Sabtu, 29 Agustus 2015

Pengobat Duka Itu Bernama Doa

إِنَّا للهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ


Siang ini satu kabar duka muncul lewat notifikasi di akun sosmedku. Aku terhenyak kaget, seolah tak percaya wanita periang yang telah kuanggap sebagai ibu itu berpulang ke rahmatullah. Begitulah misteri ajal yang hanya di ketahui oleh Yang Maha Kuasa.

Berita duka ini kembali menjadi pembuka pintu kenangan pilu atas kepergian ibuku sekitar 6 tahun yang lalu. Waktu itu aku merasa langit diatasku runtuh, dan bumi yang kupijak terasa terbelah dua. Dan aku berdiri gamang diantaranya. Hatiku berteriak protes kepadaNYA, mengapa begitu cepat ? mengapa begitu cepat ? mengapa ??? Tapi tentu saja semua teriakan tersekat di tenggorokan, karena nyatanya lidahku kelu, tak mampu mengeluarkan suara sebatas kata ... "ibu".

Memandangi jasadnya yang terbaring kaku di tengah rumah terkadang menimbulkan percikan-percikan pikiran picik di pikiranku. Aku membenci mereka yang dulu pernah di tangisinya. Aku membenci mereka yang dulu membuatnya menangis. Aku merasa dunia tidak adil, hanya mampu menekan yang lemah, sementara yang kuat dan kokoh bisa tertawa dengan semena-mena diatasnya.

Tapi semua pikiran picik itu kembali luntur ketika sadar 'mereka-mereka' yang telah meretas air mata dipipi keriputnya itu adalah orang-orang yang dia sayang yang selalu dalam balutan kata 'keluarga' dalam benaknya.

"Sesedih dan sekecewa apa pun hatimu akan perlakuan mereka, namun jangan pernah sekalipun hatimu membenci. Karena sekali keluarga mereka akan tetap keluargamu seumur hidup" ~Lela Isnah, Maret 2009~

Itu adalah wejangan terakhir yang beliau sampaikan beberapa hari sebelum kepergiannya. Dia ibuku, adalah wanita yang hatinya seluas samudra, yang mampu menampung begitu banyak airmata untuk dirinya sendiri.

Dan hari ini, aku yakin seyakin-yakinnya, apa yang aku rasakan saat itu, juga dirasakan oleh anak-anak yang ditinggalkannya. Untuk beberapa waktu kedepan mereka akan kesulitan memejamkan mata dengan nyaman, karena masih belum terbiasa tanpa hadirnya senyum sang bunda yang selalu setia mengiringi mereka ketika tidur. Beberapa waktu kedepan mereka akan merasa canggung untuk makan, karena masakan yang mereka makan sekarang tak lagi dibuat oleh jari-jari penuh cinta yang selalu memeluk mereka dengan hangat. Dan untuk selamanya mereka akan selalu merindukan omelannya, tawanya, suaranya dan senyumannya.

Semua duka itu, semua lara itu akan selalu menggelayut di hati dan pikiran. Yang jika tidak dikuasai dengan iman akan menggerogoti hati dan pikiran menjadi penyakit yang tak tersembuhkan. Waktu itu aku hanya berserah diri padaNYA dan meyakini bahwa semua duka ini akan terobati oleh waktu dan doa yang tiada henti.

Selamat Jalan Tanteku
Semoga amal ibadahmu diterima disisiNYA dan keluarga yang ditinggalkan akan selalu diberi ketabahan yang luar biasa.
Aamiin.


0 komentar:

Posting Komentar


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal