Friday, May 1, 2015

Kau adalah Aku

Image result for kesunyian
Sumber
Pernahkah kau merasa kesepian di tengah keramaian. Hanya sunyi yang mendekap di sela-sela riuhnya gelak tawa. Kehadiranmu tidak di anggap, nyaris seperti sosok astral yang memang tak kasat mata.

Kau bicara tapi tiada yang mendengar. Hanya deru angin yang sayup-sayup balas berbisik. Mereka serentak diam tanpa ekspresi yang berarti, bahkan disaat perutmu kejang menahan tawa. Mimik mukamu tak ubah bagai aksi pantomim yang sudah basi.

Mereka menatap iba ketika kau lara, sedih, dan bersimbah air mata. Satu-dua menepuk bahumu, selebihnya berlalu dengan gosip hangat yang baru saja mereka dengar. Kau bukan bagian dari mereka.

Duniamu seketika runtuh tak bersisa, meninggalkan puing-puing yang berserakan di setiap sudut. Bayang-bayang senda gurau mereka seperti ngaungan lebah yang bergerombol berputar di atas kepala, membuat pusing, lalu kau memilih pergi, menjauh dengan segenggam luka yang mulai membusuk.

Image result for kesunyian
Sumber
Bahagiamu bahagiaku juga, sedihmu deritaku juga. Barisan kata-kata itu menjadi puzzle yang begitu rumit untuk kau susun, bahkan di dalam mimpi sekalipun. Kau pun lupa, kapan terakhir kali tertawa bersama dan menangis bersama dengan mereka. Atau memang tidak pernah ? Entahlah..


Suatu waktu kau sedang bahagia luar biasa, melonjak kegirangan, ingin berteriak dengan keras mengabarkan kepada seluruh dunia. Berharap akan banyak gigi-gigi putih yang berbaris rapi di balik senyum terindah mereka. Berharap akan ada pancaran neon 100 watt dari bola mata mereka. Menatap haru, menggenggam tangan-tanganmu, lalu melarikanmu kedalam pelukan hangat mereka, sambil berkata "kami bangga padamu".

Tapi teriakanmu tenggelam di balik sekat-sekat yang kedap suara. Gerakan bibirmu menyerupai mulut mujair yang kehabisan nafas. Megap-megap di kaca akuarium. Semua menjadi percuma, mereka tidak bisa mendengar. Atau memang tidak mau mendengar ? Entahlah. Suaramu habis, tubuh mu lunglai. Hanya bisa berbisik parau, lalu mengulum dalam dan menelan bahagia itu, menenggelamkannya ke dasar perut, lalu menghempaskannya bersama kotoran pagi. Bahagiamu bukan yang di harapkan. Masih kalah penting dengan jambul khatulistiwanya Syahrini, yang kata mereka sungguh kece badai. Betulkah ?

Oh ya di hari ulang tahunmu, berapa banyak yang mendoakan kebahagiaanmu ? Satu, dua, atau tiga ? Atau tidak ada sama sekali ? Entahlah.. Hanya hitungan jari yang menaruh namamu di sela-sela doa mereka. Kau harus puas, kau cukup dilupakan.

Oh ya.. kau adalah AKU.

Yang sedang berusaha keras menyusun puing-puing hati yang berserak tadi. Kelak, semoga waktu bisa menemukan perekat yang cocok untuk menyatukan sisi-sisinya yang tajam. Aamiin.


This entry was posted in

2 comments:

  1. aamiin..
    kata2nya bagus mbak hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih mbakkk.. masih belajar nih.. hihi

      Delete


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal