Rabu, 07 Desember 2016

Antara Impian, Kesempatan dan Restu Suami

Hai.. hai.. gais.
Apa kabar ? Semoga semua dalam keadaan sehat ya.

Antara Impian, Kesempatan dan Restu Suami

Aku rasa, nih, ya, semua orang di dunia ini pastilah memiliki impian. Sederhana atau tidaknya sebuah impian itu relatif banget. Sederhana bagi seseorang, tapi bisa jadi mahal banget bagi orang lain. Itu kembali ke selera masing-masing indvidu. 

Tul, gak, gais ?

Membangun impian semenjak muda itu penting banget. Seperti yang pernah aku baca pada sebuah buku *judulnya lupa*, orang yang memiliki impian ibarat kereta api yang melaju di relnya. Jika bukan karena sesuatu yang error, maka rel itu pasti berhasil membawa kereta api ke tujuannya. Begitu juga impian, jika orang itu selalu fokus pada impiannya, berusaha tanpa mengenal kata menyerah, cepat atau lambat impiannya itu pasti bakal jadi kenyataannya.

Lantas bagaimana dengan orang-orang yang justru membangun impiannya setelah ia dewasa. Bahkan setelah menikah dan punya anak ? 

Itu sah-sah saja sih menurut aku. Karena bisa jadi impian semasa mudanya tidak tercapai, dan dia merasa tidak ada harapan atas impiannya itu, maka dia berubah haluan, mengganti impiannya dengan hal yang lain. Makanya beruntung bangetlah mereka-mereka yang impiannya tercapai disaat usia masih muda. Karena dengan begitu, dia memiliki waktu yang panjang untuk terus membangun impian-impian berikutnya.

Aku sendiri, adalah termasuk satu diantara sekian banyak orang yang membangun impian setelah menikah. Bukannya aku tidak memiliki impian sebelumnya ya, tapi karena aku gagal mencapainya sebelum menikah.

Setelah menikah dan melahirkan anak, satu persatu impian saat masih lajang dulu jatuh berguguran. Karena fokus telah teralihkan kepada kewajiban terhadap anak dan suami. Aku udah gak kepengen lagi tuh keliling dunia, aku juga udah ga kepengen lagi lanjutin kuliah. Mindset aku betul-betul terkotakkan pada peran sebagai ibu rumah tangga. Dalam kepala ini yang ada hanya ingin menjadi ibu yang baik bagi anak dan menjadi istri yang baik bagi suami.

Tapi seiring waktu berjalan, ketika anak sudah sekolah, dimana mulai ada waktu yang terluang saat anak di sekolah, berawal dari mencari kesibukan sehingga akhirnya aku memutuskan untuk kembali berkarir. Saat itu belum ada impian apa pun, hanya sebatas kerja, cari kesibukan semata. 

Dan hal itu pun berubah ketika sebuah kesempatan datang.

Dan perlu kamu tahu, ya, gais. Sebuah kesempatan itu datang tidak pernah tanpa alasan. Dia datang memang karena kamu dianggap pantas untuk mendapatkan kesempatan itu. Bisa jadi karena totalitas, bisa jadi karena skill yang mumpuni atau bisa jadi memang keberuntungan. Meskipun untuk poin yang terakhir itu kemungkinannya hanya sepersekian persen. Tapi yakinlah, kesempatan itu datang karena kamu memang layak mendapatkannya.

Tapi sayangnya kesempatan itu datang seringnya pada waktu yang tidak tepat. Seperti aku nih misalnya. Disaat anak lagi sibuk ujian, mertua lagi umroh, kerjaan di kantor lagi numpuk tiba-tiba kesempatan untuk jadi Mombassadornya SGM Eksplor datang. Dilema banget, kan ? Mana eventnya di adain di Yogyakarta lagi, itu kan sebuah kota destinasi wisata impian aku sejak muda dulu. Bisa kebayang nggak betapa galaunya aku saat ini ?

Itulah dia, kesempatan yang datangnya suka tiba-tiba, tanpa bisa diduga sama sekali. Kehadirannya diharapkan, tapi datangnya suka pada waktu yang tidak tepat.

Sekarang pilihannya adalah pergi atau tidak ? 
Ambil kesempatan atau tidak ?

Jika kesempatan ini di ambil mudharatnya apa ?
Jika ga diambil kerugiannya apa ?
Mikirin hal ini bolak-balik seharian sampe sol sepatu tipis juga aku masih pusing tujuh keliling.

Sampai akhirnya restu suami ambil bagian.

Menurut aku, bagi seorang istri, restu suami itu sama pentingnya dengan restu orangtua. Kalo ingin semua hal yang dilakukan berjalan lancar maka kantongilah restu orangtuamu. Itu adalah pesan uztadzah tempatku mengaji dulu. Dan untuk seorang istri, jika ingin semua pintu surga terbuka untuknya maka kantongilah restu suami. Itu salah satu nasehat Mamah Dedek yang aku ingat sejak dulu sampai hari ini.

Mengapa restu suami itu penting ?

Ketika ijab kabul diucapkan, maka saat itu juga istri menjadi tanggung jawab suami. Bahkan ketika seorang istri tidak menjalankan kewajibannya kepada Allah, maka suami turut menanggung dosanya. Begitu besar tanggung jawab yang emban seorang suami. Makanya jangan pernah kualat sama suami ya, gais ?

Tapi ...

Ini ada tapinya lho ya. Kamu para suami jangan geer dulu baca paragraf di atas.

Masih ada tapinya.

Tapi ... suami yang seperti apa dulu yang wajib dipatuhi oleh seorang istri ?

Itu adalah suami yang hanya taat kepada perintah Allah.
Suami yang gak pernah melalaikan kewajibannya.
Suami yang berkomitmen menggerakkan setiap anggota tubuhnya lillahita'ala untuk menafkahi keluarganya.

Itulah suami yang harus didengarkan dan dipatuhi oleh seorang istri.

Nah, ketika dilema melanda seperti yang aku alami di atas, maka tidak ada orang selain suami yang pantas aku mintai pertimbangan. 

Ketika seorang istri dengan sadarnya, penuh pengabdian menjunjung tinggi harga diri suaminya, meminta pertimbangan atas sebuah kesempatan yang ada di depan matanya, maka selayaknya suami memberikan jawaban yang merupakan sebuah hasil analisa dari berbagai sudut pandang. Manfaat dan mudharatnya apa ? Trus anak bagaimana ? Trus kewajiban sebagai istri bagaimana ? Dan yang terpenting yang juga tidak bisa diabaikan adalah, perasaan istri bagaimana ? Mungkinkah kesempatan yang sama datang lagi ? Seberapa penting impian itu bagi istri ?

Tidak mudah memang menjadi seorang suami, karena dia adalah kepala keluarga, dan keputusan yang ia buat hendaklah adil dan tidak merugikan salah satu pihak.

Dan tidak juga mudah menjadi seorang istri yang memiliki kesempatan di depan matanya, haruslah berlapang dada menerima apa pun keputusan suami. Kalau memang kesempatan yang datang pada saat yang kurang tepat itu lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya, maka tidaklah rugi jika kesempatan itu diabaikan. Karena yakin aja, kalo emang rejeki, gak akan nyasar kemana-mana. Bukankah ada pepatah yang bilang, "rejeki gak pernah salah alamat" ?

Nah, buat kamu-kamu semua yang saat ini sedang mendapat kesempatan yang datang tidak pada saat yang tepat, berbesar hati ya gais. Jika memang kesempatan itu harus dilepas demi kebaikan orang-orang yang kita sayangi, ikhlaskan aja. Insya Allah, nanti Allah akan menggantinya dengan kesempatan yang jauh lebih baik. 

Aamiin.


9 komentar:

  1. Huaaaa, restu suamiii. Sharingnya manfaat mbak, makasih banyaaak.

    Salam,
    Syanu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mbaakk.. semoga gak mengecewakan yaa..

      Hapus
  2. salut sama yang selalu patuh dan taat sama suaminya, kemarin sbelum ngambil S2 di Malang..istriku pun smpat galau..tapi aku harus memberi restu dan rela LDR selama 2 tahun .. tapi alhamdulillah sekarang sudah lulus..dan kumpul bareng lagi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wow.. mas ini bener2 suami yg luar biasa deh, 2thn LDRan? Ckckck.. saluut.. beruntungnya istrimu maas :)

      Hapus
    2. Iya mbak..soalnya gratis dari pemerintah jadi sayang jika gak diambil..sejatinya gak 2 tahun full..trus g ketemu-temu gt hehe..kadang sbulan skali aku ksana nengok dia dn anak yang kedua..kdg klo libur panjang dia jg pulang..yah yg plg khwatir aku..krn kn aku dh biasa jk sndiri kalau istriku pst g bs..krn hakikatnya istri sgt trgntung sm suami apalagi bw anak kecil :)

      Hapus
  3. iya mba,
    kalau sudah menikah restu suami yg paling utama ya, apalgi impian itu baru bisa terwujud ketika setelah menika, semoga suami tetap merestui :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin mbak. Semoga suami bisa selalu memberikan restunya utk semua kesempatan yg dtg utk istri.

      Hapus
  4. restu suami itu sangat penting ,... jika suami mengatakan tdk ya jgn lakukan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya nih. Smg bs sbr ktk suami blg tidak. Hehehe

      Hapus


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal