalam proses tumbuh kembangnya, kebanyakan ayah memposisikan diri mereka melebihi Tuhan. Hanya menginstruksikan kehendak tanpa melihat situasi dan kondisi yang dihadapi anak sendiri.
Kamu harus begini !
Kamu tidak boleh masuk ke universitas itu !
Jangan cemarkan nama baik keluarga !
Semuaaa kalimat perintah tanpa ada satu pun kalimat yang sifatnya persuasif.
Alangkah indahnya jika ayah bertanya, “Nak, kamu minatnya ngambil jurusan apa ?”
Atau tiba-tiba sang ayah menemani anaknya belajar kemudian menyeletuk, “Ayah perhatikan kamu jago ya matematika, ntar kuliah kedokteran aja ya.”
Kalau pun si anak tidak suka dengan jurusan yang ditawarkan ayahnya, pasti dia nolaknya juga dengan bahasa yang lembut.  “Aku ga mau jadi dokter, yah. Mau jadi arsitek aja.”
Nah, monggoooo ... dilanjutkan diskusinya. Pasti seru tanpa perlu keluar urat leher.


Gimana dengan kamu, gais ?
Pernah mengalami perasaan yang sama ga nih ?

=======

  • Tulisan ini diikut sertakan dalam Collaborative Blogging KEB (Kumpulan Emak-emak Blogger), sebagai tanggapan atas trigger post yang ditulis oleh Farida Nisa dari Grup Raisa dengan tema peran ayah

11 komentar

Seorang ayah memang mestinya punya jiwa kepemimpinan, karena ayah lah yang berperan sebagai kepala keluarga 👨

REPLY

Kepribadian biasanya ada sedikit yang menurun dari orang tua ke anak karena kepribadian juga kan dibentuk dari pola asuh.

Makanya ada beberapa kasus dimana teman saya ngga mau nikah atau punya anak karena takut akan bertindak seperti orangtuanya ke dia. Menjadi orang tua itu memang artinya belajar tanpa henti ya mak.

REPLY

Jadi inget sama film jaman kecil, ratapan anak tiri, itu jg teringat buatku ttg jangan sampai menjadi si ibu tirinya. Setuju poin2 yg ditulis di atas mak.

REPLY

Bener mba. Makanya jauuh sebelum anak sampai pada usia remaja hendaknya sang ayah sudah menjalin kedekatan dengan anak, sehingga komunikasi mereka lancar

REPLY

Setuju mbak. Lingkungan tempat anak tumbuh memang satu faktor penentu dlm pembentukan karakter anak. Dan ga bisa dipungkiri, pola asuh ortu adalh lingkungan pertama bagi anak

REPLY

Waaah ... Film jadul banget itu ya mak. Kalo ga salah Rano Karno ya bintang utamanya. Kalo ingat kejamnya ibu tiri, makin anti sma poligami. #eh ga nyambung yah

REPLY

Terkadang kita membenci suatu sosok bukan sepenuhnya karena orang itu, tapi karena kita tahu ada sifat yang kita benci darinya di dalam diri kita. Semoga kita menjadi orang tua yang hanya mengambil hal baik dari pola asuh orang tua kita.

REPLY

Nah ... Ini dia. Betul sekali mba. Menyadari bahwa sifat yg tidak disukai itu sewaktu2 akan muncul dari diri sendiri. Menyadari bahwa kemiripan kita dg sosok itu justru melebihi dr yg kita pikirkan.

REPLY

Setuju banget klo lingkungan punya pengaruh besar thd tumbuh kembang anak. Masalahnya adalah, lingkungan yg negatif. Jadi disini peran awal orang tua untuk mngetahui lingkungan seperti apa yang kita berikan kepada anak-anak.

Btw, aku belum selesai nih nonton schoolnya.

REPLY

Kuncinya tetap pada orang tua ya mba. Kalau ingin anaknya tumbuh menjadi karakter yg baik, maka pilihkan dan berilah lingkungan yg baik pula

REPLY

di perhatikan ayah adalah hal yang luar biasa bagi ku karena ayah sibuk kerja, jadi jarang ngobrol dengan ayah yang sering adalah ibu,, sedihhhh

REPLY


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal

Meirida.my.id . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | for Meirida.my.id