Friday, May 22, 2015

Please, Thank You : Basa Basi Yang Terlupakan

Dulu waktu masih di Sekolah Dasar, saya pernah diajarkan mata pelajaran "Budi Pekerti". *ketahuan deh angkatan berapa.. hahahaha*

Di mata pelajaran ini diajarkan bagaimana cara berbicara yang sopan dengan teman seumuran, dengan orang yang lebih tua atau pun dengan orang yang lebih muda. "Kalau berbicara itu jangan tinggalkan 'alas'nya," kata Buk Guru saat itu. Alas yang dimaksud disini adalah penggalan kata dari sebutan orang tersebut seperti Pak, Bu, Dek atau pun nama yang bersangkutan. Hal ini bertujuan sebagai bentuk penghormatan kita kepada orang yang diajak bicara.

Contohnya :
"Terimakasih ya, Pak."
"Selamat siang, Kak."
"Tolong ambilkan buku itu donk, San."
dll.

Jadi kalau berbicara itu ga pake alas, selembut apa pun suara yang kita keluarkan akan tetap terasa kurang sopan di telinga yang mendengar.

Ajaran mata pelajaran Budi Pekerti ini sampai detik ini sangat membekas dalam ingatan saya, sehingga selalu saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Baik itu dalam berbicara atau pun ketika berkomunikasi via SMS. Dan tidak lupa saya juga terapkan dalam berbicara kepada anak dengan selalu berkata, "terimakasih ya, Nak", "anak pintar, tolong bunda rapikan mainannya, ya", dan lain sebagainya.

Image result for gambar terimakasih
Sumber

Selain 'alas' berbicara tadi, ada dua kata lagi yang tidak boleh dilupakan dalam berbicara dengan orang lain yaitu kata "tolong" dan "terimakasih". Karena lidah dan telinga saya terbiasa dengan 'basa-basi' yang seperti itu, terkadang saya sering merasa sedikit 'risih' ketika lawan berbicara atau pun lawan ber-SMS lupa menerapkannya.

Bukannya lebay, tapi akhir-akhir ini saya merasa ucapan "please, thank you" itu seolah-olah hanya sebatas basa-basi sehingga sering terlupakan. Dua kata ini mungkin dianggap remeh oleh sebagian orang, namun percayakah anda jika pengabaian etika ini dalam berbicara bisa menyebabkan seseorang kehilangan nyawanya. Ekstrim banget ya ? Memang. Sangat ekstrim. Tapi itu adalah fakta, betapa dua kata tadi sangat ampuh dalam meluluhkan emosi orang lain. Kok bisa ya ? Mari kita coba sama-sama.

1. "San, ambilkan saya minum."
2. "San, tolong ambilkan saya minum."

Gimana ? Terasa ga bedanya ? Terasa banget kan ? Kalimat pertama yang tanpa kata "tolong" itu terdengar seperti memerintah. Tersirat keegoisan dari yang berbicara, dan juga pengabaian kepada orang yang diajak bicara. Berbeda dengan kalimat kedua, disini orang yang diajak bicara merasa 'tersanjung' karena merasa dihargai dan dibutuhkan.

Begitu juga pada kata "terimakasih". Mari kita coba lagi, sama-sama ya.

1. A : "Rp.... sudah termasuk ongkir. Transfer ke ..... Setelah transfer harap konfirmasi"
    B : "Saya sudah transfer Pak, barusan via BCA"
    A : "Akan di cek"

2. A : "Rp..... sudah termasuk ongkir. Transfer ke ....... Setelah transfer harap konfirmasi, terimakasih."
    B : "Saya sudah transfer Pak, barusan via BCA"
    A : "Baik Pak, saya akan periksa, mohon tunggu informasi selanjutnya. Terimakasih"
  
Hmm.. gimana teman-teman ? Berbeda jauh kan ? Banget.. bangetlaaahh..hehe

Oh ya, dialog pertama itu adalah kisah nyata yang baru-baru ini saya alami ketika bertransaksi online. Bagi yang biasa bertransaksi online, pasti seringlah ya menerima SMS sehubungan dengan transaksi yang kita lakukan. Mulai dari SMS notifikasi order, informasi rekening atau pun informasi pengiriman.

Mungkin sayanya yang terlalu sensitif ya, tapi menurut saya bahasa seperti itu rasanya kurang pantas digunakan kepada seseorang yang menjadi customer kita. Apalagi didalam bisnis, dimana keramahan adalah  modal utama agar konsumen itu setia dan loyal kepada si penyedia jasa. Tentu kita tidak mau kan kalau di cap 'jutek' atau 'judes' sama pelanggan ? Jangan sampai deh, bisa-bisa semua pelanggan kabur dan berpaling ke lain hati. Hiks..

Well, mengingat kita adalah orang 'timur' yang menjunjung tinggi adat dan kesopanan, yuk.. mari kita biasakan lidah dan telinga kita agar selalu berkomunikasi dengan ramah dan sopan. Mari kita jadikan budaya ini sebagai gaya hidup yang akan kita wariskan kepada anak-anak penerus bangsa ini kelak.

Would you do it, please ?
Yes, I would, thank you :)

Image result for gambar terimakasih
Sumber





3 comments:

  1. Artikel ini memberikan wawasan terbaru buat saya, wacana pembahasan ini sangat bermanfaat.

    ReplyDelete
  2. Saya juga pernah mba belajar budi pekerti pas SD

    ReplyDelete
  3. tapi bener kok mbak, kadang saya juga kalau belanja online balesnya itu kayak iriiiittts banget kata2nya...jadi berasa gimana gitu ahhaha...

    ReplyDelete


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal