Rabu, 15 April 2015

[Cerpen] Prasangka

"Hil.. sini bentar.. tolong bantu ibu." ibu berteriak memanggil ku dari dapur.

"Ck.. apa an sih Bu ? lagi tanggung nih" jawab ku sambil berdecak kesal tanpa mengalihkan pandangan dari layar tivi. Sepertinya ibu tidak terlalu membutuhkan bantuanku, karena setelah beberapa saat tidak terdengar tanggapannya atas jawabanku barusan.

"Hilda !!! Kamu dengar ga ibu panggil barusan ?" ternyata ibu telah berada di belakangku, berkacak pinggang dengan wajah merah menahan amarah. Aku pun bangkit dari duduk, dan berjalan kearahnya dengan langkah gontai, sementara pandangan ku masih tidak lepas dari layar tivi.

"Kalau ibu panggil, kamu itu harus datang nak, jangan tunggu ibu marah dulu baru kamu bergerak, kapan lah dewasanya kamu itu, kalau saban hari di marahin terus.. bla..bla..bla", ibu mengomel panjang lebar dengan langkah tergesa menuju dapur. Aku mengekorinya dengan enggan, kedua tangan menutupi telinga. Huft.. ini nih yang aku paling ga suka, mendengar omelan ibu yang gak ada titik koma itu.

"Nih.. tolong kamu antar pesanan Tante Lilis yang di Jl. Perjuangan, sekalian kasih kembalian uangnya, tempo hari waktu bayar pesanan uangnya ada lebih empat puluh ribu, karena ga ada kembalian dia bilang waktu antar barangnya aja sekalian bawa", satu kantong plastik besar kue kering pesanan Tante Lilis berpindah ke tanganku .

"Balik dari sana jangan keluyuran, langsung pulang ya, ini untuk ongkos kamu pulang. Ntar perginya kamu nebeng Agus saja, kebetulan dia ada kerja ke arah sana", aku manggut-manggut saja menerima selembar uang sepuluh ribu dari Ibu. Dengan hati yang masih mendongkol, aku masuk kamar untuk berganti pakaian. Setelah itu aku segera menuju motor Bang Agus yang telah menunggu di halaman rumah.

"Hati-hati di jalan !" teriak ibu dari pintu. Aku jawab dengan lambaian tangan, karena malas membuka mulut untuk balas berteriak.

Kurang lebih dua puluh menit perjalanan, melewati dua tanjakan yang cukup terjal, aku sampai di depan sebuah rumah besar berpagar kuning. Aku menekan bel yang terpasang di tembok pagar, tidak berapa lama kemudian seorang wanita paruh baya keluar membukakan pagar.

"Kamu rupanya Hil, udah selesai pesanan tante rupanya" senyumnya melebar melihat tentengan yang berada di tanganku.

"Udah Tan, sesuai pesanan tante, semuanya ada 20 toples, oh ya ini kembalian yang tempo hari" ujarku dengan senyum yang di paksakan.

"Oh ya, untung kamu ingat, hampir saja tante lupa, terimakasih ya"

"Sama-sama tan, kalau begitu saya permisi dulu"

"Ya..ya.. hati-hati di jalan, sampaikan terimakasih tante sama ibu kamu ya"

"Baik Tan", aku pun berlalu menuju halte yang berada tidak jauh dari depan gang. Menunggu beberapa menit, bus kota yang ku tunggu pun tiba. Aku bersyukur karena bus tidak terlalu penuh, masih ada satu bangku kosong tersisa di samping seorang wanita tua yang tertidur. Aku pun segera duduk di sampingnya.

Sumber
Aroma kurang sedap merebak beberapa saat setelah bus berjalan. Aku mendengus kasar mengumpat dalam hati, melirik wanita tua disampingku. Melihat dari pakaian yang dikenakannya, aku yakin, pakaian itu telah melekat ditubuhnya lebih dari tiga hari. Kalau saja rumahku tidak jauh, ingin rasanya aku berdiri saja, karena tidak tahan dengan bau tubuhnya. Tapi aku urungkan niat, dan memutuskan untuk tetap duduk dan menutupi hidung dengan tangan.


Angin sepoi-sepoi yang berhembus dari jendela ditambah dengan cuaca mendung yang mendukung lamat-lamat membuat mataku mengantuk. Untuk beberapa saat aku pun tertidur.

Sebuah lobang besar di jalan membuat bus terguncang, dan langsung membangunkanku. Dengan kepala masih setengah pusing aku melirik ke luar jendela, aku melihat ada sebuah toserba mini, itu tandanya tidak berapa lama lagi aku sampai di halte dekat rumah. Aku pun bersiap untuk turun, ku rogoh kantong celana bermaksud mengambil ongkos. Astaga.. mana uang itu ?

Dengan panik aku merogoh semua saku yang ada, tapi uang itu tidak juga di temukan. Dalam keadaan panik itu aku melirik ke wanita tua disampingku yang masih tertidur pulas. Di pangkuannya sebuah tas lusuh separo resletingnya terbuka. Sebuah prasangka terbersit di benakku. jangan-jangan ketika aku tertidur tadi, wanita tua ini .. Karena penasaran, aku mencoba mengintip ke dalam tas yang terbuka itu, tapi karena kurang terang mataku tidak dapat melihat apa-apa. Pelan-pelan ku ulurkan tangan, menyelip di antara resleting yang terbuka, ujung jariku merasakan sesuatu seperti selembar kertas. Dengan hati berdebar, kujepit kertas itu dengan kedua jari, dan perlahan ku tarik keluar. Selembar uang sepuluh ribu berlipat kudapati di sana. "Ck..ck..ck.. rupanya kamu pelakunya, dasar ..." aku memandangi wanita tua yang masih tidur itu dengan perasaan kesal, nyaris saja aku menegurnya dengan keras. Tapi bus telah berhenti di halte tujuanku, sebelum keduluan di omelin supir aku bergegas turun.
Image result for gambar uang sepuluh ribu
Sumber

Sesampai di rumah, aku segera mencari ibu. Tidak sabar ingin menceritakan peristiwa yang baru saja aku alami. Ku percepat langkahku menuju kamar.

"Bu.. ibu.. ibu pasti ga akan percaya dengan yang barusan aku alamin.. tadi di bbbuu.." ucapanku menggantung, aku terpaku di lantai, mataku terbelalak melihat selembar uang sepuluh ribu yang tergeletak di atas kasur.



4 komentar:

  1. Hati2 dengan prasangka... slalulah munculkan 70 prasangka baik sebelum berprasangka buruk....hehehhe ... byk hikmah yg bs dipetik ya maak.... tfs :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya mak.. satu prasangka buruk bisa mendatangkan ribuan mudarat kan maak.. tfc :)

      Hapus
  2. Akhhh,, aku jadi emosi sama tokohnya,, bisa dijadikan pelajaran juga,, bagus..

    BalasHapus


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal