Senin, 16 Maret 2015

Katakanlah, Aku harus bagaimana ?

Beberapa kali membaca kasus hukum yang melibatkan rakyat-rakyat kecil di timeline jejaring sosial, lama-lama membuat aku muak juga. Aku sungguh sangat jenuh dengan kesenjangan hukum yang dialami oleh mereka. Siapakah yang tidak teriris hatinya melihat nenek-nenek bersimpuh di lantai, memohon kepada hakim agar diberi ampunan dan keringanan hukuman.

Katakanlah, aku harus bagaimana ?
Ketika melihat pemandangan tersebut didepan mata, yang terbayang adalah sosok ibu yang melahirkan aku. Terbayang sosok nenek yang menyayangiku. Hatiku miris melihat tubuh  renta itu harus duduk di kursi pesakitan dengan label tersangka. Hati nurani ku berteriak keras.. Tidakkk !! aku tak sanggup melihat pemandangan ini. Hati ku pilu menyaksikan air mata yang membasahi pipi keriputnya, yang kemudian dia seka dengan jari-jari keriput yang gemetar. Tapi apalah daya, toga yang kupakai memaksa aku membacakan satu demi satu pasal yang disajikan oleh rekan sejawat. Jangan ditanya, air mataku lebih dahulu jatuh dihatiku.

Katakanlah, aku harus bagaimana ?
Ketika menerima laporan pencurian dari masyarakat, dengan seragam yang kukenakan, aku wajib menerima laporan tersebut lantas memproses penyelidikannya atas nama keadilan. Hanya berita acara pemeriksaan satu-satunya berkas yang aku berikan kepada rekan penegak keadilan lainnya. Sebuah berkas yang berisi kronologi kejadian yang kuhimpun dari sebuah hasil interogasi.

Katakanlah, aku harus bagaimana ?
Ketika hasil penyelidikan tim kami ternyata mengarah kepada tersangka yang ternyata adalah sosok renta yang tak berdaya. Dengan sumpah yang telah kami ucapkan, bolehkah kami mengabaikan satu tersangka hanya karena label 'nenek'nya ? Kami manusia biasa yang juga punya hati nurani, yang pasti juga tak tega melihat raga tua itu terseok-seok melewati berbagai proses penyelidikan. Percayalah kami masih punya hati.
Tuhan itu Maha Benar, keMahaannya adalah satu-satunya kuasa yang mampu membalikkan isi dunia ini.

Katakanlah, aku harus bagaimana ?
Aku seorang anak dari beliau yang kalian seret dengan status tersangka, aku sama tak berdayanya dengan beliau. Yang aku tau selama ini ibu kami membesarkan kami dengan cara yang halal dari sisa-sisa peninggalan almarhum bapak. Dari kami lahir hingga kami dewasa, dengan semua sayatan pisau diujung jarinya ibu memberi makan kami. Kami percaya dari hati kecil kami, ibu kami tidak bersalah. Hanya mata angin keraguan yang mengarahkan langkah kaki mereka menuju gubuk kami, lalu menemukan tumpukan harta yang kami petik dari kebun kami. Apakah bisa mencap satu pohon yang bentuknya serupa sebagai pohon dengan pemilik yang sama ? Aku rasa tidak. Ada kalanya angin menerbangkan bibitnya dari kebun mereka, lalu tumbuh di tanah kami. Lantas apakah pohon yang tumbuh dari bibit itu adalah milik mereka ? Apakah menebang pohon itu sebuah pencurian ?

Katakanlah, aku harus bagaimana ?
Menyaksikan drama pengadilan yang mengiris hati ini, membuat mulutku berbusa dengan ribuan sumpah serapah. Aku tidak tahan melihat tangis pilunya. Aku tidak sanggup membayangkan tubuh lemah itu harus meringkuk dibalik jeruji. Katakanlah, aku harus bagaimana ? Tak bisakah mereka yang berkepentingan berdamai dengan semua tuduhan itu ? Tak bisakah hukum memberi sedikit 'ruang' untuk kasus-kasus seperti ini ?

Tolong beri aku sedikit jawaban, katakanlah.. aku harus bagaimana ?


0 komentar:

Posting Komentar


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal