Thursday, October 22, 2015

[Fiksi] Loving You

14 Februari 2014
Satu persatu mereka yang tadi duduk memenuhi rumah itu berlalu pergi. Menyisakan Bara yang masih saja termangu disudut ruangan, diantara tumpukan buku Yaasin. Mata Bara masih tampak merah dan sembab. Sepertinya dia telah menguras habis seluruh persediaan air matanya. Dipangkuannya, Asbi bergolek manja, dengan botol susu ditangan kanannya. Sementara jari-jari kirinya sibuk memainkan rambut yang tumbuh didagu ayahnya. Tatapan matanya ceria. Dia memang masih terlalu polos untuk menyadari bahwa Rania, ibunya telah pergi untuk selamanya.
Ya, dihari yang orang-orang peringati sebagai hari kasih sayang, penuh bunga, coklat dan cinta Bara dihadapkan pada kenyataan pahit. Allah memanggil Rania menghadapNYA.
Bara menatap mata polos Asbi, yang masih terlalu kecil untuk mengetahui kepergian ibunya adalah buah pengabaian dari ayahnya sendiri. Menyadari hal itu, setitik bening kembali menggelinding di pipi Bara.
“Ayah.. appa ?” tanya Asbi dengan logat cadelnya. Rupanya air mata itu mengenai jari-jarinya. Bara menggeleng, lalu menyeka bulir itu dengan lengan bajunya. Sebisa mungkin dia membentuk lengkung di bibirnya.
“Gak pa-pa, mata ayah kemasukan debu,” jawab Bara. Berbohong ? Pasti. Karena tidak ada kata-kata lain yang bisa ia ucapkan agar Asbi mengerti.
“Mbus Yah.. mbus..” Asbi bangkit dari pangkuan Bara, lalu meniup mata ayahnya dengan kuat. Sisa-sisa susu yang berada dimulutnya muncrat ke wajah Bara. Tak pelak Bara pun tertawa. Digendongnya Asbi, lalu dipeluknya erat. Bayang-bayang Rania kembali melintas dimatanya.

Januari 2012
Bara menghentikan motornya tepat didepan sebuah rumah sederhana berhalaman kecil. Dindingnya papan dicat warna kuning. Nampak mencolok diantara aneka tanaman hijau yang tumbuh disekelilingnya.
“Ini rumahku.. gimana ? Mau masuk ? Atau balik pulang ?” tanya Bara sebelum turun dari motor.
“Ya masuklah, Bang. Kok balik pulang sih ?”
“Kamu yakin ? Gak kecewa melihat kondisi rumah aku ?” Rania menggeleng, dengan senyum manis diwajahnya. Bara semakin jatuh cinta kepada sosok gadis itu.
Rania adalah putri ketiga dari pemilik toko besar di kota ini. Beberapa kali mengantarkannya pulang Bara sadar betul, Rania tumbuh besar di keluarga berada. Tapi semua itu tidak lantas membuatnya jumawa dan besar kepala. Rania tetap rendah hati dalam berteman. Bahkan tanpa ragu, dia menerima cinta yang Bara tawarkan. Sungguh suatu mukjizat bagi Bara.
“Lho kok malah bengong ? Ayo kita masuk,” tegur Rania membuyarkan lamunan Bara. Bara terkesiap kaget, dengan cengengesan dia membimbing tangan Rania memasuki rumah.
Seorang wanita usia lima puluh tahunan menyambut mereka di ruang tamu. Dia Bu Ainun, ibu Bara. Air mukanya tampak senang ketika Bara memperkenalkan Rania sebagai calon menantu. Sementara Rania hanya menunduk tersipu dengan wajah merah jambu. Setelah berbincang sejenak, Bu Ainun meninggalkan Bara dan Rania di ruang tamu, dan dia kembali sibuk dengan perkerjaannya semula.
“Ran, terimakasih ya..” ujar Bara sambil menggenggam tangan Rania.
“Terimakasih ? Terimakasih untuk apa, Bang ?”
“Terimakasih karena kamu sudah terima cinta abang, padahal kamu lihat sendiri kondisi kita berbeda, kamu o..” kata-kata Bara terhenti karena hari telunjuk Rania melintang dibibirnya.
“Sstt.. jangan pernah ungkit itu lagi, Bang. Kan dari dulu aku sudah bilang, aku ga pernah mengkotak-kotakkan manusia. Dimata Tuhan aja kita sama kok. Jadi please jangan bicara seperti itu lagi,” ujar Rania. Bara semakin terharu mendengar kata-katanya. Dia mengecup jemari Rania dengan lembut. Hati Rania berdesir. Tanpa ragu dia menyandarkan kepalanya ke bahu Bara. Mereka hanyut dalam perasaan romantis yang bergejolak dalam dada.
“Ran.. kamu pernah hitung gak ? Hubungan kita udah jalan berapa lama, ya ?” tanya Bara kemudian.
“Hmm.. kalo ga salah, bulan depan dua tahun, benar kan ?” jawab Rania.
 “Yup.. ga terasa ya, udah dua tahun aja. Padahal rasanya baru kemarin aku nembak kamu.”
“Iya ya, Bang. Ga terasa. Itu karena kita menjalaninya dengan sepenuh hati, makanya gak nyadar waktu berlalu sedemikian cepat.” Bara mengangguk, dia kembali merengkuh bahu Rania. Mereka sama-sama hening, hingga suara jantung mereka terdengar jelas, berdetak seirama.
 “Ran.. dalam dua tahun hubungan kita, kamu bahagia gak ?”
“Banget !” jawab Rania yakin.
“Ehm.. mm.. kamu mau ga menikah dengan abang ?” dengan terbata kalimat itu akhirnya meluncur dari mulut Bara. Rania kaget, tidak percaya Bara akan melamarnya secepat itu. Meskipun kalimat itu sempat ia dengar didalam mimpinya akhir-akhir ini, namun tetap saja jantungnya berdetak lebih cepat ketika mendengar kalimat itu langsung dari mulut Bara. Tanpa pikir panjang lagi, Rania mengangguk dan menghambur kepelukan Bara.
“Tapi kamu lihat sendiri kondisi abang, Ran. Abang bukan orang kaya. Abang ga bisa menjanjikan kamu apa-apa selain cinta, perhatian dan kerja keras untuk menafkahi kamu.”
“Itu sudah cukup, Bang. Aku ga pernah malu dengan perkerjaan Abang. Lagian aku menikah bukan mencari kaya. Aku hanya mencari cinta, dan cinta itu adalah kamu,” ujar Rania mantap. Bara menatap Rania lama dan menemukan keteguhan hati disana.

Maret 2012
Pernikahan Bara dan Rania berlangsung khidmat di kediaman orang tua Rania. Meskipun sempat mengalami pertentangan dengan Papa, namun keteguhan hati Rania mampu meluluhkan hati Papanya. Dalam satu helaan nafas, ijab kabul itu terucap. Bara sah menjadikan Rania sebagai istrinya.
Selepas menikah, Bara memutuskan untuk mengontrak rumah. Meskipun orang tua Rania menawarkan untuk memakai salah satu rumah mereka namun Bara menolak. Sebersit kekecewaan mampir dihati Rania ketika itu. Tapi dia memutuskan untuk menurut kepada suaminya, dan mendukung keputusan Bara untuk pindah ke rumah kontrakan.
Kontrakan yang dipilih Bara sungguh jauh dari harapan Rania. Rumah itu terjepit diantara beberapa rumah petak. Satu ruang tamu, satu kamar tidur dan dapur yang berjejer lurus. Sebuah gang kecil menghubungkannya. Kamar mandi ada di belakang dapur dengan satu sumur cincin dengan katrol menggantung diatasnya.
Rania kecewa, tidak pernah membayangkan akan menghuni rumah dengan sarana seadanya seperti itu. Namun sebisa mungkin Rania menahan air matanya tidak jatuh. Tidak, aku tidak boleh bersedih, dengan penghasilan Bara yang segitu rumah ini sudah cukup baik bagi mereka. Rania menyemangati dirinya dalam hati. Lagi pula nanti mereka bisa menabung untuk membeli rumah. Rania yakin, cinta dan kerja keras pasti indah pada waktunya.

