Saturday, March 14, 2015

Itam dan Insiden Mata Pancing

Menyambung cerita aku tentang 'the puppies' tempo hari, sampai detik ini ada satu kejadian memorable banget tentang si puppy yang satu ini. Yak.. kali ini aku mau cerita tentang kejadian lucu sekaligus mengharukan juga tentang si Itam dan Mata Pancing.

Oke, sebelumnya aku mau flashback dulu tentang my hubby yang hobinya memancing. Aku pernah tulis tentang hal itu di postingan yang ini. Nah sehubungan dengan hobinya itu, sudah pasti donk hubby ku punya stock mata pancing dirumah. Jadi sore hari sebelum insiden terjadi, suamiku pergi memancing ke kolam pancing yang tidak jauh dari rumah. Sepulang memancing, tidak seperti biasanya, suamiku menaruh jorannya di belakang rumah berdekatan sama kandang si puppies. Di joran itu masih terpasang mata pancing bekas memancing sore itu. Padahal biasanya sepulang memancing beliau selalu membersihkan jorannya, membuka mata pancing lalu menggantung jorannya di rak dapur.

Keesokan paginya, seperti biasa aku bangun lebih awal dari yang lain karena harus memasak dan menyiapkan bekal untuk suami dan anak. Hari masih agak gelap, karena jam masih menunjukkan pukul enam pagi. Jadi sembari memasak, aku sambilkan dengan mencuci piring. Mendengar ada suara orang didapur, sepertinya Itam dan Mopi terbangun dan mulai ribut dikandangnya. Ini memang biasa, karena sudah kami biasakan setiap pagi mengeluarkan mereka dari kandangnya, agar bisa PUP di luar kandang, jadi kandangnya tetap bersih dan tidak bau. Mendengar mereka mulai ribut minta keluar aku pun segera membuka pintu kandang mereka, dan membiarkan mereka bermain-main di halaman belakang.

Tumpukan piring kotor telah selesai aku bersihkan semua, dan aku mulai menyiapkan bekal dengan memasukkan beberapa potong roti ke kotak bekal Aira. Dalam suasana yang sangat tenang, karena penghuni rumah masih terlelap, tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara teriakan yang sangat nyaring dari halaman belakang. Dari teriakannya jelas sekali yang empunya suara tengah kesakitan yang luar biasa, karena tidak pernah dia melolong sekeras itu. Aku kaget dan segera menghambur ke halaman mencari sumber suara, dan disana aku disambut oleh Mopi yang baru saja keluar dari kandangnya. Sepertinya dia juga kaget dengan suara teriakan kesakitan itu. Berarti positif sudah suara itu berasal dari Itam. Kemudian aku pun mencari keberadaan Itam dengan memanggil-manggil namanya beberapa kali.

Sepertinya Itam sadar kalau aku sedang memanggil-manggil namanya, dia balik merespon dengan teriakan yang semakin keras. Aku berbalik mencari sumber suara yang terdengar ada dibelakangku. Dari posisiku berdiri tidak tampak tanda-tanda keberadaan Itam, cuma dibalik terpal yang menutupi keranjang sawit aku melihat ada yang bergerak-gerak mencurigakan. Aku berniat menghampirinya, tapi suamiku yang terbangun mendengar kehebohan itu melarang. Katanya hati-hati, jangan langsung dibuka terpalnya, karena bisa saja ada ular didalamnya. Mendengar perkataan suami, terang saja akupun bergidik ngeri. Dengan bantuan sebilah kayu, suamiku membuka terpal itu dan di bawahnya kami dapati Itam yang sedang kesakitan dengan benang nilon dimulutnya.

Sontak kami kaget melihat itu, prasangka buruk pun membayangi kami. Aduh.. bagaimana kalau mata pancing itu tertelan dan telah sampai diperutnya ? Aduuhh.. bagaimana kalau mata pancing itu menyangkut ditenggorokannya ? Semua kekhawatiran itu merayap di ruang benakku. Perlahan-lahan aku dan suami menghampiri Itam yang sedang meringkuk kesakitan. Agar dia tidak terkejut, sebelum mengangkat badannya kami membelai-belainya terlebih dahulu, supaya sedikit banyak bisa mengurangi rasa shocknya.

Pelan-pelan suamiku mencoba membuka mulut Itam, dan syukurlah ternyata mata pancing itu hanya menyangkut di mulutnya saja, tidak sampai ke kedalaman perutnya. Namun meskipun hanya menyangkut di bibirnya saja, untuk melepaskan mata pancing itu tidaklah semudah kelihatannya. Seperti yang diketahui bersama, pada mata pancing itu ada semacam kait yang jika seseorang atau sesuatu tertusuk maka ketika melepaskannya tak ayal kait itu akan robek lebih lebar. Bisa dibayangkan bukan jika bibir tertusuk mata pancing, jika mata pancing langsung ditarik sudah bisa dipastikan lukanya akan semakin besar.

Tidak ada cara lain, suamiku langsung mencari tang untuk memotong pangkal mata pancing. Hanya itu cara satu-satunya agar bisa melepaskan mata pancing dari mulut Itam tanpa membuat lukanya semakin lebar. Tak! Mata pancing itupun terpotong, dengan menarik mundur kepangkal akhirnya kami bisa membebaskan Itam dari jeratan mata pancing itu.

Wahh.. kami semua lega karena Itam kembali lincah seperti biasa. Sepertinya rasa sakit yang luar biasa tadi tidak lagi dirasakannya. Tapi kasihan suamiku, akibat insiden itu dia ditegur habis-habisan sama Mama dan Papa.

Sabar ya Yah, ini pelajaran berharga untuk kita semua. Jangan pernah lalai dengan barang-barang berbahaya karena Kelalaian kita bisa mencelakai orang lain.






This entry was posted in

3 comments:

  1. itaaammmm kasiaannnn T_____T

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Iya mba.. kasian bertubi-tubi.. hiks..

    ReplyDelete


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal