Tuesday, May 19, 2015

Tentang Mereka yang [masih] Merindukan Cahaya

Di hari Minggu yang cerah, di sebuah perumahan yang padat penduduk orang-orangnya memilih untuk bersantai, menikmati hari libur mereka dengan menonton tivi, memasak kue dan lain-lain. Sedang seru-serunya dengan aktifitas mereka, tiba-tiba, tttrraaappp..tap..tap.. listrik padam. Ada yang mengumpat kasar, ada yang membanting remote, ada yang mengomel panjang lebar. Intinya mereka kecewa karena listrik padam, sehingga aktifitas mereka terganggu.

Menunggu lima belas menit, tiga puluh menit, hingga satu jam berlalu, listrik tidak juga menyala. Keluhan mulai meningkat, ada yang bilang gerah, ada yang bilang bosan, bahkan yang ektrim mulai memaki PLN dengan bahasa yang tidak pantas. Seakan-akan dunia mereka berakhir tanpa listrik. Hmm.. satu jam tanpa listrik ternyata telah bisa membuat manusia menampakkan wujud lainnya ya, hehehe.

Itu adalah gambaran kita yang ada di lingkungan yang telah dimanja dengan semua fasilitas yang terkoneksi listrik. Mereka yang mengumpat tadi termasuk saya, mungkin juga kamu. Ya, saya rasa kita semua pernah mengeluhkan hal yang sama ketika mengalami pemadaman listrik.
Image result for kota duri kabupaten bengkalis
Sumber

Sekarang, aku akan membawa kamu ke sebuah desa yang berjarak kurang lebih 10 km dari kantor PLN di kota Duri, Kabupaten Bengkalis. Oh ya, bagi kamuyang belum familiar dengan kota ini, sedikit aku beri gambarannya.

Image result for ladang minyak duri riau
Sumber
Kota Duri, adalah ibukota dari Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis. Sebuah kota yang bisa saya golongkan sebagai kota terkaya di Propinsi Riau. Mengapa begitu ? Karena di kota inilah PT. Chevron Pacific Indonesia memanen sedikitnya 2 millyar barrel minyak mentah tiap harinya. Aku ulangi lagi ya, 2 milyar barrel minyak mentah per hari. Wow.. bukan jumlah yang sedikit kan ? Tentu saja bukan, buktinya bisa di saksikan sendiri jika kamu mengunjungi kota ini, dimana-mana kamu akan melihat jejeran pipa warna-warni yang sambung menyambung di sepanjang ruas jalan di kota ini. ada yang berwarna biru, hitam, kuning. Untungnya ga ada yang merah dan hijau ya, kalo ga udah pasti nyaingin pelangi tuh, haha.

Gimana, udah dapat gambaran belum tentang kota ini ?

Oke, sekarang kembali ke desa yang aku sebutkan tadi. Berjarak kurang lebih 10 km dari kantor PLN, dan kurang lebih 5 km dari PLTU-nya PT.Chevron, desa Sidodadi berada dengan jumlah penduduk lebih dari 250 KK.

Jalan utama menuju desa ini bisa di capai dengan dua cara, yaitu pertama jalan swadaya masyarakat yang berupa tanjakan dan turunan terjal melewati jejeran kebun karet yang sepi, atau jalan proyek yang dimiliki oleh PT. Chevron. Apapun pilihan yang akan diambil, yang pasti kedua jalan ini berada di atas tanah liat berpasir yang sangat keras ketika panas, namun lembek seperti bubur ketika hujan.



Jangan ditanya soal fasilitas listrik apa lagi PAM. Karena jawabannya sudah pasti TIDAK ADA.

Trus gimana caranya mereka masak, nyuci, nonton tivi ?
Urusan perut a.k.a memasak mereka mengandalkan kompor seutuhnya. Dari penelusuran di beberapa rumah warga tidak ada satupun dari mereka yang menggunakan rice cooker. Bahkan ada yang menggunakan tungku kayu. Kayu bakar memang masih cukup mudah mereka dapat.

Masyarakat di desa ini yang 99%-nya adalah petani sawit telah cukup pasrah dengan keadaan mereka, dan memilih untuk tidak banyak mengeluh, namun berupaya memenuhi kebutuhan energi mereka secara swadaya yaitu dengan membeli mesin generator listrik alias Genset. Nah, dengan mesin 'ajaib' inilah mereka bisa menyalakan tivi dan mesin cuci.

Tapi, harga BBM yang semakin tinggi membuat masyarakat disini semakin sulit. Mesin genset yang biasanya menyala dari pukul 5 sore hingga pukul 10 malam, berubah menjadi pukul 6 sore hingga 9 malam. Dengan demikian mereka bisa berhemat menggunakan BBM, dengan resiko mereka harus menahan diri untuk tidak menikmati hembusan kipas lebih lama.

Ok, itu malam hari. Trus siangnya gimana ?

Ya, ga nyalain listrik.
Jadi kalo suatu saat kamu mampir di desa ini, tiba-tiba teringat sama K-Drama favorite yang tayang pukul 11 siang, hmmm... harus ekstra sabar deh, karena disiang hari genset mereka matikan.

Pernah ga ngajuin proposal ke instansi terkait ?

Pernah, udah beberapa kali malah. Tapi tetap, noooo result. Bahkan salah satu anggota DPRD yang waktu pemilu lalu meraih suara terbanyak di desa ini pun pernah menjanjikan akan memasukkan listrik jika menang. Tapi, yah, itu tadi, sepertinya setelah duduk dikursi empuk dia lupa sama janji-janjinya.

Terakhir aku dengar dari aparat desa, mereka dijanjikan bahwa listrik akan masuk sekitar bulan Juni 2015. Eeetapiii, sampai hari ini ga ada tuh tanda-tandanya. Bahkan tiangnya pun ga nampak.

Mau marah ga bisa, mau ngeluh juga ga ada guna. Dalam kerinduan yang besar terhadap 'cahaya' itu mereka hanya bisa sabar.

Semoga tidak lama lagi, kesabaran mereka berbuah manis. Bantu doakan mereka, ya, gaiiss :)










2 comments:

  1. Aaaah, benerrrr nih Mak. Benerrrrr
    Terkadang manusia modern seperti dirikuh gampiiil banget mengeluh.

    Hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. naahh itu dia mak, sama lah kita tu, sukanya ngeluh, padahal banyak sodara kita yang gak lebih beruntung dari kita tetep bisa menjalani hidup mereka seperti biasa :)

      Delete


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal