Tuesday, August 9, 2016

Antara Full Day School, Sistem Pendidikan dan Karakter Pemimpin Di Masa Depan

Sumber

Beberapa hari ini lini masa sosial media cukup dihebohkan dengan wacana yang digulirkan oleh Menteri Pendidikan yang baru. Ada yang ada yang nyinyir, ada yang pro, ada yang kontra dan ada juga yang 'not comment yet' seperti aku.

Ya, aku adalah satu dari segelintir orang yang masih belum berkomentar apa pun tentang wacana tersebut. Tapi bukan berarti aku tidak memiliki opini ya, hanya saja sebelum menyuarakan opini itu menjadi komentar aku memilih untuk memikirkannya lebih lanjut.

Antara Sistem Pendidikan dan Karakter Pemimpin di Masa Depan


Ga bisa dipungkiri, kan ? Anak-anak yang ada saat ini beberapa tahun ke depan akan menjadi orang-orang yang memimpin negeri ini. Mereka yang saat ini masih di bangku Sekolah Dasar, dalam rentang waktu 20-30 tahun mendatang bisa saja menjadi orang-orang yang duduk di ruang paripurna DPR. Dan tentunya tidak membutuhkan waktu yang lama bagi anak-anak yang duduk di bangku SMU atau pun kuliah saat ini. Yup, mereka adalah "the next our leader". Merekalah yang nantinya akan menggerakkan roda pemerintahan di negara ini. Merekalah yang akan menjadi decision maker-nya semua kebijakan nantinya.

Sumber

Sekarang aku mau mengajak kamu semua untuk flashback ke masa sekitar 20-40 tahun sebelum sekarang. Anggaplah itu sekitar tahun 70-an.
Bagaimanakah sistem pendidikan kita disaat itu ?
Dan lihatlah orang-orang yang dihasilkan oleh sistem pendidikan saat itu.
Ya, mereka adalah para pemimpin kita saat ini. Mereka adalah orang-orang yang saat ini menghuni gedung DPR, mereka yang saat ini berada di Istana Negara. Bisa jadi mereka berada di lingkaran terdekat presiden.

Dari apa yang aku lihat di tivi mereka tidak lebih dari para aktor yang berperan serba bijak, tidak mau mengalah, merasa paling benar, tapi sayangnya tidak banyak yang bersuara untuk kepentingan rakyat jelata.
Kalau pun ada yang berani vokal, palingan 1-2 orang aja, dan itu pun tidak berlangsung lama. Dalam hitungan bulan pun langsung lengser terimbas resuffle kabinet. Hahaha..

Harga-harga masih saja membumbung tinggi, pengangguran masih saja banyak, dan lapangan perkerjaan pun sedikit. Disaat mereka jontor-jontoran adu pendapat di media, rakyat yang telah membuat mereka duduk manis itu harus banting tulang dari pagi hingga pagi demi kebutuhan sehari-hari.

Kesimpulan awam aku adalah, sistem pendidikan saat itu masih kurang untuk membentuk pribadi yang manusiawi dan bertanggung jawab.

Sekarang aku mau mengajak kamu semua flashback lagi ke masa sekitar 50-60 tahun sebelum tahun ini. Anggaplah itu sekitar tahun 60-an. Ya, aku sendiri belumlah lahir saat itu. Ini adalah masa transisi dari sistem pendidikan era demokrasi liberal, demokrasi terpimpin dan orde baru.

Berdasarkan yang aku baca di sini, periode tahun 50-69 Indonesia mengalami 3 kali pergantian sistem pendidikan.
  • Tahun 1950-1959 adalah sistem pendidikan yang dipengaruhi oleh sistem pemerintahan yang demokrasi liberal.
  • Tahun 1959-1965 adalah sistem pendidikan yang dipengaruhi oleh sistem pemerintahan yang demokrasi terpimpin
  • Tahun 1966-1969 adalah masa transisi sistem pendidikan yang dipengaruhi oleh pemerintahan orde baru

Bagaimana sistem pendidikan di saat itu ?
Bagaimanakah orang-orang yang dihasilkan oleh sistem pendidikan saat itu ?
Untuk mengetahuinya tentu kita perlu membuka galeri peristiwa sekitar tahun 70-90 an. Itu adalah periode dimana orang-orang yang menjalani sistem pendidikan di tahun 50an telah menjadi orang-orang yang menentukan di negeri ini.

Terlepas dari semua carut marut kasus korupsi yang melibatkan Soeharto beserta orang-orang behind the job-nya, tidak bisa dipungkiri kan ? Tahun-tahun itu adalah tahun di mana rakyat di negeri ini menikmati hidup dengan indah. Harga sembako terjangkau, pengangguran tidak banyak karena orang-orang masih tidak malu untuk menjadi petani. Perkerjaan juga tidak sulit untuk didapat, karena juga tidak menuntut pendidikan dengan level tertentu. Asal ada skill, dan berpengalaman seorang yang lulusan SMU pun bisa menjadi pegawai di kelurahan.

Jadi sebelum kita saling nyinyir dengan wacana yang dicetuskan oleh Menteri Pendidikan yang baru tentang full day school, mending kita nyinyir untuk menganalisa apa yang belum ada pada sistem pendidikan kita yang sudah-sudah.