Juni 2013
Keromantisan Bara dan Rania di awal-awal pernikahan mereka dulu mulai diuji ketika memasuki tahun kedua pernikahan mereka. Disaat buah cinta mereka lahir, kesabaran Rania kembali diuji. Bara kehilangan perkerjaannya akibat perusahaan tempatnya berkerja sedang melakukan pengurangan tenaga kerja. Bayang-bayang suram mulai merambat dalam kehidupan mereka.
“Bang, kalo Abang sempat tolong buatkan kran di kamar mandi, ya, akhir-akhir ini punggungku nyeri waktu ngangkat air,” pinta Rania ketika Bara tengah santai di depan tivi. Sejak tinggal dirumah itu Rania menggunakan ember untuk mengisi bak kamar mandi.
Tidak jelas mulai kapan, Rania merasakan nyeri tidak tertahankan di punggungnya. Terutama jika dia mengangkat yang berat-berat. Pernah suatu waktu dia pingsan tiba-tiba. Untungnya tidak berlangsung lama, dia kembali tersadar dan nyeri dipunggungnya pun sedikit berkurang. Karena itulah Rania berpendapat nyeri dipunggungnya itu adalah akibat kelelahan. Selama setahun lebih mengerjakan semua perkerjaan rumah tangga secara manual. Kejadian itu tidak dia ceritakan ke Bara. Nanti abang jadi khawatir pula, batin Rania.
“Ya,” jawab Bara tanpa menoleh.
 “Oh ya, Bang. Susu Asbi juga hampir habis, mungkin tinggal untuk satu hari lagi. Abang masih ada uang pegangan gak ?” Dengan hati-hati Rania menanyakan hal sensitif itu kepada suaminya.
“Kok habis ? Kan baru lima hari yang lalu kita beli.” Bara balik bertanya.
“Iya wajarkan, Bang. Seusia Asbi ini kebutuhannya memang sedang tinggi,” jawab Rania, mencoba memberi pengertian.
“Huh.. inilah akibatnya kalau anak gak minum ASI, biaya jadi nambah,” ujar Bara dengan menggerutu.
Tesss.. setetes bening jatuh dihati Rania. Dia sedih, Bara mengungkit ketidak mampuannya dalam memberi ASI. Bukannya Rania tidak mau memberi ASI untuk anaknya, tetapi produksi ASInya yang sangat sedikit sehingga tidak bisa mengenyangkan Asbi. Rania tidak bersuara lagi, dia beranjak menuju dapur dengan pipi basah. Bara tidak bergeming. Hatinya masih kalut karena menganggur.
“Bang, boleh ga aku minta bantuan Mama ? Kasihan anak kita, Bang,” pinta Rania dengan nada memelas.
Air muka Bara langsung berubah. Dari awal menikah dulu dia telah berjanji didalam hati tidak akan pernah meminta bantuan kepada mertuanya, karena dia masih tersinggung dengan kata-kata papa Rania yang meremehkan dirinya sebelum mereka menikah. Meskipun waktu telah berlalu namun kata-kata itu masih membekas dalam di hatinya.
“Ga boleh, aku ga mau menerima bantuan dari orang tua kamu. Lebih baik aku minjam dari orang lain dari pada harus menjilat ludah sendiri !” tolak Bara dengan tatapan berapi-api.
“Begitu tinggi kah harga dirimu, Bang ? Sampai-sampai kamu tega mengorbankan anak sendiri. Aku ga nyangka kamu seegois ini,” Rania tidak tahan lagi dengan sifat keras kepala Bara. Dia beranjak pergi dengan membawa Asbi di gendongannya. Melihat itu Bara langsung mengejarnya, dan berhasil menarik tangan Rania, menyeretnya dengan kasar kedalam kamar.
“Jangan pernah coba-coba membawa Asbi pergi. Kalau kamu udah gak tahan dengan kondisi kita, silahkan, pintu terbuka lebar untuk kamu !” kata-kata Bara semakin tidak terkendali.
“Astaghfirullah. Istighfar, Bang. Istighfar.. Jangan turuti bisikan setan.. Sadar gak kamu baru saja mengusir aku, Bang !” kata Rania dengan nada tinggi. Bara semakin kalap, satu tamparan melayang ke pipi Rania. Rania terpekik.
Demi mendengar suara ribut yang disebabkan orang tuanya Asbi bereaksi. Dia menangis kencang. Sehingga Bara dan Rania pun tersadar. Mereka baru saja memberikan contoh yang tidak baik dihadapan anaknya. Rania memeluk anaknya dengan erat, berusaha menenangkan Asbi yang semakin terisak. Malam itu terasa sangat panjang bagi Rania.

Januari 2014
            “Ran ! Rania ! Kenapa kamu, Dek ?” Bara berteriak kaget ketika sampai dirumah mendapati Rania tergolek pingsan di lantai dapur. Sementara Asbi menangis diayunan. Suaranya serak, sepertinya cukup lama dia menangis. Bara panik, tidak tahu mana satu yang harus ditanganinya lebih dulu.
            Untung tetangga yang berdatangan sigap memberi bantuan. Bu Midah, tetangga terdekat mereka langsung mengeluarkan Asbi dari ayunan. Sementara Bara dan lainnya mengangkat Rania, dan langsung melarikannya ke rumah sakit terdekat.
            Bara tidak begitu paham urusan medis, yang jelas dia sangat bingung melihat paramedis yang berlarian di depannya dengan wajah panik. Sampai yang dinanti pun tiba, dokter memanggil Bara. Dengan tatapan penuh simpati dia menyatakan bahwa Rania mengidap kanker tulang stadium akhir.
Bara lemas, kakinya tak kuat lagi menyangga tubuhnya. Dia tersungkur tepat di kaki dokter. Bahunya terguncang, air mata jatuh membasahi lantai. Dia menyesali keegoisannya yang menuntut diperhatikan namun jarang memberi perhatian untuk Rania. Bahkan satu-satunya permintaan yang Rania ajukan selama pernikahan mereka pun tidak ia penuhi. Bara mengutuk keegoisannya. Namun semua percuma, terlambat sudah, dokter telah memvonis Rania tidak akan mampu bertahan lebih dari tiga puluh hari.
~ TAMAT ~

***
Cerpen ini terpilih sebagai salah satu kontributor dalam event "foto" yang diadakan oleh Infinite Publisher
***

2 comments:


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal