Kamis, 19 Maret 2015

Aku Rindu Ibu

Semalam aku melanggar janji kepada suami karena kembali mewek di depannya. Padahal sebelumnya aku pernah berjanji untuk tidak akan menangis lagi di depannya. Tapi semua ini benar-benar di luar kendali aku sebagai empunya hati.

Tanggal 26 Maret 2015 ini, berarti enam tahun sudah ibuku tercinta berpulang ke sang Khaliq. Semenjak ditinggal oleh beliau aku merasa nelangsa karena menjadi yatim piatu ditengah-tengah pusaran badai kehidupan seorang diri.

Dari remaja hingga dewasa ibu adalah satu-satunya teman tempat aku berbagi semua keluh kesah. Dekapan hangatnya selalu mampu menjadi obat penawar untuk semua kerisauanku. Dia sosok yang sangat tegar meski sering kali berhadapan dengan kerasnya benturan ekonomi. Tak pernah sekalipun dia terdengar mengeluhkan kesulitan yang dia hadapi. Kesabarannya merawat bapak yang stroke sejak aku SMU sungguh tidak bisa ditandingi. Meskipun tubuhnya tak lagi bugar karena beberapa penyakit tua telah menggerogotinya, tapi dengan penuh senyum dia selalu bisa bangkit tatkala bapak memanggil minta di perhatikan. Ah.. mengingat semua itu mata ini selalu basah oleh air mata.

Pernah suatu waktu, ketika bulan baru menunjukkan angka 20, sementara uang ditangan tersisa tidak sampai seratus ribu. Jadwal gajianku kurang lebih masih sepuluh hari lagi. Belanja harian, ongkos pergi-pulang kerja hingga biaya pengobatan bapak semuanya ada disitu. Ibu dengan bijaknya membuatkan menu nasi goreng setiap hari untuk bekal dan makan sehari-hari. "Yang penting obat bapak jangan sampai ga ada" kata ibu kala itu. Ah.. ibu di hari tua mu  pun, anak yang tak berguna ini masih belum bisa menyenangkanmu.

Kami pernah sedikit berargumen ketika aku menyarankannya untuk menggunakan kompor gas. Karena dengan harga minyak tanah yang melonjak saat itu, sungguh sangat berat bagi kami untuk menutupi biaya hidup sehari-hari. Tapi ibu takut dan tidak berani menggunakan kompor gas. Takut meledak katanya. Sekarang aku sangat menyesali sikapku saat itu yang tetap ngotot memintanya memakai kompor gas. Maafkan aku bu.. Anakmu pasti telah melukai hatimu.

Ibuku wanita yang sangat pemberani. Dia rela berkorban untuk anak-anaknya. Ibu tidak akan pernah bisa terima jika anaknya diperlakukan tidak wajar oleh orang lain. Sekalipun anaknya itu salah, sebisa mungkin ibu akan membela anaknya. Dia tidak peduli meskipun orang lain mencibir sikapnya itu. Baginya anak adalah permata hatinya yang tidak akan dia izinkan orang lain untuk menyakitinya. Meskipun setelah orang itu pergi ibu akan membantai kami habis-habisan.

Bu.. pernahkah kita pergi berjalan-jalan ? Ga pernah ya.. karena waktu itu kita memang tidak punya uang yang lebih untuk berjalan-jalan. Bagi ibu di ajak makan di Rumah Makan Sederhana saja sudah merupakan jalan-jalan. Begitu sederhana pemikirannya. Dia tidak mengenal segala macam hal yang mewah. Bahkan untuk sekedar emas sekalipun sepanjang yang aku tahu ibu tidak pernah memakainya. Bagi ibu dari pada membeli perhiasan lebih baik untuk biaya pendidikan. Ibu tidak ingin anak-anaknya putus sekolah. Cita-cita ibu adalah semua anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya. Seandainya waktu bisa kuputar kembali, betapa  ingin aku mengajak ibu mengunjungi Masjidil Haraam, sebuah tempat yang sangat dia impikan. Ya.. disisa umurnya, berhaji adalah satu-satunya kata yang menjadi doa sebelum tidurnya. Alhamdulillah ya bu, meskipun ibu telah tiada, tapi gelar Hajjah itu berhasil juga kami sematkan di samping namamu di batu nisan itu. Aku sangat berterimakasih kepada kakanda It yang telah menunaikan nazarnya menghajikan ibu.

Hhhh.. dadaku terasa berat. Aku rindu padamu Ibu. Rasanya belum puas hati ini karena belum maksimal berbakti kepadamu. Masih banyak dosa yang ingin aku tebus. Masih banyak kesalahan yang ingin aku perbaiki.Terlalu banyak gelak tawa kita yang tertunda karena beragam kesulitan dimasa lalu. Kini hanya bait-bait doa yang bisa ku lantunkan disetiap hela nafasku. Berharap semoga Allah yang Maha Pengampun mengampuni semua dosa dan kekhilafanmu. Berharap semoga Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang menerima semua amal ibadahmu, menyayangimu sebagaimana engkau menyayangiku semasa aku kecil. Berharap semoga Allah Yang Maha Adil memberikan tempat terbaik disisiNYA yaitu tempat diantara orang-orang yang beriman. Aku memohon semoga Allah melapangkan kuburmu dan mengurangi azab kubur untukmu. Aamiin ya Allah..

*****
Mengenang Ibunda Lela Isnah
Lahir : Lubuk Sikaping, 05 Mei 1939
Wafat : Pekanbaru, 26 Maret 2009
*****


0 komentar:

Posting Komentar


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal