Friday, October 31, 2014

shame just makes you stop trying

Percayakah anda bahwa hidup itu adalah sebuah tindakan percobaan yang tiada henti ?

Saya percaya, bahwa hidup itu adalah sebuah tindakan percobaan yang tiada henti. Dari kita bayi hingga dewasa sekarang ini semuanya adalah hasil dari percobaan-percobaan yang kita lakukan tanpa henti. Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya saya jika ketika bayi saya berhenti mencoba untuk berdiri. Mengapa saat itu ketika kita masih balita, ketika akal dan fikiran kita belum berkerja, namun kita tidak pernah berhenti mencoba. Mengapa justru disaat sekarang ini, ketika dewasa, ketika otak telah mencapai ukuran maksimalnya, ketika akal dan fikiran kita telah berkerja, banyak diantara kita yang berhenti mencoba lalu duduk diam dan tenggelam dalam putus asa.

Ketika bayi, kita belum dilengkapi dengan rasa malu. Jadi saat itu, ketika seisi dunia menertawakan kegagalan kita, menganggap lucu kebodohan kita, kita tidak peduli (bahkan ikut tertawa bersama mereka). Tanpa memperdulikan semua itu kita terus mencoba-dan mencoba tanpa henti.

JIka sekarang kita analogikan kondisi kita adalah bayi tadi. Mari kita buang rasa malu yang hanya akan membuat kita berhenti mencoba. Tebalkan saja muka dan hadapi dunia untuk terus mencoba agar kita bisa bangkit dari kegagalan. Tidak perlu lama-lama pelihara rasa malu, karena rasa malu itu adalah penghambat untuk kita maju.

Selalu instrospeksi diri, kenali penyebab kegagalan dan kembali bangkit untuk mencoba. Semua ejekan, cemoohan bahkan mungkin hinaan yang ditujukan pada kita, anggaplah itu sebagai pemantik api untuk mengobarkan semangat juang kita. Yakinlah suatu saat ketika kesuksesan berada digenggaman, maka kegagalan itu akan jadi kenangan.

~Semoga bermanfaat~

Penyakit Media Indonesia

Perkembangan media di Indonesia belakangan ini memang sangat signifikan. Hal ini terlihat jelas dibandingkan masa pemerintahan yang sebelumnya. Untuk satu hal ini, saya rasa kita layak berterimakasih kepada Presiden SBY yang telah memberikan ruang gerak luar biasa bebas kepada media di Indonesia.

Namun ada beberapa hal yang saya kurang sukai dari kebebasan media di Indonesia, terutama sekali yang nampak akhir-akhir ini. Kalau boleh dibilang, saya lebih senang menyebutnya dengan istilah 'penyakit', karena fenomena ini sifatnya mewabah dan menular dari satu media ke media yang lain.

Apa saja sih penyakit media Indonesia itu ?

Ini dia jawabannya :

1. Memuji setinggi langit, jatuhkan ke dasar jurang terdalam

Dalam beberapa artikel di media cetak atau media online, dan juga dalam beberapa tayangan di media televisi, penyakit media Indonesia yang sangat tidak menyenangkan adalah "memuji setinggi langit". Ketika memberi komentar tentang seorang tokoh yang dianggap fenomenal kecendrungan media Indonesia selalu memuji dan mengagung-agungkan tokoh tersebut, sehingga menimbulkan persepsi di tengah-tengah masyarakat bahwa tokoh itu sangat suci, sangat baik, dan mulia bagaikan dewa. Bahkan terkadang menggunakan kata-kata lebay yang berlebihan. Hal ini juga berlaku untuk tokoh yang dianggap buruk. Tentu saja bukan pujian setinggi langit yang diberikan, justru semua hujatan dan cacian dikerahkan untuk meremukkan karakter tersebut, seolah-olah tak ada lagi sisi positif yang tersisa pada tokoh tersebut. Sangat susah ditemukan media yang memberikan berita yang berimbang, yang menghadirkan sisi kelam seorang nara sumber sebagai pelajaran bagi masyarakat, namun juga tidak menutupi semua hal baik yang ada sehingga hal-hal baik pada tokoh tersebut masih bisa dijadikan tauladan bagi masyarakat.

2. Rumput tetangga lebih hijau

Entah sengaja atau tidak, pemberitaan di media Indonesia selalu mirip satu sama lain. Misalnya pada satu televisi sedang memberitakan peristiwa kriminal disuatu tempat. Selang beberapa saat, berita yang sama juga ada di televisi lainnya dengan gambar atau video yang sama. Seharusnya meskipun sumber berita adalah sama, namun dalam penyajian berita dan gambar atau videonya hendaklah berbeda, sehingga masyarakat bisa mendapatkan informasi yang lebih variatif. Bukan informasi yang duplikasi dari berita yang lainnya. Kecuali untuk kasus tertentu yang gambar atau video tersebut adalah hasil kiriman video amatir dari pemirsa tertentu.

3. Berita pesanan ?

Berita pesanan ini adalah salah satu bahan berita yang menurut saya sangat tidak adil untuk masyarakat, karena masyarakat disuguhi berita yang tidak lagi murni, namun telah mendapat suntingan terlebih dahulu dari pemesan berita yang dalam hal ini tentu diwakilkan kepada redaksi berita itu sendiri. Berita-berita semacam ini biasanya terjadi dalam kasus-kasus yang melibatkan tokoh-tokoh politik atau pun public figure. Misalnya saja, berita tentang kecelakaan lalu lintas yang melibatkan anak pejabat. Coba saja saksikan dengan seksama kronologis berita ini dari awal diberitakan hingga ketika 'masalah' telah dianggap usai alias damai dengan pihak korban dengan cara kekeluargaan. Kita bisa saksikan ada perubahan sikap yang sangat nyata dari pihak korban ketika mereka diwawancarai. Terkesan tidak lepas dan ada yang ditutupi. Disinilah peranan 'pesanan' itu bermain.

Semoga saja, di era pemerintahan Presiden Jokowi sekarang ini, media Indonesia bisa menyembuhkan penyakitnya, sehingga masyarakat betul-betul mendapatkan materi pemberitaan yang sifatnya informatif dan edukatif. BUkan hanya sekedar memberitakan, namun dengan porsi berita yang berimbang secara tidak langsung masyarakat telah dididik untuk lebih bijak dan cermat.

Semoga bermanfaat

~Salam Sukses~

This entry was posted in

Wednesday, October 29, 2014

As You Will

Aku telah hidup selama 33 tahun, yang 20 tahun diawal adalah hidup 'cara' mereka, dan 13 tahun terakhir adalah cara ku sendiri. Selama 13 tahun aku mengemas mimpi yang sampai detik ini masih menggantung tanpa asa. Ketika mereka yang menghadirkanku kedunia ini tiada, semua mimpi yang ada dikepalaku harus rela terhempas dan berderai tak bersisa. Kemudian dengan tertatih dan penuh nyeri kaki ini kembali melangkah, tangan ini kembali mencoba mengumpulkan semua butiran mimpi yang terurai, dan berusaha menyatukannya dalam satu wadah yang saya sebut dengan harapan.

Hati ini tercabik perih, ketika menghadapi kenyataan ternyata hidup tak seindah mimpi. Mereka yang kupandang agung, ternyata berpaling menyisakan punggung. Aku yang bingung, hanya mampu diam lalu meneruskan langkah dengan terhuyung. Namun aku pantang menyerah, dengan semua tenaga yang tersisa, aku kuatkan tekad, as you will, I'll do with my own way.

Dengan langkah terseok-seok, ku jejakkan kaki ini pada anak tangga impian. Hati miris, namun otak tetap memaksa untuk optimis. Meskipun gamang, karena pijakan yang terlalu kecil. Meskipun nyali ciut, karena tangga yang begitu terjal, licin dan panjang. Kata-kata pesimis kembali menggerayang dikepala, hati pun menyusut karena putus asa. Namun semangatku kembali dikobarkan oleh kilas balik masa lalu. Pahit getirnya perjuangan untuk sampai ditahap ini. Betapa semua sia-sia jika aku berhenti disini. Betapa semakin lebar tawa mereka, betapa semakin lengkin suara mereka. Tidakkk  !! aku tidak akan berhenti sampai disini. As you will, I'll do with my own way !

Manusia itu makhluk sosial yang tak bisa hidup tanpa bantuan dari orang lain, khususnya adalah mereka yang disebut keluarga. Hati ini meraung dengan keras ketika otak membisikkan kata keluarga. Nurani terdalam pun menjelaskan arti keluarga dengan dahsyatnya. Keluarga adalah orang-orang yang terhubung akan ikatan darah, yang tumbuh bersama dalam kasih sayang, saling support dan membahagiakan. Batinku berontak, sukmaku bergejolak. Mana ?? Dimana mereka yang disebut keluarga itu ? Selama 13 tahun aku tidak bisa merasakan arti hadir mereka. Ada apa dengan diriku ? Mengapa aku tidak bisa merasakan keberadaan mereka, padahal mereka ada disekitarku ?

Mataku nanar, kakiku gemetar. Arrgghh ! Aku yang bodoh ! Aku yang egois ! Aku yang skeptis !

Tapi tunggu dulu .. tidak .. tidak .. aku tidak bisa menyalahkan diri sendiri seperti ini. Aku harus mengasihani diri ini, karena dia telah terlalu lelah untuk dipersalahkan. Aku harus tenang, dan mulai berfikir logis. Ikatan darah ? Ya, mereka memang memiliki ikatan darah denganku. Ya, berarti mereka adalah keluarga. Tumbuh bersama ? Hmm.. sebagian dari mereka memang tumbuh bersama denganku. It's Ok, mereka adalah keluarga. Dalam kasih sayang, saling support dan membahagiakan. Kasih sayang ? entahlah. Kok hati ini mati rasa ya ? Tidak bisa merasakan kasih sayang itu. Support ? apa lagi support, rasa-rasanya kok ga pernah kelihatan ? Seperti apa ya bentuknya ? apakah bulat seperti lingkaran ? atau petak seperti persegi ? I have no any idea 'bout that. Kemudian Saling membahagiakan, kata-kata saling itu kira-kira sama dengan take-and-give bukan ? Memberi bahagia, lalu menerima bahagia. Aku tanya diri sendiri, kapan terakhir aku memberi bahagia untuk mereka ? ..... :-? entahlah aku sendiri lupa, atau mungkin memang tidak pernah melakukannya ? Kapan ya terakhir kali menerima bahagia dari mereka ? ..... entahlah aku juga lupa, atau mungkin juga memang belum ada pemberian bahagia dari mereka.

So.. What's going on with me, Who am I ? Who are they ? Where do I live ?

Well, I don't know exactly.

Which I know is I live in my own way

So .. whatever you said .. I'll do with my own way

Now .. as you will .. this is me

This entry was posted in

Tuesday, October 28, 2014

The Most Important is Attitude

Sekarang sedang ramainya orang membicarakan tentang seorang anak desa yang jadi Menteri. Banyak hujatan datang karena latar belakang pendidikannya yang dianggap tidak layak untuk menjadikannya seorang Menteri. "Bahkan untuk menjadi seorang OB dikantor-kantor saja saat ini minimal adalah tamatan SMU, masa' sih tamatan SMP jadi Mentri, ya ga pantas lah !" Demikian salah satu tanggapan masyarakat yang mengomentari hal ini. Namun juga tidak sedikit yang mendukung si Ibu ini jadi Menteri. "Alaaaahh.. sarjana sekarang mah bukan jaminan untuk seseorang itu lebih pintar. Justru mereka-mereka yang pendidikannya lebih rendah itu lebih ulet dalam berkerja. Lihat saja konglomerat Indonesia seperti Bob Sadino itu. Sekolah aja gak tamat, tapi lihat dia bisa juga berhasil. Kaya raya lagi !". Tanggapan lainnya dengan berapi-api.

Keputusan Presiden Jokowi dalam menempatkan Ibu Susi Pudjiastuti ini dalam jajaran Mentri di Kabinetnya memang sangat fenomenal. Mungkin dalam sejarah dunia sekalipun, peristiwa ini baru pertama kali terjadi. Sebagai seorang yang terpelajar dan disekitarnya juga berada orang-orang terpelajar, saya yakin keputusan Presiden Jokowi pasti telah melewati proses yang matang dan beliau juga pasti telah mempertimbangkan dengan baik efek-efek yang akan timbul pasca pengumumannya itu.

Saya pribadi tidak bisa menempatkan opini saya pada satu pihak dengan yakin. Karena hati kecil saya mengamini semua pro kontra yang ada saat ini. Disatu sisi saya setuju dengan pendapat sebagian kalangan yang menyatakan seorang Menteri itu haruslah dari kalangan terpelajar dan berpendidikan tinggi. Karena semua ilmu yang dia dapat dari jenjang pendidikannya itulah yang diharapkan mampu mengarahkannya dalam membuat kebijakan demi kemajuan bangsa. Namun disisi lain hati saya berkata, bukankah pengalaman adalah guru yang paling baik. Untuk seorang Susi yang notabene hanyalah seorang berpendidikan rendah, namun dalam kenyataannya dia mampu mencapai kesuksesan dalam usaha yang dia bangun dari nol, apalagi yang bisa mendidik dia dengan sangat baik jika bukan pengalamannya ? Saya rasa pengalamanlah yang membuat dia memiliki ilmu yang luar biasa itu. Bedanya adalah sarjana memiliki ijazah, namun dia tidak.

Mata kepala saya sering menjadi saksi bahwa banyak sarjana yang bahkan dari universitas terbaik dinegeri ini justru tidak mampu menjadikan dia menjadi pribadi yang sukses. Ternyata ilmu yang dia peroleh dari bangku universitas tidak bisa dia terapkan dengan baik. Jangankan untuk menyukseskan orang-orang disekitarnya, menyukseskan dirinya sendiri pun tidak bisa. Coba kita bandingkan dengan sosok Ibu Susi tadi. Dia hanya lulusan SMP, namun arti hadirnya telah dirasakan oleh masyarakat disekitarnya. Dengan ilmunya yang 'tidak seberapa' itu dia telah menjadi 'the change maker' bagi masyarakat disekitarnya.

Sekarang yang menjadi persoalan berikutnya adalah soal 'sikap' ibu kita yang dianggap sebagian besar orang 'kurang sopan'  dan terkesan 'preman'. Sebut saja seperti tato di kaki dan rokok yang mengepul ditangannya. Negara kita memang masih memandang tabu' untuk seorang wanita yang merokok. Bahkan ada masyarakat yang memandang negatif wanita yang merokok dan mencapnya sebagai 'wanita yang tidak baik'. Ditambah lagi pemerintah kita sedang giatnya menggalakkan budaya hidup sehat dengan menjauhi rokok. Salah satu bentuk dukungan pemerintah adalah dengan adanya upaya Kementrian Kesehatan merubah slogan yang ada pada rokok. Nah dengan dipilihnya seorang Mentri wanita perokok dalam jajaran kabinetnya seolah-olah Presiden Jokowi bersikap sebagai orang yang 'pro' rokok. Buktinya saja Mentrinya merokok. Wanita pula. Whew :/

Hal tersebut diatas adalah menjadi alasan mengapa postingan ini saya beri judul The Most Important is Attitude !

Seandainya saja, sosok ibu Susi yang kontroversi ini bukanlah seorang yang merokok dan tidak bertato, saya yakin masyarakat tidak akan sedemikian hebohnya dalam memberi komentar. Karena seorang Mentri adalah tangan kanan Presiden yang semua tingkah lakunya akan menjadi sorotan masyarakat dan menjadi teladan bagi putra-putri penerus bangsa kelak.

Tidak bisa dipungkiri sikap dan penampilan adalah hal pertama yang dinilai pada diri seseorang. Sepintar apapun seseorang  jika tidak memiliki tata krama dan sopan santun yang baik juga tidak bagus. Pada dasarnya ijazah hanyalah sebuah bentuk pengakuan atas ilmu seseorang yang diberikan dalam bentuk kertas. Diatas itu semua ada yang lebih dari sekedar ijazah, yaitu attitude dan  implementasi dari ilmu itu sendiri. Jika ilmu yang dimiliki hanya berada pada selembar kertas ijazah, tidak akan ada artinya dalam hidup selain hanya untuk sebuah prestise saja. Ilmu yang sesungguhnya adalah ilmu yang mampu diterapkan dan dikembangkan khususnya bagi orang-orang di lingkungan sekitar kita, dan untuk negara dan bangsa pada umumnya.

So .. what ever I said, wouldn't be able to change anything.

To Mrs Susi, congratulations ! We are waiting for your breakthrough !

Semoga bermanfaat

~Salam Sukses~

Friday, October 24, 2014

A Great lesson from Aira

Aira adalah putri saya yang saat ini berusia 4 tahun 11 bulan. Tanggal 2 November nanti dia genap berusia lima tahun. Kurang-lebih sekitar akhir September yang lalu saya dikejutkan oleh pertanyaan yang diajukan oleh gadis kecil saya itu. Kira-kira percakapan kami sebagai berikut :

Aira : Bunda, tablet tu mahal Nda ?

Saya : Tablet ? (dia mengangguk) O iya nak mahal. Kenapa nak ? Aira mau tablet ?

Aira : (dengan mata berbinar) iya Nda, Aira mau tablet. Suka Aira main game di tablet.

Saya : Kalau Aira mau tablet, Aira harus rajin menabung, dan kurangi jajannya. Nanti kalau uang Aira sudah banyak baru deh kita beli tabletnya

Aira : Menabung ? Seperti ini Nda ? (berlari kedalam, kemudian muncul lagi dengan membawa celengannya kehadapan saya)

Saya : (diam sesaat dan berfikir untuk menolak dengan halus) Iya, pintarnya anak bunda rajin menabung. Gini aja, nanti kalau Aira sudah bisa membaca, Bunda dan Ayah akan belikan tablet untuk Aira. Bunda janji !

Aira : (dia terlihat bingung) membaca ? (saya mengangguk) mengapa ?

Saya : Karena kalau Aira belum bisa membaca nanti Aira susah main tabletnya trus jadi ga bisa main gamenya.

Aira : (dia diam, sepertinya mengerti lalu lanjut bermain lagi)

Dua minggu kemudian, ketika saya dan suami pulang berkerja, kami berdua dikejutkan oleh Aira yang menunggu kami didepan pintu. Ini sedikit aneh, karena biasanya setiap kami pulang kerja, dia tidak bergeming dari layar TV karena asyik menonton film kartun favoritnya.

Aira : Ayah ! Bunda ! (sapanya dengan suara riang)

Saya : Assalamu'alaikum sayang bunda ? Udah mandi ?

Aira : Udah, nenek yang mandikan. Ciumlah ! (dia menyodorkan kepalanya kepada saya)

Saya : Mmm .. wanginya ..

Aira : E .. eh .. bunda lihatlah ! lihat sini ! (dia berlari kedalam, dan saya ikuti dari belakang) Lihat ni Nda (dia menunjukkan buku yang penuh dengan gambar dan coretannya)

Saya : waahh !! bagusnya gambar anak bunda !

Aira : iyalah, Aira kan pintar (dia tersenyum bangga) Lihat ni Nda, 'upin ipin bermain bola'

Saya : (kaget, karena dia membaca tulisan yang ada dibawah gambar yang dia buat) wah ! Anak bunda sudah bisa membaca ya ?

Aira : Iyalah (dengan antusias)

Saya : (masih tidak percaya) Coba bunda test, ayo ini bacaannya apa ? (menunjukkan sampul buku yang bertuliskan 'Aku tidak malu')

Aira : aku tidak malu

Saya : kalau yang ini (menunjukkan tulisan "Upin & Ipin Kembara Kecil-kecilan)

Aira : Upin ipin kembara kecil kecilan

Saya : (takjub, speechless dan bersyukur dalam hati, saya peluk dia dengan erat)

Malamnya, saya berbincang dengan suami membicarakan tentang perkembangan Aira yang menurut saya cukup signifikan. Karena saya masih ingat dengan jelas, dua minggu yang lalu dia masih belum bisa membaca dan masih kesulitan dalam mengeja dan menghapal suku kata. Namun dalam kurun waktu yang singkat dia telah bisa membaca dan menulis dengan lancar. Buat saya itu sungguh sesuatu hal yang amazing.

Saya berbicara disini bukan bermaksud membanggakan anak saya karena saya yakin diluar sana banyak anak-anak yang jauh lebih hebat dan pintar dari pada Aira. Tapi yang menjadi nilai plus bagi saya adalah kegigihan dan keuletan dia dalam memperoleh "tablet impiannya". Entah benar atau tidak, tapi filling saya mengatakan, bahwa percakapan kami yang beberapa hari sebelumnya tentang "dia harus bisa membaca dulu kalau mau memiliki tablet" sepertinya menjadi suatu motivasi sendiri bagi dirinya. Tanpa kami paksa dan tanpa kami suruh, setiap hari dia berlatih tanpa lelah. Dan dia pun menemukan caranya sendiri untuk bisa memahami suku kata dengan baik. Dari yang saya lihat, dia mulai dengan membuat gambar-gambar tokoh atau kartun kesukaannya, dari nama-nama, kemudian dia mulai menambahkan atribut pada tokoh itu seperti kegiatan, kesukaan dan ekspresi. Ketika dia tidur, saya dan suami membuka lembaran demi lembaran buku coretannya. Ada berbagai macam tokoh yang dia gambarkan disana, seperti Keropi, Pororo, Upin & Ipin berikut kawan-kawannya, Marsha tanpa beruangnya, Timmy Time, Spongebob, Patrick dll. Kemudian dibawah gambar tokoh dia menulis 'Pororo sedih', kodok tertawa, dll.

Hari ini dengan penuh haru saya mengatakan bahwa dari seorang Aira, saya mendapat pelajaran yang sangat berharga, bahwa :

  • hidup itu harus memiliki target atau impian yang ingin dicapai

  • tidak menyerah ketika mendapat tantangan

  • tidak berkecil hati ketika orang lain meremehkan kemampuan diri

  • rajin, gigih dan ulet dalam berlatih

  • konsisten pada tujuan

  • kreatif, tidak terpaku pada satu metode

  • penuh syukur atas semua yang dimiliki

Terimakasih Aira, telah menjadi inspirasi bagi Bunda. Bunda & Ayah will always love you.



~ Semoga bermanfaat ~

Thursday, October 16, 2014

Living with Disability

Beberapa hari ini saya menyaksikan sebuah talkshow yang tayang di salah satu TV swasta tanah air. Yang membuat saya takjub dan terharu adalah bintang tamu yang dihadirkan disana yaitu para penyandang cacat fisik. Mungkin sebagian kita ada yang menyebutnya diffabel atau disabilitas. Orang-orang ini tak dianugerahkan dengan fisik yang sempurna seperti kita. Namun semua hal tersebut tak membuat mereka menyerah dari keadaan. Disela keterbatasannya, mereka justru menunjukkan prestasi luar biasanya.

Pernahkan anda bayangkan jika anda yang berada di posisi mereka ? Masih bisakah anda tersenyum dengan lepas ? Masih bisakah anda tertawa dengan riang ?

JIka pertanyaan itu diajukan kepada saya, jujur saya katakan, saya mungkin tidak akan sanggup menjalani hidup seperti yang mereka jalani. Karena saya mengakui jiwa saya tidak sehebat mereka yang mampu menghadapi kerasnya dunia ini dengan semua keterbatasan yang mereka miliki.

Lihatlah foto-foto berikut, mereka dengan lantang menunjukkan kepada dunia betapa keterbatasan mereka bukanlah suatu halangan bagi mereka dalam mencapai mimpi. Sungguh begitu banyak pelajaran yang bisa saya petik dari perjuangan mereka yang tanpa lelah itu.







Terkadang saya malu kepada diri sendiri bahwa betapa egois dan kerdilnya saya yang terkadang suka mengeluh dengan keadaaan. Padahal yang saya keluhkan itu bukanlah sesuatu yang 'teramat' penting, hanya hal-hal sepele yang tidak saya sukai namun hadir dalam hidup saya. Seperti rasa bosan, malas, suntuk dan sebagainya. Ketika saya melihat mereka-mereka ini yang dikarunia fisik tidak sesempurna saya, adalah wajar jika mereka mengeluh, bahkan adalah wajar jika mereka berkata "Tuhan tidak adil". Tapi itu tidak mereka lakukan. Mungkin pernah tersirat dipikiran mereka. Namun mereka menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada gunanya menyesali pemberian Tuhan. Bukankah Tuhan itu punya rencana yang Maha Indah ? DIA tidak akan membebankan sesuatu hal yang tidak mampu dipikul hambanya. Mereka meyakini sepenuh hati bahwa mereka adalah manusia-manusia pilihan yang sangat istimewa dihadirkan oleh Tuhan dimuka bumi untuk menunjukkan kebesaran Kuasa NYA dan keajaiban MukjizatNYA.

Living with a Man with Disability


Hari ini, telah 2090 hari saya hidup bersama belahan jiwa saya yang adalah bagian dari 'mereka' itu. Dia sungguh pria yang sangat luar biasa. Selama menjalani hidup bersamanya tak pernah sekalipun saya mendengar dia mengeluh dan mengatakan bahwa dia tidak mampu.  Meskipun menurut saya yang dilakukannya adalah sulit, bahkan bagi orang normal sekalipun, akan tetapi terbukti didepan mata saya sendiri dia mampu melakukan perkerjaan itu. Bahkan ketika banyak yang menolak resumenya dalam melamar perkerjaan dia tak pernah menampakkan kekecewaannya dihadapan saya. Dia tetap tersenyum dan dengan lembut dia menatap saya sambil meminta maaf. Apa yang harus dimaafkan ? Dimata saya sedikitpun dia tidak bersalah. Bahkan dia memiliki kualitas yang 'mungkin' lebih baik dari mereka yang normal. Hanya saja kesempatan yang diberikan kepada orang-orang seperti mereka masih sangat terbatas. Diam-diam sering saya menitikkan air mata haru dibelakangnya. Betapa besar rasa syukur saya karena sang Maha Cinta telah menyatukan kami.

Ketika awal-awal pernikahan kami, banyak orang yang mencibir pilihan saya. Bahkan tidak sedikit yang mengatai saya dengan sebutan buta, bodoh, tolol, telah diguna-gunai dan banyak lagi lainnya. Bahkan yang terkejamnya adalah ketika mereka berkata "percuma saja sekolah tinggi-tinggi, jabatan hebat, gaji besar, tapi dapat suami kok c***t begitu". Astaghfirullah, saya beristighfar dalam hati. Memohon ampun atas dosa saya karena telah membuat orang lain ikut berdosa atas pilihan saya. Tapi semua itu tidak lantas membuat saya bergeming dengan pilihan saya. Karena dari yang saya tahu semua manusia ini adalah sama di mata Tuhan, yang membedakan bukanlah fisik dan segala atribut yang melekat padanya, namun hanya iman dan ketaqwaan semata.

Bagaimana dengan anda ?

Apakah anda merasakan yang sama dengan apa yang saya rasakan ?

Masih wajarkah kita mengeluh akan sulitnya hidup dengan kesempurnaan fisik yang kita punya ?

Masih wajarkah kita putus asa atas kegagalan yang kita alami ?

Masih pantaskah kita mengatakan Tuhan itu tidak adil ?

Jika semua pertanyaan tersebut diatas anda jawab dengan 'wajar, pantas dan boleh', mari kita lihat mereka-mereka yang hidup dengan keterbatasan ini. Mari kita lihat dan resapi setiap jengkal perjuangan yang mereka lakukan untuk bertahan hidup. Saya yakin jika saya, anda, kita semua bisa memaknai perjuangan mereka, maka kita akan tumbuh menjadi manusia yang jauh lebih menghargai hidup ini.

Semoga bermanfaat

Salam sukses selalu

Thursday, October 9, 2014

Sense of Pride

Rindunya sama blog saya ini, satu minggu lebih waktu saya tersita oleh beraneka ragamnya laporan yang kudu di selesaikan. But finally, thanks to GOD, all report are done ^_^

Kali ini saya ingin membahas tentang perasaan BANGGA. Teman-teman pernah merasa bangga bukan ? Sama, saya pun pernah merasakannya. Bahkan sering hehehe

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia bangga itu berarti "besar hati, merasa gagah (karena memiliki keunggulan)". Jika kata 'bangga' ini di input di mesin translatornya Google, maka di dapatlah sinonim atau persamaan kata dari bangga itu yaitu "gaduk, angkuh, congkak, bongak, megah, sombong, anggak, pongah, berbesar hati, lantam, kocak"

Mengapa sih saya membahas tentang ini ? Mungkin sebagian dari teman-teman akan ada yang merasa bahwa bahasan saya ini tidak penting. Tidak apa-apa, semua orang berhak menentukan apa yang penting dan yang tidak dalam hidup mereka. Sedikitpun saya tidak kecewa. Bagi yang merasa bahasan saya ini cukup 'penting' yuk mari kita lanjutkan :)

Menurut saya perasaan 'bangga' itu berbahaya. Nah lho ?? Mengapa bisa begitu ?

Iya, memang bisa. Karena dengan adanya perasaan bangga pada diri seseorang, maka secara tidak langsung didalam hatinya dia telah merasa unggul dari orang lain. Perasaan merasa unggul ini akan menimbulkan perasaan sombong dan meremehkan orang lain. Mari kita coba renungkan rasa-rasa bangga yang kita miliki akhir-akhir ini. Sebagai contoh, saya memiliki kenalan yang sangat bangga dan membanggakan almamaternya. Sebenarnya saya memaklumi perasaan bangga yang dia punya, karena memang dia adalah lulusan dari Universitas ternama di Indonesia. Namun tanpa disadarinya dari sikap dan kata-kata dia ketika bercerita tentang kampusnya itu secara tidak langsung dia telah meremehkan universitas lainnya. Padahal semua kita juga tahu, bahwa lulusan universitas terbaik pun bukanlah jaminan atas kesuksesan seseorang. Banyak kok yang lulusan dari Universitas yang 'biasa' saja namun sukses dalam karirnya.

Saya sendiri, pernah merasa bangga akan skill yang saya miliki. Namun entah mengapa, setiap kali dihati saya terselip rasa bangga, maka perkerjaan yang saya lakukan selalu tidak berhasil dengan baik. Kok bisa ya ?? Terkadang saya bingung juga dibuatnya. Rasa-rasanya saya telah melakukannya dengan sesempurna mungkin, tapi hasilnya tidak se 'wah' yang saya bayangkan. Hal inilah membuat saya merenung dan berfikir lebih dalam. Dan jawabannya adalah rasa bangga saya tadi. Ketika saya merasa bangga atas skill yang saya miliki maka saya pun mulai meremehkan hal-hal kecil. Padahal sekecil apapun 'hal' itu, jika tidak dilakukan dengan baik, juga tidak akan berhasil dengan baik.

Apasih bentuk peremehan yang saya lakukan itu ? ternyata tanpa saya sadari saya telah meremehkan waktu, dengan menunda-nunda perkerjaan. Karena dengan skill yang saya miliki saya merasa mudah dan gampang melakukannya. Namun satu hal yang saya tidak sadari, semudah apapun perkerjaan jika ditunda melakukannya, maka akan menumpuk dan semakin menumpuk. Nah jika perkerjaan itu telah menumpuk, maka selihai apapun skill yang dimiliki pasti tetap membutuhkan energi yang lebih dalam melakukannya. Mengapa demikian ? Karena ketika kita berhadapan dengan tumpukan perkerjaan maka adalah alami jika kita merasa stress, kurang fokus, dan jadinya kurang teliti. Tentu saja teman-teman paham apa yang akan terjadi jika kita kurang teliti dalam berkerja. Ya.. akan banyak kesalahan-kesalahan yang terjadi. Jika kesalahan telah terjadi, apa selanjutnya ? Harus sering melakukan revisi dan revisi. Ketika melakukan revisi atas perkerjaan yang sebelumnya, bukankah perkerjaan yang baru akan muncul terus minta untuk segera diselesaikan ? Bisa dibayanngkan betapa stressnya kita jika terjadi seperti itu.

Jadi kesimpulan saya, perasaan bangga itu berbahaya dan tidak berguna. Jika memang memiliki kelebihan dan keunggulan cukup syukuri dalam hati, dan tanamkan pada diri kita masih banyak orang lain yang jauh lebih baik dari kita. Karena setiap manusia dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tak perlu merasa bangga dengan kelebihan yang kita miliki, dan tak perlu juga merasa malu dengan kekurangan  yang ada pada kita . Tuhan menciptakan manusia itu berbeda-beda, ada yang kurang ada yang lebih adalah untuk saling melengkapi. Tak perlu merasa bangga jika bangga itu justru bisa menyakiti orang lain. Tak perlu merasa bangga jika bangga itu justru membawa kita pada kehancuran.

Semoga bermanfaat.

Salam sukses untuk kita semua



Wednesday, October 1, 2014

Perkerjaan Impian

Jika ditanya tentang Perkerjaan Idaman, aku yakin banget hampir semua orang akan menjawab "Perkerjaan dengan resiko kecil, tapi bayarannya besar". Karena aku sendiri adalah yang termasuk diantaranya.

"Emangnya ada perkerjaan yang seperti itu ?"
"Ada."
Ya, memang ada kan perkerjaan yang seperti itu, resiko kecil, bayarannya besar, yaitu jadi "aktor/aktris". Bisa dibilang perkerjaan ini sangat kecil resikonya.

Tapi sayangnya ga semua orang bisa menjadi aktor dan aktris kan ?
Untuk menjadi seorang Aktor/Aktris tidaklah mudah, karena kamu harus memiliki kriteria sebagai aktor/aktris dulu maka baru bisa menjadikan "aktor/aktris" sebagai profesi. Untuk  kriterianya aku nggak akan bahas disini, karena aku merasa kurang kompeten membicarakannya.

Now, back to the topic, yaitu Perkerjaan Impian.

Selain menjadi Aktor/Aktris, ada nggak perkerjaan dengan resiko kecil yang menyediakan bayaran yang besar ?

Aku sendiri masih ragu, karena memang rasa-rasanya nggak ada lagi perkerjaan yang bayarannya besar yang nyaris tanpa resiko.

Trus gimana dong dengan aku dan kamu-kamu yang nggak memiliki kemampuan untuk menjadi aktor/aktris tapi menginginkan perkerjaan yang bayarannya besar ?

Menurut aku nih ya, suka atau enggak, kita harus menerima kenyataan dengan lapang dada, dan mencari alternatif perkerjaan lain. Yang mungkin bayarannya tidak sebesar bayaran para aktor/aktris, namun dari segi resiko juga tidak besar-besar amat.

Apa saja jenis perkerjaan itu ?

Nah berdasarkan penelitian yang aku lakukan melalui Searching Engine ternama yaitu  "Mbah" Google maka didapatlah daftar perkerjaan dengan bayaran terbesar didunia.

Apa saja itu ? Ini dia 10 Perkerjaan Dengan Bayarang Terbesar

1. Pilot Pesawat Komersial

Menjadi seorang pilot memang tidaklah mudah, karena untuk menjadi seorang pilot kamu harus terlebih dahulu mengikuti pendidikan di sekolah penerbangan yang tentu saja juga dengan biaya pendidikan yang nggak sedikit.

Tapi semua itu cukup impas dengan gaji fantastis yang ditawarkan oleh pihak maskapai penerbangan. Catat saja maskapai penerbangan ternama seperti Lion Air yang menggaji pilotnya dengan rata-rata 45 juta rupiah perbulannya. Sedangkan pihak maskapai Garuda Indonesia mengklaim bahwa mereka menggaji pilot mereka lebih besar yaitu sekitar 70 juta rupiah setiap bulannya.

Fantastis buanget kan ?

Tapi jangan ditanya soal resiko ya, gais. Perkerjaan ini juga masuk dalam daftar perkerjaan dengan resiko kematian terbesar lho.

2. Ahli Teknik Perminyakan

Sejalan dengan pilot tadi, untuk menjadi seorang Ahli Teknik Perminyakan juga nggak mudah, karena sebelum itu kamu harus melewati pendidikan di Universitas yang menyediakan jurusan Teknik Perminyakan. Dan biaya pendidikannya sudah pasti juga nggak murah.

Namun semua biaya pendidikan yang besar tadi akan menjadi tidak berarti jika kamu telah berkerja sebagai salah satu ahli teknik perminyakan. PT. Pertamina sebagai perusahaan minyak nasional memberikan rata-rata gaji untuk fresh graduate minimal Rp7 juta per bulan. Sedangkan untuk senior level gaji yang didapat bisa mencapai Rp150 juta per bulan. Gilla ! Gaji aku setahun ittuuuuhh.

Sebenarnya di Indonesia sendiri, gaji seorang ahli perminyakan termasuk yang paling kecil dibandingkan dengan negara lain seperti Malaysia, yang menggaji ahli perminyakan mereka hingga Rp500 juta perbulannya. Ck..ck..ck

3. Human Resources Manager

Disebut juga Manager HRD. Bedasarkan survei yang dilakukan oleh Kelly Services, Inc. pada rentang tahun 2012-2013, gaji seorang manajer HRD (Human Resources Department) yang memiliki pengalaman kerja lebih dari 5 tahun bisa mencapai maksimal Rp75 juta per bulan. Tentunya hal ini sebanding dengan beban kerjanya, karena ia bertugas mengepalai sebuah departemen yang fungsinya merekrut dan memberdayakan sumber daya manusia terbaik demi kelangsungan perusahaan.

Dan biasanya nih ya, jabatan ini diisi oleh orang-orang yang lulus dari jurusan Psikologi. Nah, kamu sekarang mahasiswa psikologi ? Good, berarti ada harapan bagi kamu untuk menduduki jabatan strategis ini nih.

4. Dokter Spesialis

Gaji sebagai seorang dokter spesialis di Indonesia memang tidak memiliki standar yang sama apalagi jika membandingkan dokter spesialis yang praktek di rumah sakit pemerintah dengan rumah sakit swasta. Seorang dokter spesialis di RS pemerintah rata-rata hanya mendapatkan Rp10 juta per bulan dan ini sudah termasuk gaji pokok, insentif, dan jasa kunjungan pasien. Berbeda dengan dokter spesialis di RS swasta yang bisa mencapai minimal Rp50 juta per bulannya.

5. Ahli Pertambangan

Hampir sama dengan para ahli perminyakan, profesi ahli pertambangan juga menjanjikan gaji selangit bagi para pegawainya. Ahli geologi yang bekerja di lokasi pertambangan bisa memiliki gaji sebesar Rp30 juta per bulan. Hal ini wajar karena untuk menjadi seorang ahli geologi yang cakap di bidangnya dibutuhkan pendidikan dan pengalaman yang cukup lama.

6. Ahli Teknik Informatika

Dengan semakin majunya perkembangan teknologi di Indonesia maka semakin akan semakin dibutuhkan tenaga ahli yang mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Rata-rata gaji seorang software engineer dan system administrator di Indonesia adalah Rp15 juta per bulan dan dengan pengalaman kerja lebih dari 2 tahun.

7. Manager Pemasaran

Menjadi seorang manajer pemasaran merupakan sebuah profesi yang vital, kenapa? Karena manajer pemasaran bertanggung jawab untuk mengelola sistem pemasaran meliputi strategi dan analisis pasar. Untuk itu berdasarkan survei dari Kelly Services, rata-rata seorang manajer pemasaran mendapatkan gaji sebesar Rp60 juta per bulan.

8. Anggota DPR

Di Indonesia, gaji anggota DPR bisa dibilang relatif tinggi, bahkan mendapat peringkat ke-4 terbesar di dunia. Seorang anggota DPR memiliki gaji pokok sebesar Rp15 juta yang kemudian masih ditambah berbagai mencapai tunjangan sehingga total gaji mereka bisa mencapai Rp46 juta per bulan atau Rp554 juta per tahunnya. Sebuah nilai yang sangat fantastis untuk orang-orang yang hanya duduk mewakili suara rakyat Indonesia.

9. Ahli Konstruksi

Tenaga ahli konstruksi juga menjanjikan gaji yang tinggi. Untuk propinsi DKI Jakarta saja, berdasarkan surat edaran Menteri Pekerjaan Umum Indonesia pada bulan Maret 2013, ahli konstruksi dengan pendidikan S1 (fresh graduate) tanpa pengalaman bisa mendapat gaji sebesar Rp20 juta, sedangkan untuk ahli konstruksi dengan latar belakang pendidikan S3 yang memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun bisa mencapai lebih dari Rp60 juta per bulan.

10. Chief Executive Officer

Ini merupakan jabatan tertinggi dalam struktur pejabat korporat (eksekutif) dan posisi ini umumnya ditunjuk oleh dewan direksi sebuah perusahaan. Rata-rata seorang CEO di Indonesia bisa mendapat gaji sebesar Rp1 milyar per tahunnya. Ini pun termasuk yang paling kecil jika dibandingkan dengan CEO dari perusahaan asing.

Nah .. gimana gais ?

Kira-kira kamu memiliki kualifikasi nggak untuk mendapatkan perkerjaan-perkerjaan tersebut diatas ?

Kalo enggak, jangan merasa hampa dan putus asa ya gais.

Yuk, syukuri perkerjaan yang kita miliki sekarang karena pada dasarnya semua perkerjaan yang halal itu baik. Besar atau kecil jumlah gaji yang kamu dapat dari perkerjaan sekarang harus disyukuri karena perkerjaan itulah yang udah menafkahi kamu.

Lagi pula menurut aku nih ya, jumlah itu adalah relatif, tergantung bagaimana kita memaknainya. Karena ada orang dengan gaji 1 juta merasa cukup, akan tetapi ada orang dengan gaji 5 juta masih merasa kurang. Jadi semua itu tergantung gaya hidup yang kita jalankan.

Alahkah bijaknya, jika kamu menginginkan perkerjaan dengan bayaran yang lebih, maka tingkatkan dulu kualitas diri kamu. Agar diri kamu cukup pantas untuk bersaing mendapatkan perkerjaan tersebut.

Okkeh, gais ?

Sip.

Semoga bermanfaat ya.. Sampai jumpa di postingan berikutnya.