Olahraga, yang selain diharapkan untuk menjaga stamina/kesehatan siswa juga sebagai sarana pembinaan mentalitas siswa (memenuhi aturan yang berlaku, sikap sportif, siap menang atau kalah dan lain-lain) di Indonesia kurang diberikan. Bahkan di kota besar, dengan alasan keterbatasan lahan, materi yang diberikan hanya dalam bentuk teori seperti panjang lapangan bola, tinggi net bulutangkis dll. Dampak dari hal tersebut dapat kita lihat pada prestasi olah raga negara kita, tawuran yang sering terjadi pada pertandingan bola dan pada PILKADA.

Music dan Fine Art selain untuk mengasah kreativitas, keterampilan, imajinasi dan ketelitian juga dapat untuk melatih menghargai keindahan dan perdamaian.
Sedangkan Home making, Technologi and Industri dan Labour Skill sangat berguna dalam menghadapi kenyataan hidup di masyarakat.
Keterampilan tidak bisa didapat secara seketika. Ia harus dilatih secara terus menerus. Saat ini di Indonesia cukup banyak tamatan S-1 yang tidak siap bekerja, karena tidak memiliki keterampilan yang diperlukan. Dilain pihak, kalau kita lihat industri elektronika, garment, rokok dll buruh yang bekerja disana adalah kaum wanita yang sudah sejak kecil dilatih mengurus rumah tangga.
Dikutip dari sini.




Tentang Full Day School


Untuk wacana ini jujur aja sebenarnya aku ada setujunya lho, gais. Tapi, tentunya dengan syarat tidak untuk semua jenjang pendidikan. Aku ga setuju kalo anak SD harus full day school, karena aku berpendapat itu sama saja dengan merampas hak mereka untuk bermain. Lagi pula anak usia sekolah dasar itu masih butuh pengurusan ekstra mulai dari makannya dan juga waktu istirahatnya alias tidur siang.



Aku lebih setuju jika program full day school ini diterapkan untuk anak-anak di SMP dan SMU atau setingkatnya. Menurut aku nih ya, anak-anak seusia mereka sangat rentan dengan pergaulan yang tidak sehat. Jadi dengan mereka berada seharian di sekolah maka mereka pun terhindarkan dari pergaulan yang tidak sehat itu. Tapi, tentunya berada di sekolah seharian bukan berarti mereka belajar seharian, kan ? Aku setuju full day school itu jika, sisa dari jam belajar normalnya diisi dengan beragam ekskul. Bisa itu olah raga, teater, musik, sastra atau kerajinan tangan. Dan untuk mereka yang duduk di kelas tiga, bolehlah di selingin dengan try out atau bimbingan belajar untuk UAN.

Sumber
Nah, itu pendapat aku tentang full days school ini, gais.
Gimana dengan kamu, setuju ga dengan sistem full day school ini ?









11 comments:

  1. antara setuju dan ga setuju sih mbak. Sebelum ada wacana ini, si kecil sudah aku pilihkan sekolah yang nantinya bakal full day karena pengajarannya bagus. Tapi kalo buat diterapin seluruh sekolah, mungkin ada yang belum siap.

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah itu dia mba, belum semuanya siap :)

      Delete
  2. Iya aku setuju kalo SD jangan full day lah. SMP-SMA liat2 dulu ah kurikulumny, ngapain aja di sekolah seharian. Lagian saya bukan ibu bekerja full seharian juga. Salam...

    ReplyDelete
    Replies
    1. SD ga usah full day ya mba .. tos kita ..
      SMP-SMA liat2 dulu kurikulumnya.. aih .. setuju saya.. tos lagi donk mba ..

      Delete
  3. saya masih mau liat kelanjutan dari wacana pak menteri ini mba... apa alasannya, dan bagaimana penerapannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. sip.. itu juga lebih baik mba :)

      Delete
  4. Dari dulu juga begitu, pulang jam 1 dan 2 sore lanjut ekstrakurikuler pramuka drumband basket, ini maksudnya ngga pulang2 gitu kata anakku sekalian aja aku bawa bantal handuk odol dan gayung...hehe....trus guru2nya boyongan aja ngineo disekolah sekolah swasta bisa karena ada uang makan siang,makanannya bergizi sekolah negeri duitnya mana? Paling buat beli pentol bakar cilok yg ngga mampu skip makan siang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya itu mba..ujung2nya duit keluar lagi kaan ..

      Delete
  5. Aq geregetannya malah sm banyaknya pendapat yg bersliwar sliwer sementara yg diramekan itu msh wacana. Bisa kejadian bs enggak.

    Tp klo pun kejadian, aq setuju gak setuju. Banyak enggaknya si.

    Bagian yg setujunya malah kebalikan sm mba merida klo aq malah pgnnya yg full day school itu yg masih kecil2 TK-Sd kelas 4 an. Itung2 gantinya daycare. Klo yg udah SMP keatas malah menurutku saatnya belajar di luar sekolah setelah jam pelajaran usai. Klopun toh msh di sekolah ya macem ekskul gitu tp gak wajib 100%. Krna gak semua ekskul mengakomodir minat bakat siswa.

    ReplyDelete
  6. Kalau memang kebijakan ini benar2 diterapkan, semoga bisa memberikan dampak positif terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia.

    ReplyDelete


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal