Jumat, 06 Mei 2016

Cerita Di Tanggal Tua : Dilema Angka 20

Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons X MatahariMall. Yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. voucher mataharimall dan hadiah disponsori oleh MatahariMall.
mataharimall-kompetisi






Bicara tanggal tua, aku jadi terkenang sama peristiwa semasa kuliah dulu. Waktu itu, aku kuliah dengan sambil kerja sebagai SPG di salah satu Dept. Store di Pekanbaru. Karena perkerjaanku yang sistem shift, dan itu berarti ada shift malamnya kan, maka demi keamanan saat pulang kerja aku memilih untuk kost di sekitar tempat kerja.

Jadi sehari-harinya itu, paginya aku kuliah, trus siang aku kerja sampe malam. Sebenarnya aku harus aplusan sama rekan kerja, bergiliran menjalani shift pagi dan shift malam, dan juga harus lembur ketika lawan shift sedang off. Tapi, karena aku harus kuliah, otomatis ga bisa donk masuk pagi, jadinya dengan terpaksa aku harus menjalani shift malam setiap hari. Ga enak banget yah, gais ? Tapi mau gimana lagi ? Demi kau dan si buah hati masa depan yang lebih baik kita harus berjuang kan ?

Waktu itu sekitar tahun 2001, sebagai SPG setiap bulannya aku menerima gaji sekitar Rp575.000. Setiap terima gaji, aku langsung sisihkan tuh biaya-biaya yang wajib seperti uang kost dan tabungan untuk uang semester. Aku masih ingat banget, waktu itu uang kost aku tiap bulan adalah Rp60.000. Sementara uang semester aku waktu itu adalah Rp295.000. Murah banget ya ? Kalo dibandingkan dengan sekarang sih, iya, murah. Banget malah. Tapi di tahun itu, bagi aku masih cukup berat.

Aku kuliah pada angkatan tahun 2000, dan itu adalah angkatan terakhir yang menikmati uang semester senilai itu. Jadi uang semester yang segitu aku genapin 300 ribu, jadi aku bagi enam, tiap bulannya au sisihkan Rp50.000 untuk bayar uang semester. Berarti dari Rp575.000 gaji aku itu, Rp110.000nya ga bisa diganggu gugat lagi, dan tersisa di tangan kurang lebih senilai Rp465.000 untuk sebulan.

Tempat kost ku emang ga jauh dari tempat kerja, aku bisa jalan kaki pergi dan pulangnya. Tapi kampusku jauh banget dari dari kost-an. Jika menggunakan angkot, aku harus nyambung tiga kali angkot, dan untuk pergi-pulang kuliah berarti harus 6x naik angkot. Saat itu ongkos angkot masih Rp1000, berarti Rp6000 per hari. Dikalikan 25 hari aktif, sama dengan Rp150.000. Itu masih untuk ongkos saja lho, gais. Belum lagi untuk makan, sabun, bedak dan lain-lain sebagainya aku harus cukup-cukupin dengan uang yang kurang lebih Rp300.000 itu sampai masa gajian berikutnya.

Jadi ceritanya, pernahlah suatu waktu, bulan itu tidak seperti bulan-bulan sebelumnya dimana tugas kuliah lumayan banyak, sehingga aku harus keluar biaya ekstra untuk rental komputer dan biaya-biaya fotocopy demi memenuhi tuntutan kuliah. Belum lagi biaya cari data di warnet. Uuhh... benar-benar menguras biaya dari kantongku yang isinya sangat tidak seberapa itu. Tapi mau protes juga percuma kan ? Suka gak suka, rela gak rela, aku tetap harus rogoh kocek dalam-dalam untuk memenuhi semua tugas-tugas dari dosen itu. Alhasil, uang di tanganku tersisa Rp20.000. Padahal hari itu masih tanggal 20, berarti masih ada 10 hari yang harus aku lalui menjelang gajian tiba. Gila, puyeng beratkan, gais ? Gimana mo ngampus seperti biasa dengan uang segitu ? Makan aja terancam. Ampun, dilema berat deh aku waktu itu.

Tapi aku bertekad untuk tidak mengeluh. Karena aku berprinsip, mengeluh itu hanya akan mematikan kreatifitas, jadi sama sekali tidak ada gunanya. Kalau aku ingin survive dalam situasi itu, aku harus berpikir keras untuk mencari jalan keluar.

Beberapa teman yang tahu kondisiku sempat mengulurkan tangannya memberi pinjaman, tapi aku tolak. Bukannya aku sombong dan sok-sok-an menolak bantuan mereka, tetapi menurutku utang tidak akan membantuku lepas dari masalah. Memang benar untuk saat itu terbantu, tetapi bulan depannya aku akan menjadi minus dua kali lipat. Yang namanya utang harus dibayar kan ?
Jadi agar bisa bertahan sampai akhir bulan, aku harus mencari cara untuk mendapatkan uang tambahan. Karena kalau tidak, sudah bisa dipastikan aku harus mengorbankan kuliahku untuk 10 hari. Ya, bagaimana mungkin bisa tetap ke kampus setiap hari dengan uang Rp20.000 itu ?

Langkah awalku saat itu adalah mendekati beberapa teman kost, dan aku menawarkan diri untuk menjadi ‘koki’ sementara mereka. Agar mereka terbuka memberi bantuan, aku pun harus terbuka menceritakan kondisiku. Aku terus terang kepada mereka mengatakan bahwa aku sedang kesulitan, dan aku menawarkan jasa untuk menjadi ‘koki’ mereka dengan harapan aku bisa dibayar dengan ‘makanan’. Dan Alhamdulillah, mereka bersedia, jadi aku bangun pukul 5 pagi agar bisa menyiapkan sarapan untuk si A, lalu pulang kuliah aku kebutkan memasak untuk si B. Dengan begitu urusan makanku pun selesai. Memang capek sih, tapi aku puas karena masalahku selesai tanpa harus ngutang.

Tapi tetap saja untuk transportasi ke kampus tidaklah cukup dengan uang yang Rp20.000 itu. Untuk amannya, aku harus mencari uang sekitar Rp40.000 lagi agar cukup untuk ongkos selama sepuluh hari. Sebenarnya aku sempat tergoda lho buat minjam sama teman. Tapi aku urungkan niat itu karena setelah mikir panjang kali lebar kali tinggi. Aku ga mau terjebak dalam pusaran labirin ‘gali lobang, tutup lobang’.

Win-win solution-nya adalah aku harus ekstra kerja keras lagi. Yah, ekstra capek lagi. Dan lagi-lagi Alhamdulillah, Allah menunjukkan jalanNya. Salah satu warnet di sekitar kampus menerima lamaranku untuk berkerja part time di hari off. Kebetulan tanggal 20 itu adalah hari senin, sementara Rabu adalah hari off ku di tempat kerja, jadi di hari itu aku bisa kerja menggantikan salah satu karyawan warnet yang tidak masuk. Karena bersedia lembur sampai malam, aku pun dibayar dua kali lipat. Alhamdulillah.

Nah, itu sepenggal cerita tanggal tua-ku semasa kuliah dulu. Sekarang ini, aku sudah menikah dan berumah tangga. Beda situasi dan kondisi pastinya kan. Tapi bukan berarti aku juga ga punya cerita tanggal tua setelah menikah. Justru setelah berumah tanggalah cobaan bulan tua itu semakin terasa.

Ketika lajang, kalo ga ada uang kita bisa ‘egois’ nahan lapar, karena toh yang ngerasain kan diri sendiri. Tetapi setelah berumah tangga, kita tidak bisa lagi seperti itu. Di saat tanggal tua tiba, aku harus putar otak untuk kreatif agar bahan-bahan yang dibeli di awal bulan tetap cukup hingga akhir bulan. Sebagai ibu rumah tangga harus disiplin dalam penggunaan arus listrik agar token cukup hingga akhir bulan. Sebagai istri yang baik aku juga ga sopan donk mengeluh seenak jidat, trus nodongin tangan minta uang tambahan sama suami. Apalagi aku tahu banget penghasilan suami udah disetor full pas gajian. Lha, kartu ATMnya kan aku yang pegang,  hehehe.

Karena pernah ngalamin gimana pahitnya tanggal tua waktu kuliah dulu, jadinya aku ga begitu ‘kaget’ lagi ketika mengalami lagi setelah menikah. Justru aku udah punya cara-cara jitu agar bisa melewati tanggal tua dengan tanpa masalah. 

Untuk teman-teman semua berikut aku bagiin nih, 5 Tips menghadapi tanggal tua ala Meirida.my.id :

1.       Kejar Promo, Untung Ku Tangkap

Promo ? diskon ? cash back ? voucher diskon ? Huuuwaaa... siapa yang nolak ?? Tapi kan ga semua pusat perbelanjaan yang memberikan promo begitu. Agar di tanggal tua ga keteteran, nah.. usahakan belanja bulanan hanya di pusat-pusat perbelanjaan yang menawarkan promo. Bukan hanya toko offline aja lho gais, toko online seperti Matahari Mall.com aja promonya bejibun. Belanja bulanan itu kan jumlahnya lumayan besar, untuk ukuran keluarga ku yang kecil aja tiap bulannya bisa mencapai 500 ribuan lho. Itu mencakup sembako, susu dan aneka sabun-sabunan. Dengan jumlah yang lumayan itu kalo dibelanjakan di toko-toko konvensional ga akan dapat apa-apa. Beda banget kalo berbelanja di supermarket. Belanja dengan senilai itu bisa membawa pulang banyak hadiah lho. Bisa berupa barang, uang cash back, point belanja, bahkan voucher diskon. Kan mayan banget gais, bisa digunakan buat belanja kebutuhan berikutnya.

