Thursday, June 1, 2017

Upaya Pelestarian Sungai Oleh Desa Ini Patut Dijadikan Contoh

www.meirida.my.id


Upaya Pelestarian Sungai Oleh Desa Ini Patut dijadikan Contoh

Indonesia dengan sebutan negara kepulauan memang tidak terbantahkan lagi memiliki luas lautan yang melebihi luas daratan. Dan di daratan sendiri terdapat banyak sungai yang sebagian besarnya pun bermuara ke laut.

Namun sayangnya, jumlah sungai yang demikian banyak tidak dibarengi dengan upaya pelestariannya. Lihat saja, dimana-mana sangat mudah di dapati sungai-sungai yang tercemar sehingga airnya tidak layak untuk digunakan. Dan bukan hanya itu, Ikan dan beragam biotik yang tinggal di dalamnya pun tidak bisa diharapkan menjadi pasokan nutrisi.

Sebagai salah satu habitat alami dari ikan air tawar sangatlah disayangkan kondisi ini terjadi di negara kita. Padahal kita semua sudah tahu dan paham bahwa ikan adalah salah satu sumber protein yang sangat baik.

Tapi tahu kah kamu ? Ternyata ada satu daerah di Indonesia ini yang masyarakatnya selalu berupaya melestarikan sungainya ?

Bahkan mereka rela untuk tidak mengambil ikan di sungai itu dalam waktu tertentu demi menjaga agar habitat alami sungai tetap terpelihara.

Adalah Desa Adat Batu Songgan yang terletak di Kabupaten Kampar, Propinsi Riau yang menerapkan aturan Lubuk Larangan untuk sungai yang mengalir di desa mereka. Dengan adanya aturan ini, masyarakat dilarang untuk mengambil ikan dengan cara apa pun dalam periode waktu tertentu.



Bukan hanya itu, masyarakat juga dilarang keras membuang sampah dan limbah rumah tangga mereka langsung ke sungai.

Dengan demikian, ikan yang ada di sungai ini bisa berkembang biak dengan baik dan juga habitatnya terjaga.

Aturan ini berlaku untuk semua warga desa dan juga untuk para pendatang. Dan bagi yang melanggar aturan ini akan dikenakan sanksi.

Buah dari aturan ini, lahirlah budaya Batobo Mancokau yang artinya panen ikan lubuk larangan.

Kegembiraan masyarakat dalam tradisi Batobo Mancokau


Penyelenggaraan acara Batobo Mancokau ini adalah hasil dari kesepakatan para petinggi adat, yang biasanya dilakukan sebelum memasuki musim kemarau.

Ikan-ikan hasil tangkapan dari Batobo Mancokau ini sebagiannya dilelang dan sebagiannya lagi dibagikan untuk masyarakat. Dan hasil lelangnya digunakan untuk pembangunan desa.

Pelestarian lingkungan memang bukanlah tanggung jawab pemimpin saja. Sekalipun pemimpinnya sudah sangat peduli dengan lingkungan tetapi jika masyarakat sekitarnya tidak mendukung upaya tersebut maka lingkungan yang bersih hanya akan menjadi impian semata.

Aturan yang jelas ditambah kesadaran masyarakat dan pemimpin yang tegas adalah 3 pondasi agar lingkungan yang bersih menjadi kenyataan.

Nah ... Di daerah kamu bagaimana upaya pelestarian sungainya ?





This entry was posted in

4 comments:

  1. Mungkin inilah yang biasa dinamakan orang sebagai ... kearifan lokal
    bagaimana masyarakat setempat menjaga kelestarian lingkungannya dengan caranya sendiri

    (BTW info grafisnya keren lho)

    salam saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. waaah... terimakasih Oom Nher udah mampir :)
      Bener Oom .. butuh kerjasama yang solid antara pemerintah dan penduduk setempat untuk terus melestarikan budaya ini.

      Delete
  2. Ih keren ya pelestarian sungainya. Di tempat saya boro2... Yg ada jadi tempat buang sampah warga. Hikz! Menyedihkan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selain regulasi yg jelas, kesadaran masyarakat tetaplah yg bisa mewujudkannya ya mbak

      Delete


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal