Kenali Darah Haid Yang Beresiko Penyakit

7 dari 10 wanita tidak pernah memperhatikan warna darah haid mereka ketika akan mengganti pembalut. Faktanya warna darah haid tertentu bisa mengindikasikan tubuh sedang menderita penyakit.

Upaya Pelestarian Sungai Yang Patut Dijadikan Contoh

Tahu kah kamu ? Ternyata ada satu daerah di Indonesia ini yang masyarakatnya selalu berupaya melestarikan sungainya ? Bahkan mereka rela untuk tidak mengambil ikan di sungai itu dalam waktu tertentu demi menjaga agar habitat alami sungai tetap terpelihara.

10 Best Couple Yang Bikin Baper

Kalo bicara tentang K-Drama, apalagi yang genrenya roman gitu, pasti ga akan bisa lepas dari yang namanya best couple. Kemampuan mereka dalam menyerap karakter yang diberikan penulis dan juga kemampuan mereka dalam mentransfernya kepada penonton berhasil membuat penonton terbawa perasaan, meskipun drama itu sendiri telah usai masa tayangnya. Istilah orang-orang sekarang nih, chemistry-nya dapet banget !

Kenali Penyebab dan Gejala Anyang-anyangan

Anyang-anyangan merupakan gejala awal infeksi saluran kemih adalah suatu gejala dimana penderita merasa selalu ingin buang air kecil, tetapi kuantitas urine sedikit. Dalam beberapa kasus, saluran kencing terasa panas dan perih

Tips Melicinkan Pakaian Tanpa Setrika

Menurut aku, menyetrika itu adalah perkerjaan yang sangat monoton, menyita waktu, bikin gerah, sekaligus bikin kaki selalu kram atau kesemutan. Dengan kata lain membosankan.Ada yang satu team sama aku ga, nih ? Kalo iya, yuk ngacung dengan komen pake hashtag #TeamOgahNyetrika

Kamis, 26 Mei 2016

OMG ! Ternyata OST Keren Ini Dinyanyikan Oleh Aktornya Langsung

Hai..hai.. gais !
Aku hadir lagi nih.
Kali ini lagi-lagi aku ngomongin tentang Original Sound Track a.k.a OST.

Iya, nih, gais. Rasanya ke'kepo'an ku tentang OST ini semakin menjadi-jadi deh. Terlebih lagi jika OST yang diputar itu pas banget iramanya dengan scene yang sedang berlangsung. Aku pasti langsung searching di internet, apa judul OSTnya dan siapa penyanyinya. OMG ! ternyata dari beberapa OST yang aku suka itu dinyanyikan oleh aktor utamanya.

Daebak !
Gimana ga makin cinta coba ?
Udah aktingnya bagus, tambah lagi suaranya merdu, owh .. aku ga ku-ku .. hihihi.

Silahkan baca juga "Let's Talk about OST"

Pada penasaran ga sama OST yang ku maksud ?
Kalo ga, ya ga pa-pa, aku ga maksa kok, gais.
Tapi bagi yang pengen tau, yuk simak beberapa OST favoritku yang dinyanyikan sama aktornya langsung. Check this out, ya, guys !

1. Because I Miss You (OST. Heartstring by Jung Yonghwa)

Drama yang dibintangi oleh Park Shin Hye dan Jung Yonghwa ini mengisahkan tentang perjuangan anak-anak muda untuk mencapai impiannya dalam bermusik dan dibumbui kisah cinta diantara mereka. Yup, bener banget, drama ini drama musikal lho gais. Jadi ga usah heran kalo tiap episodenya kita bakal di suguhi sama lagu-lagu keren dan juga romantis pastinya.

Tapi ada satu lagu yang bener-bener menyentuh hati aku saat menontonnya. Dan hebatnya, meski dinyanyikan lebih dari satu kali, tapi aku bisa merasakan 'sensasi' yang berbeda ketika mendengarnya. Pertama kalinya, lagu ini dinyanyikan oleh JYH di episode 6. Saat itu tokoh Lee Shin yang diperankannya sedang sedih karena baru saja kehilangan ayahnya yang meninggal karena mengidap penyakit keracunan alkohol. Suara JYH yang keren terdengar parau karena menahan kerinduan akan sosok ayah yang baru saja ia kenal dalam beberapa hari. Saking terlena dengan suara merdunya, aku sampai ikutan nangis lho gaais. Hiks.. hiks.. kacian banget Shin oppa. *Come to mama, babe, puk-puk..*

Kali kedua, lagu ini kembali dinyanyikan oleh JYH. Namun kali ini suasana hatinya berbeda gais. Dia menyanyikan lagu ini untuk mengungkapkan isi hatinya yang memendam perasaan kepada Lee Gyu Won yang diperankan oleh Park Shin Hye. Meski lagunya sama, tapi di kali kedua ini aku tidak merasakan kesedihan di lagu itu, justru merasakan rasa cinta yang begitu dalam dan begitu syahdu. Duh..duh..duh.. keren banget,  jadi pengen meluk JYH deh, hihihi..

Kalo urusan nyanyi, Jung Yonghwa emang ga diragukan lagi ya gais. Secara gitu, sampe hari ini dia kan masih jadi pentolan utamanya group CN-Blue. Selain jago main gitar, Jung Yonghwa ini juga jago banget nulis lagu. Owh, so sweet. Multi talenta banget ya oppa kita yang satu ini ?





 2. Really (OST. Innocent Man, by Song Joong Ki)

Aih..aih.. siapa yang ga kenal sama aktor cute bin manis ini ya, gais. Terlebih lagi sejak dia sukses besar meranin si Kapten 'pecicilan' bernama Yoo Si Jin dalam drama Descendant of The Sun ituh. Jujur aja nih, gais, sampe hari ini aku masih susah move on nih dari si Kapten, hihihi..

Yuk baca juga review aku Tentang Descendant Of The Sun.
Jauuuhh, sebelum drama DOTS yang sukses itu, sebenarnya Song Joong Ki udah bermain di beberapa drama gais. Sebut aja Sungkyunkwan Scandal, My Precious You, Deep Rooted Tree, Innocent Man dan lain-lainnya. Nah, dari sekian banyak drama yang dia bintangi. aku berkesan banget dengan drama Innocent Man. Meski pun drama ini ga seheboh Descendant of The Sun, tetapi drama Innocent Man ini spesial banget buat aku.

Genre dramanya sih ga da yang istimewa sih, ya. Biasalah kisah hidup anak manusia yang bertahan hidup, dengan bayang-bayang masa lalu yang tidak bisa ia lupakan. Yang membuat drama ini terasa istimewa adalah disalah satu scene, ketika Kang Ma Ru yang diperankan Song Jong Ki melakukan adegan kissing dengan Seo Eun Gi yang diperankan Moon Chae Won. Adegan yang mengharukan itu diiringi dengan suara Song Jong Ki yang menyanyikan lagu Really. Jadi ketika mendengar lagu itu, seolah-olah itu adalah suara hati Kang Ma Ru yang benar-benar mencintai Seo Eun Gi. Dalaammmm banget.





3. That Man (OST. Secret Garden by Hyun Bin)

Ada lagi ni, gais. Soundtrack drama yang buat aku termehek-mehek. Kali ini dari drama Secret Garden yang fenomenal itu tuh. Hayoo.. siapa yang belum nonton ? Ah..aku yakin banget, semua teman-teman disini pasti udah nonton drama yang memorable ini. Ngaku deh, kamu pasti masih ingat sama adengan sit-up, capucino kiss, dan jiwa yang ketuker itu. Ya, kaaannn.. hehehe

Nah, salah satu soundtracknya dinyanyika dengan manis oleh Hyun Bin. Bener-bener deh nih cowo ye, paket komplit banget. Ganteng iya, jago akting iya, eh pintar nyanyi juga ? Ck..ck..ck.. Ga salah deh kalo cewe-cewe seantero dunia histeris cantik kalo liat dia. Keren pisaaaannn.. hihihi...




4. I'll Protect You (OST. Healer by Ji Chang Wook)

Hmm.. ada yang ga kenal cowo tampan ini ?
Ada ?
Iihhhh... kebangetan banget ???
Masa sih hari gini masih ada yang belum nonton Healer ? OMG, kalo beneran ada, yo wis, mending kamu close dulu, trus pergi nonton dulu gih. Soale rugiiiiii kalo ga nontooonn. Beneran lho, suer.

Sampe hari ini aku masih ngantongin drama ini dalam daftar 10 drama terbaik yang aku tonton. Drama ini bertemakan 'hero in the dark' gitu. Walo pun awalnya dia adalah 'agen bayaran', tapi dalam perkembangannya si agen ini ga mo lagi semata-mata berkerja karena uang, hati nuraninya terusik sehingga membuatnya berontak untuk menegakkan keadilan. Apalagi kisah kematian orang tuanya juga memiliki benang merah dengan orang-orang yang memakai jasanya itu. Hmm..

Aku suka banget drama ini. Suka sama aktornya, suka sama adegan actionnya, suka sama adegan romantisnya, hihihi. Dan semakin suka ketika tahu salah satu soundtracknya dinyanyikan oleh Ji Chang Wook. Woow... Rupanya dia juga paket komplit ternyata.



Nah, itu dia 4 soundtrack K-Drama yang bagi aku memorable banget. Sebenarnya masih banyak lagi lho gais aktor-aktor tampan negeri ginseng itu yang bersuara merdu. Cuma aku ga mungkin tulis disini semua kaaan ya. Ntar tulisannya bisa sepanjang sungai Siak tuh saking banyaknya, hehe..

Kalo kamu, suka yang mana gais ?

Sabtu, 14 Mei 2016

Akhirnya Aku Dibedah Juga

Hidup itu bener-bener susah diprediksi ya. Hal yang sekuat mungkin berusaha dihindari tetap saja bisa terjadi sewaktu-waktu. Mungkin itu yang dinamakan takdir kali, ya. Mau ga mau, suka ga suka, rela ga rela, kalo Allah bilang 'itu' terjadi, ya, terjadi deh.

Seperti kejadian yang baru-baru ini aku alami. Ga pernah terbayangkan sama sekali kalo aku akhirnya masuk ruang operasi. Padahal waktu melahirkan Aira aja berhasil menghindari ruangan itu. Hanya gara-gara sakit perut, trus diare, aku harus dioperasi karena diagnosa radang usus buntu.

Image result for gambar operasi usus buntu
Sumber

Gimana ceritanya sih, kok bisa didiagnosa radang usus buntu ?

Nah, ini memang sedikit aneh. Aneh menurut aku yang awam tentang dunia kedokteran, tapi mah lumrah bagi mereka yang paham dunia itu.

Ceritanya, siang itu seperti biasa aku pergi nyetor ke bank. Hal yang emang udah rutin aku lakukan setiap hari. Pas perginya itu baik-baik aja, bahkan sangat baik malah. Aku baru saja selesai santap siang di warung depan kantor. Makanku lahap banget karena kebetulan bibi warung itu masak sambal kesukaanku yaitu Sayur Pakis Gulai Ijo dan Teri Main Bola. Menyantap makanan ini membuat aku bernostalgia kembali ke masa ketika ibuku masih ada. Saking lahapnya makan, sampe ga nyadar nasi semangkok lewat. Hahaha..

Habis makan kenyang, aku pun pergi ke bank diantar sama salah satu ojek langganan. Ga ada yang spesial sih waktu nyetor itu. Yang anehnya itu setelah nyetornya, pas lagi di tangga waktu mau pulang (ruang tellernya ada di lantai 2) aku mendadak merasa pusing, dan juga mual. Aku pikir, aah ini asam lambungku pasti naik lagi nih. Karena biasanya emang begitu, setiap habis makan gulai cabe ijo perutku pasti suka ga tahan.

Jadi sebelum maagku kumat, aku pun segera berlari ke apotik yang kebetulan berada pas di sebelah bank. Sesampai di sana, aku beli obat maag dan langsung meminumnya. Setelah minum obat maag itu, aku sempat bersendawa beberapa kali. Rasanya lega banget.

Pas mau pulang, tiba-tiba kok mendadak sempoyongan. Bumi terasa berputar, dan aku pun nyaris terjatuh karena pusing. Sementara rasa mualku semakin menjadi. Karena takut keburu pingsan, aku pun meminta ojek langgananku untuk mengantarkan ke klinik terdekat.

Sesampai di klinik, tanpa ba-bi-bu lagi, aku langsung masuk dan berlari menuju toilet. Dan hueeekkk...
Yah, sorry. Aku muntah di sana. Untung perawat kliniknya ramah banget, dia menyuruhku untuk segera berbaring menjelang dokter datang. Ooh, ternyata dokternya belum datang, karena hari masih pukul dua, sementara klinik bukanya pukul 3. Hiks.. hiks.. Dan aku pun pasrah nunggu dokter sambil menahan mual dan juga nyeri di perut. Sementara ojekku tadi ga tau dimana rimbanya.
*Maafkan aku, Pak Ojek. Aku terpaksa mengabaikanmu.*

Pukul 3 kurang, dokternya datang dan langsung memeriksa keadaanku. Tekanan darah normal, tapi wajah pucat pasi. Aku dikasih obat penahan rasa mual, dan alhamdulillah mualnya berkurang. Tapi perutku masih nyeri. Trus sama dokternya perutku bagian kanan ditekan, aku berteriak kesakitan. Aduh ! Sakit banget. Trus dia tekan lagi perut yang sebelah kiri, tapi sakitnya terasa di sebelah kanan. Trus dia menaikkan lututku yang sebelah kanan, dan masih terasa sakit. "Ini usus buntu, Bu. Ibu saya rujuk ke rumah sakit, ya."

Blam !
Serasa palu besar menimpa kepalaku saat itu.
Masa sih, Dok ? Saya sakit usus buntu ?
Kok bisa ? Bukannya maag ?

Aku masih juga berusaha untuk berargumen dengan si Dokter. Untung dokternya sabar, kalo ga dia pasti udah jawab, "yang dokter itu saya, jadi yang buat diagnosa juga saya."



Singkat cerita, aku pun dirujuk ke rumah sakit dan langsung masuk IGD. Di sini aku dipasangin infus dan diambil darah untuk cek labor. Karena sudah ada memo dari dokter klinik tadi, dokter IGDnya ga banyak komentar lagi. Dia hanya menyuruh aku untuk berbaring menunggu dokter spesialisnya datang. Dan, di sinilah derita sesi ke dua ku bermula.

Yah, sesi pertamanya kan di klinik tadi, hehe.

Aku masuk di IGD itu sekitar pukul 5 sore, masih dengan keluhan mual (sepertinya obat penahan rasa mualnya udah ga mempan lagi) dan nyeri di perut. Tapi masih belum diare. Hanya terasa begah aja. Ga lama setelah dokter IGDnya selesai memeriksa, aku ngerasa perutku melilit karena mulas. Daripada brojol di tempat tidur IGD, aku pun menyambar botol infus dan lari ke toilet. Blasssshhh ... yang keluar udah cairan. Ga ada ampasnya lagi. Dan itu terjadi lebih dari 8 kali sampai dokter spesialisnya datang pada pukul 8 malam.

Dokter spesialisnya memeriksa aku dengan seksama, dan diagnosanya persis sama dengan dokter klinik tadi. Tapi dia masih ga mau terburu-buru, dia butuh observasi lanjutan. Jadi malam itu aku pun harus dirawat inap guna melewati serangkaian tes.

Keesokan harinya, dokter datang lagi, memberi tahu hasil tes darah. Dia bilang jumlah sel darah putihku meningkat, itu mengindikasikan bahwa dalam tubuh sedang terjadi infeksi. Hasil USGku tidak begitu memuaskan, karena peradangannya tidak tampak jelas. Jadi, untuk memastikannya aku harus menjalani tes terakhir, yaitu pemeriksaan lewat dubur. Addoww... ini adalah satu hal yang paling aku ga suka, tapi musti dijalani. Sama halnya ketika bidan meriksa proses 'bukaan' waktu melahirkan dulu. Ga nyaman banget.

Tapi, ya seperti yang kubilang di awal-awal tadi, suka ga suka, rela ga rela, nyaman ga nyaman, ya, harus dilewati biar sembuh.

Setelah melewati 'drama' pemeriksaan dubur tadi, dokternya menghela nafas berat. "Positif, Bu. Ini usus buntu."

Lha, kalo dokter spesialisnya udah ngomong gitu aku harus bilang apa lagi coba ?
*Jadi ingat si Kapten nih, "apa aku harus minta maaf ?"*
*haiyyaaa... ini apa hubungannya ???*
*ga .. ada... cuma lagi rindu sama si Kapten ajjaahh.. hihihi*

"Jadi solusinya apa, Dok ?"


Satu-satunya pertanyaan terbego yang pernah aku lontarkan saat itu. Karena jawabannya udah jelas, kan ? Makan obat atau operasi ? Itu aja kok masih ditanyain.

Tapi dokternya mah baik banget, dia ga marah tuh dengar pertanyaan bego ku tadi. Dia hanya senyum aja, dan bilang, "solusinya ada dua, ibu minum obat, tapi saya ga bisa jamin sepenuhnya sembuh karena sewaktu-waktu usus buntunya bisa infeksi lagi, atau, ibu bisa operasi, 99% pasien infeksi usus buntu menyatakan tidak ada keluhan pasca usus buntunya dibuang. Jadi keputusannya ada ditangan ibu."

*Tuh, benerkan, jawabannya itu-itu juga.

"Ya, udah, Dok. Operasi aja."

Damn.. akhirnya keputusan yang paling kontroversial itu keluar juga dari mulutku. Iyyaahh.. aku ini orangnya paling anti sama yang namanya operasi. Kalo masih bisa hindari, ya hindari aja sejauh mungkin. Tapi, ya, itu kan maunya aku, sebelum berhadapan sama penyakit ini. Lha kalo udah kadung begini, masa aku masih pertahankan prinsip ? Ga lah, realistis aja.


Dan, operasi usus buntu pun selesai.


Kalo dipikir-pikir ternyata ga salah juga alasan aku menghindari operasi selama ini. Ternyata operasi itu benar-benar ga enak banget. Berikut 3 alasan mengapa aku tidak menyukai operasi.

1. Anestesi itu menyakitkan

Image result for gambar anestesi
Sumber
Hal pertama yang membuat trauma untuk masuk ruang operasi lagi adalah proses anestesi (pembiusan). Tapi aku ga tau juga apa hal ini berlaku juga buat orang lain. Tapi dari yang aku alami sendiri rasanya sakit banget. Jadi untuk operassi usus buntu itu, sistem pembiusannya kurang lebih sama dengan orang melahirkan yaitu pake bius lokal. Jadi anestesi dilakukan pada ruas tulang belakang. Ntar, dokter anestesinya bakal menyuntikkan biusnya dari tulang belakang, dan saat itu adalah saat tersakit yang pernah aku rasakan. Emang sakit melahirkan itu luar biasa, tapi sakit saat proses anestesi itu sungguh berbeda. Sakitnya sampe ke tulang. 




2. Suntikan untuk tes alergi

Image result for gambar suntikan tes alergi
Sumber
Sepertinya ini juga tahapan yang penting banget sebelum operasi, untuk mengetahui apakah pasien alergi terhadap antibiotik atau tidak ? Dan suntikan ini juga sakit banget. Karena ga disuntikkan ke otot langsung ya, tapi ke jaringan di bawah kulit ari. Jadi tipis banget, jarum itu diselipkan di bawah kulit ari, dan obatnya disuntikkan di sana. Sakitnya ? Bangeett.




3. Ga bisa langsung beraktifitas

Image result for gambar susah jongkok
Sumber
Alasan ini adalah yang paling menyiksa menurut aku. Pasca operasi itu ga bisa langsung beraktifitas normal. Sekitar 3-4 hari masih bed rest aja, ga bisa ngapa-ngapain. Mo jongkok di toilet pun ga bisa. Belum lagi kalo tidur, mo miring pun susah, terlentang lama punggung pun pegal. Rasanya bener-bener ga nyaman.






Nah, itu dia ceritaku ketika operasi pertama kalinya. Maksudnya sih bukannya mendiskreditkan operasi itu sendiri ya, cuma pengen ngingatin diri sendiri, juga kamu-kamu semua agar selalu menjaga kesehatan. Karena sakit itu benar-benar ga enak, apa lagi kalo harus sampe operasi.

Buat tambah-tambah informasi nih, berikut aku kasih ciri-ciri gejala radang usus buntu, ini base on my story yaaa...
1. Mual dan muntah
2. Konstipasi atau begah
3. Susah buang angin
4. Diare
5. Nyeri pada perut bagian kanan

Oh ya, buat kamu-kamu yang juga pernah ngalamin sakit perut, jangan remehkan ya, apa lagi kalo gejalanya mirip seperti yang aku bilangin tadi, ada bagusnya diperiksa lebih lanjut, buat jaga-jaga aja kalo-kalo ada penyakit, semakin cepat cepat kita tau semakin baik, kan ?

Kasihan oppa Joong Ki, kan dia jadi khawatir karena ga bisa jagain. Hiks..







Kamis, 12 Mei 2016

I Have My Own Style

Sumber

Judulnya sok-sok-an yak ? *langsung dijitak*

Ini tanganku ku mendadak gatal pengen nulis ini gara-gara satu artikel di buzzfeed yang wara-wiri di timeline FB. Kaya'nya aku ga sendirian deh, di timeline kamu-kamu juga ada kan ?

Di artikel itu disebutkan bahwa di India ada orang-orang yang 'rela' kelaparan demi ngikutin trend. Biar dibilang gaya dan trendy, tiap hari makan cantik di cafe-cafe mahal. Pake baju, tas dan sepatu branded, tapi faktanya uang di dompet ga cukup buat bayar makan siang. Gembel banget ga sih ?

Tapi sebenarnya peristiwa ini kejadiannya ga hanya di India aja lho. Bahkan aku yakin di Indonesia aja ada kok orang-orang yang mengutamakan penampilannya. Aku aja pernah liat orang yang tinggal di lingkungan rumahku sendiri, tiap hari harus menghilang lewat pintu belakang, gara-gara takut sama debt collector. Gayanya diluar sih wah banget, tapi ternyata ngutang. Sama rentenir lagi. Gak banget !

Itu gara-gara apa coba ?
Itu gara-gara peer pressure yang ga bisa mereka hadapi dengan santai.

*Gila loe Mer, peer pressure dihadapi dengan santai ? Sok banget loe ?*

Eh.. eh.. tapi tunggu dulu. Sebelum aku lanjutkan berargumen, sebelumnya aku mo kasih  dulu pengertian dari peer pressure itu. Ini buat kamu-kamu (termasuk aku sendiri) yang mungkin masih belum ngeh apa itu peer pressure.

Aku kutip dari sini, katanya Peer pressure itu adalah tekanan dari teman sebaya yang terjadi ketika seseorang atau sekelompok individu mempengaruhi orang lain untuk mengikuti kemauan mereka, biasanya dengan cara memaksa. Tujuannya adalah untuk mengubah sikap, nilai-nilai moral atau perilaku seseorang – biasanya kerap berkaitan dengan agama, obat-obatan, minuman keras, dan seks. Meskipun umumnya dianggap negatif, peer pressure juga dapat memiliki efek positif, misalnya: ketika orang-orang dianjurkan untuk berprestasi secara akademis, berolahraga, atau berpartisipasi dalam kegiatan sosial.

Kembali ke pernyataan aku di atas tadi.
Itu gara-gara peer pressure yang ga bisa mereka hadapi dengan santai. 

Kalo aku bilang sih iya, emangnya siapa yang suruh n maksa kita buat menjalankan gaya hidup seperti itu ?
Teman ? Lingkungan ? Tuntutan kerja ?

Kalo teman udah maksa-maksa kita untuk mengikuti sarannya yang negatif itu namanya bukan teman lagi. Jadi buat apa digauli. Menjauhlah dari lingkungan itu. Toh ga satu manusia di dunia ini. Asal mau buka mata, buka telinga dan yang terpenting buka hati untuk berteman dengan orang lain.
 
Trus kalo ada yang bilang peer pressure mereka datang dari tuntutan kerja, menurut aku sih itu alasan mereka aja yang dibuat-buat. Emangnya, kalo kamu kerja di perusahaan besar yang membuat kamu harus sering ketemu klien hebat, lantas itu harus menjadi alasan buat kamu berpakaian serba branded ?
Ga juga kan ?

Menurut aku sih yang harus diperhatikan itu adalah penampilan yang rapi, ga bau dan ga dekil. Rapi ga harus pake baju mihil kan ya ?

Asal pakaian itu bersih, ga kusut dan warnanya matching pasti keliatan menarik kok. Semahal apa pun pakaian loe, tapi kalo warnanya ga nyambung tetap aja keliatan norak. Kalo udah norak, semahal apa pun pakaian yang kamu pake, jatohnya tetap aja murahan. Nah lho ?

Trus, biar ga bau juga ga butuh parfum mahal kan ? Banyak kok parfum di luaran sana yang harganya ga nyampe seratus ribu, tapi wanginya enak.

Begitu juga kosmetik, ga perlu merek tertentu kan biar tampak cantik. Yang diperlukan itu adalah ilmu untuk menggunakan kosmetik itu dengan tepat. Semahal dan sebagus apapun kosmetik yang kamu punya, tapi kalo ga tau cara mengaplikasikannya dengan tepat, hasilnya ya tetap aja kaya ondel-ondel.

Jadi ga ada alasan tuh maksain diri beli produk branded demi tuntutan perkerjaan.

Trus kalo ada acara seminar, gathering dan ngumpul-ngumpul dengan komunitas itu harus banget ya nampak "wow' gitu ?
Buat apa sih ?
Biar jadi sorotan ?
Trus dapat pujian ? wah .. baju loe bagus ya, beli dimana jeng ? Lipstik kamu juga bagus, merk apa ?
Kalo emang itu alasannya, berarti bukan lingkungan dong masalahnya. Tetapi ada di diri kita sendiri.
Ga yakin dan ga percaya sama diri sendiri.

Kalo aku berpendapat sih ya, tanpa harus tampil 'wow' sekalipun orang-orang yang udah mengenal loe dengan baik lewat prestasi loe akan tetap menyimpan pendar-pendar 'wow' di mata mereka. Tanpa harus membuat diri jadi sorotan, spotlight itu bakal tetap menemukan keberadaan loe. Karena apa ? Karena prestasi yang loe toreh jauh lebih terang dari semua lampu-lampu sorot itu.

Jadi ga perlu lah ngerogoh kocek dalam-dalam, trus nyiapin budget khusus buat memenuhi style yang loe anggap 'wow' itu.

Style kok bergantung sama penilaian orang lain ?
Emangnya kalo dibilang beda itu dunia kiamat ya ?

Sebenarnya kalo pengen tampil beda itu ga harus mahal kok gais. Banyak kok tutorial mix and match pakaian yang murah meriah tapi cantik yang seliweran di internet. Tinggal seberapa keras usaha kitanya aja buat nyari ilmu.


Itukan dari segi penampilan, giman dong soal nongkrong di cafe mahal itu ?

Itu kembali ke diri masing-masing orang ya. Kalo aku pribadi nih, mending makan di warteg tiap hari tapi ga kelaparan sampai akhir bulan, dari pada makan mahal trus besoknya beli nasi padang aja ga bisa. Kalo emang mau makan enak n mahal itu sesekali sih boleh lah, kapan lagi nikmati hidup. Tapi tetep pake limit lah, jangan sampe harga seporsinya 3/4 gaji. Kalo udah tau harga makanan di cafe itu seporsinya 3/4 dari gaji, tapi demi gengsi tetap juga masuk, menurut aku sih kamu bunuh diri.
Ngapa ga nyemplung aja sekalian ke wajan kokinya, biar jadi menu istimewa berikutnya ?


Jadi, kalo aku berada dalam keadaan peer pressure seperti di atas itu, aku hadapi dengan kalimat santai aja, "Ini gayaku, so what, masalah buat lo?"



Tentang Euforia Kelulusan

Aku merasa tergelitik untuk menulis hal ini gara-gara melihat iring-iringan anak-anak sekolah yang merayakan hari kelulusan mereka. Berbondong-bondong di jalan raya, kebut-kebutan, tanpa helm dengan seragam penuh coretan warna-warni.

Mereka ketawa terbahak-bahak, cekakak-cekikik di tengah jalan raya yang rame sama kendaraan. Ga peduli dengan keselamatan diri sendiri juga keselamatan pengguna jalan lainnya. Yang ada dalam pikiran mereka cuma mereka hepi, senang, dan bahagia karena sudah lulus sekolah.

Image result for pesta kelulusanImage result for pesta kelulusan 
Image result for pesta kelulusanImage result for pesta kelulusan

Pertanyaannya, apakah lulus sekolah itu adalah ending dari kehidupan ?
Seperti film gitu, yang kalo udah kelar masalah, bintang utamanya tersenyum bahagia, trus senyum bahagia itu abadi di balik tulisan 'the end'.

Tapi kehidupan kan tidak sesimple itu. Seandainya saja anak-anak yang telah beranjak dewasa ini bisa berpikir sedikit lebih bijak, mereka tentu tidak akan se'gila' itu dalam mengekspresikan kegembiraan mereka. Seandainya saja mereka mau mengulurkan pikiran mereka sedikit lebih jauh ke depan, bahwa perjalanan mereka masih sangat panjang, pasti akan timbul pertanyaan besar di benak mereka. Akan jadi apa mereka setelah lulus nanti ?

Tulisan ini aku buat, juga sebagai reminder bagi diri sendiri. Karena aku sendiri juga punya anak, yang kelak bakal melewati fase seperti mereka. Dan adalah PR besar bagi aku dan suami agar Aira tidak latah ikut-ikutan mengikuti jejak pendahulunya.

Aku bisa menuliskan ini, karena memang Alhamdulillah ketika lulus SMU dulu aku dan teman-teman lainnya tidak mengikuti budaya jahiliyah ini. Tapi apa itu berarti perayaan kelulusan kami tidak bermakna ? Justru sebaliknya, perayaan kelulusan kami jauh lebih bermakna karena tanpa harus mencoret-coret baju, tanpa harus mubazir membeli cat semprot, kami rayakan kelulusan kami dengan berkumpul, saling mendoakan masa depan, dan saling mendoakan agar silaturrahim tidak terputus. Momen itu justru menjadi benang merah yang selalu menghubungkan kami dalam ikatan yang disebut 'keluarga'. Bukan hanya sebatas teman alumni yang setiap tahunnya ngumpul dalam acara reuni.

Mengutip status dari salah satu temanku di FB. Dia adalah seorang guru, pemerhati pendidikan dan dengan bangga aku sebutkan, dia adalah teman SMU dulu. Sejak lulus tahun 2000 hingga kini tahun 2016, sudah 16 tahun kami terpisah jarak dan waktu. Dan persaudaraan kami masih terjalin utuh, memori persahabatan kami tetap gak pernah hilang, walaupun ga melewati euforia corat-coret itu.

Jadi kepada adek-adek (atau harus ku panggil anak-anak ?) yang lulus sekolah hari ini. Apa yang kalian dapat dari aksi corat-coret itu ?

======
Link Gambar di sini
======

Jumat, 06 Mei 2016

Cerita Di Tanggal Tua : Dilema Angka 20

Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons X MatahariMall. Yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. voucher mataharimall dan hadiah disponsori oleh MatahariMall.
mataharimall-kompetisi






Bicara tanggal tua, aku jadi terkenang sama peristiwa semasa kuliah dulu. Waktu itu, aku kuliah dengan sambil kerja sebagai SPG di salah satu Dept. Store di Pekanbaru. Karena perkerjaanku yang sistem shift, dan itu berarti ada shift malamnya kan, maka demi keamanan saat pulang kerja aku memilih untuk kost di sekitar tempat kerja.

Jadi sehari-harinya itu, paginya aku kuliah, trus siang aku kerja sampe malam. Sebenarnya aku harus aplusan sama rekan kerja, bergiliran menjalani shift pagi dan shift malam, dan juga harus lembur ketika lawan shift sedang off. Tapi, karena aku harus kuliah, otomatis ga bisa donk masuk pagi, jadinya dengan terpaksa aku harus menjalani shift malam setiap hari. Ga enak banget yah, gais ? Tapi mau gimana lagi ? Demi kau dan si buah hati masa depan yang lebih baik kita harus berjuang kan ?

Waktu itu sekitar tahun 2001, sebagai SPG setiap bulannya aku menerima gaji sekitar Rp575.000. Setiap terima gaji, aku langsung sisihkan tuh biaya-biaya yang wajib seperti uang kost dan tabungan untuk uang semester. Aku masih ingat banget, waktu itu uang kost aku tiap bulan adalah Rp60.000. Sementara uang semester aku waktu itu adalah Rp295.000. Murah banget ya ? Kalo dibandingkan dengan sekarang sih, iya, murah. Banget malah. Tapi di tahun itu, bagi aku masih cukup berat.

Aku kuliah pada angkatan tahun 2000, dan itu adalah angkatan terakhir yang menikmati uang semester senilai itu. Jadi uang semester yang segitu aku genapin 300 ribu, jadi aku bagi enam, tiap bulannya au sisihkan Rp50.000 untuk bayar uang semester. Berarti dari Rp575.000 gaji aku itu, Rp110.000nya ga bisa diganggu gugat lagi, dan tersisa di tangan kurang lebih senilai Rp465.000 untuk sebulan.

Tempat kost ku emang ga jauh dari tempat kerja, aku bisa jalan kaki pergi dan pulangnya. Tapi kampusku jauh banget dari dari kost-an. Jika menggunakan angkot, aku harus nyambung tiga kali angkot, dan untuk pergi-pulang kuliah berarti harus 6x naik angkot. Saat itu ongkos angkot masih Rp1000, berarti Rp6000 per hari. Dikalikan 25 hari aktif, sama dengan Rp150.000. Itu masih untuk ongkos saja lho, gais. Belum lagi untuk makan, sabun, bedak dan lain-lain sebagainya aku harus cukup-cukupin dengan uang yang kurang lebih Rp300.000 itu sampai masa gajian berikutnya.

Jadi ceritanya, pernahlah suatu waktu, bulan itu tidak seperti bulan-bulan sebelumnya dimana tugas kuliah lumayan banyak, sehingga aku harus keluar biaya ekstra untuk rental komputer dan biaya-biaya fotocopy demi memenuhi tuntutan kuliah. Belum lagi biaya cari data di warnet. Uuhh... benar-benar menguras biaya dari kantongku yang isinya sangat tidak seberapa itu. Tapi mau protes juga percuma kan ? Suka gak suka, rela gak rela, aku tetap harus rogoh kocek dalam-dalam untuk memenuhi semua tugas-tugas dari dosen itu. Alhasil, uang di tanganku tersisa Rp20.000. Padahal hari itu masih tanggal 20, berarti masih ada 10 hari yang harus aku lalui menjelang gajian tiba. Gila, puyeng beratkan, gais ? Gimana mo ngampus seperti biasa dengan uang segitu ? Makan aja terancam. Ampun, dilema berat deh aku waktu itu.

Tapi aku bertekad untuk tidak mengeluh. Karena aku berprinsip, mengeluh itu hanya akan mematikan kreatifitas, jadi sama sekali tidak ada gunanya. Kalau aku ingin survive dalam situasi itu, aku harus berpikir keras untuk mencari jalan keluar.

Beberapa teman yang tahu kondisiku sempat mengulurkan tangannya memberi pinjaman, tapi aku tolak. Bukannya aku sombong dan sok-sok-an menolak bantuan mereka, tetapi menurutku utang tidak akan membantuku lepas dari masalah. Memang benar untuk saat itu terbantu, tetapi bulan depannya aku akan menjadi minus dua kali lipat. Yang namanya utang harus dibayar kan ?
Jadi agar bisa bertahan sampai akhir bulan, aku harus mencari cara untuk mendapatkan uang tambahan. Karena kalau tidak, sudah bisa dipastikan aku harus mengorbankan kuliahku untuk 10 hari. Ya, bagaimana mungkin bisa tetap ke kampus setiap hari dengan uang Rp20.000 itu ?

Langkah awalku saat itu adalah mendekati beberapa teman kost, dan aku menawarkan diri untuk menjadi ‘koki’ sementara mereka. Agar mereka terbuka memberi bantuan, aku pun harus terbuka menceritakan kondisiku. Aku terus terang kepada mereka mengatakan bahwa aku sedang kesulitan, dan aku menawarkan jasa untuk menjadi ‘koki’ mereka dengan harapan aku bisa dibayar dengan ‘makanan’. Dan Alhamdulillah, mereka bersedia, jadi aku bangun pukul 5 pagi agar bisa menyiapkan sarapan untuk si A, lalu pulang kuliah aku kebutkan memasak untuk si B. Dengan begitu urusan makanku pun selesai. Memang capek sih, tapi aku puas karena masalahku selesai tanpa harus ngutang.

Tapi tetap saja untuk transportasi ke kampus tidaklah cukup dengan uang yang Rp20.000 itu. Untuk amannya, aku harus mencari uang sekitar Rp40.000 lagi agar cukup untuk ongkos selama sepuluh hari. Sebenarnya aku sempat tergoda lho buat minjam sama teman. Tapi aku urungkan niat itu karena setelah mikir panjang kali lebar kali tinggi. Aku ga mau terjebak dalam pusaran labirin ‘gali lobang, tutup lobang’.

Win-win solution-nya adalah aku harus ekstra kerja keras lagi. Yah, ekstra capek lagi. Dan lagi-lagi Alhamdulillah, Allah menunjukkan jalanNya. Salah satu warnet di sekitar kampus menerima lamaranku untuk berkerja part time di hari off. Kebetulan tanggal 20 itu adalah hari senin, sementara Rabu adalah hari off ku di tempat kerja, jadi di hari itu aku bisa kerja menggantikan salah satu karyawan warnet yang tidak masuk. Karena bersedia lembur sampai malam, aku pun dibayar dua kali lipat. Alhamdulillah.

Nah, itu sepenggal cerita tanggal tua-ku semasa kuliah dulu. Sekarang ini, aku sudah menikah dan berumah tangga. Beda situasi dan kondisi pastinya kan. Tapi bukan berarti aku juga ga punya cerita tanggal tua setelah menikah. Justru setelah berumah tanggalah cobaan bulan tua itu semakin terasa.

Ketika lajang, kalo ga ada uang kita bisa ‘egois’ nahan lapar, karena toh yang ngerasain kan diri sendiri. Tetapi setelah berumah tangga, kita tidak bisa lagi seperti itu. Di saat tanggal tua tiba, aku harus putar otak untuk kreatif agar bahan-bahan yang dibeli di awal bulan tetap cukup hingga akhir bulan. Sebagai ibu rumah tangga harus disiplin dalam penggunaan arus listrik agar token cukup hingga akhir bulan. Sebagai istri yang baik aku juga ga sopan donk mengeluh seenak jidat, trus nodongin tangan minta uang tambahan sama suami. Apalagi aku tahu banget penghasilan suami udah disetor full pas gajian. Lha, kartu ATMnya kan aku yang pegang,  hehehe.

Karena pernah ngalamin gimana pahitnya tanggal tua waktu kuliah dulu, jadinya aku ga begitu ‘kaget’ lagi ketika mengalami lagi setelah menikah. Justru aku udah punya cara-cara jitu agar bisa melewati tanggal tua dengan tanpa masalah. 

Untuk teman-teman semua berikut aku bagiin nih, 5 Tips menghadapi tanggal tua ala Meirida.my.id :

1.       Kejar Promo, Untung Ku Tangkap

Promo ? diskon ? cash back ? voucher diskon ? Huuuwaaa... siapa yang nolak ?? Tapi kan ga semua pusat perbelanjaan yang memberikan promo begitu. Agar di tanggal tua ga keteteran, nah.. usahakan belanja bulanan hanya di pusat-pusat perbelanjaan yang menawarkan promo. Bukan hanya toko offline aja lho gais, toko online seperti Matahari Mall.com aja promonya bejibun. Belanja bulanan itu kan jumlahnya lumayan besar, untuk ukuran keluarga ku yang kecil aja tiap bulannya bisa mencapai 500 ribuan lho. Itu mencakup sembako, susu dan aneka sabun-sabunan. Dengan jumlah yang lumayan itu kalo dibelanjakan di toko-toko konvensional ga akan dapat apa-apa. Beda banget kalo berbelanja di supermarket. Belanja dengan senilai itu bisa membawa pulang banyak hadiah lho. Bisa berupa barang, uang cash back, point belanja, bahkan voucher diskon. Kan mayan banget gais, bisa digunakan buat belanja kebutuhan berikutnya.

2.       Sampahmu adalah harta karunku

Sepertinya kata-kata ini cocok ya buat dijadiin slogannya para pemulung. Bener ga, gais ? Bagi kita sih sampah, tapi buat mereka kan berharga banget. Makanya tips ini bakal bikin kamu rada-rada ‘mulung’ nih, gais. Tapi mulungnya ga perlu ke tempat-tempat sampah orang lain kok, cukup di rumah aja. Jadi kemasan-kemasan plastik bekas minuman itu jangan langsung dibuang, tapi kumpulin disuatu tempat. Karena begitu tanggal tua tiba, sampah kemasan plastik itu bisa jadi duit lagi lho. Sekilonya bisa dapat 4000-5000, kalo kita bisa ngumpulin sampe 4 kilo kan lumayan buat tambah-tambah beli token listrik.


3.       Jangan pernah kehabisan beras.

Nah, ini juga penting banget lho gais. Apa pun kondisinya, pastikan tempat berasmu selalu terisi. Ini adalah untuk antisipasi kalo-kalo bahan-bahan buat sambal di kulkasmu habis. Jadi beras yang ada di rumah masih bisa dimasak, trus diolah jadi nasi goreng. Hmm, tidak ada lauk, nasgor pun jadi kan ?


4.       Jangan abaikan uang recehmu.

Jadi kalo belanja  di mini market tertentu kan sering banget tuh, uang kembalian kita di tawarin buat didonasikan. Aku bukannya melarang teman-teman buat beramal ya, tapi kalo aku pribadi mending uang amalnya ‘bayarkan’ diawal bulan. Pas terima gaji langsung aja sisihkan buat zakat, sedekah, infaq atau sejenisnya itu. Jadi ketika belanja di minimarket selalu minta uang kembaliannya. Seandainya ga cukup senilai kembalian ga pa-pa, yang penting ada, jangan diabaikan. Nampaknya sepele kan ya, berapalah uang pecahan seratus, dua ratus bahkan lima puluh rupiah itu. Tapi kalo dikumpulkan dalam waktu yang lama jumlahnya kan bisa fantastis juga. Bisa jadi penyelamat lho di tanggal tua.

5.       Manfaatkan sarana gratis.

Hmmm.. ini satu lagi yang ga boleh dilewatin sama sekali gais. Apa lagi buat kamu-kamu yang suka internetan, kalo tiba di tanggal tua pasti puyeng banget tuh karena quota internet habis. Aku juga pernah ngalamin itu tuh. Tapi tentu saja aku ga mau kehabisan akal. Ga jauh beda sama  Budi, aku kalo lagi kepepet di tanggal tua, sukanya cari wifi gretongan. Nah dengan fasililtas wifi gratis ini aku bisa buka websitenya Matahari Mall yang emang banjir promo. Berkat #TTS dari Matahari Mall.com aku bisa terselamatkan sampai masa gajian tiba. Eh.. bingung ya ama apa itu TTS ? TTS yang aku maksud bukannya teka-teki silang ya gais, tapi Tanggal Tua Surprise yang diadakan oleh Matahari Mall.com

Nah, itu dia cerita tanggal tuaku, mana ceritamu ?