2.       Sampahmu adalah harta karunku

Sepertinya kata-kata ini cocok ya buat dijadiin slogannya para pemulung. Bener ga, gais ? Bagi kita sih sampah, tapi buat mereka kan berharga banget. Makanya tips ini bakal bikin kamu rada-rada ‘mulung’ nih, gais. Tapi mulungnya ga perlu ke tempat-tempat sampah orang lain kok, cukup di rumah aja. Jadi kemasan-kemasan plastik bekas minuman itu jangan langsung dibuang, tapi kumpulin disuatu tempat. Karena begitu tanggal tua tiba, sampah kemasan plastik itu bisa jadi duit lagi lho. Sekilonya bisa dapat 4000-5000, kalo kita bisa ngumpulin sampe 4 kilo kan lumayan buat tambah-tambah beli token listrik.


3.       Jangan pernah kehabisan beras.

Nah, ini juga penting banget lho gais. Apa pun kondisinya, pastikan tempat berasmu selalu terisi. Ini adalah untuk antisipasi kalo-kalo bahan-bahan buat sambal di kulkasmu habis. Jadi beras yang ada di rumah masih bisa dimasak, trus diolah jadi nasi goreng. Hmm, tidak ada lauk, nasgor pun jadi kan ?


4.       Jangan abaikan uang recehmu.

Jadi kalo belanja  di mini market tertentu kan sering banget tuh, uang kembalian kita di tawarin buat didonasikan. Aku bukannya melarang teman-teman buat beramal ya, tapi kalo aku pribadi mending uang amalnya ‘bayarkan’ diawal bulan. Pas terima gaji langsung aja sisihkan buat zakat, sedekah, infaq atau sejenisnya itu. Jadi ketika belanja di minimarket selalu minta uang kembaliannya. Seandainya ga cukup senilai kembalian ga pa-pa, yang penting ada, jangan diabaikan. Nampaknya sepele kan ya, berapalah uang pecahan seratus, dua ratus bahkan lima puluh rupiah itu. Tapi kalo dikumpulkan dalam waktu yang lama jumlahnya kan bisa fantastis juga. Bisa jadi penyelamat lho di tanggal tua.

5.       Manfaatkan sarana gratis.

Hmmm.. ini satu lagi yang ga boleh dilewatin sama sekali gais. Apa lagi buat kamu-kamu yang suka internetan, kalo tiba di tanggal tua pasti puyeng banget tuh karena quota internet habis. Aku juga pernah ngalamin itu tuh. Tapi tentu saja aku ga mau kehabisan akal. Ga jauh beda sama  Budi, aku kalo lagi kepepet di tanggal tua, sukanya cari wifi gretongan. Nah dengan fasililtas wifi gratis ini aku bisa buka websitenya Matahari Mall yang emang banjir promo. Berkat #TTS dari Matahari Mall.com aku bisa terselamatkan sampai masa gajian tiba. Eh.. bingung ya ama apa itu TTS ? TTS yang aku maksud bukannya teka-teki silang ya gais, tapi Tanggal Tua Surprise yang diadakan oleh Matahari Mall.com

Nah, itu dia cerita tanggal tuaku, mana ceritamu ?

10 komentar:

  1. Semoga bisa bener-bener jadi seperti budi :D bisa dapetin promo surprise hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin.. pasti seneng banget tuh mas :)

      Hapus
  2. Jangan abaikan uang receh. Bener banget nih Mak, kalo lagi banyak duit sih bisa ditaro sembarangan para receh itu, giliran lagi tanggal tua, kadang para receh itu bisa jadi penyelamat. Hihihi. Jadi koki dan dibayar sama makanan? Kreatif banget sih Maaaak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha... begitulah mak demi bertahan hidup harus kreatif kan ?

      Hapus
  3. Ahahahaha soal nasgor, asal ada sambel, minimal sambel botolan sisa, msh bisa makan alhamdulillah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. yeeiippiee... kalo lagi bulan tua, ketemu sambel botolan itu meskipun harus dibalik sejaman biar bisa keluar, tetap aja rasanya hepi banget ya mas..

      Hapus
  4. yaps betul harus pinter-pinternya mengatur pengeluaran agar gaji cukup untuk satu bulan, untuk kebutuhan kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju ! kalo ga gitu bisa puyeng di tanggal tua :)

      Hapus
  5. cerita ttg anak kost memang tak ada habisnya ya... :)

    BalasHapus
  6. bener banget tuh yang mulung, saya sama ayah saya suka ngupasin kabel bekas buat diambil tembaganya terus dikiloin di akhir bulan salah satu cara ampuh buat nambahin kebutuhan finansial :D

    BalasHapus


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal