Friday, July 10, 2015

Beberapa hari ini beranda sosmed saya rame sama curhatan teman yang anaknya dibully oleh temannya. Ironisnya, usia pelaku bully ini masih dibawah 10 tahun. Dan mirisnya lagi, ketika hal ini disampaikan kepada orangtua si pelaku bully, dia justru membela anaknya mati-matian, tanpa memperdulikan fakta yang didukung oleh banyak saksi. Orang tua pelaku bully tetap keukeuh anaknya tidak bersalah, karena anak itu tidak mengakui perbuatannya. Dan orang tua pelaku balik membully ibu dari anak yang di bully tadi. Terjadilah bully bertingkat, fuuiihhh... ribet.

Yang mencengangkan lagi adalah bahkan dalam beberapa tayangan di televisi aksi bullying ini justru dijadikan sebagai bahan candaan atau lawakan. Lihat saja ILK, Pesbuker, Dahsyat, D'Terong. Semua tontonannya sama, format lawakan yang serupa, saling membully dan mengejek. Dan 'aneh'nya para penonton di studio bisa tertawa terbahak-bahak menyaksikan itu semua.

Syukurlah, sekarang ini ada 'inovasi' baru dalam dunia hiburan tanah air. Dalam beberapa acara hiburan telah 'dibuat' peraturan tentang larangan membully. Jika bintang tamu atau host kedapatan membully, maka saat itu juga pelaku bully itu didenda dengan nominal tertentu. Saya pernah melihat hal ini di tayangan Ini Talkshow-nya Sule dan juga dalam acara Aksi di Indosiar.

Satu sisi, it's okay, lumayan ada kemajuan, sudah ada niat untuk tidak melakukan praktek bully lagi. Tapi, jika di telaah lagi lebih dalam, apa iya tujuannya begitu ? Atau justru 'denda' untuk pelaku bully ini justru adalah praktek bully 'terselubung' ?

Sebagai contoh, di acara Aksi Indosiar beberapa waktu yang lalu, ketika Ustadz Wijayanto keceplosan menyebut 'hidung', lalu secara spontan host acara bersorak 'dendaaaa', trus penonton bersorak 'huuuuuu'. Awalnya saya gak ngeh lho kalo kata 'hidung' yang di katakan Ustad Wijayanto itu ditujukan untuk seseorang. Tapi karena semua host bersorak, penonton pun bersorak saya jadi tau kata 'hidung' itu dialamatkan kepada Rina Nose. Nah.. ujung-ujungnya bully juga kan jadinya ?

Saran saya, jika memang stasiun TV memiliki niat untuk menghapus tindakan bully ini dalam semua tayangannya, lebih baik tuangkan saja dalam kontrak kerjasama mereka. Bereskan ?

Niat yang baik, jika dilakukan dengan cara yang tidak baik, hasilnya pasti tidak baik.

O.. iya .. panjang lebar ngomongin soal bully dari tadi, saja jadi lupa sebenarnya bully itu apa sih ?
Biar ga salah kaprah, berikut saya sadur dari sumbernya. Semoga dengan membaca ini kita jadi tau betapa bahayanya bully itu bagi korbannya.

Penindasan (bahasa Inggris: Bullying) adalah pengguna kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Perilaku ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik. Hal ini dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, mungkin atas dasar ras, agama, gender, seksualitas, atau kemampuan.
Tindakan penindasan terdiri atas empat jenis, yaitu secara emosional, fisik, verbal dan cyber. Budaya penindasan dapat berkembang dimana saja selagi terjadi interaksi antar manusia, dari mulai di sekolah, tempat kerja, rumah tangga, dan lingkungan.
Bentuk-bentuk penindasan (bullying) dapat dikategorikan menjadi dua (2) macam bentuk yaitu penindasan fisik dan penindasan psikologis.  
Penindasan fisik adalah tindakan penindasan dengan kontak secara fisik yang menimbulkan perasaan sakit fisik, luka, cedera, atau penderitaan fisik lainnya. Contohnya memukul, menampar, menendang orang lain, penyiksaan, pembantaian, atau sampai melakukan pembunuhan. Bully jenis ini sudah termasuk dalam bagian tindak kriminalitas dan melanggar hukum karena dapat menghilangkan nyawa seseorang.  
Penindasan psikologis adalah tindakan yang menimbulkan trauma psikologis, ketakutan, depresi, kecemasan, atau stres. Dampak bagi korban penindasan fisik dalam hasil studi yang dilakukan oleh National Youth Violence Prevention Resource Center Sanders (2003; dalam Anesty, 2009) menunjukan bahwa bullying dapat membuat remaja merasa cemas dan ketakutan, mempengaruhi konsentrasi belajar di sekolah dan menuntun mereka untuk menghindari sekolah. Bila bullying berlanjut dalam jangka waktu yang lama, dapat mempengaruhi self-esteem siswa, meningkatkan isolasi sosial, memunculkan perilaku menarik diri, menjadikan remaja rentan terhadap stress dan depresi, serta rasa tidak aman. Dalam kasus yang lebih ekstrim, bullying dapat mengakibatkan remaja berbuat nekat, bahkan bisa membunuh atau melakukan bunuh diri (commited suicide).


4 komentar

Nah, bener banget tuh Mak. Kadang sekali nyeletuk aja bisa jadi panjang akhirnya. Bikin acara jadi kurang fokus. Terlalu banyak bully dan bercanda. Berasa kurang manfaatnya :'(

REPLY

itu dia Mak.. yang awalnya semangat nonton jadi buyar deh.. habis ga terasa manfaatnya ya kan ?

REPLY

Kalo dulu bully ada pas zaman MOS. sekarang mungkin udah mulai berkurang ya, mak.

REPLY

Ya, Mak. Jadi inget masa2 MOS dulu dikerjain sampe demam.. hiks..hiks..

REPLY


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal

Meirida.my.id . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | for Meirida.my.id