Selasa, 10 Maret 2015

[Cerpen] The Android

Agung dengan canggung melangkahkan kakinya memasuki ruangan administrasi, ruangan yang biasanya sepi ibarat kuburan, namun mendadak ramai tak ubahnya pasar kaget. Berkerja sebagai OB diruangan ini telah dilakoni Agung selama tiga tahun, karena itu sedikit banyak Agung memahami karakter masing-masing karyawan diruangan itu. Misalnya Amoy yang menjabat sebagai Supervisor Admin, dia terkenal cerewet dan jutek. Paling suka kerapihan dan paling gak tahan sama karyawan yang ngerumpi di jam kerja. Tapi dibalik sikap juteknya itu sebenarnya dia sosok yang hangat dan juga pengertian, hal ini bisa dirasakan Agung karena dari sekian banyak karyawan hanya Amoy yang suka berbagi bekal makan siangnya dengannya. Trus ada Sasa, menjabat sebagai Kasir. Orangnya pendiam dan lembut. Tapi jangan coba-coba tidak menyerahkan bon belanja ataupun kwitansi pembelian lainnya dengan alasan lupa atau tidak ada bon, dia akan berubah menjadi srigala yang menakutkan dengan gigi-gigi tajamnya. Hiiyyy.. Ada Aura yang modis, Mita yang tukang ngemil, dan Ipeh yang Kepala Accounting. Sama karyawan yang satu ini Agung tidak begitu dekat, karena sikapnya yang dingin dan sedikit menjaga jarak dari bawahannya membuat Agung segan untuk berbicara dengannya.

Agung penasaran dengan kerumunan karyawan di meja Aura. Ada apa sih kok rame-rame gitu ? tanya Agung dalam hati. Karena penasaran Agung mencoba mencari tahu dengan menjinjitkan kaki mengintip disela-sela bahu mereka yang berkerumun.

"Sumpah loe Ra .. masa harganya cuma 500 ribu ? asli ga tuh ?" Sasa bertanya dengan nada tidak percaya
"Yee loe ga percaya, suerr gue ga bohong, HP ini gue beli cuman 500 ribu-an, kalo soal asli atau ga nya gue sih ga tau pasti, yg jelas pas gue nyalain ni HP nampilin merk di layarnya sama dengan merk yang di casingnya" jawab Aura dengan tak kalah yakin.
"Jangan-jangan itu HP bodong lagi Ra" celetuk Mita tiba-tiba dan di iyakan oleh yang lainnya.Dia berbicara dengan mulut penuh oleh gorengan yang dia beli di kantin belakang.
"Auk ah.. ga peduli gue.. mau itu HP bodong-bodeng-budung gue ga mikirin, yang jelas ni HP sesuai sama selera gue trus harganya juga cocok sama dompet gue. Titik" tandas Aura tanpa mempedulikan omongan mereka lagi. Kerumunan itu pun bubar dengan sendirinya.

Agung yang masih bingung berdiri bengong di depan meja Aura, dia satu-satunya orang yang masih berdiri disitu, sementara yang lainnya telah kembali ke meja masing-masing, dan Aura memperhatikannya

"Napa Guunnnggg.. kok bengong.. loe naksir sama HP baru gue ya ?" tegur Aura menggoda. Agung yang sedang bengong tersadar lalu menjadi salah tingkah.
"Ah ?! Oh.. ngga Mbak.. cuma penasaran aja.. HPnya cantik ya Mbak"
"Tuh kaaan.. gue kata apa.. sama selera loe sama gue Gung, merekanya aja pada sirik ga ngerti barang bagus" sindir Aura sambil melirik teman-temannya yang lain. Agung hanya ngangguk mesem-mesem tidak mengerti.
"Kalo saya boleh tau Mbak Aura beli dimana HPnya, kalo harganya terjangkau saya juga minat Mbak", Agung bertanya penuh harap. Memang sudah lama ia menginginkan HP android yang canggih itu, dia terkadang suka iri melihat orang-orang yang memiliki HP android bisa puas internetan, facebook-an dan juga BBM-an dengan HP mereka, sementara HP yang Agung miliki sekarang cuma bisa telpon dan sms doang. Ketika mendengar Aura bisa membeli HP Android bermerk dengan harga miring begitu ia pun tergiur.
"Ooh.. loe mau juga Gung, ya udah loe pergi aja ke toko Shenmi Celular yang ada di Komplek Gaung Cemara, kalo ga salah gue di Blok C No. 12  paling pojok tokonya. Biar loe ga lupa nih gue catetin alamatnya. Kali-kali aja masih ada karena dia buka obralnya udah tiga hari, jadi kurang yakin juga gue barangnya masih ada ato gak." jawab Aura sambil menuliskan alamat toko itu disecarik kertas kemudian memberikannya kepada Agung. Agung menerima catatan alamat itu dengan hati senang. Tak sabar dia menunggu jam pulang kerja, agar segera bisa mampir ke toko itu.



Gambar : meirida.blogspot.com
Sorenya sepulang kerja, Agung pergi ke toko yang disebutkan Aura tadi pagi. Dia telah sampai di komplek pertokoan Gaung Cemara dan matanya pun telah nanar menatapi satu-persatu papan nama toko yang berada di pojokan blok C, mencari No.12 yang disebutkan Aura, tapi dia tidak berhasil menemukannya. Nama toko ponsel Shenmi Celular itupun tidak ada Agung temukan. Peluh tampak meleleh di dahi Agung, tenggorokannya pun mulai terasa kering karena haus, Agung segera melangkahkah kakinya menuju gerobak es cendol yang terparkir tidak jauh daritempatnya berdiri. Saking hausnya Agung langsung menyeruput es yang disodorkan kehadapannya sambil matanya melihat-lihat kesekeliling. Hari sudah semakin senja, namun toko yang dicari tak jua tampak. Agung pun memutuskan untuk pulang dan  menanyakan lagi kepada Aura keesokan harinya. Belum lagi sepuluh langkah Agung berjalan, tiba-tiba matanya melihat sebuah papan nama usang terpasang di atas sebuah pintu ruko yang berada di ujung blok. Ruko ini posisinya sedikit terpisah dari jejeran ruko lainnya dengan bentuk berbeda dan ukuran yang juga lebih kecil. Ternyata toko yang Agung cari bukan bagian dari komplek pertokoan Gaung Cemara, cuma karena posisinya berada paling ujung dari blok C untuk memudahkan orang menemukannya pada papan itu dituliskan Blok C No. 12.

Dengan perasaan lega, Agung mempercepat langkahnya menuju toko itu. Sesampai didalam toko, Agung disambut oleh seorang pramuniaga berparas manis. Dia memakai baju tradisional cina dengan riasan yang sedikit mencolok. Aneh juga melihat dandanan pramuniaga seperti itu, namun mengingat pemilik toko itu adalah warga Tionghoa, Agung pun tidak ambil pusing soal dandanan pramuniaga itu.


"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu", Agung kaget karena dalam sekejab mata pramuniaga itu telah berdiri dihadapan Agung dan menyapanya  dengan logat Tionghoa yang kental.

"Oh iya.. saya mau cari HP Android yang murah ada mbak ... Na Yiwang?" tanya Agung kemudian sambil mengeja nama di tanda pengenal pramuniaga itu. Yiwang tersenyum, menampakkan barisan giginya yang putih rapi.
Gambar : tabloidhape.com

" HP Android ada, mas mau yang merk apa ? mari ikut saya", dia kemudian menuntun Agung menuju salah satu etalase yang memajang beragam HP android. Agar leluasa dalam memilih Agung pun duduk disalah satu kursi yang tersedia di depan etalase. Setelah mengamati beberapa saat, pilihan Agung pun jatuh kepada satu HP berwarna biru tua, dilayarnya tertempel angka 313.

"Bisa lihat yang itu mbak ?" tanya Agung sambil menunjuk kesalah satu ponsel di dalam etalase. Yiwang pun mengambilkan ponsel yang ditunjuk oleh Agung. Senyum manis tidak lepas dari bibirnya.

"ini fiturnya udah lengkap mbak ?" tanya Agung lagi, sebenarnya dia tidak begitu paham dengan spesifikasi ponsel, cuma dia ingin memastikan ponsel yang akan dia beli telah memiliki fitur yang dibutuhkannya. Yiwang kembali tersenyum, dengan anggun dia meraih ponsel di genggaman Agung. Dengan sigap dia menyalakan ponsel itu dan menjelaskan semua fungsi yang ada di ponsel. Agung manggut-manggut mendengar penjelasan Yiwang.

"Harganya berapaan mbak ?" tanya Agung lagi

"Sesuai dengan angka di layarnya mas, 313 ribu"

"Ok mbak, saya ambil satu", ujar Agung seraya menyerahkan sejumlah uang sesuai harga yang dimaksud. Dalam hitungan detik ponsel android itu pun menjadi milik Agung.

"Terimakasih ya mas, sudah berbelanja di toko kami. Semoga menjadi langganan" Yiwang berkata sambil menjabat tangan Agung dengan erat. Telapak tangannya terasa dingin di tangan Agung, entah karena AC atau alasan lain Agung pun tidak begitu mengerti.

Sepanjang perjalanan Agung asyik dengan ponsel barunya. Sambil menunggu bus dia mencoba beberapa fitur yang ada di ponselnya itu. Dia pun mencoba berselfie ria dengan latar belakang orang-orang di halte itu. Agung tersenyum puas melihat hasil bidikan kameranya yang bisa menampilkan gambar dengan sangat jelas. Tangannya sibuk menyapukan jari-jarinya dilayar ponsel, memilih-memilih gambar yang bagus guna diedit di fitur edit photonya. Karena tadi Yiwang sempat menjelaskan bahwa untuk mendapatkan hasil photo yang lebih baik, bisa di edit di fitur edit photo. Agung pun masuk ke aplikasi edit photo dan memilih foto selfienya barusan. Dia mengamati photo itu dengan seksama, ternyata ada cewek cantik berdiri tepat dibelakangnya. Hmm.. kalo foto ini aku edit jadi berdua sama dia aja lumayan juga nih, ntar bisa pamer sama Wandi. Agung pun memangkas photo selfienya sehingga tersisa dia dan si 'gadis' latar. Bus yang di tunggu datang, Agung bergegas naik dan segera mencari tempat duduk yang nyaman agar dia bisa memainkan ponsel dengan tenang.

***

Agung berlari menaiki anak tangga menuju lantai 5 ruang pantry tempat lokernya berada. Karena keasyikan bermain game di ponsel semalam, dia jadi bangun kesiangan. Mau naik lift pun tidak bisa, karena antrian karyawan sudah panjang seperti ular sawah. Tidak ada jalan lain, dia harus menggunakan tangga darurat untuk mencapai lantai 5. Sesampainya di pantry, ternyata teman-temannya sudah datang semua. Mereka tampak sedang membicarakan sesuatu dengan serius. Sesekali mimik wajah mereka seperti ketakutan.

"Tumben loe terlambat Gung, biasanya paling awal", Nani menegur Agung yang berdiri ngos-ngosan di samping pintu.
"Iya nih, gue kesiangan tadi.. kalian lagi bicarain apa sih ? kok sepertinya serius kali ", Agung balik bertanya setelah berhasil mengatur nafasnya."Itu lho Gung, loe ada denger berita gak ? semalam ada kecelakaan yang menghebohkan lho, salah satu korbannya mbak Mita yang admin marketing itu, sekarang di kritis di RS Cinta Kasih"
"Hah ?!! yang bener loe, kapan dan dimana kejadiannya ?"
"Kejadiannya kemarin malam, di halte Gaung Cemara"
"Hah ?!! halte Gaung Cemara ? lho gue semalam juga nungguin bus di halte itu, jam berapa kejadiannya ?"
"Sekitar jam delapan gitulah, gue juga kurang tau persis kejadiannya jam berapa, yang jelas menurut saksi mata yang selamat mereka dihantam mobil yang tiba-tiba nyasar nabrak halte itu. Tapi yang anehnya mereka yang kritis sekarang itu sebenarnya tidak kena hantaman langsung dari mobil yang nabrak, seharusnya mereka ya luka-luka kecil gitu, tetapi justru yang kena tabrak langsung yang luka ringan, eh merekanya yang kritis. Aneh kan ?"

Aneh, ini sungguh aneh. Jika cerita yang Agung dengar itu tidak salah, berarti kecelakaan itu terjadi hanya beberapa menit setelah dia meninggalkan halte. Mereka yang kritis adalah 5 orang cewek yang berdiri pas dibelakangnya. Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Agung pun pergi mengunjungi RS Cinta Kasih. Ternyata kejadian ini cukup menarik perhatian media massa, terlihat dari beberapa orang wartawan yang memenuhi lobby rumah sakit. Agung mencoba mencari infofmasi dari orang-orang yang berkumpul, namun tidak membuahkan hasil.

Pikiran Agung masih dipenuhi oleh hebohnya pemberitaan kecelakaan itu, walaupun dia bukanlah salah satu korban, namun mengingat dia beberapa saat sebelumnya berada ditempat yang sama, sedikit banyak membuat Agung merenung juga. Dan nyaris malam itu dia tidak bisa memejamkan mata dengan nyenyak.

***

"Gung.. coba lihat nih, di harian Escape udah ada foto-foto korban kecelakaan kemarin loh", Nani menyoraki Agung yang sedang membersihkan kaca. Mendengar berita yang disampaikan Nani, Agung pun segera menghampirinya. Betapa kagetnya dia karena mengenali wajah-wajah yang terpampang di halaman depan surat kabar itu. Mereka semua adalah orang-orang yang ada di belakang foto selfinya malam itu. Dia ingat persis karena sampai sekarang dia masih menyimpan photo asli yang belum di edit.

Perasaan Agung campur aduk, serasa tidak percaya dengan penglihatannya. Dia pun mencoba untuk menenangkan diri, dan segera menjauhi keramaian. Pelan-pelan dia mengeluarkan ponsel dari kantungnya dan membuka galeri photo di ponselnya. Tidak salah lagi, mereka adalah orang-orang yang aku pangkas dari foto selfie kemarin. Jantung Agung berdetak keras, mencoba untuk menganalisa semua kejadian yang ada didepannya. Tidak.. ini pasti kebetulan.. tidak mungkin ada hubungannya dengan photo ini. Agung mencoba menanamkan sugesti positif dipikirannya.

"Gung !", sebuah panggilan menghentikan langkah Agung, dia pun menoleh mencari sumber suara yang memanggil namanya. Rupanya Nani, yang berjalan dengan beberapa tumpukan file ditangannya. Agung segera mendekatinya, dan mengambil sebagian file dari tangan Nani.

"Eh.. ntar malam loe ada acara gak ?" Agung menggeleng, dia memang tidak ada acara apapun malam nanti.
"Ntar malam ngumpul di Mute Cafe yok, gue yang traktir"
"Boleh, jam berapa ?"
"Mulainya jam 8, kita ketemuan di sana aja ya, Wandi dan Cika juga ikut kok"
"Ok siipp"

Selepas sholat zuhur, Agung melepas penat dengan berbaring-baring di mushola kantor. Masih ada waktu sekitar 20 menit menjelang waktu istirahat usai. Untuk mengisi waktu dia membuka galeri ponselnya dan melihat-lihat photo hasil bidikannya. Tak sia-sia memang dulu dia memilih ekskul Photografi ketika SMU dulu, karena hasil jepretan kameranya cukup bisa di jadikan koleksi pribadi. Meskipun objek bidikannya masih terbatas lingkungan sekitarnya saja dari serangga, langit malam hari, matahari pagi, orang-orang di jalanan dan sisanya adalah foto selfi dirinya dan rekan-rekan sesama OB lainnya. Setelah melihat koleksi galerinya, Agung tersadar rupanya hampir separuh dari foto-foto di galerinya adalah foto Nani dalam beberapa pose. Dan Agung tertarik pada salah satu foto Nani yang sedang berdiri dengan gagang kain pel di tangan kanan sementara tangan kiri menyeka keringat, meski ekspresi lelah terpancar diwajahnya tapi tidak memudarkan kecantikannya. Agung senyum-senyum sendiri tanpa sadar. Cantik juga kamu Nan...aku crop aja deh biar lebih jelas :)

Jam 8 teng Agung sampai di Mute Cafe, suara musik jazz terdengar memenuhi ruangan. Dari pintu masuk Agung melihat lambaian tangan Wandi yang udah duluan datang bersama Cika. Agung pun bergabung bersama mereka.
"Nani mana ? kok yang punya hajatan belum datang ?" tanya Agung sambil memilih kursi dan duduk didepan Wandi.
"Barusan telpon, katanya lagi dijalan, ntar lagi nyampe, katanya kita pesan aja duluan", jawab Cika.

Sambil menunggu kedatangan Nani, mereka pun memesan minuman. Menikmati segelas cappucino di iringi musik jazz itu ternyata asyik juga, ini merupakan pengalaman baru bagi Agung. Selama ini dia memang tidak pernah ke cafe seperti ini, biasanya dia mangkal di warung Mpok Atik di depan gang, pesan bandrek kalo gak teh telor, itu pun udah hebat.

Ponsel Cika berdering, rupanya Nani yang telpon.
"Halo.. dimana loe Nan ? jangan bilang loe ingkar janji ya", semprot Cika langsung tanpa basa-basi.
"Sori Ci..Sori.. ni gue masih di jalan ada kecelakaan di depan gue, jadi macet jalannya", jawab Nani. Dari suaranya terdengar jelas dia masih shock atas kejadian yang terjadi didepan matanya.
"Hah ?? !! Kecelakaan apa Nan ? korbannya siapa ?" Cika berseru kaget mendengar berita dari Nani.
"Tabrakan motor Ci, sepertinya korbannya kritis, barusan di bawa ambulan ke RS terdekat. Tapi Ci gue rasa-rasa kenal sama plat motor korban"
"Yang bener loe Nan ? emangnya mirip plat motor siapa ?"
"D 5454 KO.. itu nomor plat motornya Mbak Sasa kan Ci ?"
"D 5454 KO ? bener Nan itu nomor platnya Mbak Sasa ! trus sekarang dia dibawa ke RS mana Nan ?
"Sepertinya ke RS Mutiara Ci, kita kesana ya, gue mau langsung kesana nih"
"Oh .. oke.. ntar gue sama yang lain nyusul loe kesana"

Sirine ambulan masih mengaung-ngaung di pelataran parkir RS Mutiara, sejumlah tenaga medis tampak sibuk menyambut pasien yang tergolek tak berdaya diatas brankar ambulance. Nani berdiri tidak jauh dengan wajah panik dan sedih. Agung, Cika dan Wandi tiba beberapa saat kemudian, dan langsung bergabung dengan Nani yang telah sampai lebih dulu. Tangis Nani pecah ketika melihat teman-temannya datang, Cika langsung memeluk Nani berusaha menenangkan temannya yang sedang shock itu.
"Gue bener Ci.. itu mbak Sasa.. kasihan dia Ci.. mukanya hancur", Nani menangis sesegukan di pundak Cika.
"Sabar Nan, itulah musibah bisa menimpa siapa aja", ujar Cika mencoba menghibur Nani. Meski hatinya sendiri juga sedang resah.
"Gila ya, dalam beberapa hari ini berturut-turut karyawan kantor kita mengalami kecelakaan, dua hari yang lalu Mbak Mita, sekarang Mbak Sasa.. kok bisa ya ?" Wandi ikut bersuara. Agung yang belum sepenuhnya bisa melupakan peristiwa kecelakaan tempo hari seakan di tampar dua kali dengan kejadian malam ini. Meskipun tidak ada keterkaitan antara dirinya dengan peristiwa yang dialami Mita, tapi tetap saja ada sejumput rasa aneh menyelinap dihatinya. Dan dia sendiri tidak tahu itu apa.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam ketika Agung sampai di kosannya. Dia ingin segera tidur agar bisa melupakan semua bayang-bayang buruk itu, tapi badannya terasa kotor dan lengket oleh keringat. Dia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu baru kemudian tidur.

Agung masih belum bisa memejamkan matanya, bayang-bayang wajah Sasa yang hancur karena kecelakaan tadi masih terlihat jelas dimatanya. Bahkan ketika menutup matapun bayang itu semakin jelas. Agung meraih ponsel dan membuka galeri photonya. Dia menatap foto selfi pertamanya dihalte dua hari yang lalu, meski tidak begitu jelas rupanya Mita memang ada di foto itu, dia berdiri menyamping di belakang sebelah kanan Agung. Kemudian Agung membuka foto Nani yang dia edit tadi sore. Agung sedikit lega karena di foto itu Nani sendirian, jadi setidaknya teori Agung pada peristiwa Mita tidak terbukti pada kejadian Sasa. Dengan ponsel ditangan, Agung pun tertidur pulas hingga pagi.

***

"Nah lhoo.. ketahuan loe ya diam-diam suka motret gue.." tiba-tiba Nani berdiri di belakang Agung. Agung pun terperanjat dan langsung memasukkan ponselnya kedalam saku.
"Apaan sih loe.. ngagetin gue aja" ujar Agung dengan muka merah.
"Tuh kaan muka loe merah, udah loe ngaku aja, gue ga marah kok" ujar Nani lagi seraya duduk disebelah Agung. Agung semakin salah tingkah.
"Mana ponsel loe ? gue liat donk ? gue periksa dulu, kali-kali aja loe potret gue lagi mandi" Nani meminta ponsel Agung sambil menggoda. Digodain seperti itu muka Agung semakin memerah, dan Nani semakin semangat menggodanya.
"Wahh.. ternyata gue cantik juga ya Gung" katanya setelah melihat-lihat beberapa photo dirinya. Agung hanya tersenyum mendengar ucapan Nani meski diam-diam hatinya mengakui itu.
"Eh foto yang ini kapan loe ambil Gung ? Kok gue gak tau ya ?" tanya Nani sambil menunjuk salah satu foto dirinya.

"Oh itu.. kapan ya .. gue juga lupa" jawab Agung sekenanya.

http://i.ytimg.com/vi/DV_7hPqqvGE/0.jpg
Gambar : http://i.ytimg.com/vi/DV_7hPqqvGE/0.jpg
"Sudut pengambilan gambarnya bagus. Yang bikin cantik itu ini nih, bayangan orang di kaca sebelah kiri gue itu, jadi kesannya kaya foto-foto di majalah mode " Agung tertarik dengan apa yang barusan di bilang Nani, dia pun mendekatkan wajahnya lebih dekat ke layar ponsel. Disitu nampak samar, bayang-bayang Sasa di kaca sebelah kiri Nani. Dan foto itu telah dia pangkas ... kemarin ..

~Tamat~













2 komentar:

  1. wah cerpennya bikin baca terus ampe tamat mba :) penasaran ceritanyaaa ^o^

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih mbak .. jadi makin semangat niy ^0^

      Hapus


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal