Friday, October 31, 2014

Penyakit Media Indonesia

Perkembangan media di Indonesia belakangan ini memang sangat signifikan. Hal ini terlihat jelas dibandingkan masa pemerintahan yang sebelumnya. Untuk satu hal ini, saya rasa kita layak berterimakasih kepada Presiden SBY yang telah memberikan ruang gerak luar biasa bebas kepada media di Indonesia.

Namun ada beberapa hal yang saya kurang sukai dari kebebasan media di Indonesia, terutama sekali yang nampak akhir-akhir ini. Kalau boleh dibilang, saya lebih senang menyebutnya dengan istilah 'penyakit', karena fenomena ini sifatnya mewabah dan menular dari satu media ke media yang lain.

Apa saja sih penyakit media Indonesia itu ?

Ini dia jawabannya :

1. Memuji setinggi langit, jatuhkan ke dasar jurang terdalam

Dalam beberapa artikel di media cetak atau media online, dan juga dalam beberapa tayangan di media televisi, penyakit media Indonesia yang sangat tidak menyenangkan adalah "memuji setinggi langit". Ketika memberi komentar tentang seorang tokoh yang dianggap fenomenal kecendrungan media Indonesia selalu memuji dan mengagung-agungkan tokoh tersebut, sehingga menimbulkan persepsi di tengah-tengah masyarakat bahwa tokoh itu sangat suci, sangat baik, dan mulia bagaikan dewa. Bahkan terkadang menggunakan kata-kata lebay yang berlebihan. Hal ini juga berlaku untuk tokoh yang dianggap buruk. Tentu saja bukan pujian setinggi langit yang diberikan, justru semua hujatan dan cacian dikerahkan untuk meremukkan karakter tersebut, seolah-olah tak ada lagi sisi positif yang tersisa pada tokoh tersebut. Sangat susah ditemukan media yang memberikan berita yang berimbang, yang menghadirkan sisi kelam seorang nara sumber sebagai pelajaran bagi masyarakat, namun juga tidak menutupi semua hal baik yang ada sehingga hal-hal baik pada tokoh tersebut masih bisa dijadikan tauladan bagi masyarakat.

2. Rumput tetangga lebih hijau

Entah sengaja atau tidak, pemberitaan di media Indonesia selalu mirip satu sama lain. Misalnya pada satu televisi sedang memberitakan peristiwa kriminal disuatu tempat. Selang beberapa saat, berita yang sama juga ada di televisi lainnya dengan gambar atau video yang sama. Seharusnya meskipun sumber berita adalah sama, namun dalam penyajian berita dan gambar atau videonya hendaklah berbeda, sehingga masyarakat bisa mendapatkan informasi yang lebih variatif. Bukan informasi yang duplikasi dari berita yang lainnya. Kecuali untuk kasus tertentu yang gambar atau video tersebut adalah hasil kiriman video amatir dari pemirsa tertentu.

3. Berita pesanan ?

Berita pesanan ini adalah salah satu bahan berita yang menurut saya sangat tidak adil untuk masyarakat, karena masyarakat disuguhi berita yang tidak lagi murni, namun telah mendapat suntingan terlebih dahulu dari pemesan berita yang dalam hal ini tentu diwakilkan kepada redaksi berita itu sendiri. Berita-berita semacam ini biasanya terjadi dalam kasus-kasus yang melibatkan tokoh-tokoh politik atau pun public figure. Misalnya saja, berita tentang kecelakaan lalu lintas yang melibatkan anak pejabat. Coba saja saksikan dengan seksama kronologis berita ini dari awal diberitakan hingga ketika 'masalah' telah dianggap usai alias damai dengan pihak korban dengan cara kekeluargaan. Kita bisa saksikan ada perubahan sikap yang sangat nyata dari pihak korban ketika mereka diwawancarai. Terkesan tidak lepas dan ada yang ditutupi. Disinilah peranan 'pesanan' itu bermain.

Semoga saja, di era pemerintahan Presiden Jokowi sekarang ini, media Indonesia bisa menyembuhkan penyakitnya, sehingga masyarakat betul-betul mendapatkan materi pemberitaan yang sifatnya informatif dan edukatif. BUkan hanya sekedar memberitakan, namun dengan porsi berita yang berimbang secara tidak langsung masyarakat telah dididik untuk lebih bijak dan cermat.

Semoga bermanfaat

~Salam Sukses~

This entry was posted in

0 comments:

Post a Comment


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal