Sabtu, 13 September 2014

Menjadi Dewasa dengan Masalah

Bagaimana anda memandang masalah dalam hidup anda ? apakah sebagai hambatan ? atau justru sebagai tantangan ? Semua orang yang hidup pasti memiliki masalah. Beragam masalah hadir dalam kehidupan seseorang tanpa memandang usia, jabatan, agama dan golongan. Mereka yang lajang sering dihinggapi masalah pasangan. Yang mengganggur dilanda masalah keuangan. Yang sehat pun juga sekali-kali diberi masalah berupa penyakit. Jadi semua yang bernyawa memiliki masalah. Masalah yang dihadapi oleh setiap orang itu berbeda-beda tingkat kesulitannya. Ada yang ringan, berat dan rumit. Masalah yang ringan biasanya bisa diselesaikan oleh orang itu sendiri tanpa melibatkan orang lain. Namun tidak demikian halnya dengan masalah yang berat dan rumit. Dikehendaki atau tidak, untuk masalah yang jenis ini harus melibatkan orang lain guna penyelesaiannya.

Saya sendiri, saat ini telah berusia 33 tahun. Sejak usia 26 tahun saya telah berkali-kali mengalami masalah yang berat dalam hidup saya. Bahkan puncaknya, masalah tersebut nyaris membuat saya gelap mata untuk mengakhiri hidup saya sendiri, sebuah tindakan yang jika saya lakukan sudah sangat pasti mendapat kutukan dahsyat dari Sang Pencipta. Namun saya tersadar, ketika mendengar bisikan malaikat kecil di telinga saya. Ya .. panggilan dari anak tercintalah yang menggagalkan niat buruk saya. ASTAGHFIRULLAAH.. Sesaat saya tertegun, dan langsung beristighfar sebanyak-banyaknya. Saya memohon ampun pada Sang Khaliq atas semua dosa-dosa saya. Dan saya langsung bangkit dan menegaskan kembali pada diri saya "Yakinlah, semua masalah ini adalah cobaan dari Allah, yang pasti Allah Maha Tahu, bahwa saya mampu menghadapinya. Yakinlah, semua masalah ini adalah sebuah teguran kecil dari Allah atas kesombongan saya selama ini, karena DIA ingin saya lebih dekat kepadaNYA" Kata-kata tersebut diatas saya ulang-ulang setiap saat didalam hati.

Pernah juga beberapa tahun yang lalu, ketika masih lajang, saya mengalami masalah dengan mantan tunangan saya. Buat sebagian orang, masalah saya itu tidak seberapa, bahkan ada sahabat saya yang bilang begini "apaan sih Mer ? cowok kaya' gitu aja mu tangisin. Ga' pantas tuh, airmatamu itu terlalu berharga untuk mu buang-buang demi dia" (thanks to M.Danil, wherever you are). Saat itu semua saran dan nasihat dari orang-orang terdekat mental semua tak berarti. Karena saat itu saya larut dengan rasa kecewa, benci, sakit hati, marah dan sedih yang mendalam. Tapi semua itu saya lalui tidak lebih dari satu bulan ! Mengapa bisa ? Ya memang bisa, karena saya sadar sesadar-sadarnya semua perasaan kecewa dan sedih yang saya pendam untuk dia itu justru merugikan saya. Apa untungnya saya tenggelam dalam semua perasaan itu ? Toh disaat saya terpuruk, dia tengah menikmati hari-hari bahagia dengan wanita selingkuhannya itu. Jadi rugi 2x donk saya ! Tidak bisa ! Saya tidak mau terlalu banyak dirugikan lagi. Dan saya pun bangkit.

Dan hebatnya lagi (hehe .. saya merasa hebat) saya datang dengan gagahnya ke pesta pernikahan mantan tunangan saya itu. Tau apa yang terjadi di sana ? saya pingsan ? NOOOOO !!! Saya datang ke pesta itu dengan dandanan terbaik saya, dan saya disambut dengan pelukan dan tangisan dari kedua orangtuanya. Nah lho ? Iya bener banget, malah salah satu tantenya sesegukan menangis dan meminta maaf atas perlakuan ponakan mereka kepada saya. Sungguh-sungguh perasaan saya tidak bisa digambarkan saat itu. Ada perasaan menang dan unggul dari si 'pengantin' karena saya lebih diinginkan dikeluarga itu. Ada perasaan terharu karena keluarga yang begitu baik kok bisa punya anak bejat seperti itu ? Ada rasa bangga, kerena bisa memperlihatkan kepada mereka bahwa saya 'baik-baik' saja setelah ditinggalkan oleh dia. Seperti Syahrini bilang, rasanya "Sesuatu banget !"

Dan yang lebih membuat saya bersyukur adalah kejadian beberapa bulan kemudian. Ketika 'si istri' tadi datang kekantor saya, dia curhat bahwa suaminya kurang perhatian, pulang selalu larut malam, dan sering dalam keadaan mabok. Nah lhooo ??!!! Saya boleh bersyukur dong ya ? Syukur banget Allah ga jodohkan dia sama saya, kalo nggak tentulah saya yang berada dalam posisi si istri itu sekarang. Jadi agar rasa syukur saya tidak terlalu mencolok saya hibur dia dan sarankan agar dia banyak-banyak berdoa sama Allah, agar diberi kekuatan dan agar si suami segera berubah menjadi lebih baik. Kemudian lama tidak terdengar kabar mereka, karena beberapa bulan setelah mereka menikah saya juga menemukan pasangan hidup, dan kami pindah keluar kota. Ada sekitar 3 tahun kemudian, kakak mengabari saya bahwa dia bertemu dengan mantan saya itu, dan dia telah bercerai.

Jadi semenjak itu, saya merasa menjadi lebih dewasa. Ketika masalah hadir dalam hidup saya tidak lagi membuat saya murung dan terpuruk. Justru menjadi cemeti penyemangat agar saya bisa bangkit dan menjadi lebih baik. Ibarat anak sekolah, setiap ujian pertanda mereka bisa naik ke kelas berikutnya. Ibarat orang main game, sebagai tantangan untuk naik ke level berikutnya. Karena saya menanamkan dengan kuat dalam hati saya :

"Yakinlah, semua masalah adalah cobaan dari Allah, yang pasti Allah Maha Tahu, bahwa saya mampu menghadapinya. Yakinlah, semua masalah ini adalah sebuah teguran kecil dari Allah atas kesombongan saya selama ini, karena DIA ingin saya lebih dekat kepadaNYA" Selalu ada hikmah dari setiap kejadian. Selalu ada ilmu dari setiap kegagalan.

1 komentar:

  1. […] yang sangat dimurkai Allah. Ya teman, kala itu aku nyaris bunuh diri karena tak kuasa menahan beban permasalahan yang kuhadapi. Astaghfirullah. Kalau saja anak ku yang sedang tidur itu tidak terbangun dan […]

    BalasHapus


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal