Saturday, October 31, 2015

[Review] Samsung Galaxy Chat B5330, Apakah Produk Gagal ?

Samsung adalah salah satu brand yang sampai saat ini masih sangat aku sukai. Kecintaan aku sama produk pabrikan Korea ini pun telah aku abadikan dalam bentuk tulisan di blog ini. Setiap kali ada teman atau saudara yang bertanya tentang ponsel, aku pasti rekomendasikan Samsung. Dari yang low-end sampai yang high-end, Samsung memiliki semua kriteria yang dibutuhkan oleh penggunanya. Dalam hati aku sempat berpikir, Samsung ini benar-benar brand yang sangat sempurna.

Tetapi stigma yang tertanam dipikiranku itu mulai berubah, dan membuat aku menyadari sesuatu. Memang tidak ada yang sempurna di dunia ini, kecuali DIA yang Maha Sempurna.

Satu hal yang menjadi pemicu pikiranku berubah adalah karena beberapa hari yang lalu aku mengenal Samsung Galaxy Chat B5330.

Image result for Samsung Galaxy Chat B5330
Sumber

Di tempatku berkerja, produk Samsung yang satu ini juga dikenal dengan sebutan Samsung Zanin. Awalnya aku tidak begitu ngeh kalau produk ini memiliki banyak kekurangan. Karena ya itu tadi, aku menganggap Samsung itu sempurna, dan semua produk yang dikeluarkannya juga pasti sempurna.

Sehingga di suatu hari yang cerah, ketika burung-burung berkicauan di atas dahan, semilir angin berhembus dari sela-sela ventilasi, datanglah sepasang suami istri dengan wajah muram dengan kantong plastik di tangan. Setelah berbicara dengan Customer Service, tibalah mereka di depan meja kerjaku. Senyumku mengambang menyambut kedatangan mereka, dengan ramah aku mempersilahkan mereka untuk duduk, kemudian dengan lembut aku menanyakan, "Selamat siang, ada yang bisa saya bantu, Ibu ?"

Tiba-tiba, "BRAAAKKK !!"

Suara gaduh membahana di ruang kerja kami. Kantong plastik yang entah berisikan apa itu di lempar dengan keras ke atas meja, dibarengi dengan suara omelan si ibu tadi. Aku shock, menarik nafas panjang. Come on babe, hang on ... hang on, bisikku dalam hati.

Seprofesional mungkin aku berusaha untuk tetap tersenyum, lalu membuka plastik bungkusan itu, dan menemukan Samsung Galaxy Chat B5330 disana.

"Ada masalah dengan handphonenya, Ibu ?" tanyaku lagi dengan sabar.
"Kamu cek sendirilah, mahal-mahal di beli kok kualitasnya kayak gitu !" jawabnya dengan nada gusar.
"Baik, Ibu. Sebentar saya cek dulu," sahutku masih dengan sangat sabar. Padahal dalam hati udah ngedumel panjang kali lebar kali tinggi, tapi aku tahan, karena aku tahu bahwa ini adalah bagian dari perkerjaan.

Kemudian aku pun memeriksa handphone Samsung Zanin itu. Setelah dihidupkan dan mencoba membuka beberapa aplikasi aku tidak menemukan masalah yang begitu berarti, kecuali kinerjanya yang sedikit lamban dari handphone-handphone Samsung lainnya.

"Sepertinya tidak ada kerusakan, Ibu. Bisa ibu jelaskan lebih detail ? Biar saya lebih mudah untuk mencarikan solusinya ?" Aku kembali bertanya kepada ibu itu. Tapi ibu itu tidak menjawab, dia hanya melengos, membuang pandangan ke samping kanan.
*padahal ga ada siapa-siapa di samping kanannya itu >.< *

"Kalau cuma dihidupkan seperti itu memang ga ada masalahnya, Mbak. Tapi kalo Mbak pake BBMan, FB-an, browsing baru ketahuan masalahnya apa. Mbak cobain deh." Kali ini si Bapak yang menjawab pertanyaanku. Mendengar gaya bicara si Bapak yang sopan dan tenang, aku pun sedikit lega.
*Dan mulai detik itu aku cuman ngomong sama si Bapak, habisnya masih kesel sih sama si Ibuk yang ngomel ga jelas juntrungannya itu :p *

Aku pun mencoba mengikuti saran dari si Bapak. Aku langsung memilih menu BBM. Dan benar yang dikatakan bapak itu, perlu waktu lima menit lebih untuk aplikasi itu terbuka. Begitu juga dengan aplikasi lainnya. Bahkan untuk membuka galeri foto pun sangaaaaattt lama.

Menurut aku, prosesor yang dimiliki Samsung Galaxy Chat B5330 ini masih sangat kurang mumpuni untuk mendukung aktifitas di semua fitur yang ada. Karena sungguh sangat tidak lazim, sebuah handphone pintar yang menggunakan platform android versi Ice Cream Sandwich 4.0 hanya mengandalkan CPU berukuran 850 mHz.

Bahkan handphone sekelas SPC S5 Maxx yang besutan lokal saja sudah menggunakan prosesor dual core 1.0 GHz untuk mendukung kinerjanya, padahal android yang mereka gunakan masih yang versi ginger bread lho.

Jadi sayang aja rasanya, kok bisa ya brand sebesar Samsung meluncurkan produk yang kualitasnya tidak lebih baik dari produk lokal. Padahal kita semua tahu, Samsung adalah salah satu brand yang sudah sangat mendunia dan telah memenangkan puluhan penghargaan dalam Goon Design Award yang diselenggarakan oleh Japan Institute for Design Promotion.

Sebagai pencinta brand Samsung, tentu saja aku berharap, semoga kedepannya Samsung lebih selektif dalam meloloskan produk-produk mereka ke pasaran. Jangan sampai kecintaan konsumen terhadap Samsung jadi berkurang akibat produk-produk yang kurang berkualitas. Terlebih lagi ketika ponsel-ponsel pintar pabrikan China yang beredar luas di pasaran dengan harga yang pasti jauh lebih murah dari produk Samsung. Jika kualitas yang ditawarkan tidak lebih baik, buat apa mereka memilih produk Samsung ?
Benar kan ?

Jadi kira-kira, boleh ga ya kalo aku sebut Samsung Galaxy Chat B5330 ini produk gagal ?

Any comments ?



Saturday, October 24, 2015

[Review] Antologi Cerpen MUBUHABI, Mulut Bungkam Hati Bicara



Alhamdulillah, buku perdanaku akhirnya terbit juga. Terimakasih tak terhingga kepada Infinite Publisher yang telah mengabulkan impianku ini.

Informasi buku :
Judul : Antologi cerpen "MUBUHABI", Mulut Bungkam Hati Bicara
Penulis : Merida Merry
Editor : Dzaky Rais
Desain Cover : Merida Merry
Layout : Tim Infinite Publisher
ISBN : 978-602-73101-9-3
Harga : Rp40.000 (PoD), tidak termasuk ongkos kirim.

Pemesanan dengan format :
PesanMubuhabi#Jumlah Buku#Nama Pemesan#Alamat lengkap#No Telp/HP
Contoh : PesanMubuhabi#2#Budi#Jl. Alhamra 3, RT. 2 RW. 5 Kel. Batu, Kec. Tapung, Prop. Riau#08123456789.

Kirim ke salah satu cara di bawah ini :
  • Pin BB : 5D46F2AF
  • FB : @Merida Merry
  • Twitter : @Meyrida2581
  • email : merida.orlanduri@gmail.com
Pembayaran :
  • Mandiri 138-00-2861998-4 atas nama Dzaky Rais
  • BCA 8215049091 atas nama Merida
  • Bukti transfer di scan dan dikirim ke inbox FB Meyrida Merry
PERHATIAN :
Pastikan anda menerima SMS konfirmasi order sebelum melakukan pembayaran.



Review :

Antologi cerpen Mubuhabi ini berisikan 12 cerita pendek yang terdiri dari beberapa genre. Sebenarnya kurang pas sih kalau aku mereview karyaku sendiri. Tetapi tentu saja ada alasan mengapa aku melakukannya. Ya nggak sih ?

*ngaku aja, itu karena buku loe belum terkenal ya kan ?*
*iya deh, emang gitu kenyataannya hehe*

Selain karena buku ini belum dikenal banyak orang *mudah-mudahan setelah ini mulai dikenal orang ya*, aku juga ingin sedikit bercerita latar belakang yang menginspirasi cerita di setiap cerpen yang ada di dalam buku ini.

1. Antara Hujan, Gang dan Pagar Besi
Cerpen ini awalnya aku muat di blog ini pada bulan Januari 2015. Namun saat itu cerpen ini hanya berupa monolog tanpa ada satupun dialog didalamnya. Nah, begitu cerpen ini dimasukkan ke dalam buku, aku merevisi cerpen ini dengan menambahkan dialog ke dalamnya. Cerpen ini mengisahkan tentang seorang gadis bernama Amey yang naif dan polos. Dia tidak pernah memiliki pikiran buruk tentang orang lain, dan selalu beranggapan orang-orang disekitarnya sayang dan peduli kepadanya. Namun satu peristiwa disuatu malam, ditengah hujan yang begitu deras, berhasil membukakan matanya. Bahwa kepercayaan itu tidak bisa diberikan kepada semua orang.

2. Cinta Tiga Kata
Cerpen ini juga pernah aku muat di blog ini juga pada bulan Februari 2015. Berkisah tentang seorang pemuda miskin bernama Don yang tampan dan taat beribadah. Sehari-hari dia berprofesi sebagai supir angkot. Meskipun sehari-hari waktunya habis di jalanan, namun tidak lantas membuat dia melupakan impiannya untuk kuliah. Dia sangat menyadari pendidikan yang layak akan mengangkat derajat hidup keluarganya. Karena itu dia pantang menyerah guna mewujudkan impiannya.

Dalam waktu yang sama, Don mulai mengenal cinta. Dia memendam cinta terhadap gadis bernama Nisa yang menjadi penumpang langganannya. Meskipun cinta dihatinya membara tetapi Don tetap bungkam dan memendam rasa yang bergejolak dihatinya. Dia sadar, dirinya bukan yang terbaik untuk Nisa.

Bagaimana kisah cinta Don selanjutnya ?
Apakah dia berhasil meraih impiannya ?
Penasaran sama endingnya ?
Yuk .. pesan sekarang juga :) *ujung-ujungnya modus hehe*

3. The Android
Ini cerpen misteri pertamaku. Awalnya sempat tidak percaya diri untuk memulainya. Tapi aku kembali berpikir, kalau tidak dicoba bagaimana bisa tahu hasilnya ? hehe ...

Cerpen ini berkisah tentang seorang pemuda bernama Agung yang sehari-harinya berkerja sebagai office boy (OB). Dia sudah lama ingin memiliki handphone Android. Tetapi selalu terkendala harganya yang selangit. Sampai suatu hari di tempatnya berkerja, dia melihat salah satu staff memamerkan handphone android baru yang ia beli dengan harga murah. Tentu saja Agung tertarik. Berbekal catatan dari staff itu, Agung pun meluncur ke toko yang dimaksud. Di sinilah bencana itu bermula. Satu persatu orang-orang yang dikenalnya tewas dengan cara yang tidak biasa.

Bagaimana semua itu bisa terjadi ?
Ayo, baca kisah lengkapnya di buku ini. Buruan pesan :)
*lagi-lagi modus*

Oke, masih ada 9 cerpen lagi yang tidak kalah seru. Tapi tidak akan seru lagi jika semuanya aku ceritakan disini :)

Bagi yang berminat, silahkan dipesan ya :)

Oh .. ya .. bagi yang memesan via komentar di blog ini, aku kasih diskon 10% deh.

Aku tunggu ya atensinya. Terimakasih banyak :)

Salam hangat,
Merida Merry










Friday, October 23, 2015

Mari Cintai Bahasa Indonesia Sebagai Jati Diri Bangsa

Sumber
Deuh, judulnya itu, berasa seperti di ruang kuliah yak .. hihi ..

Sesuai tema hari ini, #Jum'at-Literasi, aku akan berbagi tentang dunia keaksaraan ini. Secara sederhana, Literasi itu berarti kemampuan membaca dan menulis atau melek aksara. Adapun kegiatan berupa membaca dan menulis itu tidak akan pernah bisa dipisahkan dengan yang namanya bahasa.

Nah, sehubungan dengan peringatan Sumpah Pemuda yang akan jatuh pada tanggal 28 Oktober nanti, boleh dong ... aku mengajak Sobat Jeoja sekalian untuk lebih mencintai Bahasa Indonesia Sebagai Jati Diri Bangsa.


Sebagaimana yang tertuang didalam butir-butir Sumpah Pemuda itu yang salah satunya berbunyi, "Berbahasa satu, Bahasa Indonesia". Sangat jelas, kan ? Bahasa kita adalah Bahasa Indonesia, bukan bahasa Inggris, bukan bahasa Korea, juga bukan bahasa daerah. Apalagi bahasa campur sari, setengah Indo setengahnya lagi Londo.


Understand kan what I maksud ? *geleng-geleng*
Beneran, suer loe ? *bengong*
What happend ini teh ? * -____-*
Okay, kalo gitu loe-gue end. *uuups*

Dan bukan pula bahasa alay, yang penulisannya bercampur angka dengan huruf, dan penerapan tanda baca yang sering tidak pada tempatnya.
4ku ud4h 81L4n6k4n,, j6n NuL!5 53prt! !n!,, 4ku 83n3R2 64 n63Rt! Lh0  !!!!

Tuh, kan, seperti yang kita lihat bersama, sampai detik ini penggunaan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar itu kebanyakan hanya berada di lembaran-lembaran tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari ketika berkomunikasi dengan orang-orang dilingkungan sekitar, kita lebih banyak menggunakan bahasa daerah dan bahasa pergaulan. Ngaku aja deh, aku benar kan ? Karena aku sendiri adalah salah satunya dari sekian banyak orang itu. 

Menggunakan bahasa daerah untuk sehari-hari sebenarnya sih tidak masalah ya, karena bahasa daerah itu sendiri adalah warisan budaya nasional kita yang patut kita lestarikan. Dan biasanya berkomunikasi dengan menggunakan bahasa daerah ini membuat kita bisa lebih akrab antara satu dengan yang lainnya. Contohnya saja ketika aku sedang berkunjung ke Jakarta beberapa bulan yang lalu. Perjalanan yang awalnya terasa panjang dan membosankan itu jadi terasa singkat dan menyenangkan berkat kehadiran seorang kenalan yang juga menguasai bahasa daerah yang aku kuasai.

Namun, ketika kita berada didalam sebuah forum atau komunitas yang di dalamnya berada banyak orang dari berbagai suku yang tentu saja berbeda bahasa dan adat istiadatnya. Alangkah bijaksananya jika kita menggunakan Bahasa Indonesia yang bisa dimengerti oleh semua orang. Baik itu untuk mengemukakan pendapat atau pun untuk berkomentar atas pendapat orang lain. Selain mudah dimengerti dengan menggunakan Bahasa Indonesia itu secara tidak langsung kita telah menghindari terjadinya salah paham dan miskomunikasi. Dengan begitu, tidak akan ada lagi orang yang menyimpan prasangka atas apa yang kita bicarakan karena semua jelas dan transparan.


Manfaat Berbahasa Indonesia yang baik bagi blogger.

Seiring makin berkembangnya dunia blog di Indonesia membuat semakin banyak blogger-blogger asal tanah air dikenal oleh mereka-mereka yang berada di luar negeri. Secara tidak langsung para blogger ini telah menjadi duta bahasa Indonesia lewat tulisan-tulisan yang ada di blognya. Apa lagi jika blog tersebut memiliki cara penulisan yang khas, dan enak di baca, maka mereka akan mampir lagi dan lagi ke blog yang sama. Sekalipun bule-bule itu tidak mengerti Bahasa Indonesia, tetapi berkat adanya Google Translator tentu bukan halangan lagi bagi mereka untuk menjelajah blog-blog di Indonesia. Meskipun tidak 100% akurat, namun sedikit banyaknya hasil terjemahan dari Google Translator tersebut akan membantu mereka untuk memahami apa yang mereka baca.

Akan tetapi, Google Translator ini hanya bisa berkerja dengan baik pada Bahasa Indonesia yang ditulis sesuai dengan EYD yang baik dan benar. Jadi untuk bahasa-bahasa yang tidak baku alias bahasa gaul tadi jelas tidak akan tertranslate dengan benar oleh Google Translator, sehingga tidak akan bisa dipahami oleh bule yang mampir ke blog kita.

Selain itu, penggunaan Bahasa Indonesia sesuai EYD juga bisa berpengaruh pada optimasi SEO on page blog kita, sebab ini erat kaitannya dengan penulisan keyword. Semakin relevan isi artikel kita dengan keyword  yang dibidik maka makin besar pula peluang artikel kita terindex di hasil pencarian teratas mesin pencari Google.

Akan tetapi jika artikel kita ditulis dengan memakai bahasa yang tidak sesuai EYD, maka relevansi konten blog kita di mata Google bisa menurun dan dampaknya bukan tidak mungkin ranking website/blog kita juga ikut turun.

*lagak loe ngasih teori,, emangnya blog loe udah terindex Google, Mer ?* 
Belum sih ... *langsung umpetin widget PR*
 
Jadi, sebagai warga negara Indonesia yang baik, mari kita cintai Bahasa Indonesia.
Karena memang tidak ada ruginya, kan ?











Thursday, October 22, 2015

[Fiksi] Loving You

14 Februari 2014
Satu persatu mereka yang tadi duduk memenuhi rumah itu berlalu pergi. Menyisakan Bara yang masih saja termangu disudut ruangan, diantara tumpukan buku Yaasin. Mata Bara masih tampak merah dan sembab. Sepertinya dia telah menguras habis seluruh persediaan air matanya. Dipangkuannya, Asbi bergolek manja, dengan botol susu ditangan kanannya. Sementara jari-jari kirinya sibuk memainkan rambut yang tumbuh didagu ayahnya. Tatapan matanya ceria. Dia memang masih terlalu polos untuk menyadari bahwa Rania, ibunya telah pergi untuk selamanya.
Ya, dihari yang orang-orang peringati sebagai hari kasih sayang, penuh bunga, coklat dan cinta Bara dihadapkan pada kenyataan pahit. Allah memanggil Rania menghadapNYA.
Bara menatap mata polos Asbi, yang masih terlalu kecil untuk mengetahui kepergian ibunya adalah buah pengabaian dari ayahnya sendiri. Menyadari hal itu, setitik bening kembali menggelinding di pipi Bara.
“Ayah.. appa ?” tanya Asbi dengan logat cadelnya. Rupanya air mata itu mengenai jari-jarinya. Bara menggeleng, lalu menyeka bulir itu dengan lengan bajunya. Sebisa mungkin dia membentuk lengkung di bibirnya.
“Gak pa-pa, mata ayah kemasukan debu,” jawab Bara. Berbohong ? Pasti. Karena tidak ada kata-kata lain yang bisa ia ucapkan agar Asbi mengerti.
“Mbus Yah.. mbus..” Asbi bangkit dari pangkuan Bara, lalu meniup mata ayahnya dengan kuat. Sisa-sisa susu yang berada dimulutnya muncrat ke wajah Bara. Tak pelak Bara pun tertawa. Digendongnya Asbi, lalu dipeluknya erat. Bayang-bayang Rania kembali melintas dimatanya.

Januari 2012
Bara menghentikan motornya tepat didepan sebuah rumah sederhana berhalaman kecil. Dindingnya papan dicat warna kuning. Nampak mencolok diantara aneka tanaman hijau yang tumbuh disekelilingnya.
“Ini rumahku.. gimana ? Mau masuk ? Atau balik pulang ?” tanya Bara sebelum turun dari motor.
“Ya masuklah, Bang. Kok balik pulang sih ?”
“Kamu yakin ? Gak kecewa melihat kondisi rumah aku ?” Rania menggeleng, dengan senyum manis diwajahnya. Bara semakin jatuh cinta kepada sosok gadis itu.
Rania adalah putri ketiga dari pemilik toko besar di kota ini. Beberapa kali mengantarkannya pulang Bara sadar betul, Rania tumbuh besar di keluarga berada. Tapi semua itu tidak lantas membuatnya jumawa dan besar kepala. Rania tetap rendah hati dalam berteman. Bahkan tanpa ragu, dia menerima cinta yang Bara tawarkan. Sungguh suatu mukjizat bagi Bara.
“Lho kok malah bengong ? Ayo kita masuk,” tegur Rania membuyarkan lamunan Bara. Bara terkesiap kaget, dengan cengengesan dia membimbing tangan Rania memasuki rumah.
Seorang wanita usia lima puluh tahunan menyambut mereka di ruang tamu. Dia Bu Ainun, ibu Bara. Air mukanya tampak senang ketika Bara memperkenalkan Rania sebagai calon menantu. Sementara Rania hanya menunduk tersipu dengan wajah merah jambu. Setelah berbincang sejenak, Bu Ainun meninggalkan Bara dan Rania di ruang tamu, dan dia kembali sibuk dengan perkerjaannya semula.
“Ran, terimakasih ya..” ujar Bara sambil menggenggam tangan Rania.
“Terimakasih ? Terimakasih untuk apa, Bang ?”
“Terimakasih karena kamu sudah terima cinta abang, padahal kamu lihat sendiri kondisi kita berbeda, kamu o..” kata-kata Bara terhenti karena hari telunjuk Rania melintang dibibirnya.
“Sstt.. jangan pernah ungkit itu lagi, Bang. Kan dari dulu aku sudah bilang, aku ga pernah mengkotak-kotakkan manusia. Dimata Tuhan aja kita sama kok. Jadi please jangan bicara seperti itu lagi,” ujar Rania. Bara semakin terharu mendengar kata-katanya. Dia mengecup jemari Rania dengan lembut. Hati Rania berdesir. Tanpa ragu dia menyandarkan kepalanya ke bahu Bara. Mereka hanyut dalam perasaan romantis yang bergejolak dalam dada.
“Ran.. kamu pernah hitung gak ? Hubungan kita udah jalan berapa lama, ya ?” tanya Bara kemudian.
“Hmm.. kalo ga salah, bulan depan dua tahun, benar kan ?” jawab Rania.
 “Yup.. ga terasa ya, udah dua tahun aja. Padahal rasanya baru kemarin aku nembak kamu.”
“Iya ya, Bang. Ga terasa. Itu karena kita menjalaninya dengan sepenuh hati, makanya gak nyadar waktu berlalu sedemikian cepat.” Bara mengangguk, dia kembali merengkuh bahu Rania. Mereka sama-sama hening, hingga suara jantung mereka terdengar jelas, berdetak seirama.
 “Ran.. dalam dua tahun hubungan kita, kamu bahagia gak ?”
“Banget !” jawab Rania yakin.
“Ehm.. mm.. kamu mau ga menikah dengan abang ?” dengan terbata kalimat itu akhirnya meluncur dari mulut Bara. Rania kaget, tidak percaya Bara akan melamarnya secepat itu. Meskipun kalimat itu sempat ia dengar didalam mimpinya akhir-akhir ini, namun tetap saja jantungnya berdetak lebih cepat ketika mendengar kalimat itu langsung dari mulut Bara. Tanpa pikir panjang lagi, Rania mengangguk dan menghambur kepelukan Bara.
“Tapi kamu lihat sendiri kondisi abang, Ran. Abang bukan orang kaya. Abang ga bisa menjanjikan kamu apa-apa selain cinta, perhatian dan kerja keras untuk menafkahi kamu.”
“Itu sudah cukup, Bang. Aku ga pernah malu dengan perkerjaan Abang. Lagian aku menikah bukan mencari kaya. Aku hanya mencari cinta, dan cinta itu adalah kamu,” ujar Rania mantap. Bara menatap Rania lama dan menemukan keteguhan hati disana.

Maret 2012
Pernikahan Bara dan Rania berlangsung khidmat di kediaman orang tua Rania. Meskipun sempat mengalami pertentangan dengan Papa, namun keteguhan hati Rania mampu meluluhkan hati Papanya. Dalam satu helaan nafas, ijab kabul itu terucap. Bara sah menjadikan Rania sebagai istrinya.
Selepas menikah, Bara memutuskan untuk mengontrak rumah. Meskipun orang tua Rania menawarkan untuk memakai salah satu rumah mereka namun Bara menolak. Sebersit kekecewaan mampir dihati Rania ketika itu. Tapi dia memutuskan untuk menurut kepada suaminya, dan mendukung keputusan Bara untuk pindah ke rumah kontrakan.
Kontrakan yang dipilih Bara sungguh jauh dari harapan Rania. Rumah itu terjepit diantara beberapa rumah petak. Satu ruang tamu, satu kamar tidur dan dapur yang berjejer lurus. Sebuah gang kecil menghubungkannya. Kamar mandi ada di belakang dapur dengan satu sumur cincin dengan katrol menggantung diatasnya.
Rania kecewa, tidak pernah membayangkan akan menghuni rumah dengan sarana seadanya seperti itu. Namun sebisa mungkin Rania menahan air matanya tidak jatuh. Tidak, aku tidak boleh bersedih, dengan penghasilan Bara yang segitu rumah ini sudah cukup baik bagi mereka. Rania menyemangati dirinya dalam hati. Lagi pula nanti mereka bisa menabung untuk membeli rumah. Rania yakin, cinta dan kerja keras pasti indah pada waktunya.

Juni 2013
Keromantisan Bara dan Rania di awal-awal pernikahan mereka dulu mulai diuji ketika memasuki tahun kedua pernikahan mereka. Disaat buah cinta mereka lahir, kesabaran Rania kembali diuji. Bara kehilangan perkerjaannya akibat perusahaan tempatnya berkerja sedang melakukan pengurangan tenaga kerja. Bayang-bayang suram mulai merambat dalam kehidupan mereka.
“Bang, kalo Abang sempat tolong buatkan kran di kamar mandi, ya, akhir-akhir ini punggungku nyeri waktu ngangkat air,” pinta Rania ketika Bara tengah santai di depan tivi. Sejak tinggal dirumah itu Rania menggunakan ember untuk mengisi bak kamar mandi.
Tidak jelas mulai kapan, Rania merasakan nyeri tidak tertahankan di punggungnya. Terutama jika dia mengangkat yang berat-berat. Pernah suatu waktu dia pingsan tiba-tiba. Untungnya tidak berlangsung lama, dia kembali tersadar dan nyeri dipunggungnya pun sedikit berkurang. Karena itulah Rania berpendapat nyeri dipunggungnya itu adalah akibat kelelahan. Selama setahun lebih mengerjakan semua perkerjaan rumah tangga secara manual. Kejadian itu tidak dia ceritakan ke Bara. Nanti abang jadi khawatir pula, batin Rania.
“Ya,” jawab Bara tanpa menoleh.
 “Oh ya, Bang. Susu Asbi juga hampir habis, mungkin tinggal untuk satu hari lagi. Abang masih ada uang pegangan gak ?” Dengan hati-hati Rania menanyakan hal sensitif itu kepada suaminya.
“Kok habis ? Kan baru lima hari yang lalu kita beli.” Bara balik bertanya.
“Iya wajarkan, Bang. Seusia Asbi ini kebutuhannya memang sedang tinggi,” jawab Rania, mencoba memberi pengertian.
“Huh.. inilah akibatnya kalau anak gak minum ASI, biaya jadi nambah,” ujar Bara dengan menggerutu.
Tesss.. setetes bening jatuh dihati Rania. Dia sedih, Bara mengungkit ketidak mampuannya dalam memberi ASI. Bukannya Rania tidak mau memberi ASI untuk anaknya, tetapi produksi ASInya yang sangat sedikit sehingga tidak bisa mengenyangkan Asbi. Rania tidak bersuara lagi, dia beranjak menuju dapur dengan pipi basah. Bara tidak bergeming. Hatinya masih kalut karena menganggur.
“Bang, boleh ga aku minta bantuan Mama ? Kasihan anak kita, Bang,” pinta Rania dengan nada memelas.
Air muka Bara langsung berubah. Dari awal menikah dulu dia telah berjanji didalam hati tidak akan pernah meminta bantuan kepada mertuanya, karena dia masih tersinggung dengan kata-kata papa Rania yang meremehkan dirinya sebelum mereka menikah. Meskipun waktu telah berlalu namun kata-kata itu masih membekas dalam di hatinya.
“Ga boleh, aku ga mau menerima bantuan dari orang tua kamu. Lebih baik aku minjam dari orang lain dari pada harus menjilat ludah sendiri !” tolak Bara dengan tatapan berapi-api.
“Begitu tinggi kah harga dirimu, Bang ? Sampai-sampai kamu tega mengorbankan anak sendiri. Aku ga nyangka kamu seegois ini,” Rania tidak tahan lagi dengan sifat keras kepala Bara. Dia beranjak pergi dengan membawa Asbi di gendongannya. Melihat itu Bara langsung mengejarnya, dan berhasil menarik tangan Rania, menyeretnya dengan kasar kedalam kamar.
“Jangan pernah coba-coba membawa Asbi pergi. Kalau kamu udah gak tahan dengan kondisi kita, silahkan, pintu terbuka lebar untuk kamu !” kata-kata Bara semakin tidak terkendali.
“Astaghfirullah. Istighfar, Bang. Istighfar.. Jangan turuti bisikan setan.. Sadar gak kamu baru saja mengusir aku, Bang !” kata Rania dengan nada tinggi. Bara semakin kalap, satu tamparan melayang ke pipi Rania. Rania terpekik.
Demi mendengar suara ribut yang disebabkan orang tuanya Asbi bereaksi. Dia menangis kencang. Sehingga Bara dan Rania pun tersadar. Mereka baru saja memberikan contoh yang tidak baik dihadapan anaknya. Rania memeluk anaknya dengan erat, berusaha menenangkan Asbi yang semakin terisak. Malam itu terasa sangat panjang bagi Rania.

Januari 2014
            “Ran ! Rania ! Kenapa kamu, Dek ?” Bara berteriak kaget ketika sampai dirumah mendapati Rania tergolek pingsan di lantai dapur. Sementara Asbi menangis diayunan. Suaranya serak, sepertinya cukup lama dia menangis. Bara panik, tidak tahu mana satu yang harus ditanganinya lebih dulu.
            Untung tetangga yang berdatangan sigap memberi bantuan. Bu Midah, tetangga terdekat mereka langsung mengeluarkan Asbi dari ayunan. Sementara Bara dan lainnya mengangkat Rania, dan langsung melarikannya ke rumah sakit terdekat.
            Bara tidak begitu paham urusan medis, yang jelas dia sangat bingung melihat paramedis yang berlarian di depannya dengan wajah panik. Sampai yang dinanti pun tiba, dokter memanggil Bara. Dengan tatapan penuh simpati dia menyatakan bahwa Rania mengidap kanker tulang stadium akhir.
Bara lemas, kakinya tak kuat lagi menyangga tubuhnya. Dia tersungkur tepat di kaki dokter. Bahunya terguncang, air mata jatuh membasahi lantai. Dia menyesali keegoisannya yang menuntut diperhatikan namun jarang memberi perhatian untuk Rania. Bahkan satu-satunya permintaan yang Rania ajukan selama pernikahan mereka pun tidak ia penuhi. Bara mengutuk keegoisannya. Namun semua percuma, terlambat sudah, dokter telah memvonis Rania tidak akan mampu bertahan lebih dari tiga puluh hari.
~ TAMAT ~

***
Cerpen ini terpilih sebagai salah satu kontributor dalam event "foto" yang diadakan oleh Infinite Publisher
***

Wednesday, October 21, 2015

Kenali Ciri-ciri Anak Terjangkit Gejala Hedonisme

Halo, gais !

Karena hari aku akan berbicara tentang Lifestyle alias gaya hidup. Dan aku tertarik untuk mengangkat judul, "Kenali Ciri-ciri Anak Terjangkit Gejala Hedonisme".

Mengapa aku memilih anak sebagai subjeknya ? Hmm, nanti aku jelasin alasannya, namun sebelum kita sampai kesana, aku ingin mengajak kamu semua untuk sama-sama memahami dulu apa itu hedonisme.

Image result for hedonisme
Sumber



Pengertian dan Latar Belakang  Munculnya Hedonisme.

Menurut Wikipedia, Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia.

Hedonisme muncul pada awal sejarah filsafat sekitar tahun 433 SM. Hedonisme ingin menjawab pertanyaan filsafat "apa yang menjadi hal terbaik bagi manusia?"

Hal ini diawali dengan Sokrates yang menanyakan tentang apa yang sebenarnya menjadi tujuan akhir manusia. Lalu Aristippos dari Kyrene (433-355 SM) menjawab bahwa yang menjadi hal terbaik bagi manusia adalah kesenangan. Aristippos memaparkan bahwa manusia sejak masa kecilnya selalu mencari kesenangan dan bila tidak mencapainya, manusia itu akan mencari sesuatu yang lain lagi.

Pandangan tentang 'kesenangan' (hedonisme) ini kemudian dilanjutkan seorang filsuf Yunani lain bernama Epikuros (341-270 SM). Menurutnya, tindakan manusia yang mencari kesenangan adalah kodrat alamiah. Meskipun demikian, hedonisme Epikurean lebih luas karena tidak hanya mencakup kesenangan badani saja—seperti Kaum Aristippos--, melainkan kesenangan rohani juga, seperti terbebasnya jiwa dari keresahan.


Hedonisme dan Pengaruhnya Terhadap Anak.

Hedonisme merupakan salah satu gaya hidup yang berkembang pesat saat ini. Mulai dari masyarakat perkotaan hingga masyarakat pedesaan, banyak yang terbuai dengan gaya hidup yang mengagungkan kesenangan duniawi ini.

Sungguh sangat disayangkan ketika kaum hedonis ini rela melakukan segala macam upaya demi memenuhi tuntutan gaya hidup mereka. Tidak jarang mereka terlibat dengan rentenir yang mencekik leher mereka dengan bunga pinjaman yang berlipat-lipat ganda hanya gara-gara mereka ingin mengikuti trend hidup tertentu. Gaya hidup hedonisme ini, memang menawarkan berjuta kesenangan, tapi jika yang mengikutinya tidak memiliki pengendalian diri yang kuat, gaya hidup ini akan menyeret mereka jatuh dan terpuruk dalam lilitan masalah.

Selain itu, karena menjadikan kesenangan hidup sebagai tujuan utama, hal ini membuat kaum hedonis mengukur segala sesuatunya dengan kebendaan berupa uang, harta dan semua hal yang nampak di permukaan. Menurut mereka orang yang senang itu adalah orang yang memiliki banyak harta. Dan orang yang memiliki harta yang banyak sudah pasti bahagia. Pemikiran seperti ini akhirnya membawa mereka ke usaha bagaimana untuk mendapatkan itu semua. Mereka tidak lagi mempedulikan nilai-nilai mulia kemanusiaan. Bagi mereka yang penting puas, senang dan masa bodoh dengan yang lain.

Yang sangat kita sesalkan adalah, gaya hidup yang seperti itu menarik minat banyak orang, terutama sekali kaum remaja dan anak-anak. Rasa ingin tahu mereka yang besar mendorong mereka lebih kuat untuk terus mengekplorasi gaya hidup yang mereka pandang bebas dan berani ini. Remaja dan anak-anak ini dengan polosnya beranggapan bahwa hidup bebas dan berani itu keren dan tidak ketinggalan zaman.

Aku pribadi, bisa saja menyalahkan globalisasi dunia yang tanpa batas itu sebagai  penyebabnya. Tapi tidak ada gunanya kan ? Karena toh aku tidak akan bisa menghalangi arus globalisasi dan semua teknologinya itu dengan menutup pintu rumah rapat-rapat. Jadi mau atau tidak, suka atau tidak, kita harus menghadapi tantangan globalisasi dunia ini dengan bijak.

Sebagai orangtua, kita harus bisa lebih kreatif agar bisa menarik anak-anak kita untuk bisa mengendalikan dirinya agar tidak terjebak dalam gaya hidup hedonis yang tidak akan pernah ada habisnya itu. Untuk memupuk pengendalian diri mereka tersebut salah satunya adalah dengan membekali mereka dengan pendidikan agama yang cukup.

Salah satu cara agar kita bisa mengetahui apakah anak-anak kita telah terjangkit gejala hedonisme ini atau bukan adalah dengan mengenali ciri-cirinya yang dikelompokkan sebagai berikut.

1. Anak menyukai segala sesuatu yang bersifat 'instant'.
Orangtua harus waspada ketika anak sangat menyukai bersenang-senang dan cenderung mengabaikan kewajibannya. Mereka menyukai segala sesuatu yang bersifat instan, malas dalam berjuang dan lebih mengandalkan jalan pintas dalam mencapai keinginannya.

2. Anak suka pesta dan berfoya-foya.
Dunia glamour adalah passion mereka. Dilevel ini anak tidak mengenal kata hemat dan selalu menghambur-hamburkan uang. Anak tidak mau mengerti dan tidak peduli dengan kerja keras orangtua dalam menafkahinya. Anak berpendapat adalah kewajiban orangtua memenuhi kebutuhannya, dan orangtua tidak berhak ikut campur ke dalam cara anak menikmati hidup mereka.

3. Anak mencintai dunia hiburan.
Dalam sehari-hari waktunya dihabiskan untuk menonton, bermain game, gadget, sosial media dan dunia hiburan lainnya. Anak memprioritaskan kesenangannya diatas kewajibannya. Mereka lupa belajar dan juga malas beribadah. Waktunya habis hanya untuk hal-hal yang tidak berguna.

4. Anak sangat menyukai perhiasan.
Hal ini bukan hanya tentang perhiasan berupa emas, permata dan sejenisnya yang mungkin lebih diminati oleh remaja putri. Tetapi juga meliputi dunia otomotif yang segala asesoris dan pernak-perniknya sangat digilai oleh remaja putra.

Itu adalah 4 ciri-ciri umum yang terjadi ketika anak telah terjangkit gejala hedonisme. Dan aku yakin masih banyak ciri-ciri lainnya yang mungkin saja sedang dialami oleh sebagian besar orangtua di luar sana.

Yang jadi persoalan sekarang, sudah siapkah kita sebagai orang tua jika anak-anak kita kelak juga menunjukkan gejala yang sama ?

Yuk, mari kita renungi bersama, sudah benarkah cara kita dalam mendidik anak selama ini ?
Sudahkah anak-anak kita bekali dengan pendidikan agama yang cukup ?

Jika jawabannya adalah 'belum', ayo kita benahi diri kita. Mulai dari diri kita sendiri dengan memberi contoh yang baik dan menyediakan waktu yang cukup untuk mendengarkan anak-anak kita bercerita tentang dunianya.














Tuesday, October 20, 2015

Orang Miskin Juga Manusia

Postingan kali ini aku beri judul Orang Miskin Juga Manusia.

Awalnya aku berencana judulnya adalah "Orang Miskin, Bukan Manusia ?" Tapi aku ganti, karena khawatir ada yang tersinggung dengan judul yang rada-rada sarkasm begitu. Bisa-bisa aku didemo oleh seantero jagad dong nanti, ujung-ujungnya blog ini diblokir, kemudian aku ga bisa nulis lagi. Kalau sudah begitu, aku syedih dong, ya kan ?

Okay, cukup membahas soal judul postingan ini. Karena yang penting sekarang adalah apa maksud aku menulis artikel dengan  judul yang seperti itu ?

Ide ini muncul ketika sore kemarin, sepulang kerja, aku mendapati sekarung beras di dalam rumah. Sebenarnya tidak ada yang aneh sih ya ? Apa istimewanya coba ? Sekarung beras saja kok dijadikan bahan tulisan ?

Memang tidak terlalu istimewa sih kalau tulisan yang tertera di karungnya adalah merek beras yang biasa aku dan keluargaku konsumsi. Tetapi, karena di karungnya tertera tulisan Beras Bulog, makanya ini pun menjadi istimewa.

Aku yakin, teman-teman pasti sudah pernah mendengar kan tentang beras yang dibagi-bagikan pemerintah untuk keluarga miskin ini ? Itu lho, raskin, alias beras untuk keluarga miskin. Yup, itu adalah beras Bulog.

Selama ini aku tidak pernah terpikir untuk mencari tahu bagaimana bentuk atau pun rasa dari beras ini. Yang ada dalam pikiran aku adalah, pemerintah kita baik dan perhatian kepada keluarga tidak mampu. Keluarga miskin di Indonesia tidak perlu pusing lagi memikirkan bagaimana cara mendapatkan beras murah, karena pemerintah sudah menyediakannya. Cukup dengan membayar sejumlah Rp3000 sebagai upah angkut, beras seukuran 15 kg bisa mereka miliki. Jadi satu beban hidup dalam keseharian mereka pun telah terangkat. Dengan kata lain, keluarga miskin di Indonesia tidak terlalu pusing lagilah memikirkan urusan perut. Okay, fix.

Itu yang ada dalam pikiran aku selama ini.
Dan ternyata, aku salah.

Aku salah, karena ternyata beras yang diberikan untuk rakyat miskin ini sangat berbeda dengan beras yang aku konsumsi sehari-hari. Bukan beras berwarna putih yang ketika dimasak wanginya mengundang selera. Bukan beras yang  putih  bersih. Justru sebaliknya, raskin ini berasnya kotor, hancur dan banyak sekali ditemukan batu-batu kecil dan gabah di dalamnya. Jika di hitung, dalam 1 kg raskin itu, perbandingan antara beras dan gabahnya adalah 3:1.


Beras Raskin yang kotor

Perbandingan Raskin dengan beras biasa

Beras Raskin kotor dan banyak batu


Jika beras biasa cukup dicuci 2x untuk dimasak, jangan berpikir raskin ini bisa begitu. Kemarin sore aku mencoba sendiri, lebih dari 5x cuci, warna air cucian raskin ini masih saja keruh dan berwarna kekuningan. Kain pel dirumahku saja, setelah 3x cuci, air bilasannya bisa jernih lho. Tapi ini ? Ckckck .. Tidak ada cara lain dong ya, terpaksa deh raskin ini dicuci berkali-kali sampai air bilasannya tidak berwarna kekuningan lagi.

Tapi, yang kita tahu mencuci beras itu kan tidak boleh terlalu sering ? Karena vitamin B yang ada didalamnya bisa hilang, larut bersama air cucian. Lalu bagaimana dong ? Jika tidak dicuci berkali-kali, berasnya masih kotor, kalau dimasak berarti sama dengan memakan sampah. Trus, kalau berasnya dicuci berkali-kali, berasnya pasti bersih,  tetapi tinggal ampas, vitaminnya hilang. Simalakama banget kan ?

Eitss, jangan ditanya bagaimana aromanya ketika dimasak. Karena aromanya apek, persis seperti jemuran yang tidak kering selama berhari-hari. *Kalau sudah brgini bagaimana mau mencoba rasanya ?*

Sungguh sulit dibayangkan, bagaimana beras dengan kualitas buruk seperti itu akan masuk kedalam perut orang-orang miskin di Indonesia. Dimana letak gizinya lagi ?

Kalo beras yang diberikan untuk keluarga miskin adalah seperti ini, menurut aku pemerintah bukannya membantu keluarga miskin. Justru mendorong mereka untuk jatuh dan terpuruk ke lembah gizi buruk. Karena dengan penghasilan mereka yang jauh dari rata-rata, mereka tidak akan mampu untuk membeli lauk-pauk dengan nutrisi yang cukup. Lantas apa perlu ditambah lagi dengan beras yang tidak layak makan, begitu ?

Please deh, bapak-bapak dan ibu-ibu yang di 'atas' sana. Lihatlah ke bawah. Bagaimana kebijakan yang kalian jalankan. Apakah sudah dijalankan dengan semestinya ?

Pantaskah rakyat miskin yang memberikan suara bagi kalian untuk duduk nyaman di kursi empuk itu diberi makanan yang bentuk dan rasanya hampir sama dengan pakan ternak ?

Coba saja lihat gambar di bawah ini, mereka tampak mirip kan ? Kalau aku tidak membuat captionnya, bisa-bisa pembaca disini salah memilih yang mana beras dan yang mana pakan ternak. Ironis banget kan ?

Beras Raskin
Pollard (Pakan Ternak)
Di negara yang sumber daya alamnya melimpah ruah ini, bahkan pernah swasembada beras, tapi rakyat miskinnya disuguhi beras yang tidak layak konsumsi. Seolah-olah mereka - orang miskin - bukanlah manusia. Yang tidak punya hati dan tidak punya rasa. Padahal, kenyataannya ... mereka - orang miskin - juga manusia, kan ?




This entry was posted in