Rabu, 01 Juli 2015

Legalitas LGBT Sebuah Pembenaran Yang Kebablasan

Tanggal 26 Juni 2015 lalu, Amerika Serikat menempatkan dirinya sebagai negara ke 21 yang melegalkan pernikahan sejenis. Setelah Belanda, Belgia, Spanyol dan belasan negara besar lainnya yang lebih dahulu melegalkannya.

Saya kaget ? Gak lah. Mengingat slogan mereka yang mengagungkan kebebasan HAM selama ini saya sama sekali tidak terkejut. Yang ada hanyalah miris. Saya merasa dunia ini semakin tua kok semakin ga bener. Hukum diotak-atik demi sebuah alasan yang dibuat-buat.

Yang lucunya, banyak yang pro dengan legalisasi LGBT ini. Mereka bilang atas nama HAM, semua orang berhak hidup dalam rasa cinta yang mereka punya. Meskipun cinta yang mereka bilang itu menyalahi kodratnya sebagai makhluk Tuhan.

Ada lagi yang berpendapat, legalitas LGBT itu ga ada hubungannya dengan cinta atau pun agama. Legalitas LGBT ini semata-mata adalah agar masyarakat LGBT tetap mendapatkan hak warga negara yang sama dengan masyarakat heteroseksual lainnya. Dalam hal ini tentu saja yang dimaksud adalah hak untuk menikah.

Saya paham, kebebasan HAM adalah landasan kuat mengapa hal ini terjadi. Mereka berpendapat atas nama HAM setiap manusia berhak menjalani hidup sesuai kata hati mereka. Tetapi HAM yang seperti apa dulu ?

HAM adalah Hak Azazi Manusia, hak dasar pada manusia, hak yang diberikan Tuhan kepada manusia. Sekarang mari renungkan sejenak. Tuhan telah membagi manusia kepada dua jenis kelamin, pria dan wanita dan otomatis juga menitipkan hak bersamaan dengan rohnya.

Apa hak wanita ? Menyukai dan disukai pria.
Apa hak pria ? Menyukai dan disukai wanita.

Itu adalah kodrat manusia yang telah digariskan oleh Tuhan.

Jika Tuhan melegalkan manusia mencintai sesama jenisnya, buat apa DIA menciptakan manusia itu berpasangan ? Dalam hal ini justru pelaku LGBT-lah pelanggar HAM yang sebenarnya. Jika mereka beralibi bahwa ketertarikan mereka kepada sesama jenis adalah berasal dari Tuhan, saya lebih suka menyebutnya bahwa rasa itu berasal dari setan yang menggelincirkan otak manusia untuk melakukan pembenaran.











3 komentar:

  1. Sesama jenis nikah...knp nggak sodaraan aja ya mbak? Pasti pada setuju:-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul tu mbaa... sodaraan kan lebih adem yaaa

      Hapus
  2. Saya cuma bisa tepuk jidat aja mbak melihat situasi zaman sekarang, mau berdebat tentang LGBT juga buang-buang energi, mereka toh juga kebanyakan sudah tidak percaya pada Yang Di Atas, berusaha mencari pembenaran dan pembelaan atas kondisi yang sebenarnya... Bukanlah genetik.

    Jadi ya berdoa saja ^^

    Salam kenal juga ya, sudah saya follow blognya, ditunggu folbeknya ^^

    BalasHapus


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal